Contoh Makalah Abortus Imminens Askeb Kesehatan

Contoh Makalah Abortus Imminens Askeb Kesehatan

Contoh Makalah Abortus Imminens Askeb Kesehatan

Makalahkita – Contoh Makalah Abortus Imminens Askeb Kesehatan yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
2. Font : Times New Roman Ukuran 12
3. Kertas : Size A4
4. Spasi : 1.5

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………… ii

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar belakang
  2. Tujuan
  3. Manfaat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  1. Abortus Imminens
  2. Tinjauan Asuhan Kebidanan

BAB III TINJAUAN KASUS

  1. Pengkajian
  2. Data Subjektif

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL NY. “E” G1P0A0

DENGAN ABORTUS IMMINENS DI RSUD PADANG PANJANG

BAB IV PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kematian maternal dan neonatal merupakan masalah besar khususnya dinegara yang sedang berkembang. Sekitar 98-99% kematian maternal dan perinatal terjadi di negara berkembang, sedangkan di negara maju hanya 1-2%. Sebenarnya sebagian besar kematian tersebut masih dapat dicegah apabila mendapat pertolongan pertama yang adekuat (Manuaba, 2007:6).

Sri Hermiyati (2008) mengatakan terdapat 4.692 jiwa ibu melayang karena tiga kasus (kehamilan, persalinan, dan nifas). Kematian langsung ibu hamil dan melahirkan akibat terjadinya perdarahan (28%), eklampsia (24%), infeksi (11%), partus lama (5%) dan abortus (5%). Perdarahan yang banyak menyebabkan kematian ibu yang sekarang banyak ditemui adalah abortus (Saleh, 2010).

Di dunia terjadi 20 juta kasus abortus tiap tahun dan 70.000 wanita meninggal  karena bortus tiap tahunnya. Angka kejadian abortus di Asia Tenggra adalah 4,2 juta pertahun termasuk Indonesia, sedangkan frekuensi abortus spontan di Indonesia adalah 10-15% dari 6 juta kehamilan setiap tahunnya atau 600-900 ribu, sedangkan abortus buatan sekitar 750 ribu 1,5 juta setiap tahunnya, 2500 orang di antaranya berakhir dengan kematian (Ulfah Ansor, 2006). Manuaba (2007), mengemukakan diperkirakan terjadi gugur kandungan secara illegal pada kehamilan yang tidak di inginkan sebanyak 2,5-3 juta orang/tahun dengan kematian sekitar 125.000-130.000 orang/tahun di Indonesia.

Abortus dapat dialami oleh semua ibu hamil, faktor resikonya meliputi usia dan riwayat baortus berulang (Koesno, 2008). Usia dapat mempengaruhi kejadian abortus berulang karena pada usia kurang dari 20 tahun belum matangnya alat reproduksi untuk hamil sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun pertumbuhan dan perkembangan janin, sedangkan abortus yang terjadi pada usia lebih dari 35 tahun disebabkan berkurangnya fungsi alat reproduksi, kelainan pada kromosom dan penyakit kronis (Manuaba, 1998).

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk menulis makalah yang berjudul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Ny. E Umur 43 Tahun G1P0A0 Dengan Abortus Imminens di RSUD Padang Panjang.

B.Tujuan

  1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil Ny. Eumur 43 tahun G1P0A0  dengan abortus imminens

  1. Tujuan khusus
  2. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian secara menyeluruh pada ibu hamil Ny. E  umur 43 tahun G1P0A0  dengan abortus imminens
  3. Menginterpretasikan data dengan merumuskan diagnose kebidanan, masalah, dan kebutuhan pada ibu hamil Ny. E umur 43 tahun G1P0A0dengan abortus imminens
  4. Mengidentifikasi diagnosa potensial pada pada ibu hamil Ny. E  umur 43 tahun G1P0A0  dengan abortus imminens
  5. Mengidentifikasi terhadap tindakan segera pada ibu hamil Ny. E  umur 43 tahun G1P0A0  dengan abortus imminens
  6. Melakukan perencanaan asuhan menyeluruh dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat pada ibu hamil Ny. E  umur 43 tahun G1P0A0dengan abortus imminens
  7. Melakukan pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu hamil Ny. E  umur 43 tahun G1P0A0dengan abortus imminens sesuai perencanaan secara efektif dana aman
  8. Mengevaluasi asuhan yang diberikan pada ibu hamil Ny. E  umur 43 tahun G1P0A0 dengan abortus imminens

C. Manfaat

  1. Bagi mahasiswa

Mahasiswa dapat menerapkan teori yang didapat di bangku kuliah dalam praktek di lahan serta memperoleh pengalaman secara langsung dalam masalah memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus imminens

  1. Bagi Institusi

Menambah pustaka bagi kampus asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus imminens.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Abortus Imminens

  1. Pengertian Abortus

Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut. Berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan

Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (Mochtar Rustam, Sinopsis Obstetri. 1998 : 209).

Berikut ini macam macam abortus:

  1. Berdasarkan kejadiannya

1) Abortus spontan

Adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensi luar (buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut (Saifuddin, 2002). Abortus spontan dibagi atas:

a) Abortus imminens

Adalah abortus yang mengancam, perdarahannya bisa berlanjut beberapa hari atau dapat berulang (Kusmiyati, 2009). Abortus imminens adalah terjadinya perdarahan dari rahim sebelum kehamilan mencapai usia 20 minggu, dimana janin masih berada di dalam rahim dan tanpa disertai pembukaan dari leher rahim. Apabila janin masih hidup maka kehamilan dapat dipertahankan, akan tetapi apabila janin mengalami kematian, maka dapat terjadi abortus spontan. Penentuan kehidupan janin dapat dilakukan dengan pemeriksaan USG (Ultrasonografi) untuk melihat gerakan dan denyut jantung janin. Denyut jantung janin dapat juga didengarkan melalui alat Doppler atau Laennec apabila janin sudah mencapai usia 12 – 16 minggu.

Abortus imminens adalah terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi ini, kehamilan masih mungkin berlanjut dan dipertahankan (Wiknjosastro dkk, 2002 : 147). Abortus imminens adalah abortus ini baru mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya (FK-UNPAD, 1984 : 8)

b) Abortus insipiens

Adalah terjadinya perdarahan ringan atau sedang pada kehamilan muda dimana hasil konsepsi masih berada dalam kavum uteri (Saifuddin, 2002).

c) Abortus inkomplit

Adalah abortus yang terjadi sebelum usiagestasi 10 minggu, janin danplasenta biasanya keluar, tetapi dalam waktu yang terpisah (Cunningham, 2005).

d) Abortus komplit

Adalah terjadinya perdarahan sampai semua produk pembuahan ataujanin, selaput ketuban dan plasenta sudah keluar (Helen Farrer, 1999).

e) Abortus habitualis

Adalah abortus spontan yang terjadi tiga kali berturut-turut atau lebih (Kusmiyati, 2009).

f) Abortus infeksio

Adalah abortus yang disertai komplikasi infeksi. Adanya penyebaran kuman atau toksin ke dalam sirkulasi dan kavum peritoneum dapat menimbulkan septicemia, sepsis atau peritonitis (Saifuddin, 2002).

g) Abortus septic

Adalah abortus yang disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum (Saifuddin, 2002).

h) Missed abortion

Missed abortion terjadi jika sesudah mengalami abortus imminens,perdarahan pervaginam berhenti namun produk pembuahan meninggal dan tetap berada dalam rahim (Helen Farrer, 1999).

2) Abortus buatan

Adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri proses kehamilan (Kusmiyati, 2009).

Berdasarkan pelaksanaannya di bagi dua :

1) Abortus medisinalis (abortus therapeutik)

Abortus yang dilakukan atas dasar indikasi vital ibu hamil, jika diteruskan kehamilannya , akan lebih membahayakan jiwa ibu sehingga terpaksa dilakukanabortus spontan (Manuaba, 2007).

2) Abortus kriminalis

Abortus yang dilakukan pada kehamilan yang tidak diinginkan, diantaranya akibat perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Sebagian besar dilakukan oleh tenaga yang tidak terlatih sehingga dapat menimbulkan komplikasi (Manuaba, 2007).

2. Etiologi

Insiden, 15% sampai 25% dari kehamilan yang dikenali secara klinis, mungkin mendekati 50% dari semua konsepsi. (Graber, 2006:368) Penyebab abortus merupakan gabungan dari beberapa faktor. Umumnya abortus didahului oleh kematian janin.

Faktor-faktor yang yang dapat menyebabkan terjadinya abortus adalah:

  1. Faktor Janin

Kelainan yang sering dijumpai pada abortus adalah kelainan perkembangan zigot, embrio, janin atau plasenta. Kelainan tersebut biasanya menyebabkan abortus pada trimester pertama, yakni:

  1. Kelainan telur, telur kosong (blighted ovum), kerusakan embrio, atau kerusakan kromosom (monosomi, trisomi atau poliploidi)
  2. Embrio dengan kelainan lokal
  3. Abnormalitas pembentukan plasenta (hiplopasi trofoblas) (Cunningham, 2005:952)

Produk konsepsi yang abnormal menjadi penyebab terbanyak dari abortus spontan. Paling sedikit 10% hasil konsepsi manusia mempunyai kelainan kromosom dan sebagian besar akan gugur. (Benson, 2008:297).

  1. Faktor Maternal

1) Infeksi

Infeksi maternal dapat membawa dapat membawa resiko bagi janin yang sedang berkembang , terutama pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Tidak diketauhi penyebab kematian janin secara pasti, apakah janin yang menjadi terinfeksi ataukah toksin yang dihasilkan oleh mikroorganisme penyebabnya.Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan abortus.

2) Virus

Misalnya rubella, sitomegalo virus, virus herpes simpleks, varicella zoster, vaccinia, campak, hepatitis, polio dan ensefalomeilitis.

3) Bakteri- misalnya Salmonella typi.

4) Parasit- misalnya Toxoplasma gondii, plasmodium.

5)  Penyakit vaskular-misalnya hipertensi vaskular

6)  Penyakit endrokin

Abortus spontan dapat terjadi bila produksi progesteron tidak mencukupi atau pada penyakit disfungsi tiroid, defisiensi insulin.

7)  Faktor Imunologis

Ketidakcocokan (Inkompatibilitas) sistem HLA (Human Leukocyte Antigen)

8) Trauma

Kasusnya jarang terjadi, umumnya abortus terjadi segera setelah trauma tersebut, misalnya trauma akibat pembedahan:

a. Pengangkatan Ovarium yang mengandung korpus luteum gravidatum sebelum minggu ke-8

b. Pembedahan intraabdominal dan operasi pada uterus pada saat hamil

9) Kelainan Uterus

Hipoplasia uterus, mioma (terutama mioma submukosa), serviks inkompeten atau retroflexio uteri gravidi incarcerata.

10)  Faktor psikosomatik pengaruh dari faktor ini masih dipertanyakan. (Benson, 2008:298)

a. Faktor Eksternal

1)  Radiasi

Dosis 1-10 rad bagi janin pada usia 9 minggu pertama dapat merusak janin dan dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan keguguran.

2)  Obat-obatan

3) Antagonis asam folat, antikoagulan dan lain-lain. Sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan sebelum kehamilan 16 minggu, kecuali telah di buktikan bahwa obat tersebut tidak membahyakan janin atau untuk pengobatan penyakit ibu yang parah.

4)  Bahan-bahan kimia lainnya, seperti bahan yang mengandung arsen dan benzen. (Wiknjosastro, 2007:303)

b. Faktor Resiko

1) Usia

Usia dibawah 20  tahun dan di atas 43 tahun merupakan usia resiko untuk hamil dan melahirkan (Mulyati, 2003). Menurut Manuaba (1998) kurun waktu reproduksi sehat adalah 20-30 tahun dan keguguran dapat terjadi pada usia yang masih muda, karena pada saat remaja alat reproduksi belum matang dan belum siap untuk hamil.

2) Paritas ibu

Semakin banyaknya jumlah kelahiran yang dialami seorang ibu semakin tinggi resikonya untuk mengalami komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas (Mulyati, 2003). Sejalan dengan pendapat Cuningham (2005) bahwa resiko abortus spontan semakin meningkat dengan bertambahnya paritas.

3) Riwayat abortus sebelumnya

Setelah satu kali abortus spontan, memiliki resiko 15% untuk mengalami keguguran lagi, sedangkan bila pernah 2 kali, resiko meningkatnya 25%. Beberapa studi meramalkan resiko setelah 3 abortus berurutan 30-45% (Prawirohardjo, 2008).

4) Pemeriksaan antenatal

Pemeriksaan antenatal yang baik adalah minimal 1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua dan 2 kali pada trimester ketiga. Keuntungan yang diperoleh dengan melakukan pemeriksaan antental dengan baik adalah kelainan yang mungkin ada atau timbul pada kehamilan tersebut cepat diketahui dan segera dapat di atasi sebelum berpengaruh tidak baik pad kehamilan (Prawirohardjo, 2008).

5) Pendidikan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Saifudin (2002) bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan makin rendah kejadian abortus. Angka kejadian tertinggi yaitu pada golongan berpendidikan 10-12 tahun (SMA). Secara teoritis diharapkan wanita ynag berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih memperhatikan kesehatan diri dan keluarganya.

6) Merokok

Merokok dilaporkan menyebabkan peningkatan risiko abortus. Bagi wanita yang merokok lebih dari 14 batang per hari, risiko tersebut sekitar dua kali lipat dibandingkan kontrol normal (Cuningham dkk, 2005)

7) Alkohol

Abortus spontan dan anomaly janin dapat terjadi akibat sering mengkonsumsi alcohol selama 8 minggu pertama kehamilan. Angka abortus meningkat dua kali lipat pada wanita yang minum 2 kali setiap minggu, dan tiga kali pada wanita yang mengkonsumsi alcohol (Cuningham dkk, 2005)

3. Patofisiologis

Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.

Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya karena vili koriales belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan (Wiknjosastro, 2007:303-305). Mekanisme diatas juga terjadi atau diawali dengan pecahnya selaput ketuban lebih dulu dan diikuti dengan pengeluaran janin yang cacat namun plasenta masih tertinggal dalam cavum uteri.

Plasenta mungkin sudah berada dalam kanalis servikalis atau masih melekat pada dinding cavum uteri. Jenis ini sering menyebabkan perdarahan pervaginam yang banyak. (Widjanarko, 2009).

Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum), janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus (Wiknjosastro, 2007:303-305). Janin biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta beberapa saat kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam uterus sehingga menyebabkan gangguan kontraksi uterus dan terjadi perdarahan pervaginam yang banyak. Perdarahan umumnya tidak terlalu banyak namun rasa nyeri lebih menonjol (Widjanarko, 2009).

4. Gejala Klinis

  1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu
  2. Terdapat perdarahan, disertai perut sakit.
  3. Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur kehamilan dan terjadi kontraksi otot rahim.
  4. Hasil pemeriksaan dalam terdapat perdarahan dari kanalis servikalis, kanalis servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontrasi otot rahim.
  5. Hasil pemeriksaan tes hamil masih positif

5. Pemeriksaan Penunjang

a. Hasil USG menunjukkan:

1)      Buah kehamilan masih utuh, ada tanda kehidupan janin.

2)      Meragukan

3)      Buah kehamilan tidak baik, janin mati. (Kusmiyati, 2009:150)

4)      Tes kehamilan positif jika janin masih hidup dan negatif bila janin sudah mati

5)      pemeriksaan Dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup

6)      pemeriksaan fibrinogen dalam darah pada missed abortion

  1. Data laboratorium:

1)      Tes urine

2)      hemoglobin dan hematokrit

3)      menghitung trombosit

4)      kultur darah dan urine

  1. Pemeriksaan ginekologi :

1) Inspeksi Vulva: perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva

2) Inspekulo: perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudahtertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.

3) Colok vagina: porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri. (Ratihrochmat, 2009)

6. Komplikasi

  1. Perdarahan
  2. Perforasi
  3. Infeksi
  4. Syok

1)      Perdarahan yang banyak disebut syok hemoragik

2)      Infeksi berat atau sepsis disebut syok septic atau endoseptik (Wiknjosastro, 2007:311-312)

7. Diagnosa

Diagnosis abortus  imminens ditentukan karena pada wanita hamil terjadi melalui ostium uteri eksternum, disertai mules sedikit atau tidak sama sekali, uterus membesar sebesar tuannya kehamilan, serviks belum membuka, dan tes kehamilan positif. Pada beberapa wanita hamil dapat terjadi perdarahan sedikit pada saat haid yang semestinya datang jika tidak terjadi pembuahan. Hal ini disebabkan oleh penembusan vili koriales ke dalam desidua, pada saat implantasi ovum. Perdarahan implantasi biasannya sedikit, warnanya merah, dan cepat berhenti, tidak disertai mules-mules. (Wiknjosastro, 2007:305).

8. Penanganan

  1. Istirahat–baring, tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.
  2. Anjuran untuk tidak melakukan aktifitas fisik secara berlebihan atau melakukan hubungan seksual.
  3. Pemeriksaan USG penting dilakukan untuk menentukan apakah janin masih hidup. (Wiknjosastro dkk, 2002 : 305)
  4. Pada fasilitas kesehatan dengan sarana terbatas, pemantauan hanya dilakukan melalui gejala klinik dan hasil pemeriksaan ginekologik. (Saifuddin, 2007:149)
  5. Terapi defesiensi hormon pada abortus imminens
Jenis hormonDosis awalDosis pemeliharaan
Ditrogesteron40 mg per oral10 mg setiap 8 jam
Alilesterenol20 mg per oral5 mg setiap 8 jam
Hidroksiprogesteron kaproag500 mg intramuskuler250 mg setiap 12 jam, bila adaperbaikan, lanjutkan dengan 250 mg perhari hingga 7 hari setelahperdarah berhenti.
  1. Asam mefenamat

Digunakan sebagai anti prostaglandin dan penghilang nyeri tetapi efektifitasnya dalam mengatasi ancaman abortus, belum dapat dikatakan memuaskan.

  1. Penenang penobarbital 3 x 30 gram valium
  2. Anti pendarahan: Adona , Transami
  3. Vit B Komplek
  4. Hormon progesteron
  5. Penguat plasenta: gestanom, dhopaston
  6. Anti kontraksi Rahim: Duadilan, papaverin

B. Tinjauan Asuhan Kebidanan

  1. Manajemen kebidanan

Manajemen asuhan kebidanan atau manejemen kebidanan adalah suatu metode berfikir dan bertindak tepat secara logis tentang asuhan yang diberikan. Dalam prakteknya bidan harus berfikir kritis, tidak pragmatis untuk menjamin keamanan dan kepuasan klien sebagai hasil (Pusdiknakes, 2003).

Asuhan kebidanan dengan abortus iminens ini merupakan manajemen kebidanan yang terdiri dari tujuh langkah yang dikembangkan oleh Varney dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP.

  1. Langkah-langkah asuhan kebidanan menurut Varney (1997)

Konsep tujuh langkah manajemen kebidanan menurut Varney (1997), yaitu:

  1. Pengkajian

Menurut Wildan dan Hidayat, (2008)pengkajian merupakan suatu langkah awal yang dipakai dalam menerapkan asuhan kebidanan pada pasien. Pada tahap ini semua data dasar dan informasi yang akurat dan lengkap tentang klien dikumpulkan dan dianalisis unuk mengevaluasi keadaan klien, maka pada pengkajian difokuskan pada:

Data Subyektif

1) Identitas Pasien

Nama        : Dikaji dengan tujuan agar dapat  mengenal/memanggil penderita dan tidak keliru dengan penderita lain (Ibrahim, 1996).

Umur           :       Dikaji untuk mengetahui usia aman untukkehamilan dan persalinan adalah 20-30 tahun (Prawirohardjo, 2002).

Agama         :       Dikaji untuk menuntun kesuatu diskusi tentang pentingnya agama dalam kehidupan pasien, tradisi keagamaan dalam kehamilan dan persalinan (Ibrahim, 1996).

Suku/bangsa   :    Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari (Ibrahim, 1996).

Pendidikan      : Berpengaruh pada tingkat penerimaan pasien terhadap konseling yang diberikan serta tingkat kemampuan pengetahuan ibu terhadap keadaannya (Wildan dan Hidayat, 2008).

Pekerjaan         :   Berkaitan dengan keadaan pasien maka pekerjaan perlu dikaji apakah keadaan terlalu berat sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya keadaan yang lebih parah (Wildan dan Hidayat, 2008).

Alamat             : Dikaji untuk mengetahui ibu tinggal dimana dan diperlukan bila mengadakan kunjungan pada pasien (Ibrahim, 1996).

2) Keluhan utama

Menurut Wildan dan Hidayat, (2008) keluhan utama berkaitan dengan kejadian yang dirasakan pasien, dalam kasus abortus iminens pasien akan mengeluh keluar darah sedikit ataupun banyak dari jalan lahir serta merasakan mules pada perut bagian bawah.

3) Riwayat kesehatan

a) Riwayat kesehatan dahulu

Menurut Wildan dan Hidayat, (2008) riwayat kesehatan yang lalu ditunjukkan pada pengkajian penyakit yang diderita pasien yang dapat menyebabkan terjadinya keadaan yang sekarang. Perlu dikaji juga ibu mempunyai penyakit jantung, asma, hipertensi, DM, karena jika penyakit-penyaki tersebut sudah ada sebelum ibu hamil maka akan diperberat dengan adanya kehamilan, dapat berisiko pada waktu persalinan.

b) Riwayat kesehatan sekarang

Menurut Wildan dan Hidayat, (2008) riwayat kesehatan ini dikaji untuk mengetahui adakah penyakit yang diderita pasien seperti: penyakit jantung, asma, hipertensi dan DM.

c) Riwayat kesehatan keluarga

Menurut Wildan dan Hidayat, (2008)  riwayat kesehatan ini dikaji untuk mengetahui apakah ada riwayat kembar pada keluarga, selain itu juga dikaji adakah riwayat kecacatan pada keluarga.

4) Riwayat Obstetri

a) Riwayat menstruasi

Menurut Wildan dan Hidayat, (2008) riwayat menstruasi dikaji untuk mengetahui usia kandungan apakah sudah aterm atau belum, melalui HPHT (hari pertama haid terakhir) karena bila dijumpai ibu bersalin dengan preterm, (<37minggu) merupakan kontraindikasi dilakukannya indikasi persalinan, selain itu untuk mengetahui apakah ibu ada riwayat keputihan, karena jika ada keputihan yang sifatnya patologis, maka ada kemungkinan terjadi infeksi.

b) Riwayat kehamilan sekarang

Menurut Muslihatun Wildan dan Hidayat, (2008) perlu dikaji untuk menyatakan tentang keadaan kehamilan ibu yang sekarang ini.

5) Pola pemenuhankebutuhan sehari-hari

a) Pola nutrisi

Menggambarkan tentang kebutuhan nutrisi ibu selama hamil, apakah sudah sesuai dengan gizi seimbang untuk ibu hamil (Wildan dan Hidayat, 2008).

b) Pola eliminasi

Menggambarkan pola fungsi ekskresi, kebiasaan BAB (frekuensi, jumlah, konsistensi, bau) dan kebiasaan BAK (warna, frekuensi, jumlahdan terakhir kali ibu BAB atau BAK), karena jika ibu mengalami kesulitan BAB maka kemungkinan ibu sering mengejan sehingga uterus berkontraksi (Wildan dan Hidayat, 2008).

c) Pola istirahat

Menggambarkan tentang pola istirahat ibu, yaitu berapa jam ibu tidur siang dan berapa jam ibu tidur malam, karena berpengaruh terhadap kesehatan fisik ibu (Wildan dan Hidayat, 2008).

d) Personal hygiene

Menggambarkan pola hygiene pasien misalnya: berapa kali ganti pakaian dalam, mandi, gosok gigi dalam sehari dan keramas dalam satu minggu. Pola ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah pasien menjaga kebersihan dirinya (Wildan dan Hidayat, 2008).

e) Pola seksual

Untuk mengetahui kapan ibu terakhir melakukan hubungan seksual dengan suami karena prostaglandin yang terkandung dalam sperma dapat merangsang terjadinya kontraksi (Wildan dan Hidayat, 2008).

f) Pola aktivitas

Untuk mengetahui apakah pekerjaan ibu sehari-hari terlalu berat, sehingga dapat mempengaruhi kehamilan (Wildan dan Hidayat, 2008).

g) Psikososiospiritual

Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui sejauh mana respon, tanggapan, dukungan yang diberikan suami dan keluarga, serta kecemasan pasien dan keluarga dalam menghadapi masalah yang terjadi dalam proses persalinan (Wildan dan Hidayat, 2008). Dalam kasus abortus iminens pasien biasanya mengatakan takut dan cemas akan kehilangan bayinya.

Data Obyektif

1)  Keadaan umum dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadi infeksi yang ditandai dengan suhu meningkat, nadi meningkat, untuk mendukung kondisi selama hamil berjalan baik, maka keadaan umum pasien dan tanda-tanda fisik hendaknya tidak ada masalah (Wildan dan Hidayat, 2008).

2) Pemeriksaan tanda vital

a) Tekanan darah

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui tekanan sistolik dan tekanan diastolik darah. Dengan pemeriksaan ini kita bisa menilai adanya kelainan pada sistem kardiovaskuler. Tekanan darah normal pada orang dewasa yaitu tekanan sistolik kurang dari 130 Mmhg dan tekanan diastolik kurang dari 80 mmhg (Uliyah, 2006).

b) Pemeriksaan nadi

Pemerikasaan ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan irama detak jantung. Frekuensi nadi normal pada orang dewasa 60-90 kali permenit (Uliyah, 2006).

c) Pemeriksaan pernafasan

Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai frekuensi pernafasan, irama, kedalaman, dan tipe atau pola pernafasan. Frekuensi pernafasan normal orang dewasa yaitu sekitar 16-20 kali permenit (Uliyah, 2006).

d) Pemeriksaan suhu

Pemeriksaan ini untuk mengetahui keadaan suhu tubuh ibu,sehingga bisa digunakan untuk mendeteksi dini suatu penyakit.  Pemeriksaan ini bisa dilakukan melalui oral, rektal, dan aksila. Suhu tubuh normal pada orang dewasa yaitu 36-37 0C (Uliyah, 2006).

3) Antropometri

a) Berat Badan

Dikaji untuk menentukan pertambahan berat badan total atau untuk membantu mengevaluasi keparahan edema yang disertai preeklamsi (Varney, 1997).

b) Tinggi badan

Dikaji karena pada ibu hamil yang tinggi badannya kurang dari 140 cm, dicurigai adanya disproporsi sefalo pelvik (Mansjoer, 1999).

c) LILA

Untuk mengetahui berapa lingkar lengan atas ibu, karena bila kurang dari 23,5 cm ibu menderita KEK ( Kekurangan Energi Protein).

4) Pemeriksaan fisik pasien

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan pada organ tubuh pasien (Wildan dan Hidayat, 2008).

a) Kepala       : untuk mengetahui bentuk kepala, kulit kepala dan kebersihan rambut (Prihardjo, 2007).

b) Muka         : untuk mengetahui pucat karena anemia (Prihardjo, 2007).

c) Mata          :  dilihat dari konjungtiva pucat atau tidak, bila ditemukan pucat berarti mengarah pada anemia, sklera kuning atau tidak bila kuning mengarah pada hepatitis (Saifudin, 2002).

d) Hidung      : untuk mengetahui kebersihan hidung dan ada kelainan pada hidung atau tidak (Prihardjo, 2007).

e) Telinga      :   untuk mengetahui kebersihan telinga (Prihardjo, 2007).

f) Mulut        :   untuk mengetahui apakah ada kelainan pada bibir, lidah dan gigi (Prihardjo, 2007).

g) Leher       :    untuk mengetahui ada pembesaran kelenjar (Liewellyn, 2001).

h) Dada        :    untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada pernafasan normal atau tidak (Prihardjo, 2007).

i) Abdomen  : untuk mengetahui ada tidaknya luka bekas operasi, tumor, linea nigra, dan strie gravidarum. Pada kasus abortus iminens akan dikaji ada tidaknya nyeri perut bagian bawah dan nyeri tekan, (Liewellyn, 2001).

j) Genetalia  :   Untuk mengetahui varises, tumor, tanda-tanda infeksi atau penyakit menular seksual, jumlah perdarahan dan warna perdarahan (Liewellyn, 2001).

k) Anus      :      Untuk mengetahui adanya haemoroid atau tidak (Liewellyn, 2001).

l) Ekstremitas: Pemeriksaan ekstremitas harus mencakup pengkajian reflek tendon dalam, pemeriksaan adanya edema tungkai dan vena verikosa dan pemeriksaan ukuran tangan dan kaki bentuk serta letak jari tangan dan jari kaki, kelainan menunjukkan gangguan genetik (Wheeler, 2004)

5) Pemeriksaan Obstetri

a) Inspeksi

Pada abdomen adakah bekas operasi SC, pembesaran uterus, apakah ada ketegangan perut karena kehamilan, pada genetalia dikaji jumlah perdarahan dan warna perdarahanyang keluar (Wildan dan Hidayat, 2008).

b) Palpasi

Apabila dari hasil palpasi ditemukan mal persentasi serta gemeli, tinggi fundus uteri. Pada kasus abortus iminens belum dilakukan palpasi karana umur kehamilan masih muda (Wildan dan Hidayat, 2008).

c) Auskultasi

Untuk mengetahui apakah DJJ < 120 atau > 160 kali permenit berarti kemungkinan terjadi gawat janin sampai dapat menyebabkan kematian janin, dalam kasus abortus iminens belum dilakukan auskultasi (Wildan dan Hidayat, 2008).

6) Pemeriksaan Penunjang

Data penunjang diperlukan pada kasus abortus iminens untuk mengetahui apakah kehamilan dapat berjalan normal apa tidak, seperti:pemeriksaan laboratorium, USG, periksa panggul luar, pemeriksaan panggul dalam, PP test, hasil pemeriksaan dalam (vaginal toucher) (Wildan dan Hidayat, 2008).

  1. Interpretasi Data

Diagnosa: dengan melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa berdasarkan interprestasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Diagnosa masalah dan kebutuhan ibu hamildengan abortusiminenstergantung dengan pengkajian terhadap pasien tersebut (Wildan dan Hidayat, 2008).

Intepretasi Data

1) Diagnosa Kebidanan

Seorang ibu G..P..Ab..umur… tahun  hamil … minggu, dengan abortus iminens.

DS :

a) Pernyataan dari ibu ini kehamilan yang keberapa

b) Pernyataan dari ibu mengenai umur ibu

c) Pernyataan dari ibu apakah ibu pernah keguguran atau tidak

d) Pernyataan dari ibu mengenai HPHT

e) Pernyataan dari ibu mengenai ada tidaknya nyeri pada perut bagian bawah

DO :

a) Ekspresi wajah

b) Keadaan umum

c) kesadaran

d) Berat badan sebelum hamil

e) Berat badan sekarang

f) Tinggi badan

g) LILA

h) Vital sign : tekanan darah, suhu, nadi, respirasi

i) TFU

j) Hb

k) PP test positif (+)

l) Hasil pemeriksaan dalam (vaginal toucher): mengkaji vagina terdapat fleksatau tidak, porsio tertutup atau terbuka, terdapat nyeri tekan atau tidak, digoyangkan terasa nyeri atau tidak.Adnexa parametrium kanan dan kiri terasa nyeri atau tidak, cavum douglas menonjol atau tidak.

m) Diagnosa Masalah

Permasalahan yang muncul pada abortus iminens yaitu adanya perasaan cemas.

n) Diagnosa Kebutuhan

KIE cara mengurangi rasa nyeri dan relaksasi

Pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi

Monitor tanda-tanda vital

  1. Diagnosa Potensial

Diagnosa atau masalah potensial diidentifikasi berdasarkan diagnosis atau masalah yang telah teridentifikasi. Langkah ini penting dalam melakukan asuhan yang aman, diagnosa potensial pada kasus abortus iminens yaitu dapat terjadinya abortus insipiens (Wildan dan Hidayat, 2008).

  1. Antisipasi Tindakan Segera

Antisipasi tindakan segera dibuat berdasarkan hasil identifikasi pada diagnosa potensial. Langkah ini digunakan untuk mengidentifikasi dan menetapkan penanganan segera untuk mengantisipasi dan bersiap-siap terhadap kemungkinan yang terjadi. Antisipasi tindakan segera dalam kasus abortus iminens yaitu: Bed rest total dan segera kolaborasi dengan dokter Obsgyn, (Wildan dan Hidayat, 2008).

  1. Perencanaan

Menurut Wildan dan Hidayat, (2008) langkah ini direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Rencana asuhan menyeluruh tidak hanya meliputi yang sudah teridentifikasi atau setiap masalah yang berkaitan, tetapi juga dapat dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut apa yang akan terjadi berikutnya, apakah dia membutuhkan penyuluhan, konseling, atau rujukan bila ada masalah yang berkaitan dengan aspek sosial-kultural, ekonomi atau psikologi. Setiap rencana asuhan harus disetujui oleh kedua belah pihak sehingga asuhan yang diberikan dapat efektif, karena sebagian dari asuhan akan dilaksanakan pasien. Perencanaan yang harus dipikirkan pada kasus abortus iminens adalah:

1)  Beri ibu dukungan psikologis dan libatkan keluarga dalam memberikan dukungan psikologis

2)  Observasi keadaan umum dan tanda vital ibu

3)  Kaji perdarahan pasien tiap jam

4) Anjurkan bed rest total

5)  Kolaborasi dengan dokter Obsgyn untuk memberikan terapi obat untuk mengurangi keluhan pasian

6) Anjurkan ibu untuk mengurangi aktivitas yang berat dan tidak melakukan coitus selama satu bulan setelah perdarahan berhenti

7) Anjurkan ibu untuk kontrol ulang apabila perdarahan tidak berhenti dalam 2 hari atau bertambah banyak

  1. Pelaksanaan

Menurut Wildan dan Hidayat (2008), melaksanakan asuhan menyeluruh yang telah direncanakan secara efektif dan aman. Pelaksanaan asuhan ini sebagian dilakukan oleh bidan, sebagian oleh klien sendiri atau oleh petugas lainnya. Walau bidan tidak melaksanakan seluruh asuhan sendiri, tetapi dia tetap memiliki tanggug jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya memantau rencananya benar-benar terlaksana).

Pelaksanaan pada kasus abortus iminens adalah:

1) Memberi ibu dukungan psikologis

Menjelaskan bahwa ibu bisa melewati masalah ini dengan baik, memberikan support kepada ibu, dan mendampingi ibu selama ibu dalam pemantauan, serta menghadirkan keluarga yang paling dekat dengan ibu.

2) Mengobservasi keadaan umum dan tanda vital ibu setiap 1 jam

Mengkaji perdarahan pasien tiap jam, catat warna perdarahan, jumlah pembalut yang digunakan selama ibu berada di tempat pelayanan.

3) Menganjurkan ibu bed rest total atau istirahat rebah baik di tempat pelayanan maupun di rumah selama 48 jam, apabila kehamilan masih dapat dipertahankan perdarahan dalam waktu 48 jam akan berhenti.

4) Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk memberikan terapi obat untuk mengurangi keluhan pasian yaitu:

Penenang penobarbital 3 × 30 ml gram, valium

Anti pendarahan : Adona, Transamin

Vitamin B komplek

Hormonal : Progesteron 10 mg sehari untuk terapi subsitusi dan untuk mengurangi kerentanan otot-otot rahim (misalnya: Gestanon, Dhupaston).

Anti kontraksi rahim : Duvadilan, Papaverin

5) Menganjurkan ibu untuk mengurangi aktivitas yang dapat memperberat keadaan seperti: angkat junjung berat, bekerja terlalu keras dan hindari stres serta tidak melakukan coitus selama satu bulan setelah perdarahan berhenti.

6) Menganjurkan ibu untuk kontrol ulang apabila perdarahan tidak berhenti dalam 2 hari atau bertambah banyak.

  1. Evaluasi

Pada langkah ini dievaluasi keefektifan asuhan yang telah diberikan, apakah telah memenuhi kebutuhan asuhan yang telah teridentifikasi dalam diagnosis maupun masalah. Pelaksanaan rencana asuhan tersebut dapat dianggap efektif apabila ibu mengalami perkembangan yang lebih baik. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut terlaksana dengan efektif dan mungkin sebagian belum efektif. Karena proses manajemen asuhan ini merupakan suatu kegiatan yang berkesinabungan maka perlu evaluasi, kenapa asuhan yang diberikan belum efektif. Langkah-langkah proses manajemen umunya merupakan pengkajian yang memperjelas proses berfikir yang mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses klinis, karena proses manajemen tersebut berlangsung di dalam situasi klinik (Wildan dan Hidayat, 2008).

Dengan melakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa berdasarkan interprestasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Diagnosa masalah dan kebutuhan ibu hamildengan abortusiminenstergantung dengan pengkajian terhadap pasien tersebut (Wildan dan Hidayat, 2008).

  1. Langkah Preventif Bidan Sebelum terjadi Abortus Imminens :
  2. Tidak perlu pengobatan khusus atau tirah baring total.
  3. Jangan melakukan aktifitas fisik berlebihan atau hubungan seksual.
  4. Jika perdarahan :
  5. Berhenti : lakukan asuhan antenatal seperti biasa, lakukan penilaian jika perdarahan terjadi lagi.
  6. Terus berlangsung : nilai kondisi janin (uji kehamilan atau USG). Lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain. Perdarahan berlanjut, khususnya jika ditemukan uterus yang lebih besar dari yang diharapkan, mungkin menunjukkan kehamilan ganda atau mola.
  7. Tidak perlu terapi hormonal (estrogen atau progestin) atau tokolitik (misalnya salbutamol atau indometasin) karena obat-obat ini tidak dapat mencegah abortus.

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN  KEBIDANAN  PADA  IBU  HAMIL  NY. “E”

UMUR 43 TAHUN G1P0AHAMIL 09-10 MINGGU

DENGAN ABORTUS IMMINENS

DI RSUD PADANG PANJANG

Tanggal masuk            : 03 November 2014

Pukul                           : 09.00 WIB

I. Pengkajian

A. Data Subjektif

  1. Identitas
Nama: Ny. ETn. B
Umur: 43 tahun45 Tahun
Agama: IslamIslam
Pendidikan: SMASMA
Pekerjaan: IRTSwasta
Suku/bangsa:Minang/IndonesiaMinang/Indonesia
  
  
  1. Anamnesa
  2. Keluhan Utama

Ibu menyatakan keluarnya flek-flek dari pukul 23.00 – 05.00 WIB kemudian keluar darah segar menggumpal dan merasakan mules

  1. Riwayat perkawinan

Ibu mengatakan ini perkawinannya yang pertama, menikah sejak umur 26 tahun, lama pernikahan 9 tahun, status sah secara agama dan negara

  1. Riwayat menstruasi

Ibu mengatakan menarche sejak umur 13 tahun, lama menstruasi 5-6 hari, siklus 28 hari teratur, ganti pemballut 2-3x/hari, tidak ada keputihan, tidak ada nyeri saat menstruasi.

HPHT= 07-09-2014       TP=14-06-2015

  1. Riwayat Obstetri
NoTahunPenolong persalinanJenis persalinanTempatJKPBBB

Lahir

Komplikasiket
 INI        
  1. Riwayat kesehatan

1)      Riwayat kesehatan yang lalu

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular seperti TBC, hepatitis, penyakit menurun seperti DM, asma, dan penyakit kronis seperti jantung.

2)      Riwayat kesehatan sekarang

Ibu mengatakan saat ini sedang tidak menderita penyakit menular seperti TBC, hepatitis, penyakit menurun seperti DM, asma, dan penyakit kronis seperti jantung.

3)      Riwayat kesehatan keluarga

Ibu mengatakan baik dari keluarga ibu maupun suami tidak ada yang menderita penyakit menular seperti TBC, hepatitis, penyakit menurun seperti DM, asma, dan penyakit kronis seperti jantung.

  1. Pola kebutuhan sehari hari

1)      Nutrisi

Makan     : 3x/hari porsi satu piring

Jenis         : Nasi, sayur, lauk

Keluhan   : Tidak ada

Minum     : 7-8 gelas/hari

Jenis         : Air putih, Susu

Keluhan  : Tidak ada

2)      Eliminasi

BAB           :       1-2x/hari, warna kuning kecoklatan,bau khas feces, konsistensi padat

Keluhan      :       tidak ada

BAK          :       4-5x/hari

Keluhan      : tidak ada

3)      Aktivitas

Ibu mengatakan sebagai ibu rumah tangga aktivitas sehari harinya yaitu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, memasak, mencuci, dan lain lain.

4)      Istirahat

Siang      : 1 jam

Malam    : 6-7 jam

Keluhan : Tidak ada

5)      Pola seksual

Ibu mengatakan tidak ada keluhan dalam hubungan seksual

6)      Personal hygiene

Mandi              : 2x/hari

Gosok gigi       : 2x/hari

Keramas          :3x/minggu

Ganti baju        :2x/hari

Potong kuku    :1x/minggu

7)      Data psikososial

Ibu mengatakan ibu dan keluarga sangat senang dengan kehamilan ini Ibu mengatakan dalam mengambil keputusan secara bermusyawarah.

Data Objektif

  1. Pemerisaan umum

KU                      : Baik

Kesadaran           : Stabil

Vital Sign            : TD: 110/70  N:80X/menit  S:36,2OC R: 20X/menit

BB                      : 48,5 kg

BB Sebelum Hamil : 45kg

TB                       : 158

LILA                  : 24 cm

  1. Pemeriksaan fisik
Kepalatidak ada masa/benjolan,  kulit kepala, bersih
MukaTidak pucat, tidak ada cloasma gravidarum, tidak ada oedem
MataKonjungtiva merah muda, sclera putih
HidungTidak ada polip, tidak ada secret, bersih
MulutTidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi, bersih
TelingaSimetris, tidak ada serumen, bersih
LeherTidak ada masa/ benjolan, tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid,
DadaSimetris, tidak ada retraksi dinding dada,
PayudaraTidak ada masa/benjolan, areola hiperpigmentasi, putting susu menonjol
AbdomenTidak ada striae gravidarum, tidak ada luka bekas operasi
GenetaliaKeluar flek flek
Ekstremitas(atas dan bawah) simetris, tidak ada oedem, reflek patella (+)
   
  1. Pemeriksaan penunjang

 Hb= 10,8 gr%

Protein urin (-)

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL NY. “E” G1P0A0

DENGAN ABORTUS IMMINENS DI RSUD PADANG PANJANG

Pengumpulan DataInterprestasi DataDiagnosis DataTindakan SegeraIntervensiImplementasiEvaluasi
Tanggal : 3 – 11  – 2014

Jam  : 09.00 WIB

DS :

·     Ibu mengatakan keluar flek-flek sekitar jam 23.00

·     Ibu mengatakan cemas dan takut setelah flek-flek kemudian keluar darah merah segar disertai mules pada perut

·     Ibu mengatakan ini kehamilannya yang ke – 1

DO :

KU    : Sedang

Kesadaran    : Stabil

Vital Sign :

TD: 110/70

N: 80X/menit

S:36,2OC

R: 20X/menit

BB               : 48,5 kg

BB sebelum hamil : 45 kg

TB     : 158

LILA     : 24 cm

Inspeksi dalam batas normal

Palpasi

Leopold 1 :  +

Leopold 2 : Ballotemen

Leopold 3 : Ballotemen

Leopold 4 : Ballotemen

Perkusi :

Reflek patella kanan + kiri +

Auskultasi :

DJJ : +

Pemeriksaan penunjang : HB : 10,8 gr%

Protein Urine : –

Diagosa :

Ibu G1P0A0,

UK : 09-10 minggu

Dasar:

DS :

·     Ibu mengatakan keluar flek-flek sekitar jam 23.00

·     Ibu mengatakan cemas dan takut setelah flek-flek kemudian keluar darah merah segar disertai mules pada perut

Ibu mengatakan ini kehamilannya yang ke – 1

HPHT : 07-09-2014

TP : 14-06-2015

Masalah : ibu merasa cemas dan takut setalah flek-flek kemudian keluar darah merah segar.

Kebutuhan : memberikan dukungan psikologis pada ibu.

Perdarahan InfeksiKolaborasi dengan dokterInformasikan hasil pemeriksaan dan berikan dukungan psikologis pada ibu

Jelaskan kepada ibu bahwa ibu perlu di rawat inap di RSUD Padang Panjang

Jelaskan pada ibu pentingnya bedrest total dan mengurangi aktivitas.

Observasi keadaan umun dan tanda vital ibu

Motivasi cukup makan dan minum

Kolaborasi dengan dokter dan beri terapi obat

Dokumentasikan

Memberi tahu hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa ibu mengalami abortus imminens atau ancaman keguguran. Namun ibu tidak perlu khawatir dan cemas karena janin masih bisa dipertahankan.

Menjelaskan pada ibu bahwa ibu perlu rawat inap di RSUD Padang Panjang agar keadaaan ibu bisa terpantau dengan baik oleh dokter

Menjelaskan kepada ibu pentingnya bedrest total atau tirah baring di tempat tidur serta mengurangi aktivitas baik itu duduk, pergi kekamar mandi maupun aktivitas lainya, menganjurkan ibu agar tetap berbaring di tempat tidur

Mengobservasi keadaan umum dan tanda vital ibu dengan melakukan pemeriksaaan TTV meliputi : TD : 110/70

N: 80x/i

S : 36,50C

P : 22x/i

Dan menanyakan keluhan ibu :

Ibu mengatakan masih ada flek – flek namun sudah mulai berkurang

Memotivasi ibu untuk cukup makan dan minum untuk memenuhi nutrisi ibu dan bayi dalam kandungan serta mempercepat pemulihan

Kolaborasi dengan dokter dengan cara menjelaskan keadaan pasien saat kunjungan dokter dan meminta terapi obat yang sesuai.

Kolaborasi dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan USG untuk memastikan keadaan janin dalam kandungan

Mendokumentasikan tindakan di RM

Ibu sudah mengerti hasil pemeriksaan dan ibu merasa yakin dirinya dapat melaluinya dengan baik dan dengan dukungan suami serta keluarga.

Ibu bersedia dilakukan rawat inap di RSUD Padang Panjang

Ibu bersedia untuk bedrest total dan mengurangi aktivitasnya

Telah dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital dan pemantauan keadaan umum ibu

Ibu bersedia makan dan minum yang cukup

Telah diberikan obat sesuai terapi, obat dari dokter dan ibu bersedia meminumnya sesuai dengan anjuran dokter dan telah dilakukan pemeriksaan USG dan ibu mengerti hasil pemeriksaan.

Talah didokumentasikan di RM

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan urain pembahasan asuhan kebidanan pada ibu hamil Ny. E umur 43 tahun dengan abortus imminens, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Manajemen asuhan kebidanan yang diberikan di RSUD Padang panjang telah dilakukan dengan baik dan tepat
  2. Asuhan kebidanan yang diberikan pada Ny. E telah sesuai dengan kebutuhan
  3. Adanya kesenjangan teori dan praktik dalam memberikan terapi obat yang diberikan oleh dokter dan tidak dilakukannya pemeriksaan ginekologi

B. Saran

  1. Pasien

Mengatahui tanda dan bahaya abortus imminens dan mengurangi aktivitas sehari-hari apabila terdapat tanda dan gejala abortus imminens

  1. Tenaga Kesehatan

Mengetahui cara penanggulangan penyebab terjadinya abortus imminens.

DAFTAR PUSTAKA

  • Kusmiati,Yuni,dkk.2009.Perawatan Ibu Hamil.Yogyakarta:Fitramaya
  • Prawirohardjo, S. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
  • Pusdiknakes Depkes RI, WHO, JHPIEGO. 2003. Asuhan Kebidanan Post Partum. Jakarta, Pusdiknakes RI.
  •  Saifudin,Abdul Bari.2007.Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta:YBP SPWiknjosastro, Hanifa, 2002. IU. Jakarta : YBP – SP
    Mocthar, Rustam, 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 2. Jakarta : EGC
    Manuaba, Ida Bagus Gede, 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Kelurga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
  • Uliyah. 2006. Perubahan pada Masa Kehamilan. Fitramaya: Yogyakarta.
  • Wildan dan Hidayat. 2008. Dokumentasi kebidanan. Jakarta: Salemba medika.

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah