Contoh Makalah Abortus Menstrual Regulation Menurut Islam

Contoh Makalah Abortus Menstrual Regulation

Contoh Makalah Abortus Menstrual Regulation Menurut Islam

Makalahkita – Contoh Makalah Abortus Menstrual Regulation Menurut Islam yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
2. Font : Times New Roman Ukuran 12
3. Kertas : Size A4
4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama yang suci,yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW sebagai rahmat untuk semesta alam. Setiap mahkluk hidup memiliki hak untuk memiliki kehidupan baik hewan,tumbuhan, maupun manusia (terutama) yang menyandang gelar khalifah di muka bumi ini. Oleh karena itu ajaran islam sangat mementingkan pemeliharaan terhadap lima hal yaitu: agama, jiwa,akal,keturunan dan harta. Memelihara harta dan melindunginya dari berbagai ancaman. Memelihara eksistensi kehidupan berarti umat manusia.

Namun tidak semua orang merasa senang dan bahagiadengan setiap kelahiran yang tidak direncanakan, karena factor kemiskinan,hubungan di luar nikah, dan alasan-alasan lainnya. Hal ini mengakibatkan ada sebagian wanita yang menggugurkan kandungannya setelah janin tumbuh dalam rahimnya. Nah, dengan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat kita seperti ini bagaimana hukum Negara dan pandangan agama islam tentang abortus dan menstrual regulation? Pemakalah akan memeparkan sedikit untuk menjadi bahan diskusi bersama nantinya.

2. Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian abortus dan menstrual regulation?
  2. Bagaimana hukum di Indonesia mengenai abortus dan menstrual regulation?
  3. Bagaimana pandangan agama islam tentang abortus dan menstrual regulation?
  4. Bagaimana pendapat ulama madzhab mengenai hukum abortus dan menstrual regulation?

3. Tujuan Masalah

  1. Untuk mengetahui apa pengertian abortus dan menstrual regulation.
  2. Untuk mengetahui bagaimana hukum di Indonesia mengenai abortus dan menstrual regulation.
  3. Untuk mengetahui bagaimana pandangan agama islam mengenai abortus dan menstrual regulation.
  4. Untuk mengetahui bagaimana pendapat ulama madzhab mengenai hukum abortus dan menstrual regulation.

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pengertian abortus dan menstrual regulation

Abortus, berasal dari bahasa latin: dalam bahasa arab, sedangkan abortion yang berarti alijhadu atau isqatulhamli disebut gugur kandungan atau keguguran. Sedangkan menurut istilah kedokteran ialah pengakhiran kehamilan sebelum masa gestasi (kehamilan) 28 minggu atau sebelum janin mencapai berat 1000 gram. Dalam istilah hukum, aborsi berarti penghentian kehamilan atau matinya janin sebelum waktunya kelahiran. Menurut Sardikin ginaputra (Fakultas kedokteranUI) abortus ialah pengakhiran kehamilan atau hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Menurut Maryono reksodipura (Fakultas hukum UI) abortus ialah pengeluaran hasil konsepsi dari rahim sebelum waktunya. Jadi, abortus secara umum ialah berakhirnya suatu kehamilan (oleh atau sebab-sebab tertentu) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan.

Abortus / pengguguran ada dua macam,yaitu:

  1. Abortus spontan (spontanneus abortus), ialah abortus yang tidak di sengaja. Abortus spontan bias disebabkan karena penyakit syphilis, kecelakaan dan lain sebagainya.
  2. Abortus yang di sengaja (abortus provocatus/induced pro abortion) dan abortus kedua ini ada dua macam yaitu :
  3. Abortus artificialis therapicus, yakni abortus yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis. Misalnya jika kehamilan diteruskan bias membahayakan jiwa si calon ibu, karena misalnya penyakit-penyakit yang berat.
  4. Abortus provocatus criminalis, ialah abortus yang dilakukan tanpa dasar indikasi medis. Misalnya, abortus yang dilakukan untuk maniadakan hasil hubungan di luar pernikahan atau untuk mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan.

       Metode yang dipakai untuk abortus biasanya ialah :

  1. Curettage & dilatage (C&D)
  2. Dengan alat khusus, mulut rahim dilebarkan kemudian janin di kiret (di-curet) dengan alat seperti sendok kecil.
  3. Aspirasi, yakni penyedotan isi rahim dengan pompa kecil.
  4. Hysteronomi (operasi)

Menstrual regulation secara harfiah artinya pengaturan menstruasi / datang bulan / haid, tetapi dalam praktek menstrual regulation ini dilaksanakan terhadap wanita yang merasa terlambat waktu menstruasi dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratories ternyata positif dan mulai mengandung. Maka ia minta “dibereskan janinnya” itu. Maka jelaslah, bahwa menstrual regulation itu pada hakikatnya adalah abortus provocatus criminalis sekalipun dilakukan oleh dokter.

2. Hukum di Indonesia tentang abortus dan menstrual regulation

Abortus dan menstrual regulation pada hakikatnya adalah pembunuhan janin secara terselubung. Karena itu berdasarkan kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) pasal 299,346,348, dan 349 bahwa Negara melarang abortus termasuk menstrual regulation dan sanksi hukumannya cukup berat, bahkan hukumannya tidak hanya ditujukan kepada wanita yang bersangkutan akan tetapi juga semua orang yang terlibat dalam kejahatan ini dapat dituntut, seperti dokter, dukun bayi, tukang obat, dan sebagainya.

 Pasal-pasal tersebut merumuskan dengan tegas tanpa pengecualian bahwa barang siapa memenuhi unsure-unsur kejahatan tersebut maka akan diancam dengan hukuman sampai 15 tahun penjara. Bahkan bagi dokter, bidan, tukang obat yang melakukan atau membantu melakukan abortus, pidananya bias ditambah sepertiganya dan bias dicabut haknya untuk melakukan praktek profesinya.

Teuku amir hamzah dalam disertasinya berjudul “segi-segi hukum pidanapengaturan kehamilan dan pengguguran kandungan” menganggap perumusan KUHP tersebut sangat ketat dan kaku, dan hal ini sangat tidak menguntungkan bagi profesi dokter serta dapat menimbulkan rasa cemas dalam melakukan profesinya. Di satu pihak dokter harus senantiasa mengingat kewajibannya melindungi hidup insane sesuai dengan sumpahnya, namun di lain pihak dokter dibayangi ancaman hukum,menurut Hamzah ada beberapa alasan yang bias membenarkan pengguguran kandungan berdasarkan pertimbangan kesehatan. Ahirnya Hamzah menyarankan agar dibuat pengecualian dalam KUHP sehingga pengguguran kandungan yang dilakukan oleh dokter atas pertimbangan kesehatan dapat dibenarkan dan bukan merupakan perbuatan yang melawan hukum.

Tetapi sementara ini di kalangan ahli hukum di Indonesia ada yang mempunyai ide/saran agar abortus itu dapat dilegalisasi seperti di Negara maju/sekuler,hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa kenyataannya abortus tetap dilakukan secara illegal dimana-mana dan kebanyakan dilakukan oleh tenaga-tenaga nonmedis, seperti dukun, sehingga bias membawa resiko besar berupa kematian atau cacat berat bagi wanita yang bersangkutan. Maka sekiranya abortus dapat dilegalisasikan dan dapat dilakukan oleh dokter yang ahli, maka resiko tersebut dapat dikurangi / dihindari. Pendukung ide legalisasi abortus itu menghendaki pasal-pasal KUHP yang melarang abortus hendaknya direvisi, karena juga dipandang menghambat pelaksanaan program keluarga berencana dan kependudukan.

Namun menurut penulis, pasal-pasal KUHP yang melarang abortus hendaknya tetap dipertahankan dan penulis setuju dengan saran Hamzah agar dibuat pengecualian dalam KUHP sehingga pengguguran kandungan yang benar-benar dilakukan atas indikasi medis dapat dibenarkan.

3. Pandangan agama islam tentang abortus dan menstrual regulation

Apabila abortus dilakukan sebelum diberi ruh/nyawa pada janin (embrio), yaitu sebelum berumur 4 bulan, ada beberapa pendapat. Ada ulama yang membolehkan abortus dengan alasan karena belum ada makhluk yang bernyawa, ada ulama yang memandangnya makruh dengan alasan janin sedang mengalami pertumbuhan dan ada pula ulama yang memandang haram apabila abortus dilakukan sesudah janin bernyawa atau berumur 4 bulan.

Mahmud Syaltut, eks Rektor Universitas Al-Azhar Mesir berpendapat bahwa sejak bertemunya sel sperma (mani lelaki) dengan ovum (sel telur wanita), maka pengguguran adalah suatu kejahatan dan haram hukumnya sekalipun si janin belum diberi nyawa sebab sudah ada kehidupan pada kandungan yang sedang mengalami pertumbuhan dan persiapan untuk menjadi mahkluk baru yang bernyawa yang bernama manusia yang harus dihormati dan dilindungi eksistensinya. Dan makin jahat dan makin besar dosanya apabila pengguguran janin dilakukan setelah janin bernyawa apalagi sangat besar dosanya kalau sampai dibunuh atau membuang bayi yang baru lahir dari kandungan.

Tetapi apabila pengguguran dilakukan karena benar-benar terpaksa demi melindungi/menyelamatkan si ibu, maka islam membolehkan bahkan mengharuskan, karena islam mempunyai prinsip :

“Menempuh salah satu tindakan yang lebih ringan dari dua hal yang berbahaya itu adalah wajib”.

Jadi dalam hal ini, islam tidak membenarkan tindakan menyelamatkan janin dengan mengorbankan si ibu, mengingat dia merupakan tiang/sendi keluarga (rumah tangga) dan dia telah mempunyai bebrapa hak dan kewajiban, baik terhadap Tuhan maupun terhadap sesama mahkluk. Berbeda dengan si janin, selama ia belum lahir di dunia dalam keadaan hidup, ia tidak/belum mempunyai hak seperti hak waris dan juga belum memiliki kewajiban apapun.

Mengenai menstrual regulation, islam juga melarangnya karena pada hakikatnya sama dengan abortus, merusak/menghancurkan janin/calon manusia yang dimuliakan oleh Allah karena ia berhak tetap tumbuh dan lahir dalam keadaan hidup, sekalipun eksistensinya hasil dari hubungan yang tidak sah (di luar pernikahan yang sah). Sebab menurut islam bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci (tidak bernoda). Sesuai hadis Nabi :

Semua anak dilahirkan atas fitrah,sehingga ia jelas orang tuanya. Kemudian orang tuanyalah yang menyebabkan anak itu menjadi Yahudi,Nasrani, atau Majusi”. (hadis riwayat Abu Ya’la, Al-Thabrani, dan Al- Baihaqi dari Al- Aswad bin Sari’).

            Yang dimaksud dengan fitrah dalam hadis ini ada dua pengertian yaitu:

  1. Dasar pembawaan manusia (human nature) yang religius dan monoteis, artinya bahwa manusia itu dari dasar pembawaannya adalah mahkluk yang beragama dan percaya pada ke- Esa-an Allah secara murni (pure monotheism atau tauhid khalis).
  2. Kesucian/kebersihan (purity), artinya bahwa semua anak manusia dilahirkan dalam keadaan suci/bersih dari segala macam dosa.

4. Pendapat ulama madzhab mengenai hukum abortus

Perdebatan tentang boleh tidaknya abortus bukan hal yang baru, para ahli hukum islam dari madzhab Hanafi berbeda dengan ulama –ulama Syafi’I & Maliki, karena memberi hak pada wanita hamil untuk menggugurkan kandungannya bahkan tanpa persetujuan suami.

  1. Madzhab Hanafi

Sebagian besar dari fuqaha Hanafiah berpendapat bahwa aborsi diperbolehkan sebelum janin terbentuk, tetapi harus disertai dengan syarat-syarat yang rasional. Fuqaha Hanafi memperbolehkan abortus sampai habisnya bulan keempat. Mereka bahkan member hak kepada kaum wanita untuk melakukan abortus tanpa seijin suami dengan syarat harus disertai alasan yang tepat..

  1. Madzhab Hanbali

Dalam pandangan jumhur ulama Hanbali janin boleh digugurkan selama masih dalam bentuk segumpal daging belum berbentuk anak manusia. Madzhab Hanbali banyak yang sejalan dengan madzhab Hanafi dalam memperbolehkan abortus, kecuali perbedaan pendapat dalam menetapkan batasan umur kandungan yang boleh digugurkan sebagian membatasi umur 40 hari,sebagian umur 80 hari, dan lainnya umur 120 hari..

  1. Madzhab Syafi’i

Imam Al-Ghazali, salah seorang ulama dari madzhab Syafi’i yang beraliran sufi, beliau sangat tidak menyetujui pelenyapan janin walaupun baru konsepsi, karena menurutnya kehidupan itu berkembang dan dimulai secara bertahap demi tahap. Sehingga pengguguran setelah sel sperma membuahi sel telur adalah pembunuhan karena memutus kehidupan/perkembangan janin.

  1. Madzhab Maliki

Ulama Malikiyah berpandangan bahwa kehidupan sudah dimulai sejak terjadinya konsepsi. Oleh karena itu, menurut mereka aborsi tidak diijinkan bahkan sebelum janin berusia 40 hari. Fuqaha Maliki secara mutlak melarang abortus seperti yang lain-lain mereka juga berpendapat bahwa janin bukanlah manusia sebelum ditiupkan roh kepadanya. Kendati begitu, karena sperma sekali dituangkan dan terwadai dalam rahim, ditumbuhkan dan ditentukan untuk mendapatkan ruhnya maka ia harus dilindungi.

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Abortus ialah berakhirnya suatu kehamilan (oleh atau sebab-sebab tertentu) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan. Dan menstrual regulation ialah pengaturan menstruasi / datang bulan / haid, tetapi dalam praktek menstrual regulation ini dilaksanakan terhadap wanita yang merasa terlambat waktu menstruasi dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratories ternyata positif dan mulai mengandung. Maka ia minta “dibereskan janinnya” itu. Maka jelaslah, bahwa menstrual regulation itu pada hakikatnya adalah abortus provocatus criminalis sekalipun dilakukan oleh dokter.

Abortus dan menstrual regulation pada hakikatnya adalah pembunuhan janin secara terselubung. Karena itu berdasarkan kitab undang-undang hukum pidana (KUHP) pasal 299,346,348, dan 349 bahwa Negara melarang abortus termasuk menstrual regulation dan sanksi hukumannya cukup berat, bahkan hukumannya tidak hanya ditujukan kepada wanita yang bersangkutan akan tetapi juga semua orang yang terlibat dalam kejahatan ini dapat dituntut, seperti dokter, dukun bayi, tukang obat, dan sebagainya.

Apabila abortus dilakukan sebelum diberi ruh/nyawa pada janin (embrio), yaitu sebelum berumur 4 bulan, ada beberapa pendapat. Ada ulama yang membolehkan abortus dengan alasan karena belum ada makhluk yang bernyawa, ada ulama yang memandangnya makruh dengan alasan janin sedang mengalami pertumbuhan dan ada pula ulama yang memandang haram apabila abortus dilakukan sesudah janin bernyawa atau berumur 4 bulan.

Perdebatan tentang boleh tidaknya abortus bukan hal yang baru, para ahli hukum islam dari madzhab Hanafi berbeda dengan ulama –ulama Syafi’I & Maliki, karena memberi hak pada wanita hamil untuk menggugurkan kandungannya bahkan tanpa persetujuan suami.

DAFTAR PUSTAKA

  • www.makalahkita.com

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.