Contoh Makalah Akad Wadiah (Ekonomi Islam)

Contoh Makalah Akad Wadiah

Contoh Makalah Akad Wadiah (Ekonomi Islam)

Makalahkita.com – Contoh Makalah Akad Wadiah (Ekonomi Islam) yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB II

PENDAHULUAN

1.Latar belakang

Bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan berlandaskan etika ini adalah tiada lain sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.Sebagaimana diketahui bahwa bank syariah dibentuk adalah sebagai koreksi atas bank konvensional yang beroperasi dengan sistem bunga yang dianggap oleh sebagian ulama sebagai riba. Oleh karena itu dengan bank syariah dioperasikan tidak menggunakan sistem bunga melainkan dengan sistem bagi hasil .

Bank  syariah mempunyai banyak produk.Salah satu produknya adalah wadiah atau titipan. Produk ini merupakan jasa penitipan dana dimana penitip dapat mengambil dana tersebut sewaktu-waktu, dimana bank tidak berkewajiban namun diperbolehkan memberikan bonus kepada nasabah. Didalam makalah ini akan dijelaskan konsep wadiah dan aplikasinya di perbankan syariah.

2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana akad wadiah yang ada di perbankan Syariah?
  2. Bagaimana pandangan kritis kesyariahan produk dengan akad wadiah?

BAB II

PEMBAHASAN

1.Akad Wadiah Di Perbankan Syariah

  1. Pengertian Al-Wadiah

        Al-Wadiah merupakan prinsip simpanan murni dari pihak yang menyimpan atau menitipkan kepada pihak yang menerima titipan(baik Individu maupun badan hukum) untuk dimanfaatkan atau tidak dimanfaatkan susuai dengan ketentuan. Titipan harus dijaga dan dipelihara oleh pihak yang menerima titipan, dan titipan ini dapat diambil sewaktu-waktu pada saat dibutuhkan oleh pihak yang menitipkannya.[1]

2. JENIS-JENIS AL-WADIAH

  1. WADIAH YAD AL-AMANAH

Wadiah yad al-amanah merupakan titipan murni dari pihak yang menitipkan barangnya kepada pihak penerima titipan(baik Individu maupun badan hukum). Pihak penerima titipan harus menjaga dan memelihara barang titipan dan tidak didiperkenakan untuk memanfaatkannya. Penerima titipan  akan mengembalikan titipan dengan utuh kepada pihak yang menitipkan setiap saat barang yang dibutuhkan. [2]

Pada dasarnya, penerima simpanan yad al-amanah tidak bertanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada aset titipan selama hal ini bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara barang titipan karena faktor-faktor diluar batas kemampauan.[3]

Dalam aplikasi perbankan syariah, produk yang ditawarkan dengan menggunakan akad al-wadiah yad al-amanah adalah save deposit box.

  1. Save Deposit Box (SDB)

Save deposit box merupakan jasa yang diberikan oleh bank dalam penyewaan box atau kotak pengaman yang dapat digunakan untuk menyimpan barang atau barang-barang atau surat-surat berharga milik nasabah. Nasabah memaanfaatkan jasa tersebut utnuk menyimpan surat berharga maupun perhiasan untuk keamanan, karena bank wajib menyimpan save deposit box didalam ruang dan dalam lemari besi yang tahan api. Atas pelayanan jasa save deposit box, bank akan mendapat fee.

Dokumen yang dapat disimpan dalam save deposit box :

  • –          Sertifikat Tanah
  • –          Sertifikat Deposito, surat berharga.
  • –          Saham ,obligasi.
  • –          Ijazah, paspor, surat nikah, dan surat-surat lainnya.
  • –          BPKB
  • –          Perhiasan, emas, berlian, permata, dan perhiasan lain-lainnya.
  • –          Uang rupiah maupun mata uang asing.
  1. WADIAH YAD DHAMANAH

Wadiah yad dhamanah adalah akad antara dua pihak, satu pihak sebagai pihak yang menitipkan (nasabah) dan pihak lain sebagai pihak yang menerima titipan. Pihak penerima titipan dapat memanfaatkan barang yang dititipkan . Penerima titipan wajib mengembalikan barang yang dititipkan dalam keadaan utuh . Penerima titipan diperbolehkan memberikan imbalan dalam bentuk bonus yang tidak diperjanjikan sebelumnya,

Dalam aplikasi perbankan, akad wadiah yad dhamah dapat diterapkan dalam produk penghimpunan dana pihak ketiga anatara lain giro dan tabungan.

  1. GIRO WADIAH

Salah satu produk penghimpunan dana masyarakat yang ditawarkan oleh bank syariah adalah giro wadiah. Giro wadiah adalah titipan pihak ketiga pada bank syariah yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek,bilyet giro , sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan. Nasabah yang memiliki simpanan giro wadiah akan memperoleh nomor rekening giro wadiah.

4. SARANA PENARIKAN GIRO

  1. Cek (Cheque)

Salah satu sarana penarikan giro wadiah yaitu dengan menggunakan cek. Penarikan menggunakan cek, artinya penarikan dana secara tunai, oleh karena itu cek juga berfungsi sebagai alat pembayaran. Cek merupakan surat perintah pembayaran yang diberikan oleh nasabah kepada bank penerbit rekening giro.

Pengertian cek adalah surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada bank yang memelihara rekening giro nasabah tersebut, untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang disebutkan didalamnya atau kepada pemegang cek tersebut.  Bank  syariah harus membayar sejumah uang tertentu kepada nasabah sesuai dengan perintah yang tertulis dalam cek. Pembayaran dilakukan kepada pihak yang namanya tertera dalam cek atau kepada siapa saja yang membawa cek tersebut kepada bank penerbit, sesuai dengan masyarakat penarik cek.

  1. Bilyet Giro

Sarana penarikan rekening Giro wadiah selain cek yaitu berupa bliyet giro. Bilyet giro (BG)  digunakan oleh pemilik rekening giro apabila akan melakukan penarikan secara nontunai atau pemindahbukuan. Syarat-syarat dan tata cara menggunakan bliyet giro dalam kegiatan bank syariah diatur oleh bank Indonesia. diantaranya surat edaran yang dikeluarkan oleh bank  Indonesia SE BI No. 4/670 . UPPB/PbB Tanggal 24 Januari 1972 yang disempurnakan dengan SE, BI No. 28/32/ UPG Tanggal 01 Juli 1995.

Surat bilyet giro adalah surat perintah nasabah yang telah distandardisasi bentuknya kepada bank penyimpanan dan untuk memindahkan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada pihak penerima yang disebutkan namanya kepada bank yang sama atau pada bank lainnya.

Perbedaan Cek dan Bliyet Giro

                            Cek                     Bliyet Giro
–          Diterbitkan atas unjuk–          Diterbitkan atas nama
–          Surat Perintah pembayaran–          surat perintah pemindahbukuan
–          Tidak berlaku tanggal efektif–          berlaku tanggal efektif

3.TABUNGAN WADIAH

Tabungan wadiah merupakan jenis simpanan yang menggunakan akad wadiah/titipan yang penarikannya dapat dilakukans sesuai perjanjian. Menurut Undang-undang perbankan syariah No. 21 tahun 2008, tabungan adalah simpanan berdasarkan wadiah atau investasi dana berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat dan ketentuan tertentu yang disepakati , tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet Giro, atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu.

Sarana Penarikan Tabungan Wadiah

  • ATM

ATM dalam perkembangan dunia modern ini merupakan sarana yang perlu diberikan oleh setiap bank syariah untuk dapat bersaing dalam menawarkan produk tabungan. Hampir semua bank syariah memberikan fasilitas ATM dalam menawarkan produk tabungan kepada masyarakat.

  • Sarana Lainnya

Sarana lain diberikan oleh bank syariah ialah adanya formulir transfer. Formulir transfer merupakan sarana pemindahbukuan yang disediakan untuk nasabah dalam melakukan transfer baik bank syariah sendiri maupun ke bank syariah lain. Beberapa bank syariah dapat melayani nasabah yang ingin menarik atau memindahkan dananya dari rekining tabungan tanpa harus membawa buku tabungan. Fasilitas ini diberikan oleh bank syariah kepada nasabah yang telah dikenal loyalitas yang tinggi kepada bank syariah.

Sarana penarikan lainnya, misalnya bagi nasabah prima, nasabah yang memilki saldo yang besar, penarikan dana dari tabungan dapat diantar oleh bank syariah. Nasabah tidak harus datang ke bank syariah dan membawa buku tabungan untuk menarik dananya, akan tetapi cukup telepon kebank syariah dan pegawai bank syariah akan mengantarkan dana sesuai dengan penarikannya.[4]

Dalam penerapannya, produk bank Syariah dengan akad wadiah menerapkan prinsip wadiah yad amanah dan wadiah yad dhamanah. Terkait dengan kedua produk tersebut, dalam pelaksanaannya perbankkan Syariah lebih menerapkan prinsip wadiah yad dhamanah.

Adanya unsur dua akad dalam prinsip wadiah yad dhamanah, karena di dalam praktiknya baik produk Giro Wadiah ataupun Tabungan Wadiah, bank meminta pihak penitip (nasabah) memberikan kewenangan kepada pihak bank untuk mengelola titipan/asetnya, dan bank memiliki hak penuh atas hasil  yang diperoleh dari pemanfaatan titipan nasabah, yang dengan kata lain bank tidak dikenai tanggungjawab (kewajiban) membagi hasilnya.

Padahal, secara asal di dalam prinsip wadiah, pemanfaatan suatu titipan dalam bentuk apapun hukumnya terlarang, karena apabila telah ada unsur penggunaan oleh pihak yang dititipi maka akadnya pun berubah. Di dalam fikih, yang demikian dikatakan sebagai prinsip pinjam-meminjam (qard). Melalui sekilas gambaran seputar prinsip wadiah yad dhamanah yang di dalamnya terkandung unsur wadiah dan qard, namun lebih layak berlandaskan qard.

Wadiah pada prinsipnya adalah membantu pihak penitip, dan pihak yang dititipi posisisnya sebagai pihak penolong. Karena itulah, sifat dari wadiah adalah amanah.

Dalam menjalankan praktek wadiah, dana nasabah yang dititipkan di bank syariah mendapat jaminan aman, dan perbankan syari’ah wajib menanggung segala resiko yang tejadi pada dana nasabah. Selanjutnya bukan hanya menjamin, namun lebih jauh lagi, perbankan syari’ah memberi keuntungan yang kemudian disebut dengan ‘bagi hasil’.

Jika kita bandingkan antara menitipkan di perbankan syariah dan menabung di bank konvensional, menabung di perbankan konvensional, paling sedikit kita mendapatkan dua ‘keuntungan’: Pertama, dana aman dan kedua, bunga tabungan yang didapatkan setiap bulan. Sedangkan besaran bunga yang didapatkan setiap bulan, sesuai dengan suku bunga yang ditetapkan bank. Dengan memahami dua konsep transaksi ini, secara sederhana kita bisa menangkap adanya kemiripan antara konsep wadiah bank syariah dengan tabungan konvensional, jika mengacu bahwa menitipkan uang harus mendapat kelebihan.

Jika kita cermati lebih lanjut, dapat diketahui dengan jelas bahwa wadi’ah yang ada di perbankan syariah bukanlah wadiah yang dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih. Wadi’ah perbankan syariah yang saat ini dipraktekkan, lebih relevan dengan hukum dain/piutang, karena pihak bank memanfaatkan uang nasabah dalam berbagai proyeknya. Sebagaimana nasabah terbebas dari segala resiko yang terjadi pada dananya.

Sehingga apa yang diterapkan oleh perbankan syariah sejatinya ialah akad hutang piutang yang kemudian disebut dengan wadiah. Bila demikian tidak diragukan keuntungan yang diperoleh nasabah dari bank adalah bunga alias riba.

Adanya kewenangan untuk memanfaatkan barang, memiliki hasilnya dan menanggung kerusakan atau kerugian adalah perbedaan utama antara wadi’ah dan dain (hutang-piutang). Dengan demikian, bila ketiga karakter ini telah adapada akad wadi’ah, maka hukum akad ini berubah menjadi akad hutang piutang dan bukan wadi’ah. Dan dengan segala konsekwensinya, berbagai hukum utang piutang berlaku pada praktek wadi’ah yang diterapkan oleh perbankan syari’ah.

Masyarakat pada zaman ini telah mengubah nama riba menjadi bunga atau faidah, dan mengubah nama piutang menjadi tabungan atau wadi’ah.[5]

  1. Pandangan Kritis Kesyariahan Produk Dengan Akad Wadiah

Dalam bahasan ini,salah satu produk yang di kritisi adalah giro. Giro wadiah adalah titipan pihak ketiga pada bank syariah yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek,bliyet giro,sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan.Sedangkan wadiah itu sendiri adalah transaksi penitipan dana atau barang dari pemilik kepada penyimpan dana atau barang dengan kewajiban bagi yang menyimpan untuk mengembalikan dana atau barang sewaktu-waktu

Produk titipan tersebut jangan sampai terjadi semacam janji tentang pemberian bonus diawal, sekalipun secara tertulis tidak ada, secara lisanpun tidak diperkenankan. Giro wadiah biasanya digunakan untuk pengusaha-pengusaha yang dananya cukup besar. Bagi dunia usaha, akan sulit apabila dana yang cukup besar tersebut ditanamkan begitu saja tanpa adanya return yang menjanjikan. Dari sisi bank sendiri, tentu menganggarkan untuk pemberian bonus. Apabila hal tersebut terjadi secara rutin, berarti akan menjadikan kebiasaan menganggarkan pemberian bonus menjadi hal biasa dan lazim, nasabahnpun akan mengharapkan adanya bonus. Dana yang ditanamkan begitu besar, apakah akan begitu saja digratiskan sementara proyek yang di jalankan benk tentunya memiliki untung

Lebih mendalam lagi, bonus sudah diperjanjikan walaupun secara lisan tentang besarnya bonus. Dalam bahasa syar’i-nya, sudah ada niat untuk mendapatkan bonus. Padahal tentunya mengacu pada innamal a’malu biniyah (Segala sesuatunya bergantung pada niat). Dalamkonteks produk giro wadiah, walaupun tidak ada bonus atau imbalan dalam akadnya (perjanjian awalnya), namun sudah ada niat/harapan untuk adanya bonus dikemudian hari. Inilah yang tipis perbedaanya antara syariah dan non syariahnya.[6]

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

  1.  Praktek wadiah di perbankan adalah dana nasabah yang dititipkan di bank syariah mendapat jaminan aman, dan perbankan syari’ah wajib menanggung segala resiko yang tejadi pada dana nasabah. Selanjutnya bukan hanya menjamin, namun lebih jauh lagi, perbankan syari’ah memberi keuntungan yang kemudian disebut dengan bagi hasil.
  2. Makalah ini mengkritisi tentang produk bank syariah adalah giro wadiah.Didalam produk ini seharusnya tidak menjanjikan bonus kepada nasabah baik itu secara lisan ataupun lainnya. Dan juga jangan terlalu memberi bonus agar nasabah tidak mengganggap bahwa menitip akan mendapatkan bonus.

DAFTAR PUSTAKA

  • Ismail.Perbankan Syariah.Jakarta.Kencana.2011
  • Syafi’i Muhammad Antonio.Bank Syariah:Dari Teori ke Praktek.Jakarta.Gema Insani Press.2001
  • [1] Syafi’i Muhammad Antonio.Bank Syariah:Dari Teori ke Praktek.Jakarta.Gema Insani Press.2001,hlm 85
  • [2] Ismail.Perbankan Syariah.Jakarta.Kencana.2011,hlm 60
  • [3] Syafi’i Muhammad Antonio,Op.Cit,hlm 86
  • [4] Op.Cit,hlm 60-77