Contoh Makalah : Aliran Filsafat Helenisme (Lengkap)

Contoh Makalah Aliran Filsafat Helenisme

Contoh Makalah : Aliran Filsafat Helenisme

Makalahkita.com – Contoh Makalah Aliran Filsafat Helenisme (Lengkap) yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………             i

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………….             ii

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………            iii

BAB  I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang………………………………………………………………….
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………………
  3. Tujuan……………………………………………………………………………….

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Helenisme …………………………………………………………………
  2. Masa Etik……………………………………………………………..
  3. Epikuros
  4. Sekolah Setoa
  5. Sekolah Skiptis…………………………………………………………………
  6. Masa Religi……………………………………………….

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………..
  2. Saran……………………………………………………………………………………
  3. Daftar pustaka……………………………………………………………………….

BAB I

PENDAHULUAN

1.LATAR BELAKANG

Setelah filusuf Yunani klasik mencapai puncaknya dengan munculnya Aristoteles, pemikiran filsafat Yunani merosot. Karena 5 abad sepeninggalan Aristoteles terjadi kekosongan, sehingga tidak ada ahli pikir yang menghasilkan buah pemikiran filsafatnya seperti Plato atau Aristoteles baru kira-kira 5 abad kemudian bangkitlah pemikir yang genial seperti dia, yaitu Plotimus. Selama kira-kira lima abad itu ada juga pemikir-pemikir yang berpengaruh, akan tetapi tidak sedalam pemikiran Plato dan Aristoteles. Pokok-pokok yang menjadi bahan pemikiran telah membeku, yaitu tentang jiwa, tubuh, pengamatan, pemikiran dan lain sebagainya, sedangkan pokok permasalahan filsafat dipusatkan pada cara hidup manusia, sehingga orang yang dikatakan bijaksana adalah orang yang mengatur hidupnya menurut budinya.

Zaman sesudah Aristoteles disebut zaman baru yang dimulai dengan pemerintahan Alexander, zaman ini disebut Helenisme. Masa Helenisme berarti kembali kepada ruh dan kebudayaan Yunani, masa ini terjadi pemindahan pemikiran filsafat teoritis menjadi filsafat praktis dan semakin lama semakin menjadi seni kehidupan. Masa Hellenisme dibagi menjadi dua yaitu, masa etik dan masa religi. Masa etik meliputi sekolah Epikurus, Stoa, dan Skeptis, pembahasan filsafat berkisar pada logika, fisika dan etika. Berikut akan kami sajikan pembahasan mengenai Hellenisme dan pembagian-pembagiannya.

2. RUMUSAN MASALAH

  1. Apa Pengertian Helenisme (etimologi & terminologi)?
  2. Bagaimana helenisme masa etik dan pembagian serta tokoh-tokohnya?
  3. Bagamana helenisme masa religi?

3. TUJUAN

  1. Untuk mengetahui apa pengertian helenisme baik secara bahasa (etimologi) maupun secara istilah (terminologi)
  2. Untuk mengetahui pembagian serta tokoh-tokoh helenisme masa etik.
  3. Untuk mengetahui helenisme pada masa religi.

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pengertian Helenisme

Hellenisme secara etimologi diambil dari bahasa Yunani kuno Hellenizein yang berarti “berbicara atau berkelakuan seprti orang Yunani”. Hellenisme klasik: yaitu kebudayaan Yunani yang berkembang pada abad ke-6 dan ke-5 SM. Hellenisme secara terminologi: istilah yang menunjukkan kebudayaan yang merupakan gabungan antara budaya Yunani dan budaya Asia kecil, Syiria, Metopotamia, dan mesir yang lebih tua. Lama periode ini kurang lebih 300 tahun, yaitu mulai 323 SM (masa Alexander Agung atau meninggalnya Aristoteles) hingga 20 SM. Hellenisme ditandai dengan fakta bahwa perbatasan antara berbagai negara dan kebudayaan menjadi hilang. Kebudayaan yang berbeda yang ada di jaman ini melebur menjadi satu yang menumpang gagasan-gagasan agama, politik dan ilmu pengetahuan.[1]

Hellenisme di bagi menjadi dua fase, yaitu fase Hellenisme dan fase Hellenisme Romawi. Fase Hellenisme adalah fase yang ketika pemikiran filsafat hanya dimiliki oleh orang-orang Yunani. Adapun fase Hellenisme Romawi ialah fase yang sudah datang sesudah fase hellenisme, dan meliputi semua pemikiran filsafat yang ada pada masa kerajaan romawi, yang ikut serta membicarakan peninggalan pikiran Yunani, antara lain pemikiran Romawi di barat dan di timur yang ada di mesir dan di siria. Fase ini dimulai dari akhir abad ke-4 sebelum masehi sampai pertengahan abad ke-6, Masehi di Bizantium dan roma, atau sampai masa penerjemahan di dunia arab.

Sebelum filsafat yunani muncul, kebudayaa yunani telah mencitrakan khas berpikir yang filosofi, sebagaimana mitos-mitos yang berkembang di yunani adalah bagian yang menentukan kelahiran filsafat.

Dalam filsafat yunani, unsur-unsur agama bersahaja yang berhalais sangat kental, antara lain kepercayaan tentang adanya bnyak zat yang membekasi alam dan yang menjadi sumber segala peristiwa alamiah, meskipundalam bentuk yang berada dengan ajaran agama Yunani sendiri, karena zat yang berbilang dalam agama itu dinamakan “dewa-dewa”, sedangkan dalam filsafat disebut “akal benda-benda langit”,sebagaimana yang paham tentang “akal bulan” dengan “akal manusia”.

Ciri pemikiran filsafat yunani ialah adanya cara berpikir yang tidak relawan dengan realitas yang ada atau keberadaan yang benar-benar nyata menurut pemahaman filosofis bukan eksistensi yang sesungguhnya, karena setiap realitas menyembunyikan hakikatnya yang paling hakiki, sebagaimana adanya api yang kemudian padam.

Filsafat lahir untuk melepaskan diri dari kekuasaan aliran agama yang mengajarkan agamanya dengan doktrin dan kekuaasaan. Filsafat mengajarkan segala hal yang benar menurut rasio, ajaran yang menurut akal tigak dierima dikategorikan ajaran agama yang mitos, sedangkan ajaran agama yang dibenarkan oleh akal fikiran dinamakan filsafat. Secara umum, Helenisme juga ditandai dengan keraguan agama, melarunya kebudayaan, dan pesimisme.

Terdapat beberapa fenomena mengenai helenisme sebagai berikut:

  1. Kontes Agama

Ciri umum pembentukan agama baru sepanjang periode helenisme adalah muatan ajaran mengenai bagaimana umat manusia dapat terlepas dari kematian. Ajaran ini sering kali merupakan rahasia. Dengan menerima ajaran dan menjalankan ritual-ritual tertentu, orang yang percaya dapat mengharapkan keabadian jiwa dan kehidupan yang kekal.

  1. Konteks Filsafat

Filsafat bergerak semakin dekat ke arah ‘keselamatan’ dan ketenangan. Filsafat juga membebaskan manusia dari pesisme dan rasa takut akan kematian. Dengan demikian antara filsafat dan agama lambat laun mulai hilang.

  1. Konteks Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan helenistik pun terpengaruh oleh campuran pengetahuan dari berbagai kebudayaan  seperti di Alexandria dan Athena .

Masa Helenisme dibagi menjadi dua yaitu masa etik dan masa religi:

2. MASA ETIK

  1. Epikuros (341-270 SM)

Epikuros dilahirkan di samos dan mengalami pendidikan di athena. Menurut Epikuros ketakuta terhadap agama menjadi penghalang besar untuk memperoleh kesenangan hidup. Tujuan dari filsfat Epikuros adalah menjamin kebahagiaan manusoa. Filsafat harus merintis jalan mencapai kesenangan hidup, Inti pemikirannya adalah berkisar pada logika, fisika dan etika. Menurut Epikuros, tiada sesuatupun yang ada ditimbulksn oleh sesuatu yang tidak ada sesuatu yang ada yang kemudian musnah menjadi tidak ada.

  1. Logika

Logika diistilahkan dengan kanonika, logika harus melahirkan norma untuk pengetahuan dan kreteria untuk kebenaran (Hata, 1980:143). Norma dan kreteri diperoleh dari pemandangan. Semua yang seseorang pandang adalah benar. Baik pandangan melalui mata, fantasi dan angan-angan. Semua macam pandangan adalah benar menurut jiwa yang memeandang (termasuk orang gila memandang pandangannya benar dan nyata menurut pendapatnya). Pandangan adalah cetakan atau gambaran dari barang yang sudah ada. Apa yang seseorang lihat atau tampak adalah barang yang sudah ada didalam barang-barang yang mempunyai realita. Pengertian tidak lain adalah bayangan ingatan seseorang dari pemandangan yang dulu-dulu, nama yang seseorang berikan kepada barang-barang yang dilihat dulu membayang kembali pada ingatan seseorang. Pandangan dalah kreterium yang setinggi tingginya untuk mencapai kebenaran. Logika Epikuros tidak menerima kebenaran sebagai hasil pikiran, kebenaran hanya bisa dicapai dengan ppemandangan dan pengalaman.

Tatanan sosial kehidupan Epikuros menolak segala etik sosial, Semua hubungan kemasyarakatan. Hidup adalah tersembunyi, tetapi dalam perkumpulan sekolahnya rasa tersekutuan diperkuat persahabatan antara guru dan murid dipererat sekolah Epikuros dimaksutkan untuk menghindarkan diri dari pengaruh luaran atas kaum Epikuros, itulah sebabnya maka sekolah Epikuros disebut’’Taman Kuam Epikuros”

  1. Fisika

Dunia bukan dijadikan dan dikuasai oleh dewa-dewa, melainkan digerakkan oleh hukum fisika,dunia tidak satu melainkan berbilang banyaknya,dunia timbul serperti jiwa manusia timbul demikian lenyapnya.Jiwa manusia tidak terus hidup sesudah mati,karena itu tidak menderita siksa dalam tanah dan di langit.M anusia sesudah mati tidak hidup lagi dan hidup di dunia terbatas lamanya,hidup adalah sementara yang tidak ternilai harganya,Sebab itu bualah dengan hidup itu apa yang dapat di capai,setelah mati segala kesenangan hilang,selama hidup petiklah segala yang baik.

Dunia di gerakan oleh hukum fisika,dunia timbul seperti jiwa manusia,ad dan lenyap,manusia tidak bahagia karena tiga hal :

  1. Takut akan dewa,manusia tidak perlu taku takan dewa,karena segala sesuatu di dunia ini karena gerakan atom bukan karena dewa.
  2. Takut akan mati,manusia tidak perlu takut akan mati,jiwa manusia akan turut mati,tanpa badan tidak ada jiwa,justru maut akan melepas manusia dari sakit dan sengsara.
  3. Takut akn nasib,manusia tidak perlu takut akan nasib sebab segala kejadian di muka bumi ini di tentukan oleh gerak atom,manusia tidak akan bisa merubahnya.
  1. Etika

Epikuros bermaksud memberikan ketenangan batin (atarxia) kepada manusia, pokok etikanya mencari kesenangan hidup meliputi badaniah dan rohaniah. Yang terpenting adalah kesenangan dalam jiwa yang meliputi masa sekarang, masa lampau, dan yang akan datang. Tujuan etiknya adalah memperkuat jiwa untuk menghadapi segala keadaan (suka dan duka manusia hendaknya perasaannya sama). Pengikut Epikorusntidak mengeluh/menangis bila meninggal orang yang dicintai, karna mati itu sudah tidak ada, dan yang tidak ada itu tidak bernilai.tak perlu dirindukan. Yang mengganggu ketenangan batin adalah ancaman ketakutan,

Ketakutan terhadap murka dewa, maut dan terhadap nasib, ketakutan semacam itu tidak ada alasannya, bukankah para dewa tidak ikut campur urusan dunia ini. Jagat Raya terjadi karena gerak atom atom, Dewa menikmati kebahagiaan yang kekal, yang tidak diganggu oleh siapa saja, termasuk manusia, karena itu Dewa tidak mengganggu manusia.

Mati, jiwanya dilarutkan ke dalam atom, kembali kepada asalnya, hukuman akhirat tidak ada, setelah mati tidak menikmati apa-apa dan menderita apa-apa.Terhadap maut orang tidak perlu takut, juga terhadap nasib, sebab nasib tidak ada, seseorang sendiri yang menguasai hidupdan perbuatan seseorang. Tujuan hidup adalah Hadone (Kenikmatan, kepuasan) jika batin tenang tubuh sehat.

Ketenangan batin timbul bila segala keinginan tercapai, makin sedikit keinginan makin besar kebahagiaan, kebahagian bukan berarti menikmti sesuatu yang melimpah (banyak harta) . Kesenangan dan kebahagiaan paling utama adalah kesenangan jiwa, karna kesenangan jiwa meliputi masa sekarang, lampau dan yang akan datang. Ukuran baik ialah jikalau dalm keadaan yang kongkrot perasaan menentukan perbuatan mana yang akan memberikan kepuasan.

2. Sekolah Stoa

Stoa didirikan oleh Zeno, saudagar yang dalam pelayaran kapalnya pecah dilaut jiwa tertolong namun hartanya habis sama sekali. Karna itu Zeno berhenti berniaga dan pergi belajar filsafat. Tujuan filsafatnya adalah menyempurnakan moral manusia.

Ia mengajarkan agar manusia jangan sampai bisa digerakkan oleh kegembiraan atau kesedihan (jadi tahan diri dalam menghadapinya) dan menyerahkan diri tanpa syarat kepada suatu keharusan yang tidak bisa ditolak dan yang menguasai segala sesuatu. Filsafat Stoa dibagi menjadi tiga: logika, fisika dan etika, logika dan fisika bagi Zeno dijadikan dasar etika.

  1. Logika

Dengan menggunakan teori reproduksi, buah pikiran benar, apabila pemandangan itu kena (Hatta, 1980:149) Pandangan yang benar menggambarkan barang yang dipandang dengan terang dan tajam, sehingga orang yang memandang itu terpaksa membenarkan dan menerima isinya. Bila memandang suatu barang gambarannya tinggal diotak sebagai ingatan menjadi pengalaman.

Pengamatan memperkenalkan kepada jiwa benda yang tinggal dalam kenyataan, akan tetapi akal manusia mengusahakan adanya penertian-pengertian umum mencangkup segala hal yang telah terjadi, menurut Stoa pencentakan pikiran yang subjektif untuk memudahkan menggolongkan barang-barang yang nyata.

  1. fisika

Menurut Stoa ada dua dasar dunia yaitu yang bekerja dan yang dikerjakan. Yang bekerja adalah Tuhan dan yang dikerjakan materi., keduanya bertubuh, bedanya Tuhan terdiri dari benda yang lebih halus dari materi. Benda-benda yang ada tidak akan sama, alam ini terbatas dan bulat, keseluruhan merupakan kesatuan yang penuh dengan macam-mcam benda.

Tuhan menyebar keseluruhan dunia sebagai “nyawa” sebagai api yang membangun menurut suatu tujuan. Semua yang ada didunia adalah api dalam bebagai macam bentuk yaitu air, udara, tanah . Air dan tanah adalah anasir positif, udara dan api menjadi anasir yang aktifdari kempat anasir inilah berkembang dunia dengan segala isinya.

Dunia ini akan hancur dan pada akhir tahun dunia akan terjadi kebakaran hebat dan semuanya menjadi api. Dari api terjadi dunia yang sampai kepada bagian kecil. Dalam dunia selalu berganti hilang dan timbul terdapat suatu kemestian yang tetap, kemestian itu sama dengan hukum alam. Oleh karena itu,semua yang terjadi dalam dunia iniberlaku menurut hukum alam dan rasio, keadaan ini membuat kaum Stoa mempunyai pandangan hidup yang optimis, semua terjadi menurut kemestian dalam edaran yang tetap, terima semua itu dengan sabar dan gembira.

Dunia dikuasai oleh Logos, yaitu akal atau Ratio Ilahi. Logos mengatur dan memimpin segala sesuatu kepada suatu tujuan. Segala sesuatu ditaklukan kepada hukum logos kepada nasib yang tidak dapat diubah.

Kejahatan bersifat semu, sebab jahat jika dilihat dari segi lain atau dari keseluruhan dunia adalah baik. Jiwa bersifat Jasmaniah, karna jiwa bagian dari nafsu dunia, jiwa mewujudkan nafkah hidup yang menjiwai dan menggerakkan tubuh, pusat jiwa adalah hati, tempat akal dan pusat kehangatan hidup. Pemimpin manusia adalah akal, yaitu jiwa yang memerintah, jiwa memeliki alat-alatnya yakni panca indra, setelah orang mati jiwanya larut ke dalam jiwa duni/jiwa Ilahi.

  1. Etika

Etika Stoa mencari dasar-dasar umum untuk bertindak dan hidup yang tepat, kemerdekaan moril seorang adalah dasar segala etik. Tujuan hidup yang tertinggi adalah memperoleh harta yang tebesar nilainya yaitu kesenangan hidup. Kebijakan adalah akal yang benar (Recta Ratio) akal yang selaras dengan akal dunia. Bila dapat hidup sesuai dengan akal baik akalnya sendiri maupun tatatertib dunia. Kebijakan terpenting adalah hikmah atau kebijaksanaan. Kebahagian merupakan kebebasan terhadap pengaruh dunia dan terhadap segala keadaan batin, kebahagiaan juga penguasaan hidup dengan sempurna sehingga ketakutan ditiadakan baik terhadap manussia maupun dewa.

Etika Stoa cita-cita tertinggi Apatheia kedaan tanpa pathe, tanpa rasa, Apatheia merupakan keadaan dimana manusia menguasai segala gerak, perasaanya sehingga sekalipun manusia merasa sakit tidak akan mengeluh.

Rasa efek bermacam-macam yaitu:

  1. Nafsu (hadone) timbul pengertian keliru terhadap benda-benda dunia
  2. Keinginan (Ephithumia) keliru terhadap benda-benda masa depan
  3. Kesedihan (Lipe) keliru terhadap kejahatan masa kini
  4. Ketakutan (Phebos) keliru terhadap kejahatan masa depan

Secara teoritis Stoa besifat materialis, sevara praktis bermaksud membebaskan manusia dari belenggu benda, dengan hidup rohani orang memperoleh ketenangan batin. Mnussia dihinggapi penyakit bila mencita-citakan kekayaan, kehoramatan dan tanda-tanda kebesarandari yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, Orang bijaksana tidsk mempunyai nafsu yang meluap-luap ia dapat meneria segala dengan sabar.

Menjadikan manusia merdeka menurut hukum alam, Manusia dapat berbuat leih dari binatang, ia dapat membanding dan dapat menentukan apa yang sesuai dengan sifatnya atau tidak, hal ini tergantung dari kemampuaannya untuk menimbang secara rasional.

Hukum kausalitas umum menjelaskan bahwa tidak ada kemauan yang tidak mempunyai sebab, kemauan yang didorong oleh rasio dan timbangan yang akan melahirkankesadaran kebijaksanaan yang melandasi sebab tindakannya, manusia hidup menurut alamnya adalah manusia yang tunduk pada hukum kausalitas, kemerdekaan tidak bertentangan dengan kemestian, melainkan berporos padanya.

Aliran stoisisme atau stoa didirikan oleh zeno dari citium siprus (336-264 sM). Prinsip penting di kalangan aliran stoa adalah pandangannya yang bersifat materialistis, dengan kata lain yang ada itu adalah benda.

Dalam aliran ini filsafat dibagi kepada 3 bagian, ialah fisika yang berfungsi sebagai ladang beserta pohon-pohonnya, logika berfungsi sebagai pagarnya dan etika berfungsi sebagai buah-buahnya. Ajaran aliran ini dalam bidang etika memandang manusialah yang mewujudkan keselarasan di dunia bersama dengan suatu kuasa rasio yang bersifat ilahi.

  1. Aliran skeptitisme

Aliran skeptitisme dengan tokoh pyrrho yang berasal dari elis (360-270 SM) menurut aliran ini pengamatan dan akal hanya memberi pengetahuan yang bersifat relatif. Adapun kebahagiaan bagi aliran ini terletak pada kesengajaan manusia tidak berbuat dan tidak membuat penilaian

  1.  Elektisisme

Suatu kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsur, filsafat dari aliran-aliran lain tanpa berhasil pencapai suatu pemikiran yang sungguh-sungguh.

  1. Neoplatonisme

Yakni paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat plato, tokohnya adalah plotinus. Seluruh filsafatnya berkisar pada Allah  sebagai yang satu. Segala sesuatu berasal dari yang satu dan ingin kembali kepadanya[1].

        [1] Surajio. Ilmu Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara. 2009. H.156

Meskipun Plato dan Aristoteles telah berhasil memadukan pikiran-pikiran filsafat yang sebelumnya, keduanya tidak dapat melarutkan sama sekali, karena pikiran-pikiran filsafat tersebut adalah pemikiran bermacam-macam aliran yang boleh jadi berbeda-beda pandangannya terhadap hidup dan alam ini. Aliran-aliran ini adalah:

  1. Natural phylosophy dengan Democritas sebagai tokohnya dan filosof-filosof Lonia, yang menghargai alam dan wujud benda setinggi-tingginya,
  2. Aliran Ketuhanan” yang mengakui zat-zat yang metafisik, diwakili oleh “aliran Elea” dan Socrates, yang mengatakan bahwa sumber alam indrawi adalah sesuatu yang berada di luarnya.
  3. “Aliran Mistik” dengan Pythagoras sebagai tokohnya, yang bermaksud memperkecil atau mengingkari nilai alam indrawi.
  4. “Aliran Kemanusiaan” yang menghargai manusia setinggi-tinggi dan mengakui kesanggupannya untuk mencapai pengetahuan, serta menganggap manusia sebagai ukuran kebenaran.

Aliran-aliran filsafat tersebut telah mempengaruhi hasil pemikira filosof-filosof yang mendatang, bagaimana pun kuat dan besarnya filosof-filosof.[3]

Pada fase Hellenisme-Romawi, meskipun keseluruhan masa hellenisme-romawi mempunyai corak yang sama, apabila mengingat perkembangannya, maka dapat dibagi menjadi tiga masa, dan tiap-tiap masa mempunyai corak tersendiri.

Masa pertama, dimulai dari empat abad sebelum masehi. Aliran-aliran yang terdapat di dalamnya ialah:

  1. Aliran Stoa (Ar-Riwaqiyyah) dengan Zeno sebagai pendirinya. Ia mengajarkan agar manusia jangan sampai bisa digerakkan oleh kegembiraan atau kesedihan (jadi tahan diri dalam menghadapinya) dan menyerahkan diri tanpa syarat kepada suatu keharusan yang tidak bisa ditolak dan yang menguasai segala sesuatu.
  2. Alir epicure, dengan epicure sebagai pendirinya. Aliran ini mengajarkan bahwa kebahagian manusia merupakan tujuan utama.
  3. Aliran skiptis (ragu-ragu)  yang meliputi “ aliran phyro” dan “aliran akademi baru”. Aliran skeptis mengajarkan bahwa untuk sampai pada kebenarannya, manusia haruspercaya dulu bahwa segala sesuatu itu tidak benar,  kecuali sesudah dapat dibuktikan kebenarannya. Ajaran lain ialah bahwa pengetahuan manusia adalah tidak akan sampai pada kebenaran, atau dengan perkataan lain mengingkari kebenaran mutlak (objektif)
  4. Aliran eliktika-pertama (aliran seleksi)

Masa kedua, dimulai  dari pertengahan abad sebelum masehi sampai pertengahan abad ketiga masehi. Aliran ini terdapat pada masa ini ialah:(1) aliran peripateki terakhir; (2)aliran stoa baru; (3) aliran epicure baru; (4) aliran pythagoras; dan (5) aliran filsafat yahudi dan plato.[4]

Filsafat hellanisme- yahudi ialah sesuatu pemikiran filsafat, yaitu filsafat yahudi dipertemukan dengan kepercayaan yahudi, dengan jalan penggabungan atau mendekatkan salah satunya kepada yang lain, atau membuat susunan baru yang mengandung kedua unsur tersebut.

Masa  ketiga, dimulai dari abad ketiga. Masehi sampai pertengahan abad keenam masehi di bizantium dan roma, atau  sampai pertengahan abad ketujuh atau kedelapan di iskandariah dan timur dekat (asia kecil). Pada masa ketiga ini, kita mengenal aliran-aliran; (1) neoplatonisme; (2) iskadariyah; (3) filsafat diasia kecil, yang terdapat di antiochia, harran, ar-ruha, dam nissibis. Aliran-aliran ini merupakan kegiatan terakhir menjelang timbulnya “aliran bagdad” yaitu aliran filsafat islam.

Diantara aliran-aliran filsafat dari masa ketiga, neoplanisme-lah yang terpenting dan yang paling banyak pengaruhnya terhadap filsafat islam.

Aliran neoplatonisme merupakan rangkaian terakhir atau rangkain sebelum terakhir dari fase hellenisme-romawi, yaitu fase mengulang yang lama dan bukan fase mencipta yang baru. Neoplatonisme ini juga masih berkisar pada filsafat yunani, tasawuf timur yang meramu dari masa filsafat yunani serta menggabungkannya. Oleh karena itu, di dalamnya terdapat  ciri-ciri filsafat yunani yang kadang-kadang bertentangan agama-agama langit, yaitu agama yahudi dan agama masehi, karena dasar filsafat tersebut ialah kepercayaan rakyat yang memepercayai sumber kekuasaan yang banyak. Karena sistem pilihan ini pula, di dalam neoplatonisme terdapat unsur-unsur platoisme, Phthagoras, Aristoteles, Stoa, dan manusia, religiusitas dan keberhalaan.

Uberweg dalam bukunya Geschihte der Philosophie mengatakan bahwa aliran Neoplatonisme dimulai dari abad pertama masehi dan berakhir pada pertengahan abad keempat masehi, sedang menurut penulis lainnya berakhir pada pertengahan abad ke tujuh masehi adalah masa aliran iskandariyah yang mengantikan aliran neoplatonisme.

Perbedaan kedua aliran tersebut ialah:

  1. Neoplatonisme berkisar pada segi metafisika pada filsafat yunani, yang boleh jadi dalam beberapa hal berlawanan dengan agama masehi, sedangkan aliaran iskandariyah lebih condong kepada matematika serta alam dan meninggalkan lapangan metafisika, dan keadaan ini bisa menyebabkan tidak adanya perlawanan dengan agama masehi.
  2. Neoplatonisme lebih banyak mendasarkan pikirannya kepada seleksi dan pemaduan, sedangkan aliran iskandariyah lebih banyak mengadakan ulasan-ulasan terhadap pikiran-pikiran filsafat.

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Ulasan-ulasan yang sampai kepada kaum muslimin datang dari aliran iskandariyah dan aliran-aliran hellenisme-Romawi. Ada tiga ulasan, yaitu:

(1) ulasan dari  golongan peripatetik dari masa sebelum neoplatonisme, terutama dari iskandar Aphrodisias;

(2)ulasan dari aliran neoplatonisme, terutama dari Porphyrius; mungkin ulasan ini bisa menjelaskan adanya usaha dari Al-Farabi dan ibnu sina untuk mempertemukan agama dengan filsafat-filsafat;

(3) ulasan dari orang-orang iskandariyah seperti Hermias, Stephanus, dan Joannes Philoponos.

DAFTAR PUSTAKA

  • [1] Imron,A.Ag.,M.A,Filsafat Umum (Palembang Noer Fikri Offset,2013) hal., 4
  • [2] Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. Filsafat Umum Dari Metologi sampai Teofilosofi  (Bandung CV PUSTAKA SETIA,2008) hal., 98
  • [3] Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. Filsafat Umum Dari Metologi sampai Teofilosofi  (Bandung CV PUSTAKA SETIA,2008) hal., 99-100
  • [4] Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. Filsafat Umum Dari Metologi sampai Teofilosofi  (Bandung CV PUSTAKA SETIA,2008) hal., 101-102
  • [5] Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. Filsafat Umum Dari Metologi sampai Teofilosofi  (Bandung CV PUSTAKA SETIA,2008) hal., 102-103

1 Trackback / Pingback

  1. Contoh Makalah Filsafat Abad Pertengahan (Lengkap)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*