Contoh Makalah Aliran Mu’tazilah (Ilmu Kalam)

Contoh Makalah Aliran Mutazilah

Contoh Makalah Aliran Mu’tazilah (Ilmu Kalam)

Makalahkita.com – Contoh Makalah Aliran Mu’tazilah (Ilmu Kalam) yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar  Belakang

Sejarah munculnya aliran mu’tazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran mu’tazilah tersebut muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah, tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal, kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin.

Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru, dan akhirnya golongan mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya. Sehingga kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar diwarnai oleh Manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah).

B.Rumusan  Masalah

Adapun Masalah Yang akan di bahas dalam makalah ini, Yaitu antara lain:

  1. Apa pengertian Mu`tazilah ?
  2. Tokoh-tokoh Mu`tazilah ?
  3. Ciriiri-ciri dari teologi rasional aliran Mu`tazilah ?
  4. Prinsip-Prinsip Ajaran Mu`taziilah ?
  5. Pertumbuhan Mu`tazilah ?

BAB II

PEMBAHASAN

A.Pengertiyan  Mu`tazilah

Aliran Mu`tazilah lahir kurang lebih 120 H. Perkataan Mu`tazilah berasal dari kata i`tizal yang artinya memisahkan diri, pada mulanya nama ini di berikan oleh orang dairi luar Mu`tazilh karena pendirinya, Washil bin atha`, tidak sependapat dan memisahkan diri dari gurunya , Hasan Al-Basri. Dalam perkembangan selanjutnya, nama ini kemudiaan di setujui oleh pengikut Mu`tazilah dan digunakan sebagai nama dari bagi aliran teologi Mu`tazilah.[1]

B.Tokoh-tokoh  Aliran  Mu`tazilah

Tokoh-tokoh aliran Mu`tazilah banyak jumlah nya dan masing-masing memiliki pemikiran yang lain dengan tokoh-tokoh yang lain, sehingga masing-masing tokoh mempunyai aliran seendiri-sendiri. Dari segi geografis, aliran Mu`tazilah Baghdad. Aliran Basrah muncul lebih dulu.

Perbedaan antara kedua aliran Mu`tazilah tersebut pada umumnya disebabkan karena geografis dan tradisi setempat. Kota basrah dulu didirikan (pada tahun 16 H) dan lebih dahulu mengenal aneka ragam kebudayaan dan agama. Dalam haal ini, meskipun baghdad didirikan kemudin (tahun 145 H), namun khalifah abbasiyah menjadikannya sebagai ibu kota kekhalifahan, Sehingga cepat menjadi kota metropolitan.

Menurut Ahmad Amin, Pengaruh filsafat Yunani pada aliran Mu`tazilah Baghdad lebih tampak, karena adanya kegiatan penerjemahan  buku-buku filsafat di baghdad, dan juga karena istana khalifah-khalifah  Abbasiyah di baghdad menjadi tempat pertemuan ulama-ulama islam dengan pemikir golongan yang lain. Aliranbasrah lebih banyak menekankan segi-segi pelaksnaan ajaran Mu`taazilah da banyak terpengaruh oleh kekuasaan khalifah. Aliran Bagdad banyak mengambil soal-soal yang telah di bahas oleh aliran basrah, kemudian di perluas pembahasannya. Yokoh-tokoh aliran bsrah antara lan Washil bin `Atha, Aplla-`Allaf, An-nazzam dan Aljubba`i. Tokoh-tokoh aliran baghdad antara lain Bisyr bin Al-mutamar daan Al-khayyath. Kemudian pada masa-masa berikutnya lagi ialah A-Qadhi abdul Jabbar dan Azzamakhsyari.

1.Washil bin `Atha (80-131 H/699-748 M)

Pendiri aliran Mu`tazilah washil bin Atha` (W.748 M)yang pernah berguru kepada hasn Al-Basri (W. 728 M) tokoh sentrl dalam skeptisme dan dogma theologi islam. Perbedaan pendapat antara washil bin Atha` dan gurunya(Hasan Al-Basi) Muncul setelah ia mengemukakaan pertanyaan-pertanyaan yang sangat memgganggu yang di lontarkan oleh kaum Khawarij, yaitu apakah seorang muslim yang melakukan dosa masih dapat dipandang sebagai seorang muslim. Khawarij menjawap pertanyaaan ini dengan term-trem(Negatif) yang tidak kenal kompromi, sedangkan Murji`ah dengan trem-trem libral. Wshil menjawab nya dengan cara baru. Pendosa besar, kata washil harus ditempatkan pada posisi penengh antara kufr dan iman. Washil nampaknya mengatakan bahwa seorang pendosa itu tergolong fasik, tidak lebih dn tidak kurang.

Hal yang penting dari solusi ini adalah bahwa Washil membenarkan adanya perbedaan di antara tiga konsep yang berbeda;Kafir,fasik,dan mukmin. Ketiga konsep ini dalam polemik-polemik teologis yang sengit cendrung disalah artikan. Sekalipun tidak benr-benar orisional atau ganjil.

Sikap moderat yang di perlihatkan Washil dan para pengikutnya dalam masalah ini paling tepat di lukiskan oleh sikap-sikap yang mereka ambil, dan juga orang-orang yang ada di kalangan mereka. Washil secara terbuka menyatakan dirinya pengikut syi`ah, berkenaan dengan isu-isu politik penting tentang khalifah-khalifayang tidak adil dn berdosa, dan juga isu-isu yang berkenaan dengan pengganti Nabi Muhammad SAW yang sah. Washil dikatakan telah menunda keputusan dengan argumem-argumen yang tidak begitu jelas.setelah menyatakan perbedaan-perbedaannyadengan guruny yang bernamaa Hasan Al-Basri, Washil meninggalkan majlis Hasan Al-Bsri. Dia dan para pengikutnya membuat kelompok dan tempatbaru untuk menjelaskan ajaran-ajarannya.

Hasan Al-Basri kemudian menyatakan “Washil telah memisahkan dirinya dari kita (`itazala anna).”Sejak itulaah Washil dan para pengikutnya dikenal sebagai kaum Mu`tazilah, orang-orang yang memisahkan diri.

2.Abu Huzail Al `Allaf (135–226 H/850 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Huzail Muhammad bin Al-Huzail Al`Allaf. Sebutan Al-`Allaf diperoleh karena rumahnya terletak di kampung penjual makanan binatang, Allaf artinya makanan binatang. Ia berguru kepada Utsman Athtawil, murid Washil. Puncak kebesarannya di capai pada masa Al-Makmun, karena kholifah ini pernah menjadi muridnya dalam perdebatan mengenai soal aagama dan aliran-aliran pada masanya. Hidupnya penuh dengan perdebatan dengan orang –orang zindik,skeptis,majusi,zoroaster,dan menurut riwayat ada 300 orang yang masuk islam di tangannya. Ia banyak membaca buku-buku dan banyak hafal syair-syair arab. Ia sering bersentuhan dengan para filosof dan buku-buku tentang filsafat.

3.An-Nazzam (Wafat 231 H/845 M)

Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Sayyar bin Hni Aan-Nzzam,tokoh Mutaazilah yang terkemuka, lncar berbicara, banyak mendalami filsafat dan banyak pula karyanya. Ketika kecil ia banyak bergaul dengan orang-orang yang bukan Islam, dan sesudah dewasa ia banyak berhubungan dengan para filosof yang hidup pada masanya, serta banyak mengambil pendapat mereka. Ia mula-mula berguru kepada Abul Huzail Al-`Allaf, Kemudian mengadakan aliran sendiri, terkenal dengan namanya, dan pada usia 36 tahun ia meninggal dunia. Banyak pendapatnya yang berbeda dengan tokoh-tokoh Mutazilah.

4.Abu Hasyim Al jubba`i (Wafat 303 H/915 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Ali Muhammad bin Ali Al-jubba`i tokoh Mu`tazilah Basrah dan  murid dari As-Syahham (Wafat 267 H / 886 M) Al-jubba`i dan anaknya, yaitu Abu Hasyim Al-jubba`i. Diambil dari nama satu tempat, yaitu (jubba, di propinsi Khuzsetan, Iran), tempat kelahirannya. Al-jubba`iadalah guru imam Al-Asy`ar, tokoh utama Ahlus Sunnah. Ia membantah buku karangan Ibnu Ar Rawandi, yang menyerang aliran Mu`tazilah dan juga membahas serangan Imam Al-Asy`ari ketika yang terakhir ini keluar dari barisan Mu`tazilah. Beberapa pemikiran dan tafsirannya terhadap Al-Qur`an tidak sampai kepada kita.

5.Bisyr bin Al-Mu`tamar (Wafat 226 H/840 M)

Ia adalah pendiri aliran Mu`tazilah di Baghdad. Pandangan-pandangannya mengenai kesusanteraanArab, sebagai mana yang banyak di kutip oleh Al-jahlz dalam bukunya Al-Bayan Wat Tabyin, menunjukkan bahwa Bisyr besar perhatiannya terhadap pengembangan ilmu Balaghah.

6.Al-Khayyath (Wafat 300 H/912 M)

Nama lengkapnya adalah Abu Al-Husein Alkhayyath, termasuk tokoh Mu`tazilah Baghdad dan pengarang buku “Al-Intisar” yang di maksudkan untuk membela aliran Mu`tazilah dari serangan Ibnu Ar-Rawandi. Ia hidup pada masa kemunduran aliran Mu`tazilah.

7.Al-Qadhi Abdul Jabbar (Wafat 1024 M)

Abdul Jabbar hidup pada masa kemunduran aliran mu`tazilah. Ia diangkat menjadi kepala Hakim (qadhi al-qudhat) oleh Ibnu `Abad. Diantara karangannya ialah beberapa jilid tentang tokoh-tokoh jaran Mu`taazilah.

8.Az-Zamakhsyari (467-538 H/1075-1144 M)

Nama lengkapnya adlah Jarullah Abul qasim Muhammad bin Umar kelahiran Zamakhsyar, sebuah dusun di negeri Khawarizm terkenal dengan karyanya Tafsir Al-Kasysyaf

9.Tokoh Mu`tazilah indonesia:Harun Nasution

Harun Nsution (lahir di pematang siantar, Sumut tahun 1919. Wafat di jakarta 18 September 1998) dikenal sebagai tokoh yang memuji aliran Mu`tazilah (rasionalis), yang berdasar pada peran akal dalam kehidupan beragama. Dalam ceramahnya, Harun selalu menekankan agar kaum muslim Indonesia berpikir secara rasional.[2]

C. Ciri-ciri dari teologi rasional Mu`tazilah

  1. Kedudukan akal tinggi di dalamnya, sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya, dengan lain kata mereka tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. Mereka dikenal banyak memakai ta`wil dalam memahami wahyu.
  2. Akal menunjukkkan kekuatan manusia, maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat, yaitu manusiadewasa. Manusia dewasa, berlainan dengan anak kecil, mampu berdiri sendiri ,mempunyai kebebasan dalam kumauan serta perbuatan, dan mampu berfikir secara mendalam. Karena itu aliran in i menganut faham qadariah, yang di barat dikenal dengan istilah free-will and free-act, yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika, baik dalam perbuatan atau pemikiran.
  3. Pemikiran fisolofis mereka membawa kepada penekanan konsep tuhan yang maha adil. Maka keadilan tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. Keadilan tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan, dalam Al-Qur`an disebut sunnatullah, yang mengatur perjalanan apa yang ada di dalam ini. Alam ini berjalan menurut perturan tertenntu, da peraturan itu perludicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini.Teologi rasional Mu`tazilah inilah, dengan keyakinan akan kedudukan akal yang tinggi, kebebesan manusia dalam berfikir serta berbuat dan adanya hukum alam ciptaan tuhan, yang membawa pada perkembangan islam, bukan hanya filsafat, tetapi juga sains, pada masa antara abad ke VIII dan ke XIII M. (Harun Nasution).[3]

D.Prinsip-Prinsip Ajaran Mu`tazilah

1.Al Tauhid (Keesaan Allah)

Meyakini sepenuhnya hanya allah SWT yang maha Esa. Tidak ada yang serupa dengan–Nya Mereka menganggap konsep tauhid ini yang paling murni sehingga mereka senang disebut Ahlut Tauhid (pembela tauhid). Dalam mempertahankan paham keesaan Allah SWT, mereka meniadaakan segala sifat Allah, yaitu bahwa tuhan tidak mempunyai sifat yang berdiri di luar Dzat–Nya, kaum Mu`tazilah enggan mengakui adanya sifat Tuhan dalam pengertian sesuatu yang melekat pada  Dzat Tuhan. Jika Tuhan dikatakan MahaMengetahui maka itu bukan sifa-Nya tapi Dzat-Nya. Mu`tazilah juga meyakini bahwa Al-Qur`an adalah mahluk.

Karena ada Prinsip-prinsip ini, Maka Musuh-musuh Mu`tazilah Menggelari mereka dengan “Mu`atthilah” sebab Merek telah meniadakan Sifat-sifat Tuhan dan Menghapuskannya. Dan karna Prinsip ini pulalah Maka kepada orang-orang yang menetapkan adanya sifat-sifat Tuhan, Lalu diberikan gelar “Shifatiyah”. Dan karena Prinsip Pertama tersebut diatas, Maka kaum Mutazilah sendiri menyebut diri Mereka dengan “Ahlul adli wat tauhid” (Pengemban keadilan dan ketauhidan).

Terkait dengan hal ini Mu`tazilah berpendapat antara lain:

a.)      Tidak mengakui sifat-sifat Allah SWT, menurutnya apa yang di katakan sifat adalah tak lain dari dzat-Nya sendiri.;

b.)      Al-Qur`an menurut-Nya adalah mahluk;

c.)      Allah di akhirat kelak tidak dapat dilihat oleh mata kepala manusia, karena Allah tidak akan terjangkau oleh Mata.[4]

2.Al `Adl (Keadilan Tuhan)

Paham keadilan yang dikehendak i Mu`tazilah adalah bahwa Allah SWT tidak menghendaki keburukan, tidak menciptakan perbuatan manusia dan manusia dapat mengerjakan perintah-perintah Nya dan meningglkn larangan-larangan Nya dengan qudrah (Kekuasaan) yang  di tetapkan Allah SWT pada diri manusia itu. Allh tidak memerintahkan sesuatu kecuali menurut apa yang dikehendaki Nya. Ia hanya menguasai kebaikan-kebaikan yang diperintahkan Nya dan tidaktahu-menahu (bebas) dari keburuka-keburukan yang dilarang Nya.

Kaum Mu`tazilah Menggunakan istilah keadilan tersebut kepada apa yang telah disebutkan di atas tadi, yaitu manusialah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya sendiri,yang baik atupun yang jelek. Dan karenanya ia berhak mendapatkan pahala dan siksa. Dan Tuhan sama sekali bersih dari hal-hal yang jelek, Aniaya dan perbuatan yang di pandang Kekafiran dn Kemaksita. Sebab, kalauseandinya Tuhan Memang menciptakan kezaliman, berarti bahwaa Ia dalah zalim. Mereka sepakat bahwaa Allah Ta`ala hanyalah berbuat yang patut dan yang baik.

Berdasarkan kepada prinsip tersebut, maka kaum Mu`tazilah ini juga disebut “Al`adliyah”, yaitu orang-orang yang menganut pendapat tentang keadilan. Dan karenanya juga Merekaa disebut kaum ”Qadariyah”yaitu orang-orang yang menentang adany Qadha dan Qadhar.

Kaum mu`tazilah sendiri tidak pernah Menyebu-nyebut kedua istilah itu. Merekan bahkan benci akan gelar-gelar tersebut. Dan mereka tidak senang kalau kedua perkataan itu dipakai sebagai mana mereka. Bahkan mereka berpendapat bahwa gelar-gelar tersebut sepantasnya dipakai kepada orang yang menganut pendapat tentang adanya Qadhar, dan bukan kepada orang-orang yang mengingkari pendapat itu.

Yang munyebabkan kaum Mu`tazilah benci kepda gelar tersebut Ialah sabda Rosulullah S.A.W :

“Kaum Qadariyah adalah kaum majusi ummat ini”,dan sabdanya lagi :Kaum Qadariyah adalah musuh-musuh Allah mengenai Qadhar.

Itulah sebabnya kita dapati orang-orang yang menganut pendapat tentang adanya Qadhar melekatkaan gelar tersebut kepada kaum Mu`tazilah dan sebaliknya kaum Mu`tazilahpun melekatkaan gelar tersebut kepada orang-orang yang menganut pendapat tentang adanya Qadhar.

Dengan pemahaman demikian, maka tidaklah adil bagi Allah SWT seandainya ia menyiksa manusia karena perbuatan dosa Nya, sementara perbuatan dosa Nya itu dilakukan karena perintah Tuhan. Tuhan dikatakan adil jika menghukum orang yang berbuat buruk atas kemauan Nya sendiri.[5]

3.Al Wa`d wa al wa`id (Janji dan ancaman)

Kaum Mu`tazilah sepaakan mengatakan baahwa seorang Mu`min apabila telah keluar dari dunia ini Dalam keadaan Ta`at dan taubat Ia berhak Mendapatkan Pahala dan i`wadl. Juga berhak Untuk Mendapatkan Tafaddhul (Karunia tuhan)Yaitu suatu pengertian lain dibalik pahala. Dan apabila Seorang mu`min Keluar dari Dunia ini tanpa bertaubat lebih dahulu dari sesuatu Dosa besar yang telah di perbuatnya, Maka ia ditempatkan dalam Neraka Selama-lamanya;akan tetapi siksa yang diterimanya Lebih ringan dari pada siksa orang-orang yang kafir.Inilh yang disebut mereka Janji dan Ancaman.

Al Wa`d wa al wa`id (Janji dan ancaman), bahwa Wajib bagi Allah SWT untuk memenuhi janji-Nya

(al wa`d) bagi pelaku kebaikan agar di masukkan ke dalam surga, dan melaksanakan ancaman-Nya

(alwa`id) bagi pelaku dosa besar (Walaupun dibawah syirik) agar dimasukkan ke dalam neraka, kekal abadi didalam Nya, dan tidak boleh bagi Allah SWT untuk menyelisihi Nya. Karena inilah mereka disebut denganWa`idiyah.[6]

4.Al manzilah bin al manzilatain  (posisi di antara dua tempat)

Yaitu tempat untuk orang yang berbuat dosa besar yang belum melakukan taubat yang diterima oleh tuhan sebelum mati. Orang semaacam ini menurut kaum mu`tazilah, akan ditempatkan disuatu tempat yang terletak antara tempat yaang disediakan untuk orang Muslim dan tempaat yang disediakan untuk orang Kafir.

Adalah suatu tempat antara surga dan neraka sebagai konsekwensi dari pemahaman yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah fasik ,Tidak dikatakan beriman dan tidak pula dikatakan kafir,Dia tidak berhak dihukumkan mukmin dan tidak pula dihukumkan Kafir.

(Pelaku Dosa  Besar Menurut Aliran Mu`tazilah)

Kemunculan aliran mu`tazilah dalam pemikiran teologi Islam di awali oleh masalah yang hampir sama dengan aliran Khawarij dan Murji`ah yaitu mengenai status pelaku dosa besar . Apakah masih beriman atau sudah kafir. Perbedaan Nya, bila Khawarij mengkafirkan pelaku dosa besar. Murji`ah memelihara keimanan pelaku dosa besar maka Mu`tazilah tidak menentukan status dan predikat pelaku dosa besar, apakah dia tetap mukmin atau kafir. Mereka memiliki istilah Mnzilah binal manzilatain.

Menurut Mu`tazilah, setiap pelaku dosa besar berada di posisi tengah-tengah, antara posisi mukmin dan posisi kafir. Mereka menyebut pelaku dosa besar dengan sebutan fasik. Ia akan kekal di dalam neraka, apabila meninggal dalam keadaan belum bertaubat , walaupun dengan siksaan yang berbeda dengan orang kafir.

Yang di maksud dengan dosa besar menurut pandangan mu`tazilah adalah segala perbuatan yang ancaman nya disebutkan secara tegas dalam nash,sedangkan dosa kecil sebalik Nya, yaitu segala perbuatanYang ancaman Nya tidak disebutkan ssecara tegas dalam nash. Tampak Nya Mu`tazilah menjadikan ancaman sebagai kriteria dasar bagi perbuatan dosa besar maupun perbuatan dosa kecil.[7]

5.Amar ma`ruf nahi mungkar (Dalam pandangan Mu`tazilah)

Dalam keada keadaan normal pelaksanaan al amru bil ma`ruf wan nahyu `anil mungkar itu cukup dengan seruan saja, tetapi dalam keadaan tertentu perlu kekerasan,dll.[8]

E. Pertumbuhan Mu`tazilah

Mu`tazilah adalah satu macan lagi diantara gerakan-gerakan yang timbul pada masa kekuasan Daulah Umawiyah. Gerakan ini Mempunyi watak yang berbeda dengan gerakan-gerakan yang telah kita bicarakan sebelumnya. Dia adalah gerakan keagamaan semata-mata, tidak pernah membentuk pasukan, dan tidak pernh menghunus pedang. Riwayat-riwayat yang menyebut tentang ikut-serta beberapa orang pemimpin kaum mu`tazilah, seperti `Amru ibnu `Ubaid dalam serangan yang dilancarkan oleh Yazid ibnu Walid, dan yang menyebabkan gugurnya Al walid ibnu Yazid, tidaklah menyebabkan mu`tazilah ini menjadi satu golongan yang mempunyai dasar-dasar Kemileteran, sebab pemberontakan terhadap Al Walid itubukanlah pemberontakan kaaum Mutaazilah, melainkan adalah suatu pemberontakan yang berakar panjang yang berhubungan dengan kepribadian dan mural Kholifah, sebagai mana yang telah kita uraikan dulu. Maka ikut sertanyabeberapa orang Mu`tazilah dalam pemberontakan ituhanyalah secara perseorangan, disebabkan prinsip-prinsipyang umum, yang menyebabkan rakyat berontak kepada penguasa yang zalim, atau penguasa yang suka menurutkan hawa nafsunya.

Walaupun gerakan Mu`tazilah ini merupakan gerakankeagamaan, dan Walaupun gerakan ini tidak pernah membuat pasukan dan tidak pernah menghunus pedang, namun pada saat-saat ini ia mempunyai kekuatan ia tidak segan-segan menggunakan kekerasan dan tekanan-tekanan terhadap pihak-pihak yang menantangnya, sebagaimana yang akan kita uraikan dalam pembicaraan kita mengenaimasalah”Khalqul Qur-an”dalam jilid yang ketiga dari buku ini, pada waktu Kholifah Ma`mun menganjurkan kepada para ulama untuk mengikuti pendpat kaum Mu`tazilah bahwa Al-Qur`an itu adalah mahluk. Falsafah Ma`mun menghendaki supaya orang-orang yang mengatakan Al-Qur`an itu bukan mahluk hendaklah dipandang sebagai orang yang fasik dan menentang agama.

Pemakaian kekerasan itu dipandang sebagai salah satu dari sikap Mu`tazilah yang tercelah.Dan adanya tekanan-tekanan itu menjadi sebab yang terpenting lagi lenyapnya mazhab ini kemudian hari.

Itulah corak dari gerakan Mu`taazilah, suatu gerakan fikiran, yang telah banyak membahas prinsip-prinsip keagamaan, dan juga telah membahas beberapa peristiwa politik dengan pembahasan yang bersifat pemikiran, sebagaimanaa yang akan kita terangkan kemudian. Senjatanya adalah falsafah dan akal.

Tatkala khalifah Ma`mun menganut beberapa prinsip-prinsip Mu`tazilaah itu, ia lalu mempertahankan kepercayaannya dengan menggunakan kekuatan dan tekanan-tekanan.

Walaupun tindakan Ma`mun ini telah dianggap aib dari kaum Mu`tazilah, namun mereka itu dapat dibela, karena tindakan tersebut adalah tindakan penguasa, bukan tindakan Mu`tazilah. Adapun kaum mu`tazilah sendiri, mreka tetap berada dalam gerakan fikiran dan falsafah, tanpa memanggul senjata, ataupun menimbulkan kekacauan-kekacauan yang bersifat militer. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa watak Mu`tazilah ini senantiasa jauh berbeda dengan watak Syi`ah atau Khawarij.[9]

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sejarah munculnya aliran mu’tazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran mu’tazilah tersebut muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah, tahun 105 – 110 H, tepatnya pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik. Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal, kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik. Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah awal kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru, dan akhirnya golongan mu’tazilah pun dinisbahkan kepadanya. Sehingga kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar diwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah).

Mereka tidak memandang nama Mu’tazilah itu sebagai nama ejekan. Selain dengan nama Mu’tazilah golongan ini juga dikenal dengan nama-nama lain. Mereka sendiri selalu menyebut golongan mereka sebagai Ahl al-Adl dalam arti golongan yang mempertahankan keadilan Tuhan, dan juga Ahl at-Tauhid wa al-‘Adl, golongan yang mempertahankan keESAan murni dan Keadilan Tuhan. Lawan mereka memakai nama-nama seperti al-Qadariah, karena mereka menganut paham free willdan free act; al Mu-‘attilah, karena mereka berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat dalam arti sifat mempunyai wujud diluar zat Tuhan; dan Wa’idiah, karena mereka berpendapat bahwa ancaman-ancaman Tuhan terhadap orang-orang yang tidak patuh, pasti akan menimpa diri mereka.

Abu huzail Al-Allaf,merumuskan lima prinsip pokok-pokok ajaran mu’tazilah antara lain :

1) At-Tauhid (Keesaan Allah)

Menafikan sifat-sifat Allah

Al-Qur’an adalah makhluk

Allah tidak dapat dilihat dengan mata

Berbeda dengan makhluknya (Mukhalafatuhu lilhawadist)

2) Al-‘Adl (Keadilan Tuhan)

3) Al-Wa’d Wa-Al-Wai’d (Janji baik dan ancaman)

4) Al-Manzilah Bain Al-Manzilatain (Posisi diantara dua posisi)

5) Amar Makruf dan Nahi munkar

B. Saran

Harapan saya kepada para pembaca agar mengamalkan setiap ilmu yang diperoleh agar ilmu tersebut tidak sia-sia.

Harapan saya kepada para pembaca khusus bagi dosen pembimbing agar studi kiranya memperbaiki setiap kesalahan / kesimpulan baik disengaja maupun tidak disengaja. Dalam uraian isi makalah ini khususnya, dan para mahasiswa umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1.Ihsan Muh.Hamdi,Lc,M.S.I,(Ilmu Kalam).
  • 2.SYALABI Prof.Dr.A.,Sejarah dan Kubudayaan Islam,(Jalan Sirih Barat Jakarta:Pustaka Al-Husna).
  • [1] Muh.Hamdi Ihsan,Lc,M.S.I, Ilmu Kalam,24-25.
  • [2] Muh.Hamdi Ihsan,Lc,M.S.I, Ilmu Kalam,25
  • [3] ibid,25
  • [4] Prof.Dr.A.SYALABI,Sejarah dan Kubudayaan Islam,(Jalan Sirih Barat Jakarta:Pustaka Al-Husna),393-394.
  • [5]  Prof.Dr.A.SYALABI,Sejarah dan Kubudayaan Islam,(Jalan Sirih Barat Jakarta:Pustaka Al-Husna),391-393
  • [6] Ibid,394
  • [7].Prof.Dr.A.SYALABI,Sejarah dan Kubudayaan Islam,(Jalan Sirih Barat Jakarta:Pustaka Al-Husna),394
  • [8] Muh.Hamdi Ihsan,Lc,M.S.I, Ilmu Kalam,25.
  • [9] Prof.Dr.A.SYALABI,Sejarah dan Kubudayaan Islam,

    (Jalan Sirih Barat Jakarta:Pustaka Al-Husna),374-375.