Contoh Makalah Hipertensi Gravidarum (Kesehatan)

Contoh Makalah Hipertensi Gravidarum

Contoh Makalah Hipertensi Gravidarum (Kesehatan)

Makalahkita.com – Contoh Makalah Hipertensi Gravidarum (Kesehatan) yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Kehamilan merupakan suatu proses yang alamiah dan fisiologis. Setiap wanita yang memiliki organ reproduksi sehat yang telah mengalami menstruasi dan melakukan hubungan seksual dengan seorang pria yang organ reproduksinya sehat sangat besar kemungkinannya akan mengalami kehamilan. Apabila kehamilan ini direncanakan, akan memberi rasa kebahagiaan dan penuh harapan. Selama pertumbuhan dan perkembangan kehamilan dari bulan ke bulan diperlukan kemampuan seorang ibu hamil untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada fisik dan mentalnya. Perubahan ini  terjadi akibat adanya ketidakseimbangan hormon progesteron dan hormon estrogen yakni hormon kewanitaan yang ada di dalam tubuh ibu sejak terjadinya proses kehamilan (Mandriwati, 2008). Kehamilan merujukkan saat yang menyenangkan dan di nanti nanti kan oleh ibu dan keluarga nya. Semua ibu menginginkan kehamilan maupun persalinan nya berjalan aman,dan normal.tetapi kehamilan dapat juga menjadi saat kegelisahan dan keprihatinan. Hubungan yang serasi dan saling percaya harus dimiliki baik penolong maupun pasien.

Hipertensi adalah faktor risiko utama penyakit-penyakit kardiovaskular yang merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Data penelitian Departemen Kesehatan RI menunjukkan hipertensi dan penyakit kardiovaskular masih cukup tinggi dan bahkan cenderung meningkat seiring dengan gaya hidup yang jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat, mahalnya biaya pengobatan hipertensi, disertaikurangnya sarana dan prasarana penanggulangan hipertensi.

Berdasarkan laporan WHO dan CDC (2002), diperkirakan penderita hipertensi di seluruh dunia berjumlah 600 juta orang, dengan 3 juta kematian setiap tahun. Di Amerika diperkirakan 1 dari 4 orang dewasa menderita hipertensi, dan stroke merupakan masalah utama. Oleh sebab itu, Amerika telah mengharuskan penduduk yang berusia di atas 20 tahun untuk memeriksakan tekanan darahnya minimal 1 kali dalam 2 tahun.

1.2  Rumusan Masalah

Ø  Apa yang dimaksud dengan hipertensi gravidarum ?

Ø  Apa penyebab, tanda subjektif + objektif, gejala dan penatalaksanaan pada hipertensi gravidarum ?

1.3  Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini agar mahasiswa/mahasiswi mengetahui bagaiman itu hipertensi gravidarum pada ibu hamil.

1.4  Manfaat

  1. Bagi Diri sendiri

Untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hipertensi.

  1. Bagi Profesi

Sebagai salah satu masukan bagi organisasi profesi bidan dalam upaya pelayanan masa hamil. Sehingga dapat memberikan pelayanan kebidanan secara professional dan sesuai dengan kode etik kebidanan.

  1. Bagi Institusi
  2. Rumah bersalin

Untuk memberikan masukan bagi bidan dalam penyusunan kebijakan program pelayanan kebidanan khususnya tentang pemberian asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hipertensi.

  1. Pendidikan

Untuk menambah wacana dan informasi mengenai asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan hipertensi

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  HIPERTENSI GRAVIDARUM

Hipertensi ditemukan pada ibu hamil baik pada penyakit sebelumnya (5-15% dari total ibu hamil) atau sebagai gangguan yang berhubungan dengan kehamilan, pre-eklamsia (Lyoyd, dalam Wylie). Hipertensi dijuluki sebagai the silent killer karena biasanya tidak menunjukkan gejala dan hanyaterdiagnosis melalui krinning atau ketika penyakit tersebut bermanifestasi ada komplikasi gangguan tertentu. Hipertensi sangat signifikan berkontribusi terhadap angka kesakitan dan kematian ibu dan janin sehingga perlu dilakukan skrinning awal dan pemeriksaan lanjutan selama kehamilan.

1.HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

Pengertian Hipertensi:

Adanya tekanan sistolik sekurang-kurangnya 140 mmHg dan tekanan diastolik sekurang-kurangnya 90 mmHg. Nilai tersebut diukur sekurang-kurangnya dua kali dengan perbedaan waktu 6 jam atau lebih dalam keadaan istirahat (Manuaba, 2008).

  1. KLASIFIKASI HIPERTENSI

Klasifikasi hipertensi dalam kehamilan adalah sebagai berikut :

1)      Hipertensi esensial

Hipertensi pre-existeng dikenal dengan hipertensi kronis atau esensial. Hipertensi esensial sudah dibahas pada awal sub bab ini.

2)      Hipertensi esensial disertai superimposed pregnancy-induced hypertension.
Hipertensiesensial disertai superimposed preatau pre eklamsia dapat terjadi selama kehamilan. Komplikasi dari hipertensi esensial diindikasikan oleh ketidakmampuan tubuh untuk mengompensasi patologi penyebab hipertensi yang menghambat darah menyuplai gas dan nutrienke jaringan dan organ tubuh.

Komplikasi lain yang mungkin timbul antara lain:

Ø  gagal ginjal

Ø  serangan vaskuler serebral (stroke)

Ø   ensefalopati.

3)      Hipertensi diinduksi kehamilan (pregnancy-induced hypertension, PIH).

Hipertensi diinduksi kehamilan (pregnancy-induced hypertension, PIH) adalah peningkatan tekanan darah setelah minggu ke-20 kehamilan. Penyebab PIH belum diketahui, akan tetapi telah dihubungkan dengan kasus pembesaran plasenta. Karena tekanan darah meningkat tanpa proteinuria, maka dapat menjadi indikasi bahwa tubuh tidak mampu mengompensasi patologi sirkulasi yang berhubungan dengan hipertensi esensial dengan vaskularisasi tambahan ke plasenta dan janin. Diagnosisnya apabila tekanan darah diastolik > 110 mmHg pada setiap pemeriksaan atau 90 mmHg pada dua kali atau lebih pemeriksaan atau selang 4 jam. Penatalaksanaannya diperlukan pengawasan yang cermat terhadap kondisi ibu dan janin. Pemeriksaan bagi ibu antara lain : pemeriksaan fisik lengkap USG, Laboratorium darah dan urin. Sedangkan bagi janin adalah pemeriksaan abdomen; USG; kardiotokografi.

4)      Pre-eklamsia

Ø  Pengertian

Pre-eklamsia juga dikenal sebagai hipertensi gestasional proteinurik, toksemia pre-eklamtik (TPE). Pre-eklamsia merupakan gangguan multisistem yang bersifat spesifik terhadap kehamilan dan masa nifas. Lebih tepatnya, penyakit ini merupakan penyakit plasenta. Angka kejadian pre-eklamsia sekitar 6-8% dari semua kehamilan.

Ø  Penyebab

Penyebab pre-eklamsia belum diketahui secara pasti. Pre-eklamsia ditandai dengan gejala tekanan darah ? 140/90 mmHg, proteinuria dan edema pada wajah maupun tangan. Pre-eklamsia terbagi menjadi pre-eklamsia ringan dan pre-eklamsia berat.  Komplikasi pre-eklamsia jangka pendek antara lain: gagal ginjal; eklamsia, stoke, kematian ibu, HELLP, DIC, dan masih banyak lainnya.

Ø  Gejala Klinis

Gejala klinis pre eklampsia ringan meliputi :

a) Kenaikan tekanan darah sistol 30 mmHg atau lebih; diastol 15 mmHg atau lebih dari tekanan darah sebelum hamil pada kehamilan 20 minggu atau lebih atau sistol 140 mmHg sampai kurang 160 mmHg; diastol 90 mmHg sampai kurang 110 mmHg.

b) Proteinuria : secara kuantitatif lebih 0,3 gr/liter dalam 24 jam atau secara kualitatif positif 2 (+2).

c) Edema pada pretibia, dinding abdomen, lumbosakral, wajah atau tangan.

Ø  Tanda – tanda

adalah jika setelah kehamilan memasuki usia 20 minggu tiba-tiba tekanan darah meningkat sampai 150/110 disertai sering pusing dan adanya pembengkakan pada jari-jari tangan, tungkai kaki dan wajah pun ikut membengkak ( sembab )

Ø  Pencegahan

Deteksi dini lakukan kontrol kehamilan agar preeklampsia dapat didiagnosa dan diobati. Tindakan dokter biasanya seperti mengecek tekanan darah dan mengambil sampel urin. Dengan Doppler USG, dokter juga dapat memeriksa pembuluh darah plasenta, melihat perubahan dalam struktur dan dengandemikian awal gejala dari preeklampsia dapat diketahui dari pendeteksian dini. Mencegah dan memulihkan gejala preeklampsia

Ø  Pelaksanaan

Penanganan pre-eklamsia sesuai dengan klasifikasinya.

Ø  Patofisiologi

Sebab preeklampsia dan eklampsia sampai sekarang belum diketahui. Telah banyak teori yang mencoba menerangkan sebab –musabab penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada yang memberikan jawaban yang memuaskan. Teori yang diterima harus dapat menerangkan hal-hal berikut:

  • sebab bertambahnya frekuensi pada primigrafiditas, kehamilan ganda, hidramnion dan mola hidatidosa;
  • sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan;
  • sebab terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam uterus;
  • sebab jarangnya terjadi eklampsia pada kehamilan-kehamilanberikutnya; dan sebab timbulnya hipertensi, edema, proteinuria, kejang dan koma.3)

Penyebab pre eklampsia ringan belum diketahui secara jelas. Penyakit ini dianggap sebagai “maladaptation syndrome” akibat vasospasme general dengan segala akibatnya.

5)      Eklamsia

Ø  Pengertian

Eklamsia didefinisikan sebagai satu atau lebih kejang menyeluruh atau koma dalam kondisi pre-eklamsia tanpa ada kondisi neurolig lain. Eklamsia dianggap sebagai tahap akhir pre-eklamsia. Eklamsia dapat terjadi selama periode pranatal, intranatal, dan pascanatal. Yang paling beresiko adalah : periode pascanatal.

Ø  Penyebab

eklampsia akan menyebabkan ibu hamil mengalami kejang-kejang, pingsan dan koma. bahkan bisa mengarah kepada komplikasi gagal jantung, terganggunya fungsi paru dan tersendatnya metabolisme tubuh.

Ø  Patofisiologi

Sama dengan pre eklampsia dengan akibat yang lebih serius pada organ-organ hati, ginjal, otak, paru-paru dan jantung yakni terjadi nekrosis dan perdarahan pada organ-organ tersebut.

Ø  Gejala Klinis

  1. Kehamilan lebih 20 minggu atau persalinnan atau masa nifas
  2. Tanda-tanda pre eklampsia (hipertensi, edema dan proteinuria)
  3. Kejang-kejang dan/atau koma
  4. Kadang-kadang disertai gangguan fungsi organ

Komplikasi terjadinya eklamsia adalah kematian, perdarahan serebral edema paru, ARDS, gagal ginjal. Ibu dengan pre-eklamsia berat beresiko mengalami kejang berulang, sehingga pencegahan dan penanganan dapat dilakukan dengan pemberian Magnesium Sulfat secara intravena.

Menurut Saifudin (2002) Klasifikasi hipertensi:

1)      Hipertensi karena kehamilan yaitu hipertensi yang terjadi pada kehamilan > 20 minggu, dalam persalinan, atau pada 48 jam setelah persalinan.

2)      Hipertensi Kronik yaitu meningkatnya tekanan darah sebelum usia kehamilan 20 minggu.

2. ETIOLOGI

1)      Menurut Manuaba (2008)

Penyebab utama dalam hipertensi dalam kehamilan adalah hipertensi essensial dan penyakit ginjal.

2)      Menurut Suheimi (2009)

Resiko hipertensi meningkat cukup besar pada keadaan-keadaan ketika pembentukan antibodi penghambat terhadap tempat-tempat antigenik di plasenta terganggu.

  1. GEJALA HIPERTENSI

Gejala-gejala yang ditunjukkan pada ibu hamil dengan hipertensi adalah pusing, muka merah, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba-tiba, dan tengkuk terasa pegal (Suheimi, 2009).

  1. TANDA HIPERTENSI

Tekanan darah absolut 140/90 mmHg atau 160/110 mmHg yang diambil berjarak 6 jam dalam keadaan istirahat (Manuaba, 2008).

3. PATOFISIOLOGI HIPERTENSI

Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin atau renin oleh enzim renin yang bisa mengubah angiotensi I dan II atau angiotensin converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis yang penting dalam mengatur tekanan darah, mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya oleh hormon renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubah angiotensin I yang terdapat di ginjal. Kemudian diubah lagi menjadi angiotensin II oleh ACE yang terdapat di paru-paru, Angiotensin II inilah yang memiliki peranan dalam menaikkan tekanan darah (Abidin, 2009). Angiotensin II meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) penyebab rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus dan berada pada ginjal untuk mengatur osmolitas dan volume urine.

Meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar atau anti diuresis, sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolitasnya (Abidin, 2009). Volume cairan ekstraseluler akan diencerkan dengan menarik cairan meningkatkan terjadinya anti diuresis. Akibatnya, volume meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah (Suheimi, 2009).

4. KOMPLIKASI HIPERTENSI

Komplikasi yang bisa terjadi oleh karena hipertensi pada kehamilan menurut Saifudin (2002) adalah :

1)      Pertumbuhan janin terhambat (IUGR)

2)      Kematian janin

3)      Persalinan premature

4)       Solusio plasenta

  1. GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis hipertensi menurut Manuaba (2008) yaitu kenaikan tekanan darah sistolik 30 mmHg dan diastolik 15 mmHg.

  1. TANDA SUBJEKTIF & OBJEKTIF

TINJAUAN KASUS

Tanggal : 13 Juli 2012 Pukul : 10.00 WIB

Tempat : RSUD Dr. Moewardi

Pengkajian:

  1. Data Subyektif

Identitas Pasien                                   Identitas Suami

1) Nama : Ny. S                                  Nama : Tn. A

2) Umur : 26 tahun                              Umur : 30 tahun

3) Agama : Islam                                 Agama : Islam

4) Suku bangsa : Jawa/Indonesia        Suku bangsa : Jawa/Indonesia

5) Pendidikan : SLTA                         Pendidikan : SLTA

6) Pekerjaan : Swasta                          Pekerjaan : Polri

7) Alamat : Dibal RT 05 / RW 06 Ngemplak Boyolali

  1. Anamnesa (Data Subyektif)

Tanggal 13 Juli 2012 Pukul 10.05 WIB

1) Keluhan utama

Ibu datang ingin memeriksakan kehamilannya, ibu mengatakan sering pusing dan pandangan mata kabur.

2) Riwayat menstruasi

  1. a) Menarche : Ibu mengatakan haid pertama pada umur 12 tahun.
  2. b) Siklus : Ibu mengatakan siklus haidnya + 28 hari.
  3. c) Lama : Ibu mengatakan lamanya haid 6-7 hari.
  4. d) Banyaknya : Ibu mengatakan deras sampai ganti pembalut 2 – 3 kali per hari.
  5. e) Teratur/tidak teratur : Ibu mengatakan haidnya teratur tiap bulan.
  6. f) Sifat darah : Ibu mengatakan sifat darah haidnya encer.

g)Dismenorhea : Ibu mengatakan tidak pernah merasakan nyeri haid sampai mengganggu aktivitasnya.

            3) Riwayat Hamil Ini

a) HPHT : 23 Maret 2012

b) HPL : 30 Desember 2012

c) Gerakan janin

Ibu mengatakan mulai merasakan gerakan janin sejak umur kehamilan 16 minggu sekitar 10-15 kali sehari.

d) Obat yang dikonsumsi

Ibu mengatakan hanya mengkonsumsi obat yang diberikan oleh bidan.

e) Keluhan-keluhan pada

Trimester I : Ibu mengatakan sering mual muntah

Trimester II : Ibu mengatakan pusing dan pandangan mata kabur

f) Riwayat ANC : Ibu mengatakan 4 kali teratur di bidan yaitu pada umur kehamilan 4 minggu, 6 minggu, 12 minggu, 16 minggu.

g) Penyuluhan yang pernah didapat

Ibu mengatakan pernah mendapat penyuluhan dari bidan tentang gizi pada ibu hamil dan pola istirahat untuk ibu hamil pada umur kehamilan 12 minggu.

h) Imunisasi TT

Ibu mengatakan telah mendapatkan imunisasi TT sebanyak 2x yaitu pada waktu mau menikah tanggal 25 Februari 2011 dan usia kehamilan 8 minggu.

i) Kekhawatiran khusus

Ibu mengatakan merasa cemas terhadap keadaan kehamilannya sekarang karena akhir-akhir ini merasa pusing dan pandangan kabur.

4) Riwayat Penyakit

a) Riwayat penyakit sekarang

Ibu mengatakan sekarang merasa pusing dan pandangan kabur.

b) Riwayat penyakit sistemik

(1) Jantung

Ibu mengatakan tidak pernah merasa berdebar-debar saat beraktivitas ringan dan tidak berkeringat dingin di telapak tangan.

(2) Ginjal

Ibu mengatakan tidak pernah merasa nyeri pada pinggang bagian bawah dan sakit saat buang air kecil.

(3) Asma / TBC

Ibu mengatakan tidak pernah sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu.

(4) Hepatitis

Ibu mengatakan tidak pernah terlihat kuning di mata, ujung kuku dan kulit.

(5) DM

Ibu mengatakan tidak pernah sering merasa haus, lapar, dan sering kencing di malam hari lebih dari 8 x.

(6) Hipertensi

Ibu mengatakan sebelum hamil tekanan darah tidak pernah lebih dari 120/80mmHg, tapi setelah hamil tekanan darahnya 140/90 mmHg.

(7) Epilepsi

Ibu mengatakan tidak pernah mengalami kejang sampai mengeluarkan busa dari mulut.

(8) Lain-lain

Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit lainnya seperti HIV/AIDS.

c) Riwayat penyakit keluarga

Ibu mengatakan dalam keluarganya maupun dari pihak suaminya tidak pernah mempunyai riwayat penyakit menular seperti TBC dan hepatitis serta penyakit menurun seperti hipertensi dan jantung.

d) Riwayat keturunan kembar

Ibu mengatakan dalam keluarganya maupun keluarga suaminya tidak pernah ada riwayat keturunan kembar.

e) Riwayat operasi

Ibu mengatakan belum pernah melakukan operasi

5) Riwayat Perkawinan

Ibu mengatakan status perkawinannya syah, kawin 1 kali pada umur 25 tahun dengan suami umur 29 tahun, lama perkawinan 1 tahun dan belum mempunyai anak.

6) Riwayat Keluarga Berencana

Ibu mengatakan belum pernah menggunakan jenis alat kontrasepsi apapun.

7) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu

8) Pola kebiasaan sehari-hari

a) Nutrisi

(1) Sebelum hamil : Ibu mengatakan makan 3x sehari porsi sedang dengan menu makanan bervariasi dalam 1 minggu dengan komposisi nasi, sayur berupa (bayam, sawi, kangkung, daun singkong), lauk berupa (tahu, tempe, telur), buah (pisang, apel, jeruk), minum kurang lebih 6- 8 gelas/hari, jenisnya air putih 5-6 gelas, teh 1 gelas, kadang susu 1 gelas.

(2) Selama hamil : Ibu mengatakan makan 3-4 kali sehari porsi kecil dengan menu makanan bervariasi dalam 1 minggu dengan komposisi sama seperti saat sebelum hamil yaitu nasi, sayur berupa (bayam, sawi, kangkung, daun singkong), lauk berupa (tahu, tempe, telur, kadang daging), buah berupa (pisang, apel, jeruk), minum kurang lebih 6-8 gelas/hari, jenisnya air putih 5-6 gelas, teh 1 gelas dan ditambah susu ibu hamil 1 gelas.

b) Eliminasi

(1) Sebelum hamil : Ibu mengatakan BAB 1x sehari konsistensi lunak, warna dan bau khas feces. BAK 5-6x sehari, warna dan bau khas urine. Ibu tidak merasa sakit saat BAK

(2) Selama hamil : Ibu mengatakan BAB 1x sehari konsistensi lunak, warna dan bau khas feces. Ibu tidak merasa sakit saat BAB. BAK meningkat menjadi 7-8x sehari, warna dan bau khas urine.

c) Aktifitas

(1) Sebelum Hamil : Ibu mengatakan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyapu dan memasak.

(2) Selama Hamil : Ibu mengatakan tetap melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyapu dan memasak.

d) Istirahat / tidur

(1) Sebelum Hamil : Ibu mengatakan tidak pernah tidur siang, tidur malam ± 8 jam.

(2) Selama Hamil : Ibu mengatakan tidur siang +1 jam, tidur malam ± 8 jam.

e) Seksualitas

(1) Sebelum Hamil : Ibu mengatakan melakukan hubungan seksual 3x seminggu dan tidak ada keluhan apapun.

(2) Selama Hamil : Ibu mengatakan melakukan hubungan seksual 1x dalam 2 minggu karena ibu takut mengganggu kehamilannya, suami tidak keberatan dengan keputusan ibu.

f) Psikososial budaya

(1) Perasaan tentang kehamilan ini

Ibu mengatakan senang terhadap kehamilan ini, tetapi akhir-akhir ini merasa takut karena sering merasa pusing dan pandangan kabur.

(2) Kehamilan ini direncanakan / tidak

Ibu mengatakan kehamilan ini direncanakan.

(3) Jenis kelamin yang diharapkan

Ibu mengatakan anak laki-laki atau perempuan sama saja yang terpenting bisa lahir dengan normal dan sehat.

(4) Dukungan keluarga terhadap kehamilan ini

Ibu mengatakan baik dari keluargamya maupun dari keluarga suaminya sangat mendukung kehamilan ini.

(5) Keluarga lain yang tinggal serumah

Ibu mengatakan hanya tinggal dengan suami dan mertuanya.

(6) Pantangan makanan

Ibu mengatakan tidak ada pantangan makanan.

(7) Kebiasaan adat istiadat dalam kehamilan

Ibu mengatakan di keluarganya tidak ada kegiatan adat istiadat dalam kehamilan.

g) Penggunaan obat-obatan/rokok

Ibu mengatakan tidak menggunakan obat terlarang dan hanya mengkonsumsi obat yang diberikan oleh bidan serta tidak merokok

  1. Pemeriksaan Fisik (Data Obyektif)

1) Status generalis

a) Keadaan Umum : Baik.

b) Kesadaran : Composmentis

c) TTV : TD : 140/90 mmHg N : 84 x/menit S : 36°C R : 24 x/menit.

d) TB : 156 cm.

e) BB sebelum hamil : 50 kg.

f) BB sekarang : 54 kg.

g) LLA : 26 cm.

2) Pemeriksaan sistematis

  1. a) Kepala

(1) Rambut : Bersih, warna hitam, tidak rontok, tidak berketombe.

(2) Muka : Bersih, tidak oedema, tidak ada cloasma gravidarum, agak pucat.

(3) Mata

(a) Conjungtiva : Merah muda, tidak pucat.

(b) Sklera : putih.

(4) Hidung : Bersih, tidak ada benjolan.

(5) Telinga : Bersih, simetris kanan dan kiri, tidak ada serumen.

(6) Mulut/gigi/gusi : Bersih tidak ada stomatitis gigi tidak ada caries, gusi tidak berdarah dan tidak bengkak

(7) Leher

(a) Kelenjar gondok : Tidak ada pembesaran kelenjar gondok.

(b) Tumor : Tidak ada benjolan.

(c) Pembesaran kelenjar limfe : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe.

b) Dada dan Axilla

(1) Jantung : Normal.

(2) Paru : Normal.

(3) Mammae

(a) Membesar : Ada, normal.

(b) Tumor : Tidak ada benjolan.

(c) Simetris : Simetris kanan, kiri.

(d) Areola : Hyperpigmentasi.

(e) Putting susu : Menonjol.

(f) Kolostrum : Belum keluar.

(4) Axilla

(a) Benjolan : Tidak ada benjolan.

(b) Nyeri : Tidak ada nyeri tekan.

c) Ekstremitas

(1) Varices : Tidak terdapat varices.

(2) Oedema : Tidak ada pembengkakan.

(3) Reflek patella : Positif kanan dan kiri.

(4) Betis merah/lembek/keras : Keras

  1. Pemeriksaan Khusus Obstetri (Lokalis)

1) Abdomen

  1. a) Inspeksi

(1) Pembesaran perut : Sesuai dengan umur kehamilan.

(2) Bentuk perut : Memanjang.

(3) Kelainan : Tidak terdapat kelainan.

(4) Pergerakan anak : Teratur.

  1. b) Palpasi

(1) Kontraksi : Belum ada.

(2) Leopold I : Konsistensi uterus keras, teraba ballotement (+).

(3) Leopold II : Kanan : tidak dilakukan, Kiri : tidak dilakukan

(4) Leopold III : Tidak dilakukan

(5) Leopold IV : Tidak dilakukan

(6) TFU (Mc.Donald) : 19 cm

  1. c) Auskultasi

DJJ : Punctum maximum : di kuadran kanan bawah perut ibu.

Frekuensi : 136 x/menit.

Teratur/tidak : Teratur

2) Pemeriksaan panggul

  1. a) Kesan panggul : Gynekoid.
  2. b) Distansia Spinarum : 23 cm.
  3. c) Distansia Kristarum : 32 cm.
  4. d) Conjungtiva eksterna : 18 cm.
  5. e) Lingkar Panggul : 95 cm.

3) Anogenital

  1. a) Vulva Vagina

(1) Varises : Tidak terdapat varices.

(2) Luka : Tidak ada luka bekas jahitan.

(3) Kemerahan : Tidak terlihat kemerahan atau iritasi

(4) Nyeri : Tidak terasa nyeri.

(5) Kelenjar Bartolini : Tidak ada pembesaran.

(6) Pengeluaran Pervaginam : Tidak ada pengeluaran pervaginam.

  1. b) Perineum

(1) Bekas luka : Tidak ada bekas luka.

(2) Lain- lain : Tidak ada.

  1. c) Anus

(1) Haemoroid : Tidak ada haemoroid.

(2) Lain-lain : Tidak ada.

  1. Pemeriksaan Penunjang

1) Pemeriksaan Laboratorium : Tidak dilakukan

Protein urine : ( – ) Hb : 9,9 gr%, Hct : 29, eritrosit : 3,21, Albumin : 3,4, Gol darah : O

2) Pemeriksaaan penunjang lain : Tidak dilakukan

Interpretasi Data

Tanggal 13 Juli 2012 Pukul : 10.30 WIB

  1. Diagnosa Kebidanan

Ny. S G1P0A0

Umur 26 tahun, hamil 16 minggu dengan hipertensi.

Data Dasar:

Data Subyektif

1) Ibu mengatakan umurnya 26 tahun.

2) Ibu mengatakan HPHT tanggal 23 Maret 2012.

3) Ibu mengatakan ini anak yang pertama.

4) Ibu mengatakan belum pernah keguguran.

5) Ibu mengatakan akhir-akhir ini sering pusing dan pandangan mata kabur.

Data Obyektif

1) Keadaan umum : Baik.

2) Kesadaran : Composmentis.

3) TTV : TD : 140/90 mmHg N : 84 x/menit

S : 36°C R : 24 x/menit.

Leopold I : Konsistensi uterus keras, teraba ballotement (+).

Leopold II : Kanan : tidak dilakukan, Kiri : tidak dilakukan

Leopold III : Tidak dilakukan

Leopold IV : Tidak dilakukan

4) DJJ : Tidak dilakukan

5) HPL : 30 Desember 2012.

6) TFU (Mc.Donald) : 16 cm

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

  1. Masalah

1) Ibu merasa cemas dengan kehamilannya sehubungan dengan rasa pusing dan pandangan mata kabur yang dirasakan sekarang.

2)Ibu kurang mendapat informasi tentang hipertensi.

  1. Kebutuhan

1) Beri diet tinggi protein dan banyak istirahat.

2) Beri konseling tentang hipertensi dan pengaruhnya terhadap khamilan.

3) Diagnosa Potensial

Pada ibu potensial terjadi Pre eklamsia ringan. Pada janin pertumbuhan terhambat (IUGR), kematian janin, persalinan premature dan solusio plasenta.

  1. Antisipasi/Tindakan Segera

Kolaborasi dengan dr, SpOG serta kolaborasi dengan laboratorium dan pemeriksaan tekanan darah agar tidak menimbulkan bentuk kelainan patologis.

  1. Rencana Tindakan

Tanggal 13 Juli 2012 Pukul : 10.45 WIB

  1. Pantau KU dan vital sign.
  2. Beri informasi yang jelas tentang keadaan pasien dan kehamilanny
  1. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan hipertensi dalam kehamilan menurut Dinkes (2004) yaitu :

a) Jika kehamilan kurang dari 37 minggu

b) Pantau tekanan darah, urine (untuk proteinuria), dan kondisi janin

c) Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda-tanda bahaya preeklampsia dan eklampsia

d) Lebih banyak istirahat

e) Diit makanan tinggi protein, karbohidrat, cukup vitamin, rendah Lemak

f) Tidak perlu diberi obat-obatan

Jika kehamilan lebih dari 37 minggu:

a) Terminasi kehamilan, jika serviks matang pecah ketuban dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin

b) Jika serviks belum matang, lakukan pematangan dengan prostaglandin atau kateter atau lakukan seksio sesaria.

  1. PENCEGAHAN

Jika umur kehamilan > 37 minggu beri sedatif ringan, berupa Valium (3 x 10 mg), fenobarbital (3 x 30 mg per oral) atau diazepam (3 x 2 mg per oral) selama 7 hari. Jika umur kehamilan < 37 minggu beri diazepam 10 mg I.V, hidralazin 5 mg I.V, labetolol 20 mg I.V dan metildopa 3 x 250 mg / hari (Saifuddin, 2003)