Contoh Makalah Islam dan Kebudayaan Indonesia

Contoh Makalah Islam dan Kebudayaan Indonesia

Contoh Makalah Islam dan Kebudayaan Indonesia

Makalahkita.com – Contoh Makalah Islam dan Kebudayaan Indonesia yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT.Yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya.Begitu besar rasa syukur yang kami rasakan, karena berkat Ridho-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Islam Dan Kebudayaan Indonesia Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengntar Studi Islam.

Selama membuat makalah ini, kami banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak baik dari kelompok sendiri dan lainnya.Maka dari itu, sudah selayaknya kami menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.Semoga amal baiknya mendapat balasan yang berlipat dan tercatat sebagai amal shaleh dan mendapat dari Allah SWT.

Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi penyajian, penulisan, dan penggunaan tata bahasa. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak sangat penulis harapkan sebagai proses perbaikan untuk karya tulis selanjutnya hingga menjadi lebih baik.

Penulis

DAFTAR ISI

Kata pengantar………………………………………………………………………       ii

Daftar Isi………………………………………………………………………………        iii

Bab 1. Pendahuluan……………………………………………………………….        1

  1. Latar Belakang………………………………………………………… 1
  2. Rumusan Masalah……………………………………………………. 1
  3. Tujuan……………………………………………………………………. 1

Bab 2. Kajian Teori………………………………………………………………..        2

  1. Islam Dan Kebudayaan Indonesia……………………………… 2
  2. Islam Dan Kebudayaan Jawa……………………………………. 3
  3. Islam Dan Kebudayaan Melayu………………………………… 5

Bab 3. Penutup………………………………………………………………………        8

  1. Kesimpulan…………………………………………………………….. 8

Daftar Pustaka……………………………………………………………………….        9

BAB. I

PENDAHULUAN

1.LATAR BELAKANG

Islam adalah agama Islam yang universal dan mempunyai ajaran yang masih bersifat global. Islam merupakan salah satu agama terbesar di dunia, yang pada saat ini sedang mendapat ujian yang sangat berat. Oleh sebab itu, berbicara tentang budaya tidak dapat dilepaskan dari peradaban budaya yang sangat luas, yakni budaya Indonesia yang terbentuk dengan budaya yang menganut system budaya terbuka. Sehingga budaya yang masuk yang bisa diterima.

Ajaran-ajaran yang penuh dengan kemaslahatan bagi manusia ini, tentunya mencakup segala aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu ucapan pun bentuk kegiatan yang dilakukan manusia, kecuali Allah telah meletakkan aturan-aturannya dalam Islam ini. Kebudayaan adalah salah satu dari sisi penting dalam kehidupan manusia, dan Islam pun telah mengatur dan memberikan batasan-batasannya. Budaya cakupannya lebih luas yang masyarakatnya sudah mempunyai kepercayaan tertentu.

2. RUMUSAN MASALAH

  1. Apa penjelasan Islam dan Kebudayaan Indonesia
  2. Apa penjelasan Islam dan Kebudayaan Jawa
  3. Apa penjelasan Islam dan Kebudayaan Melayu

3. TUJUAN

  1. Mengetahui Islam dan Kebudayaan Indonesia
  2. Mengetahui Islam dan Kebudayaan Jawa
  3. Mengetahui Islam dan Kebudayaan Melayu

BAB. II

KAJIAN TEORI

1.ISLAM DAN KEBUDAYAAN INDONESIA

Islam masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan, salah satunya, yang di sebarkan oleh para pedagang Gujarat India. Sebelum Islam masuk, di Indonesia telah ada agama Budha, Hindu, serta penganut kepercayan terhadap nenek moyang dinamisme serta aninmisme.

Perkembangan yang sekarang terjadi, muncul sebagian amalan agama-agama tersebut menjadi dakwah didalam menyebarkan Islam. Yang sesungguhnya media tersebut bukan dari Islam. Untuk memberi pengertian kepada masyarakat yang telah memeluk Islam adalah kontuinitas dakwah dan taklim, serta estaveta para ulama didalam menanamkan Islam secara kafah. Bila kontuinitas dan estaveta itu mengalami stagnasi, maka akan berakibat lain yang fatal bagi pengalaman Islam dalam suatu masyarakat. Kemandegan kontuinitas dan estaveta dakwah, mengakibatkan mapannya sinkretisme (percampuran pengamalan Islam dengan upacara-upacara kepercayaan sebelumnya) di kalangan masyarakat turun temurun. Sehingga masyarakat akan menganggap bahwa Islam yang sebenarnya adalah bentuk sinkretisme itu sedangkan bila disodori Islam yang sebenarnya (menurut sumber aslinya), yang mungkin akan bertentangan dengan sinkretisme yang sudah melembaga/mapan dikalangan masyarakat itu, akan menyebabkan kecanggungan, bahkan mungkin akan menimbulkan benturan-benturan.

Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran Islamisasi yang berkembang ada enam :

  1. Saluran Perdagangan
  2. Saluran Perkawinan
  3. Saluran Tasawuf
  4. Saluran Pendidikan
  5. Saluran Kesenian
  6. Saluran Politik

Kedatangan Islam ke Indonesia datang dengan cara damai dan penyebarannya kepada rakyat umum serta para bangsawan. Para ulama dalam menyebarkan Islam mempunyai kajian terhadap situasional dimana setting akan disebarkan Islam itu. Sehingga dengan metode itulah, secara cepat- meskipun belum sempurna Islamnya dapat menarik masyarakat untuk memeluk Islam (mungkin baru menyentuh kulitnya). Metode yang dipergunakan oleh ulama masih harus diperbaiki sampai kepada pegamalan Islam secara sempurna. Hanya karena dibatasi oleh waktu dan ulama tersebut meninggal maka untuk melakukan perbaikan tersebut menjadi mandeg dan hal itu menjadikan metode tersebut sebagai bagian dari Islam oleh generasi selanjutnya.

2. ISLAM DAN KEBUDAYAAN JAWA

Islam sebagai agama samawi dimaksudkan sebagai petunjuk manusia dan sebagai rahmat bagi seru sekalian alam. Berangkat daari sistem keyakinan ini maka umat Islam meyakini kewajiban menyebarluaskan misi di masyarakat untuk mencapai kebaikan universal daaan terciptanya tatanan hidup masyarakat yang berbudaya dan berperadaban. Artinya bagaimana nilai-nilai luhur agama itu termanifestasi dalam realitas kehidupan tanpa harus dibarengi dengan gaya puritan yang ekstrim. Apa yang menjadi persoalan adalah bagaimana ajaran agama dapat bergumul dengan budaya local dan ditafsirkannya sesuai bahasa dan tradisi local. Dalam perspektif anthropologi budaya, setiap manusia dan masyarakat tidak dapat menghindarkan diri dari upaya menafsirkan obyek yang disandarkan pada kondisi histories yang mempengaruhinya. Hal ini berarti bahwa manusia dan masyarakat memiliki kemampuan memahami dan menginterpretasikan suatu obyek (termasuk agama) dengan berbekal pada kondisi histories dan tradisi yang melingkupinya. Apalagi penafsiran obyek itu terkait dengan ajaran Islam yang diakui sebagai ajaran universal yaitu ajaran yang kontekstual baik dari sisi waktu maupun tempat. Dalam kesejarahan Islam, agama ini menyebar dengan mendapat banyak tantangan-tantangan yang berbeda-beda antara daerah yang satu dengan yang lainnya disebabkan perpedaan kulturr-kultur masyaraakat yang berbeda. Tantangan-tantangan tidak harus ditanggapi secara konfrontatif tetapi dapat mengambil jalan adaptif-kompromis.

Di Jawa, tantangan-tantangan muncul dari tradisi mistik Jawa dan budaya Jawa-Hindu. Namun demikian, atas kepekaan intelektual dan kultural para wali, Islam dihadirkan di Jawa dengan wajah yang santun , adaptif dan tidak konfrontatif dengan budaya kejawen asli maupun Jawa-Hindu. Islam dimunculkan dengan metode adaptasi kultural sehginggga secara sosiologis akan lebih muidaah diterima masyarakt Jawa. Dengan menunjuk fakta historis demikian, maka dakwah Wali dalam pribumisasi Islam dianggab berhasil karena Islam berkembang pesat di Jawa secara alamiah dan melalui proses kultural yang kompromis. Begitu juga dalam menyampaikan ajaran Islam, para daI awal juga menggunakan logika dan tradisi yang sudah berkembang di jawa, sehingga Islam lebih mudah diterima. Hal ini juga didukung kultur Jawa yang inklusif dan mampu menerima berbagai tradisi dari luar.

Pergumulan Islam dengan kebudayaan Jawa merupakan pergumulan mutualistikMasyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang sangat toleran dengan busaya asing yang masuk ke wilayah kebudayaan jawa. Wong Jowo memiliki kecakapan cultural dalam beradabtasi dengan berbagai bentuk busaya asing, termasuk salah satunya adalah islam. Hal ini terjadi karena sikap mental masyarakat Jawa berbasis pada moralitas harmonisasi kehidupan.Kharakter masyarakat Jawa yang adaptif dan kompromis terhadap berbagai bentuk busaya ini juga diperankan ketika menganggapi masuknya Islam dalam masyarakat jawa. Apalagi para daI awal di pulau Jawa  memiliki sikap yang tidak konfrontatif, sehingga akulturasi Islam dalam kebudayaan Jawa semakin memperoleh tempat yang luas. Hasil dari proses adaptasi ini kemudian memunculkan sikap-sikap yang mutualistik, dan bahkan sinkretik. Relasi hubungan mutualistik antara Islam dan kebudayaan Jawa ini berlangsung hingga dewasa ini.

Di Jawa, salah satu strategi dan taktik dakwah Islam yaitu melalui sistem pendidikan yang ada yang telah berjalan diberikan warna Islami. Jadi, bentuk lembaganya tetap, namun isinya mengalami perubahan. Suatu contoh, sistem padepokan dengan Begawan sebagai gurunya, dan Cantrik sebagai siswanya, setelah Islam masuk, sistem ini tetap berjalan. Sedang perubahannya antara lain; nama padepokan berubah menjadi pondok, Begawan menjadi Kyai dan Cantrik menjadi Santri. Disamping itu materi pelajaran sedikit demi sedikit berubah dari ajaran Hindu ke ajaran Islam. Pelopor perubahan dan pendirian pendidikan Islam di Jawa di kerjakan oleh Sunan Ampel.

Selain dari pendidikan, ulama menggunakan sekaten yang mengandung unsur seni. Latar belakang sekaten yaitu sebagai perhatian sosial sultan kepada masyarakat supaya terjalin kedekatan antara sultan dan masyarakat.

Sekaten dimulai sejak pemerintahan Raden Patah di Demak yang diadakan setiap maulid Nabi Muhammad. Didalam sekaten ditampilkan gamelan sebagai alat musik seni yang populer pada masyarakat jawa.

Gambaran lain dari adanya akulturasi unsur Islam dan Jawa pada akhirnya melahirkan budaya sintesis.:

Inilah sejarah kerajaan tanah Jawa, mulai dengan Nabi Adam yang berputrakan Sis. Sis berputrakan Nur-cahyo, nur-cahyo berputrakan nur-rasa, nur-rasa berputrakan sang hyang tunggal…. Istana batara guru disebut Sura laya (nama taman firdaus Hindu).

Dari kutipan naskah Babad Tanah Djawi di atas, tampak jelas adanya akulturasi timbal-balik antara Islam dengan budaya Jawa dengan mengakomodir kepentingan masing-masing. Dalam proses interaksi ini, masuknya Islam di Jawa tidaklah membentuk komunitas baru yang sama sekali berbeda dengan masyarakat sebelumnya. Sebaliknya, Islam mencoba untuk masuk ke dalam struktur budaya Jawa dan mengadakan infiltrasi ajaran-ajaran kejawen dengan nuansa islami.

Pementasan wayang, sering disimbolkan sebagai gambaran kehidupan manusia dalam menemukan Tuhannya. Lakon-lakon yang ditampilkan merupakan ajaran-ajaran syari’at untuk membawa penonton pada nuansa yang religius. Oleh karena itu, wayang dianggap sebagai bagian dari acara religius untuk mengajarkan ajaran-ajaran ilahi. Seorang dalang dipersonifikasikan sebagai ‘Tuhan’ yang dapat memainkan peran dan nasib orang (wayang).

3. ISLAM DAN KEBUDAYAAN MELAYU

Dalam konteks masyarakat Melayu pasca-Islam, hampir kesemuanya beragama Islam hasil penyesuaian Islam yang meluas dan bersifat tradisi. Contoh dapat dilihat melalui nama-nama anak, azan, upacara adat, kenduri doa selamat dan sebagainya.

Begitu juga dengan penerapan sahsiah anak-anak Melayu yang menggalakkan anak-anak mengaji dan belajar ilmu agama, syair-syair pahlawan Islam, pantun, gurindam dan lain-lain.

Instrumen budaya masyarakat Melayu dilihat mempunyai satu wadah aplikasi keagamaan yang kelihatan lebih teratur iaitu rites de’ passage dan ritual calenderical. Rites de’ passage lebih menjurus kepada satu proses peningkatan tahap seseorang seperti adat/upacara bercukur, berkhatan, perkahwinan, pengkebumian jenazah, etika pemakaian, makanan dan ketatasusilaan. Manakalaritual de’ passage pula berkaitan dengan festival atau upacara yang diadakan secara berkelompok mengikut bulan-bulan Islam seperti Hari Raya Puasa, Aidil ‘Adha, Maulidur-rasul, Sya’aban dan lain-lain.

Matlamat akhir dalam Islam yang ingin dicoraki ialah ‘konsep insan kamil’ iaitu keperibadian manusia yang sempurna dan memanifestasikan nama-nama Allah sebagai nilai yang ideal. Justeru, manusia akan dapat melaksanakan tugas hakiki kewujudannya sebagai khalifah Allah di bumi.

Terjadinya tarnsformasi kebudayaan (peradaban) dari sistem keagamaan lokal kepada sistem keagamaan Islam bisa disebut revolusi agama. Tranformasi masyarakat melayu kepada Islam terjadi berbarengan dengan “masa perdagangan”, masa ketika Asia Tenggara mengalami peningkatan posisi dalam perdagangan Timur dan Barat. Kota-kota wilayah pesisir muncul dan berkembang menjadi pusat-pusat perdagangan, kekayaan dan kekuasaan. Masa ini mengantarkan wilayah Nusantara kedalam Internasionalisasi perdagangan dan kosmopolitanisme kebudayaan yang tidak pernah dialami masyarakat ini pada masa-masa sebelumnya.

Konversi massal masyarakat Nusantara kepada Islam pada masa perdagangan terjadi karena beberapa sebab sebagai berikut:

  1. Umat Islam yang datang ke Indonesia mayoritas adalah pedagang (orang sipil, bukan pejabat pemerintahan) yang tentu orientasinya adalah datang untuk sementara dan untuk mencari keuntungan untuk dibawa ke negerinya. Datang untuk sementara inilah yang menyebabkan mereka mencari hal-hal yang praktis. Kalaupun ada ulama atau sufi yang datang untuk berdakwah, mereka juga sufi yang pergi berdakwah dari satu ketempat yang lain, sehingga tidak terpikir untuk membuat sesuatu yang abadi.
  2. Ketika sudah ada umat Islam pribumi, kebanyakan keturunan pedagang atau sufi pengembara yang kemudian menjadi Raja Islam di Nusantara dan mulai membangun kebudayaan Islam, datang bangsa Barat yang sejak awal kedatangannya sudah bersikap memusuhi umat Islam (sisa-sisa dendam Perang Salib), sehingga raja-raja Islam pribumi belum sempat membangun.
  3. Islam yang datang ke Indonesia coraknya adalah Islam tasawuf yang lebih mementingkan olah rohani daripada masalah dunia.
  4. Nusantara adalah negeri yang merupakan jalur perdagangan internasional, sehingga penduduknya lebih mementingkan masalah perdagangan dari pada kesenian.
  5. Islam datang ke Indonesia dengan jalan damai, maka terjadilah asimilasi, yaitu asal tidak melanggar aturan-aturan agama, Oleh sebab itu tidak heran, jika asapek seni budaya Islam Indonesia tidak hebat seperti di Negara Islam yang lain

BAB. III

PENUTUP

1.KESIMPULAN

  1. Islam adalah sebagai agama yang universal dan mempunyai ajaran yang masih bersifat global. Islam merupakan salah satu agama terbsar di dunia, yang pada saat ini sedang mendapat ujian yang sangat berat. Sedangkan pengertian kebudayaan menurut bahasa adalah kegiatan, dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan kesenian dan adat istiadat.
  2. Sebagai umat Islam yang taat kita punya keyakinan bahwa Islam itu bukan kebudayaan akan tetapi orientalis barat menganggap bahwa agama Islam adalah kebudayaan, mereka beralasan bahwa agama Islamini merupakan hasil kreasi dari Muhammad bin Abdullah yang merasa jenuh terhadap keadan spiritual masyarakat mekah pada waktu itu.