Contoh Makalah Islam Sebagai Produk Budaya

Contoh Makalah Islam Sebagai Produk Budaya

Contoh Makalah Islam Sebagai Produk Budaya

Makalahkita.com – Contoh Makalah Islam Sebagai Produk Budaya yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Saat ini apresiasi umat islam secara umum terdapat budaya islam sangat minimum atau bahkan hampir tidak ada. Seiring dengan perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi menyebabkan banyaknya budaya-budaya luar yang masuk dan mempengaruhi.

Budaya baratlah yang merajalela di era globalisasi ini. Meskipun Indonesia terletak di Asia Tenggara agaknya kini lebih akrab dengan dunia Barat ketimbang dengan sesama Muslim Asia Tenggara. Kita melihat ada kecenderungan kultural, ekonomi, politik, dan pendidikan yang mengarah pada ketergantungan dan pengkiblatan diri pada dunia Barat, khususnya Amerika. Ka’bah tetap menjadi kiblat Muslimin sedunia, tapi budaya seremonial dan simbolisme dunia Islam yang telah lama berkembang, kini mampu mereduksi substansi keberagaman hingga menjadikan Amerika sebagai kiblat lain yang menjanjikan

Ketergantungan global dunia ketiga dewasa adalah satu kenyataan yang merisaukan. Arus informasi global yang ada ternyata tidak seimbang dengan dominasi informasi dari budaya Barat. Keadaan ini menimbulkan dominasi kultural atau imperalisme budaya.

2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pengertian budaya?
  2. Bagaimana Islam sebagai budaya?
  3. Bagaimana Fungsi Budaya ?
  4. Bagaimana akulturasi islam dan budaya ?

BAB II

PEMBAHASAN

1.PENGERTIAN BUDAYA

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hal. 149, disebutkan bahwa: “ budaya “ adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang “ kebudayaan” adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat.[1]

Menurut S. Takdir Alisyahbana,[2] kebudayaan mempunyai beberapa pengertian yaitu :

  1. Kebudayaan adalah suatu keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda-beda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan segala kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
  2. Kebudayaan adalah warisan sosial atau tradisi.
  3. Kebudayaan adalah cara, aturan, dan jalan hidup manusia.
  4. Kebudayaan adalah penyesuaian manusia terhadap alam sekitarnya dan cara-cara menyelesaikan persoalan.
  5. Kebudayaan adalah hasil perbuatan atau kecerdasan manusia.
  6. Kebudayaan adalah hasil pergaulan atau perkumpulan manusia.
    Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa budaya adalah suatu akal pikiran manusia yang menjadikan suatu hukum adat istiadat tertentu yang harus di patuhi.
    Sedangkan kebudayaan adalah segala sesuatu yang menjadikan manusia bisa bergaul dengan masyarakat dengan aturan atau cara yang bisa diterima oleh masyarakat tertentu.

Ternyata kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri atas berbagai unsur besar dan unsur kecil yang merupakan satu keutuhan yang tidak dapat dipisahkan. Unsur-unsur kebudayaan dalam pandangan Malinowski adalah sebagai berikut:[3]

  1. Sistem norma yang memungkinkan terjadinya kerjasama antara para anggota masyarakat dalam upaya menguasai alam sekelilingnya.
  2. Organisasi ekonomi.
  3. Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan (keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan yang paling utama).
  4. Organisasi kekuatan.

Dengan demikian kebudayaan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Berbagai kekuatan yang dihadapi manusia seperti kekuatan alam dan kekuatan lainnya tidak selalu baik baginya. Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau alat kebendaan yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi masyarakat. Teknologi ini paling sedikit meliputi tujuh unsur, seperti : alat-alat produksi, senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan, tempat berlindung dan perumahan, alat transformasi.

2. ISLAM SEBAGAI BUDAYA

Islam yang dihubungkan dengan kebudayaan berarti cara hidup atau way of life yang juga sangat luas cakupannya. Tentu disini Islam juga dilihat sebagai realitas sosial. Yakni Islam yang telah menyejarah meruang dan mewaktu, Islam yang dipandang sebagai fenomena sosial:bisa dilihat dan dicermati. Dengan demikian yang dimaksudkan kebudayaan Islam adalah cara pandang komunitas Muslim yang telah berjalan, terlembaga dan tersosialisasi dari kurun waktu ke waktu, satu generasi ke generasi yang lain dalam berbagai aspek kehidupan yang cukup luas tapi tetap menampilkan satu bentuk budaya, tradisi, seni, yang khas Islam. Biasanya ruang lingkup studi budaya tidak bisa lepas dari beberapa faktor yang mencangkup manusia, pengaruh lingkungan, perkembangan masyarakat, serta lintas budaya atau cross-culture.

Keunikan budaya dan peradapan Islam terletak pada kokohnya landasan budaya dan peradapan ini berdiri dan bersandar. Paling tidak ada lima poin utama yang membedakan budaya islam dengan budaya lain.

  1. Pertama adalah konsep tauhid atau oneness of god. Di mana saja kapan saja Islam selalu menampilkan ajakan satu Tuhan. Semua yang ada di atas bumi tunduk pada hanya satu Tuhan. Dengan unity of god atau tauhid, posisi individu dan kelompoknya terangkat dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Kemerdekaan, kebebasan yang tauhidi adalah citra budaya masyarakat ini. Penjajahan, imperialisme, penindasan, atau kewenang-wenangan.penguasa atas penderitaan rakyat tidak ada tempat.
  2. Kedua adalah universalitas pesan dan misi peradaban ini. Qur’an menekankan persaudaraan manusia dengan tetap memberi ruang pada perbedaan ras, keluarga, negara, dan sebagainya. Al-Qur’an memberi ajaran yang jelas bahwa persatuan umat manusia adalah satu keharusan dengan tetap bersandar pada kebenaran, kebaikan, serta taqwa pada Allah.
  3. Ketiga adalah prinsiap moral yang selalu ditegakkan dalam budaya ini. Selain ajaran Al-Qur’an, sunnah yang penuh dengan nuansa-nuansa moral, peradaban dan kebudayaan Islam juga tidak pernah sepi dari ajaran ini. Ajaran moral wali songo misalnya nama bisa dibaca dalam buku the Admonition of She Bari, atau pesan-pesan seh Bari yang oleh para sejarawan diduga ditulis oleh sunan bonang. Ajaran moral walisongo juga disajikan melalui media wayang yang  memasyarakat dijawa.
  4. Keempat adalah budaya toleransi yang cukup tinggi. Bisa dikatakan bahwa dimana sebuah negara penduduknya mayoritas muslim, seperti Madinah zaman Nabi misalnya, pastilah non muslim terjamin hidup aman, damai, berdampingan bersam-sama. Sementara jika minoritas muslim tinggal disebuah negara dengan penduduk mayoritas non muslim seperi yang terjadi di India, agaknya keadaan akan lain.
  5. Kelima adalah prinsip keutamaan belajar memperoleh ilmu. Budaya ngaji membaca dan mengkaji kandungan Al-Qur’an, mempelajar hadits adalah budaya Islam yang telah lama eksis sejak kurun pertama sampai kini. Al-Qur’an dan sunah itu sendiri menekankan mulianya pendidikan dan pencari ilmu. Budaya baca, iqra’, dengan demikian telah terbukti membawa peradaban islam pada puncak peradaban dunia dalam waktu yang sangat lama. Budaya yang mengesankan ini sering disebut sebagai budaya pendidikan seumur hidup, atau ” life long educatin” yang terukir dalam sejarah sekaligus dalam sabda Nabi : “ Carilah ilmu dari sejak bayi sampai keliang lahat “.

3. FUNGSI BUDAYA

Didalam kebudayaan terdapat pola – pola perilaku yang merupakan cara – cara manusia untuk bertindak sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat, artinya kebudayaan merupakan suatu garis pokok tentang perilaku yang menetapkan peraturan – peraturan mengenai bagaimana masyarakat harus bertindak, bagaimana masyarakat melakukkan hubungan dengan orang lain atau bersosialisasi, apa yang harus dilakukan, apa yang dilarang dan sebagainya.

Hasil karya manusia akan melahirkan suatu kebudayaan atau teknologi yang nantinya akan berguna untuk melindungi ataupun membantu masyarakat untuk mengolah alam yang bisa bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri.

  1. Batas: Budaya berperan sebagai penentu batas-batas; artinya, budaya menciptakan, Batas perbedaan atau yang membuat unik suatu organisasi dan membedakannya dengan organisasi lainnya
  2. Identitas: Budaya memuat rasa identitas suatu organisasi.
  3. Komitmen: Budaya memfasilitasi lahirnya komitmen terhadap sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan individu.
  4. Stabilitas: Budaya meningkatkan stabilitas sistem sosial karena budaya adalah  perekat sosial yang membantu menyatukan organisasi dengan cara menyediakan standar mengenai apa yang sebaiknya dikatakan dan dilakukan.
  5. Pembentuk sikap dan prilaku: Budaya bertindak sebagai mekanisme, alasan yang masuk akal (sense-making) serta kendali yang menuntun dan membentuk sikap dan perilaku

4. AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA

Salah satu jalur penyebaran Islam di Indonesia adalah melalui perangkat budaya. Ajaran Islam yang ditanamkan melalui perangkat budaya ini, mau tak mau, menyisakan warisan agama lama dan kepercayaan yang ada, yang tumbuh subur di masyarakat pada waktu itu, untuk dilestarikan kemudian dibersihkan dari anasir syirik. Pembersihan anasir syirik ini merupakan satu upaya untuk meneguhkan konsep monoteisme (tauhid) dalam ajaran Islam.

Contoh akulturasi islam dan budaya di Indonesia :

  1. Budaya wayang. Wayang adalah bagian dari ritual agama politeisme, namun kemudian diubah menjadi sarana dakwah dan pengenalan ajaran monoteisme. Ini suatu kreativitas yang luar biasa, sehingga masyarakat diislamkan melalui jalur ini. Mereka merasa aman dengan Islam, karena hadir tanpa mengancam tradisi, budaya, dan posisi mereka.
  2. Tahlilan dan ziarah kubur. Hal ini merupakan penghormatan terhadap leluhur sebagaimana yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa.
  3. Pelaksanaan zakat fitrah. Salah satu mazhab yang berkembang di Indonesia adalah mazhab yang saat mengambil konklusi fikihnya disesuaikan dengan konteks lokal. Salah satu contohnya, perihal pelaksanaan perintah zakat fitrah. Secara tekstual, zakat fitrah haruslah diberikan dalam bentuk gandum-sesuai dengan bahan makanan pokok di Arab Saudi. Namun ulama kita berijtihad untuk mengganti gandum dengan beras dalam pelaksanaan zakat fitrah, karena disesuaikan dengan bahan makanan pokok di Indonesia.
  4. Pesantren. Pesantren adalah suatu wadah yang menciptakan sub kultur islami yang unik dan merupakam satu kesatuan universal.[4]
  5. Menara Kudus. Menara Kudus merupakan akulturasi unik persentuhan dua kebudayaan. Jika Ricklefs ahli sejarah islam Jawa menyimpulkan bahwa kehadiran islam di Jawa sangat di warnai dengan proses harmonis dan tidak mengusik elemen elemen Hindu Budha.[5]

Bisa dikatakan bahwa proses pengislaman budaya Nusantara oleh para ulama terdahulu dibarengi dengan proses penusantaraan nilai-nilai Islam, sehingga keduanya melebur menjadi identitas baru yang kemudian kita kenal sebagai Islam Nusantara.

Dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, Wali Songo memiliki peran yang cukup besar dalam proses akulturasi Islam dengan budaya Jawa. Mereka menghasilkan karya-karya kebudayaan sebagai media penyebaran Islam. Untuk memperkenalkan unsur-unsur budaya baru hasil akulturasi Islam dengan budaya Jawa itu, para wali melakukan pengenalan nilai-nilai baru secara persuasif. Dan, terkait dengan persoalan-persoalan yang sensitif, seperti bidang kepercayaan, para wali membiarkan Perangkat budaya adalah bentuk investasi masa depan bagi umat Islam Indonesia dalam menghadapi dinamika keberagamaan yang penuh warna. Perangkat budaya ini merupakan sumber etik moral dan pijakan kultural bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

BAB III

PENUTUP

1.KESIMPULAN

Dalam uraian makalah tentang islam sebagai produk budaya, dapat ditarik kesimpulan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang di dapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sebagai kebudayaan islam manusia berlandasan pada nilai-nilai tauhid. Budaya akan berguna untuk melindungi ataupun membantu masyarakat untuk mengolah alam yang bisa bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri. Ajaran Islam yang ditanamkan melalui perangkat budaya ini, mau tak mau, menyisakan warisan agama lama dan kepercayaan yang ada, yang tumbuh subur di masyarakat pada waktu itu. Bisa dikatakan bahwa proses pengislaman budaya Nusantara oleh para ulama terdahulu dibarengi dengan proses penusantaraan nilai-nilai Islam, sehingga keduanya melebur menjadi entitas baru yang kemudian kita kenal sebagai Islam Nusantara. Perangkat budaya ini merupakan sumber etik moral dan pijakan kultural bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dan sebagai bentuk investasi masa depan bagi umat Islam Indonesia dalam menghadapi dinamika keberagamaan yang penuh warna

2. SARAN

Kita sebagai generasi penerus bangsa harus bisa mengikuti arus perkembangan dan kemajuan teknologi di masa modern tetapi harus tetep berpegang tegus dengan ajaran agama islam dan selalu melestarikan budaya budaya islam di Indonesia agar tidak terpengaruh oleh budaya budaya yang negatif.

DAFTAR PUSTAKA

  • Atang, Abd. Hakim, Metodologi Studi Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999.
  • Thoha,chabib,dkk,Metodelogi Pengajaran Agama, Semarang: Pustaka Belajar,1999.
  • Hakim, Atang Abd, Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999, cet 1.
  • Abdurahman Mas’ud, Metedologi Pengajaran Agama, Semarang: Pustaka Pelajar, 1999.
  • [1] KBBI hlm. 149
  • [2] Atang Abd.Hakim, Jaih Mubarok,Metodologi Studi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999) hlm. 28
  • [3] Ibid, hlm. 31
  • [4] Abdurahman Mas’ud, Metedologi Pengajaran Agama, (Semarang: Pustaka Pelajar, 1999), hlm.243.
  • [5] Ibid., hlm. 245