Contoh Makalah Kebijakan Filsafat Socrates (Lengkap)

Contoh Makalah Kebijakan Filsafat Socrates

Contoh Makalah Kebijakan Filsafat Socrates (Lengkap)

Makalahkita.com – Contoh Makalah Kebijakan Filsafat Socrates (Lengkap) yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Dalam menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, manusia senantiasa terkagum atas apa yang dilihatnya. Manusia ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatassannya. Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama atau kepercayaan ilahiah.

Tetapi sudah sejak awal sejarah, ternyata sikap iman penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan akal budi dan pikirannya untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas) itu. Proses  mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pencerahan. Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya dapat dipertanggungjawabkan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.

Jauh sebelum manusia menemukan dan menetapkan apa yang sekarang ini kita sebut sesuatu sebagai suatu disiplin ilmu sebagaimana kita mengenal ilmu kedokteran, fisika, matematika, dan lain sebagainya. Umat manusia lebih dulu memifikrkan dengan bertanya tentang berbagai hakikat apa yang mereka lihat. Dan jawaban mereka itulah yang nanti akan kita sebut sebagai sebuah jawaban filsafati.

Kegiatan manusia yang memiliki tingkat tertinggi adalah filsafat yang merupakan pengetahuan benar mengenai hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia. Bagian filsafat yang paling mulia adalah filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang merupakan sebab dari segala kebenaran.

1.Rumusan Masalah

  1. Apakah yang dimaksud dengan dunia Bayang-bayang?
  2. Apasajakah Metode Socrates?
  3. Apa Itu Etika yang di gunakan Socrates?
  4. Apa itu Kebenaran Universal?

3. Tujuan

Adapun kami membuat makalah ini dengan tujuan :

  1. Agar Pembaca  mengetahui apa itu dunia Bayang-bayang
  2. Agar pembaca mengetahui apa saja metode Socrates
  3. Agar pembaca mengetahui apa etika yang digunakan Socrates
  4. Agar pembaca  paham dengan apa itu Kebenaran Universal

BAB II

PEMBAHASAN

1.Dunia bayang-bayang: the story of the caveman

Socrates menjadi persoalan yang amat pelik bagi sejarawa. Ada banyak tokoh yang mengenai dia bisadipasikan hanya sedikit yang dapat diketahui, dan ada toko lain yang mengenai dia bisa dipastikan bahwa banyak segi yangdapat diketahui; namun perihal socrates ini tidak dapat dipastikan bahwa kita hanya mengetahui sedikit atau banyak tentang dirinya. Tak diasingkan bahwa ia adalah warga Athena yang sedang- sedang saja keadaannya, dan banyak menghabiskan waktunya untuk berdebat serta mengajar filsafat kepada anak- anak muda, namun bukan untuk mendapatkan bayaran sebagaimana kaum sofis.

Tak diragukan pula bahwa ia adalah tokoh terkenaldi Athena, sebagai digambarkan Aristhopenes dalam The Clouds.Dua murid Socrates, yakni Xenophon dan Plato, banyak menulis tentang dia namun apa yang mereka tulis sangatberlainan.Bahkan bila keduannya mengatkan sesuatu yang sama, Burnet menilai bahwa Xenophon hanya mengekor plato. Dan bila apa yang mereka cerikan saling berdeda, maka sejumlah kalangan mempercayai yang satu dan kalangan lain mempercayai satu lagi, dan sisanya tak mempercayai keduannya.[1]

Kaum sofis yang dikenal dengan kemahirannya dalam olah penggunaan bahasa terutama melalui retoriknya, senantiasa aktif mengembangkan dan mengangkat masalah-masalah filsafat untuk diperdebatkan secara kritis. Kamu sofis inilah yang membawa perubahan terhadap corak pemikiran dilsafat Yunani yang semula terarah pada kosmos menjadi rearah pada teori pengethuan dan etika.[2]

Menurut Socrates ada kebenaran obyektif yang tidak bergantung kepada satu atau kita. Untuk mencapai kebenaran obyektif menggunakan metode dialektika yang berarti bercakap-cakap atau dialog.[3]

Dari metode dialektiknya ia menemukan dan penemuan metode yang lain induksi dan definisi. Ia menggunakan istilah induksi manakala pemikiran bertolak dari pengetahuan yang khusus, lalu menyimpulkannya dengan pengertian yang umum. Pengertian yang umum diperoleh dari mengambil sifat-sifat yang sama (umum) dari masing-masing kasus khusus dan ciri-ciri khusus yang tidak disetujui bersama adalah disisihkan. Ciri umum tersebut dinamakan ciri esensi dan semua ciri khusus itu dinamakan ciri eksistensi. Suatu definisi disebut dengan menyebutkan semua ciri esensi suatu obyek dengan menyisihkan semua ciri eksistensinya. Demikianlah jalan untuk memperoleh definisi tentang suatu persoalan.Socrates berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tak dapat di pisahkan satu dengan yang lain. Oleh karena  itu, dasar dari segala penelitian dan pembahasan adalah pengujian diri sendiri. Bagi secrotes, pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri.

Socrates dengan pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan, yaiitu dengan menghargai nilai-niai jasmaniah dan rohania yang keduanya tidak dapat di pisahkan karena denga keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.[4]

2. Metode Socratic

  1. Dialektika

Menanggapi kondisi kacau akibat akibat kelicinan kaum Sofis tersebut Socrates merasa dipanggil untuk melusrakan dengan suatu metode “dialektis- kritis”. Proses dialektis kritis dalam hal ini mengandug suatu pengertian ‘dialog antara dua pendirian yang bertentangan atau merupakan perkembngan pemikiran  dengan memakai pertemuan antar ide’.

Socrates dalam menerapkan metode dialektis kritis itu tidak begitu saja menerima suatu pengrtian sebelum melakukan pengujian- pengujian untuk mencari suatu kebenaran.[5]

Metode yang digunakan Socrates biasanya disebut dialektika dari kata kerja Yunani dialegesthai yang berarti bercakap-cakap atau berdialog yang mempunyai peran penting didalamnya.

Menurut Socrates Dialog adalah “wahana” berfilsafat. Jadi dialog itu “membuka” pikiran, “mencairkan” kebekuan pikiran, “melahirkan” pikiran dan “menuntut” perjalanan pikiran.

Dalam metode ini Socrates mendatangi bermacam-macam orang (ahli politik, pejabat, dan lain-lainnya). Kepada mereka mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang mengenai pekerjaan mereka, hidup mereka sehari-hari dan lain-lainnya. Kemudian jawaban mereka pertama-tama dianalisa dan disimpulkan dalam suatu hipotesa. Hipotesa ini dikemukakan lagi kepada mereka dan dianalisa lagi. Demikian seterusnya sehingga ia mencapai tujuannya, yaitu : membuka kedok segala peraturan hukum yang semu, sehingga tampak sifatnya yang semu, dan mengajak orang melacak atau menelusuri sember-sember hukum yang sejati. Supaya tujuan itu tercapai diperlukan suatu pembentukan yang murni.[6]

  1. Maieutik

Maieutika sering juga disebut dengan istilah metode kebidanan, karena dengan cara ini Socrates bertindak seperti seorang bidan yang menolong kelahiran seorang bayi “pengertian yang benar”.

Dengan cara bekerja yang demikian, Socrates menemukan suatu cara berfikir yang disebut induksi, yaitu: menyimpulkan pengetahuan yang sifatnya umum dengan berpangkal dari banyak pengetahuan tentang hal yang khusus. Umpamanya : banyak orang yang menganggap keahliannya (sebagai tukang besi, tukang septum dll) sebagai keutamaannya.Seorang tukang besi berpendapat bahwa keutamaannya ialah jikalau ia membuat alat-alat dari besi yang baik.

Untuk mengetahui apakah “keutamaan” pada umumnya, semua sifat khusus keutamaan-keutamaan yang bermacam-macam itu harus disingkirkan dan tinggal yang umum. Demikian dengan induksi akan ditemukan apa yang disebut definisi umum.Socrates adalah orang yang menemukan, dan ternyata penting sekali artinya bagi ilmu pengetahuan.[7]

  1. Ironi

Kata ironi berasal dari bahasa yunani yang bermakna bersikap pura-pura, cara seseorang berbicara, pura-pura menyetujui apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya, tetapi dengan senyuman, mimik dan sebagainya menyangkal pendapat orang itu. Oleh Socrates dipergunakan untuk membimbing lawan bicaanya kepada kebenaran.[8]

3.   Etik Socrates

Etika (Etimologik), berasal dari kata Yunani “Ethos” yang berarti kesusilaan atau adat. Identik dengan perkataan moral yang berasal dari kata Latin “Mos” yang dalam bentuk jamaknya “Mores” yang berarti juga Adat atau Cara hidup.[9]

Etika juga dapat disebut dengan filsafat moral. Etika dan moral sama artinya, tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan Etika dipakai untuk mengkaji sistem nilai-nilai yang ada.[10]

Pandangan Socrates mengenai kebijakan, yakni apa yang benar dan apa yang baik, bisa dinamakan filsafat moral rasionalistik. Filsafat moral rasionalistik

merupakan pandangan yang menganggap pemikiran atau rasionalitas sebagai factor eksekutif atau domain dalam tingkah laku bermoral.[11]

Budi ialah tahu, kata Socrates. Inilah intisari dari pada etiknya. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Paham etiknya itu kelanjutan dari pada metodenya. Induksi dan definisi menuju kepada pengetahuan yang berdasarkan pengertian. Dari mengengetahui beserta keinsyafan moril tidak boleh tidak mesti timbul budi.[12]

Oleh karena itu badi adalah tahu, maka siapa yang tahu akan kebaikan dengan sendirinya terpaksa berbuat baik.

Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Seperti dengan segala barang yang ada itu ada tujuannya, begitu juga hidup manusia[13]

  1. Kebenaran universal

Bagi Socrates, jiwa manusia adalah karena inti sari manusia, hakekat manusia sebagai pribadi yang bertanggungjawab. Oleh karena itulah manusia wajib mengutamakan kebahagiaan jiwanya (eaudaimonia, memiliki jiwa yang baik), lebih dari kebahagiaan lahiriah seperti kesehatan dan kekayaan.

Jadi, hidup saja tidak cukup, tetapi hidup yang baik adalah bagi jiwa. Jika tujuan hidup baginya adalah bagaimana orang dapat mencapai kebahagiaan.

Socrates membuktikan adanya kebenaran objektif itu dengan menggunakan metode yang bersifat praktis dan dijalani melalui percakapan-percakapan, sehingga metode yang digunakannya biasanya disebut metode dialog karena dialog mempunyai peranan penting dalam menggali kebenaran yang objektif. Contohnya, ketika dia ingin menemukan makna adil, dia bertanya kepada pedagang, prajurit, penguasa, dan guru. Dari semua penjelasan yang diberikan oleh semua lapisan masyarakat itu dapat ditmkarik sebuah benang merah yang bersifat universal tentang keadilan. Dari sinilah menurut Socrates bahwa kebenaran universal dapat ditemukan. Socrates berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.[14]

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Menurut Socrates ada kebenaran obyektif yang tidak bergantung kepada satu atau kita. Untuk mencapai kebenaran obyektif menggunakan metode dialektika yang berarti bercakap-cakap atau dialog Socrates berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tak dapat di pisahkan satu dengan yang lain

Metode- metode Socrates

1.Dialektika

2.Maieutika

  1. Ironi

Etika (Etimologik), berasal dari kata Yunani “Ethos” yang berartikesusilaan atau adat. Identik dengan perkataan moral yang berasal dari kata Latin “Mos” yang dalam bentuk jamaknya “Mores” yang berarti juga Adat atau Cara hidup

Bagi Socrates, jiwa manusia adalah karena inti sari manusia, hakekat manusia sebagai pribadi yang bertanggungjawab. Oleh karena itulah manusia wajib mengutamakan kebahagiaan jiwanya (eaudaimonia, memiliki jiwa yang baik), lebih dari kebahagiaan lahiriah seperti kesehatan dan kekayaan.

2. Saran

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang

DAFTAR PUSTAKA

  • Hatta Mohammad. 1986. Alam Pikiran Yunani. Jakarta :UI Press
  • Hadiwijono Dr. Harun. 1980.Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta : Kanisius
  • Hartoko Dicky. 2002.Kamus populer filsafat.  Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
  • Kaelan. 2002. Filsafat  Bahasa Masalah Dan Perkembangannya.Yogyakarta:   Paradigma
  • Lavine T.Z.2002. Petualangan filsafat dari socrates ke sartre. Yogyakarta: Jendela
  • Tafsir Dr. Ahmad. 1994. Filsafat Umum, cet. 3. Bandung : Remaja Rosdakarya
  • Zubair Drs. Achmadcharris. 1995. Kuliah Etik. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada
  • [1] Bertarand Russell, Sejarah Filsafat Barart. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm111-112
  • [2] Sutarjo A. Wiramihardja, Pengntar Filsafa. Bandung:Refika Aditama. Hlm 30
  • [3] http://dunia bayang-banyang socrates.com, diakses pada tanggal 4 September 2014.
  • [4] Kaelan,Filsafat Bahasa Masalah dan Perkembangannya. Yogyakarta : Paradigma, 2002. Hlm.124.
  • [5]Kaelan,Filsafat Bahasa Masalah dan Perkembangannya. Hlm 31
  • [6] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra . Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2010.Hlm. 54.
  • [7] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat barat 1. Yogyakarta : kanisius, 2005. Hlm.35
  • [8] Dick Hartoko, Kamuspopuler FilsafatJakarta: PT  Rajagrafindo Persada , 2002. Hlm. 41.
  • [9] Drs. Acmad Charris Zubair, kuliah Etika jakarta :Rajagrafindo Persada, 2002, hlm. 12
  • [10] Dick Hartoko,Kamus populerFilsafat, hlm 23.
  • [11] T.Z.Lavine, Pertualangan Filsafat dari socrates ke sartre Yogyakarta: Jendela, 2002, hlm. 12
  • [12] Mohammad Hatta, Alam Pikir yunani Jakarta: Tintamas, 1986, hlm. 83
  • [13] Mohammad  Hatta, Alam Pikiran Yunani,hlm.84