Contoh Makalah Kurikulum Pendidikan Islam Yang Benar

Contoh Makalah Terbaru Bahasa Indonesia

Contoh Makalah Kurikulum Pendidikan Islam Yang Benar

Makalahkita – Contoh Makalah Kurikulum Pendidikan Islam Yang Benar yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Pendidikan Islam sebagai suatu sistem yang merupakan sistem tersendiri diantara sistem pendidikan di dunia ini. Dikatakan sistem tersendiri karena cakupan dan kesadarannya terhadap detak jantung, karsa dan karya manusia.

Pendidikan dalam Islam sesungguhnya telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan adanya dakwah Islam yang telah dilakukan Nabi Muhammmad SAW. Berkaitan dengan itu pula pendidikan islam memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan yang dilakukan secara terus-menerus pasca generasi Nabi. Sehingga dalam perjalanan selanjutnya pendidikan Islam mengalami perubahan baik dari segi kurikulum (mata pelajaran).

Kurikulum dalam pendidikan islam awalnya merupakan suatu sistem pendidikan yang berbeda dengan sistem pendidikan Islam yang ada pada saat ini. Kalau ditinjau dari aspek tujuan, guru, murid, kurikulum, metode, fasilitas dan dan sarana prasarana yang jelas terlihat perbedaannya. Sudah banyak terjadi perkembangan-perkemabangan dalam dunia pendidikan Islam. Dalam perkembangannya kurikulum sebagai salah satu kunci pokok dalam mencapai tujuan pendidikan.

2. PERMASALAHAN

Dari uraian pendahuluan diatas kami akan menyimpulkan beberapa permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah konsep kurikulum pendidikan Islam?
  2. Apa yang menjadi dasar kurikulum pendidikan Islam?
  3. Bagaimana prinsip-prinsip kurikulum pendidikan Islam?
  4. Bagaimanakah kerangka dasar kurikulum pendidikan Islam?

BAB II

PEMBAHASAN

1.Konsep Dasar Kurikulum Pendidikan Islam

  1. Definisi Kurikulum

Secara Etimologi, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu curiryang artinya pelari dan curare yang berbarti tempat berpacu. Jadi, istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai garis finish.[1]

Dalam bahasa Arab, kata kurikulum biasa diungkapkan dengan manhajyang berarti jalan yang terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj al-disarah) dalam Qamus Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.[2]

Kurikulum juga dikatakan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.[3]

Dalam sumber lain dijelaskan bahwa; Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajarai oleh siswa dalam suatu periode tertentu. Dalam arti yang lebih luas, kurikulum sebenarnya bukan hanya sekedar rencana pelajaran, tapi semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah.[4]

Sedangkan secara terminologis, para ahli telah banyak mendefinisikan kurikulum diantaranya :

1) Crow and crow mendefinisikan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program untuk memperoleh ijazah.

2) M. Arifin, memandang kurikulum sebagai seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan.

3) Zakiah Darajat memandang kurikulum sebagai suatu program yang direncanakan dalam bidang pendidikan dan dilaksanakan untuk mencapai sejumlah tujuan-tujuan pendidikan tertentu.

4) Dr. Addamardasyi Sarhan dan Dr. Munir Kamil yang disitir olah al-Syabani, bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolong untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan.[5]

Jika dilihat dari berbagai definisi di atas, pengertian kurikulum cukup luas. Karena disini kurikulum tidak hanya dipandang dalam artian mata pelajaran, tetapi juga mencakup seluruh program didalam kegiatan pendidikan.

Alice Miel mengatakan bahwa kurikulum meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan, kecakapan dan sikap-sikap orang yang melayani dan dilayani di sekolah (termasuk di dalamnya seluruh pegawai sekolah) dalam hal ini semua pihak yang terlibat dalam memberikan bantuan kepada siswa termasuk ke dalam kurikulum.[6]

Dari istilah-istilah di atas, kurikulum mengalami perpindahan arti ke dunia pendidikan. Apabila pengertian manhaj atau kurikulum berkaitan dengan pendidikan, maka berarti jalan terang yang dilalui pendidik atau guru latih dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka (Al-Syaibany, 1997:478).[7]

Pengertian kurikulum berdasarkan pemahamannya, dapat dipandang sebagai kurikulum tradisional dan kurikulum modern.

2. Kurikulum menurut pandangan tradisional

Kurikulum secara tradisional masih banyak tampak adanya kecenderungan penekanan pada rencana pelajaran untuk menyampaikan mata pelajaran yang masih mengandung kebudayaan nenek moyang dan pengertian tersebut masih mengacu pada masa lampau. Kurikulum juga diartikan secara sempit hanya pada penyampaian mata pelajaran kepada anak didik. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa pendapat dari beberapa tokoh diantaranya:

a) Menurut Oemar Hamalik kurikulum menurut pandangan lama adalah: sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijazah. Pengertian ini mempunyai implementasi bahwa mata pelajaran pada hakikatnya pengalaman masa lampau, tujuannya adalah untuk memperoleh ijazah (Hamalik, 1993: 18).

b) Menurut Nasution, kurikulum diartikan diartikan sebagai mata pelajaran yang diajarkan disekolah. Pengertian kurikulum yang dianggap tradisional ini masih banyak dianut sampai sekarang termasuk juga di Indonesia (Nasution, 1993: 9). Pada pertengahan abad ke Xxkurikulum diartikan sebagai sejumlah pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk kenaikan kela atau ijazah (Hendyat, 1993: 12).[8]

3) Kurikulum menurut pandangan modern

Sesuai dengan perkembangan, David Patt dalam Curriculum, Design and development menyatakan bahwa : A curriculum is an organized set of formal educational and or training intenstions (Patt, 1980: 4). Maksudnya, kurikulum yaitu seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusat latihan.[9] Selanjutnya ia membuat implikasi secara lebih eksplisit tentang definisi yang dikemukakannya tersebut menjadi enam hal, yaitu:

a)  Kurikulum adalah suatu rencana atau instentions, ia mungkin hanya berupa perencanaan mental saja, tetapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk tulisan.

2. Dasar Kurikulum Pendidikan Islam

Karena kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan yang sangat berperan dalam mengantarkan pada tujuan pendidikan yang diharapkan, maka kurikulum harus mempunyai dasar-dasar yang merupakan kekuatan utama yang mempengaruhi dan membentuk materi kurikulum, susunan dan organisasi kurikulum.

Herman H.Home memberikan dasar bagi penyusunan kurikulum dengan tiga macam yaitu :

  1. Dasar Psikologis, yang digunakan untuk memenuhi dan mengatahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan anak didik (the ability and needs of children).
  2. Dasar Sosiologis, yang digunakan unutk mengetahui tuntutan yang sah dari masyuarakat (the legitimate demans of society).
  3. Dasar Filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadaan semesta/ tempat kita hidup (the kind of universe in which we live).[10]

Selain itu Iskandar Wiryono dan Usman Mulyadi juga berpendapat dan memberi penawaran yang sama tentang dasar kurikulum yang senada dengan dasar-dasar diatas.[11]

Akan tetapi dalam penyusunan kurikulum pendidikan Islam, beberapa pendapat yang sama diatas belumlah lengkap untuk menjadi dasar dalam kurikulum pendidikan Islam. Hal ini disebabkan karena di dalam pendidikan Islam ada usaha-usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai agama Islam sebagai titik sentral (pusat) tujuan dan proses pendidikan Islam itu sendiri. Oleh karena itu yang menjadi dasar dalam penyusunan kurilkulum pendidikan Islam adalah :

  1. Dasar Agama, dalam arti segala sistem yang ada dalam masyarakat termasuk pendidikan, harus meletakkan dasar falsafah, tujuan dan kurikulumnya pada dasar agama Islam dengan segala aspeknya. Dasar agama ini dalam kurikulum pendidikan Islam jelas harus didasarkan pada Al-Qur’an, al-Sunnah dan sumber-sumber yang bersifat furu’ lainnya.
  2. Dasar Falsafah, dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan Islam secara filosofis sehingga tujuan, isi dan organisasi kurikulum mengandung suatu kebenaran dan pandangan hidup dalam bentuk nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu kebenaran, baik ditinjau dari segi ontologi, epistimologi, maupun axiologi.
  3. Dasar Psikologis, dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan cirri-ciri perkembangan psikis pesrta didik, sesuai dengan tahap kematangan dan bakatnya, memperhatikan kecakapan pemikiran dan perbedaan perseorangan antara satu peserta didik dengan yang lainnya.
  4. Dasar Sosial, dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan Islam yang tercermin pada dasar social yang mengandung cirri-ciri masyarakat Islam dan kebudayaannya. Baik dari segi pengatahuan, niali-nilai ideal, cara berfikir dan adapt kebiasaan, seni dan sebagainya. Sebab tidak ada suatu masyarakat yang tidak berbudaya dan tidak ada suatu kebudayaan yang tidak berada pada masyarakat. Kaitannya dengan kurikulum pendidikan Islam sudah tentu kurikulum ini harus mengakar terhadap masyarakat dan perubahan dan perkembangan.
  5. Dasar Organisatoris, dasar ini menberikan landasan dalam penyusunan bahan pembelajaran beserta penyajiannya dalam proses pembelajaran beserta penyajiannya dalam proses pembelajaran.[12]

3. Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam

Dalam penyusunan kurikulum perlu diperhatikan prinsip-prinsip yang mewarnai kurikulum pendidikan Islam. Prinsip-prinsip tersebut berbeda-beda menurut analisis para pakar. Dalam merumuskan kurikulum pendidikan Islam penulis ambil pemikiran para pakar tersebut kemudian ditambah dan disesuaikan dengan esensi kurikulum pendidikan Islam.

Prinsip-prinsip tersebut adalah sebatgai berikut :

  1. Prinsip berdasarkan Islam termasuk ajaran termasuk ajaran dan nilai-nilanya. Maka setiap yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk falsafah, tujuan-tujuan, kandungan-kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan, dan hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga-lembaga pendidikan harus berdasarkan pada agama dan akhlak Islam.
  2. Prinsip pengarah pada tujuan adalah seluruh aktivitas dalam kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan yang dirumuskan sebelumnya.
  3. Prinsip (integritas) antara mata pelajaran, pengalaman-pengalaman, dan aktiviti yang terkandung di dalam kurikulum, begitu pula dengan pertautan antara kandungan kurikulum dengan kebutuhan murid juga kebutuhan masyarakat.
  4. Prinsip relevansi adalah adanya kesesuaian pendidikan dengan lingkungan hidup murid, relevansi dengan kehidupan masa sekarang dan akan dating, relevansi dengan tuntutan pekerjaan.
  5. Prinsip fleksibilitas, adalah terdapat ruang gerak yang memberikat sedikit kebebasan dalam bertindak, baik berorientasi pada fleksibilitas pemilihan program pendidikan maupun dalam mengembangakan program pengajaran.
  6. Prinsip integritas, adalah kurikulum tersebut dapat menghasilkan manusia seutuhnya, manusia yang mampu mengintegritaskan antara fakultas dzikir dan fakultas fikir, serta manusia yang dapat menyelaraskan struktur kehidupan dunia dan struktur kehidupan akhirat.
  7. Prinsip efisiensi, adalah agar kurikulum dapat mendayagunakan waktu, tenaga, dan dan sumber lain secara cermat, tepat, memadai dan dapat memnuhi harapan.
  8. Prinsip kontinuitas dan kemitraan adalah bagaimana susuna kurikulum yang terdiri dari bagian yang berkel;anjutan dengan kaitan-kaitan kurikulum lainnya, baik secara vertikal (penjenjangan, tahapan) maupun secara horizontal.
  9. Prinsip individualitas adalah bagaimana kurikulum memperhatikan perbedaan pembawaan dan lingkungan anak pada umumnya yang meliputi seluruh aspek pribadi anak didik, seperti perbedaan jasmani, watak inteligensi, bakat serta kelebihan dan kekurangannya.
  10. Prinsip kesamaan memperoleh kesempatan, dan demokratis adalah bagaimana kurikulum dapat memberdayakan semua peserta didik memperoleh pengetahuan, keteram,pilan, dan sikap sangat diutamakan. seluruh peserta didik atau santri diberbagi kelompok seperti kelompok yang kurang beruntung secara ekonomi dan sosial yang memerlukan bantuan khusus, berbakat, dan unggul berhak menerima pendidikan yang tepat sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya.
  11. Prinsip kedinamisan, adalah agar kurikulum itu tidak statis, tetapi dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan social.
  12. Prinsip keseimbangan, adalah bagaimana kurikulum dapat mengemabngkan sikap potensi peserta didik secara harmonis.
  13. Prinsip efektifitas, adalah agar kurikulum dapat menunjang efektifitas guru yang mengajar dan peserta didik yang mengajar.[13]

Prinsip pendidikan Islam merupakan kaidah sebagai landasan supaya kurikulum pendidikan sesuai dengan harapan semua pihak. Dalam hal ini Winarno Suracmad sebagaimana dikutip Abdul Ghofir (1993: 31) mengemukakan prinsip kurikulum pendidikan yaitu relevansi, efektivitas, efisiensi, fleksibilits, dan kesinambungan. Nana Syaodih S. (2002: 150-151) menerangkan bahwa prinsip umum kurikulum adalah prinspi relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektifitas.

Sementara itu al Syaibani menyatakan bahwa prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan Islam adalah : pertautan sempurna dengan agama, prinsip universal, keseimbangan antara tujuan dan isi kurikulum, keterkaitan dengan segala aspek pendidikan, mengakui adanya perbedaan (fleksibel), prinsip perkembangan dan perubahan yang selaras dengan kemaslahatan, dan prinsip pertautan antara semua elemen kurikulum (Muhaimin, 1991: 39-40).

4. Kerangka Dasar Kurikulum Pendidikan Islam

Kita tahu bahwa kurilum di dalam pendidikan merupakan dasar atau acuan dalam melaksanakan dan merencanakan daripada tujuan pendidikan. Oleh karena itu dalam menetukan kurikulum perlu adanya landasan atau dasar penyusunan kurikulum.

Kurikulum yang baik dan relevan dalam rangka tujuan pendidikan Islam adalah yang bersifat integrated dan komperensif serta menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber utama dalam penyusunannya. Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber utama pendidikan Islam berisi kerangka dasar yang dapat dijadikan sebagai acuan operasional penyusunan dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam.[14]

Di dalam Al-Qur’an dan Hadits ditemukan kerangka dasar yang dapat dijadikan sebagai pedoman operasional dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum pendidikan Islam. Kerangka dasar tersebut adalah Tauhid dan perintah membaca.[15]

  1. Tauhid

Tauhid sebagai kerangka dasar utama kurikulum harus dimantapkan semenjak masih bayi-dimulai dengan memperdengarkan kalimat-kalimat tauhid seperti azan atau iqamah terhadap anak yang baru lahir.[16]

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Prinsip pendidikan Islam merupakan kaidah sebagai landasan supaya kurikulum pendidikan sesuai dengan harapan semua pihak. Dalam hal ini Winarno Suracmad sebagaimana dikutip Abdul Ghofir (1993: 31) mengemukakan prinsip kurikulum pendidikan yaitu relevansi, efektivitas, efisiensi, fleksibilits, dan kesinambungan. Nana Syaodih S. (2002: 150-151) menerangkan bahwa prinsip umum kurikulum adalah prinspi relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektifitas.

Sementara itu al Syaibani menyatakan bahwa prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan Islam adalah : pertautan sempurna dengan agama, prinsip universal, keseimbangan antara tujuan dan isi kurikulum, keterkaitan dengan segala aspek pendidikan, mengakui adanya perbedaan (fleksibel), prinsip perkembangan dan perubahan yang selaras dengan kemaslahatan, dan prinsip pertautan antara semua elemen kurikulum (Muhaimin, 1991: 39-40).

DAFTAR PUSTAKA

  • [1]  Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal: 150.
  • [2]  Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal: 150.
  • [3] H. Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Konsep dan Implementasinya di Madrasah. (Semarang; Madrasah Development Center (MDC), 2007), hal : 79.
  • [4]  Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam dalam Prespektif Islam (Bandung: Rosdakarnya, 1992), hal: 53.
  • [5]  Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal: 150-151.
  • [6]  Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal: 151.
  • [7] H. Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Konsep dan Implementasinya di Madrasah. (Semarang; Madrasah Development Center (MDC), 2007), hal : 24.
  • [8] H. Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Konsep dan Implementasinya di Madrasah. (Semarang; Madrasah Development Center (MDC), 2007), hal : 24.
  • [9] H. Khaeruddin dan Mahfud Junaedi, dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Konsep dan Implementasinya di Madrasah. (Semarang; Madrasah Development Center (MDC), 2007), hal : 25.
  • [10] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal: 159.
  • [11] Prof. DR. H. Ramayulis, Op. cit., hal: 155.
  • [12] Prof. DR. H. Ramayulis, Loc. Cit., hal: 159-160.
  • [13] Prof. DR. H. Ramayulis, Loc. Cit.,  hal: 161-162.
  • [14] Prof. DR. H. Ramayulis, Loc. Cit., hal: 155.
  • [15] Prof. DR. H. Ramayulis, Loc. Cit., hal: 155.
  • [16] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal: 155.

1 Trackback / Pingback

  1. Contoh Makalah Pendidikan Di Indonesia Yang Benar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*