Contoh Makalah Masalah-Masalah Belajar Siswa Lengkap

Contoh Makalah Masalah-Masalah Belajar Siswa

Contoh Makalah Masalah-Masalah Belajar Siswa Lengkap

MakalahkitaContoh Makalah Masalah-Masalah Belajar Siswa Lengkap yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

Daftar Isi

Halaman Judul………………………………………………………………………. i
Kata Pengantar……………………………………………………………………… ii
Daftar Isi……………………………………………………………………………. iii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………………………………… 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………….. 1
1.3 Tujuan Pembuatan Makalah…………………………………………….. 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Masalah-Masalah Belajar Siswa………………………………………… 2
2.1.1 Faktor Internal Masalah Belajar………………………………….. 2
2.1.2 Faktor Eksternal Masalah Belajar………………………………… 8

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan……………………………………………………………..…. 12
3.2 Saran…………………………………………………………………….. 12

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………. … 13

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keberhasilan proses pembelajaran merupakan muara dari seluruh aktivitas yang dilakukan guru dan siswa. Artinya apapun bentuk kegiatan-kegiatan guru, mulai dari merancang pembelajaran, memilih dan menentukan materi, Pendekatan, strategi dan metode pembelajaran, memilih dan menentukan teknik evaluasi, semuanya diarahkan untuk mencapai keberhasilan siswa. Meskupun guru secara bersungguh-sungguh telah berupaya merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, namun masalah-masalah belajar tetap akan dijumpai oleh guru. Hal ini merupakan pertanda bahwa belajar merupakan kegiatan yang dinamis sehingga guru perlu secara terus menerus mencermati perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa di kelas.

Agar aktivitas-aktivitas pembelajaran yang dilakukan guru dapat lebih terarah, dan guru dapat memahami persoalan-persoalan belajar yang seringkali atau pada umumnya terjadi pada kebanyakan siswa dalam berbagai bentuk aktivitas pembelajaran, maka akan lebih baik bilamana guru memilki bekal pemahaman tentang masalah-masalah belajar. Pemahaman tentang masalah belajar memungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan munculnya masalah yang dapat menghambat tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan pemhaman itu pula guru dapat menentukan solusi tindakan yang dianggap tepat jika menemukan masalah-masalah di dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Memahami pentingnya hal ini, maka pada bagian ini Anda akan diajak untuk mengkaji secara kritis dan lebih dalam masalah-masalah belajar. Agar memperoleh pemahaman yang baik,maka disamping mengikuti pembahasan bertatap muka di kelas, Anda juga diharapkan untuk dapat lebih mendalaminya melalui aktivitas diskusi pada sesame teman, atau mengkaji sendiri.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud masalah-masalah dalam belajar?
2. Apa saja faktor internal menjadi penyebab masalah-masalah belajar?
3. Apa saja faktor eksternal menjadi penyebab masalah-masalah belajar?

1.3 Tujuan Pembuatan Makalah

1. Mengetahui apa yang dimaksud masalah-masalah belajar.
2. Mengetahui apa saja bagaimana faktor internal menjadi penyebab masalah-masalah belajar siswa.
3. Mengetahui apa saja faktor eksternal menjadi penyebab masalah-masalah belajar siswa.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Masalah – Masalah Belajar

Tugas utama seorang guru adalah membelajarkan siswa. Ini berarti bahwa bila guru bertindak mengajar, maka diharapkan siswa belajar. Dalam kegiatan belajar – mengajar di sekolah ditemukan hal – hal berikut. Guru telah mengajar dengan baik. Ada siswa belajar giat. Ada siswa pura-pura belajar. Ada siswa belajar setengah hati. Bahkan ada pula siswa yang tidak belajar. Guru bingung menghadapi keadaan siswa. Guru tersebut berkonsultasi dengan konselor sekolah. Kedua petugas pendidikan tersebut menemukan adanya masalah-masalah yang dialami siswa. Ada masalah yang dapat dipecahkan oleh konselor sekolah. Ada pula masalah yang harus dikonsultasikan dengan ahli psikologi. Guru menyadari bahwa dalam tugas pembelajaran ternyata ada masalah-masalah belajar yang dialami oleh siswa. Bahkan guru memahami bahwa kondisi lingkungan siswa juga dapat menjadi sumber timbulnya masalah-masalah belajar.

Guru professional berusaha mendorong siswa agar belajar secara berhasil. Ia menemukan bahwa ada bermacam-macam hal yang menyebabkan siswa belajar. Ada siswa yang tidak belajar karena dimarahi oleh orang tua. Ada siswa yang enggan belajar karena pindah tempat tinggal. Ada siswa yang sukar memusatkan perhatian waktu guru mengajar topic tertentu. Ada pula siswa yang giat belajar karena ia bercita-cita menjadi seorang ahli. Bermacam-macam keadaan siswa tersebut menggambarkan bahwa pengetahuan tentang masalah-masalah belajar merupakan hal yang sangat penting bagi guru dan calon guru.

2.1.1 Faktor-Faktor Internal Belajar

Dalam interaksi belajar-mengajar ditemukan bahwa proses belajar yang dilakukan oleh siswa merupakan kunci keberhasilan belajar. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkaitan dengan bahan belajar.Aktivitas mempelajari bahan belajar tersebut memakan waktu. Lama waktu mempelajari tergantung pada jenis dan sifat bahan. Lama waktu mempelajari juga tergantung pada kemampuan siswa. Jika bahan belajarnya sukar, dan siswa kurang mampu, maka dapat diduga bahwa proses belajar memakan waktu yang lama. Sebaliknya, jika bahan belajarnya mudah, dan siswa berkemampuan tinggi, maka proses belajar memakan waktu singkat. Aktivitas belajar dialami oleh siswa sebagai suatu proses, yaitu proses belajar sesuatu. Aktivitas belajar juga dapat diketahui oleh guru dari perlakuan siswa terhadap bahan belajar. Proses belajar sesuatu dialami oleh guru dan aktivitas belajar suatu dapat diamati oleh guru.

Proses belajar merupakan hal yang kompleks. Siswalah yang menentukan terjadi atau tidak terjadi belajar. Untuk bertindak belajar siswa menghadapi masalah-masalah secara intern. Jika siswa tidak dapat mengatasi masalahnya, maka ia tidak belajar dengan baik. Faktor intern yang dialami dan dihayati oleh siswa yang berpengaruh pada proses belajar sebagai berikut.

1. Ciri Khas/Karakteristik Siswa

Persoalan intern pembelajaran berkaitan dengan kondisi kepribadian siswa, baik fisik maupun mental. Berkaitan dengan aspek-aspek fisik tentu akan relative lebih mudah diamati dan dipahami, dibandingkan dengan dimensi-dimensi mental dan emosional. Sementara dalam kenyataannya, persoalan-persoalan pembelajaran lebih banyak dengan dimensi mental atau emosional.

Masalah-masalah belajar yang berkenaan dengan dimensi siswa sebelum belajar pada umumnya berkenaan dengan minat, kecakapan dan pengalaman-pengalaman. Bilamana siswa memiliki minat yang tinggi untuk belajar, maka ia akan berupaya mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan apa yang akan dipelajari dengan lebih baik. Hal ini misalnya dapat dilihat dari kesediaan siswa untuk mencatat pelajaran, mempersiapkan buku, alat-alat tulis, atau hal-hal lain yang diperlukan. Namun bilamana siswa tidak memilki minat untuk belajar, maka siswa tersebut cenderung mengabaikan kesiapannya untuk belajar. Misalnya kurang peduli apakah ia membawa buku pelajaran atau tidak, tersedia tidaknya alat-alat tulis, apalagi mempersiapkan materi yang perlu untuk mendukung pemahaman materi-materi baru yang akan dipelajari. Demikian juga pengalaman siswa juga turut menentukan muncul tidaknya masalah belajar sebelum kegiatan belajar dimulai. Siswa-siswa yang memilki latar pengalaman yang baik yang mendukung materi pelajaran yang akan dipelajari, tidak memilki banyak masalah sebelum belajar dan dalam proses belajar selanjutnya. Namun bagi siswa yang kurang memiliki pengalaman yang terkait dengan mata pelajaran atau materi yang akan dipelajari akan menghadapi masalah dalam belajar, terutama berkaitan dengan kesiapannya untuk belajar.

2. Sikap terhadap Belajar
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu, mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak atau mengabaikan. Siswa memperoleh kesempatan belajar. Meskipun demikian, siswa dapat menolak, menerima, atau mengabaikan kesempatan belajar tersebut. sebagai ilustrasi, seorang siswa yang tidak lulus ujian matematika menolak ikut ulangan dikelas lain. Siswa tersebut bersikap menolak ulangan karena ujian ulang di kelas lain. Sikap menerima, menolak, atau mengabaikan suatu kesempatan belajar merupakan urusan pribadi siswa. Akibat penerimaan, penolakan, atau pengabaian kesempatan belajar tersebut akan berpengaruh pada perkembangan kepribadian. Oleh karena itu, ada baiknya siswa mempertimbangkan masak-masak akibat sikap terhadap belajar.

3. Motivasi Belajar
Motivasi belajar merupakan kekuatan yang dapat menjadi tenaga pendorong bagi siswa untuk mendayagunakan potensi-potensi yang ada pada dirinya dan potensi di luar dirinya untuk mewujudkan tujuan belajar. Siswa yang memiliki motivasi belajar akan Nampak melalui kesungguhan untuk terlibat didalam proses belajar, antara lain Nampak melalui keaktifan bertanya, mengemukakan pendapat, menyimpulkan pelajaran, mencatat, membuat resume, mempraktekkan sesuatu, mengerjakan latihan-latihan dan evaluasi sesuai dengan tuntutan pembelajaran. Di dalam aktivitas belajar sendiri, motivasi individu dimanifestasikan dalam bentuk ketahanan atau ketekunan dalam belajar, kesungguhan dalam menyimak isi pelajaran, kesungguhan dan ketelatenan dalam mengerjakan tugas dan sebagainya. Sebaliknya siswa-siswa yang tidak atau kurang memiliki motivasi, umumnya kurang mampu bertahan untuk belajar lebih lama, kurang sungguh-sungguh di dalam mengerjakan tugas. Sikap yang kurang positif di dalam belajar ini semakin nampak ketika tidak ada orang lain(guru, orang tua) yang mengawasinya. Oleh karena itu, rendahnya motivasi merupakan masalah belajar, karena hal ini memberikan dampak bagi ketercapaian hasil belajar yang diharapkan.

4. Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan salah satu aspek psikologis yang sering kali tidak begitu mudah untuk diketahui oleh orang lain selain diri individu yang sedang belajar. Hal ini disebabkan kadang-kadang apa yang terlihat melalui aktivitas seseorang belum tentu sejalan dengan apa yang sesungguhnya individu sedang pikirkan. Sebagai contoh, ketika dihadapan siswa terdapat sebuah buku yang sedang terbuka, dan terlihat sepintas siswa seperti sedang mengamati atau membaca buku tersebut. akan tetapi benarkan siswa tersebut sedang memusatkan perhatian (berkonsentrasi) terhadap isi buku yang dihadapannya?. Tentu perlu diperiksa, diteliti dan dipahami untuk menyimpulkannya. Ketika guru menjelaskan pelajaran, dan sepintas terlihat siswa-siswa di kelas tersebut memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru. Dapatkah guru mejamin bahwa semua siswa sedang berkonsentrasi dengan apa yang Ia jelaskan?. Bilamana menurut keyakinan guru siswa berkonsentrasi terhadap pelajaran yang dijelaskannya, maka umumnya guru merasa yakin pula bahwa siswa-siswa dapat memahami dengan baik. Bagaimana jika yang terjadi tidak seperti yang diduga guru, karena ternyata separuh siswanya hanya diam, akan tetapi tidak berkonsentrasi dengan pelajaran yang disajikan guru?. hal-hal seperti ini layak dikaji secara cermat agar guru dapat memahami kondisi siswa sesungguhnya.
Kesulitan berkonsentrasi merupakan indicator adanya msalah belajar yang dihadapi siswa, karena hal itu akan menjadi kendala didalam mencapai hasil belajar yang diharapkan. Untuk membantu siswa agar dapat berkonsentrasi dalam belajar memerlukan waktu yang cukup lama, di samping menuntut ketelatenan guru. Akan tetapi dengan bimbingan, perhatian serta bekal kecakapan yang dimiliki guru, maka secara bertahap hal ini akan dapat dilakukan.

5. Mengolah Hasil Belajar
Mengolah bahan belajar dapat diartikan sebagai proses berpikir seseorang untuk mengolah informasi-informasi yang diterima sehingga menjadi bermakna. Dalam kajian konstruktivisme mengolah bahan belajar atau mengolah informasi merupakan kemampuan penting agar seseorang dapat mengkonstruksikan pengetahuannya sendiri berdasarkan informasi yang telah ia dapatkan. Dalam proses pembelajaran, makna yang dihasilkan dari proses pengolah pesan merupakan hasil bentukan siswa sendiri yang bersumber dari apa yang mereka dengar, lihat, rasakan, dan alami. Secara substansial, belajar bukanlah aktivitas pengembangan pemikiran-pemikiran baru. Dalam keadaan ini, maka kemampuan siswa mengolah bahan belajar merupakan kemampuan yang harus terus didorong dan dikembangkan agar siswa semakin mampu mencapai makna belajar dan akan semakin mengarah pada perkembangan serta kemampuan berpikir yang sangat berguna untuk menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru.

Bilamana dalam proses belajar siswa mengalami kesulitan didalam mengolah pesan, maka berarti ada kendala pembelajaran yang dihadapi siswa yang membutuhkan bantuan guru. Bantuan guru tersebut hendaknya dapat membantu siswa agar memilki kemampuan sendiri untuk terus mengolah bahan belajar, karena konstruksi merupakan suatu proses yang berlangsung secara dinamis.

6. Menggali Hasil Belajar
Dalam kegiatan pembelajaran kita sering mendengar bahkan mengalami sendiri di mana kita mengalami kesulitan menggali kembali hasil belajar yang sebelumnya sudah kita temukan atau kita ketahui. Pesan yang sudah kita terima secara tidak otomatis dapat kita panggil kembali, karena di dalam mekanisme kerja otak ada suatu proses yang dilalui untuk dapat menggali kembali pesan-pesan yang telah diterima dan disimpan sebelumnya. Suatu proses mengaktifkan kembali pesan-pesan yang telah tersimpan dinamakan menggali hasil belajar. Kesulitan didalam proses menggali kembali pesan-pesan lama merupakan kendala di dalam proses pembelajaran karena siswa akan mengalami kesulitan untuk mengolah pesan-pesan baru yang memiliki keterkaitan dengan pesan-pesan lama yang telah diterima sebelumnya.
Dalam proses pembelajaran guru hendaknya berupaya untuk mengaktifkan siswa melalui pemberian tugas, latihan-latihan menggunakan cara kerja tertentu, rumus, latihan-latihan agar siswa mampu meningkatkan kemampuannya di dalam mengolah pesan-pesan pembelajaran.

7. Rasa Percaya Diri
Rasa percaya diri merupakan salah satu kondisi psikologis seseorang yang berpengaruh terhadap aktivitas fisik dan mental dalam proses pembelajaran. Rasa percaya diri pada umumnya muncul ketika seseorang akan melakukan atau terlibat didalam suatu aktivitas tertentu dimana pikirannya terarah untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Dari dimensi perkembangan, rasa percaya diri dapat tumbuh dengan sehat bilamana ada pengakuan dari lingkungan. Itulah sebabnya maka di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, baik di lingkungan rumah tangga, maupun sekolah, orang tua atau guru terhadap anak. Mendidik dengan memberikan penghargaan atau pujian jauh lebih baik daripada mendidik dengan mencemooh dan mencela. Bilamana orang tua ataupun guru berupaya untuk mendidik anak dengan pujian atau penghargaan maka anak akan tumbuh dengan percaya diri. Namun bilamana mereka dididik dengan celaan dan cemoohan maka ada kecenderungan anak menyesali diri dan merasa bersalah. Akibatnya anak-anak tidak memiliki kemampuan mengeksplorasi kemampuannya dan tidak memilki keberanian yang cukup untuk melakukan sesuatu, terlebih lagi bilamana sesuatu itu adalah hal-hal baru yang belum pernah ia lakukan.

Bilamana siswa sering mencapai keberhasilan di dalam melaksanakan tugas, di dalam menyelesaikan suatu pekerjaan apalagi diiringi adanya pengakuan umum atas keberhasilan yang dicapai maka rasa percaya diri siswa akan semakin kuat. Sebaliknya bilamana kegagalan lebih sering dialami, terlebih lagi diiringi dengan penyesalan dan celaan dari lingkungan, maka siswa semakin merasa tidak percaya diri, bahkan dapat menimbulkan rasa takut belajar atau membenci pelajaran tertentu. Pendekatan-pendekatan emosional guru kepada siswa menjadi sangat penting dalam proses pembelajaran agar keberanian siswa dapat tumbuh dengan baik. Guru juga perlu memberikan pemahaman kepada siswa bahwa sukses dan gagal melakukan sesuatu adalah dua hal yang dialami setiap orang dalam proses pembelajaran. Hal-hal semacam ini bukan merupakan bagian terpisah dari proses belajar, akan tetapi merupakan tanggung jawab yang harus diwujudkan guru bersamaan dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan.

8. Kebiasaan Belajar
Kebiasaan belajar adalah perilaku belajar seseorang yang telah tertanam dalam waktu yang relative lama sehingga memberikan ciri dalam aktivitas belajar yang dilakukannya. Ada beberapa perilaku yang menunjukkan kebiasaan tidak baik dalam belajar yang sering kita jumpai pada sejumlah siswa, seperti;

a. Belajar tidak teratur
b. Daya tahan belajar rendah (belajar secara tergesa-gesa)
c. Belajar bilamana menjelang ulangan atau ujian
d. Tidak memilki catatan pelajaran yang lengkap
e. Tidak terbiasa membuat ringkasan
f. Tidak memilki motivasi untuk memperkaya materi pelajaran
g. Senang menjiplak pekerjaan teman, termasuk kurang percaya diri di dalam menyelesaikan tugas
h. Sering datang terlambat
i. Melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk (misalnya merokok)

Jenis-jenis kegiatan belajar di atas merupakan bentuk-bentuk perilaku belajar yang tidak baik karena mempengaruhi aktivitas belajar siswa dan pada gilirannya dapat meyebabkan rendahnya hasil belajar diperoleh.
Sejalan dengan pandangan di atas, Misunita (2008) mengemukakan bahwa kesukaran belajar dapat dikelompokkan berdasarkan tahapan-tahapan dalam pengolahan informasi, yaitu;

1). Input; Kesukaran belajar pada kategori ini berkaitan dengan masalah penerimaan informasi melalui alat indera, misalnya persepsi visual dan auditory. Kesukaran dalam persepsi visual dapat menyebabkan masalah dalam mengenali bentuk, posisi atau objek yang dilihatnya.

2). Integration; Kesukaran tahap ini berkaitan dengan memori/ingatan. Kebanyakan masalah dalam kategori ini berkaitan dengan short-term memori yang membuat seseorang mengalami kesulitan dalam mempelajari kesukaran dalam memori visual mempengaruhi proses belajar dalam mengeja.

3). Storage; tahap ini berkaitan dengan memori/ingatan. Kebanyakan masalah dalam kategori ini berkaitan dengan short-term memori yang membuat seseorang mengalami kesulitan dalam mempelajari materi tanpa banyak pengulangan. Misalnya kesukaran dalam memori visual mempenngaruhi proses belajar dalam mengeja.

4). Output; Informasi yang telah diproses oleh otak akan muncul dalam bentuk respon melalui kata-kata, yaitu output bahasa, aktivitass otot, misalnya menulis, atau menggambar. Kesulitan dalam output bahasa mengakibatkan masalah dalam bahasa lisan, misalnya menjawab pertanyaan yang diharapkan dimana seseorang harus menyampaikan kembali informassi yang disimpan, mengorganisasikan bentuk pikirannya dalam bentuk kata-kata. Hal yang serupa juga terjadi bila masalah menyangkut bahasa tulis. Kesulitan dalam kemampuan motoric menyangkut kemampuan motoric kasar maupun halus.

Untuk dapat memahami kesulitan atau kesukaran belajar, hendaknya guru dan orang tua memahami dengan baik makna kesukaran belajar itu sendiri. Dari beberapa sumber dijelaskan pengertian kesukaran belajar:

a) Kesukaran belajar adalah sekelompok disorder yang mempengaruhi beberapa kemampuan akademis dan fungsional termasuk kemampuan untuk berbicara, mendengarkan, membaca, menulis, mengeja, reason, mengorganisasikan informasi. Kesukaran belajar bukanlah indicator dari rendahnya intelegensi seseorang. Seseorang dengan kesukaran belajar terkadang sulit untuk mencapai tingkat intelektual sesungguhnya karena kelemahan dalam satu atau lebih proses informasi otak.

b) Istilah kesukaran belajar diberikan kepada siswa-siswa yang tidak mampu membuat peningkatan kemampuan yang berarti dalam menghadapi kurikulum sekolah, utamanya dalam kemampuan dasar seperti bahasa, sastra, dan matematika. Masalah-masalah yang mereka alami bisa terjadi hanya pada salah satu mata pelajaran namun dapat juga terjadi pada seluruh mata pelajaran dalam kurikulum sekolah. Karena berbagai alasan, siswa-siswa tersebut tidak mampu mengikuti pelajaran dengan mudah.

c) Kesukaran belajar sebagai gangguan pada satu atau lebih proses dasar psikologis termasuk dalam memahami atau menggunakan bahasa tulis dan lisan, yang mana tampak dalam kemampuan menyimak, berpikir, berbicara, membaca, mengeja dan menyelesaikan hitungan matematis. Adapun yang termasuk dalam kesukaran pealajaran adalah perseptual disabilities, kerusakan otak, minimal brain dysfunction, dyslexia, dan aphasia. Masalah-masalah belajar yang berdasar dari visual, hearing, dan motoric disabilities, reterdasi mental, dan environmental, cultural, dan economic disadvantage tidak termasuk dalam kelompok ini.

d) Kesukaran belajar merujuk pada beberapa gangguan yang berdampak pada proses akuisisi, organisasi. Retensi, memahami penggunaan informasi secara verbal maupun non verbal.

2.1.2 Faktor-Faktor Eksternal Belajar

Keberhasilan belajar siswa di samping ditentukan oleh faktor-faktor internal juga turut dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Faktor eksternal adalah segala faktor yang ada di luar diri siswa yang memberikan pengaruh terhadap aktivitas dan hasil belajar yang dicapai siswa.

Pada berbagai kegiatan pembelajaran lain kita dapat melihat berbagai contoh nyata, tidak sedikit siswa yang sebelumnya diketahui memilki hasil belajar yang relative rendah, akan tetapi karena guru mampu merencanakan kagiatan belajar dengan baik, menggunakan pendekatan dan strategi pembelajaran yan tepat, serta menerapkan Pendekatan-pendekatan bimbingan belajar yang sesuai dengan kondisi siswa, ternyata mamapu merubah hasil belajar siswa yang rendah menjadi lebih baik. Karena itu kita dapat memahami bahwa hasil belajar di samping ditentukan oleh faktor intern, juga dipengaruhi oleh faktor-faktor ekstern. Faktor-faktor ekstern yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain adalah:

1. Faktor Guru
Dalam proses pembelajaran, kehadiran guru masih menempati posisi penting, meskipun di tengah pesatnya kemajuan teknologi yang telah merambah dunia pendidikan. Dalam berbagai kajian diungkapkan bahwa secara umum sesungguhnya tugas dan tanggung jawab guru mencakup aspek yang luas, lebih dari sekedar melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Parkey (1990: 3), mengemukakan bahwa guru tidak hanya sekedar sebagai guru di depan kelas, akan tetapi juga sebagai bagian dari organisasi yang turut serta menentukan kemajuan sekolah bahkan di masyarakat.

Dalam ruang lingkup tugasnya, guru dituntut untuk memilki sejumlah keterampilan terkait dengan tugas-tugas yang dilaksanakannya. Bila disimpulkan dari pendapat maka kita dapat menemukan beberapa faktor yang menyebabkan semakin tingginya tuntutan terhadap keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai dan dimilki oleh guru.

 Faktor pertama adalah karena cepatnya perkembangan dan perubahan yang terjadi saat ini terutama perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi. Implikasi bagi guru adalah di mana guru harus memilki keterampilan-keterampilan yang cukup untuk memilih topic, aktivitas dan cara kerja dari berbagai kemungkinan yang ada. Guru-guru juga harus mengembangkan strategi pembelajaran yang tidak hanya menyampaikan informasi, melainkan juga mendorong para siswa untuk belajar secara bebas dalam batas-batas yang ditentukan sebagai anggota kelompok.

 Faktor kedua adalah terjadinya perubahan padangan di dalam masyarakat yang memilki implikasi pada upaya-upaya pengembangan Pendekatan terhadap siswa. Sebagai contoh banyak guru yang memberikan motivasi seperti mendorong anak-anak bekerja keras di sekolah agar nanti mereka memperoleh suatu pekerjaan yang baik, tidak lagi menarik bagi mereka. Dalam konteks ini gagasan tentang keterampilan mengajar yang hanya menekankan transmisi pengetahuan dapat menjadi suatu gagasan yang miskin dan tidak menarik.

 Faktor ketiga adalah perkembangan teknologi baru yang mampu menyajikan berbagai informasi yang lebih cepat dan menarik. Perkembangan-perkembangan ini menguji fleksibilitas dan adaptabilitas guru untuk memodifikasi gaya mengajar mereka dalam mengakomodasi sekurang-kurangnya sebagian dari perkembangan baru tersebut yang memiliki suatu potensi untuk meningkatkan proses pembelajaran.

2. Lingkungan Sosial (termasuk teman sebaya)
Sebagai makhluk social maka setiap siswa tidak mungkin melepaskan dirinya dari interaksi lingkungan, terutama sekali teman-teman sebaya disekolah. Dalam kajian sosiologi, sekolah merupakan sistem sosial dimana diaman setiap orang yang ada didalamnya terikat oleh norma-norma dan aturan-aturan sekolah yang disepakati sebagai pedoman untuk mewujudkan ketertiban pada lembaga pendidikan tersebut. Disamping peraturan formal sekolah, para siswa biasanya juga memiliki norma-norma dan aturan-aturan yang lebih spesifik sebagai suatu konsensus bersama untuk ditaati oleh anggota kelompok masing-masing.
Lingkungan sosial dapat memberikan pengaruh positif dan dapat pula memberikan pengaruh negative terhadap siswa. Ilustrasi berupa contoh seoran siswa bernama Rudi yang diungkapkan pada awal bagian ini merupakan salah satu bantuk lingkungan sosial berupa teman sebaya yang membawa rudi terpengaruh dengan kebiasaan rekan-rekannya sehingga mendatangkan dampak negative terhadap proses dan hasil belajar yang ia peroleh. Banyak contoh lain berupa lingkungan sosial yang tidak menguntungkan perkembangan siswa dan member pengaruh negative terhadap kegiatan belajar siswa. Tidak sedikit siswa yang sebelumnya rajin pergi ke sekolah, aktif mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah, kemudian berubah menjadi siswa yang malas, tidak disiplin dan menunjukkan perilaku buruk dalam belajar. Hal-hal seperti diungkapkan diatas dapat menjadi factor yang menimbulkan masalah pada siswa dalam belajar.

Pada sisi lain, lingkungan sosial tentu juga dapat memberikan pengaruh yang positif bagi siswa. Tidak sedikit siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar karena pengaruh teman sebaya yang mampu memberikan motovasi kepadanya untuk belajar. Demikian pula banyak siswa yang mengalami perubahan sikap karena teman-teman sekoalah memiliki sikap positif yang dapat ia tiru dalam pergaulan atau interaksi sehari-hari.

3. Kurikulum Sekolah
Dalam rangkaian proses pembelajaran disekolah, kurikulum merupakan panduan yang dijadikan guru sebagai kerangka acuan untuk mengembangkan proses pembelajaran. Seluruh aktivitas pembelajaran, mulai dari penyusunan rencana pembelajaran, pemilihan materi pembelajaran, menentukan pendekatan dan strategi/metode, memilih dan menentukan media pembelajaran, menentukan teknik evaluasi, kesemuanya harus berpedoman pada kurikulum.

Karena kurikulum disusun berdasarkan tuntutan perubahan dan kemajuan masyarakat, sementara perubahan dan kemajuan adalah sesuatu yang harus terjadi, maka kurikulum juga harus mengalami perubahan. Oleh sebab itu sesungguhnya perubahan kurikulum adalah suatu keniscayaan. Sebab bilamana kurikulum tidak mengalami penyesuaian dan perubahan sementara kehidupan sosial, teknologi dan dimensi-dimensi kehidupan lainnya terus mengalami perubahan, maka dipastikan kurikulum tidak akan mampu memenuhi tuntutan perubahan. Hal itu juga berarti bahwa segala sesuatu yang diajarkan disekolah, akan tertinggal dengan tuntutan perubahan yang terjadi.

Perubahan kurikulum pada sisi lain juga menimbulkan masalah. Terlebih lagi bilamana dalam kurun waktu yang belum terlalu lama terjadi beberapa kali perubahan. Masalah-masalah itu adalah;

(a) tujuan yang akan dicapai mungkin berubah. Bilamana tujuan berubah, berarti pokok bahasan, kegiatan belajar mengajar, evaluasi juga akan berubah, dan dengan demikian kegiatan belajar mengajar paling tidak harus disesuaikan,

(b) isi pendidikan berubah; akibatnya buku-buku pelajaran, buku-buku bacaan, dan sumber-sumber lainnya akan berubah. Hal ini tentunya akan berakibat perubahan anggaran pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, demikian pula beban orang tua siswa,

(c) kegiatan belajr mengajar berubah; akibatnya guru harus mempelajari strategi, metode, teknik, dan pendekatan mengajar yang baru. Bilamana pendekatan belajar berubah, maka kebiasaan belajar siswa juga perlu dilakukan perubahan atau sekurangnya penyesuaian yang mungkin memerlukan waktu untuk proses penyesuaian,

(d) evaluasi berubah; akibatnya guru harus mempelajari metode dan teknik evaluasi belajar yang baru. Bilamana teknik dan metode evaluasi guru mengalami perubahan, maka siswa harus mempelajari cara-cara belajar yang sesuai dengan tuntutan tersebut (Dimyati dan Mudjiono, 1994: 242). Hal ini semua akan berdampak terhadap proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.

4. Sarana dan Prasarana
Prasarana dan sarana pembelajaran merupakan faktor yang turut memberikan pengaruh terhadap hasil belajar siswa. Keadaan gedung sekolah dan ruang kelas yang tertata dengan baik, ruang perpustakaan sekolah yang teratur, tersedianya fasilitas kelas dan laboratorium, tersedianya biki-buku pelajaran, media/alat bantu balajar merupakan komponen-komponen penting yang dapat mendukung terwujudnya kegiatan-kegiatan belajar siswa. Dari dimensi guru ketersediaan prasarana dan sarana pembelajaran akan memberikan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Disamping itu juga akan mendorong terwujudnya proses pembelajaran yang efektif, karena guru dapat menggunakan alat-alat bantu pembelajaran dalam memperjelas materi pelajaran serta kelancaran kegiatan belajar lainnya. Sedangkan dari dimensi siswa, ketersediaan prasarana dan sarana pembelajaran berdampak terhadap terciptanya iklim pembelajaran yang lebih kondusif, terjadinya kemudahan-kemudahan bagi siswa untuk mendapatkan informasi dan sumber belajar yang pada gilirannya dapat mendorong berkembangnya motivasi untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Bandingkan dengan keadaan gedung sekolah dan ruang kelas yang tidak tertata dengan baik, sumber-sumber belajar sangat terbatas, perpustakaan sekolah tidak dilengkapi dengan berbagai referensi, buku-buku pelajaran tidak lengkap, media pembelajaran tidak tersedia, kesemuanya ini tentu akan berdampak terhadap iklim pembelajaran serta motivasi balajar siswa. Oleh karena itu sarana dan prasarana menjadi bagian penting untuk dicermati dalam upaya mendukung terwujudnya proses pembelajaran yang diharapkan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Keberhasilan proses pembelajaran merupakan muara dari seluruh aktivitas yang dilakukan guru dan siswa. Artinya apapun bentuk kegiatan-kegiatan guru, mulai dari merancang pembelajaran, memilih dan menentukan materi, Pendekatan, strategi dan metode pembelajaran, memilih dan menentukan teknik evaluasi, semuanya diarahkan untuk mencapai keberhasilan siswa. Meskupun guru secara bersungguh-sungguh telah berupaya merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik, namun masalah-masalah belajar tetap akan dijumpai oleh guru. Hal ini merupakan pertanda bahwa belajar merupakan kegiatan yang dinamis sehingga guru perlu secara terus menerus mencermati perubahan-perubahan yang terjadi pada siswa di kelas. Pemahaman tentang masalah belajar memungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan munculnya masalah yang dapat menghambat tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan pemhaman itu pula guru dapat menentukan solusi tindakan yang dianggap tepat jika menemukan masalah-masalah di dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

Masalah belajar itu sendiri memiliki 2 faktor, yaitu factor internal dan factor eksternal. Pada factor internal proses belajar merupakan hal yang kompleks dan factor ini dari dalam diri siswa itu sendiri. Siswalah yang menentukan terjadi atau tidak terjadi belajar. Untuk bertindak belajar siswa menghadapi masalah-masalah secara intern. Jika siswa tidak dapat mengatasi masalahnya, maka ia tidak belajar dengan baik. Faktor intern yang dialami dan dihayati oleh siswa yang berpengaruh pada proses belajar, yaitu seperti:

1) Karakteristik Siswa
2) Sikap terhadap Belajar
3) Motivasi Belajar
4) Konsentrasi Belajar
5) Mengolah dan Menggali Hasil Belajar
6) Rasa Percaya Diri
7) Kebiasaan Belajar

Dan pada factor eksternal belajar adalah segala faktor yang ada di luar diri siswa yang memberikan pengaruh terhadap aktivitas dan hasil belajar yang dicapai siswa. Jadi hasil belajar siswa di samping ditentukan oleh faktor intern, juga dipengaruhi oleh faktor-faktor ekstern. Faktor-faktor ekstern yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain, yaitu:

1) Faktor Guru
2) Faktor Lingkungan Sosial termasuk Teman Sebaya
3) Faktor Kurikulum Sekolah
4) Faktor Sarana dan Prasarana

3.2 Saran

Dalam masalah-masalah belajar pada siswa guru atau calon guru harus dapat memahami bahwa kondisi lingkungan siswa juga dapat menjadi sumber timbulnya masalah-masalah belajar. Guru atau calon guru dapat memotivasi belajar siswa dengan menjadi tenaga pendorong bagi siswa untuk mendayagunakan potensi-potensi yang ada pada dirinya dan potensi di luar dirinya untuk mewujudkan tujuan belajar dan hasil belajar yang diharapkan. Guru atau calon guru mampu merencanakan kagiatan belajar dengan baik, menggunakan pendekatan dan strategi pembelajaran yang tepat, serta menerapkan pendekatan-pendekatan bimbingan belajar yang sesuai dengan kondisi siswa,agar guru atau calon guru mampu merubah hasil belajar siswa yang rendah menjadi lebih baik. Dalam hal ini guru atau calon guru juga baiknya slalu menjaga hubungan baik dengan anak-anak didiknya, agar guru atau calon guru semakin mudah untuk mengetahui penyebab-penyebab masalah belajar siswa dan cara mengatasinya.

DAFTAR PUSTAKA

  • Aunurrahman. (2010). Belajar dan Pembelajaran. Penerbit Alfabeta: Bandung.