Contoh Makalah Pendidikan Tentang Pembelajaran Geografi

Contoh Makalah Pendidikan Tentang Pembelajaran Geografi

Contoh Makalah Pendidikan Tentang Pembelajaran Geografi

Makalahkita.com – Contoh Makalah Pendidikan Tentang Pembelajaran Geografi yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi contoh makalah yang benar. Baiklah kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………

KATA PENNGATAR……………………………………………………………………….

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………..

  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………………
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………………
  3. Tujuan Penulisan Makalah……………………………………………………
  4. Manfaat Makalah……………………………………………………………….

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………….

  1. PENGERTIAN PEMBELAJARAN EFEKTIF………………………
  2. KESIAPAN GURU GEOGRAFI………………………………………..
  3. PEMBAGIAN MATERI MINGGU EFEKTIF……………………….

BAB III PENUTUP……………………………………………………………………

  1. Kesimpulan        ……………………………………………………………….
  2. Saran                     …………………………………………………………….

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………..

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang Masalah

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang sangat pesat menyebabkan munculnya berbagai gejala sosial dan perubahan dalammasyarakat, hal ini memerlukan kesiapan diri dari sumberdaya manusia. Guna mengantisipasinya diperlukan program pendidikan yang berkualitas, yang menyediakan berbagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang luwes, sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang tangguh, mandiri tanggung jawab dalam menghadapi tantangan dimasa depan.

Pada dunia pendidikan khususnya proses belajar mengajar sebenarnya mempunyai banyak sarana dan materi yang secara representatif dapat membantu tercapainya tujuan belajar dalam setiap bidang studi. Media pengajaran pada dasarnya dapat dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas untuk setiap tingkatan di setiap jenjang pendidikan, antara lain yaitu usaha pemanfaatan media komik dan media gambar untuk meningkatkan prestasi belajar pada bidang studi IPS Geografi. Melalui pelajaran geografi dimaksudkan untuk memberikan bekal kemampuan dan sikap rasional dan bertanggung jawab dalam menghadapi gejala alam dengan kehidupan di muka bumi serta permasalahan yang timbul akibat interaksi antara manusia dan lingkungan. Berkaitan dengan bidang studi geografi, maka guru dituntut mempunyai kualitas dalam hal pengetahuan, keterampilan, disiplin, membimbing, dan mendidik sehingga proses belajarmengajar dapat berlangsung dengan efektif dan efisien.

Dalam kegiatan belajar mengajar Geografi juga harus memperhatikan tingkat perkembangan intelektual dan perkembangan mental siswa, oleh karena itu harus disesuaikan bahan ajar apa yang hendak diajarkan serta bagaimana cara mengajarkannya. Sebagai guru geografi tentunya harus mengetahui konsep-konsep tersebut.

Selain menguasai konsep-konsep Geografi dan metode mengajar, guru Geografi juga harus menguasai teori-teori belajar agar apa yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah oleh siswa. Sebelum memasuki pelajaran Geografi, siswa sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan pengajaran Gegrafi. Pengetahuan dan pengalaman ini membentuk pra-konsep, terjadi pra-konsep tersebut belum tentu benar kadang bertentangan dengan hasilnya. Di sinilah terjadi konflik kognitif, barulah konsep lama dan baru dipadukan maka untuk mewujudkan pengajaran Geografi harus diperhatikan hal-hal di atas.

2. Rumusan Masalah

Dari beberapa uraian diatas,timbul beberapa permasalahan sebagai berikut :

       1)  Apa Pengertian Pembelajaran Efektif?

       2) Mengapa diperlukan Pembelajaran yang Efektif?

3) Bagaimana Kesiapan Guru Geografi dalam penguasaan materi dan pembagian materi ke banyak minggu efektif?

3. Tujuan Penulisan Makalah

Penulisan Makalah ini bertujuan :

  1. Memenuhi tugas mata kuliah Belajar Pembelajaran.
  2. Agar pembelajaran mampu menjadi efektif
  3. Agar guru geografi mempunyai kesiapan mengajar.

4. Manfaat

Beberapa Manfaat yang diperoleh yaitu :

  1. Mengetahui bagaimana harusnya pembelajaran yang efektif terutama bagi pembelajaran geografi.
  2. Mengetahui apa yang harus disiapkan oleh guru geografi.
  3. Manfaat teoritis, yaitu sebagai tambahan khasanah referensi di bidangpendidikan, khususnya media pembelajaran dalam proses belajar mengajar di sekolah.
  4. Manfaat praktis, yaitu sebagai masukan untuk pengambil kebijakan pemerintah maupun pihak lain yang berkompenten dalam dunia pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

1.PENGERTIAN PEMBELAJARAN EFEKTIF

  1. Konsep Pembelajaran PAKEM

PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.

Kreatif  juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa.  Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (“time on task”) tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.

Secara garis besar, PAKEM dapat dideskripsikan sebagai berikut:

  • Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan  mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.
  • Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.
  • Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’
  • Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok
  • Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

2.Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM

Ø  Memahami sifat yang dimiliki anak

Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut. Suasana pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.

Ø  Mengenal anak secara perorangan

Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga anak tersebut belajar secara optimal.

Ø  Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar

Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau  berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorga-nisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.

Ø  Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah

Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal tersebut memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sesering-seringnya memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).

Ø  Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik

Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disaran-kan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.

Ø  Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar

Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) me-rupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat ber-peran sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Peng-gunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan ling-kungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pe-manfaatan lingkungan dapat mengembang-kan sejumlah keterampilan seperti meng-amati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.

Ø  Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar

Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.

Ø  Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental

Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling ber-hadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKEM.’

2.Metode Pembelajaran Efektif

Belajar atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan kepada anak-anak kita. Karena ia merupakan kunci sukses unutk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenakngkan dan tidak membosankan. Di bawah ini adalah beberapa metode pembelajaran efektif, yang mungkin bisa kita persiapkan.

1.Metode Debat

Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru. Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

2.Metode Role Playing

Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi danpenghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing: Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.

1.Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.

2.Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.

3.Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.

4.Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

3. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:

1.Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.

2.Berpikir dan bertindak kreatif.

3.Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis

4.Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.

5.Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.

6.Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.

7.Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.

4.Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:

1.Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.

2.Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.

3. KESIAPAN GURU GEOGRAFI

1) Tinjauan Mata Pelajaran Geografi

Pelajaran geografi difokuskan pada pemberian pengalaman langsung dengan memanfaatkan dan menerapkan konsep, prinsip dan sains. Dalam kontek ini siswa perlu dibantu untuk mengembangkan sejumlah ketrampilan untuk memahami perilaku atau gejala alam. Ilmu geografi mempunyai kedudukan yang sangat penting diantara ilmu-ilmu lain karena ilmu geografi sedikit banyak memberikan kontribusi yang penting dan berarti terhadap perkembangan ilmu-ilmu terapan seperti pertanian, perikanan, dan teknologi.

2.Pengertian Mata Pelajaran Geografi

Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala alam dan kehidupan di muka bumi serta interaksi antara manusia dengan lingkungannya dalam kaitannya dengan hubungan atau susunan keruangan dan kewilayahan. Gejala alam dan kehidupan itu sudah tentu bisa dipandang sebagai hasil dari proses alam yang terjadi di bumi, bisa juga dipandang sebagai kegiatan yang dapat memberi dampak kepada makhluk hidup yang tinggal di atas permukaan bumi (Depdiknas 2001:7).

Mata pelajaran geografi di SMA mencakup pemahaman dasar-dasar pengertian geografi dan sistem informasi geografi, kajian sistematik tentang gejala-gejala alam dan kehidupan, kajian regional (wilayah) mengenai beberapa kawasan penting dunia yang ada di benua Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, kajian khusus yang sejalan dengan kecenderungan perkembangan ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu mengenai industri dan persebarannya serta pola keruangan desa dan kota ( Depdikbud 1993).

3.Fungsi dan Tujuan Mata Pelajaran Geografi

Fungsi Pembelajaran Geografi di SMA

  1. Mengembangkan pengetahuan tentang pola-pola keruangan dan prosesyang berkaitan.
  2. Mengembangkan ketrampilan dasar dalam memperoleh data daninformasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi.
  3. Menumbuhkan sikap, kesadaran dan kepedulian terhadap lingkunganhidup dan sumber daya serta toleransi terhadap keragaman sosial budayamasyarakat (Depdiknas 2001:7).

4.Tujuan Pembelajaran Geografi

1.Pengetahuan

1) Mengembangkan konsep dasar geografi yang berkaitan dengan polakeruangan dan proses-prosesnya.

2) Mengembangkan pengetahuan sumber daya alam, peluang danketerbatasannya untuk dimanfaatkan.

3) Mengembangkan konsep dasar geografi yang berhubungan denganlingkungan sekitar, dan wilayah negara di dunia (Depdiknas 2001:8).

2.Ketrampilan

1) Mengembangkan ketrampilan mengamati lingkungan fisik, lingkungansosial dan lingkungan hidup.

2) Mengembangkan ketrampilan mengumpulkan, mencatat data daninformasi yang berkaitan dengan aspek keruangan.

3) Mengembangkan ketrampilan analisis sintesis kecenderungan dan hasil-hasil dari interaksi berbagai gejala geografi.

3.Sikap

1) Menumbuhkan kesadaran terhadap perubahan geografi yang terjadi dilingkungan sekitar.

2) Mengembangkan sikap melindungi dan tanggung jawab terhadapkualitas lingkungan hidup.

3) Mengembangkan kepekaan terhadap permasalahan dalam pemanfaatansumber daya.

4) Mengembangkan sikap toleransi terhadap perbedaan sosial budaya.

5) Mewujudkan rasa cinta tanah air dan bangsa (Depdiknas 2001:8).

4. Standar Kompetensi Geografi di SMA

  Menurut Suhadi (2002:3) standar kompetensi mata pelajaran geografi diSMA mencakup kemampuan berikut:

  1. Mendiskripsikan batasan-batasan geografi dan ruang lingkupnya
  2. Mendiskripsikan perlapisan bumi dan gejalanya
  3. Mendiskripsikan perairan terhadap kehidupan di bumi
  4. Mendiskripsikan gejala atmosfer terhadap permukaan bumi
  5. Mendiskripsikan sebaran tumbuhan dan hewan
  6. Menganalisis peta untuk memahami fenomena geografi
  7. Mengidentifikasi sebaran penduduk
  8. Menjelaskan perilaku penduduk berkaitan dengan kondisi geografis
  9. Mengenali manfaat penginderaan jauh
  10. Mengidentifikasi pola mata pencaharian
  11. Mengidentifikasi karakteristik negara maju dan negara berkembang
  12. Mengenal sistem Informasi Geografis.

5. Peran Guru Geografi dalam Belajar Mengajar

Jabatan guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat maupun di luar dinas, dalam bentuk pengabdian. Guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Jenis pekerjaan ini mestinya tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang kependidikan, walaupun pada kenyataannya masih banyak dilakukan oleh orang di luar kependidikan.

Aktifitas guru dalam mengajar dan aktifitas siswa dalam belajar sangat bergantung pada pemahaman guru terhadap mengajar. Mengajar bukan hanya sekedar proses penyampaian ilmu pengetahuan, melainkan mengandung makna yang lebih luas, yakni terjadinya interaksi manusiawi dengan berbagai aspek yang cukup komplek.

Kualitas pembelajaran akan bervariasi sesuai dengan: variasi gurunya, waktu seorang guru beraksi, kelompok siswa yang menjadi subyek didik, kurikulum yang disajikan. Seorang guru dalam proses pembelajaran harus merancang kegiatannya dengan baik dan rinci, mulai dari merumuskan tujuan, memilih pendekatan atau strategi, memilih metode dan sarana pencapaian serta alat untuk evaluasi pekerjaannya. Pendekatan apapun yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajarKBM) terutama adalah pelajaran geografi, sudah seharusnya siswa diposisikansebagai pusat perhatian utama. Pola Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas tidak hanya ditentukan oleh didatik-metodik apa yang digunakan, melainkan jugabagaimana peran guru geografi memperkaya pengalaman belajar siswa. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian penjelajahan lingkungan secara aktif.

Pembelajaran geografi dengan memperhatikan aspek keruangan, kelingkungan dan komplek wilayah perlu dimantapkan. Berbagai pendekatan yang telah diikuti dalam bidang pengajaran geografi, menumbuhkan kesan bahwa bidang ini terdiri atas materi hafalan belaka. Bersamaan dengan kemajuan teknologi informasi, pendekatan mutakhir yang gencar dikembangkan adalah menyajikan informasi geografis dalam berbagai alat peraga, seperti gambar, denah, peta, dan diagaram. Dengan ini siswa diharapkan dapat memulai dengan mendiskripsi ulang, menggambar ulang informasi geografis dengan bantuan berbagai perangkat sehingga mereka mampu menuangkan gagasan yang berkaitan dengan informasi keruangan dalam bentuk peraga. Keunggulan dari pendekatan ini adalah menumbuhkan kesadaran siswa tentang lokasi, keanekaragaman, dan daya dukung (Depdiknas 2001:9).

Dalam geografi pendekatan pembelajarannya mengutamakan pembelajaran kontekstual, untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan, sikap, dan ketrampilan sosial. Pendekatan belajar kontekstual dapat diwujudkan antara lain dengan:

  1. Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching and Learning (CTL)

Pembelajaran dan pengajaran kontekstual adalah konsep pembelajaran yangintinya membantu guru untuk mengaitkan antara materi yang diajarkan dengankehidupan nyata siswa dan mendorong siswa mengaitkan pengetahuan yang dipelajari dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari (Sunarko 2003). Pembelajaran kontekstual mengakui bahwa belajar merupakan suatu yang sangat komplek dan multidimensional melampaui berbagai metodologi yang hanya berorientasi kepada latihan dan rangsangan atau tanggapan. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa-siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan serta ketrampilan mereka dalam berbagai macam tatanan di sekolah dan di luar sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan belajar kontekstual memiliki tujuh komponen utama yaitu:

  1. Kontruktivisme (Constructivism)

Kontruktivisme (Constructivism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit dan hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit). Landasan berfikir kontruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum obyektivitas, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan kontruktivisme strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebutdengan:

  1. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa
  2. Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri
  3. Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalambelajar
  1. Menemukan (Inquiri)

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan    bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Adapun langkah-langkah kegiatan menemukan (Inquiri) sebagai berikut:

  1. Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)
  2. Mengamati atau melakukan observasi
  3. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya
  4. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien yang lain
  1. Bertanya (Questioning)

Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual, bertanya dipandang sebagai kegitan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemapuan berfikir siswa.

Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

  1. Menggali informasi baik administrasi maupun akademis
  2. Mengecek pemahaman siswa
  3. Membangkitkan respon kepada siswa
  4. Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa
  5. Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa
  6. Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
  7. Untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa
  8. Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa

Aktivitas belajar bertanya dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan di kelas dan sebagainya. Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja kelompok, ketika menemukan kesulitan, ketika mengamati dan lain sebagainya. Semua kegiatan itu dapat menumbuhkan pertanyaan.

  1. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep Masyarakat Belajar (Learning Community) mengarahkan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Dalam kelas pembelajaran kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok yang anggotanya heterogen, yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu mengajari yang tidak tahu dan seterusnya. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke dalam kelas.

Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Metode pembelajaran dengan teknik masyarakat belajar ini sangatmembantu proses pembelajaran di kelas. Praktiknya dalam pembelajaran terwujud dalam:

  1. Pembentukan kelompok kecil
  2. Pembentukan kelompok besar
  3. Mendatangkan ahli di kelas (dokter, olahragawan dan lain sebagainya)
  4. Bekerja kelompok dengan kelas sederajad
  5. Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya
  6. Bekerja dengan masyarakat
  1. Pemodelan (Modeling)

Pemodelan adalah kegiatan pemberian model dengan tujuan untuk membahasakan gagasan yang kita pikirkan, mendemonstrasikan bagaimana kita menginginkan para siswa untuk belajar atau melakukan sesuatu yang kita inginkan.

  1. Refleksi ( Reflection)

Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Siswa mengedepankan apa yang baru dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru, dimana merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktifitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi.

Refleksi berupa:

  1. Pertayaan langsung tentang apa-apa yang diperoleh hari itu
  2. Catatan di buku siswa
  3. Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu
  4. Diskusi
  5. Hasil karya
  1. Penilaian yang sebenarnya (Authencic Assessment)

Penilaian (assessment) adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanya salah satunya, itulah hakekat penilaian yang sebenarnya. Penilaian autentic menilai pengetahuan dan ketrampilan (performan) yang diperoleh siswa.

Penilaian tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman lain atau orang lain. Adapunkarakteristik penilaian yang sebenarnya yaitu:

  1. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
  2. Bisa digunakan untuk informatif maupun sumatif
  3. Yang diukur ketrampilan dan performan, bukan menginginkan fakta
  4. Berkesinambungan
  5. Terintegrasi
  6. Dapat digunakan sebagai umpan balik (feed back)

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Dari beberapa uraian di atas,maka dapat disimpulkan yaitu sebagai berikut :

Ø  PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan

Ø  Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM yaitu Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar, Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental, Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik, Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah, Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar, Mengenal anak secara perorangan, Memahami sifat yang dimiliki anak.

Ø Metode Pembelajaran Efektif antara lain Metode Debat, Metode Role Playing,Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving).

Ø Geografi adalah ilmu yang mempelajari tentang gejala alam dan kehidupan di muka bumi serta interaksi antara manusia dengan lingkungannya dalam kaitannya dengan hubungan atau susunan keruangan dan kewilayahan. Gejala alam dan kehidupan itu sudah tentu bisa dipandang sebagai hasil dari proses alam yang terjadi di bumi, bisa juga dipandang sebagai kegiatan yang dapat memberi dampak kepada makhluk hidup yang tinggal di atas permukaan bumi (Depdiknas 2001:7).

Ø  Mata pelajaran geografi di SMA mencakup pemahaman dasar-dasar pengertian geografi dan sistem informasi geografi, kajian sistematik tentang gejala-gejala alam dan kehidupan, kajian regional (wilayah) mengenai beberapa kawasan penting dunia yang ada di benua Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, kajian khusus yang sejalan dengan kecenderungan perkembangan ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu mengenai industri dan persebarannya serta pola keruangan desa dan kota ( Depdikbud 1993).

Ø  Pembelajaran geografi dengan memperhatikan aspek keruangan, kelingkungan dan komplek wilayah perlu dimantapkan

ØDalam geografi pendekatan pembelajarannya mengutamakan pembelajaran kontekstual, untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan, sikap, dan ketrampilan sosial.

2. Saran

Ø  Pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan merupakan model pembelajaran yang inovatif untuk peningkatan partisipasi siswa dalam mengikuti berbagai mata pelajaran.

Ø  Untuk dapat memberikan bantuan belajar terhadap siswa, maka guru harus dapat memahami dengan benar ciri-ciri para siswanya, baik dalam menyiapkan dan menyajikan pelajaran maupun dalam memberikan tugas-tugas dan bimbingan belajar terhadap siswa.

Ø  Kita sadari bahwa pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu, untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, diperlukan berbagai kompetensi. Diantaranya adalah kompetensi membelajarkan atau kompetensi mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

  • Abdulhak, I. (2000). Metodologi Pembelajaran Orang Dewasa. Bandung : Andira.
  • Alipandie, I. (1984). Didaktik Metodik Pendidikan Umum, Surabaya : Usaha Nasional
  • Syaodih, E. (2008). Belajar Pembelajaran Efrektif. Bandung : Pustaka

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*