Contoh Makalah Pengertian, Objek dan Tujuan Filsafat

Contoh Makalah Pengertian, Objek dan Tujuan Filsafat

Contoh Makalah Pengertian, Objek dan Tujuan Filsafat

Makalahkita.com – Contoh Makalah Pengertian, Objek dan Tujuan Filsafat yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Kata Pengantar

          Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seluruh alam. Yang telah memberi kami kesempatan dan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, berserta keluarga dan para sahabatnya serta para pengikutnya yang setia sampai hari kemudian.

Makalah atau buku ini kami buat dengan maksud untuk menunaikan tugas kami mengenai Ilmu Akhlak. Saya berharap penyusunan dalam bentuk makalah ini akan memberi banyak manfaat dan memperluas ilmu pengetahuan kita.

Dan kami menyadari didalam penyusunan ini mungkin masih belum sempurna dan terdapat kesalahan dalam penyusunannya, kami mohon untuk bimbingan dan kritik serta saran yang bersifat membangun.

Akhirnya, hanya kepada Allah SWT kami mohon, semoga usaha ini merupakan usaha yang murni bagi-Nya dan berguna bagi kita sekalian sampai hari kemudian.

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul …………………………………………………………………………………………….. i

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………………………. ii

Dartar Isi …………………………………………………………………………………………………….. iii

BAB I   PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang …………………………………………………………………………..  1

1.2    Rumusan Masalah ……………………………………………………………………….  1

1.3    Tujuan Penulisan …………………………………………………………………………  1

1.4    Pembatasan Masalah ……………………………………………………………………  1

BAB II  PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Filsafat ………………………………………………………………………  2

2.2  Objek Filsafat …………………………………………………………………………….  4

2.2.1  Obyek Material ………………………………………………………………..  5

2.2.2  Obyek Formal ………………………………………………………………….  5

2.3  Metode Filsafat ………………………………………………………………………….  7

2.4  Peranan, Tujuan, dan Manfaat Filsafat …………………………………………..  8

BAB III  PENUTUP                                           

3.1  Kesimpulan ………………………………………………………………………………..  10

3.2  Saran …………………………………………………………………………………………  10

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………………..  11

BAB I

 PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Berfikir merupakan hal yang selalu dilakukan oleh manusia, dan berpikir pula merupakan keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT. kepada kita manusia. Akal yang diberikan oleh-nya merupakan suatu pembeda antara kita dengan makhluk lainnya.

Filsafat merupakan suatu upaya berfikir yang jelas dan terang tentang seluruh kenyataan, filsafat dapat mendorong pikiran kita untuk meraih kebenaran yang dapar membawa manusia kepada pemahaman, dan pemahaman membawa manusia kepada tindakan yang lebih layak.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apakah Pengertian Filsafat?
  2. Apakah Objek Filsafat?
  3. Apakah Metode Filsafat?
  4. Apakah Peranan, Tujuan, dan Manfaat Filsafat?

1.3  Tujuan Penulisan

  1. Memenuhi tugas mata kuliah filsafat umum
  2. Mempelajari dan Mengetahui apa itu Filsafat
  3. Menambah pengetahuan baru tentang Filsafat
  4. Mengetahui apa objek, tujuan, dan manfaat dari Filsafat

1.4  Pembatasan Masalah

Dalam hal ini, akan dibahas mengenai apa yang menjadi objek filsafat. Kami akan memfokuskan pembahasan tentang pengertian filsafat, objek material dan formal filsafat, dan metode filsafat.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Filsafat

Secara Etimologis, filsafat merupakan terjemahan dari Philolophy (Bahasa Inggris) atau Philosophia dari bahasa Yunani. Kata tersebut terdiri dari dua suku kata yaitu Philodan Shopia. Philo yang berarti suka atau cinta, dan Shopia berarti kebijaksanaan. Jadi,Philoshopia berarti suka atau cinta pada kebijaksanaan.[1]

Apabila diperhatikan bahwa nama Filosof (philosophos) pertama kali dalam sejarah dipergunakan oleh Pythagoras (570-500 SM). Menurutnya, Filosof adalah seorang yang ingin untuk mengetahui  segala sesuatu menurut keadaan yang sebenarnya, keinginan tersebut semata-mata untuk mengetahui dan juga mengatakan bahwa dalam masa Socrates dan Plato (abad ke-5 SM), nama filsafat dan filosuf sudah lazim dipakai untuk dalam dialog plato yang berjudul Phaidros.

Mengenai Pengertian (Definisi)  filsafat tersebut, perlu dipahami bahwa filsafat memandang alam ini sebagai suatu kesatuan yang tidak dipecah-pecah, sehingga ia membahasnya secara keseluruhan, antara yang satu sama lainnya sehingga berkaitan.[2]

  1. Pertama, menurut Plato. Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.
  2. Kedua, menurut Aristoteles “filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika”.
  3. Ketiga, menurut golongan Stoa “filsafat ialah usaha untuk mencari kesempurnaan yang bersifat teori dan amalan dalam bidang logika, fisika, dan etika.
  4. Keempat, menurut al-Farabi filasafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam maujud sebagaimana hakikat yang sebenarnya.
  5. Kelima, menurut Descartes filsafat merupakan sekumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.

Banyak yang berkesimpulan tentang filsafat, seperti yang dikemukakan oleh oleh DR. Yahya Huaidi, dosen filsafat pada Universitas Cairo bahwa “filsafat itu tidak lebih dari suatu pemikiran, dimana orang harus berpandangan biasa dan tidak terikat pada lapangan penyelidikan tertentu, seperti halnya para ilmuan dan bukan pula bertolak dari suatu paham yang sudah diterima kebenarannya lebih dahulu, seperti sikaf orang  agama.

Selanjutnya, Sidi Gazalba dalam bukunya Sistematika Filsafat mengemukakan bahwa berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran tentang segala sesuatu yang dimasalahkan, dengan berfikir secara radikal, sistematis dan universal (Sidi Gazalba:40).

Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan filsafat sebagai :[3]

a) Pengetahuan dan penyelidikan dengan akal mengenai hakikat segala yang ada, sebab, dan hukumnya.

b) Teori yang mendasari alam pemikiran atau suatu kegiatan

c) Ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemology.

Kattsoff, sebagaimana dikutip oleh Associate Webmaster Propessional (2001), menyatakan karakteristik filsafat sebagai berikut :[4]

  1. Filsafat adalah berpikir secara kritis.
  2. Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis.
  3. Filsafat menghasilkan sesuatu yang runtut.
  4. Filsafat adalah berpikir secara rasional.
  5. Filsafat bersifat komprehensif

Pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga dimensi yaitu :

a) Logika ; apa yang dimaksud benar dan apa yang dimaksud salah.

b) Etika ; mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk.

c) Estetika ; apa yang termasuk jelek dan apa yang termasuk indah.

Ketiga cabang utama ini akhirnya bertambah lagi yaitu:

a) Metafisika ; teori tentang ada (tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat serta pemikiran serta kaitan antara zat dan pikiran).

b) Politik ; kajian mengenai organisasi sosial/pemerintahan yang ideal.

Akhirnya berkembang lagi menjadi banyak cabang yang meliputi:

a)      Epistimologi (filsafat pengetahuan)

b)      Etika (filsafat moral)

c)      Estetika (filsafat seni)

d)     Metafisika

e)      Politik (filsafat pemerintahan)

f)       Filsafat matematika

g)      Filsafat sejarah

h)      Filsafat hukum

i)        Filsafat pendidikan

j)        Filsafat agama

2.2 Objek Filsafat

            Secara umum, filsafat mempunyai objek yaitu segala sesuatu yang ada dan mungkin ada dan boleh juga diaplikasikan, yaitu tuhan, alam semesta, dan sebagainya. Apabila diperhatikan secara seksama objek filsafat tersebut dapat dikatagorikan kepada dua:

  1. Objek material

Objek material ini adalah sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran atau penelitian keilmuan. Objek material filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secar umum.[5]

  1. Objek formal

Objek formal merubah objek khusus filsafat yang sedalam-dalamnya (Poedjawijatna, 1994: 8).[6] Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek materialnya. Suatu obyek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang sehingga menghasilkan ilmu yang berbeda-beda.[7] Objek formal ini dapat dipahami melalui dua kegiatan:

  1. Aktivitas berfikir murni (reflective thinking) artinya kegiatan akal manusia dengan usaha untuk mengerti dengan usaha untuk mengerti secara mendalam segala sesuatunya sampai ke akar-akarnya.
  2. Produk kegiatan berfikir murni, artinya hasil dari pemikiran atau penyelidikan dalam wujud ilmu atau ideologi.

Mengenai objek forma ini ada juga yang mengindentikan dengan metafisika, yaitu hal-hal diluar jangkauan panca indra, seperti persoalan esensi dan substansi alam, yaitu sebab utama terjadinya alam. Metafisika berasal dari bahasa yunani, yaitu metha artinya di belakang, sedangkan fisika artinya fisik atau nyata. Untuk itu dapat dipahami pengertianmethafisika adalah pemikiran yang jauh dan mendalam dibalik apa yang bisa dijangkau oleh panca indra seperti Tuhan, asal alam, hakikat manusia, dan sebagainya.[8]

Bagi plato(+ 427-347 SM) filsafat adalah penyelidikan tentang sebab-sebab dan asas-asas yang paling akhir dari segala sesuatu yang ada. Sementara bagi Aritoteles(+ 384-322 SM) filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berupaya mempelajari “peri ada selaku ada”(being as being) atau “peri ada sebagaimana adanya”(being as such). Dari dua pernyataan tersebut, dapatlah diketahui bahwa “ada” merupakan objek materi dari filsafat. Karena fisafat berusaha memberikan penjelasan tentang dunia seluruhnya, termasuk dirinya sendirinya, maka “ada” disini meliputi segala sesuatu yang ada dan, bahkan, yang mungkin ada atau seluruh ada. Jadi, secara singkat dapat dikatakan, jika filsafat itu bersifat holistik atau keseluruhan, sementara ilmu pengetahuan lainnya bersifat Fragmental atau bagian-bagian.[9]

      Persoalan filsafat berbeda dengan persoalan nonfilsafat. Perbedaanya terletak pada materi dan ruang lingkupnya. Ciri-ciri persoalan filsafat adalah sebagai berikut:[10]

  1. Bersifat Umum, artinya persoalan kefilsafatan tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus dengan kata lain sebagian besar masalah kefilsafatan berkaitan dengan ide-ide besar.
  2. Tidak menyangkut fakta. Dengan kata lain persoalan filsafat lebih bersifat spekulatif. Persoalan-persoalan yang dihadapi melampaui batas-batas pengetahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang menyangkut fakta.
  3. Bersangkutan dengan nilai-nilai (Values), artinya persoalan-persoalan kefilsafatan bertalian dengan penilaian baik nilai moral-etika, estetika, agama, dan sosial. Nilai dalam pengertian ini adalah suatu kualitas abstrak yang ada pada suatu hal.
  4. Bersifat kritis, filsafat merupakan analisi secara kritis terhadap konsep-konsep dan arti-arti yang biasanya diterima begitu saja.
  5. Oleh suatu ilmu tanpa pemeriksaan secara kritis.
  6. Bersifat sinoptis, artinya persoalan filsafat mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan. Filsafat merupakan ilmu yang membuat susunan kenyataan sebagai keseluruhan.
  7. Bersifat implikatif, artinyakalau sesuatu persoalan kefilsafatan sudah dijawab, maka dari jawaban tersebut akan memunculkan persoalan baru yang saling berhubungan.

2.3 Metode Filsafat

            Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan dari kenyataan. Untuk mendapatkan hal tersebut, filsafat memiliki beberapa metode penalaran.

  1. Deduksi[11]

Secara sederhana, metode ini dapat dikatakan satu metode penalaran yang bergerak dari sesuatu yang bersifat umum kepada yang khusus. Contohnya:

Semua manusia akan mati

Presiden adalah manusia

Presiden akan mati

  1. Induksi

Dikatakan satu metode penalaran yang bergerak dari sesuatu yang bersifat khusus ke umum.

Ryan adalah seorang mahasiswa Aqidah Filsafat

Ryan adalah manusia

Semua mahasiswa Aqidah Filsafat adalah manusia

  1. Dialektika

Secara umum, metode ini dapat dipahami sebagai cara berfikir yang dalam usahanya memperoleh kesimpulan berstandar pada tiga hal, yakni: tesis, antitesis dan sintesis yang merupakan gabungan dari tesis dan antitesis. Contoh sederhana untuk metode penalaran ini adalah keluarga. Dalam satu keluarga biasanya terdapat ayah, ibu, dan anak. Jika ayah adalah tesis, maka ibu adalah antitesis lantas anak merupakan sintesis karena keberadaanya ditentukan ayah dan ibu.

2.4 Peranan, Tujuan, dan Manfaat Filsafat

Filsafat merupakan suatu upaya berfikir yang jelas dan terang tentang seluruh kenyataan, upaya ini menghasilkan beberapa peranan bagi manusia.[12]

Filsafat berperan sebagai pendobrak. Artinya bahwa filsafat mendobrak keterjungkungan pikiran manusia. Dengan memahami, dan mempelajari filsafat manusia dapat menghancurkan kebekuan, kabakuan, bahkan keterkungkungan pikirannya dengan kembali mempertanyakan segala. Pendobrakan ini bisa membuat manusia terbebas dari kebekuan, dan keterkungkungan.

Jadi, bagi manusia filsafat berperan sebagai pembebas pikiran manusia. Pembebasan ini membimbing manusia untuk berpikir lebih jauh, lebih mendalam, lebih kritis terhadap segala hal sehingga manusia bisa mendapatkan kejelasan dan keterangan atas seluruh kenyataan.

Jadi peranan ketiga yang dimiliki filsafat bagi manusia adalah sebagai pembimbing. Selain memiliki peran bagi manusia, filsafat juga berperan bagi ilmu pengetahuan umumnya. Menurut Descartes, filsafat adalah himpunan dari segala pengetahuan yang pangkal penyelidikannya adalah mengenai Tuhan, alam dan manusia.

Filsafat sebagai penghimpun ilmu pengetahuan. Memahami peranannya sebagai penghimpun, maka filsafat dapat dikatakan merupakan induk segala ilmu pengetahuan ataumater scientiarum. Bagi Bacon, filsafat adalah induk agung dari ilmu-ilmu. Ia menangani semua pengetahuan, selain sebagai induk yang menghimpun semua pengetahuan, bagi ilmu pengetahuan filsafat juga mempunyai peranan lain, yakni sebagai pembantu ilmu pengetahuan.

Dalam menjalan peranannya filsafat memiliki tujuan. Menurut Plato, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha meraih kebenaran yang asli dan murni. Jadi, secara umum, tujuan filsafat adalah meraih kebenaran. Tidak sepetri agama yang menyandarkan diri dan mengajarkan kepatuhan, filsafat menyandarkan diri dan mengandalkan kemampuan berfikir kritis.

Secara konkret  manfaat mempelajari filsafat adalah:[13]

    1. Filsafat menolong mendidik, membangun diri kita sendiri dengan pikiran lebih mendalam, kita mengalami dan menyadari kerohanian kita.
    2. Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari.
    3. Filsafat memberikan pandangan yang luas, membendung akuisme dari akusentrisme (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan si aku).
    4. Filsafat merupakan latihan untuk berfikir sendiri, hingga kita tak hanya ikut-ikutan saja, membuntut pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dalam surat-surat kabar, tetapi secara kritis menyelidiki apa yang dikemukakan orang, mempunyai pendapat sendiri, berdiri sendiri, dengan cita-cita mencari kebenaran.
    5. Filsafat memberikan dasar-dasar, baik untuk hidup kita sendiri(terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, seperti sosiologi, ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

          Filsafat yaitu cinta atau suka kepada suatu kebijaksanaan atau kebajikan. Filosof atau orang yang berfilsafat adalah orang yang suka akan kebijaksanaan dan senantiasa akan berusaha untuk berbuat bijaksana. Filsafat mempunyai banyak peranan bagi manusia seperti: mendobrak keterkungkungan pikiran manusia, pembebas pikiran manusia, sebagai pembimbing, penghimpun ilmu pengetahuan, dan sebagai pembantu pengetahuan.

Secara umum, tujuan filsafat adalah meraih kebenaran agar dapat membawa manusia kepada pemahaman, dan kepada tindakan yang lebih layak.

3.2 Saran

            Jika dilihat dari peranan filsafat dan manfaat dari filsafat itu sendiri, ada baiknya kita mempelajari dan lebih memahami serta mendalami kajian dari ilmu filsafat.

DAFTAR PUSTAKA

  • Zulhelmi.2004.Filsafat Ilmu.Palembang:IAIN Raden Fatah Press
  • Martini,Eka.2012.Filsafat Umum.Palembang:Noer Fikri Offset
  • Ihsan,Fuad.2010.Filsafat Ilmu.Jakarta:PT. Rineka Cipta
  • [1] Maksudnya, orang yang suka pada kebijaksanaan sekaligus akan berusaha untuk berbuat bijaksana. Zulhelmi.,Filsafat Umum, (Palembang:IAIN Raden Fatah Press, 2004), Hlm 1
  • [2] Ibid.hal 2-3
  • [3] Eka Martini., Filsafat Umum (Palembang:Noer Fikri Offset, 2012), Hlm 1
  • [4] Ibid.,Hlm 2-3
  • [5] A. Fuad Ihsan, Filsafat Ilmu,(Jakarta:PT. Renika Cipta,2010), Hlm 15
  • [6] Zulhelmi.,op.cit.,Hlm 6
  • [7] Misalnya, obyek materialnya adalah “manusia”, kemudian, manusia ini ditinjau dari sudut pandang yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia, diantaranya: psikologi, antropologi, sosiologi dan sebagainya. www.saifudin9.blogspot.com/2009/05/artikel-filsafat-islam-pengetahuan, diakses 20-sept-2014,15:48 wib.
  • [8] Zulhelmi, op.cit.,Hlm 7.
  • [9] Eka martini,op.cit.,Hlm 8.
  • [10] A. Fuad Ihsan, op.cit.,Hlm 18.
  • [11] Eka martini,op.cit.,hlm 10.
  • [12] Eka Martini,Ibid.,Hlm 10-12
  • [13] A. Fuad Ihsan, op.cit.,Hlm 32-33

1 Trackback / Pingback

  1. Contoh Makalah Islam Sebagai Produk Budaya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*