Contoh Makalah Pengertian Pendidikan Islam Yang Benar

Contoh Makalah Pendidikan Islam

Contoh Makalah Pengertian Pendidikan Islam Yang Benar

Makalahkita – Contoh Makalah Pengertian Pendidikan Islam Yang Benar yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

BAB I

PENDAHULUAN

1.Pengertian Pendidikan Islam dari Segi Bahasa

1.Al-Tarbiyah

Kata tarbiyah berasal berasal dari kata rabba, yarubbu, rabban[1] yang berarti mengasuh, memimpin, mengasuh (anak). Penjelasan atas kata Al-Tarbiyah ini lebih lanjut dapat dikemukakan sebagai berikut. rabba, yarubbu tarbiyatan yang mengandung arti memperbaiki (ashlaha), menguasai urusan, memelihara dan merawat, memperindah, memberi makna, mengasuh, memiliki, mengatur, dan menjaga kelestarian maupun eksistensinya. Dengan menggunakan kata yang ketiga ini, meka terbiyah berarti usaha memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengatur kehidupan peserta didik, agar dapat survive lebih baik dalam kehidupannya.[2]Dengan demikian, pada kata Al-Tarbiyahtersebut mengandung cakupan tujuan pendidikan, yaitu menumbuhkan dan mengembangkan potensi; dan proses pendidikan, yaitu memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki dan mengaturnya.

Karena demikian luasnya pengertian Al-Tarbiyah ini, maka ada sebagian pakar pendidikan, seperti Naquib al-Attas yang tidak sependapat dengan pakar pendidikan lainnya yang menggunakan kata Al-Tarbiyah dengan arti pendidikan.  Menurutnya kata Al-Tarbiyah terlalu luas arti dan jangkauannya. Kata tersebut tidak hanya menjangkau manusia melainkan juga menjaga alam jagat raya sebagaimana tersebut. Benda-benda alam selain manusia, menurutnya tidak dapat dididik, karena benda-benda alam selain manusia itu tidak memliki persyaratan potensional seperti akal, pancaindera, hati nurani, insting, dan fitrah yang meungkinkan untuk dididik. Yang memiliki potensi-potendi akal, pancaindera, hati nurani insting dan fitrah itu hanya manusia. Untuk itu Naquib al-Attas lebih memiliki kata al-ta’dib (sebagaimana nanti akan dijelaskan) untuk arti penidikan., dan bukan kata Al-Tarbiyah.[3]

  1. Al-Ta’lim

Mahmud Yunus dengan singkat mengartikan al-Ta’lim adalah hal yang berkaitan dengan mengajar dan melatih[4]Sementara itu Muhammad Rasyid Ridha mengartiakn al-Ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.[5]Sedangkan H.M Quraisy Shihab, ketika mengartikan kata yu’allimusebagaimana terdapat pada surah al-Jumu’ah (62) ayat 2, dengan arti mengajar yang intinya tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika.[6]

Kata alTa’lim dalam al-Quran menunjukan sebuah proses pengajaran, yaitu menyampaikan sesuatu berupa ilmu pengetahuan, hikmah, kandungan kitab suci, wahyu, sesuatu yang belum diketahui manusia, keterampilan membuat alat pelindung, ilmu laduni (yang langsung dari tuhan), nama-nama atau simbol-simbol dan rumus-rumus yang berkaitan dengan alam jagat raya, dan bahkan ilmu yang terlarang seperti sihir. Ilmu-ilmu baik yang disampaikan melalui proses at-Talim tersebut diklakukan oleh Allah Ta’ala, malaikat, dan para Nabi. Sedagkan ilmu pengethuan yang berbahya diajarkan oleh setan.

Kataal-Ta’lim dalam arti pendidikan sesungguhnya merupakan kata yang paling lebih dahulu digunakan dari pada kata al-Tarbiyah. Kegiatan pendidikan dan pengjaran yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Muhammad n dirumah al-Arqom (daar al Arqom) di Mekah, dapat disebut sebagai majlis al-Ta’lim. Demikain pula kegiatan pendidikan Islam di Indonesia yang dilaksanakan oleh para dai dirumah, mushala, masjid, surau, langgar, atau tempat tertentu. pada mulanya merupakan kegiatan al-Ta’lim.

Dengan memberikan data dan informasi tersebut, maka dengan jelas, kata Al-Ta’limtermasuk kata yang paling tua dan banyak digunakan dalam kegiatan nonformal dengan tekanan utama pada pemberian wawasan, pengetahuan atau informasi yang bersifat kognitif. Atas dasar ini, maka arti Al-Ta’lim lebih pas diartikanpengajaran daripada diartikan pendidikan. Namun, karena pengajaran merupakan bagian dari kegiatan pendidikan, maka pengajaran juga termasuk pendidikan.

  1. At-Ta’dib

Kata At-Ta’dib berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta’diban yang berarti pendidikan. Kata At-Ta’dib berasal dari kata adab yang berarti beradab. Bersopan santun, tata krama, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika.[7]

Kata At-Ta’dib dalam arti pendidikan, sebagimana disinggung diatas, ialah kata yang dipilih oleh Naquib al Attas. Dalam hubungan ini, ia mengartikan At-Ta’dib sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu didalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuatan dan keagungan Tuhan. Melalui kata At-Ta’dib ini, al Ataas ingin menjadikan pendidikan sebagai sarana transformasi nilai-nilai akhlak mulia yang bersumber dalam ajaran Agama yang bersumber padadiri manusia, sehingga menjadi dasar bagi terjadinya proses Islamisasi ilmu pengetahuan. Islamisasi ilmu pengetahuan ini menurutnya perlu dilakukan dalam rangka membendung pengaruh materialisme, sekularisme, dan dikotomisme ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh barat. [8]

  1. At-Tahdzib

Kata At-Tahdzib secara harfiah berarti pendidikan akhlak, atau menyucikan diri dari perbuatan akhlak yang buruk, dan berarti pula terdidik atau terpelihara dengan baik, dan berarti pula yang beradab sopan. [9]

Dari pengertian tersebut, tampak bahwa secarakeseluruhan kata At-Tahdzib terkait dengan perbaikan mental spiritual, moral dan akhlak, yaitu memperbaiki mental seseorang yang tidak sejalan dengan ajaran atau norma kehidupan menjadi sejalan dengan ajaran atau norma; memeperbaiki perilakunya agar menjadi baik dan terhormat, serta memperbaiki akhlak dan budi pekertinyaagar menjadi berakhlak mulia. Berbagai kegiatan tersebut termasuk bidang kegiatan pendidikan. Itulah sebabnya, kata At-Tahdzib juga berarti pendidikan.

  1. Al- Wa’dz atau al-Mau’idzoh

Al- Wa’dz berasal dari kata wa’adza yang berarti mengajar, kata hati, suara hati nurani, memperingatkan atau mengingatkan, mendesak dan memperingatkan.[10]Inti Al- Wa’dz atau al-Mau’idzoh adalah pendidikan dengan cara memberikan penyadaran dan pencerahan batin, agar timbul kesadaran untuk menjadi orang yang baik.

  1. Ar-Riyadhah

Ar-Riyadhah berasal dari kata raudha, yang mengandung arti penjinakan, latihan, melatih.[11] Dalam pendidikan, kata Ar-Riyadhah diartikan mendidik jiwa anak dan akhlak mulia.Kata Ar-Riyadhah selanjutnya banyak digunakan dikalangan para ahli tasawuf dan diartikan agak berbeda dengan arti yang digunakan para ahli pendidikan dikalangan para ahli tasawuf Ar-Riyadhah diartikan latihan spiritual rohaniah dengan cara khalwat danuzlah (menyepi dan menyendiri) disertai perasaan batin yang takwa.

  1. Al-Tazkiyah

Al-Tazkiyah berasal dari kata zakka, yuzakki, tazkiyyatan yang berarti pemurnian atau pensucian.[12] Kata Al-Tazkiyah atau yuzakki telah digunakan oleh para ahli dalam hubunganya dengan mensucikan atau pembersihan jiwa seseorang dari sifat-sifat yang buruk (alTakhali), dan mengisinya dengan akhlak yang baik (alTahali), sehingga melahirkan manusia yang memiliki keahlian dan akhlak yang terpuji. Dalam hubungan ini, Ibnu Sina dan al Ghazali menggunakan istilah AlTazkiyahAlannafs (menyucikan diri) dalam arti membersihkan rohani dari sifat-sifat yang tercela.[13]

Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa kata Al-Tazkiyah ternyata juga digunakan untuk arti pendidikan yang bersifat pembinaan mental spiritual dan akhlak mulia.

  1. Al-Talqin

Kata alTalqin berasal dari laqqana yulaqqinu talqinan yang dapat berarti pengajaran atau mengajarkan perkataan.[14] Abuddin Nata menyebutkanbahwa kata tersebut dijumpai dalam hadits sebagai berikut:

ajarilah (orang yang hampir neminggal dunia) kalimat laa ila haillallah (tiada tuhan selain Allah ).”

Perintah mengajarkan kalimat tauhid ( lailaha illallah ) sebagaimanatersebut selalu dipraktikkan umat Islam pada setiap kali menyaksikan keluarga, teman, tetangga atau lainya yang sesama muslim, pada saat mereka menjelang datangnya ajal atau sakaratul maut.Dari penjelasan tersebut terlihat, bahwa kata al-Talqindigunakan pula untuk arti pendidikan dan pengajaran.[15]

  1. Al-Tadris

Kata al-Tadris berasal dari kata darrasa yudarrisu tadrisan, yang dapat berarti pengajaran atau mengajarkan.[16]Selain itu, kata al-Tadris berarti Baqa’ atsaruha wa baqa’ al Atsar yaqtadli inmihauhu fi nafsihi, yang artinya: sesuatu yang pengaruhnya membekas, menghendaki adanya perubahan pada diri seseorang. Intinya, kata al-Tadris berarti pengajaran, yaknimenyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang selanjutnya memberi pengaruh dan menimbulkan perubahan pada dirinya.[17]

Kata al-Tadris, termasuk yang sudah banyak digunakan para ahli pendidikan, bahkan pada perguruan tinggi Islam. kata al-Tadris digunakan untuk nomenklatur jurusan atau program studi yang mempelajari ilmu-ilmu umum, seperti matematika, biologi, ilmu pengetahuan sosial, ilmu budaya dan dasar, dan fisika.

  1. al-Tafaqquh

Kata al-Tafaqquh berasal dari kata tafaqqoha yatafaqqohu tafaqquhan, yang berartimengerti dan memahami[18]Kataal-Tafaqquh selanjutnya lebih digunakan untuk menunjukan pada kegiatan pendidikan dan pengajaran ilmu agama Islam. masyarakat yang mendalami ilmu agama di pesantren-pesatren di Indonesia misalnya, sering menyebut sedang melakukan al-Tafaqquhfi al ddin, yakni mendalami ilmu agama, sehingga ahli ilmu agama yang mumpuni yang selanjutnya disebut ulama, kiai, ajengan, buya, syaikh, dan sebagianya.

  1. al-Tabyin

Kata alTabyin berasal dari kata bayyana yubayyinu tabyinan, yang mengandung arti mengemukakan, mempertunjukan,berarti pula menyatakan atau menerangkan.[19] Di kalangan para ahli, belum ada yang menggunakan Al-Tabyin sebagai salah satu arti pendidikan. Namun dengan alasan tersebut Abuddin Nata memberanikan dirinya untuk memasukkan kata Al-Tabyin sebagai salah satu arti pendidikan.

Di dalam dalam al Quran, kosakata at-Tabyin  dengan derifasinyadisebutkan sebanyak 75 kali, diantaranya:Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayatnya kepada manusia supaya mereka bertakwa”(QS. al Baqarah [2] : 187)

Dari penjelasan ayat tersebut terlihat, bahwapada umumnya, kata al-Tabyin diartikan menerangkan atau menjelaskan tentang ayat-ayat Allah Ta’ala sebagaimana terdapat di dalam al Quran dan kitab-kitab lainnya yang diwahyukan Tuhan. Penerangan dan penjelasan tersebut dilakukan oleh para nabi atas perintah Tuhan. Dengan demikian para nabi bertugas sebagai al Mubayyin, yaitu orang yang menjelaskan atau orang yang menerangkan.

  1. al-Tadzkirah

   Kata al-Tadzkirah berasal dari kata dzakkaraa yudzakkiru tadzkirotan, yang berarti peringatan, mengingatkan kembali.[20]Selain itu, juga berarti sesuatu yang perlu diperingatkan yang sifatnya lebih umum dari pada indikasi (addilalah) atau tanda-tanda ( al imarah ). Dari beberapa arti kata altadzkirah tersebut ternyata ada arti yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan dan pengajaran, yaitu mengingatkan kembali atau memberikan peringatan, karenadidalam kegiatan pendidikan dan pengajaran terdapat kegiatan yang bertujuan mengingatkan peserta didik agar memahami sesuatu atau mengingatkan agar tidak terjerumus kedalam perbuatan yang keji.

  1. al-Irsyad

Kata al-Irsyad dapat mengandung arti menunjukan, bimbingan, melakukan sesuatu, menunjukan jalan.[21]Dari pengertian al-Irsyad ini, terdapat pengertian yang berhubungan dengan pengajaran dan pendidikan, yaitu bimbingan, pengarahan, pemberian informasi, pemberitahuan, nasihat, dan bimbingan spiritual. Dengan demikian kata al-Irsyad layak dipertimbangkan untuk dimasukkan kedalam arti kata pendidikan dan pengajaran.[22]

2. Pengertian Pendidikan Islam dari Segi Istilah[23]

Istilah atau terminologi pada dasarnya merupakan kesepakatan yang dibuat para ahli dalam bidangnya masing-masing terhadap pengertian tentang sesuatu. Dengan demikian dalam istilah tersebut terdapat visi, misi, tujuan yang diinginkan oleh yang merumuskannya, sesuai dengan latar belakang pendidikan, keahlian, kecenderungan, kepentingan, kesenangan dan sebagainya. Berikut pengertian menurut para ahli;

Menurut Ahmad Fuad al Ahwaniy :

“Pendidikan adalah pranata yang bersifat sosial yang tumbuh dari pandangan hidup tiap masyarakat. Pendidikan senantiasa sejalan dengan pandangan falsafah hidup masyarakat tersebut, atau pendidikan itu pada hakikatnya mengaktualisasikan falsafah dalam kehidupan nyata.

Menurut Ali Khalil Abul Ainain :

Pendidikan adalah program yang bersifat kemasyarakatan, oleh karena itu, setiap falsafah yang dianut oleh suatu masyarakat berbeda dengan falsafah yang dianut masyarakat lain sesuai dengan karakternya, serta kekuatan peradaban yang memengaruhinya yang dihubungkan dengan upaya menegakkan spiritual dan falsafah yang dipilih dan disetujui untuk memperoleh kenyamanan hidupnya. Makna dari ungkapan tersebut ialah bahwa tujuan pendidikan diambil dari tujuan masyarakat, dan perumusan operasionalnya ditujukan untuk mencapai tujuan tersebut, dan disekitar tujuan pendidikan tersebut terdapat atmosfer falsafah hidupnya. Dari keadaan yang demikian itu, maka falsafah pendidikan yang terdapat dalam suatu masyarakat lainnya, yang disebabkan perbedaan sudut pandang masyarakat, serta pandangan hidup yang berhubungan dengan sudut pandang tersebut.

Menurut Muhammad Athiyah al Abrasyi :

“Pendidikan Islam tidak seluruhnya bersifat keagamaan, akhlak, dan spiritual, namun tujuan ini merupakan landasan bagi tercapainya tujuan yang bermanfaat. Dalam asas pendidikan Islam tidak terdapat pandangan yang bersifat materialistis, namun pendidikan Islam memandang materi, atau usaha mencari rezeki sebagai masalah temporer dalam kehidupan, dan bukan ditujukan untuk mendapatkan materi semata-mata, melainkan untuk mendapatkan manfaat yang seimbang. Di dalam pemikiraan al Farabi, Ibnu Sina, Ikhwanul as Shafa terdapat pemikiran, bahwa kesempurnaan seseorang tidak akan tercapai, kecuali dengan mensinergikan antara agama dan ilmu.

Menurut rumusan Konferensi Pendidikan Islam sedunia yang ke-2, pada tahun 1980 di Islamabad:

“Pendidikan harus ditujukan untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan personalitas manusia secara menyeluruh, dengan cara melatih jiwa, akal, perasaan, dan fisik manusia. Dengan demikain pendidikan diarahkan untuk mengembangkan manusia pada seluruh aspeknya ; spiritual, intelektual, daya imajinasi, fisik, keilmuan dan bahasa, baik secara individual maupun kelompok serta dorongan seluruh aspek tersebut untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. tujuan akhir pendidikan diarahkan pada upaya merealisasikan pengabdian manusi kepada Allah ta’ala, baik pada tingkat individual, maupun masyarakat dan kemanusiaan secara luas.”

DAFTAR PUSTAKA

  • [1]Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, Jakarta : PT Mahmud Yunus Wa Dzuriyyah, 2007, hal 136.
  • [2]Abdul Mujib dan  Jusuf Mudzakkir,Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media,2010, hal 11.
  • [3]Abudddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta: Kencana Prenada Media,2012, hal 11
  • [4]Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, hal 278.
  • [5]Abdul Mujib dan  Jusuf Mudzakkir,Ilmu Pendidikan Islam, hal 19
  • [6]Abudddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, hal 11
  • [7]Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, hal 37.
  • [8]Abudddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam,hal 14
  • [9] Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, hal 480.
  • [10]Ibidhal 502.
  • [11]Ibidhal 149.
  • [12]Ibidhal 156.
  • [13]Abudddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam,hal 20.
  • [14]Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, hal 400.
  • [15]Abudddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam,hal 20.
  • [16]Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, hal 126.
  • [17]Abudddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam,hal 21.
  • [18]Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, hal 321
  • [19]Ibid, hal 75.
  • [20]Ibid, hal 134.
  • [21]Ibid, hal 141.
  • [22]Abudddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam,hal 25-26.
  • [23]Ibid, hal 28-31.