Contoh Makalah Tentang Penistaan Agama Lengkap

Contoh Makalah Tentang Penistaan Agama
Contoh Makalah Tentang Penistaan Agama

Contoh Makalah Tentang Penistaan Agama Lengkap

Makalahkita – Contoh Makalah Tentang Penistaan Agama Lengkap yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Di akhir Tahun 2016 publik di gegerkan lagi dengan mencuat nya berita video yang dianggap penghinaan islam oleh Bapak Basuki Cahya Purnama (Ahok) selaku gubernur DKI pada saat beliau berpidatu dihadapan masyarakat di kepulauan seribu, tepatnya pada Tanggal 27 September 2016  pada saat beliau kunjungan kerja ke daerah kepulauan seribu.

Masalah ini mencuat sehingga menjadi berita hangat setelah di unggahnya penggalan video pidato bapak gubernur tersebut di media sosial oleh Buni Yani.

2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Kronologi Kejadian Kasus
  2. Bagaimana Pendapat Bersalah atas Kasus
  3. Bagaimana Pendapat Tidak Bersalah atas Kasus
  4. Bagaimana Kelanjutan Kasus

3. Tujuan

  1. Untuk dapat mengetahui bagaimana Kronologi Kejadian Kasus
  2. Untuk dapat mengetahui bagaimana Pendapat Bersalah atas Kasus
  3. Untuk dapat mengetahui bagaimana Pendapat Tidak Bersalah atas Kasus
  4. Untuk dapat mengetahui bagaimana Kelanjutan Kasus

 

BAB II

PEMBAHASAN

1.Kronologis Kejadian Kasus

Jagat media sosial jadi riuh karena pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang membahas penggunaan surat Al Maidah ayat 51, dalam suasana menjelang Pemilihan Gubernur DKI 2017.

Sekadar catatan, ayat itu memang kerap menjadi materi kampanye untuk mengarahkan warga muslim DKI agar tidak memilih Ahok. Semisal ketika dipakai Hizbut Tahrir Indonesia dan Gema Pembebasan dalam kasus video #TolakPemimpinKafir, beberapa waktu silam.

Adapun pernyataan Ahok yang jadi sorotan termuat dalam pidatonya di hadapan warga Kepulauan Seribu, pekan lalu (27/9).

Saat itu, Ahok menjelaskan program kerja sama Pemerintah Provinsi DKI dan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta dalam bidang perikanan–termasuk memberikan bantuan 4.000 benih ikan kerapu.

Dalam pidatonya, Ahok menjelaskan bahwa warga tak perlu takut soal kelanjutan program bantuan itu, bila dirinya tak terpilih dalam Pilgub DKI 2017. Lebih kurang, Ahok menjamin program itu akan tetap berjalan, apa pun hasil Pilgub kelak.

“Jadi enggak usah pikiran. ‘Akh! Nanti kalau enggak kepilih, pasti Ahok programnya bubar’. Enggak! Saya masih terpilih (menjabat) sampai Oktober 2017,” kata Ahok.

Setelahnya, terseliplah pernyataan dia soal penggunaan surat Al Maidah ayat 51 jelang Pilgub DKI 2017.

“Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu enggak pilih saya. Dibohongin pakai surat Al Maidah ayat 51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu.”

Pernyataan itulah yang jadi bola liar di jagat daring.

2. Pandangan Bersalah Atas Kasus

Ahok kembali melontarkan pernyataan yang melecehkan Al Qur’an. Ahok menyebut surat Al Maidah ayat 51 dipakai membohongi warga untuk tidak memilihnya dengan ancaman neraka.

“Kalau bapak ibu ga bisa pilih saya, ya kan, dibohongin pakai surat Al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu. Ya, jadi kalo bapak ibu merasa, ga milih nih karena saya takut neraka, dibodohin gitu ya gapapa” kata Ahok sewaktu berkunjung di Kepulauan Seribu dan diunggah ke Youtube pada Senin (26/9/2016) lalu.

Pernyataan Ahok ini langsung menuai kecaman keras dari umat Islam. Sebab Ahok dinilai telah melecehkan Al Quran dan memusuhi umat Islam.

Tokoh anti PKI Alfian Tanjung melalui akun Facebook pribadinya mengungkapkan bahwa pernyataan Ahok tersebut semakin jelas memperlihatkan bahwa Ahok memusuhi Islam.

“Sudah semakin Jelas, Basuki Podomoro ini memang musuh Islam,” tulis Alfian Tanjung, Rabu (5/10/2016), seperti dikutip Islamedia.

Tak terhitung jumlah netizen yang mengecam dan memprotes pernyataan Ahok tersebut. Ada pula yang menilai Ahok panik.

“Ahok mulai panik, hasil survey suaranya mulai menurun terus,,, biarkan dia berkata terus seperti itu,dan suaranya semakin anjlok,” kata Kang Uli. [Siyasa/Tarbiyah.net]

3. Pandangan Tidak Bersalah Atas Kasus

Mantan Ketua Umum GP Ansor, Nusron Wahid menyatakan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tidak melakukan penistaan agama dalam kunjungannya di Kepulauan Seribu. Nusron, mengaku sudah melihat secara tuntas rekaman video selama kegiatan Ahok di Pulau Seribu yang berdurasi satu jam. Dari rekaman utuh satu jam itu, tidak ada satu pun rangkaian kalimat di mana Ahok melakukan penistaan agama.

Salah satu Ketua PBNU ini berdalih justru calon petahana gubernur DKI Jakarta itu memberikan edukasi kepada rakyat agar memilih secara cerdas. Ahok kata dia, mengedukasi warga agar jangan mau dibohongi oleh orang yang mempolitisasi agama dalam hal ini dengan menggunakan ayat Alquran dalam surat Al Maidah. “Jadi, yang dituju atau dimaksud Ahok adalah orang yang membohongi. Bukan berarti ayat Al Maidah yang bohong. Justru Ahok menempatkan ayat suci secara sakral. Bukan alat agitasi, dan kampanye yang mendeskreditkan,” kata Nusron, Jumat (7/10/2016). Nusron berpendapat, video yang disebarkan dan menuduh Ahok telah menistakan Alquran sengaja dipotong sehingga menimbulkan mispersepsi dan intepretasi yang bias dan dikembangkan di masyarakat. “Cara-cara seperti ini sungguh picik, tidak fair, dan tidak beradab. Cara-cara ini sangat tidak sesuai akhlaqul karimah,” tegas mantan Ketua Umum PB PMII ini.

Menurut Nusron, kalau memang Ahok melakukan kesalahan dalam statemennya, di dalam acara tersebut dihadiri media massa yang luas. Logikanya, saat itu juga pasti sudah ada yang memberitakan dan mempersoalkan. Bahkan, masyarakat Kepulauan Seribu yang hadir juga pasti komplain kalau memang betul Ahok melakukan seperti apa yang dituduhkan. “Tapi ini sudah lebih dari seminggu berlalu, baru dimunculkan dengan dipotong secara tidak utuh. Jadi sungguh mengada-ada, dan ada unsur kesengajaan dengan memotong rekaman untuk dijadikan bahan menyerang Ahok,” paparnya. Jadi, menurut Nusron, orang yang menuduh Ahok ini dalam bahasa agama masuk kategori “kalimatu haqqin wa uridu biha al bathil” (ayat Alquran benar, tapi digunakannya tidak benar karena jadikan alat politisasi). Sebab mereka menggunakannya untuk kepentingan menghasut agar tidak memilih Ahok. “Padahal, asbabun nuzul (sebab turunnya suatu ayat) tidak ada kaitan dengan kepemimpinan gubernur hari ini,” tutur Nusron.

4. Kelanjutan Terkini Kasus

Setelah demo pada tanggal 04 Bulan Nopember kemarin kepolisian menindak lanjuti dan menetapkan Bpk. Basuki Cahya sebagai tersangka, dan Gelar perkara terkait kasus dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akan dilakukan pada Selasa (15/11/2016) di ruang rapat utama (rupatama) Mabes Polri.

Gelar perkara akan dilakukan secara terbuka terbatas, mengingat kapasitas ruangan.

Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto mengatakan, gelar perkara akan menentukan kelanjutan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok.

“Kalau tindak pidana akan ditindaklanjuti oleh penyidik,” kata Ari di kantor Bareskrim di kompleks Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Jumat (11/11/2016).

Dalam gelar perkara, pihaknya akan mengundang para pelapor dan terlapor. (Baca: Gelar Perkara Kasus Ahok, Bareskrim Undang Pihak Pelapor dan Terlapor)

Ari menuturkan, gelar perkara akan dilaksanakan selama satu hari. Selesai gelar perkara, kata dia, penyidik akan melakukan analisis.

“Selesai gelar perkara, lalu kami analisis secepatnya. Nanti kalau sehari selesai, Rabu besoknya bisa diketahui dan disampaikan,” ucap Ari.

(Baca: Kabareskrim: Gelar Perkara Ahok Terbuka Terbatas Selasa Pekan Depan)

Ari menyebutkan, gelar perkara akan menghadirkan 34 saksi ahli dari kedua belah pihak. Saat ini, lanjut Ari, pihaknya sedang menyusun hasil wawancara dari berbagai pihak.

Gelar perkara terbuka untuk kasus Ahok diungkap Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian seusai bertemu Presiden Joko Widodo. Jokowi pun mengakui memerintahkan Polri untuk melakukan gelar perkara terbuka.

Kepolisian lalu menelaah keabsahan gelar perkara terbuka. Hingga akhirnya, Komjen Ari Dono mengungkap bahwa gelar perkara akan dilakukan terbuka terbatas.

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

tepatnya pada Tanggal 27 September 2016  pada saat beliau kunjungan kerja ke daerah kepulauan seribu Pak Ahok mengeluarkan statement yang dianggap oleh sebagian kalangan sebagai penistaan agama.

Ahok dianggap menistakan agama karena bukan hak nya sebagai warga non muslim mengatakan bahwa alquran berbohong dalam sudut pandang yang kontra terhadap pak ahok.

Namun ada juga kalangan yang mengatakan bahwa ini bukan sebuah penistaan agama dilihat dari bahasa yang digunakan dan tafsiran dari ayat yang bersangkutan yang memang multi tafsir.

Namun walaupun demikian kasus ini tetap berlanjut dan kepolisian sudah menetapkan ahok menjadi tersangka atas kasus dugaan penistaan agama ini.

2. Saran

Sebagai seorang muslim yang mencintai agamanya pasti dimana ada hal yang menyinggung terhadap agama maupun ajaran yang dianutnya akan bereaksi terhadap hal tersebut, tetapi juga sebagai manusia yang berakal kita harus selektif menerima berita menelusuri kebenarannya serta menkaji dulu permasalahannya sebelum kita menentukan sikap.

DAFTAR PUSTAKA

  • www.makalahkita.com

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*