Contoh Makalah Penyakit Degeneratif Dan Vegetarian

Contoh Makalah Penyakit Degeneratif Dan Vegetarian
Contoh Makalah Penyakit Degeneratif Dan Vegetarian

Contoh Makalah Penyakit Degeneratif Dan Vegetarian

MakalahContoh Makalah Penyakit Degeneratif Dan Vegetarian yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Penyakit Degeneratif 

Penyakit degeneratif merupakan penyakit yang mengiringi proses penuaan. Penyakit ini terjadi seiring bertambahnya usia. Penyakit degeneratif adalah penyakit akibat penurunan fungsi organ/ alat tubuh. Tubuh mengalami defisiensi produksi enzim & hormon, imunodefisiensi, peroksida lipid, kerusakan sel (DNA), pembuluh darah, jaringan protein & kulit (ketuaan).

Ada sekitar 50 penyakit degeneratif, diantaranya penyakit jantung, diabetes, stroke dan osteoporosis.

“Gaya hidup yang kurang sehat dengan mobilitas tinggi serta pola makan yang salah mendorong masyarakat perkotaan rentan terkena penyakit degeneratif. Bahkan, perilaku makan yang salah, ternyata juga menjadi penyumbang terbesar sebagai penyebab munculnya penyakit tersebut.”[1]

Menurut Ahli Teknologi Pangan A&M Texas University, Nur Mahmudi Ismail, penyakit degeneratif justru menyedot biaya publik jauh lebih besar daripada penyakit lain. Umumnya, kata beliau, masyarakat perkotaan, tidak memiliki kecukupan sumber pangan dari produksi sendiri, namun pada waktu yang sama mempunyai buying power cukup tinggi.

1.2  Pengertian dan Sejarah Vegetarian 

Vegetarian dikenal sebagian orang dengan pola makan yang unik karena hampir seluruh makanannya berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti sayur, buah, padi-padian, dan kacang-kacangan. Bagi seorang vegetarian, daging dan produk hewani lainnya adalah makanan yang “haram” untuk dikonsumsi.

Alasan seseorang menjadi vegetarian cukup bervariasi. Beberapa orang menjadi vegetarian karena alasan agama, kesehatan, atau masalah lingkungan hidup. Sebagian lagi beranggapan bahwa mengonsumsi makanan yang berasal dari produk hewani tidaklah etis. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa membunuh binatang adalah perbuatan yang keji karena menyiksa binatang dan hal ini akan merusak keseimbangan ekosistem. Vegetarian juga disarankan oleh beberapa pakar kesehatan karena manfaatnya yang dapat mencegah berbagai macam penyakit seperti penyakit kanker, penyakit kardiovaskuler, dan juga penyakit degeneratif lainnya.

Saat ini vegetarianisme ramai diperbincangkan karena banyak penelitian terkini membuktikan manfaatnya bagi kesehatan. Padahal, sebenarnya pola makan ini telah ada sejak dahulu bahkan pada zaman sebelum Masehi.

Beberapa agama di Asia seperti Budha, Zein, dan Hindu sudah sejak lama menyarankan kepada para pengikutnya untuk menghindari makanan dari makhluk yang bernyawa. Di Eropa, pola makan ini dulu dikenal sebagai Pythagorean Diet karena penemu atau pencetusnya adalah filsuf  Yunani bernama Phytagoras. Phytagoras yang semula terkenal karena kontribusinya pada bidang matematika dan geometri ini juga dikenal unik karena pola makan yang dijalaninya saat itu sedikit berbeda dengan orang-orang di sekitarnya.

Pada abad ke-18, Benjamin Franklin yang dikenal sebagai ilmuwan fisika sekaligus filsuf juga menyatakan dukungannya terhadap diet vegetarian. Franklin yang saat itu masih remaja (16 tahun) membaca buku yang ditulis oleh Thomas Tryon (1634-1703). Buku itu memberikan penjelasan pada Franklin muda mengenai manfaat kesehatan yang diperoleh manusia jika menjalani diet vegetarian.

Franklin beranggapan bahwa vegetarianisme mampu memberikannya ide yang lebih bersih dan kerja otak lebih optimal. Meskipun ia tidak menjalani diet vegetarian dalam waktu yang lama, Franklin hingga saat ini masih dikenang sebagai seorang vegetarian.

Memasuki abad ke-19, pergerakan vegetarian berkembang makin cepat. Meningkatnya informasi tentang vegetarian dari komunitas-komunitas vegetarian di masyarakat, buku, serta artikel kesehatan, membuat jumlah vegetarian pun bertambah. Di Indonesia data mengenai jumlah vegetarian ini memang belum terdokumentasi dengan baik. Namun di negara lain jumlah orang yang menjadi vegetarian meningkat secara signifikan.

Berdasarkan survei yang dilakukan pada tahun 1994, disebutkan bahwa terdapat sebanyak 12,4 juta orang di Amerika Serikat menjalani diet vegetarian. Hasil survei ini menunjukkan bahwa sebanyak 7% dari seluruh warga negara Amerika Serikat menjadi vegetarian dan jumlah ini meningkat sebanyak dua kali dari jumlah yang ditemukan 8 tahun sebelumnya. Selain itu, dari hasil analisis diketahui juga bahwa hanya 1% diantara populasi tersebut merupakan vegetarian murni.

American Dietetic Association (ADA) dan Dietitians of Canada pada tahun 1999 dan 2003 menyatakan bahwa diet vegetarian yang direncanakan dengan tepat adalah sehat, dan akan memberikan keuntungan bagi kesehatan untuk mencegah dan mengobati berbagai penyakit tertentu termasuk penyakit degeneratif.  American Medical Association (AMA) menyatakan bahwa 90-97% penyakit jantung dapat dihindari dengan diet vegetarian. Profesor T. Colin Campbell dari Cornell University menyatakan, 80-90% penyakit degeneratif seperti jantung, kanker, stroke, hipertensi, diabetes melitus dapat dicegah dengan diet nabati (vegetarian). Diet vegetarian juga dapat mengurangi gejala-gejala penyakit seperti arthritis, hiperkolesterolemia dan mengatasi obesitas (Rui, 2003; Lampe, 2003) dan memperpanjang umur harapan hidup (Singh et al, 2003).[2]

BAB II 

PENYAKIT DEGENERATIF

2.1  Macam-macam Penyakit Degeneratif dan Faktor-faktor Penyebabnya 

Berikut dijelaskan beberapa macam penyakit degeneratif beserta penyebabnya.

2.1.1  Penyakit Jantung

Serangan jantung adalah terhentinya aliran darah, meskipun hanya sesaat, yang menuju ke jantung, dan mengakibatkan sebagian sel jantung menjadi mati. Ada beberapa gejala spesifik dari serangan jantung, antara lain:

1)   Nyeri. Jika otot tidak mendapatkan cukup darah (suatu keadaan yang disebut iskemi[3]), maka oksigen yang tidak memadai dan hasil metabolisme yang berlebihan menyebabkan kram atau kejang. Angina merupakan perasaan sesak di dada atau perasaan dada diremas-remas, yang timbul jika otot jantung tidak mendapatkan darah yang cukup. Jenis dan beratnya nyeri atau ketidaknyamanan ini bervariasi pada setiap orang. Beberapa orang yang mengalami kekurangan aliran darah bisa tidak merasakan nyeri sama sekali (suatu keadaan yang disebut silent ischemia);

2)      Sesak napas merupakan gejala yang biasa ditemukan pada gagal jantung. Sesak merupakan akibat dari masuknya cairan ke dalam rongga udara di paru-paru (kongesti pulmoner atau edema pulmoner);

3)      Kelelahan atau kepenatan. Jika jantung tidak efektif memompa, maka aliran darah ke otot selama melakukan aktivitas akan berkurang, menyebabkan penderita merasa lemah dan lelah. Gejala ini seringkali bersifat ringan. Untuk mengatasinya, penderita biasanya mengurangi aktivitasnya secara bertahap atau mengira gejala ini sebagai bagian dari penuaan;

4)  Palpitasi (jantung berdebar-debar);

5) Pusing & pingsan. Penurunan aliran darah karena denyut atau irama jantung yang abnormal atau karena kemampuan memompa yang buruk, bisa menyebabkan pusing dan pingsan.

2.1.2  Diabetes Mellitus

Diabetes mellitus, yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah penyakit kencing manis adalah kelainan metabolik yang disebabkan oleh banyak faktor, dengan simtoma[4]  berupa hiperglikemia[5]  kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai akibat dari:

  1. defisiensi sekresi hormon insulin, aktivitas insulin, atau keduanya;
  2. defisiensi transporter glukosa.

Kedua penyebab penyakit diabetes mellitus tersebut dapat terjadi secara bersamaan atau hanya salah satu saja. Akibatnya kadar gula darah menjadi meningkat drastis.

2.1.3  Stroke

Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi biokimia, yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel saraf di otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu. Stroke adalah penyebab kematian yang ketiga di Amerika Serikat dan banyak negara industri di Eropa (Jauch, 2005). Bila dapat diselamatkan, kadang-kadang penderita mengalami kelumpuhan di anggota badannya, hilangnya sebagian ingatan atau kemampuan bicaranya. Beberapa tahun belakangan ini makin populer istilah serangan otak. Istilah ini berpadanan dengan istilah yang sudah dikenal luas, “serangan jantung”.

Stroke terjadi karena cabang pembuluh darah terhambat oleh emboli.[6] Emboli bisa berupa kolesterol atau udara.

2.1.4  Osteoporosis 

Pada osteoporosis, kualitas dan kepadatan jaringan tulang di dalam tulang akan memburuk, sehingga terdapat lebih banyak ruang kosong di dalamnya dan tulang menjadi lebih rapuh. Masalah utama bila kita memiliki tulang yang rapuh adalah tulang tersebut lebih mudah patah daripada yang seharusnya. Hal ini berarti bahwa kecelakaan atau jatuh ringan yang secara normal tidak menyebabkan patah pada tulang yang sehat akan dapat menyebabkan patah tulang yang nyeri dan melemahkan. Bahkan batuk yang keras dapat menyebabkan patah tulang belakang.

Beberapa faktor penyebab osteoporosis yakni peningkatan usia, menopause, kadar testosterone rendah pada pria, kecenderungan genetic, penyakit lain misalnya gagal ginjal dan penyakit hati, obat-obatan, berat badan rendah, pola makan buruk, merokok atau mengonsumsi alkohol secara berlebihan, dan kurang olahraga.

2.1.5  Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi secara umum didefinisikan sebagai tekanan sistolik[7] lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik[8] lebih dari 90 mmHg. Tekanan darah tinggi jarang menimbulkan gejala dan cara satu-satunya untuk mengetahui apakah kita menyandangnya adalah dengan mengukur tekanan darah. Oleh karena itu, seperti yang direkomendasikan panduan yang dikeluarkan oleh British Hypertension Society, sebaiknya dilakukan pengukuran tekanan darah setidaknya sekali dalam 5 tahun, bahkan lebih sering bila memungkinkan.

Bila tekanan darah tidak terkontrol dan menjadi sangat tinggi (keadaan ini disebut hipertensi berat atau hipertensi maligna), maka mungkin akan timbul gejala seperti pusing, pandangan kabur, sakit kepala, kebingungan, mengantuk, dan sulit bernapas.

Pada sebagian besar kasus, penyebab tekanan darah tinggi tidak diketahui. Hal ini terutama terjadi pada hipertensi esensial. Walaupun demikian, terdapat beberapa faktor risiko yang dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi, meliputi kelebihan berat badan, kurang berolahraga, mengonsumsi makanan berkadar garam tinggi, kurang mengonsumsi buah dan sayuran segar, dan terlalu banyak minum alkohol.

2.2  Pengaruh Mengonsumsi Bahan Makanan Non Nabati terhadap Penyakit Degeneratif 

Bahan makanan non nabati atau bahan makanan hewani merupakan bahan makanan yang berasal dari hewan. Contohnya yaitu daging, ikan, telur dan produk olahan lainnya yang berasal dari hewan.

“Terkait kebenaran konsumsi daging olahan yang dapat meningkatkan resiko diabetes seseorang, penelitian terbaru telah dilakukan oleh para peneliti yang berasal dari Harvard School of Public Health, Amerika Serikat. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa konsumsi daging olahan secara berlebihan akan dapat meningkatkan resiko penyakit jantung sampai 49 %, sedangkan untuk penyakit diabetes tipe 2 resikonya meningkat sampai 19 %.”[9]

Berikut akan dibahas mengenai pengaruh mengonsumsi daging terhadap beberapa penyakit degeneratif.

2.2.1  Hubungan Daging Merah dengan Kanker

Daging merah adalah jenis daging yang berasal dari sapi, kambing, babi, dan kuda. Jenis daing ini berwarna merah karena mengandung senyawa heme. Selain dading merah, ada juga jenis daging putih, yang diperoleh dari ayam, bebek, dan ikan. Kedua jenis daging ini tidak hanya berbeda dari segi warna saja, dampak kesehatan dari mengonsumsi kedua jenis daging ini pun berbeda.

Terdapat empat teori yang menjelaskan alasan daging merah bisa menyebabkan kanker, yakni sebagai berikut.

  • Proses memasak daging merah dapat menyebabkan pembentukan senyawa pencetus kanker.

Daging merah yang dimasak dengan cara dipanggang maupun dibakar dapat menghasilkan senyawa karsinogen seperti Heterocyclic amines (HCA), 2-amino-1-methyl-6-phenyl-imidazo 4,5-b pyridine (PhIP), 2-amino-3,8-dimethylimidazo 4,5-f quinoxaline (MelQx), polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH), dan benzo(a)pyrene.

  • Mengonsumsi daging dapat menyebabkan reaksi antara NO dan N2O3 dengan amine di saluran cerna.

Di dalam daging merah sering ditemukan komponen yang disebut dengan nitrosating agents. Zat tersebut dapat berupa NO dan N2O3. Jika salah satu dari kedua jenis zat itu bereaksi dengan amine di dalam saluran cerna, maka akan terbentuk zat yang disebut N-nitroso compound. Zat ini dapat menyebabkan mutasi pada percobaan in-vitro (di luar tubuh manusia) namun efeknya pada manusia masih menjadi perdebatan.

  • Daging merah akan meningkatkan asupan lemak harian

Teori ini menjelaskan bahwa lemak yang terdapat dalam daging merah dapat meningkatkan konsentrasi asam empedu dan asam lemak di dalam usus besar. Kondisi ini akan memengaruhi membran di sekitar usus besar sehingga menyebabkan gangguan pada derah tersebut.

  • Zat besi (heme) dalam daging dapat menyebabkan pembentukan oksigen radikal di saluran cerna.

Teori ini setidaknya mampu menjelaskan mengapa daging merah lebih berbahaya dibandingkan daging putih. Sebab kadar heme dari daging merah lebih tinggi 10 kali dibandingkan daging putih. Pada percobaan dengan hewan, Sesink et al. (1999) menemukan bahwa daging merah dapat menyebabkan terjadinya kanker kolon karena kandungan heme yang dimilikinya lebih tinggi dibandingkan daging putih.

2.2.2  Hubungan Daging dengan Stroke dan Penyakit Jantung

Jika lemak jenuh masuk ke dalam darah akan menyebabkan beberapa penyakit, diantaranya adalah penyakit yang berhunbungan dengan pembuluh darah seperti stroke dan pembengkakan jantung. Ini disebabkan oleh mengentalnya darah yang diakibatkan oleh masuknya lemak jenuh ke dalam darah.

Pada suhu tertentu lemak jenuh akan encer. Tetapi karena suhu manusia lebih rendah daripada asal lemak jenuh, yaitu daging hewan seperti sapi, kambing, ayam dan lain-lain, maka lemak jenuh tersebut menjadi  kental dan bahkan mengeras ketika berada didalam darah. Akibatnya sirkulasi darah terganggu, menjadi lambat dan bahkan dapat menyumbat pembuluh darah. Inilah yang menjadi penyebab penyakit stoke dan pembengkakan jantung.

2.2.3  Hubungan Daging dengan Kegagalan Fungsi Organ

Selain itu darah yang mengental juga menghambat terganggunya kiriman nutrisi keseluruh organ tubuh sehingga menyebabkan sel-sel tubuh kekurangan oksigen dan nutrisi. Hal ini akan berakibat terganggunya proses mutasi sel dan ujung-ujungnya mengakibatkan terjadinya penuaan dini.  Selain itu kondisi ini juga dapat mengakibatkan organ-organ tubuh mengalami kegagalan fungsi.

2.2.4  Hubungan Daging dengan Osteoporosis

Selain menyebabkan darah menjadi kental dengan lemak jenuhnya, daging juga dapat menyebabkan darah menjadi asam. Kondisi ini menyebabkan tulang bekerja keras untuk menetralisir kadar asam dengan melarutkan kalsium ke dalam darah.

Mengenai hal ini, Anand dan Linkswiller menemukan bahwa konsentrasi extracellular kalsium diatur oleh kalsium dalam tulang. Ketidakseimbangan negatif yang berkepanjangan mengakibatkan kalsium dalam tulang melarut sehingga menyebabkan terjadi keropos tulang atau osteoporosis.

BAB III

POLA MAKAN VEGETARIAN

3.1  Jenis-jenis Vegetarian

Tipe-tipe vegetarian tidak didefinisikan berdasarkan motivasi atau alasan yang mendasari seseorang untuk menjalaninya, melainkan didefinisikan berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi dan dipantang dalam pola makan sehari-hari. Terdapat 3 jenis vegetarian yang kerap dijumpai yakni vegan, lacto-vegetarian, dan lacto-ovo-vegetarian.

3.1.1  Vegan

Tipe vegetarian ini sering disebut dengan vegetarian murni atau vegetarian total. Seorang vegan hanya mengonsumsi makanan dari tumbuhan, dan sama sekali tidak mengonsumsi bahan makanan yang berasal dari binatang termasuk daging, ayam, ikan, susu, telur, dan seafood.

            Menjadi vegetarian murni memiliki keuntungan dan kerugian. Karena tidak mengonsumsi produk hewani, diet seorang vegetarian murni sangat rendah kolesterol. Tapi, seorang vegan selalu mewaspadai kekurangan beberapa jenis zat gizi termasuk protein, zat besi, dan vitamin B12. Kandungan ketiga zat gizi tersebut dalam tumbuhan lebih rendah dibandingkan dengan produk hewani seperti daging, susu, dan telur. Bahkan, vitamin B12 sangat jarang ditemukan pada tumbuh-tumbuhan.

3.1.2  Lacto-vegetarian

        Lacto berarti susu. Karena itu, tipe vegetarian ini didefinisiskan sebagai vegetarian yang juga mengonsumsi susu dan produk olahan susu seperti keju dan yoghurt dalam keseharian mereka namun tidak mengonsumsi daging sapi, daging kambing, ayam, ikan, telur, dan seafood.

Menjadi seorang lacto-vegetarian akan memberikan lebih banyak keuntungan karena kolesterol dalam susu tidak terlalu tinggi. Kandungan protein, vitamin, dan mineral yang terdapat di dalamnya mampu melengkapi kebutuhan yang kurang tercukupi dari makanan nabati.

3.1.3  Lacto-ovo-vegetarian

Vegetarian lacto-ovo adalah vegetarian yang mengonsumsi makanan nabati, susu, dan telur untuk makanan sehari-hari mereka. Namun, mereka tetap tidak mengonsumsi daging sapi, daging kambing, ayam, ikan, dan seafood. Para vegetarian yang melakukan diet ini tidak perlu khawatir akan kekurangan protein. Kualitas protein dari susu dan telur sangat baik karena tidak hanya mudah diserap, protein dari kedua jenis bahan makanan tersebut juga mengandung asam amino yang lengkap.

3.2  Zat-zat Gizi Penting pada Diet Vegetarian

Diet vegetarian cenderung kaya akan zat-zat yang terkandung dalam biji-bijian, sayuran, serta buah-buahan. Oleh karena itu, diet ini kaya akan karbohidrat, omega-6 fatty acid, dietary fibre, carotenoids, folic acid, vitamin C, vitamin E, potassium, dan magnesium.

3.2.1  Kedelai

Kedelai merupakan jenis leguminosa/ kacang-kacangan yang umumnya sebagai sumber protein nabati yang cukup populer di semua kalangan (kalangan bawah ataupun menengah ke atas). Kedelai merupakan sumber protein utama diet vegetarian. Di Indonesia, kedelai sebagai sumber makanan dapat diolah dalam bermacam olahan, seperti kecap, tahu, tempe, taoco, bahan makanan campuran untuk bayi, kembang tahu (yoba), roti, kue-kue, serta susu kedelai.

Beberapa fungsi kedelai untuk kesehatan, sebagai berikut.

a)      Fungsi Kognitif

b)      Fungsi pada Peradangan

c)      Fungsi pada Kanker Payudara

d)     Fungsi pada Penyakit Jantung Koroner

3.2.2  Fitokimia pada Sayur dan Buah

Fitokimia merupakan senyawa yang bermanfaat sebagai antioksidan dan mampu mencegah kanker. Ada beberapa fitokimia yang sudah diketahui terdapat dalam sayuran dan buah-buahan antara lain sebagai berikut.

a)      Karotenoid

Karotenoid adalah pigmen pemberi warna pada buah dan sayuran. Karotenoid bermanfaat mencegah beberapa jenis kanker terutama karena fungsinya sebagai penangkal radikal bebas atau anti-oksidan. Dengan perlindungan dari radikal bebas, kemungkinan kerusakan DNA akan berkurang.

b)      Lycopene

Lycopene adalah senyawa karoten non-provitamin A. Senyawa ini terdapat dalam buah tomat, paprika, semangka, dan wortel. Mengonsumsi makanan yang kaya akan lycopene sangat dianjurkan karena dapat menurunkan risiko kanker prostat.

c)      Flavonoid

Flavonoid merupakan antioksidan yang menetralisir radikal bebas yang menyerang sel-sel tubuh kita. Flavonoid banyak ditemukan pada jeruk, apel, kiwi, anggur merah, brokoli, dan teh hijau.

d)      Sulforafen

Sulforafen berfungsi mencegah risiko kanker usus besar. Sulforafen terdapat pada sayuran  crucifera seperti kembang kol, brokoli, kubis, dan bokchoy.

e)      Limonen

Limonen adalah fitokimia yang ditentukan pada bagian kulit dan selaput putih buah dalam kelompok jeruk seperti jeruk orange, mandarin, limau, lemon, jeruk nipis. Limonen melindungi paru-paru dan menurunkan risiko beberapa jenis kanker.

f)        Asam ellagat

Asam ellagat adalah senyawa fenolat yang bisa menurunkan risiko beberapa jenis kanker dan menurunkan kadar kolesterol. Asam ellagat dijumpai pada anggur merah, kiwi, dan strawberi.

3.3  Pencegahan Penyakit Degeneratif dengan Pola Makan Vegetarian

Protein adalah zat pembangun yang paling penting dan berhubungan dengan proses kehidupan. Kebutuhan protein pada anak-anak 2-3 gram/hari, sedangkan orang dewasa kurang lebih 46 gram/hari. Kelebihan protein akibat mengonsumsi daging hewani berpengaruh buruk terutama pada hati dan ginjal juga dapat menyebabkan kegemukan meskipun protein hewani itu nilai gizinya lebih tinggi daripada nabati. Sekarang ini protein nabati secara internasional dikelompokan sebagai kelas utama dianjurkan ada dalam setiap makanan.

3.3.1  Pencegahan pada Penyakit Osteoporosis 

Terapkan pola makan yang menunjang tulang. Seperti yang telah diketahui semua orang, sangat penting untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan seimbang. Panduan yang dibuat untuk dokter merekomendasikan bahwa dari seluruh asupan kalori harian anda, 50-60% harus berasal dari karbohidrat yang dapat ditemukan dalam makanan seperti nasi, sereal, roti, buah, sayur, dan pasta.

            Food Standard Agency dari pemerintah Inggris (www.food.gov.uk) telah menghasilkan panduan makan yang disebut Balance of Good Health yang menunjukan beberapa porsi yang harus dikonsumsi dari  kelompok makanan utama:

1)      roti, sereal dan kentang;

2)      buah dan sayur;

3)      susu dan makanan produk susu; serta

4)      makanan berlemak dan bergula (lemak terutama harus berupa lemak tidak jenuh seperti yang ditemukan dalam kacang-kacangan, minyak zaitun, dan alpukat; daripada lemak jenuh yang ditemukan dalam makanan seperti daging berlemak dan keju).

3.3.2  Pencegahan pada Tekanan Darah Tinggi

Makanan merupakan faktor penting yang menentukan tekanan darah. Meningkatkan asupan buah dan sayuran segar dapat menurunkan tekanan darah. Menerapkan pola makan yang rendah lemak jenuh, kolesterol, dan total lemak, serta kaya akan buah, sayur, serta produk susu rendah lemak telah terbukti secara klinis dapat menurunkan tekanan darah. Pola makan tersebut sebaiknya juga menyertakan produk gandum, kacang-kacangan, serta mengurangi jumlah daging merah, makanan manis, dan minuman yang mengandung gula.

Untuk mengotrol tekanan darah agar tidak mengalami kenaikan yang signifikan, maka makanlah setidaknya lima porsi buah dan sayuran segar setiap hari, produk susu rendah lemak secara teratur.

3.3.3  Pencegahan pada Kolesterol

Orang yang paling berisiko memiliki kadar kolesterol tinggi adalah mereka yang menerapkan pola makan yang mengandung kadar lemak jenuh tinggi. Lemak jenuh (ditemukan pada daging, mentega, keju, dan krim) meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam darah. Namun, pola makan yang sehat dapat menurunkan kadar kolesterol sekitar 5-10%, bahkan lebih. Mengurangi asupan lemak jenuh dan makan lebih banyak buah, sayuran, salad, sterol tumbuhan, dan kedelai juga dapat membantu.

BAB IV

SIMPULAN

 1.Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dan beberapa ulasan di  halaman sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pola makan vegetarian merupakan salah satu diet yang menyehatkan tubuh dan merupakan pola makan pencegah penyakit degeneratif yang mana penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian nomor satu di dunia.

Dengan adanya pola makan vegetarian atau pola makan nabati ini, semoga masyarakat dapat terhindar dari penyakit-penyakit degeneratif, terutama penyakit kanker, jantung koroner, diabetes mellitus, dan lain sebagainya; sehingga terciptalah masyarakat yang sehat dan memiliki kualitas hidup yang tinggi serta dapat hidup lebih produktif.

DAFTAR PUSTAKA 

  • Bangun, A. P. 2003. Vegetarian: Pola Hidup Sehat Berpantang Daging. Jakarta: Agromedia Pustaka
  • Brudenell, Michael dan Marjorie Doddridge. 1996. Diabetic Pregnancy. Jakarta:   EGC
  • Brown, Pam dan Rebecca Fox-Spencer. 2007. Osteoporosis. Jakarta: Erlangga (alih           bahasa Juwalita Surapsari, editor Rina Astikawati dan Amalia Safitri)
  • Kusharisupeni. 2010. Vegetarian, Gaya Hidup Sehat Masa Kini. Yogyakarta: ANDI
  • Muhammad, H.F.L dan Prima O.H. 2010. Bebas Kanker Tanpa Daging. Yogyakarta:       Jogja GREAT
  • Palmer, Anna dan Bryan Williams. 2007. Tekanan Darah Tinggi. Jakarta: Erlangga            (alih bahasa Elizabeth Yasmine, editor Rina Astikawati dan Amalia Safitri)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*