Contoh Makalah Pernikahan Dan Perceraian Menurut Islam

Contoh Makalah Pernikahan Dan Perceraian Menurut Islam

Contoh Makalah Pernikahan Dan Perceraian Menurut Islam

Makalahkita.com – Contoh Makalah Pernikahan Dan Perceraian Menurut Islam yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
2. Font : Times New Roman Ukuran 12
3. Kertas : Size A4
4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa terlepas dari ketergantungan dengan orang lain. Menurut Ibnu Khaldun, manusia itu (pasti) dilahirkan di tengah-tengah masyarakat, dan tidak mungkin hidup kecuali di tengah-tengah mereka pula. Manusia memiliki naluri untuk hidup bersama dan melestarikan keturunannya. Ini diwujudkan dengan pernikahan. Pernikahan yang menjadi anjuran Allah dan Rasull-Nya ini merupakan akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Pernikahan yang telah diatur sedemikian rupa dalam agama dan Undang-undang ini memiliki tujuan dan hikmah yang sangat besar bagi manusia sendiri. Tak lepas dari aturan yang diturunkan oleh Allah, pernikahan memiliki berbagai macam hukum dilihat dari kondisi orang yang akan melaksanakan pernikahan.

2. Rumusan Masalah

  1. Apa pengerian pernikahan?
  2. Apa penegertian talak dan macam-macam talak?
  3. Apa Undang-undang dan hukum perkawinan?

3. Tujuan

  1. Mengetahui pengerian pernikahan
  2. Mengetahui pengertian talak dan macam-macam talak
  3. Mengetahui Undang-undang dan hukum perkawinan?

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pernikahan

  1. Pengertian Pernikahan[1]

Menurut Departemen Agama RI, pernikahan adalah akad yang menghalalkan antara laki-laki dan perempuan dengan akad menikahkan arau mengawinkan. Kata nikah nikaahun  atau pernikahan sudah menjadi kosa kata bahasa indonesia sebagai padanan kata perkawinan zawaajun. Perkawinan merupakan sunnatulah atau hukum alam yang umun berlaku baik bagi manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan.

            “Nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi….(An-Nisa: 3)

  1. Hukum Pernikahan[2]

Jumhur (mayoritas)bulama menetapkan hukum menikah ada lima: mubah, sunnat, wajib, makruh dan haram.

1.Sunat

Mereka sepakat bahwa hukum asal pernikahan adalah sunat. Mereka beralasan dengan Sabda Rasulullah SAW:

“Wahai para pemuda, siapa diantaramu yang sudah mempunyai kemampuan untuk menikah, menikahlah karena menikah itu lebih memelihara pandanagan mata daan lebih mengendalikan seksual. Siapa yang belum memiliki kemampuan, hendaklah ia berpuasa, karena puasa merupakan penjagaan baginya ”. (Muttafaq Alaih)

Selanjutnya hukum nikah bisa berubah-ubah menjadi mubah, wajib, makruh dan haram dalam hal itu tergantung maksud dan kondisi atau keadaan orang yang bersangkutan.

2.Mubah

Menikah hukumnya menjadi mubah atau boleh bagi orang yang tidak mempunyai faktor pendorong  atau faktor yang melarang untuk menikah. Ini beralasan kepada umumnya ayat dan hadits yang menganjurkan menikah.

3. Wajib

Seseorang yang dilihat dari pertumbuhan jasmaniahnya sudah layak untuk menikah, kedewasaan rohaniahnya suadah matang dan memiliki biaya untuk menikah serta untuk menghidupi keluarganya dan bila ia tidak menikah khawatir terjatuh pada perbuatan mesum atau zina hukum, maka menikahnya hukumnya wajib. Hal ini didasarkan pada hadits Bukhari Muslim Di point a.

4. Makruh

Seseorang yang dipandang dari pertumbuhan jasmaniahnya sudah layak untuk menikah kedewasaan rohaniahnya sudah matang tetapi ia tidak mempunyai biaya untuk bekal hidup beserta istri kemudian anaknya. Jadaia makruh untuk menikah dan dianjurkan untuk mengendalikam nafsunya melalui puasa. Ia lebih baik tidak meikah dahulu, karena menikah bagina akan membawa kesengsaraan juga bagi istri dan ananaknya.

5. Haram

Pernikahan menjadi haram hukumya bagi seseorang yang menikahi wanita dengan maksud menyakiti, mempermainkan dan memeras hartanya. Demikian juga nikah dengan wanita yang haram dinikahi. Hala itu seperti memadu dua permpuan bersaudarapada waktu yang sama. Jika seseorang menikah dengan maksud maksud demikian, nikahnya sah karena memenuhi syarat dan rukunya yang normal. Hanaya ia berdosa karena maksud buruknya itu. Ia tidak berdosa kalau maksud buruknya itu diurungkan dan tidak dilaksanakannya.

3. Persiapan Pelaksanaan Pernikahan[3]
  1. Meminang

ü  Pengertian adalah Meminang atau khitbah adalah permintaan atau ajakan seorang laki-laki kepada perempuan atau ebaliknya untuk menikah.

ü Hukum

Dalam agama islam meminang seseorang yang akan dinikahi hukumnya mubah (boleh) dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

1.Perempuan yang dipinang

Perempuan yang dipinang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Tidak terikat oleh akad perkawinan
  2. Tidak berada dalam masa iddah talak raj’iy
  3. Bukan pinangan orang lain

Rasulullah SAW bersabda:

“seorang mukmin adalah saudara mukmin lainnya. Oleh karena itu ia tidak boleh membeli atau menawar sesuatu yang sudah dibeli atau ditawar saudaranya dan ia tidak boleh meminang seseorang yang telah dipinang saudaranya, kecualai ia telah melepaskannya”. (Muttafaq”alaih)

  • Cara mengajukan pinangan
  1. Pinangan kepada gadis atau janda yang sudah habis masa iddahnya boleh dintakan secara terang-terangan
  2. Pinangan kepada janda yang masih ada dalam masa iddah talak bain atau iddah ditinggal wafat suami tidak boleh dinyatakan secara terang-terangan. Pinangankepada mereka hanya boleh dilakukan secara sindiran saja

Allah berfirman:

“ dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginana mengawini mereka) dalam hatimu….”. (Al-Baqarah:235)

4. Mahram Nikah

Dalam ajaran Islam ada ketentuan hukum bahwa tidak setiap pasang laki-laki dan perempuan boleh dan sah melangsungkan pernikahan. Banyak diantara pasangan laki-laki dan perempuan, karena sebab-sebab tertentu mereka haram menjalin akad pernikahan. Laki-laki yang tidak boleh menikah dengan perempuan tertentu disebut mahram perempuan itu. Demikian pula sebaliknya perempuan yang tidak boleh menikah dengan laki-laki tertentu, disebut mahram laki-laki. Jadi mahram adalah orang baik laki-laki maupun perempuan yang haram dinikahi.

Adapun sebab-sebab yang menjadikan seorang perempuan menjadi haram dinikahi oleh seorang laki-laki dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

ü  Sebab-sebab haram untuk selamanya

Sebab-sebab yang menjadikan seorang perempuan haram dinikahi untuk selamanya ada tiga yaitu hubungan darah atau keturunan, hubungan mertua dan hubungan persusuan. Berikut ini diterangkan satu per-satu secara singkat, siapa-siapa mahram itu.

  • Sebab hubungan sarah atau nasab, mereka itu adalah:
  1. Ibu (termasuk nenek terus keatas, dari pihak ibi dan dari pihak bapak)
  2. Anak perempuan (termasuk cucu perempuan terus ke bawah)
  3. Saudara perempuan (baik kandung, seayah maupun seibu)
  4. Saudara perempuan bapak (bibi atau uwak) baik kandung, seayah atau seibu
4. Rukun dan Syarat Pernikahan[4]

Rukun nikah adalah unsur pokok yang harus dipenuhi untuk menjadi sahnyasuatu pernikahan suatu sistem kehidupan sosial yang sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan umat manusia di jagat raya ini. Rukun nikah adalah sebgai berikut:

  1. Calon suami
  2. Calon istri
  3. Ijab kabul (ucapan penyerahan dan penerimaan)
  4. Wali
  5. Dua orang saksi

Masing-msing rukun itu mempunyai syarat-syarat yang harus dilengkapi demi sahnya pernikahan itu.

  1. Wali dan Saksi dalam Pernikahan

1.Wali Nikah

ü  Pengertian Wali[5]

Seluruh mazhab sepakat bahwa walidalam hal pernikahan adalah “Wali Perempuan yang melakukan akad nikah dengan pengantin laki-laki sesuai dengan perempuan itu”.

ü  Kedudukan Wali

Seperti telah diterangkan bahwa wali adalah salah satu rukun nikah. Dengan demikian wali dalam prnikahan merupakan orang laki-laki yang menjadi ketergantungan sahnya pernikahan. Tidaklah sah akad nikah tanpa wali. Berdasarkan hadits Rasulullah SAW berbunyi:

“janganlah seorang perempuan mengawinkan perempuan lain dan jangan pula ia enikahkan dirinya sendiri”. (HR. Ibn Majah Dan Dawuh Quthni)

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

“tidak sah pernikhan kecuali dengan wali yang dewasa”. (HR. Asya-Syafi’i)

ü  Persyaratan Wali dan Dua Saksi[6]

Seorang wali dua saksi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  • Islam. Orang yang tidak beragama islam tidak sah menjadi wali atau saksi.

Firman Allah SWT:

“hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu)”

  • Merdeka
  • Berakal
  • Baligh[7]
  • Laki-laki, karena tersebut dalam hadits riwayat Ibnu Majah dan Daruqutni di atas[8]
  • Adil

ü  Macam-macam dan Tingkatan Wali

  • Secara garis besar wali nikah terbagi kepda dua macam yaitu wali nasab dan wali hakim. Wali nasab adalah wali dari pihak kerabat dan wali hakim adalah pejabat yang diberi hak oleh pengusaha untuk menjadi wali nikah dalam keadaan tertentu dengan sebab tertentu pula. Sebagaian ulama diantaranya ulama dalam mazhab Syafi’i, Hanbali dan Hanafi meanmbahkan orang yang memerdekakan berhak untuk mejadi wali nikah bagi budak yang dimerdekakannya jikaa tidak ada wali nasab. Pada prinsipnya hak menikahkan perempuan itu berada pada wali nasab atau yang memerdekakan (mu’tiqun). Hak berpindah kepada Hakim jika wali nasab atau memerdekakan tidak ada atau sebab lain seperti dijelaskan uraian wali hakim.
  • Wali Mujbir, menurut bahasa ialah orang yang memaksa.mujbir menurut istilah adalah wali yang berhak menikahkan perempuan tanpa terlebih dahulu meminta izin kepdanya. Diantara wali yang disebutkan diatas tadi ada yang bersetatus wali mujbir ia berhak menikahkan perempuan yang berada dalam kewaliannyatanpa izin dahulu.
  • Wali Hakim, telah dijelaskan jika wali terdekat tidak ada atau tetapi tidak memenuhi syarat maka hak menikahkan berpindah kepada wali dalam tingakata berikutnya. Jika wali itu tidak mau menikahkan (‘adol) atau ada perempuan yang tidak mempunyai wali maka akad nikah dilakukan oleh wali hakim.
  • Wali ‘Adol, ‘dol artinya enggan. Wali ‘adol adalah wali yang enggan atau menolak untuk menikahkan perempuan yang dibawah kewalianya. Para ulama sepakat bahwa wali tidak boleh menolak menikahkan perempuan yang dibawah kewaliannya jika laki-laki calon suaminya sekufu dan sanggup membayar mahar. Bila wali yang berhak itu menolak untuk menikahkan padahal laki-laki yang akan menikahkannyabitu sekufu dan sanggup membayar mahar maka wajib kewaliannya pindah tke tangan hakim.

Rasulullah SAW bersabda:

“kalau (wali-wali)itu enggan (menikahkan) maka hakim menjadi wali perempuan yang tidak mempunyai wali”. (HR. Abu Daud, Turmudzi dan Ibnu Hibban)

6. Ijab Qobul[9]

Pada uraian rukun nikah telah dikemukakan bahawa ijab kabul dalam akad nikah ialah ucapan penyerahan dan penerimaan yang dilakukan oleh wali mempelai perempuan dan pembelai laik-laki. Ijab kabul diucapkan oleh mempelai laki-laki atau sebaliknya. Ijab kabul oleh mempelai laki-laki dan kabul oleh mempelai perempuan.

Ijab kabul merupakan upacara yang dianggap sakral karena dapat menghalalkan hubungan calon kedua mempelai sebagai suami istri yang sah. Atau dengan kata lain timbang terima penyerahan mempelai perempuan kepada mempelai laki-laki bahwa anaak perempuan telah halal sebagai istrinya.

Akad baru dinyatakan sah segala konsekuensi pernikahan yang berdasarkan kepadanya baru berlaku setelah syarat-syarat berikut ini terpenuhi.[10]

  1. Tamyiz (mampu membedakan). Kedua calon suami dan istri yang akan melangsungkan akad harus mumayyiz. Artinya, kalau salah satunya gila atau terlalu kecil sehingga belum mampu membedakan, maka akad nikah tidak sah.
  2. Kesamaan majelis ijab dan qabul. Maksudnya, ijab dan qabul tidak boleh disela oleh pembicaraan lain atau sesuatu yang menurut hukum kebiasan dianggap menyimpang dan keluar dari permasalahan.
  3. Qabul tidak menyimpang dari ijab, keculi jika penyimpangan itu mengarah pada yang lebih dari yang disebutkan dalam ijab, sehingga justru menunjukan persetujuan yang lebih kuat.
  4. Setiap pihak yang melangsungkan akad mendengar ucapan lawan bicaranya denganmengerti bahwa maksud ucapannya adalah akad nikah, sehingga keduanya tidak paham betul arti setiap kata-kata yang diucapakan. Sebab, substansinya adalaah maksud dan niat.
8. Mahar[11]
  1. Pengertian

Mahar atau maskawin adalah pemberian wajib dari suami kepda istri dengan sebab pernikahan. Pemberian wajib itu bisa berupa uang , benda perhiasan atau jasa seperti mengajar Al-Qur’an.

Hukum Mahar dan Menyebut Mahar

Membyar mahar hukumnya wajib bagi laki-laki yang menikah dengan seorang perempuan. Allah berfirman:

“bayarlah mahar kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian ataau hibah tanda cinta”. (An-Nisa: 4)

Meskipun membayar mahar itu wajib hukumnya menyebutnya pada sat akad dilangsungkan hukumnya sunat. Oleh karena itu pernikahan tetap sah meskipun pada waktu akad tidak menyebutkan besarnya mahar.

  • Mahar Misil

Telah dijelaskan bahwa apabiala mahar itu tidak disebutkan pada waktu akad maka yang wajib dibayar adalah mahar misil. Maharisil yaitu mahar besarnya diukur denganbesarnya mahar yang diterima oleh saudara perempuan, bibi atau kerabat prempuan lainya yang lebih dahulu menikah. Dalam mengukur dan menetapkan besarnya mahar misil ini pada umumnya diperhitungkan juga keturunan, kecantikan, kegadisan dan sebagainya. Jadi tidak mestisama persisi dengan mahr yang diterima saudara perempuan.

  • Pelunasan Mahar

Mahar boleh dibayar secara tunai boleh juga dibayar kemudian (utang) dan boleh juga sebagian diutang. Mahar yang dibayar secara tunai boleh diserahkn sebelum akad nikah atau sesudahnya. Mahar yang diutang wajib dilunasi seleruhnya bila istri sudah dicampuri atau salah seorang dari suami istri meninggal dunia walaupun keduannya belim bercampur. Dengan demikian bila seorang suami mencerai istrinya yang pernah dicampuri sedangkan maharnya belum dilunasi maka wajib bagi suami meluni seluruh maharnya baik mahar it disebut pada waktu akad (mahar musamma) maupun tidak (mahar misil).

Apabila suami mencerai istrinya belum dicampuri jika mahar itu sudah ditentukan besarnya suami hanya wajib membayar setengah. Tetapi jika belum ditentukan besarnya suami tidak wajib membayar maharnya melainkan wajib memberikan mut”ah. Mut’ah ialah pemeberian suami kepada istri yang dicerai sebagai penghibur baginya. Memberikan mu’ah kepada istri yang dicerai hukumnya wajib jika istri itu berhak menerima mahar karena belum dicaampuri dan besar mahar belum ditentukan. Berdasarkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah: 241

“Dan bagi perempuan-perempuan yang diceraikan hendaklah diberi mut’ahmenurut cara yang patut, sebagai suatu kewajiban bagi orang yang bertakwa”. (QS.Al-Baqarah: 241)[12]

8. Walimah[13]
  1. Pengertian

Walimah makana asalnya makanan dalam pernikahan. Menurut bahasa walimah berarti pesta, kenduri atau resepsi. Walimah dalam Islam ada beberapa macam diantaranya walimah nikah (walimatul ‘urs), walimah khitan, walimah waliyah atau aqiqah, walimah safar (mau pergi atau pulang dari perjalanan jauh), walimah bina (selesai membangun), pertemuan karena musibah dan memberikan jamuan secara umum. Selain walimah nikah dan walimah musibah di negera kita secara umum waimah disebut acara Tasyakuran.

Walimatul ‘urs atau pesta pernikahan adalah pesta yang diselengarakan setelah akad nikah dengan meghdang jamuan kepada kepada para undangan sebagai pernyataan rasa syukur atas nikmat dan karunia yang diterima.

  • Hukum Walimah

Jumhur ulama berpendapat bahwa mengadakan pesta pernikahan hukumnya sunat muakkad (sangat sunat). Hal itu berdasarkan kepada sabda Rasulullah SAW:

“Adakanlah pesta walaupun hanya memotong seekor kambing!” (Hadits Muttafaq’alaih)

Demikian juga sunat hukumnya mengumumkan penyelengaraan pernikahan, berdasarkan sabda Rasulullah SAW:

“Umumkanlah pernikahan ini, selenggarakanlah akadnya di masjid dan setelah itu adakanlah pertunjukan rebana!”. (HR. Ahmad dan AT-Tirmidzi)

  • Hukum Menghadiri Walimah

Berbeda dengan hukum menyelenggarakaan pesta pernikahan yang hanya berhukum sunat saja, menghadiri pesta itu hukumnya wajib bagi orang yang diundang. Beralasan kepada hadits Nabi dibawah ini:

“jika salah seorang diantaramu diundang untuk menghadiri suatu pesta hendaklah ia menghadirinya”. (Muttafaq’alaih)

  • Waktu Pelaksanaan Walimah[14]

Walimah dilaksanakan bersamaan dengan akad atau setelahnya, atau bertepatan dengan malam pertama atau sesudahnya. Masalah ini sifatnya fleksibel sesuai kebiasaan dan tradisi. Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. mengundang para sahabat setelah melalui malam pertama dengan Zainab.

9. Macam-macam Pernikahan Terlarang[15]
  • Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah ialah pernikahan antara laki-laki dan perempuan dengan menyebutkan batas waktu tertentu ketika akad nikah misal satu minggu, satu bulan atau satu tahun dan seterusnya yang apabila telah sampai pada waktu yang telah ditetapkan maka pernikahan itu putus dengan sendirinya nikah mut’ah disebut juga nikah sementara dibatasioleh waktu waktu tertentu. Tujuan nikah ini untuk hiburan, bersenang-senag dan melampiaskan hawa nafsu semata.

  • Nikah Syighar

Para ulama Fiqh menggunakan kata syighar untuk makna menghilangkan beban mahar dari proses akad nikah. Kemudian pengertian nikah syighar adalah pernikahan dua jodoh (empat orang) dengan menjadikan kedua perempuan itu sebagai mahar masing-masing. Secara kasar niakah syighar bisadikatakan Dua orang laki-laki tukar menukar perempuan anak atau adiknya untuk dijadikan istri dengan anak perempuan Anda. Nikah Syighar merupakan salah satu bentuk perkawinan dalam adat jahiliyah.

  • Nikah Tahlil

Tahlil artinya memperbolehkan atau menghalalkan atau membolehkan atau pembolehan. Nikah Tahlil berarti nikah untuk memperbolehkan atau pembolehan yaitu pernikahan yang dilakukan seorang dengan tujuan untuk manghalalkan perempuan yang dinikahinya, dinikahi lagi oleh bbekas suaminya yang telah mentalah tiga. Laki-laki yang telah melakukan pernikah untuk tujuan itu disebut (muhallilun) dan laki-laki mantan suaminya yang telah menjatuhkan talak tiga yang dibela disebut (muhallalun lahu). Nikah tahlil hukumnya haram.

Apabila laki-laki yang kedua itu menikahiperempuan itu bukan untuk tujuan menghalalkan dinikahi oleh bekas suaminya yang pertama melainkan bertujuan untuk memina rumah tangga sebagaimana perintah agama dan mengikuti sunah Rasul maka pernikahan tidak dinamakan nikah tahlil dan hukumnya sah.

  • Pernikahan Silang

Dalam pembahasan mengenai hukum pernikahan silang yaitu orang islam menikah dengan orang yang tidak beragama Islam. Dapat dikelompokkan meenjadi dua bagian yaitu laki-laki muslim yang menikah dengan perempuan non muslim dan perempuan muslim yang menikah dengan laki-laki non muslim. Hukum laki-laki muslim yang menikah dengan perempuan non muslim ada dua macam yaitu:

  • Laki-laki muslim haram menikahi wanita non muslim berdasarkan firman Allah:

“Jangan kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak wanita yang mukmin lebih baik daripada wanita yang musyrik walaupun ia memikaat hatimu….”(Al-Baqarah:221)

  • Wanita muslim haram nikah dengan laki-laki non muslim.

2. Perceraian

Perceraiaan antara suami istri itu diperbolehkan namun merupakan  tindakan terakhir dan pekerjaan yang boleh, tapi dibenci Allah. Nabi SAW bersabda:

“Dari Umar ra Dari Rasululllah saw beliau bersabda perbuatan halal yang paling dibenci allah adalah perceraian” (HR. Abu Daud dan Hakim)

Didalam Islam putusnya perceraian itu secara garis besar dapat dikelompokan menjadi 4 yaitu:

  1. Salah satu dari suami istri meninggal
  2. Khulu’
  3. Talak
  4. Fasakh

Dari keempat macam bentuk putusnya pernikahan tersebut yang akan dibahas lebih lanjut adalah Talak.

1.Talak

  • Pengertian dan hukumnya[16]

Talak artinya melepasakan ikatan. Dalam hubungannya dengan ketentuan hukum perkawian, talak berarti lepasnya ikatan pernikahan dengan ucapan talak atau lafal lain yang mkasudnya sama dengan talak. Talak adalah hak suami, artinya istri tidak bisa melepaskan diri dari ikatan pernikahan kalau tidak dijatuhi talak oleh suaminya.

Talak itu menurut hukum asalnya makruh. Demikian pendapat ulama Syafi’iah dan Hanabilah. Mereka beralasan dengan sabda rasulullah SAW tentang perbuatan halal yang paling di benci diatas. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa pada dasarnya talak adalah haram. Mereka beralasan dengan sabda rasulullah :

Artinya ; “Allah mengutuk orang yang kawin hanya maksud menyicipi dan sering cerai istri”

Disamping makruh sebagai hukum asalnya talak dapat menjadi wajib, sunah, atau haram karena alasan-alasan tertentu ;

  • Wajib jika antara suami istri sering terjadi pertengkaran dan sudah diatasi dengan hakim atau wasit ( juru damai ) dari kedua belah pihak, namun proses perdamaian tidak berhasil mendamaikan lagi.
  • Sunah bila suami tidak sangup lagi memberi nafkah atau istri tidak dapat menjaga kehormatannya.
  • Haram bila talak diperlakukan dan justru perceraian akan membawa kerugian bagi kedua belah pihak.
  1. Rukun dan Syarat Talak

       Rukun talak ada 3 yaitu suami,istri,dan ucapan talak sebagaimana ulama ada yang menambahkan suatu rukun lagi yaitu saksi. Syarat masing-masing rukun tersebut adalah sebagai berikut ;

  • Suami ( yang menjatuhkan talak )
  1. Ada ikatan pernikahan yang sah dengan istrinya
  2. baligh (dewasa )
  3. berakal
  4. tidak di paksa ( keinginan sendiri )
  • Istri ( yang di talak )

Perempuan yang di jatuhkan talak adalah perempuan yang berada pada salah satu keadaan berikut ;

  1. Mepunyai ikatan pernikahan yang sah dengan suami yang menjatuhkan talak.
  2. Masih dalam masa iddah talak raj’i yang di jatuhkan sebelumnya.
  • Ucapan talak

        Lafal yang di gunakan dalam talak ini meliputi ucapan yang keluar dari ucapan lisan atau isyarat ;

  1. Talak dengan ucapan
  2. Sarih ( tegas ) yaitu kata-kata yang tidak dapat diartikan lain kecuali talak.
  3. Kinayyah ( sendirian ) yaitu kata-kata kalimat yang dapat berati talak dapat berati lain.
  4. Talak dengan tulisan dapat dijatuhkan juga dengan tulisan walaupun suami dapat bicara.
  5. Talak dengan syarat hanya berlaku bagi orang yang tidak dapat bicara (bisu) dan tidak dapat membaca dan menulis.
  • Saksi.

        Sebagian besar ulama bahwa saksi tidak diperlukan dalam menjatuhkan talak karena talak adalah hak suami.

  1. Macam-macam talak
  • Talak ditinjau dari segi jumlah
  1. Talak satu yaitu talak yang pertamakali dijtuhkan dan hanya dengan satu talak.
  2. Talak dua yaitu talak yang dijatuhkan untuk yang kedua kalinya atau untuk pertama kali tetapi dengan dua talak sekaligus.
  3. Talak tiga yaitu talak yang dijatuhkan untuk yang ketiga kalinya atau untuk pertama kali tetapi tiga talak sekaligus.
  • Talak ditinjau dari segi keadaan istri

              Ditinjau dari segi kedaan istri ketika suami menjatuhkan talak kepadanya talak terbagi menjadi 3 macam;

  1. Talak sunah yaitu talak yang dijatuhkan kepada istri yang pernah dicampuri ketika ia ;
  • Dalam keadaan suci dan pada waktu suci belum dicampuri
  • Dalam keadaan hamil dan sudah jelas hamilnya
  1. Talak bid’ah yaitu talak yang dijatuhkan kepada istri yang pernah dicampuri ketika ia ;
  • Dalam keadaan haid
  • Dalam keadaan suci tetapi pada waktu suci itu sudah dicampuri
  1. Talak bukan sunah dan bukan bid’ah yaitu talak yang dijatuhkan kepada istri yang ;
  • Belum pernah dicampuri
  • Tidak berdarah haid karena masih kecil atau sudah berhenti masa iddahnya.
  • Talak ditinjau dari segi kebolehan rujuk atau kawin kembali
  1. Talak ra’i yaitu talak yang boleh rujuk kembali sebelum mas iddany berakhir. Talak satu dan talak dua kepada istri yang sudah pernah dicampuri.
  2. Talak bain yaitu talak yang menghalangi suami untuk rujuk kembali. Talak bain ada dua macam:
  • Talak bain kubra yaitu talak tiga. Pada talak bain kubra ini suami tidak boleh rujuk dan tidak boleh menikah lagi sebelum istrinya yang tertalak itu nikah dengan suami lain dan sudah dicampuri kemudian diceraikan suami keduan.
  • Talak bain sugra yaitu talak yang tidak boleh dirujuk lagi tetapi mantan istri itu boleh dinikahi kembali akad dan maskawin baru dan perempuan itu tidak harus kawin dengan suami lain.
  • Talak ditinjau dari segi cara menjathkannya
  1. Talak Ghairul Mu’allaq yaitu talak yang tidak dikaitkan dengan sesuatu yang lain atau misalnya kata-kata suami kepada istrinya Engkau telah saya talak.
  2. TalakMu’allaq yaitu talak yang dikaitkan dengan suatu syarat tertentu. Talak muallaq ini jatuh ketika syarat yang disebutkan itu terwujud. Talak muallaq ini jatuh ketika syarat yang disebutkan itu terwujud. Misalnya suami bberkata Eangkau tertalak apabila engkau meninggalakn shalat atau Engkau tertalak apabila aku tidak memberimu uanag belanja sebulan. Selanjutnya talak itu jatuh pada saat istrinya meninggalkan shalat atau genap sebulan lamanya suaminya itu tidak memberi uang belanja. Persyaratan yang dikaitkan dengan jatuhnya talak ini disebut ta’liq talaq.
  1. Undang-uandang dan Hukum Perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia[17]

Undang-undang perkawinan di indonesia ialah UU RI No.1 tahun 1974 tentang perkawinan terdiri 14 bab dan terbagi 67 pasal. Isi masing-masing  bab itu secara garis besar  adalah sebagai berikut ;

  1. Bab I; dasar perkawinan,berisi ketentuan mengenai ;
    1. Pengertian dan tujuan perkawinan
    2. Sahnya perkawinan
    3. Pencatatan perkawinan
    4. Asas monogami dalam perkawinan
  2. Bab II; syarat-syarat perkawinan,berisis ketentuan mengenai ;
    1. Persetujuan kedua calon mempelai
    2. Izin kedua orang tua
    3. Pengecualian persetujuan kedua calon mempelai dan izin kedua orang tua
    4. Batas umur perkawinan
    5. Larangan kawin
    6. Jangka waktu tunggu
    7. Tata cara pelaksanaan perkawinan
  3. Bab III; pencegahan perkawinan, yang berisi tentang ;
    1. Pencegahan perkawinan
    2. Penolakan perkawinan
  4. Bab IV; batalnya perkawinan,yang berisi ketentuan tentang dapat dibatalkanya suatu perkawinan, pihak yang dapat mengajukan pembatalan dan ketentuan-ketentuan lain yang berkenaan dengan perkawinan
  5. Bab V; peranjian perkawinan berisi ketentuan tentang dapat diadakanya perjanjian tertulis pada waktu atau sebelum perkawinan oleh kedua pihak atas persetujuan bersama dan mengenai pengesahan,mulai berlakunya serta kemungkinana perubahan perjanjian tersebut
  6. Bab VI; hak dan kewajiban suami istri yang berisi ketentuan tentang hak dan kewajiban suami istri sendiri-sendiri  atau bersama
  7. Bab VII; harta benda dalam perkawinan yang berisi tentang ketentuan harta benda bawaan masing-masing
  8. Bab VIII; putusnya perkawinan serta akibatnya yang berisi ketentuan putusnya perkawinan dan akibat-akibatnya
  9. Bab IX; kedudukan anak berisi tentang  kedudukan anak-anak yang sah dan dilahirkan diluar pernikahan
  10. Bab X; hak dan kewajiban antara orang tua dan anak yang berisi kententuan tentang hak dan kewajiban orang tua dan hak kewajiban anak
  11. Bab XI; perwalian, yang berisi ketentuan mengenai perwalian bagi anak yang belum mencapai umur 18 tahun dan tidak berada dibawah kekuasaan orang tua
  12. Bab XII; ketentuan-ketentuan lain
  13. Bab XIII; ketentuan peralihan
  14. Bab XIV; ketentuan penutup

BAB III

PENUTUPAN

1.Kesimpulan

Pernikahan adalah akad yang menghalalkan antara laki-laki dan perempuan dengan akad menikahkan atau mengawinkan. Kata nikah nikaahun  atau pernikahan sudah menjadi kosa kata bahasa indonesia sebagai padanan kata perkawinanzawaajun. Perkawinan merupakan sunnatulah atau hukum alam yang umun berlaku baik bagi manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan.

Hukum pernikahan ditinjau dari segi hukum syar’i ada lima macam ialah sunnah, makruh, wajib, haram dan mubah.

Talak artinya melepasakan ikatan. Dalam hubungannya dengan ketentuan hukum perkawian, talak berarti lepasnya ikatan pernikahan dengan ucapan talak atau lafal lain yang mkasudnya sama dengan talak. Talak adalah hak suami, artinya istri tidak bisa melepaskan diri dari ikatan pernikahan kalau tidak dijatuhi talak oleh suaminya. Dan talak itu menurut hukum asalnya makruh.

Undang-undang perkawinan di indonesia ialah UU RI No.1 tahun 1974 tentang perkawinan terdiri 14 bab dan terbagi 67 pasal.

2. Saran

Demikianlah makalah tentang “Pernikahan dan Perceraian” yang dapat kelompok kami sampaikan. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan banyak kesalahan. Untuk itu kami mohon maaf dan kritikannya yang membangun untuk perbaikan makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini bisa bermanfaat. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

[1]Khamzah, M dkk. Modul Hikmah. Hlm2.

[2] Khamzah, M dkk. Modul Hikmah. Hlm 3.

[3] Khamzah, M, dkk. Modul Hikmah. Hlm 4.

[4] Khamzah, M,dkk.Modul Hikmah.hlm 5.

[5][5] Khamzah, M,dkk.Modul Hikmah.hlm 5.

[6] Khamzah,M,dkk.Modul Hikmah.hlm6

[7] Sabiq, Sayyid.2008.Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq Jld 2.hlm291

[8] Fiqh Islam.

[9] Khamzah,M,dkk.Modul Hikmah.hlm 7.

[10] Sabiq, Sayyid.2008.Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq jld 2.hlm 187

[11] Khamzah,M,dkk.Modul Hikmah.hlm 7&8

[12] Ar-Rahim Al-Qur’an dan Terjemahan.

[13]Khamzah,M,dkk.Modul Hikmah.hlm 8.

[14] Sabiq, Sayyid.2008.Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq jld 2.hlm 413

[15] Khamzah,M,dkk.Modul Hikmah.hlm 9.

[16] Khamzah,M,dkk.Modul Hikmah.hlm 11.

[17] Khamzah,M,dkk.Modul Hikmah.hlm 20.