Contoh Makalah Shalat Fardhu dan Shalat Sunnat

Contoh Makalah Shalat Fardhu dan Shalat Sunnat

Contoh Makalah Shalat Fardhu dan Shalat Sunnat

Makalahkita.com – Contoh Makalah Shalat Fardhu dan Shalat Sunnat yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

KATA PENGANTAR

Puji Syukur hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kasih sayang Nya dan meluangkan waktu kepada kami untuk menyelesaikan makalah Pendidikan Agama Islamyang  berjudul “Shalat Fardhu dan Shalat Sunnat”.

Makalah tentang Shalat Fardhu dan Shalat Sunat ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Agama Ialam. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi lebih jauh tentang Shalat Fardhu dan Shalat Sunnat.

Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal itu dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan kami. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Akhir kata, kami memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan.

Liverpool, Oktober 2012

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………          i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………..         ii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………………………………

1.Latar Belakang

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………………………………..         1

  1. Shalat Fardhu……………………………………………………………………………………………..         1
  2. Shalat Sunnat……………………………………………………………………………………………..         7
  3. Interpretasi…………………………………………………………………………………………………        30

BAB III PENUTUP …………………………………………………………………………………………………….

Kesimpulan………………………………………………………………………………………………..        30

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………….        32

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Shalat merupakan rukun islam yang kedua. Jadi, bagi siapapun yang hidup di dunia ini yang mau dirinya di sebut dengan sebutan orang islam dan mukmin sejati maka harus melakukan shalat yang telah di tetapkan oleh syari`at sebagaimana firman-Nya dalam al- qur`an: واقيموالصلاة……
Apakah shalat kita semua sudah benar sesuai dengan syarat- suart dan rukunnya? Apakah kita semua sudah mengetahui shalat yang sesuai dengan syari`at? Yaitu shalat yang sesuai dengan apa yang pernah di lakukan oleh nabi besar Muhammad saw. Sehingga pada kesempatan kali Ini pemakalah tertarik kuntuk membahas sifat- sifat shalat yang telah dilakukan oleh rasululah saw. Sehingga kita semua dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari- hari kita. Dan tidak Cuma taklid buta. Sehingga diharapkan setelah membaca makalah ini diharapkan bagi semua ntuk dapat memahami, secara jelas dan rinci tata shalat sesuai tuntunan rasulullah saw. Sekaligus kita nmengetahui tata cara shalat yang menyimpang dari tuntunan rasulullah saw.Marilah kita ikuti tata cara shalat sesuai tuntunan rasululah saw dan kita tinggalkan tata shalat yang menyimpang dari tuntutannya.

B.    RUMUSAN MASALAH

1.    Pengertian Dan Dasar Hukum Shalat Fardhu/Wajib
2.    Syarat Dan Rukunnya
3.    Hal-Hal Yang Membatalkan Shalat
4.    Shalat Jamaah Dan Shalat Jum`At
5.    Sanksi Hukum Bagi Yang Meninggalkan Shalat
6.    Pendapat Ulama

BAB II

PEMBAHASAN

Shalat menurut etimologi berarti doa1, menurut syara’ menyembah Allah Ta’ala dengan beberapa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.2

1.Shalat Fardhu

Salat Fardu  adalah salat dengan status hukum Fardu, yakni wajib dilaksanakan. Salat Fardhu sendiri menurut hukumnya terdiri atas dua golongan yakni :

1.Fardhu ‘Ain yakni yang diwajibkan kepada individu. Termasuk dalam salat ini adalah salat lima waktu dan salat Jumat untuk pria.

2.Fardhu Kifayah yakni yang diwajibkan atas seluruh muslim namun akan gugur dan menjadisunnat bila telah dilaksanakan oleh sebagian muslim yang lain. Yang termasuk dalam kategori ini adalah salat jenazah dan shalat gaib.

Salat lima waktu adalah salat fardhu (salat wajib) yang dilaksanakan lima kali sehari. Hukum salat ini adalah Fardhu ‘Ain, yakni wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang telah menginjak usia dewasa (pubertas), kecuali berhalangan karena sebab tertentu.

Salat lima waktu merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Allah menurunkan perintah salat ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Kelima salat lima waktu tersebut adalah:

1.Subuh, terdiri dari 2 raka’at. Waktu Shubuh diawali dari munculnya fajar shaddiq, yakni cahaya putih yang melintang di ufuk timur. Waktu shubuh berakhir ketika terbitnya Matahari.

Niat nya: “Ushalli Fardladh shub-hi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (makmuman/imamam) lillahi ta’ala.” lalu takbiratur ihram : Allahu Akbar.

Artinya : “Aku sengaja shalat fardu subuh dua rakaat menghadap kiblat (makmum/imam) karena Allah”

2.Zuhur, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Zhuhur diawali jika Matahari telah tergelincir (condong) ke arah barat, dan berakhir ketika masuk waktu Ashar.

Niatnya : “Ushalli Fardlal dzuhri arba’a rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (makmuman/imamam) lillahi ta’ala.” lalu takbiratur ihram : Allahu Akbar. Artinya : “Aku sengaja shalat fardu Dzuhur empat rakaat menghadap kiblat (makmum/imam) karena Allah

3.Asar, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Ashar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Khusus untuk madzab Imam Hanafi, waktu Ahsar dimulai jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar berakhir dengan terbenamnya Matahari.

Niatnya : “Ushalli Fardlal ‘ashri arba’a rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (makmuman/imamam) lillahi ta’ala.” lalu takbiratur ihram : Allahu Akbar. Artinya : “Aku sengaja shalat fardu Ashar empat rakaat menghadap kiblat (makmum/imam) karena Allah

4.Magrib, terdiri dari 3 raka’at. Waktu Maghrib diawali dengan terbenamnya Matahari, dan berakhir dengan masuknya waktu Isya.

Niatnya : “Ushalli Fardlal Maghribi tsalatsa rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (makmuman/imamam) lillahi ta’ala.” lalu takbiratur ihram : Allahu Akbar. Artinya : “Aku sengaja shalat fardu Maghrib tiga rakaat menghadap kiblat (makmum/imam) karena Allah

5.Isya, terdiri dari 4 raka’at. Waktu Isya’ diawali dengan hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit barat, dan berakhir hingga terbitnya fajar shaddiq keesokan harinya. Menurut ImamSyi’ah, Salat Isya’ boleh dilakukan setelah mengerjakan Salat Maghrib.

. Niatnya : “Ushalli Fardlal Isyaa-i arba’a rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an (makmuman/imamam) lillahi ta’ala.” lalu takbiratur ihram : Allahu Akbar. Artinya : “Aku sengaja shalat fardu Isya’ empat rakaat menghadap kiblat (makmum/imam) karena Allah

Khusus pada hari Jumat, Muslim laki-laki wajib melaksanakan salat Jumat di masjidsecara berjamaah (bersama-sama) sebagai pengganti Salat Zhuhur. Salat Jumat tidak wajib dilakukan oleh perempuan, atau bagi mereka yang sedang dalam perjalanan (musafir).

2. Waktu salat

Waktu salat sangat berkaitan dengan peristiwa peredaran semu Matahari relatif terhadap bumi. Pada dasarnya, untuk menentukan waktu salat, diperlukan letak geografis, waktu (tanggal), dan ketinggian. urutan waktu salat (dari pagi sampai malam) yaitu imsak, Subuh, syuruq, Zuhur, Asar, Maghrib dan Isya.

Syuruq

Syuruq adalah terbitnya Matahari. Waktu syuruq menandakan berakhirnya waktu Subuh. Waktu terbit Matahari dapat dilihat pada almanak astronomi atau dihitung dengan menggunakan algoritma tertentu.

Zuhur

Waktu istiwa’ (zawaal) terjadi ketika Matahari berada di titik tertinggi. Istiwa’ juga dikenal dengan sebutan “tengah hari” (bahasa Inggris: midday/noon). Pada saat istiwa’, mengerjakan ibadah salat (baik wajib maupun sunah) adalah haram. Waktu Zuhur tiba sesaat setelah istiwa’, yakni ketika Matahari telah condong ke arah barat.Biasanya pada jadwal salat, waktu Zuhur adalah 5 menit setelah istiwa’.

Asar

Menurut mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali, waktu Asar diawali jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri. Sementara madzab Imam Hanafimendefinisikan waktu Asar jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda itu sendiri.

Magrib

Waktu Magrib diawali ketika terbenamnya Matahari. Terbenam Matahari di sini berarti seluruh “piringan” Matahari telah “masuk” di bawah horizon (cakrawala).

Isya dan Subuh

Waktu Isya didefinisikan dengan ketika hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit, hingga terbitnya fajar shaddiq. Sedangkan waktu Subuh diawali ketika terbitnya fajar shaddiq, hingga sesaat sebelum terbitnya Matahari (syuruq).

Imsak

Ketika menjalankan ibadah puasa, waktu Subuh menandakan dimulainya ibadah puasa. Untuk faktor “keamanan”, ditetapkan waktu Imsak, yang umumnya 5-10 menit menjelang waktu Subuh.

3. Syarat-syarat wajibnya Shalat Fardhu

  1. Muslim,orang kafir tidak diwajibkan shalat karena didahulukannya dua kalimat syahadat.
  2. Berakal, shalat tidak diwajibkan pada orang gila.
  3. Baligh, shalat tidak diwajibkan pada anak kecil hingga ia baligh.
  4. Waktunya telah tiba.
  5. Bersih dari darah haid dan darah nifas.

4. Syarat-syarat sahnya shalat

  1. Menutup aurat.Aurat laki-laki antara tali pusar hingga kedua lutut, sedangkan aurat pada wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.
  2. Bersih dari hadats kecil, maksudnya dengan wudhu.
  3. Menghadap kiblat, sebab shalat tidak sah tanpa menghadap kiblat  sesuai firman Allah Swt.  Yang artinya : “Dan dimana saja kalian berada,  palingkanlah muka kalian kearahnya.” (Al-baqarah: 144).
  4. Mengetahui shalat fardhu dan shalat sunnat.
  5. Menjauhi semua yang membatalkan wudhu dan shalat.

5. Rukun-rukun dalam melaksanakan shalat fardhu

  1. Berdiri bagi yang mampu
  2. Niat
  3. Takbiratul ihram
  4. Membaca surat Al-Fatihah
  5. Ruku’ dengan thuma’ninah
  6. I’tidal dengan thuma’ninah
  7. Sujud 2 kali dengan thuma’ninah
  8. Duduk antara 2 sujud
  9. Duduk yang akhir
  10. Tahiyat akhir
  11. Shalawat atas  nabi pada tasyahud akhir
  12. Salam pertama
  13. Tertib 2

6. Hal-hal yang disunahkan dalam shalat :

  1. Sunnat ab’adh

1)      Tasyahud awal serta duduknya.

2)      Shalawat atas nabi pada tasyahud awal.

3)      Shalawat atas keluarga nabi pada tasyahud akhir.

4)      Qunut.

5)      Shalawat  atas nabi dan keluarganya dalam akhir qunut.

  1. Sunnat hai’at

Mengangkat kedua belah tangan hingga sejajar dengan kedua belah telinga pada saat ketika takbiratul ihram, takbir ruku’, i’tidal, dan berdiri dari tasyahud awal.

1)      Meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri.

2)      Membaca doa iftitah.

3)      Membaca ta’awuz (sebelum membaca al-fatihah).

4)      Membaca amin setelah fatihah.

5)      Membaca surat al-qur’an(ayat-ayat pendek)setelah selesai al-fatihah.

6)      Mengeraskan suara ketika membaca al-fatihah.

7)      Membaca takbir ketika berpindah dari rukun-rukun.

8)      Membaca sami’ allahu liman hamida ketika bangkit dari ruku’.

9)      Membaca tasbih dalam ruku’ kesujud.

10)  Meletakkan kedua telapak tangan diatas paha ketika duduk tasyahud awal  dan akhir.

11)  Duduk iftirasy pada semua duduk.

12)  Duduk tawarruk.

13)  Membaca doa tasyahud pada tasyahud akhir.

14)  Salam yang kedua.

15)  Khusyu’ tawadhu dalam shalat.

7. Yang membatalkan shalat:

  1. Berhadats, yakni apa saja yang keluar dari dubul dan qubul.
  2. Bercakap-cakap dengan sengaja selain dari bacaan shalat.
  3. Terbuka aurat.
  4. Bergerak tiga kali berturut-turut.
  5. Terkena najis.
  6. Makan minum sedikit dengan sengaja atau makan minum banyak walaupun lupa.
  7. Menghadap kelain kiblat.
  8. Langkah atau memukul yang berlebihan.
  9. Tertawa terbahak-bahak.
  10. Menambah rukun fi’li dengan sengaja.Misalnya menambah raka’at dan sebagainya.
  11. Makmum mendahului imam sampai dua rukun.
  12. Berubah niat (berniat membatalkan shalat).
  13. Murtad (berpaling dari agama islam).

8. Hal-hal yang diperbolehkan dalam shalat:

  1. Bergerak sederhana seperti membetulkan pakaian.
  2. Berdehem ketika dibutuhkan.
  3. Membetulkan orang yang ada di shaf.
  4. Menguap dan meletakkan tangan di mulut.
  5. Membaca tasbih untuk imam jika ia lupa.
  6. Menghalangi orang-orang yang berjalan di depannya.
  7. Membunuh ular, dan kalajengking yang menyerangnya ketika shalat.
  8. Menggaruk badan dengan tangan, karena ini termasuk gerakan yang sederhana yang ditelorir.
  9. Memberi isyarat dengan telapak tangan terhadap orang yang memberi ucapan salam.

2. Shalat Sunah

Shalat sunah disebut juga salat an-nawâfil atau at-tatawwu’. Yang dimaksud dengan an-nawâfil ialah semua perbuatan yang tidak termasuk dalam fardu. Disebut an-nawâfil karena amalan-amalan tsb menjadi tambahan atas amalan-amalan fardu.Menurut Mazhab Hanafi, shalat an-nawâfil terbagi atas 2 macam, yaitu shalat masnûnah dan shalat mandûdah.

Shalat masnûnah ialah shalat-shalat sunah yang selalu dikerjakan Rasulullah, jarang ditinggalkan, sehingga disebut juga dengan shalat mu’akkad (dipentingkan).
Shalat mandûdah adalah shalat-shalat sunah yang kadang dikerjakan oleh Rasulullah, kadang-kadang juga tidak dikerjakan, sehingga disebut dengan shalat ghairu mu’akkad (kurang dipentingkan).

Salat sunah menurut hukumnya terdiri atas dua golongan yakni:

  1. Muakad, adalah salat sunah yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seperti salat dua hari raya, salat sunah witir dan salat sunah thawaf.
  2. Ghairu Muakad, adalah salat sunah yang dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti salat sunah Rawatib dan salat sunah yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan, seperti salat kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana).
  1. Pembagian Menurut Pelaksanaan

Salat sunah ada yang dilakukan secara sendiri-sendiri (munfarid) diantaranya:

  1. Shalat wudlu’
  2. Shalat Tahiyyatul Masjid
  3. Shalat Taubat
  4. Shalat Dluha
  5. Shalat Tahajjud
  6. Shalat Hajat
  7. Shalat Tasbih
  8. Shalat Awwabin
  9. Shalat Musafir
  10. Shalat Rowatib
  11. Shalat Istikhoroh
  12. Shalat Muthlaq

Sedangkan yang dapat dilakukan secara berjamaah antara lain:

  1. Salat Tarowih
  2. Shalat Dua Hari Raya
  3. Shalat Gerhana
  4. Shalat Istisqo’
  5. Shalat Witir
  1. Macam-macam shalat sunnat :
  1. Shalat sunnat wudhu’

Shalat sunat wudhu atau yang disebut juga dengan shalat syukrul wudhu adalah shalat yang dikerjakan setelah berwudhu’.Tata cara pelaksanaannya adalah:

1)      Sehabis berwudhu kita disunahkan membaca doa:

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdauu laa syarika lahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu. Allahummaj’alnii minat-tawwaabiina waj’alnii minal mutathahiriina waj’alnii min ‘ibaadikash-shaalihiin.

Artinya: “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang ahli taubat, dan jadikanlah aku orang yang suci dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang saleh.”

2)      Selesai membaca doa tersebut,lalu melaksanakan shalat sunah wudhu 2 rakaat.

Niatnya:Ushallii sunnatal-wudhuu’I rak’ ataini lillaahi ta’aalaa.
Artinya: ”Aku niat shalat sunah wudhu 2 rakaat karena Allah.”

3)      Shalat ini dikerjakan 2 rakaat sebagaimana shalat yang lain dengan ikhlas sampai salam.

  1. Shalat Tahiyyatul Masjid

Shalat Tahiyyatul Masjid adalah Shalat yang dilakukan sebagai penghormatan terhadap masjid, dilakukan oleh orang yang masuk ke dalam mesjid sebelum ia duduk.dikerjakan dua raka’at.cara pengerjaannya sama dengan sholat sunat yang lainnya yang berbeda cuma niatnya.

  1. Shalat Taubat

Shalat Taubat adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang muslim jika ingin bertaubat terhadap kesalahan yang pernah ia lakukan. Shalat taubat dilaksanakan dua raka’at dengan waktu yang bebas kecuali pada waktu yang diharamkan untuk melakukan shalat.

Tata Cara Shalat Taubat

1)      Jumlah rakaatnya 2, 4 sampai 6 rakaat.

2)      Niat shalat taubat:

“Ushallii sunnatat taubati rak’ataini lillaahi ta’aalaa.”

Artinya: “Aku niat shalat sunat taubat dua rakaat karena Allah.”

3)      Doanya:

“Astagfirullahal azhiim al ladzi laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaihi taubata ‘abdin zhaalimin laa yamliku li nafsihi dharran wa laa naf’an wa laa mautan wa laa hayaatan wa laa nusyuuraa.”


Artinya:”Saya memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, aku mengaku bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, Tuhan yang hidup terus selalu terjaga. Aku memohon taubat kepada-Nya, selaku taubatnya seorang hamba yang banyak berdosa, yang tidak mempunyai kekuatan untuk berbuat mudharat ataupun manfaat, untuk mati atau hidup maupun bangkit nanti.

  1. Shalat Dhuha

Shalat Dhuha adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang muslim ketika matahari sedang naik. Kira-kira, ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhur. Jumlah raka’at shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at. Dan dilakukan dalam satuan 2 raka’at sekali salam.

Tata Cara Shalat Dhuha:

1)      Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Asy-Syams

2)      Pada rakaat kedua membaca surat Adh-Dhuh

3)      Niat shalat dhuha adalah:
“Ushallii sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa.”

Artinya: “Aku niat shalat sunat dhuha dua rakaat, karena Allah.

4)      Doa yang dibaca setelah shalat dhuha:

“Ya Allah, bahwasanya waktu Dhuha itu adalah waktu Dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, dan perlindungan itu, perlindungan-Mu”. “Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi , keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh”.

Rahasia dan Keutamaan shalat Dhuha

Hadits Rasulullah saw yang menceritakan tentang keutamaan shalat Dhuha, di antaranya:

1)      Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia

Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muahammad saw bersabda:

“Di setiap sendi seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala” (HR Muslim).

2)      Ghanimah (keuntungan) yang besar

Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata:
“Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang. Nabi saw berkata:

“Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya).

Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya? Mereka menjawab; “Ya! Rasul berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.” (Shahih al-Targhib: 666).

3)      Sebuah rumah di surga

Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw:

“Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga.” (Shahih al-Jami`: 634).

4)      Memperoleh ganjaran di sore hari

Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata:

“Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339).

Dalam sebuah riwayat juga disebutkan:

“Innallaa `azza wa jalla yaqulu: Yabna adama akfnini awwala al-nahar bi’arba`i raka`at ukfika bihinna akhira yaumika”

Artinya:

Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berkata: “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka aku akan mencukupimu di sore harimu

5)      Pahala Umrah

Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah….(Shahih al-Targhib: 673).

Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna” (Shahih al-Jami`: 6346).

6)      Ampunan Dosa

“Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi)

  1. Shalat Tahajud

Shalat Tahajud  adalah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu malam, dimulai selepas isya sampai menjelang subuh.

Jumlah rakaat pada shalat ini tidak terbatas, mulai dari 2 rakaat, 4, dan seterusnya.

1)      Pembagian Keutamaan Waktu Shalat Tahajud

a) Sepertiga malam, kira-kira mulai dari jam 19.00 samapai jam 00

b) Sepertiga kedua, kira-kira mulai dari jam 22.00 sampai dengan jam 01.00

c) Sepertiga ketiga, kira-kira dari jam 01.00 sampai dengan masuknya waktu

2)      Niat shalat tahajud

“Ushallii sunnatat-tahajjudi rak’ataini lillaahi ta’aalaa
Artinya:

“Aku niat shalat sunat tahajud dua rakaat karena Allah”

3)      Doa yang dibaca setelah shalat tahajud:

“Rabbanaa aatina fid-dun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa adzaaban-naar.”

Artinya:

“Ya Allah Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa api neraka.”

Dalam hadits Bukhari dinyatakan, bahwa Rasulullah jika bangun dari tidurnya di tengah malam lalu bertahajud membaca doa:
“Allahumma lakal hamdu anta qayyimus samaawaati walardhi wa man fiihin, wa lakal hamdu laka mulkus samaawaati wal ardhi wa man fiihin, wa lakal hamdu nuurus samaawaati wal ardhi, wa lakal hamdu antal haqqu wa wa’dukal-haqqu wa liqaa’uka haqqun wa qauluka haqqun wal-jannatu haqqun, wan naaru haqqun, wan-nabiyyuuna haqqun, wa Muhammadun shallallaahu ‘alaihi wa sallama haqqun, waass’atu haqqun. Allahumma laka aslamtu, wa bika aamantu, wa ‘alaika tawakaltu wa ilaika anabtu wa bika khaashamtu, wa ilaika haakamtu, faghfir lii maa qaddamtu, wa maa akhkhartu wa maa asrartu, wa maa a’lantu antal muqaddimu wa antal mu’akhiru la ilaaha illa anta aula ilaaha gairuka wa laa haula quwwata illa billah.”

Artinya:

Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Engkaulah penegak langit dan bumi dan alam semesta beserta segala isinya. Bagi-Mulah segala puji, pemancar cahay langit dan bumi. Bagi-Mulah segala puji, Engakaulah yang haq, dan janji-Mu adalah benar, dan surge adalah haq, dan neraka adalah haq, dan nabi-nabi itu adalah haq, dan Nabi Muhammad adalah benar, dan hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mulah kami berserah diri (bertawakal) kepada Engkau jualah kami kembali, dan kepada-Mulah kami rindu, dan kepada engkaulah kami berhukum. Ampunilah kami atas kesalahan yang sudah kami lakukan dan sebelumnya, baik yang kami sembunyikan maupun yang kami nyatakan. Engkaulah Tuhan yang terdahulu dan Tuhan ynag terakhir. Tidak ada Tuhan melainkan Engkau Allah Rabbul alamin. Tiada daya upaya melainkan dengan pertolongan Allah.”

4)      Setelah itu, perbanyaklah membaca istigfar sebagai berikut

“Astagfirullaahal azhim wa atuubu ilaiih”
Artinya:

“Kami memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung dan kami pun bertaubat kepada-Nya”

5)      Keutamaan Shalat Tahajud

Sahabat Abdullah bin Salam mengatakan, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda:
“Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Surga dengan selamat.” (HR Tirmidzi)

Bersabda Nabi Muhammad saw:

“Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam.” (HR Muslim)

Selain itu, Allah sendiri juga berfirman,yang artinya:

“Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.” (QS Al-Isra’: 79)

Dari Jabir r.a., ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. Bersabda:

 Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR Muslim dan Ahmad)
 “Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang saleh sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.”(HR Ahmad)

6)      Kiat Mudah Shalat Malam/Qiyamullail

Agar kita diberi kemudahan bangun malam untuk melakukan shalat malam, cobalah tips-tips berikut ini:

(a) Aturlah aktivitas di siang hari agar malamnya Anda tidak kelelahan. Sehingga tidak membuat Anda tidur terlalu lelap.

(b) Makan malam jangan kekenyangan, berdoa untuk bisa bangun malam, dan jangan lupa pasang alarm sebelum tidur.

(c) Hindari maksiat, sebab menurut pengalaman Sufyan Ats-Tsauri, “Aku sulit sekali melakukan qiyamullail selama 5 bulan disebabkan satu dosa yang aku lakukan.”

(d) Ketahuilah fadhilah (keutamaan) dan keistimewaan qiyamulail. Dengan begitu kita termotivasi untuk melaksanakannya.

(e) Tumbuhkan perasaan sangat ingin bermunajat dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

(f) Baik juga jika janjian dengan beberapa teman untuk saling membangunkan dengan miscall melalui telepon atau handphone.

(g) Buat kesepakatan dengan istri dan anak-anak bahwa keluarga punya program tahajud bersama sekali atau dua malam dalam sepekan.

(h) Berdoalah kepada Allah swt. untuk dipermudah dalam beribadah kepadaNya.

f.       Shalat Hajat

Shalat Hajat adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang muslim ia memiliki hajat tertentu dan ia ingin hajat tersebut dikabulkan oleh AllahSWT.

Shalat hajat dilakukan minimal 2 raka’at dan maksimal 12 raka’at dengan salam setiap 2 rakaat. Shalat ini dapat dilakukan kapan saja asalkan tidak pada waktu-waktu yang dilarang untuk melakukan shalat.

1)      Niat shalat hajat

“Ushallii sunnatal haajati rak’aataini lillaahi ta’aala.”

Artinya:

“Aku berniat shalat hajat sunah hajat dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

2)      Doa Shalat Hajat

Setelah selesai shalat hajat, lalu membaca istigfar.

Dalam kitab Tajul Jamil lil ushul, dianjurkan setelah shalat hajat membaca istigfar 100x, seperti kalimat istigfar yang biasa atau sebagai berikut:

“Astagfirullaha rabbi min kulli dzanbin wa atuubu ilaiih.”

Artinya:

“Aku memohon ampunan kepada Tuhanku, dari dosa-dosa, dan aku bertaubat kepada-Mu”

Selesai membaca istigfar lalu membaca shalawat nabi 100x, yakni:

“Allahuma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin shalaatarridhaa wardha ‘an ashaabihir ridhar ridhaa.”
Artinya:

“Ya Allah, beri karunia kesejahteraan atas jungjunan kami Muhammad, kesejahteraan yang diridhai, dan diridailah daripada sahabat-sahabat sekalian.”

“Laa ilaha illallohul haliimul kariimu subhaanallohi robbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin. As `aluka muujibaari rohmatika wa ‘azaaima maghfirotika wal ghoniimata ming kulli birri wassalaamata ming kulli itsmin. Laa tada’ lii dzamban illa ghofartahu walaa hamman illaa farojtahu walaa haajatan hiya laka ridhon illa qodhoitahaa yaa arhamar roohimiin.”

Artinya:

 “Tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Lembut dan Maha Penyantun. Maha Suci Allah, Tuhan pemelihara Arsy yang Maha Agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Kepada-Mu-lah aku memohon sesuatu yang mewajibkan rahmat-Mu, dan sesuatu yang mendatangkan ampunan-Mu dan memperoleh keuntungan pada tiap-tiap dosa. Janganlah Engkau biarkan dosa daripada diriku, melainkan Engkau ampuni dan tidak ada sesuatu kepentingan, melainkan Engkau beri jalan keluar, dan tidak pula sesuatu hajat yang mendapat kerelaan-Mu, melainkan Engkau kabulkan. Wahai Tuhan Yang Paling Pengasih dan Penyayang.”

Setelah itu, mohonlah kepada Allah apa yang kita inginkan, insya Allah, Allah mengabulkannya. Amin.

3)      Keutamaan Shalat Hajat

Sabda Rasulullah:

“Siapa yang berwudhu dan sempurna wudhunya, kemudian shalat dua rakaat (Shalat Hajat) dan sempurna rakaatnya maka Allah berikan apa yang ia pinta cepat atau lambat.” (HR Ahmad).

Diriwayatkan dari Abu Sirah an-Nakh’iy, dia berkata, “Seorang laki-laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalan keledainya mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat, setelah itu berdoa. Dia mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya datang dari negeri yang sangat jauh guna berjuang di jalan-Mu dan mencari ridha-Mu. Saya bersaksi bahwasanya Engkau menghidupkan makhluk yang mati dan membangkitkan manusia dari kuburnya, janganlah Engkau jadikan saya berhutang budi terhadap seseorang pada hari ini. Pada hari ini saya memohon kepada Engkau supaya membangkitkan keledaiku yang telah mati ini.” Maka, keledai itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua telinganya.” (HR Baihaqi).

  1. Shalat Sunnah Tasbih

Shalat sunat tasbih adalah shalat sunat yang di dalamnya dibacakan kalimat tasbih sebanyak 300 kali.

1)      Niat shalat tasbih:

“Ushallii sunnat tasbihi rak’ataini lillaahi ta’aalaa”

Artinya:

“Aku niat shalat sunat tasbih dua rakaat, karena Allah.”

2)      Tata Cara Shalat Tasbih:

Shalat tasbih dilakukan 4 raka’at (jika dikerjakan siang maka 4 raka’at dengan sekali salam, jika malam 4 raka’at dengan dua salam ) sebagaimana shalat biasa dengan tambahan bacaan tasbih pada saat-saat berikut:

NOWaktuJml. Tasbih
1Setelah pembacaan surat al fatihah dan surat pendek saat berdiri15 kali
2Setelah tasbih ruku’ (Subhana rabiyyal adzim…)10 Kali
3 Setelah I’tidal10 Kali
4 Setelah tasbih sujud pertama (Subhana rabiyyal a’la…)10 Kali
5Setelah duduk diantara dua sujud10 Kali
6Setelah tasbih sujud kedua10 Kali
7Setelah duduk istirahat sebelum berdiri (atau sebelum salam tergantung pada raka’at keberapa)10 Kali
Jumlah total satu raka’at 75
Jumlah total empat raka’at4X7=300kali

 

Bagi setiap muslim, dianjurkan mengerjakan shalat tasbih setiap malam, bila tidak mampu maka sekali seminggu, atau sekali sebulan, atau sekali setahun, bila masih tidak bisa, maka sekurang-kurangnya sekali seumur hidup, jangan sampai ditinggalkan sama sekali.

  1. Shalat Sunnah Awwabin

Shalat sunat awwabin adalah shalat sunat yang dikejakan selesai mengerjakan shalat sunat ba’da magrib, dilakukan sebanayak 2 sampai dengan 6 rakaat.

1)      Adapun tata cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

(a) Shalat 2 rakaat dengan niat:

Ushallii ral’ataini shalaatal-awwaabiina sunnatal lillaahi ta’aallaa.

Artinya:“Aku niat shalat dua rakaat sunat awwabin, karena Allah.

(b) Sesudah membaca Fatihah pada rakaat pertama, bacalah:

surat Al-Ikhlas 6x

surat Al-Falaq 1x

surat An-Naas 1x

begitupun dengan rakaat kedua.

(c) Sehabis salam dua rakaat, maka shalat lagi 2 rakaat. Dan dibaca pada rakaat pertama dan kedua setelah Al-Fatihah mana saja surat yang dikehendaki. Niatnya, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

(d) Sesudah itu, berdiri lagi dengan niat sama seperti sebelumnya, dilaksanakan 2 rakaat, dengan bacaan pada rakaat pertama sesudah Al-Fatihah, bacalah surat Al-Kafirun dan pada rakaat kedua sesudah membaca Al-Fatihah bacalah surat Al-Ikhlas.
Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
“Barang siapa shalat 6 rakaat setelah magrib, di sela-selanya tidak berbicara kotor, maka ia mendapatkan pahala ibadah selama12 tahun.”
Kemudian beliau juga meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa shalat 20 rakaat setelah maka Allah mambangun rumah di sorga untuknya”, Tirmidzi berkata, hadist Abu Harairah “gharib” (hanya diriwayatkan seorang rawi yang tidak kuat).”

Tabrani juga meriwayatkan dari Ammar bin Yasir, Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa melakukan shalat 6 rakaat setelah maghrib, maka diampuni dosanya meskipun sebanyak ombak lautan.

  1. Shalat Musafir

Apabila seseorang hendak berpergian, sebelum meninggalkan rumah, ia dianjurkan mengerjakan solat safar dua rakaat; demikian pula sesudah tiba di rumah kembali.

Caranya sama dengan mengerjakan solat subuh, hanya niatnya berlainan, yaitu berniat solat safar sunnat kerana Allah SWT. Selesai solat berdoalah agar perjalanan diridhai, dimudahkan dan diselamatkan Allah SWT. dalam perjalanan, baik pribadi, tugas maupun keluarga yang ditinggalkan.

j.        Shalat Rawatib

Shalat Rawatib adalah shalat sunah yang dikerjakan menyertai shalat fardu. Shalat sunah ini terbagi dalam shalat mu’akkad dan ghairu mu’akkad. Adapun yang termasuk dalam shalat-shalat sunah Rawatib adalah sbg berikut:

Mu’akkad

  • dua rakaat qabla subuh
  • dua rakaat qabla zuhur
  • dua rakaat ba’da zuhur
  • dua rakaat ba’da maghrib
  • dua rakaat ba’da isya

Rincian tsb berdasarkan hadist Nabi Muhammad SAW:

“Dari Abdillah bin Umar, ia berkata: ‘Saya ingat mengenai Rasulullah SAW mengerjakan shalat dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (H.R. Bukhari Muslim).

Ghairu Mu’akkad

  • empat rakaat sebelum dan sesudah zuhur
  • empat rakaat sebelum asar
  • empat rakaat sebelum maghrib

Masing-masing berdasarkan rincian hadist-hadist berikut:

Dari Ummu Habibah: “Nabi SAW bersabda: Barangsiapa mengerjakan empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat sesudahnya maka Allah mengharamkan baginya dari api neraka.” (H.R. Tarmizi).

“Dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Allah memberi rahmat kepada orang yang mengerjakan shalat empat rakaat sebelum shalat Asar” (H.R. Tarmizi).

Hadist Nabi Muhammad SAW: “Dari Abdullah bin Mughafal, Nabi SAW bersabda: Shalatlah kamu sebelum Maghrib, shalatlah kamu sebelum Maghrib. Kemudian Nabi mengatakan yang ketiga kalinya bagi yang menghendakinya.” (H.R. Bukhari).

  1. Shalat Istikhoroh

Shalat istikhoroh adalah shalat sunnah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah agar memberikan pilihan yang lebih baik dari dua perkara (pilihan) atau lebih untuk menghapus keraguan hati dalam memilih, agar tidak menyesal dilain hari nanti.

1)      Waktu mengerjakannya:

Ialah setiap saat ada kepentingan asalkan tidak waktu yang dilarang untuk mengerjakan shalat sunnah, baik siang maupun malam hari.Namun utamanya jika dikerjakan dimalam hari sebagaimana shalat tahajud, pada sepertiga malam yang terakhir.

2)      Niat shalat Istikhoroh

“Usholli sunnatal istikhooroti rok’ataini lillaahi ta’aalaa”

Artinya:“Saya berniat shalat sunnat istikhoroh dua raka’at, karna Allah Ta’ala.”

Rasulullah s.a.w bersabda:“Tidak akan menyesal orang yang (suka) mengerjakan shalat istikhoroh dan tidak akan kecewa orang yang (suka) bermusyawarah serta tidak akan kekurangan orang yang (suka) berhemat.”

  1. Shalat Mutlak

Shalat Muthlak adalah shalat yang dikerjakan sewaktu-waktu, kecuali pada yang dilarang untuk mengerjakan shalat sunnat, misalnya sesudah shalat subuh dan shalat ashar.

1) Niat shalat mutlak:

“Usholli sunnatal Muthlaqi lillaahi ta’ala.”

Artinya:“Saya berniat shalat mutlak dua raka’at karna Allah Ta’ala.”

2) Waktu-waktu yang dilarang dalam mengerjakan shalat mutlak:

(a)  Disaat matahari akan terbit sampai naik sepenggalah (setinggi tombak).

(b) Disaat matahari berada ditengah-tengah persis sampai tergelincir kebarat     (lingsir).

(c) Disaat matahari akan terbenam sampai terbenam secara sempurna (tiba waktu maghrib).

(d)  Setelah shalat ashar sampai matahari terbenam.

(e)  Setelah shalat subuh sampai matahari naik sepenggalah (setinggi tombak).

  1. Shalat Tarowih

Shalat tarowiih adalah shalat sunnat yang dikerjakan pada malam bulan ramadhan.Waktu shalat tarowiih ialah sesudah shalat isya’ sampai terbit fajar (masuk waktu subuh).

1) Tata tertib mengerjakannya:

Dikerjakan tiap dua raka’at salam, sesudah selesai diakhiri dengan satu atau tiga raka’at. Dan bisa dikerjakan secara berjama’ah atau sendirian.

2) Niat shalat tarowiih:

“Usholli sunnatat taroowiihi rok’ataaini lillaahi ta’ala.”

Artinya:“Saya berniat shalat sunnat tarowiih dua raka’at, karena Allah Ta’ala.”

Hadist Nabi s.a.w :

 “An abii huroirota rodliyallaahu ‘anhu anna rasuulullaahi shollallaahu ‘alaihi wa sallam qoola : man qooma romadloona iimaana wahtisaaban ghufiro lahu maa taqodda ma min dzanbihi.”

Artinya:“Barang siapa bangun (malam) bulan ramadhan (untuk mengerjakan shalat), karena iman ( percaya dan mengharapkan pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosanya yang lampau.”

  1. Shalat Dua Hari Raya

Sholat hari raya adalah shalat sunnat yang dikerjakan pada kedua hari raya, yaitu: hari raya Fitri (tgl. 1 Syawal) dan hari raya Adlha (kurban tgl. 10 Dzul Hijjah).

1) Cara mengerjakannya :

Waktu shalat hari raya fitri itu, pada tanggal 1 syawal mulai terbit matahari sampai matahari tergelincir (datang waktu dhuhur). Dan shalat hari raya kurban, pada tanggal 10 djul hijjah (bulan haji) mulai terbir matahari sampai matahari tergelincir (tiba waktu dhuhur).

2) Niat shalat hari raya fithri :

“Ushollisunnata li ‘iidil fithri rok’ataini lillaahi ta’ala.”

Artinya :“Saya berniat shalat sunnat hari raya fithri dua raka’at, karena Allah Ta’ala.”

3) Niat shalat hari raya adlha :

“Usholli sunnata li ‘iidil adlha rok’ataini lillaahi ta’ala.”

Artinya :“ Saya berniat shalat sunnat hari raya adlha dua raka’at, karena Allah Ta’ala.”

  1. Shalat Dua Gerhana

Shalat dua gerhana adalah shalat yang dikerjakan karena ada gerhana bulan dan matahari.

1) Cara mengerjakannya :

Cara mengerjakan shalat dua gerhana itu boleh dikerjakan secara sendirian, tetapi utamanya dikerjakan secara berjama’ah. Cara mengerjakannya sebagaimana shalat sunnat biasa, namun berbeda lafas niatnya dan berbeda dalam ruku’nya, yakni dikerjakan dua raka’at dengan empat kali ruku’ dan sama dalam sujud yaitu empat kali sujud. Jadi lebih jelasnya : pada roka’at pertama, sesudah ruku’ dan bangkit i’tidal, kemudian membaca surat Al-Fatihah dan surat lagi, lalu ruku’ lagi dan i’tidal lagi baru kemudian sujud sebagaiman biasa. Demikian pula pada raka’at kedua dikerjakan seperti raka’at pertama.

2) Niat shalat gerhana bulan (khusuf)

“Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini lillaahi ta’aalaaa.”

Artinya :“Saya berniat shalat gerhana bulan dua raka’at, karena Allah Ta’ala.”

3) Niat shalat gerhana matahari

“Usholli sunnatal kusuufi rok’ataini lillaahi ta’aallaa.”

Artinya :“Saya berniat shalat gerhana matahari dua raka;at, karena Allah Ta’ala.”

Rasulullah s.a.w bersabda :

“Innasy syamsya wal qomaro aayataani min ayaatillaahi laa yankas ifaani limauti ahadin walaa li hayaatihi fa idzaa ro’aitumuuhumaa fad’uullaaha wa sholluu hatta tankasifa.”

Artinya :“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah keduanya menjadi tanda dari tanda-tanda keagungan Alah, terjadinya dua gerhana (matahari dan bulan), bukan karena mati dan hidupnya seseorang. Maka apabila kamu menyaksikan gerhana matahari atau bulan, hendaklah kamu berdo’a kepada Allah dan shalatlah sampai gerhana selesai.”

  1. Shalat Istisqo’

Shalat istisqo’adalah shalat sunnat yang dikerjakan, karena ada keperluan untuk mohon hujan.

1) Cara mengerjakan shalat istisqo’ ialah :

(a) Sebelum mengerjakan shalat istisqo’, kurang tiga hari supaya ada orang yang memerintahkan kepada para penduduk untuk berpuasa tiga hari, selam berpuasa dianjurkan supaya memperbanyak amal kebajikan dan memperbanyak bertaubat serta mohon ampun dengan membaca istighfar dan memperbanyak sedekah dan menjauhi segala kema’siatan.

(b) Setelah pelaksanaan berpuasa selesai, pada hari keempat, supaya semua penduduk dianjurkan keluar menuju tanah lapangan dengan menggiring semua binatang ternaknya, dan hendaklah berpakaiaan sederhana dan tidak memakai wangi-wangian, kemudian mengerjakan shalat istisqo’ secara berjama’ah.

(c) Setelah salam, kemudian khotib berkhuthbah dengan dua khuthbah. Pada khuthbah awal khotib membaca istighfar sembilan kali, dan membaca istighfar tujuh kali pada khuthbah kedua.

Lafas istighfar :“Astaghfirullaahal’adhiim alladziilaaillahaillaahuwal hayyul quyyumu wa atuubu ilaihi.”

Artinya :“Saya mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung. Tidak ada tuhan kecuali Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri Sendiri dan saya bertaubat kepada-Nya.”

2) Niat shalat istisqo’

Usholli sunnatal istisqoo’i rok’ataini imaaman/ma’muuman lillahi ta’aalaa.”

Artinya :“Saya berniat shalat sunnat istisqo’ dua raka’at jadi imam/ma’mum karena Allah Ta’ala.”

Firman Allah Ta’ala :

“Wa yaa qoumistaghfiruu robbakum tsumma tuubuu ilaihi yursilis samaa’a alaikum midrooron wa yazidkum quwwatan ilaa quwwatikum wa laa tatawallau mujrimiina.”

Artinya :‘Wahai kaumku, mohon ampunlah kepada Tuhan kalian, kemudian taubatlah kalian kepada-Nya, pasti Dia akan menurunkan hujan yang sangat lebat atas kalian, dan Dia akan menambahkan kekuatan pada kekuatan kalian. Dan janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa.” (Qs. Hud : 52).

  1. Shalat Witir

Shalat witir adalah shalat yang dikerjakan dengan bilangan ganjil. Misalnya : satu raka’at tiga, lima dan seterusnya.Waktunya setelah shalat shalat isya’ sampai terbit fajar (tiba waktu subuh).

1) Niat shalat witir :

“Usholli sunnatal witri rok’ataini lillaaahi ta’aalaa.”

Artinya :“Saya berniat shalat sunat witir dua raka’at karena Allah Ta’ala.”

Niat shalat witir satu raka’at :

“Usholli sunnatal witri rok’atan lillaahi ta’aalaa.”

Artinya :“Saya berniat shalat witir satu raka’at karena Allah Ta’ala.”

Rasulullah s.a.w bersabda :“Ij’aluu akhirosholaatikum bil laili witron.”

Artinya :“Jadikanlah akhir shalatmu pada waktu malam dengan witir.”

(HR.Bukhori dan Muslim yang bersumber dari Ibnu ‘Umar r.a.). 4

  1. Interpretasi

Shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah dua kalimat syahadat. Shalat terbagi 2 yaitu Shalat Fardhu dan Shalat Sunnat. Shalat Fardhu hukumnya wajib dan mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat yang bagaimanakah yang dapat mencegah seseoarang dari perbuatan keji dan mungkar? Yaitu shalat yang dilakukan dengan hati yang ikhlas serta khusu’ dalam pelaksanaannya. Dengan shalat dapat membentuk pribadi yang mempunyai sifat tawadu’, pandai bersyukur, slalu tawakal, sabar, tabah dalam mengarungi kehidupan. Membina muslim agar senantiasa hidup bersih dan suci jiwa dan raga. Shalat merupakan sarana untuk menyampaikan pernyataan diri manusia kepada Tuhan-Nya secara tulus ikhlas bahwa semua yang ada pada dirinya, shalat dan ibadahnya, hidup dan matinya hanya milik Allah.

BAB II

PENUTUP

1.Kesimpulan

Shalat fardu hukumyan wajib artinya jika dikerjakan berpahala, jika ditinggalkan berdosa. Shalat fardu terbagi atas 5 waktu, yaitu :

  1. Subuh
  2. Dzuhur
  3. Ashar
  4. Mag’rib
  5. Isya

Rasulullah pernah bersabda: “Shalat itu adalah tiangnya agama, barang siapa yang mendirikannya maka berarti ia telah mendirikan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia telah meruntuhkan agama” (Al-Hadits).

Bahkan hal ini dipertegas oleh firman Allah SWT.:

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوتِ وَالصَّلوةِ الْوُسْطَ وَقُوْمُوْا لِلَّهِ قَنِتِيْنَ.

Artinya: “Jagalah (peliharah) segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah [2]: 238).

Dengan hujjah di atas, dapat kita pahami bahwa begitu pentingnya melaksanakan dan memelihara shalat (shalat fardhu). Karena melaksanakan shalat merupakan salah satu ciri bagi orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT.                                                    

DAFTAR PUSTAKA

  • Abidin, Zainal, 1998. Kunci ibadah. Semarang: PT. Karya Toha Putra.
  • Innayati, S, 2006. Fiqih kelas VII. Solo: Putra Kertonatan.
  • Suparta, Mundzier, 2006. Pendidikan agama islam fiqih MA Kelas X. Semarang: PT. Karya Toha Putra.
  • Rifa’i, Mohammad, 2004. Risalah tuntutan shalat lengkap. Semarang: PT. Karya Toha Putra.

 

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. Contoh Makalah Tentang Riba dan Bunga Bank Menurut Islam
  2. Contoh Makalah Tentang Shalat Berjamaah ( Lengkap )
  3. Contoh Makalah Muamalah Tentang Musyarakah (Lengkap)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*