Contoh Makalah Sistem Koloid Yang Benar

Contoh Makalah Sistem Koloid

Contoh Makalah Sistem Koloid Yang Benar

MakalahkitaContoh Makalah Sistem Koloid Yang Benar yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

        Sistem Koloid adalah campuran hampir homogen antara fase terdispensi dan fase pendispersi. Campuran ini hampir homogen, artinya campuran dua zat hampir menyatu dan sulit dibedakan. Fase terdispensinya bukan dalam bentuk molekuler (bukan setiap molekul tersebar). Akan tetapi, gabungan dari beberapa molekul. Jika diambil contoh zat terdispensi air, sistem koloid merupakan dispensi padatan (gabungan dari molekul) yang tersebar dalam medium pendispersi. Hanya saja partikel padatan yang terdispersi ini kecil sehingga tidak bisa dibedakan mana fase terdispensi dan mana fase pendispersi.

         Sistem Koloid ini mempunyai sifat-sifat  khas yang berbeda dari sifat larutan ataupun suspensi. Sistem Koloid terdiri dari atas fase terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Zat  yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang digunakan untuk mendespersikan disebut medium dispersi. Fase terdespersi bersifat diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium despersi bersifat kontinu.

Ciri-ciri sistem koloid sebagai berikut :

a.  Sistem koloid mempunyai ukuran partikel 10-7 – 10-5 cm.

b.  Partikelnya dapat dilihat dengan mikroskop ultra.

c. Partikel koloid tidak dapat disaring dengan kertas saring biasa, tetapi dapat disaring menggunakan kertas perkamen.

d.  Koloid tahan lama.

e. Koloid akan terakugulasi apabila ditambah larutan.

f. Koloid mempunyai sifat elektrolit.

g. Koloid termasuk campuran homogen.

BAB II

PEMBAHASAN

a. Jenis-jenis koloid

      Sistem koloid terdiri atas dua fase atau bentuk, yakni fase terdispersi (fase dalam) dan fase pendispersi (fase luar, medium). Zat yang fasenya tetap, disebut zat pendispensi. Sementara itu, zat yang fasenya berubah merupakan zat terdispensi. Berdasarkan fase zat terdispersi, sistem koloid terbagi atas tiga bagian, yaitu koloid sol, emulsi, dan buih.

  1. Sol ialah koloid dengan zat terdispersinya fase padat.
  2. Emulsi ialah koloid dengan zat terdispersinya fase cair.
  3. Buih ialah koloid dengan zat terdispersinya fase gas.

Berdasarkan fase mediumnya, sol, emulsi, dan buih masih terbagi atas beberapa jenis:

1. KOLOID SOL

Koloid sol terdiri atas bagian-bagian berikut:

a. Sol padat (padat-padat)

Sol padat ialah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase padat. Contoh: logam paduan, kaca berwama, intan hitam, dan baja.

b. Sol cair (padat-cair)

Sol cair ialah jenis koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase cair. Berarti, hal ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase cair. Contoh: cat, tinta dan kanji.

c. Sol gas (padat-gas)

Sol gas (aerosol padat) ialah koloid dengan zat fase padat terdispersi dalam zat fase gas. Hal ini berarti zat terdispersi fase padat dan medium fase gas. Contoh: asap dan debu.

2. KOLOID EMULSI

Koloid emulsi terbagi ke dalam tiga jenis, yakni sebagai berikut:

a. Emulsi padat (cair-padat)

Emulsi padat (gel) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase padat. Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase padat. Contoh: mentega, keju, jeli, dan mutiara.

b. Emulsi cair (cair-cair)

Emulsi cair (emulsi) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase cair. Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase cair. Contoh: susu, minyak ikan, dan santan kelapa.

c. Emulsi gas (cair-gas)

Emulsi gas (aerosol cair) ialah koloid dengan zat fase cair terdispersi dalam zat fase gas. Hal ini berarti zat terdispersi fase cair dan medium fase gas. Contoh: obat-obat insektisida (semprot), kabut, dan hair spray.

3. KOLOID BUIH

Kolodi buih erdiri atas dua jenis, , yaitu sebagai berikut:

a. Buih padat (gas-padat)

Buih padat ialah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase padat. Hal ini berarti zat terdispersi fase gas dan medium fase padat. Contoh: busa jok dan batu apung.

b. Buih cair (gas-cair)

Buih cair (buih) ialah koloid dengan zat fase gas terdispersi dalam zat fase cair. Berarti, zat terdispersi faso gas dan medium fase cair. Contoh: buih sabun, buih soda, dan krim kocok.

Klasifikasi di atas dapat pula disusun dalam delapan pola penggolongan, yakni seperti dalam tabel berikut:

b. Pengertian Larutan

        Larutan disebut juga dengan campuran homogen. Dalam larutan, zat terlarut dicampur dengan zat pelarut. Umumnya, zat terlarut jumlahnya sedikit sehingga disebut fase terdispersi, sedangkan pelarut jumlahnya banyak sehingga disebut fase pendidpersi.

     Biasanya zat terlarut tersebar secara merata dalam komponen zat pelarut, larutan ini dapat disebut sebagai dispersi molekuler artinya setiap molekul zat terlarut tersebar secara merata dalam media fase pendispersi, karena diameter molekul-molekul  ini kurang dari 10-7 cm sehingga kita tidak mampu membedakan antara fase zat pelarut, kecuali dengan mikroskop elektron. Zat terdispensi pada sistem larutan tidak dapat disaring dengan kertas saring apapun.

Ciri-ciri larutan dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Besar partikel <10-7 cm

b. Partikel dapat dilihat dengan mikroskop elekton.

c.  Larutan sejati tidak dapat disaring dengan kertas saring.

d.  Larutan sejati sangat stabil artinya tidak dapat terkoagulasi.

e.  Termasuk campuran yang sangat homogen

c. Pengertian Suspensi

    Suspensi atau disebut juga suspensi kasar merupakan campuran heterogen antara fase terdispersi dalam medium pendispersi. Secara umum, terdispersi adalah padatan, sedangkan medium pendispersinya adalah air. Dalam sistem suspensi dapat dibedakan antara zat terdispersi dan medium pendispersi. Fase terdispensi dalam bentuk padatan dengan ukuran besar akan terlihat tersebar dalam medium air. Karena ukuran zat terdispensi besar, fase air tidak mampu lagi menahannya. Oleh karena itu, zat terdispensi akan mengendap. Ukuran zat terdispensi dalam suspensi dalam suspensi lebih dari 10-5 cm. dengan penyaringan biasa, zat terdispersi dapat disaring. Jadi, suspensi adalah dispersi adatan dengan bentuk fisik heterogen.

Suspensi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Suspensi mempunyai ukuran partikel >10-5 cm.

b. Suspensi dapat dilihat dengan mikroskop.

c.  Suspensi dapat disaring dengan kertas saring.

d.  Suspensi bersifat labil artinya tidak tahan lama.

e.  Suspensi mudah mengalami koagulasi.

f.  Suspensi termasuk campuran heterogen.

a. Sifat-Sifat Koloid

1. Efek Tyndall

Efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli fisika inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut efek tyndall.

Efek tyndall adalah  efek yang terjadi jika sesuatu larutan terkena sinar.  Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid cahaya akan dihamburkan (gambar kanan). Hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.

2. Gerak Brown

Jika kita amati sistem koloid di bawah mikroskop ultra, akan kita melihat bahwa pertikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk zigzag.  Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak brown.Pergerakan tersebut dijelaskan pada penjelasan berikut :

a. Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas, atau hanya bervibrasi ditempat seperti pada zat padat.

b. Untuk sistem koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas, pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan dengan partikel-partikel koloid itu sendiri.

c. Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi gerak zigzag atau gerak brown.

d. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat gerak brown terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran  partikel koloid, semakin lambat gerak brown yang terjadi.

    Hal ini menjelaskan mengapa gerak brown sulit diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam zat padat (suspensi).

     Gerak brown menstabilkan koloid, karena bergerak terus menerus, maka gerakan itu dapat mengimbangi gravitasi sehingga koloid itu tidak akan mengendap. Gerak brow juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya, gerak brow dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu siystem koloid, maka gerak brown semakin lambat.

3. Adsorpsi koloid

     Apabila partikel-partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas, maka partikel-partikel zat cair atau gas tersebut akan terakumulasi pada permukaan zat padat tersebut. Fenomena ini disebut adsorpsi

    Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk mengadsorpsi partikel-partikel pada permukaanya, baik partikel netral atau bermuatan (kation atau anion) karena mempunyai permukaan yang sangat luas.

Sebagai contoh penyerapan air oleh kapur  tulis

       Sol fe(OH)3 dalam air mengabsorbsi ion positif sehingga bermuatan positif, sedangkan sol As2S3 mengabsorbsi ion negatif sehingga bermuatan negatif, muatan koloid juga merupakan faktor yang menstabilkan koloid, disamping gerak brown.

       Oleh karena bermuatan sejenis maka partikel – partikel koloid saling tolak-menolak, sehingga terhindar dari pengelompokkan antar sesama partikel koloid itu (jika partikel koloid itu saling bertumbukan dan kemudian bersatu, maka lama kelamaan dapat berbentuk partikel yang cukup besar dan akhirnya mengendap).

Elektro Foresis yaitu pergerakan partikel koloid dibawah pengaruh media listrik. Muatan listrik pada partikel koloid terjadi karena penyerapan ion pada permukaan partikel koloid. Contoh: elektro foresis adalah proses penyaringan debu pabrik

5. Koagulasi

         Koagulasi atau pengumpalan yaitu peristiwa pengendapan partikel-partikel koloid sehingga face terdispersi terpisah dari medium pendispersinya. Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya koagulasi pada sistem koloid antara lain, karena pengaruh pemanasan, pendinginan, pencampuran elektrolit atau karena proses elektro foresis yang berlangsung lama.

Kaogulasi dalam kehidupan sehari-hari :

1. Memanaskan telur

2. Memanaskan agar-agar

3. Penjernihan air

6. Koloid pelindung

     Koloid pelindung yaitu koloid yang dapat melindungi koloid lain agar tidak mengalami koagulasi.

Kolid pelindung ini akan membungkus partikel zat terdispersi, sehingga tidak dapat lagi mengelompok. Misal :

1. Penambahan gelatin pada es krim.

2. Cat dan tinta dapat bertahan lama. karena menggunakan satu koloid pelindung, yaitu minyak silikon.

7. Dialisis

     Dialisis yaitu cara mengurangi ion-ion pengganggu dalam koloid, menggunakan selaput semipermenabel. Contoh dialisis yaitu

1.      Memisahkan ion-ion sianida dari tepung tapioka.

2.      Proses cuci darah.

8. Koloid liofil dan liofol

            Sistem koloid yang medium dipersinya cair. Apabila fase dispersi dan medium pendispersi terdapat gaya tarik-menarik yang cukup besar, maka koloid yang terbentuk disebut koloid liofil. Apabila gaya tarik-menariknya lemah disebut koloid liofol. Koloid liofil lebih kental dan stabil, fase terdispersinya dibungkus oleh mediumnya sehingga terhindar dari pengelompokan (koagulasi). Hal ini disebut solvatasi atau hidratasi. Koloid liofol akan stabil, apabila mengabsorbsi suatu ion. Koloid liofil bersifat refersible, karena bila terjadi penggumpalan atau pengendapan dan endapan itu ditambah kembali koloid liofil.

Contoh-contoh Koloid yang berhubungan dengan proses pembelajaran di Boga

1.   Zat Terdispensi : Gas Zat Pendisspersi : Cair Wujud  Koloid : Busa. Contoh : Busa sabun, krim kocok.

2.  Zat Terdispensi : Cair Zat Pendisspersi : Cair Wujud Koloid : Emulsi. Contoh : Susu Cair, Cokelat cair, Saos.

3.   Zat Terdispensi : Cair Zat Pendisspersi : Padat Wujud Koloid : Emulsi Padat. Contoh : Keju, Mentega, Jeli.

4.  Koloid yang terbentuk oleh fasa terdispersinya gas dalam medium pendispersinya cair adalah buih atau busa. Contoh untuk koloid ini adalah putih telur yang dikocok denggan kecepatan tinggi.

5. Emulsi merupakan jenis koloid yang dibentuk oleh fasa terdispensi cair di dalam medium pendispersi cair. Emulsi dapat kita temukan seperti susu, santan, mayonaise dan minyak ikan.

Perbedaan Larutan, Koloid dan Suspensi

   Larutan(dispersi molekuler)Koloid (disperse koloid)Suspense (disperse kasar)
1)      homogeny tak dapat dibedakan walaupun menggunakan mikroskop ultra

2)      semua partikel berdimensi (panjang,lebar, atau tebal) kurang dari 1 nm

3)      satu fasa

4)      stabil

5)      tidak dapat disaring

contoh:

larutan gula, larutan garam,spritus, alcohol 70%, larutan cuka, air laut, udara yang bersih , dan bensin

1)      secara makroskopis bersifat homogen, tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra

2)      partikel berdimensi anatra 1nm sampai 100 nm

3)      dua fasa

4)      pada umumnya stabil

5)      tidak dapat disaring, kecuali dapat penyaringan ultra

contoh: sabun susu, santan, jeli selai, mentega,dan mayonaise

1)      heterogen

2)      salah satu atau semua dimensi partikelnya lebih besar dari 100 nm

3)      dua fasa

4)      tidak stabil

5)      dapat disaring

contoh:

air sungai yang keruh, campuran air dengan pasir, campuran kopi dengan air,  dan campuran minyak dengan air

LARUTAN (DISPERSI MOLEKULER)

Homogen tak dapat dibedakan walaupun menggunakan mikroskop ultra.

  1. semua partikel berdimensi(panjang, lebar, atau tebal) kurang dari 1 nm.
  2. satu fase
  3. stabil
  4. tidak dapat disaring

contoh : larutan gula, larutan garam, spritus, alcohol 70%, larutan cuka air laut, udara yang bersih dan bensin

KOLOID( DISPERSI KOLOID)

secara makroskopis bersifat homogeny jika diamati dengan mikroskop ultra .

  1. partikelnya berdimensi anatara 1 nm sampai 100 nm
  2. dua fasa
  3. pada umumnya stabil
  4. tidak dapat disaring, kecuali dengan penyaringan ultra

contoh : sabun, susu, santan , jeli, selai, mentega, dan mayonnaise

SUSPENSI ( DISPERSI KASAR)

  1. heterogen
  2. salah satu atau semua dimensi partikelnya lebih besar dari 100nm
  3. dua fasa
  4. tidak stabil
  5. dapat disaring

contoh : air sungai yang keruh, campuran air dengan pasir, campuran air dengan kopi , dan campuran minyak dengan air.

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Demikianlah uraian singkat makalah tentang “Sistem Koloid”. Tulisan ini masih sangat terbatas dan memerlukan tambahan guna memperluas wawasan kita. Oleh karena itu, kami sebagai penulis sangat mengharapkan bantuan, kritik, dan saran, serta bimbingan-nya kepada Ibu Guru pengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

DAFTAR PUSTAKA

  • www.makalahkita.com

 

1 Trackback / Pingback

  1. Contoh Makalah Koloid Dalam Industri Rumah Tangga

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*