Contoh Makalah Tafsir Ahkam Tentang Puasa (Lengkap)

Contoh Makalah Tafsir Ahkam Tentang Puasa

Contoh Makalah Tafsir Ahkam Tentang Puasa (Lengkap)

Makalahkita.com – Contoh Makalah Tafsir Ahkam Tentang Puasa (Lengkap) yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

Pendahuluan

1.Latar Belakang

Puasa pada bulan ramadhan merupakan salah satu dari lima rukun islam. Dalam bahasa arab disebut shiyamatau shaum. Puasa atau shaum/ siyam menurut istilah Al-Quran ialah suatu ibadah yang sangat penting dalam syari’at islam. Yang pokok artinya adalah menahan. didalam peraturan syara’ dijelaskan bahwa shiyam adalah menahan diri dari makan dan minum dan segala hal yang membatalkan puasa pada waktu fajar sampai terbenamnya matahari, karena menjunjung tinggi perintah Allah. Maka setelah nenek moyang kita memeluk agama islam kita pakailah kata puasa untuk menjadi arti dari pada shaum itu. Karena memang ketika belum masuk islam, perintah puasa itu telah ada pada agama yang dianut sebelumnya.

            Perintah kewajiban puasa bagi umat muslim dalam kitab suci Al-Quran diantaranya tertuang dalam surat Al-Baqarah pada ayat 183-187.

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pengertian

            Berikut diantara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang puasa serta penjelasannya.

1)      Surah Al Baqarah 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”[1]

  1. Tafsir mufradat

فُرِضَ  : diwajibkan/difardhukan

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ : Agar kamu bertaqwa maksudnya menjaga dirimu dari maksiat karena puasa itu dapat membendung syahwat yang menjadi pangkal/biangnya maksiat.

الصِّيَامُ : menurut bahasa berarti al-imsak  yakni menahan diri dari suatu perbuatan, baik makan, berkata maupun apa saja.   [2]

  1. Tafsir ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ               maksudnya, puasa diwajibkan atas kamu (umat Muhammad) sebagaimana telah diwajibkan pula atas orang mukmin dari semua pemeluk agama sebelum kamu, sejak Nabi Adam as.

Ash-Shaum menurut istilah dalam syariat Islam ialah menahan diri dari segala macam makanan, minuman dan bersenggama dengan wanita, mulai dari terbit fajar sidiq (subuh) sampai terbenam matahari (magrib) dengan niat dan syarat-syarat yang tertentu.

Para ulama banyak memberikan uraian tentang hikmah berpuasa, misalnya: untuk mempertinggi budi pekerti, menimbulkan kesadaran dan kasih sayang terhadap orang-orang miskin, orang-orang lemah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, melatih jiwa dan jasmani, menambah kesehatan dan lain sebagainya.
Uraian serupa itu tentulah ada benarnya, walaupun tidak mudah dirasakan oleh setiap orang. Begitu juga tidak akan mudah dirasakan oleh setiap orang berpuasa, bahwa puasa itu membantu kesehatan, walaupun para dokter yang memberikan penjelasan secara ilmiah, bahwa berpuasa memang benar-benar dapat menyembuhkan sebagian penyakit, tetapi ada pula penyakit yang tidak membolehkan berpuasa. Kalau diperhatikan perintah berpuasa bulan Ramadhan ini, maka pada permulaan ayat 183 secara langsung Allah menunjukkan perintah wajib itu kepada orang-orang yang beriman.

   Orang-orang yang beriman akan patuh melaksanakan perintah berpuasa dengan sepenuh hati, karena ia merasa kebutuhan jasmaniyah dan rohaniyah adalah dua unsur yang pokok bagi kehidupan manusia yang harus diperkembangkan dengan bermacam-macam latihan, agar dapat dimanfaatkan untuk ketenteraman hidup yang bahagia di dunia dan di akhirat.

Pada ayat ini Allah mewajibkan puasa kepada semua manusia yang beriman, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka supaya mereka menjadi orang yang bertakwa. Jadi puasa ini sungguh penting bagi kehidupan orang-orang yang beriman. Kalau kita selidiki macam-macam agama dan kepercayaan pada masa kita sekarang ini, dapat dipastikan bahwa kita akan menjumpai bahwa puasa salah satu ajaran yang umum untuk menahan hawa nafsu dan lain-lain sebagainya. Dalam ilmu keduniaan untuk memperoleh apa yang dinamakan kesaktian juga puasa selalu dipergunakan. [3]

2)      Surah Al Baqarah 184

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

 Artinya: “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

  1. Asbabun nuzul

            Diterangkan oleh ibn sa’ad dalam thabaqatnya, dari Mujahid katanya: ayat ini diturunkan mengenai majikan dari Qis bin Saib (yang sudah sangat tua) “dan bagi orang yang berat mmenjalankannya wajib membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin” (al-Baqarah: 184). Lalu ia berbuka dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari Ramadhan yang ia tinggalkan puasanya. [4]

  1. Tafsir mufradhat

  أَيَّامًا : beberapa hari

مَعْدُودَات : berbilang, maksudnya yang sedikit atau ditentukan waktunya dengan bilangan yang diketahui, yakni selama bulan ramadhan.

 فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ : maka barang siapa diantara kamu, yakni sewaktu kehadiran hari itu

مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَر : sakit atau dalam perjalanan, maksudnya perjalanan untuk waktu singkat, bukan untuk merantau lama dan sulit baginya untuk mengerjakan puasa dalam kedua situasi tersebut lalu ia berbuka.

فَعِدَّةٌ : Al-Qurtubi berkata, kata ‘iddah berasal dari kata al-‘add yang berarti bilangan yang berarti “yang dibilang”.

يُطِيقُونَهُ : kata ini berasal dari kata al-taqah yang berarti kadar kemampuan seseorang yang memungkinkan untuk dapat melakukan sesuatu berat.

فِدْيَةٌ : adalah harta (uang) atau lainya yang digunakan oleh seseorang untuk menebus dirinya. Yang dimaksud fidyah disini yaitu makanan yang diberikan kepada orang miskin berupa jenis makanan yang biasa diberikan kepada keluarga sendiri. [5]

  1. Tafsir ayat

            Setelah pada ayat sebelumnya Allah memanggil umat beriman untuk berpuasa. Kewajiban ini juga telah diwajibkan kepada umat-umat yang terdahulu guna mencapai takwa. Kemudian pada ayat 184 ini diterangkan hukum puasa permulaannya, siapa yang dalam keadaan sakit atau musafir, mereka boleh untuk tidak berpuasa, tapi harus qadha (mengganti) sebanyak yang ia tinggalkan.

            Adapun perubahan puasa yaitu, ketika Nabi hijrah ke Madinah, awalnya puasa tiap bulan selama tiga hari, puasa Asy-Syura. Kemudian turunlah ayat yang mewajibkan puasa Wa’alalladzina yuthiqunahu, dalam tafsir jalalain, mengrtikan la pada lafadz yuthiqunahu, yakni ay la yuthiqunahu (bagi orang yang tak mampu puasa). Tidak ada kepastian pembuangan ia pada lafadz tersebut,sebab sebenarnya makna yuthiqunqhu adalah orang yang mampu berpuasa namun disertai dengan sangat kepayahan/kesusahan,seperti orang tua yang pikun,ibu hamil, menyusui, mereka sebenarnya mampu berpuasa namun terasa berat lagi menambah beban.[6]

            Ulama sepakat bahwa mufasir dengan tujuan ta’at (bukan maksiyat) seperti haji, jihad, silaturrahmi, mencari kebutuhan hidup, berdagang dan hal-hal yang diperbolehkan, baginya boleh tidak puasa. Namun menurut madzhab hanafi bepergian maksiyat juga boleh tidak berpuasa. Sebab hakikat safar itu sendiri itu bukan perbuatan maksiyat. Akan tetapi maksiyat itu terjadi setelah bepergian atau ketika dalam perjalanannya. Maka tidak menimbulkan efek apapun jika mendapat rukhsah qashor. Sebab orang tersebut sedikit bertobat ketika mengingat nikmat Allah yang tercurah padanya yakni kemurahannya memperbolehkan qashor. Jika seseorang meninggalkan puasa udzur atau tidak, kemudian mereka tidak segera mengganti puasa tersebut dihari lain hingga ramadhon berikutnya,maka menurut jumhur ulama ia terkena kafarot,yaitu memberi makanan kepada orang fakir miskin 1 hari 1 mud.

            Menurut imam Abu hanifah tidak ada kafarat baginya, kareana mengamalkan secara tekstual. Sedangkan dalil yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama ialah hadits yang diriwayatkan oleh imam al-daruqutni dengan sanad shohih,dari Abi hurairah mengenai orang yang tidak mempedulikan dalam mengkodho puasa hingga datang ramadhon lagi. Kemudian bersabda orang tersebut sekarang berpuasa bersama-sama kaum yang lainnya, dan nanti mengganti puasa yang pernah ia tinggalkan dan terkena kafarat.[7]

3)      Surah Al Baqarah 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur “. [8]

  1. Tafsir Mufradat

فَمَنْ شَهِدَ : maka barang siapa yang menyaksikan, artinya hadir.

مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ : barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu,dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. maksudnya sebagaimana telah diterangkan terdahulu, diulang-ulang agar jangan timbul dugaan adanya naskh dengan diumumkannya “menyaksikan bulan”.

  1. Tafsir Ayat

            Dalam ayat 185, Allah memuji bulan ramadhan yang terpilih untuk turunnya Al-Qur’an, bahkan kitab-kitab Allah yang diturunkan  pada Nabi-Nabi juga diturunkan pada bulan ramadhan.

            Bulan tersebut dipilih karena bulan yang mulia. Bulannya yang didalamnya diturunkan permulaan al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda yang jelas. Al Qur’an yang demikian itu sifatnya diturunkan pada bulan ramadhon, mengisyaratkan bahawa untuk dianjurkan membaca dan mempelajari al-qur’an dalam bulan ramadhon. Yang mempelajari diharapkan bisa memperoleh petunjuk ketika memahami dan menerapkan isi kandungan dalam kehidupan. Karena dengan membaca al-qur’an ia menyiapkan wadah hatinya untuk menerima petunjuk Ilahi. Sehingga ia akan memperoleh kemampuan membedakan antara yang haq dan yang batil.

            Dalam zahir nash Al-Qur’an mengenai orang yang mendapat rukhsah yaitu orang yang sedang sakit atau bepergian ini bersifat mutlak. Maka apapun penyakitnya dan bagaimanapun bepergiannya meperkenankan mereka untuk berbuka. Hanya orang yang sakit mengqadhonya setelah dia sehat,dan orang musafir wajib mengqadhonya setelah dia bermukim di kampung halamannya. Inilahlah yang lebih penting dalam memahami nash Al-Qur’an yang mutlak ini,dan lebih dekat dengan pemahaman islami di dalam menghilangkan kesulitan dan mencegah madharat. Maka bukan karena beratnya sakit dan sulitnya bepergian yang menjadi pergantungan hukum, melainkan keadaan sakit secara mutlak dan bepergian secara mutlak. Karerna boleh jadi terdapat pelajaran-pelajaran lain yang di ketahui oleh Allah dan tidak diketahui manusia dalam masalah sakit dan bepergian ini. Boleh jadi terdapat kesulitan (masyaqat) lain yang tidak tampak waktu itu, atau tidak jelas menurut ukuran manusia. Dan selama Allah tidak mengungkapkan alasan (ilat) hukum tentang sesuatu, maka kita tidak usah menakwilkannya,melainkan hanya mematuhi nash-nash yang sudah ada.

            Agama islam itu tidak menggiring manusia dengan rantai  untuk menuju ketaatan. Tetapi hanya menuntun mereka menuju kepada taqwa, dan yang menjadi tujuan ibadah (puasa) ini secara khusus adalah taqwa. Dan sesuatu dapat memalingkan manusia dari menunaikan kewajiban ini dibawah kelambu rukhsah  tidak ada kebaikannya sejak awal, karena tujuan pertama ibadah ini tidak terwujud.[9]

4)      Surah Al Baqarah 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. [10]

  1. Asbabun Nuzul

Ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi SAW. yang bertanya :” Apakah Tuhan kita itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepadanya, atau jauh, sehingga kami harus menyerunya? “. Nabi saw. terdiam, hingga turunlah Al-Baqarah : 186 sebagai jawaban terhadap pertanyaan itu. [11]

  1. Tafsir Mufradat

عِبَادِي :  ‘ibadil/hamba-hamba-Ku adalah bentuk jamak dari kata ‘abd. Kata ‘ibad biasa digunakan  Al-Qur’an untuk menunjuk kepada hamaba-hamba Allah yang taat kepada-Nya atau kalaupun mereka penuh dosa tetapi sadar akan dosanya serta mengharap pengampunan dan rahmad-Nya. Kata ini berbeda dengan kata ‘abid yang juga merupakan bentuk jamak dari ‘abd, tetapi bentuk jamak ini meninjuk kepada hamba-hamba Allah yang bergelimang dalam dosa. Pemilihan bentuk kata ‘ibad serta penisbatannya kepada Allah (hamba-hamba-ku) mengandung isyarat bahwa yang bertanya dan bermohon adalah hamba-hamba-Nya yang taat lagi menyadari kesalahannya itu.

  1. Tafsir Ayat

            Firmannya: hendaklah mereka memenuhi (segala perintah) Ku, mengisyaratkan bahwa yang pertama dan utama dituntut  dari setiap berdo’a adalah memenuhi segala perintah-Nya. Ini diperingatkan juga oleh Nabi saw. yang menguraikan keadaan seseorang yang menengadah ke langit sambil berseru, “tuhan ayat diatas memerintahkan agar percaya kepada-Nya. Ini bukan saja dalam arti mengakui keesaan-Nya, tetapi juga percaya bahwa Dia akan memilih yang terbaik untuk sipemohon

            Kata jawablah  tidak terdapat dalam teks ayat di atas. Itu dicantumkan dalam terjemahan hanya untuk memudahkan pengertian menyangkut makna ayat. Ulama Al-Qur’an menguraikan, bahwa kata jawablah ditiadakan disini untuk mengisyaratkan bahwa setiap orang bergelimang dalam dosa dapat langsung berdo’a kepadanya tanpa perantara. Ia juga mengisyaratkan bahwa Allah begitu dekat dengan manusia, dan manusiapun dekat kepada-Nya. Karena pengetahuan tentang wujud Allah sangat melekat pada fitrah manusia, bukti-bukti wujud dan keesaan-Nya pun terbentang luas. Berbeda dengan pengetahuan tentang hal-hal lain yang dipertanyakan, seperti mengapa bulan pada mulanya berbentuk sabit, kemudian sedikit demi sedikit membesar lalu mengecil dan menghilang dari pandangan.

            Do’a dapat memberi dampak yang sangat besar mewujudkan harapan seseorang. Dr.A.Carrel salah satu orang yang ahli bedah dari prancis (1873-1941 M) yang pernah meraih hadiah “Nobel” dalam bidang kedokteran, menulis dalam bukunya yang bernama “pray”(Doa), tantang pengalaman-pengalamannya dalam mengobati pasien. Katanya, banyak diantara mereka yang memperoleh kesembuhan dengan jalan berdoa. Menurutnya doa adalah, segala gejala keagamaan yang paling agung bagi manusia. Karena pada saat itu, jiwa manusia terbang menuju Tuhannya.

            Kehihupan manusia disukai atau tidak yang mengandung penderitaan, kesedihan, dan kegagalan disamping kegembiraan, prestasi, dan keberhasilan. Banyak kepedihan yang dapat dicegah melalui usaha yang sungguh-sungguh, serta ketabahan menanggulanginya Tetapi ada juga seperti misalnya kematian yang tidak dapat dicegah oleh upaya apapun. Di sinilah semakin akan terasa kemanfaatannya doa. Harus diingat pula bahwa kalaupun apa yang dimohonkan tidak sepenuhnya tercapai, namun dengan doa tersebut seseorang telah hidup dalam suasana optimisme. Harapan dan hal ini tidak lagi mempunyai dampak yang sangat baik dalam kehidupannya.

            Seorang yang beriman menyadari bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah. Jika ia bersikap dengan tepat, pasti Allah akan membuka baginya jalan-jalan lain.meskipun jalan tersebut pada mulanya terlihat mustahil. Jalan yang kelihatan mustahil inilah yang diperolah melalui ketabahan dan sholat (doa). Setelah menjelaskan perlunya berdoa, dan menganjurkannya lebih-lebih di bulan ramadhon.

5)      Surah Al Baqarah 187

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَالْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

 Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.

  1. Asbabun Nuzul

Ayat ini turun berkenaan dengan ada seorang sahabat Nabi saw tidak makan dan minum pada malam bulan ramadhan, karena tertidur setelah tibanya waktu berbuka puasa. Pada malam itu ia tidak makan sama sekali, dan keesokan harinya ia berpuasa lagi. Seorang sahabat lainya bernama Qais bin Shirmah (dari golongan anshar), ketika tibanya waktu berbuka puasa, meminta makanan kepada isterinya yang kebetulan belum tersedia. Ketika isterinya menyediakan makanan, karena lelahnya pada siang harinya, Qais bin Shirmah tertidur. Setelah makanan tersedia, isterinya mendapatkan suaminya tertidur. Berkatalah ia: “wahai celaka kau”. Pada tengah hari keesokan harinya, Qais bin Shirmah pingsan. Kejadian ini disampaikan kepada Nabi saw, maka turunlah  Al-Baqarah :187, sehingga berrgembiralah kaum muslimin. [12]

  1. Tafsir Mufradat

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَة الصِّيَامِ الرَّفَثُ : dihalalkan bagimu pada malam hari puasa berkencan dengan istri-istrinya, maksudnya mencampuri mereka

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ : mereka itu pakaian bagimu dan kamu pakaian bagi mereka , sindiran bahwa keduanya saling membutuhkan dan bergantung.

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا : makan dan minumlah, sepanjang malam itu

لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَالْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ : (bagimu benang putih dan benang hitam berupa fajar shadiq), sebagai penjalasan bagi benang putih, sedangkan penjelasan bagi benang hitam dibuang yaitu malam hari. Fajar itu tak ubahnya seperti warna putih bercampur warna hitam yang memanjang dengan dua buah garis berwarna putih dan hitam

  1. TafsirAyat

            (Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa berkencan dengan istri-istrimu) maksudnya mencampuri mereka. Ayat ini turun menasakhkan hukum yang berlaku di masa permulaan Islam, berupa pengharaman mencampuri istri, begitu pula diharamkan makan minum setelah waktu Isyak. (Mereka itu pakaian bagi kamu dan kamu pakaian bagi mereka) kiasan bahwa mereka berdua saling bergantung dan saling membutuhkan. (Allah mengetahui bahwa kamu akan berkhianat pada) atau mengkhianati (dirimu) dengan melakukan jimak atau hubungan suami istri pada malam hari puasa. Hal itu pernah terjadi atas diri Umar dan sahabat lainnya, lalu ia segera memberitahukannya kepada Nabi saw., (maka Allah pun menerima tobatmu) yakni sebelum kamu bertobat (dan dimaafkan-Nya kamu. Maka sekarang) karena telah dihalalkan bagimu (campurilah mereka itu) (dan usahakanlah) atau carilah (apa-apa yang telah ditetapkan Allah bagimu) artinya apa yang telah diperbolehkan-Nya seperti bercampur atau mendapatkan anak (dan makan minumlah) sepanjang malam itu (hingga nyata) atau jelas (bagimu benang putih dari benang hitam berupa fajar sidik) sebagai penjelasan bagi benang putih, sedangkan penjelasan bagi benang hitam dibuang, yaitu berupa malam hari. Fajar itu tak ubahnya seperti warna putih bercampur warna hitam yang memanjang dengan dua buah garis berwarna putih dan hitam.

            (Kemudian sempurnakanlah puasa itu) dari waktu fajar (sampai malam) maksudnya masuknya malam dengan terbenamnya matahari (dan janganlah kamu campuri mereka) maksudnya istri-istri kamu itu (sedang kamu beriktikaf) atau bermukim dengan niat iktikaf (di dalam mesjid-mesjid) seorang yang beriktikaf dilarang keluar mesjid untuk mencampuri istrinya lalu kembali lagi. (Itulah) yakni hukum-hukum yang telah disebutkan tadi (larangan-larangan Allah) yang telah digariskan-Nya bagi hamba-hamba-Nya agar mereka tidak melanggarnya (maka janganlah kami mendekatinya). Kalimat itu lebih mengesankan dari kalimat “janganlah kamu melanggarnya” yang diucapkan pada ayat lain. (Demikianlah sebagaimana telah dinyatakan-Nya bagi kamu apa yang telah disebutkan itu (Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagi manusia supaya mereka bertakwa) maksudnya menjauhi larangan-Nya.

            Mengapa mereka dimaafkan, sedang mereka Tidak berdosa. Bukankah Allah sejak semula tidak melarang hubunga seks di malam ramadhan. Benar Allah tidak melarang, tetapi mereka berdosa ditinjau dari pengetahuan dan kegiatan mereka. Bukankah mereka menduka bahwa itu terlarang, namun mereka mengerjakannya. Jika anda menduga bahwa gelas yang disodorkan kepada anda berisi perasan apel, ternyata kemudian malah minuman keras, maka anda tidak berdosa akan minumannya. Karena anda melakukannya dengan niat melanggar, tetapi atas dasar sangkaan bahwa itu minuman halal. Disini anda tidak sengaja berbuat dosa. Ini sama dengan yang melakukan kegiatan terlarang tanpa mengetahui bahwa itu terlarang. Sebaliknya jika yang disodorkan kepada anda perasan apel dan menduganya minuman keras, kemudian anda minum atas dasar itu minuman keras, maka ketika itu anda berdosa. Walaupun pada kenyataannya itu bukan minuman terlarang. Di sini yang dinilai adalah niat dan tujuan anda minum.

            Setelah menjelaskan bolehnya bercampur dengan pasangan pada malam puasa dan pemanfaatan yang dianugrahkann-Nya. Ayat ini melanjutkan dengan perintah tidak bersifat wajib. Perintah dalam arti izin melakukannya atau menurut anjuran ulama lain. Perintah dimaksud adalah maka sekarang yakni sejak beberapa saat setelah turunnya ayat ini,dan setelah jelas izin bercampur . Maka makan dan minumlah di malam hari bulan ramadhan jika kamu menghendaki dan campurilah mereka, yakni silahkan lakukan hubungan seks serta carilah . Yakni lakukanlah itu dengan memperhatikan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kamu menyangkut hukum dan anjuran yang berkaitan dengan apa yang diizinkan. Baik yang berkaitan dengan hubungan seks maupun makan dan minum.

            Setelah menjelaskan hukum puasa dan di celahnya dijelaskan anjuran berdoa. Kini diuraikan ibadah lain yang sangat dianjurkan khususnya pada bulan ramadhan, yaitu beri’tikaf. Yakni berdiam diri beberapa saat atau sebaiknya beberapa hari untuk merenung didalam masjid. Itu begitu penting dan demikian banyak yang melaksanakan pada masa turunnya ayat-ayat ini. Sehingga seakan –akan setiap yang berpuasa melakukannya. Kemudian karena sebelum ini dijelaskan bolehnya bercampur dengan pasangan pada malam hari ramadhan. Sedang hal itu tidak dibenarkan bagi yang beri’tikaf. Maka lanjutan ayat ini menegaskan, janganlah campuri mereka itu, sedang kamu dalam keadaan beri’tikaf dalam masjid, dan jangan juga campuri walaupun kamu berada diluar masjid. Penyebutan kata masjid di sini berkaitan dengan i’tikaf. Ibadah ini tidak sah kecuali bila dilakukan dalam masjid, bahkan harus di masjid jami’ di mana masjid dilakukannya shalat jum’at menurut sebagian ulama. Kata masjid tidak berkaitan dengan bercampur. Karena bagi yang beri’tikaf dan harus keluar sejenak dari masjid untuk satu satu keperluan yang mendesak, i’tikaf-nya dapat ia lanjutkan. Namun ketika berada di luar masjid ia tetap tidak di benarkan berhubungan seks.

            Akhirnya ayat ini ditutup dengan firman-Nya: Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Karena siapa yang mendekati batas, dia dapat terjerumus sehingga melanggarnya. Dengan demikian larangan mendekati lebih tegas dan pasti dari larangan melanggarnya. Penggunaan kata tersebut dalam konteks puasa amat tepat. Karena puasa menuntut kehati-hatian dan kewara’an agar yang berpuasa tidak hanya menahan diri dari apa yang secara tegas dilarang melalui ayat puasa (makan, minum, dan hubungan seks). Tetapi juga menyangkut hal-hal lain yang berkaitan dengan anggota tubuh lainnya, bahkan dengan nafsu dan pikiran jahat. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.[13]

BAB III

                                                       PENUTUP      

1.Kesimpulan

Al-Baqarah ayat 183 menjelaskan secara gamblang bahwa diwajibkan bagi setiap muslim yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa sebagaimana telah diwajibkan ibadah puasa tersebut umat-umat Nabi Muhammad SAW. Namun di dalam ayat ini belum dijelaskan apakah puasa itu dilakukan selamanya atau pada hari-hari tertentu saja,dan apakah puasa itu sama persis seperti puasa umat-umat terdahulu atau berbeda.

Kemudian pada ayat 184 dan 185 ini menerangkan hukum puasa permulaannya, dan keringanan atau rukhsah bagi siapa yang dalam keadaan sakit atau musafir, mereka boleh untuk tidak berpuasa, tapi harus qadha (mengganti) sebanyak yang ia tinggalkan.sedangkan bagi yang kepayahan menjalankannya maka harus menggantinya dengan membayar kafarot, yaitu memberi makan kepada orang fakir miskin 1 hari 1 mud (± 1kg).

Agama islam itu tidak menggiring manusia dengan rantai  untuk menuju ketaatan. Tetapi hanya menuntun mereka menuju kepada taqwa, dan yang menjadi tujuan ibadah (puasa) ini secara khusus adalah taqwa. Dan sesuatu dapat memalingkan manusia dari menunaikan kewajiban ini dibawah kelambu rukhsah  tidak ada kebaikannya sejak awal, karena tujuan pertama ibadah ini tidak terwujud.

 Pada ayat 186 dan 187 berisi tentang amalan-amalan dibulan ramadhan, seperti memperbanyak shalat, do’a, dan i’tikaf.

Daftar  Pustaka

Al-Qur’an Terjemah, Departemen Agama Republik Indonesia, 1412H

Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Lentera Hati, Jakarta, 2002

Muhammad Amin Summa, Tafsir Ahkam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997

Qamarudin shaleh, Asbabun Nuzul, CV. Diponegoro, Bandung, 1989

Salim dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, PT Bina Ilmu, surabaya, 1987

Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an, Gema Insani, Jakarta, 2000, hal, 306-315

[1] Salim dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, PT Bina Ilmu, surabaya, 1987

[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Lentera Hati, Jakarta, 2002, Hal.401

[3] Muhammad Amin Summa, Tafsir Ahkam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997, hal.78-84

[4] Qamarudin shaleh, Asbabun Nuzul, CV. Diponegoro, Bandung, 1989, hal. 53

[5] Muhammad Amin Summa, Op.cit,hal.76

[8] Al-Qur’an Terjemah, Departemen Agama Republik Indonesia, 1412H

[10] Al-Qur’an Terjemah, Departemen Agama Republik Indonesia, 1412H

[11] Qamarudin shaleh, Asbabun Nuzul, CV. Diponegoro, Bandung, 1989, hal. 55

[12] ibid, hal. 56

[13] Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an, Gema Insani, Jakarta, 2000, hal, 306-315

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*