Contoh Makalah Teknologi Pendidikan Yang Benar

Contoh Makalah Teknologi Pendidikan

Contoh Makalah Teknologi Pendidikan Yang Benar

MakalahkitaContoh Makalah Teknologi Pendidikan Yang Benar yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

DAFTAR ISI

Kata pengantar……………………………………………………………………………………….i

Daftar Isi……………………………………………………. ………………………………………ii

BAB I PENDAHULUAN……………………………. ………………………………………………1

  1. Latar Belakang………………………………….. ………………………………………………1
  2. Rumusan Masalah………………………………. ………………………………………………2
  3. Tujuan penulisan………………………………… ………………………………………………3
  4. Kegunaan penulisan……………………………. ………………………………………………4
  5. Metode penulisan………………………………. ………………………………………………4

BAB II PEMBAHASAN…………………………….. …………………………………5

  1. pengertian Teknologi………………………….. ………………………………………………5
  2. pengertian Teknologi Pendidikan  ………. ……………………………………………….6
  3. pengertian Domain atau wilayah teknologi pendidikan…………………………………8
  4. Domain atau wilayah teknologi pendidikan menurut para ahli………………………..10
  5. Makna dan Fungsi Kawasan Teknologi Pendidikan ……………………………………..12
  6. Definisi Teknologi Instruksional …………. …………………………………………………….13
  7. pergeseran Istilah Educational Technology ke arah Instructional Technology…………14
  8. Desain Teknologi Pembelajaran …………… …………………………………………………16
  9. desain sistem teknologi pembelajaran……. …………………………………………………17
  10. desain pesan ……………………………………… ………………………………………………….22
  11. teori-teori Pembelajaran dalam Desain Teknologi Pembelajaran ……………………..25
  12. tahapan Perkembangan Teknologi pendidikan ………………………………………..28
  13. perkembangan Teknologi Pendidikan ….. ……………………………………………..30
  14. perkembangan Teknologi Pendidikan sebagai disiplin keilmuan………………………31
  15. penerapan Teknologi Pendidikan dalam Sistem Pembelajaran………………………..33
  16. apa saja teori-teori manajemen……………… ……………………………………………..36
  17. kontribusi Teori Manajemen dalam Tekhnologi Pendidikan……………………………37
  18. apa saja macam-macam teknologi manajemen dalam menciptakan system pendidikan.37
  19. aplikasi teknologi manajemen dalam pemecahan masalah pembelajaran………………38

BAB III PENUTUP…………………………………… ……………………………………………….39

  1. Kesimpulan……………………………………… ……………………………………………….39
  2. Saran………………………………………………. ……………………………………………….39

DAFTAR PUSTAKA……………………………….. ……………………………………………….40

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Teknologi adalah perkembangan alat bantu untuk memudahkan pekerjaan manusia. Teknologi juga sebagai alat untuk pemanfaatan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Teknologi pun memasuki berbagai bidang dalam kehidupan manusia untuk meningkatkan efektifitas suatu produksi ataupun kegiatan untuk penggunanya. Dunia pendidikan pun tidak luput dari integrasi teknologi dalam rangka efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Teknologi dalam bidang pendidikan juga harus dapat dikembangkan dengan baik demi terwujudnya kehidupan bangsa yang cerdas yang tertuang dalam UUD 1945.

Bangsa yang cerdas berarti mengarah pada sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas berakar pada kualitas pendidikan yang juga berkualitas. Karena hakikatnya untuk mengembangkan diri manusis membutuhkan pendidikan agar dapat menjadi manusia yang berkualitas dan berguna bagi masyarakat bangsa dan negara.

Manusia dapat mengembangkan diri melalui pendidikan karena manusia menyadari hakikat siapa sebenarnya dirinya. Salah satu pengenalan manusia terhadap dirinya sendirian diri ádalah dengan aspek-aspek berikut:

  1. Kemampuan Menyadari Diri
  2. Kemampuan Bereksistensi
  3. Kata hati
  4. Moral
  5. Tanggung Jawab
  6. Rasa Kebebasan
  7. Kewajiban dan Hak
  8. Kemampuan Menghayati Kebahagian

Aspek-aspek tersebut dalam rangka meningkatkan pengembangan dirinya dan kualitas hidup manusia jalan utama adalah melalui pendidikan. Dalam, mendidik atau bertugas sebagai pendidik sangat penting mengetahui aspek-aspek hakekat manusia tersebut agar menjadi arah sesungguhnya atau tujuan paling utama meningkatkan kualitas hidup manusia. Pendidikan memiliki konsep dan pengertian yang luas dan batasan-batasan untuk dikaji lebih dalam.Salah satu tugas penting para pendidik adalah mengetahui, memahami dan dapat mengaplikasikan serta menerapkan kajian ilmu tentang konsep pendidikan.

Teknologi merupakan salah satu pemecahan masalah dalam dunia pendidikan, karena dapat menembus batas ruang dan waktu. Integrasinya pun makin kuat pada masa globalisasi teknologi dapat menjadi sarana penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang sangat memiliki berbagai pulau yang berjauhan dan terpisah-pisah serta ragam budaya. Pemecahan masalah tersebut merupakan salah satu kepentingan dari teknologi pendidikan.

Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, tapi dikarenakan kekayaan Indonesia yang memiliki berbagai daerah hal tersebut membuat masih adanya daerah-daerah yang belum tersentuh pendidikan. Sangat diperlukan pembentukan sumber-sumber belajar agar masyarakat Indonesia yang belum terjangkau pendidikan merasakan bagaimana pembelajaran. Disinilah peran penting Teknologi Pendidikan.

2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah antara lain :

  1. Apa yang dimaksud dengan pengertian Teknologi ?
  2. Apa yang dimaksud dengan pengertian Teknologi Pendidikan ?
  3. Apa yang dimaksud dengan pengertian Domain atau wilayah teknologi pendidikan ?
  4. Apa saja domain atau wilayah teknologi pendidikan menurut para ahli ?
  5. Bagaimana Makna dan Fungsi Kawasan Teknologi Pendidikan ?
  6. Bagaimana Definisi Teknologi Instruksional ?
  7. Bagaimana pergeseran Istilah Educational Technology ke arah Instructional Technology ?
  8. Apa yang dimaksud dengan pengertian Desain Teknologi Pembelajaran ?
  9. Apa yang dimaksud dengan desain sistem teknologi pembelajaran ?
  10. Apa yang dimaksud dengan desain pesan ?
  11. Apa saja teori-teori Pembelajaran dalam Desain Teknologi Pembelajaran ?
  12. Bagaimana tahapan Perkembangan Teknologi pendidikan ?
  13. Bagaimana perkembangan Teknologi Pendidikan ?
  14. Bagaimana perkembangan Teknologi Pendidikan sebagai disiplin keilmuan ?
  15. Bagaimana penerapan Teknologi Pendidikan dalam Sistem Pembelajaran ?
  16. Apa saja teori-teori manajemen ?
  17. Bagaimana kontribusi Teori Manajemen dalam Tekhnologi Pendidikan ?
  18. Apa saja macam-macam teknologi manajemen dalam menciptakan system pendidikan ?
  19. Bagaimana aplikasi teknologi manajemen dalam pemecahan masalah pembelajaran ?

3.Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui pengertian Teknologi
  2. Untuk mengetahui pengertian Teknologi Pendidikan
  3. Untuk mengetahui pengertian Domain atau wilayah teknologi pendidikan
  4. Untuk mengetahui apa saja domain atau wilayah teknologi pendidikan menurut para ahli
  5. Untuk mengetahui Makna dan Fungsi Kawasan Teknologi Pendidikan
  6. Untuk mengetahui Definisi Teknologi Instruksional
  7. Untuk mengetahui pergeseran Istilah Educational Technology ke arah Instructional Technology
  8. Untuk mengetahui pengertian Desain Teknologi Pembelajaran
  9. Untuk mengetahui desain sistem teknologi pembelajaran
  10. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan desain pesan
  11. Untuk mengetahui apa saja teori-teori Pembelajaran dalam Desain Teknologi Pembelajaran
  12. Untuk mengetahui tahapan Perkembangan Teknologi pendidikan
  13. Untuk mengetahui perkembangan Teknologi Pendidikan
  14. Untuk mengetahui perkembangan Teknologi Pendidikan sebagai disiplin keilmuan
  15. Untuk mengetahui penerapan Teknologi Pendidikan dalam Sistem Pembelajaran
  16. Untuk mengetahui apa saja teori-teori manajemen
  17. Untuk mengetahui kontribusi Teori Manajemen dalam Tekhnologi Pendidikan
  18. Untuk mengetahui apa saja macam-macam teknologi manajemen dalam menciptakan system pendidikan
  19. Untuk mengetahui aplikasi teknologi manajemen dalam pemecahan masalah pembelajaran

4. Kegunaan Penulisan

       Makalah yang berjudul teknologi pendidikan yang membahas berbagai masalah yang berhubungan dengan teknologi pendidikan

5. Metode Penulisan

      Adapun metode penulisan makalah yang digunakan adalah dengan cara study pustaka yaitu mempelajari buku-buku yang dijadikan referensi dalam pengumpulan informasi dan data yang ada kaitannya dengan masalah yang akan di bahas

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pengertian Teknologi

Terminologi teknologi berasal dari kata “textere” (bahasa Latin) yang artinya “to weave or construct”, menenun atau membangun. Dalam bahasa Yunani teknologi berasal dari kata “Technologia” yang menurut Webster Dictionary berarti systematetic treatment atau penanganan sesuatu secara sistematis. Arti lain dari Teknologi diambil dari kata Techne sebagai dasar yaitu art, skill dan science yang berarti keahlian, keterampilan, dan ilmu.

Teknologi dapat dijadikan alat untuk pemanfaatan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Salisbury (2002:7) mengungkapkan bahwa teknologi adalah penerapan ilmu atau pengetahuan yang terorganisir secara sistematis untuk penyelesaian tugas-tugas secara praktis. Praktik penggunaan teknologi akan meningkatkan nilai tambah terhadap produk ilmu pengetahuan Teknologi seringkali oleh masyarakat diartikan sebagai alat elektronik atau mesin.

Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Secara umum, teknologi dapat didefinisikan sebagai entitas, benda maupun tak benda yang diciptakan secara terpadu melalui perbuatan dan pemikiran untuk mencapai suatu nilai. Dalam penggunaan ini, teknologi merujuk pada alat dan mesin yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia nyata. Ia adalah istilah yang mencakupi banyak hal, dapat juga meliputi alat-alat sederhana, seperti linggis atau sendok kayu, atau mesin-mesin yang rumit, seperti stasiun luar angkasa atau pemercepat partikel.

Alat dan mesin tidak mesti berwujud benda; teknologi virtual, seperti perangkat lunak dan metode bisnis, juga termasuk ke dalam definisi teknologi ini. dan Teknologi juga dapat dipandang sebagai kegiatan yang membentuk atau mengubah kebudayaan. Selain itu, teknologi adalah terapan matematika, sains, dan berbagai seni untuk faedah kehidupan seperti yang dikenal saat ini.

Sebuah contoh modern adalah bangkitnya teknologi komunikasi, yang memperkecil hambatan bagi interaksi sesama manusia, dan sebagai hasilnya, telah membantu melahirkan sub-sub kebudayaan baru; bangkitnya budaya dunia maya yang berbasis pada perkembangan Internet dan komputer. Tidak semua teknologi memperbaiki budaya dalam cara yang kreatif; teknologi dapat juga membantu mempermudah penindasan politik dan peperangan melalui alat seperti pistol atau bedil. Sebagai suatu kegiatan budaya, teknologi memangsa ilmu dan rekayasa, yang masing-masing memformalkan beberapa aspek kerja keras teknologis.

A.Pengertian Teknologi Pendidikan

Tumbuh dan berkembangnya suatu konsep tidak akan terlepas dari konteks dimana konsep itu akan tumbuh. Setiap konsep tentu memerlukan ’istilah’ atau ’nama’ yang diciptakan sebagai lambang untuk mengidentifikasikan konsep yang dimaksud dan untuk mengkomunikasikan gagasan yang ada didalamnya.

Teknolgi pendidikan merupakan konsep yang kompleks. Ia dapat dikaji dari berbagai segi dan kepentingan. Teknologi pendidikan sebagai suatu bidang kajian ilmiah senantiansa berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang mendukung dan mempengaruhinya. Hakekat teknologi pendidikan dapat dijelaskan melalui beberapa definisnya.

Teknologi pendidikan adalah kajian dan praktik untuk membantu proses belajar dan meningkatkan kinerja dengan membuat, menggunakan, dan mengelola proses dan sumber teknologi yang memadai, istilah teknologi pendidikan sering dihubungkan dengan teori belajar dan pembelajaran, seperti:

Menurut pendapat Cutchal 1999, (dalam Abdul Katar Al-Ghazali : 2) definisi teknologi pendidikan atau pembelajaran merupakan penelitian dan aplikasi ilmu prilaku dan teori belajar dengan menggunakan pendekatan sistem untuk melakukan analisis, desain, pengembangan, implementasi, evaluasi dan pengelolaan penggunaan teknologi untuk membantu memecahkan masalah belajar dan kinerja. Tujuan utamanya adalah pemanfaatan teknologi (soft-technology maupun hard-technology) untuk membantu memecahkan masalah belajar dan kinerja manusia.

Sementara menurut Comission on Instructional Technology, 1970: adalah: Suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi proses keseluruhan dari belajar dan pembelajaran dalam bentuk tujuan pembelajaran yang spesifik, berdasarkan penelitian dalam teori belajar dan komunikasi pada manusia dan menggunakan kombinasi sumber-sumber belajar dari manusia maupun non-manusia untuk membuat pembelajaran lebih efektif.

Sedangkan AECT (1972), berpendapat bahwa : Teknologi pendidikan adalah satu bidang/disiplin ilmu dalam memfasilitasi belajar manusia melalui identifikasi, pengembangan, pengeorgnasiasian dan pemanfaatan secara sistematis seluruh sumber belajar dan melalui pengelolaan proses kesemuanya itu.

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Teknologi Pendidikan adalah suatu disiplin ilmu yang memfokuskan diri dalam upaya memfasilitasi belajar pada manusia. Jadi obyek formal teknologi pendidikan menurut pengertian ini adalah bagaimana memfasilitasi belajar dengan cara melalui identifikasi, pengembangan, pengeorgnasiasian dan pemanfaatan secara sistematis seluruh sumber belajar. Disamping itu, melalui pengelolaan yang baik dan tepat terhadap proses secara sistematis pada seluruh sumber belajar.

Teknologi Pendidikan dikenal sebagai cara-cara yang sistemik dan sistematik dalam memecahkan masalah pembelajaran secara efektif dan efisien, di dalam definisi ini ada beberapa pengertian:

  1. Teknologi Pendidikan  menawarkan berbagai cara, bukan satu cara.
  2. Teknologi Pendidikan menawarkan cara yang sistemik (bersistem) bukan parsial, tetapi menyeluruh dan integratif dengan melibatkan semua komponen pembelajaran. Seperti uraian Suparman (2004) “bahwa suatu sistem lebih sekedar gabungan dari bagian-bagian; ia harus mempunyaitujuan tertentu yang tidak dapat dicapai oleh fungsi dari satu atau beberapa bagian darinya.”
  3. Teknologi Pendidikan menawarkan cara yang runtut atau sistematik, tidak acak-acakan.
  4. Teknologi Pendidikan menawarkan cara yang terbukti efektif dan efisien, melalui uji coba dalam skala terbatas sebelum digunakan dalam skala nasional.
  5. Cara-cara itu terfokus pada rangkaian interaksi antara peserta didik dengan sumber belajar dalam skala luas, termasuk pengajar dan berbagai media sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya tercapai. Definisi itu menjanjikan terjadinya solusi dalam memecahkan masalah pembelajaran melalui lima konsep dasar tadi. Sehingga muncullah Teknologi Pendidikan  ini sebagai sang Revolusioner untuk mengubah taraf pendidikan itu sendiri kearah yang lebih baik.

Definisi itu menjanjikan terjadinya solusi dalam memecahkan masalah pembelajaran melalui lima konsep dasar yang sangat indah. Sehingga munculah Teknologi Pendidikan  ini sebagai sang Revolusioner untuk mengubah taraf pendidikan itu sendiri kearah yang lebih baik.

B.Pengertian Domain atau wilayah teknologi pendidikan

Secara etimologis, domain berarti wilayah/ daerah kekuasaan atau bidang kajian/ kegiatan/ garapan yang lebih kecil, terinci dan spesifik dari lahan/ lapangan/ cakupan suatu ilmu. Adapun Teknologi pendidikan sebagai teori dan praktik secara faktual yang telah menjadi bagian integral dari upaya pengembangan sumber daya manusia khususnya pada sistem pendidikan dan pelatihan. Idealnya setiap teknologi pendidikan,pembelajaran terutama yang memperoleh pendidikan akademik perlu menguasai beberapa kawasan teknologi pendidikan.

Teknologi pendidikan sebagai Suatu proses komplex yang terintegrasi meliputi manusia,prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisa masalah yang menyangkut semua aspek belajar, serta merancang, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah itu.

Teknologi Pendidikan dapat pula dirumuskan sebagai suatu bidang yang memiliki unsur-unsur nya adalah sebagai berikut : Suatu bidang yang berkepentingan dengan kegiatan belajar manusia. Kegiatan itu dilaksanakan secara sistematis, mencakup: identifikasi pengembangan, pengorganisasian dan penggunaan segala macam sumber belajar. Ada beberapa prinsip penerapan Teknologi Pendidikan yaitu:

  1. Penerapan kawasan pemanfaatan ini disebut pemanfaatan kontekstual. Artinya pemecahan permasalahan belajar pada bidang PLB, ditelaah dengan kerangka teoretik TEP.
  2. Penerapan kawasan TEP pada bidang PLB terkait erat dengan konsep PLB, istilah PLB diadopsi dari special education. Subjekmbelajar mencakup individu dengan berbagai ragam kekhususan,yang memiliki karakteristik individual. Usia subjek sasaran, mencakup intervensi anak usia dini, anak  usia sekolah, anak usia remaja, dan anak usia pasca remaja
  3. Dari segi subjek garapan bidang PLB menangani intervensi kepada semua individual with special needs. Subjek garapan ini mencakup visual impairment, speech and language disorders, communication disordes, hearing impairment, developmental disabilities, motor impairment, health disorders, emotional disabilities, autism and multiple impairment.
  4. Bidang PLB mengkaji secara konseptual dan praktis pendidikan bagi individu with special needs pada seluruh jenjang dan jenis pendidikan. Wilayah layanan pembelajaran, mencakup layanan pembelajaran di lembaga sekolah, serta layanan pada masyarakat, dan lembaga kerja untuk anak.
  5. Bentuk layanan PLB tidak terbatas pada lembaga pendidikan formal, tetapi juga lembaga layanan non-formal. Lembaga PLB menangani pendidikan inklusi, inovasi PLB, layanan masyarakat tentang anak, layanan orangtua dari anak, pengembangan pendekatan pembelajaran sesuai ragam kekhususan dan pendidikan vokasional.
  6. Materi intervensi mencakup pembelajaran vokasional, pembelajaran bidang studi (untuk ABK dengan kecerdasan normal), pembelajaran program khusus, serta ketrampilan domestik dan kompetensi adaptif.
  7. Sumber/alat pembelajaran mencakup pemanfaatan peralatan pembelajaran khusus, adaptasi peralatan pembelajaran anak normal, serta pemanfaatan sumber belajar lingkungan nyata sesuai ragam kekhususan, dan pemanfaatan bengkel kerja anak.

C.Domain atau wilayah teknologi pendidikan menurut para ahli

  1. Menurut Davies (1978)

Davies merumuskan bahwa teknologi pendidikan sesuai dengan gejala pendidikan yang di amati. Pembahasan davies juga dirangkum dari kumpulan tulisan klasik yang di sunting oleh Ely dan plomp.[1]

Davies merumuskan tiga pendekatan sehubungan dengan bidang garapan atau kawasan teknologi pendidikan. Rumusan davies berikut meliputi pendekatan perangkat keras (hardware), pendekatan perangkat lunak (software), dan perpaduan pendekatan perangkat keras dan perangkat lunak. Berikut uraiannya.

  1. Pendekatan perangkat keras (hardware)

Pendekatan ini mengusahakan kegiatan guru yaitu mengajar dengan memanfaatkan penggunaan perangkat keras. Penggunaan perangkat keras di maksudkan agar terjadi otomatisasi atau proses mekanistik dalam kegiatan belajar mengajar. Perangkat keras digunakan untuk menyampaikan dan menyebarkan materi belajar memproduksi materi dan seterusnya. Selain itu, adanya pemanfaatan perangkat keras, dalam hal ini, menggunakan berbagai bentuk media massa seperti TV atau kaset audio, ditargetkan untuk menampung siswa dalam jumlah yang lebih besar dari biasa, dengan tidak mengurangi efisiensi proses belajar. Semua upaya harus tetap mengacu pada efektifitas pembiayaan, terutama pembiayaan yang berasal dari siswa.

  1. Pendekatan Perangkat Lunak (Software)

Pada tahap ini teknologi pendidikan “meminjam” teori dari ilmu prilaku yang ditetapkan untuk mengatasi kesulitan belajar. Teori lain yang di tetapkan adalah teori instruksional. Teori ini membahas cara-cara memperbaiki, memperbaharui, atau merancang situasi yang betul-betul di butuhkan oleh siswa. Penggunaan perangkat keras mesin-mesin, atau yang bersifat mekanistik sangat terbatas, berfungsi hanya sebagai bagian dari penyajian materi oleh guru.

  1. Pendekatan Perpaduan Perangkat Keras Dan Perangkat Lunak

Pendekatan ini menolak model terapan pengembangan sistematik sebagai satu-satunya penyelesaian masalah secara sistematik. Pendekatan perpaduan menerapkan sistem analisis dalam pendidikan dan kegiatan instruksional. Penerapan sistem analisis dianggap mampu mengurangi bias terhadap individu siswa sehingga siswa dapat berperan dalam kelompoknya dengan dinamis. Selain alasan tadi pendekatan perpaduan di anggap lebih manusiawi serta integratif (terpadu) dengan kondisi  belajar mengajar sehari-hari.Kerangka pendekatan berada pada lingkup sistem (system boundary) dengan mencermati seluruh faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar (PBM). Faktor tersebut diantaranya siswa (motivasi belajar serta kemamapuan akademik), guru, lingkungan sekolah, materi atau kurikulum serta tujuan belajar.

  1. Menurut Assosiation for Educational Communication and Technology

Skema kawasan yang diuraikan oleh AECT (1977 dan 1994) melekat satu sama lain Visualisasi kawasan dan bidang garapan menjadi satu, namun mencerminkan keduanya. Perbedaanya terletak pada cara pandang konsep kawasan terpisan dari konsep bidang garapan. Dengan demikian kawasan dibahas seiring dengan penjabaran bidang garapan.

  1. Kawasan AECT 1997

Teknologi pendidikan, teknologi intruksional, sumber belajar, komponen bidang garapan : rancangan, pengembangan, evaluasi, sumber belajar, peserta didik.

Salah satu cirri khas dari bidang garapan yang di rumuskan Tim khusus AECT tahun 1977 adalah penekanan model kawasan pada usaha mengabsahkan pekerjaan yang menonjolkan “lahan” yang dapat di garap oleh para praktisi teknologi pendidikan.sebagaimana biasanya, proses belajar menjadi factor utama dalam proses belajar dan pendidikan.  Seperti telah di sebutkan sebelumnya, teknologi pendidikan di rumuskan sebagai cakupan yang lebih luas dibandingkan dengan teknologi intruksional. Rumusan ini mengacu pada konsep bahwa proses intruksional menjadi bagian proses pendidikan.

  1. Kawasan berdasarkan definisi teknologi pendidikan menurut AECT Definisi terbaru tahun 2008 merupakan pengembangan dari kawasan sebelumnya, dan tiap kawasan melanjutkan perkembangannya. Definisi 2008 sudah lebih spesifik karena menekankan pada studi dan etika praktek. Berikut definisi teknologi pendidikan menurut AECT 2008 “educational technology is the study and ethical practice of facilitating lerning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological process and resource” bahwa teknologi pembelajaran adalah studi dan etika praktek untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengaturan proses serta sumber daya teknologi. Kawasannya terdiri dari : Study, Praktik etis, Memfasilitasi, Pembelajaran, Improving, Performance (meningkatkan), Appropriate (yang layak), Teknologi, Proses, Sumber.

D.Makna dan Fungsi Kawasan Teknologi Pendidikan

  1. Makna Kawasan Teknologi Pendidikan

Secara etimologis, domain atau kawasan berarti wilayah daerah kekuasaan atau bidang kajian, kegiatan, garapan yang lebih kecil, terperinci dan spesifik dari lahan lapangan cakupan suatu ilmu. Adapun Teknologi pendidikan sebagai teori dan praktik secara faktual yang telah menjadi bagian integral dari upaya pengembangan sumber daya manusia khususnya pada sistem pendidikan dan pelatihan. Idealnya setiap teknologi pendidikan, pembelajaran terutama yang memperoleh pendidikan akademik perlu menguasai beberapa kawasan teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan sebagai suatu proses kompleks yang terintegrasi meliputi manusia, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisa masalah yang menyangkut semua aspek belajar, serta merancang, melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah itu.

  1. Fungsi Kawasan Teknologi Pendidikan

Mengetengahkan sifat taksonomi dari struktur kawasan. Tujuan utama dalam membuat suatu taksonomi adalah untuk mempermudah komunikasi. (Bloom, 1956 : 10-11). Pesatnya perubahan dan penyesuaian teknologi menuntut terjadinya alih pengetahuan dari teknologi yang satu kepada yang lain. Tanpa “kemungkinan dapat ditransfer” ini landasan penelitian harus diciptakan kembali untuk setiap teknologi yang baru. Dengan mengidentifikasi lingkup taksonomi, kaum akademisi dan para praktisi  dapat memecahkan permasalahan penelitian, dan para praktisi bersama dengan para teoritisi dapat mengidentifikasi kelemahan teori dalam menunjang dan meramalkan aplikasi Teknologi Pembelajaran.

E.Definisi Teknologi Instruksional

Teknologi instruksional sebagai bagian teknologi pendidikan merupakan cara yang sistematik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan khusus yang didasarkan pada penelitian terhadap belajar dan komunikasi pada manusia serta dengan menggunakan kombinasi, sumber belajar insani dan non-insani, agar menghasilkan pembelajaran yang efektif.

Teknologi instruksional adalah bagian dari teknologi pendidikan berdasar atas konsep bahwa pembelajaran (instruction adalah bagian dari pendidikan). Teknologi instruksional adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi dimana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol.

Dalam teknologi instruksional, pemecahan masalah itu berupa komponen system instruksional yang telah disusun dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan, serta dikombinasikan sehingga menjadi system instruksional yang lengkap.

F.Pergeseran Istilah Educational Technology ke arah Instructional Technology

Konsep definisi teknologi pendidikan mendapatkan kajian secara terus menerus dan selalu dikritisi para ahli terutama yang tergabung dalam AECT, hal ini sesuai dengan perkembangan pendidikan termasuk pembelajaran dan yang lebih khusus kondisi dan karakteristik peserta didik serta komponen pembelajaran lainnya. AECT merumuskan definisi teknologi pendidikan versi bulan juni 2004 yang termasuk masih prematur dan dilemparkan kepada seluruh masyarakat yang terkait dengan pendidikan melalui media internet. Pernyataan yang disampaikan bahwa definisi ini merupakan pre-publication dari bab awal buku yang akan dipublikasikan AECT. Isi informasinya hanya untuk mahasiswa, studi dan reviu, dan tidak diperkenankan untuk diproduksi terlebih dahulu.

Konsep definisi versi 2004 adalah sebagai berikut: Teknologi pendidikan adalah studi dan praktek yang etis dalam memberi kemudahan belajar dan perbaikan kinerja melalui kreasi, penggunaan, dan pengelolaan proses dan sumber teknologi yang tepat. Kalau dianalisis, di dalam definisi tersebut terkandung beberapa elemen berikut

1) studi

2) praktek yang etis

3) kemudahan belajar

4) perbaikan kinerja

5) perbaikan kinerja

6) kreasi, penggunaan, dan pengelolaan

7) teknologi yang tepat

8) proses dan sumber.

Istilah studi yang digunakan dalam definisi tersebut merujuk pada pemaknaan studi sebagai usaha untuk mengumpulkan informasi dan menganalisisnya melebihi pelaksanaan riset yang tradisional, mencakup kajian-kajian kualitatif dan kuantitatif untuk mendalami teori, kajian filsafat, pengkajian historik, pengembangan projek, kesalahan analisis, analisa sistem, dan penilaian. Studi dalam teknologi pendidikan telah berkembang terutama dalam kaitannya dengan pengembangan model pembelajaran, efektifitas kedudukan media dan teknologi dalam pelaksanaan pembelajaran, dam penerapan teknologi dalam perbaikan belajar. Kajian mutakhir banyak difokuskan pada penempatan posisi teori belajar, managemen informasi, dan perkembangan pemanfaatan teknologi untuk memecahkan masalah belajar yang dihadapi peserta didik. Istilah studi dalam definisi tersebut pada hakekatnya ditujukan untuk memberi kemudahan belajar dan perbaikan kinerja belajar peserta didik melalui kegiatan belajar yang memanfaatkan sumber belajar yang tepat.

Definisi tersebut mengarahkan bahwa teknologi pendidikan memiliki praktek yang etis dalam memberikan kemudahan belajar dan perbaikan kinerja belajar peserta didik. Maksud dari praktek yang etis tersebut adalah adanya standar atau norma dalam mengkreasi atau merancang, menggunakan, dan mengelola proses pembelajaran dan pemanfaatan sumber belajar untuk kepentingan belajarnya peserta didik.

Dari definisi 2004 ini tergambar bahwa adanya pergeseran gerakan teknologi pendidikan dari definisi sebelumnya yaitu bahwa teknologi pendidikan atau teknologi pembelajaran sebagai teori dan praktek, bahkan bidang kajian, menjadi studi dan praktek yang etis. Hal ini mengarahkan perlu adanya kajian-kajian yang mendalam dan lebih tepat sehingga diperoleh konsep-konsep dan praktek belajar sesuai dengan kepentingan belajar setiap individu. Namun demikian, perubahan gerakan tersebut tidak menyurutkan tujuan dari teknologi pendidikan yaitu memfasilitasi belajar dan perbaikan penampilan belajar peserta didik dengan menggunakan berbagai macam sumber belajar.

Seiring dengan kemajuan teknologi, maka proses pelaksanaan pendidikanpun mengalami pergeseran, dimana dulu seorang guru bertugas sebagai pengajar/ pemberi secara aktif, sekarang tugas guru beralih seiring dengan teknologi yang ada. Guru menjadi instructor bagi pserta didik Sehingga istilah yang dianggap lebih tepat adalah Instructional technologi.

G. Pengertian Desain Teknologi Pembelajaran

Desain adalah proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk.[2] Teknologi adalah penerapan secara sistematik dan sistematik konsep-konsep ilmu perilaku dan ilmu yang bersifat fisik serta pengetahuan lain untuk keperluan pemecahan masalah.

Teknologi pembelajaran, adalah penerapan secara sistematik dan sistematik strategi dan teknik yang diambil dari konsep ilmu perilaku dan ilmu yang bersifat fisik serta pengetahuan lain untuk keperluan pemecahan masalah pembelajaran.

Teknologi pembelajaran merupakan penggabungan antara teknologi pembelajaran,teknologi belajar, teknologi perkembangan, teknologi pengelolaan, dan teknologi lain seperti yang diterapkan untuk keperluan pemecahan masalah pendidikan.

Teknologi dalam pembelajaran pada dasarnya adalah apa yang oleh teknologi pendidikan dipopulerkan dengan nama alat pandang-dengar (audiovisual aids_disingkat dengan AV aids).

Secara umum AV aids terdiri dari dua komponen yang saling terkait yaitu perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Pengertian hardware adalah yang berhubungan dengan peralatan sesungguhnya, seperti overhead projector (OHP) slide projector, tape recorder, perekam kaset video, monitor TV, mikro computer, projector film dan projector film strip. Software adalah yang berkenaan dengan benda yang dipakai sehubungan dengan adanya hardware tersebut.Benda tersebut antara lain adalah transparansi, program slide, kaset audio, rekaman video, dan program computer.

Jadi, Desain teknologi pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas.

H. Desain sistem teknologi pembelajaran

Desain sistem teknologi pembelajaran yaitu, prosedur yang terorganisasi dan sistematis untuk[3]:

  1. Penganalisaan (proses perumusan apa yang akan dipelajari)
  2. Perencanaan (penjabaran bagaimana cara mempelajarinya)
  3. Pengembangan (proses penulisan dan pembuatan atau produksi bahan-bahan belajar)
  4. Pelaksaan atau aplikasi (pemanfaatan bahan dan strategi)
  5. Penilaian (proses penentuan ketepatan pembelajaran)

Desain sistem teknologi pembelajaran biasanya merupakan prosedur linear dan interaktif yang menuntut kecermatan dan kemantapan.Agar dapat berfungsi sebagai alat untuk saling mengontrol, semua langkah-langkah tersebut harus tuntas. Dalam sistem teknologi pembelajaran, proses sama pentingnya dengan produk, sebab kepercayaan atas produk berlandasan pada proses. Pembelajaran yang berkualitas dapat diwujudkan, bilamana proses pembelajaran direcanakan dan dirancang dengan matang dan saksama, tahap demi tahap, dan proses demi proses.

Dalam menilai pelaksaan desain teknologi pembelajaran mencakup 3 aspek[4]:

1.Validasi tujuan dalam hubungan dengan peranan pendidikan diproyeksikan.

2.Tingkat-tingkat kriteria dan bentuk assessemt.

3. Pelaksanaan organisasi dan pengelolaan dalam hubungan dengan hasil tujuan.

Pada prinsipnya pelaksanaan penilaian harus dilakukan sejak awal dan continue karena merupakan bagian integral dalam pengembangan program.

Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para ahli.Secara umum, model desain pembelajaran dapat diklasifikasikan ke dalam model berorientasi kelas, model berorientasi sistem, model berorientasi produk, model prosedural dan model melingkar.Model berorientasi kelas biasanya ditujukan untuk mendesain pembelajaran level mikro (kelas) yang hanya dilakukan setiap dua jam pelajaran atau lebih. Contohnya adalah model assure.

Model berorientasi produk adalah model desain pembelajaran untuk menghasilkann suatu produk, biasanya media pembelajaran, misalnya video pembelajaran, multimedia pembelajaran, atau modul.Contoh modelnya adalah model hannafin and peck.

Satu lagi adalah model beroreintasi sistem yaitu model desain pembelajaran untuk menghasilkan suatu sistem pembelajaran yang cakupannya luas, seperti desain sistem suatu pelatihan, kurikulum seiolah, dan lain-lain. contohnya adalah model addie. Selain itu ada pula yang biasa kita sebut sebagai model prosedural dan model melingkar.  Contoh dari model prosedural adalah model Dick and Carrey, sementara contoh model melingkar adalah model Kemp.

Adanya variasi model yang ada ini sebenarnya juga dapat menguntungkan, beberapa keuntungan itu antara lain adalah dapat memilih dan menerapkan salah satu model desain pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik yang dihadapi di lapangan, selain itu juga, dapat dikembangkan dan dibuat model turunan dari model-model yang telah ada, ataupun  juga dapat diteliti dan dikembangkan desain yang telah ada untuk dicobakan dan diperbaiki. Beberapa contoh dari model-model diatas akan diuraikan secara lebih jelas berikut ini:

  1. Model Dick and Carrey

Salah satu model desain pembelajaran adalah model Dick and Carey. Model ini termasuk ke dalam model prosedural. Langkah-langkah Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey adalah :

  1. Mengidentifikasikan tujuan umum pembelajaran.
  2. Melaksanakan analisi pembelajaran
  3. Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa
  4. Merumuskan tujuan performansi
  5. Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan
  6. Mengembangkan strategi pembelajaran
  7. Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran
  8. Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif
  9. Merevisi bahan pembelajaran
  10. Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif.

Model Dick and Carey bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain. Kesepuluh langkah pada model Dick and Carey menunjukan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara

langkah yang satu dengan yang lainya. Langkah awal pada model Dick and Carey adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran.Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam mata pelajaran tertentu di mana tujuan pembelajaran pada kurikulum agar dapat melahirkan suatu rancangan pembangunan.

Penggunaan model Dick and Carey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan agar:

  1. Pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampumelakukan hal–hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran,
  2. Adanya pertautan antara tiap kompone nkhususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran yang dikehendaki,

3.Menerangkan langkah–langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain pembelajaran.

  1. Model Kemp

Model Kemp termasuk ke dalam contoh model melingkar. Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah dalam penyusunan sebuah bahan ajar, yaitu:

  1. Menentukan tujuan dan daftar topik, menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;

b.Menganalisis karakteristik pelajar, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;

  1. Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolak ukur perilaku pelajar;
  2. Menentukan isi materi pelajaran yang dapat mendukung tiap tujuan;
  3. Pengembangan prapenilaian/ penilaian awal untuk menentukan latar belakang pelajar dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik;
  4. Memilih aktivitas pembelajaran dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi belajar-mengajar, jadi siswa siswa akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
  5. Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
  6. Mengevaluasi pembelajaran siswa dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.

3. Model ASSURE

Model ASSURE merupakan suatu model yang merupakan sebuah formulasi untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) atau disebut juga model berorientasi kelas. Menurut Heinich et al model ini terdiri atas enam langkah kegiatan yaitu:

  1. Analyze Learners (analisis pelajar)

Menurut Heinich et.al jika sebuah media pembelajaran akan digunakan secara baik dan disesuaikan dengan cirri-ciri belajar, isi dari pelajaran yang akan dibuatkan medianya, media dan bahan pelajaran itu sendiri. Lebih lanjut Heinich, 2005 menyatakan sukar untuk menganalisis semua cirri pelajar yang ada, namun ada tiga hal penting dapat dilakuan untuk mengenal pelajar sesuai .berdasarkan cirri-ciri umum, keterampilan awal khusus dan gaya belajar.

  1. States Objectives (menyatakan tujuan)

Menyatakan tujuan adalah tahapan ketika menentukan tujuan pembeljaran baik berdasarkan buku atau kurikulum. Tujuan pembelajaran akan menginformasikan apakah yang sudah dipelajari anak dari pengajaran yang dijalankan. Menyatakan tujuan harus difokuskan kepada pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang baru untuk dipelajari.

  1. Select Methods, Media, and Material (pemilihan metode, media dan bahan)

Heinich menyatakan ada tiga hal penting dalam pemilihan metode, bahan dan media yaitu menentukan metode yang sesuai dengan tugas pembelajaran, dilanjutkan dengan memilih media yang sesuai untuk melaksanakan media yang dipilih, dan langkah terakhir adalah memilih dan atau mendesain media yang telah ditentukan.

  1. Utilize Media and materials (penggunaan media dan bahan)

Menurut Heinich terdapat lima langkah bagi penggunaan media yang baik yaitu, preview bahan, sediakan bahan, sedikan persekitaran, pelajar dan pengalaman pembelajaran.

  1. Require Learner Participation (partisipasi pelajar di dalam kelas)

Sebelum pelajar dinilai secara formal, pelajar perlu dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran seperti memecahkan masalah, simulasi, kuis atau presentasi.

  1. Evaluate and Revise

Sebuah media pembelajaran yang telah siap perlu dinilai untuk menguji keberkesanan dan impak pembelajaran.Penilaian yang dimaksud melibatkan beberaoa aspek diantaranya menilai pencapaian pelajar, pembelajaran yang dihasilkan, memilih metode dan media, kualitas media, penggunaan guru dan penggunaan pelajar.

  1. Model ADDIE

Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda.Salah satu

fungsinya ADDIE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.

Model ini menggunakan 5 tahap pengembangan yakni :

  1. Analysis (analisa)
  2. Design (desain / perancangan)
  3. Development (pengembangan)
  4. Implementation (implementasi/eksekusi)
  5. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)
  6. Model Hanafin and Peck

Model Hannafin dan Peck ialah model desain pengajaran yang terdiri daripada tiga fase yaitu fase Analisis keperluan, fase desain, dan fase pengembangan dan implementasi Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain pembelajaran berorientasi produk.

I.Desain pesan

Desain pesan yaitu perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan agar terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima, dengan memperhatikan prinsip-prinsip perhatian, persepsi dan daya tangkap. Fleming berpendapat bahwa membatasi pesan pada pola-pola isyarat atau symbol yang dapat memodifikasi prilaku kognitif, afektif, dan psikomotor.[1]

Desain pesan berkaitan dengan hal-hal mikro, seperti bahan visual, urutan, halaman, dan layar secara terpisah. Desain pesan harus bersifat spesifik, baik tentang media maupun tugas belajarnya. Hal ini mengandung makna bahwa prinsip-prinsip desain pesan akan berbeda, tergantung pada jenis medianya, apakah bersifat statis, dinamis, atau kominasi keduanya (misalnya suatu potret, film atau grafik computer). Juga apakah tugas belajarnya tentang pembentukan konsep, pengembangan sikap, pengembangan keterampilan, strategi belajar atau hafalan.  Dengan demikian desain pesan ini melibatkan perencanaan untuk menentukan jenis media dan format sajian yang paling menarik untuk menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada peserta didik.

Menyampaikan pembelajaran sesuai dengan konsep teknologi pembelajaran pada hakikatnya merupakan kegiatan menyampaikan pesan kepada peserta didik oleh narasumber dengan menggunakan bahan, alat, teknik, dan dalam lingkungan tertentu.

  1. Karakteristik Isi Pesan

Agar pesan menarik untuk khalayak, maka pesan harus mengandung unsure-unsur sebagai berikut :

  1. novelty (sesuatu yang baru), pendengar atau pemirsa akan tertarik apabila yang disajikan sesuatu yang baru.
  2. kedekatan atau proximity, pendengar atau pemirsa akan lebih tertarik apabila yang disajikan sesuatu yang dekat secara fisik dengan pengalamannya.
  3. popularitas pemberian seorang tokoh yang popular akan mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pendengarnya.
  4. pertentangan (conflict), sesuatu yang mengungkapkan pertentangan biasanya disukai pendengar.
  5. komedi (humor), hal-hal yang lucu dan menyenagkan akan lebih nenarik untuk didengar sehingga tidak membosankan .
  6. keindahan, menyenangi keindahan dan kecantikan adalah salah satu sifat manusia, sehigga sifat yang mengandung keindahan akan sangat disenangi.
  7. emosi, sesuatu yang membangkitkan emosi dan menyentuh perasaan yang merupakan daya tarik tersendiri dalam mengemas suatu pesan.
  8. nostalgia, yaitu hal yang mengungkapkan pengalaman dimasa lalu.
  9. human interest, yaitu cerita-cerita yang menyangkut kehidupan orang lain.
  10. Struktur Pesan

Struktur pesan mengacu kepada bagaimana mengorganisasi elemen-elemen pokok dalam sebuah pesan.

  1. sisi pesan terdiri atas dua bentuk penyusunan, yaiyu satu sisi ( one sided) dan dua sisi ( two sided). Penyusunan pesan lebih banyak menitik beratkan pada kepentingan pihak pengirim pesansaja. Biasanya pesan yang ditonjolkan adalah aspek-aspekpositif. Duas sisi pesan disampaikan dengan segala kelemahan dan kekuatannya.
  2. urutan penyajian berbentuk climax versus anticlimax order dan recency and primacy model. Hal ini berkaitan dengan pesan satu sisi. Disebut climax order, bila dalam penyusunan pesan argument terpenting diletakkan pada bagian akhir. Jika diletakkan pada bagian awal disebut anticlimax order. Dan bila diletakkan ditengah-tengah disebut pyramidal order. Primacy yaitu model bila dalam penyusunan suatu pesan aspek bagian positif dan negative diletakkan pada bagian awal. Adapun recency bila aspek positif dan negatifditempatkan pada bagian akhir.
  3. penarikan kesimpulan. Membuat suatu kesimpulan dapat secara merata langsung dan jalas (explisit) atau secara tidak langsung (implisit)
  4. Daya Tarik Pesan

Daya tarik pesan berkaitan dengan teknik penampilan dalam penyusunan suatu pesan, ide yang meliputi fear (thereat) appleals, emotional appleals, rational appleals dan humor appleals. Fear (theart) appleals bila dalam menyajikan suatu pesan yang ditunjukan unsur-unsur ancaman bahaya sehingga menimbulkan rasa takut, dan bila penekana pesan pada hal-hal yang bersifat emosional seperti keindahan, kesedihan, kesengsaraan, cinta dan kasih sayang rationel appleals bial pesan tersebut menekankan pada hal-hal yang logis, rasional dan factual. Humor appleals bila penyajian pesan dikemas dalam bentuk humor, bisa saja dalam bentuk kata, kalimat, gambar, simbol, atau yang lainnya yang bisa menimbulkan pesan lucu.

J. Teori-teori Pembelajaran dalam Desain Teknologi Pembelajaran

Penelitian terkini mengatakan bahwa lingkungan pembelajaran yang bermediateknologi dapat meningkatkan nilai para pelajar, sikap mereka terhadap belajar, dan evaluasi dari pengalaman belajar mereka. Teknologi juga dapat membantu untuk meningkatkan interaksi antar pengajar dan pelajar, dan membuat proses belajar yang berpusat pada pelajar (student oriented). Dengan kata lain, penggunaan media menggunakan audio visual atau komputer media dapat membantu siswa itu memperoleh pelajaran bermanfaat. Guru sebagai pengembang media pembelajaran harus mengetahui perbedaan pendekatan-pendekatan dalam belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat. Strategi pembelajaran harus dipilih untuk memotivasi para pembelajar, memfasilitasi proses belajar, membentuk manusia seutuhnya, melayani perbedaan individu, mengangkat belajar bermakna, mendorong terjadinya interaksi, dan memfasilitasi belajar kontekstual. Terdapat beberapa teori belajar yang melandasi penggunaan teknologi/komputer dalam pembelajaran yaitu teori behaviorisme, kognitifisme dan konstruktivisme.

  1. Teori Behaviorisme

Behaviorisme memandang fikiran sebagai „kotak hitam” dalam merespon rangsangan yang dapat diobsevasi secara kuantitatif, sepenuhnya mengabaikan proses berfikir yang terjadi dalam otak. Kelompok ini memandang tingkah laku yang dapat diobservasi dan diukur sebagai indikator belajar. Implementasi prinsip ini dalam mendesain suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Siswa harus diberitahu secara eksplisit outcome belajar sehingga mereka dapat mensetting harapan-harapan mereka dan menentukan apakah dirinya telah mencapai outcome dari pembelajaran online atau tidak. Pembelajar harus diuji apakah mereka telah mencapai outcome pembelajaran atau tidak. Tes dilakukan untuk mencek tingkat pencapaian pembelajar dan untuk memberi umpan balik yang tepat.
  2. Materi belajar harus diurutkan dengan tepat untuk meningkatkan belajar. Urutan dapat dimulai dari bentuk yang sederhana ke yang kompleks, dari yang diketahui sampai yang tidak diketahui dan dari pengetahuan sampai penerapan.
  3. Pembelajar harus diberi umpan balik sehingga mereka dapat mengetahui bagaimana melakukan tindakan koreksi jika diperlukan.
  4. Teori Kognitivisme

Dalam teori ini mereka lebih menyukai metode belajar aktif dan berinteraksi dengan teman untuk memperoleh umpan balik dan informasi. Implementasi prinsip ini dalam mendesain suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut:

  1. Materi pembelajaran harus memasukan aktivitas gaya belajar yang berbeda, sehingga siswa dapat memilih aktivitas yang tepat berdasarkan kecenderungan gaya berlajarnya.
  2. Sebagai tambahan aktivitas, dukungan secukupnya harus diberikan kepada siswa dengan perbedaan gaya belajar. Siswa dengan perbedaan gaya belajar memiliki perbedaan pilihan terhadap dukungan, sebagai contoh, assimilator lebih suka kehadiran instruktur yang tinggi. Sementara akomodator lebih suka kehadiran instruktur yang rendah.
  3. Informasi harus disajikan dalam cara yang berbeda untuk mengakomodasi perbedaan individu dalam proses dan memfasilitasi transfer ke long-term memory.
  4. Pembelajar harus dimotivasi untuk belajar, tanpa memperdulikan sebagaimana efektif materi, jika pembelajar tidak dimotivasi mereka tidak akan belajar.
  5. Pada saat belajar, pembelajar harus diberi kesempatan untuk merefleksi apa yang mereka pelajari. Bekerja sama dengan pembelajar lain, dan mengecek kemajuan mereka.
  6. Psikologi kognitif menyarankan bahwa pembelajar menerima dan memproses informasi untuk ditransfer ke long term memory untuk disimpan.
  7. Teori Konstruktivisme

Penekanan pokok pada konstruktivis adalah situasi belajar, yang memandang belajar sebagai yang kontekstual. Aktivitas belajar yang memungkinkan pembelajar mengkontekstualisasi informasi harus digunakan dalam mendesain sebuah media pembelajaran. Jika informasi harus diterapkan dalam banyak konteks, maka strategi belajar yang mengangkat belajar multi-kontekstual harus digunakan untuk meyakinkan bahwa pembelajar pasti dapat menerapkan informasi tersebut secara luas. Belajar adalah bergerak menjauh dari pembelajaran satu-cara ke konstruksi danpenemuan pengetahuan. Implementasi pada online learning adalah sebagai berikut:

  1. Belajar harus menjadi suatu proses aktif. Menjaga pembelajar tetap aktif melakukan aktivitas yang bermakna menghasilkan proses tingkat tinggi, yang memfasilitasi penciptaan makna personal.
  2. Pembelajar mengkonstruksi pengetahuan sendiri bukan hanya menerima apa yang diberi oleh instruktur. Konstruksi pengetahuan difasilitasi oleh pembelajaran interaktif yang bagus, karena siswa harus mengambil inisiatif untuk berinteraksi dengan pembelajar lain dan dengan instruktur, dan karena agenda belajar dikontrol oleh pembelajar sendiri.
  3. Bekerja dengan pembelajar lain memberi pembelajar pengalaman kehidupan nyata melalui kerja kelompok, dan memungkinkan mereka menggunakan keterampilan metakognitif mereka.
  4. Pembelajar harus diberi control proses belajar.
  5. Pembelajar harus diberi waktu dan kesempatan untuk refleksi. Pada saat belajar online siswa perlu merefleksi dan menginternalisasi informasi.
  6. Belajar harus dibuat bermakna bagi siswa. Materi belajar harusmemasukan contoh-contoh yang berhubungan dengan pembelajar sehingga mereka dapat menerima informasi yang diberikan.
  7. Belajar harus interaktif dan mengangkat belajar tingkat yang lebih tinggi dan kehadiran sosial, dan membantu mengembangkan makna personal. Pembelajar menerima materi pelajaran melalui teknologi, memproses informasi, dan kemudian mempersonalisasi dan mengkontekstualisasi informasi tersebut.

K.TahapanPerkembangan Teknologi pendidikan

Perkembangan Teknologi Pendidikan telah berlangsung dari waktu yang lama sekali, banyak pendapat dan kejadian sejarah yang mendasari awal perkembangan Teknologi Pendidikan, terutama yang berkaitan dengan perkembangan manusia.

Menurut Nana Syaodih S. (1997: 67) menyatakan bahwa sebenarnya sejak dahulu Tahapan perkembangan teknologi pendidikan ini ditinjau dari perjalanan sejarah telah mengalami empat tahap perubahan atau perkembangan, hal ini dilihat dari penyajian pendidikan itu sendiri.

Pertama adalah takkala dalam masyarakat tumbuh suatu profesi baru dalam dunia pendidikan yang disebut “guru” yang diberi tanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan mewakili orang tua. Dan guru inilah yang pada mulanya menerapkan teknologi pendidikan dari perangkat softwarenya yang pada masa ini masih tradisional dan sederhana. Dari peranan guru ini sehingga peranan pendidikan bergeser dari pendidikan rumah menjadi pendidikan sekolah secara formal.

Perkembangan kedua dimulai dengan dipergunakannya bahasa tulisan di samping bahasa lisan dalam penyajian pendidikan. Pada perkembangan ini teknologi pendidikan mulai menggunakan perangkat hardwarenya meskipun masih sangat sederhana seperti alat tulis.

Perkembangan yang ketiga terjadi dengan ditemukanya teknik percetakan yang memungkinkan diperbanyaknya bahan-bahan bacaan dalam bentuk buku-buku teks sebagai materi pendidikan, dan saat inilah teknologi pendidikan mulai dipergunakan dari segi software beserta hardwarenya semakin konkrit dan teratur.

Perkembangan yang keempat terjadi dengan ditemukannya teknologi berikut produknya yang menghasilkan alat-alat mekanis,optis maupun elektronis sehingga teknologi pendidikan sudah memakai erangkat software dan hardware secara sempurna dan modern yang sesuai dengan kemampuan pendidik sehingga proses pendidikan semakin maju pesat seiring dengan perkembangan zaman.

Tahapan perkembangan ini tidak memilh dari segi teknologi pendidikan software atau dari perangkat yang lain tetapi sudah memadukannya dengan sangat baik.

Adapun tahapan perkembangan berikut ini banyak membahas perkembangan teknologi pendidikan dari segi hardwarenya. Akan tetapi ini semua tergantung pada kita dalam mengambil pengertian perkembangan yang luas dari uraian berikut ini!

Kalau kita lihat perkembangannya pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (tesching aids) saja.

Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual dan alat lainnya yang dapat memberi pengalaman konkret dalam pendidikan, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan reteusi belajar siswa. Namun sayang, karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orangkurang memperhatikan aspek desain, pengembangan pembelajaran produksi dan evaluasinya. Dengan masuknya teknologi audio pada sekitar pertengahan abad ke 20 alat visual untuk mengkongkritkan ajaran ini dilengkapi dengan digunakannya alat audio sehingga kita kenal adanya alat audio visual atau audio visual aids (AVA).

Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu media juga berfungsi sebagai penyalur pesan atau informasi belajar. Sejak saat itu alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga sebagai alat penyalur pesan atau media. Teori ini sangat penting dalam penggunaan media untuk kegiatan program-program pendidikan, sayang sampai saat itu pengaruhnya masih terbatas pada pemilihan media saja. Faktor siswa yang menjadi komponen utama dalam proses belajar belum mendapat perhatian.

Baru pada tahun 1960-1965 orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang penting dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu teori tingkah laku (behaviorism theori) ajaran B.F. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Dan pada tahun 1965-1970 pendekatan sistem (system appoach) yang berkembang saat itu mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran.Demikian tahapan perkembangan teknologi pendidikan yang dapat penulis uraikan.

L.Perkembangan Teknologi Pendidikan

Perkembangan Teknologi Pendidikan telah berlangsung dari waktu yang lama sekali, banyak pendapat dan kejadian sejarah yang mendasari awal perkembangan Teknologi Pendidikan, terutama yang berkaitan dengan perkembangan manusia.

Menurut Nana Syaodih S. (1997: 67) menyatakan bahwa sebenarnyateknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Kalau manusia pada zaman dulu memecahkan kemiri dengan batu atau memetik buah dengan galah, sesungguhnya mereka sudah menggunakan teknologi, yaitu teknologi sederhana. Sebagai salah satu disiplin ilmu, teknologi pendidikan juga berorientasikan kepada perubahan (perkembangan) cara hidup dan kebutuhan manusia. Inilah yang menyempurnakan teknologi pendidikan setaraf dengan disiplin ilmu lainnya, yaitu dengan adanya prinsip relevansi terhadap perkembangan dan perubahan. Sebuah penelitian tentang persepsi para pakar teknologi pendidikan tentang teknologi pendidikan dilaksanakan pada tahun 2005 silam.

Hasil dari penelitian “Perceptions and Opinions of Educational Technologists Related to Educational Technology”. (Persepsi dan Pendapat teknologi Pendidikan Terkait dengan Teknologi Pendidikan). mengungkapkan bahwa teknologi pendidikan telah mengalami perubahan sejak disiplin ilmu ini lahir. Perubahan ini secara general ditandai dengan berubahnya konsep teknologi pendidikan sebanyak dua kali dari sejak tahun 1977 (definisi AECT). Konsep tersbut dapat dipaparkan sebagai berikut:

“Teknologi Pendidikan merupakan proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia”.  (AECT, 1977)

“Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi terhadap proses dan sumber belajar”.  (AECT, 1994)

“Teknologi pendidikan adalah teori dan praktek ilmiah dalam memfasilitasi atau memudahkan belajar dan meningkatkan hasil dengan cara membuat, menggunakan, dan mengelola proses dan sumber teknologi yang tepat) (AECT, 2004/2008)

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan perubahan konsep teknologi pendidikan telah terjadinya perubahan paradigma dalam batang tubuh teknologi pendidikan. Paradigma tersebut merupakan cara pandang teknologi pendidikan terhadap perkembangan manusia.

M. Perkembangan Teknologi Pendidikan sebagai disiplin keilmuan

Teknologi pendidikan sebagai disiplin ilmu, pada awalnmya berkembang sebagai bidang kajian di Amerika Serikat. Kalau mengacu pada konsep teknologi sebagai cara, maka awal perkembangan teknologi pendidikan dapat dikatakan telah ada sejak awal peradaban.

Teknologi pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu terapan, artinya ia berkembang karena adanya kebutuhan di lapangan, yaitu kebutuhan untuk belajar. Belajar lebih efektif, lebih efisien, lebih banyak, lebih luas, lebih cepat dan sebagainya. Untuk itu ada usaha dan produk yang sengaja dibuat dan ada yang ditemukan dan dimanfaatkan. Namun perkembangan teknologi pendidikan sangat pesat akhir-akhir ini dan menawarkan sejumlah kemungkinan yang semula tidak terbayangkan, telah membalik cara berpikir kita dengan  “bagaimana mengambil manfaat teknologi tersebut untuk mengatasi masalah belajar”.

Teknologi pendidikan adalah suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan dan mengevaluasi seluruh kegiatan proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pendidikan yang lebih baik. Kemajuan atau perkembangan teknologi pendidikan sekarang ini tidak terjadi begitu saja.

Teknologi pendidikan mewadahi semua disiplin ilmu yang akan diselenggarakan dalam rangka pendidikan dan pembelajaran. Dalam kata lain, semua kegiatan pendidikan dan pembelajaran dapat mengintegrasikan teknologi pendidikan didalam proses penyampaiannya. Karena itu teknologi pendidikan memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam pengembangan keilmuannya.

Bersamaan dengan perubahan konsep teknologi pendidikan berdasarkan AECT yang dikemukakan pada BAB II, dalam penelitian ini juga didapat kesimpulan bahwa telah terjadinya perubahan paradigma dalam batang tubuh teknologi pendidikan. Paradigma tersebut merupakan cara pandang teknologi pendidikan terhadap perkembangan manusia. Perubahan paradigma tersebut digambarkan pada gamabar berikut ini:

Pada awal lahirnya teknologi pendidikan, disiplin ilmu ini hanya menitikberatkan pada pemanfaatan alat-alat (teknologi dalam hal mesin) untuk kegiatan belajar mengajar, contohnya seperti radio dan televisi. Seiring kebutuhan manusia yang semakin kompleks, teknologi pendidikan tidak hanya sebagai pemanfaatan alat (mesin) untuk belajar, pendekatan sistem mulai masuk dalam disiplin ilmu ini. Pendekatan sistem inilah yang memberikan pengaruh amat besar bagi perkembangan keilmuan teknologi pendidikan.

Dengan pendekatan sistem ini, teknologi pendidikan menjadi disiplin ilmu untuk pengembangan desain sistem pembelajaran, tentunya didukung juga dengan disiplin ilmu lainnya (psikologi, filsafat, komunikasi, dll). Dan pada paradigma terakhir (abad 21), teknologi pendidikan menjadi disiplin ilmu tentang merancang aktifitas dan lingkungan belajar.

Kompetensi lulusan teknologi pendidikan sudah seharusnya diarahkan pada paradigma yang terakhir ini dan trend masa kini, yaitu paradigma merancang aktifitas dan lingkungan belajar juga trend “The Digital Era”. Kompetensi lulusan teknologi pendidikan jangan sampai diarahkan pada tataran sumber daya “teknisi” saja, tetapi juga akan lebih sempurna jika diarahkan pada tataran sumber daya seorang “teknolog”. Kompetensi seorang “teknolog” akan menyirikan bahwa kompetensi lulusan ini berdaya saing global, hingga mampu berkompetisi dengan bidang lainnya yang sejalur.

Dengan paradigma dan trend seperti ini, sudah sepantasnya sumber daya teknologi pendidikan menjadi prioritas dalam pengembangan pembelajaran di lembaga atau instansi manapun yang mengadakan kegiatan pembelajaran dan para sumber daya teknologi pendidikan akan memiliki potensi berkarya yang tidak terbatas, baik pada institusi formal (lembaga pendidikan) maupun di lembaga lainnya.

Tentunya pemerintah dan pihak-pihak yang lain sudah waktunya melirik teknologi pendidikan sebagai faktor yang potensial, dimana ketika ingin memperbaiki kualitas manusia melalui pembelajaran, maka teknologi pendidikan merupakan solusi paling tepat.

N.Penerapan Teknologi Pendidikan dalam Sistem Pembelajaran

Sejak manusia mengenal sistem pendidikan, teknologi pendidikan telah menjadi fondasi bagi jalannya sistem pendidikan yang ada, dan itu telah ada beberapa abad sebelum adanya sebuah sistem yang sistematis seperti halnya yang ada dalam madrasah-madrasah yang ada di dunia Islam, seperti di Madrasah Nizamiyah di Bagdad pada abad pertengahan saat Islam mengalami masa keemasan.

Pada masa Aristoteles misalnya, melalui Lyceum-nya atau Akademia, teknologi pendidikan meski dalam bentuk yang sederhana telah mulai menjadi bagain integral dari sistem pembelajaran yang ada. Kemudian, era Scolatic di Barat yang terkenal dengan sekolah-sekolah bagi biarawan dan biarawatinya juga tidak lepas dengan teknologi pendidikannya.

Sedangkan di Madrasah Nizamiyah sendiri, sistematisasi metode pengajaran nampak dengan adanya pembagaian ilmu-ilmu fikih yang diajarkan dengan mengajarkan ajaran empat madzab fikih, ditunjang dengan berbagai keilmuan lainnya dengan di dukung misalnya perpustakaan yang memadai, laboratorium kimia maupun laboratorium langit, serta asrama bagi para siswanya. Semua elemen itu tersususun sebagai sebuah teknologi pendidikan yang berhasil membawa Islam menuju puncak keemasan.

Teknologi pendidikan secara keseluruhan dalam sistem pendidikan adalah miniatur cara memandang dan menyikapi manusia untuk dapat terjun hidup sebagai anggota masyarakat. Melalui ini dalam sistem pendidikan manusia ditempa untuk menjadi manusia yang juga dapat menyesuaiakan diri dengan baik dalam lingkungannya.Teknologi pendidikan jelas memiliki arti yang begitu penting, apalagi untuk manusia modern dan manusia postmodern saat ini. Dengan masalah hidup yang semakin kompleks dan berbagai tantangan hidup yang begitu banyak, dunia pendidikan sebagai salah satu tempat yang paling efektif membentuk pribadi dan kematangan manusia tentu semakin memerlukan sebuah metode atau tehnik yangcompatible dengan zamannya.

Kemudian secara khususpun media pendidikan juga memiliki arti penting sama halnya teknologi pendidikan secara umum. Di era Abasiyyah di Madrasah Nizamiyah misalnya. Kita dapat melihat bagaimana perpustakaan sebagai media pendidikan memiliki peran penting dalam progresifitas pendidikan pada masa itu. Tidak dipungkiri bahwa bahan bacaan adalah faktor yang menjadikan siswa menemukan khazanah keilmuan yang dapat mengisi khazanah pengetahuan dalam diri mereka selain dari apa yang disampaikan gurunya.

Kalau di zaman sekarang, peran penting media pendidikan dengan menggunakan media teknologi seperti komputer, rekaman audio, atau juga film tentu amat sangat memiliki arti penting. Apalagi jika sistem pendidikan yang bersangkutan memiliki orientasi pada siswa untuk dicetak sebagai tenaga kerja, akan lebih lagi nilai penting media semacam itu dalam penemuan khazanah pengetahuan yang ingin didapat peserta didik. Meski demikian tetap saja harus ada penyesuaian di sana-sini agar media pendidikan yang digunakan tepat guna. Dan di sinilah software teknologi pendidikan diperlukan, bagaimana mengupayakan agar media pendidikan dengan menggunakan media teknologi bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Kita dapat melihat mekanisme teknologi pendidikan dengan menggunakan sample pola hubungan media pendidikan yang menggunakan gambar dengan software dalam teknologi pendidikan. Gambar atau foto adalah salah satu media teknologi yang cukup bagus digunakan sebagai media dalam praktek pendidikan. Hal itu karena gambar atau foto memiliki kelebihan seperti sifatnya konkrit, gambar dapat mengatasi batas ruang dan waktu, dapat memperjelas satu masalah, dan mudah didapatkan. Namun sayangnya gambar juga memiliki kelemahan, di antaranya gambar hanya menekankan persepsi indera penglihatan, gambar yang terlalu komplek tidak efektif ketika digunakan dalam dalam sistem pembelajaran, ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar. Untuk itu maka harus ada filterisasi di situ, dan tentu mekanisme software teknologi pendidikan diperlukan untuk mengoptimalkan guna gambar atau foto yang digunakan. Software menyaring gambar atau foto yang akan digunakan.

Dengan menetapkan syarat-syarat berikut misalnya, software dalam teknologi pendidikan berperan; dengan mengklasifikasikan bahwa gambar yang dapat digunakan sebagai media pendidikan adalah yang autentik. Gambar yang menceritakan apa adanya satu peristiwa. Kemudian juga, gambar itu harus sederhana, apalagi jika siswa yang diajar masih dalam tingkatan bawah seperti siswa SD atau Taman kanak-kanak. Dengan komposisi sederhana yang cukup jelas menampilkan poin-poin yang ingin diajarkan. Mungkin itu sedikit pembahasan saya yang menggambarkan nilai penting media pendidikan dalam teknologi pendidikan.

O.Pengertian manajemen teknologi

Manajemen teknologi merupakan pengerahan (deployment) upaya (sumber daya) secara efektif (multidisiplin) dalam perencanaan, pengembangan dan implementasi kemampuan teknologi untuk pencapaian tujuan strategik dan operasional Pendidikan

Manajemen teknologi merupakan pengerahan (deployment) upaya (sumber daya) secara efektif (multidisiplin) dalam perencanaan, pengembangan dan implementasi kemampuan teknologi untuk pencapaian tujuan strategik dan operasional Pendidikan.

Dalam manajemen teknologi pendidikan dilakukan need assessment sebagai langkah awal dari proses secara sistematis.

Need assessment sendiri adalah rencana dan proses pengumpulan informasi dalam mencari kesenjangan antara apa yang tidak ada dengan apa yang seharusnya ada untuk menghasilkan prioritas yang digunakan untuk penetapan tujuan dan mencari upaya pemecahan masalah.

  1. Teori-teori manajemen

Dalam perkembangan teori manajemen, dikenal tiga teori manajemen, yaitu; teori klasik, tori neo klasik, dan teori modern

  1. Teori klasik, berasumsi bahwa para pekerja atau manusia itu sifatnya rasional, berfikir logik, dan kerja merupakan suatu yang diharapkan.
  2. neo klasik, berasumsi bahwa manusia itu makhluk sTeori osial dengan mengaktualisasikan dirinya.
  3. Teori modern, pendekatan modern berdasarkan hal-hal yang sifatnya situasional, artinya orang menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi dan mengambil keputusan sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan.
  1. Kontribusi Teori Manajemen dalam Technologi Pendidikan.

kontribusi teori manajemen dalam teknologi pendidikan dapat dilihat pada program manajemen dalam teknologi pendidikan antara lain:

  1. manajemen proyek.
  2. manajemen sumber.
  3. manajemen personal.
  4. manajemen program

P.Macam-macam teknologi manajemen dalam menciptakan system pendidikan

  1. Sistem berpikir.

Sistem berpikir menjadikan kita untuk lebih hati-hati dengan munculnya tiap mode di dunia pendidikan.Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya perubahan yang tidak kita inginkan.

  1. Desain sistem.

Desain sistem memberi kita peralatan untuk menciptakan suatu system yang baru dan suatu strategi untuk perubahan

3.Kualitas pengetahuan

Mutu atau kualitas pengetahuan merupakan teknologi yang memproduksi suatu produk atau jasa/ layanan yang sesuai harapan dan pelanggan.Ilmu pengetahuan yang berkualitas telah menjadi alat yang sangat berharga dalam inovasi pendidikan/ sekolah.

  1. Manajemen Perubahan

Manajemen perubahan adalah suatu cara untuk memandu energi kreatif ke arah perubahan positif.

5.Teknologi pembelajaran

Teknologi pembelajaran adalah sistem pemikiran yang berlaku untuk instruksi dan belajar.

Q.Aplikasi teknologi manajemen dalam pemecahan masalah pembelajaran

Penerapan manajemen Instruksional merupakan salah satu cara seorang pendidik mampu menemukan solusi terhadap masalah yang dihadapi. Penerapan manajemen dapat dilakukan dengan mengelola desain Instruksional yang efektif, yaitu dengan merumuskan tujuan yang yang berpusat pada pengembangan kognitif, afektif dan psikomotorik pembelajar, mengembangkan dan memanfaatkan media pembelajaran yang bervariatif dan efektif, mengembangkan strategi pembelajaran, dan memanfaatkan aneka sumber belajar, serta menyusun rancangan evaluasi yang efektif.

Disamping itu, manajemen juga dapat diterapkan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melakukan pengelolaan kelas, misalnya pengaturan tempat duduk, ventilasi, pengaturan penyimpanan barang-barang, dll.

Dalam pengelolaan pembelajaran, teknologi manajemen dimanfaatkan dalam mengembangkan, merancang, dan melaksanakan strategi pembelajaran dengan pola sistem belajar mandiri dengan memanfaatkan belajar dengan bantuan komputer, belajar jarak jauh (distance learning), belajar melalui modul, belajar terbuka (open learning), dan pola-pola pembelajaran lainnya.

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Pada awal lahirnya teknologi pendidikan, disiplin ilmu ini hanya menitik beratkan pada pemanfaatan alat-alat (teknologi dalam hal mesin) untuk kegiatan belajar mengajar, contohnya seperti radio dan televisi. Seiring kebutuhan manusia yang semakin kompleks, teknologi pendidikan tidak hanya sebagai pemanfaatan alat (mesin) untuk belajar, pendekatan sistem mulai masuk dalam disiplin ilmu ini. Pendekatan sistem inilah yang memberikan pengaruh amat besar bagi perkembangan keilmuan teknologi pendidikan.

Dengan pendekatan sistem ini, teknologi pendidikan menjadi disiplin ilmu untuk pengembangan desain sistem pembelajaran, tentunya didukung juga dengan disiplin ilmu lainnya (psikologi, filsafat, komunikasi, dll). Dan pada paradigma terakhir (abad 21), teknologi pendidikan menjadi disiplin ilmu tentang merancang aktifitas dan lingkungan belajar.

2. Saran

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang

DAFTAR PUSTAKA

  • Harjali, Teknologi Pendidikan,Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2000
  • Yusufhadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana.2004
  • Bambang Warsita,Teknologi Pembelajaran dan Landasan Aplikasinya.Jakarta: Rieneka Cipta.2008
  • Assosiation for Educational Communication and Technology, 1986, Definisi Technologi Pendidikan, Terjemahan, Jakarta: CV Rajawali.
  • Artikel-artikel Teknologi, E-Majalah.com: Rancangan Bangun Konsep Teknologi Pendidikan
  • Miarso,Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009).
  • Abdul Majid. Percenanaan Pembelajaran. (Bandung: Remaja Rosdakarya). 2011.
  • Bambang Warsita. Teknologi Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta), 2008.
  • Prof. Dr. S. Nasution. MA. Teknologi Pendidikan Penerbit Temmars Bandung tahun 1982
  • Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan. Yakarta: Rineka Cipta
  • Catatan Kaki:

[1] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta), 2008, Hlm.23

[1]Bambang Warsita,Teknologi Pembelajaran dan Landasan Aplikasinya.Jakarta: Rieneka Cipta.2008. hlm 25

[2] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta), 2008, Hlm.22.

[3] Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta), 2008, Hlm.23.

[4] Abdul Majid, Percenanaan Pembelajaran, (Bandung: Remaja Rosdakarya), 2011, Hlm.32.

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*