Contoh Makalah Tentang Ariyah Atau Pinjaman (Lengkap)

Contoh Makalah Tentang Ariyah Atau Pinjaman

Contoh Makalah Tentang Ariyah Atau Pinjaman (Lengkap)

Makalahkita.com – Contoh Makalah Tentang Ariyah Atau Pinjaman (Lengkap) yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Harta adalah komponen pokok dalam kehidupan manusia, yamng mana harta merupakan unsur dharuri yang memang tidak bisa ditinggalkan dengan begitu saja. Dengan harta manusia dapat memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan sekunder ataupun primer dalam hidupnya. Dalam rantai untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup, terjadilah suatu hubungan yang horizontal antar manusia yakni Muamalah, karena pada dasarnya manusia tidak ada yang sempurna, dan saling membutuhkan, karena menusia juga memiliki hasrat untuk mencukupi kebutuhan, yang tidak ada habisnya, kecuali dengan tumbuhnya rasa syukur dan ikhlas yang luar biasa kepada Tuhan, secara pasti hal ini pula perlu mengenalkan adanya Tuhan yang memberi nikmat dan rizki kepada manusia sehingga dapat merasakan kebahagiaan dalam dirinya.

Manusia merupakan makhluk social yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, dengan dibutuhkannya orang lain untuk mencukupinya maka dalam dunia bisnis Islam biasa dikenal dengan kegiatan Muamalah, salah satunya yakni yang membahas tentang harta dalam konteksnya harta hadir sebagai obyek transaksi , sehingga harta pun dapat dijadikan sebagai obyek transaksi jual beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam (ariyah),dan sebagainya. Jika diihat pula dalam katakteristik dasarnya harta juga dijadikan sebagai obyek kepemilikan, kecuali terdapat factor yang menghalanginya.

2. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu

  1. untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Dosen Mata Kuliah “fiqh muamalah II”
  2. Mengetahui serta memahami dan mendalami pengertian ‘ariyah
  3. Mengetahui serta memahami dan mendalami dasar hukum ‘ariyah
  4. Mengetahui serta memahami dan mendalami macam-macam ‘ariyah
  5. Mengetahui serta memahami dan mendalami  rukun dan syarat ‘ariyah
  6. Mengetahui serta memahami dan mendalami hikmah ‘ariyah
  7. Mengetahui serta memahami dan mendalami meminjam pinjaman dan menyewakan
  8. Mengetahui serta memahami dan mendalami  pembayaran pinjaman
  9. Mengetahui serta memahami dan mendalami tatakrama berhutang
  10. Mengetahui serta memahami dan mendalami  adab berhutang
  11. Mengetahui serta memahami dan mendalami  tanggungjawab peminjam
  12. Mengetahui serta memahami dan mendalami hukum kerusakan atas pinjaman
  13. Mengetahui serta memahami dan mendalami perbedaan qardh dan ‘ariyah

3.  Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian ‘ariyah?
  2. Apa dasar hukum ‘ariyah?
  3. Apa macam-macam ‘ariyah
  4. Apa  rukun dan syarat ‘ariyah
  5. Apa hikmah ‘ariyah
  6. Bagaimanakah  meminjam pinjaman dan menyewakan
  7. Bagaimanakah pembayaran pinjaman
  8. Bagaimanakah tatakrama berhutang
  9. Bagaimanakah adab berhutang
  10. Bagaimanakah tanggungjawab peminjam
  11. Bagaimanakah hukum kerusakan atas pinjaman
  12. Apa perbedaan qardh dan ‘ariyah

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Ariyyah atau ‘Ariyah diartikan dalam pengertian etimologi (lughat) dengan beberapa macam makna, yaitu:

1.    ‘Ariyah adalah nama untuk barang yang dipinjam oleh umat manusia secara bergiliran antara mereka. Perkataan itu diambil dari masdar at ta’wur dengan memakai artinya perkataan at tadaawul.

2.    ‘Ariyah adalah nama barang yang dituju oleh orang yang meminjam. Jadi perkataan itu diambil dari akar kata ‘arahu-ya’ruuhu-‘urwan.

3.    ‘Ariyah adalah nama barang yang pergi dan datang secara cepat. Diambil dari akar kata ‘aara yang artinya pergi dan datang dengan secara cepat. [1]

            Secara terminologi Al Ariyah ialah adalah kebolehan memanfaatkan barang yang masih utuh yang masih di gunakan, untuk kemudian dikembalikan pada pemiliknya. Peminjaman barang sah dengan ungkapan atau perbuatan apapun yang menunjukkan kepadanya peminjaman dilakukan berdasarkan alquran, sunnah, dan ijma ulama.[2]

Itulah makna perkataan ‘Ariyah yang shahih dan pengambilannya. Sedangkan pengertiannya dalam terminologi Ulama Fiqh, maka dalam hal ini terdapat perincian beberapa madzhab :

         Madzhab Maliki (Al Malikiyah)

‘Ariyah didefinisikan lafazhnya berbentuk masdar dan itu merupakan nama bagi sesuatu yang dipinjam.[3] Maksudnya adalah memberikan hak memiliki manfaat yang sifatnya temporer (sementara waktu) dengan tanpa ongkos. Contoh: meminjamkan/memberikan hak memiliki manfaatnya motor (suatu benda) ditentukan waktunya dengan tanpa ongkos. Atau manfaat bajak untuk membajak tanah pada masa yang ditentukan. Maka pemberian hak memiliki manfaat tersebut dinamakan ‘Ariyah (meminjamkan).

         Madzhab Hanafi (Al Hanafiyah)

‘Ariyah adalah memberikan hak memiliki manfaat secara cuma-cuma. Sebagian ulama mengatakan bahwa ‘Ariyah adalah “membolehkan” bukan “memberikan hak milik”.[4] Pendapat ini tertolak dari dua segi, yaitu:

a.    Bahwa perjanjian untuk meminjamkan itu dianggap sah dengan ucapan memberikan hak milik, tetapi tidak sah dengan ucapan [i]membolehkan kecuali dengan tujuan meminjam pengertian memberikan hak milik.

b.     Bahwasannya orang yang meminjam boleh meminjamkan sesuatu yang ia pinjam kepada orang lain jika sesuatu tersebut tidak akan berbeda penggunaannya dengan perbedaan orang yang menggunakan baik dari segi kekuatan atau kelemahannya. Seandainya meminjamkan itu hanya membolehkan, maka orang yang meminjam tidak sah meminjamkan kepada orang lain.

       Madzhab Syafi’i (Asy Syafi’iyyah)

Perjanjian meminjamkan ialah membolehkan mengambil manfaat dari orang yang mempunyai keahlian melakukan derma dengan barang yang halal diambil manfaatnya dalam keadaan barangnya masih tetap utuh untuk dikembalikan kepada orang yang melakukan kesukarelaan.[5]      Misalnya adalah Ani meminjamkan buku fiqh (halal diambil manfaatnya) kepada Lina (orang yang berkeahlian melakukan amal sukarela), maka sahlah ani untuk meminjamkan buku fiqh tersebut kepada Lina.

       Madzhab Hambali (Al Hanabilah)

‘Ariyah adalah barang yang dipinjamkan, yaitu barang yang diambil dari pemiliknya atau pemilik manfaatnya untuk diambil manfaatnya pada suatu masa tertentu atau secara mutlak dengan tanpa imbalan ongkos.[6]

 “Kebolehan memanfaatkan benda tanpa memberikan suatu imbalan.”[7]Kata ‘ariyah secara bahasa berarti pinjaman. Istilah ‘ariyah merupakan nama atas sesuati yang dipinjamkan. Sedangkan menurut terminologi, pengertian ‘ariyah adalah

B. Dasar Hukum ‘Ariyah

( “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Maidah : 2)Adapun dasar hukum diperbolehkannya bahkan disunnahkannya ‘ariyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis-hadis sebagai berikut:

Asbabun Nuzul ayat :
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa : 58)

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa setelah fathul Makkah, Rasulullah SAW memanggil Utsman bin Talhah untuk meminta kunci ka’bah. Ketika Utsman datang menghadap Rasul untuk menyerahkan kunci itu, berdirilah Al Abbas seraya berkata : “Ya Rasulullah, demi Allah, serahkan kunci itu kepadaku. Saya akan merangkap jabatan itu dengan jabatan urusan pengairan”.Utsman menarik kembali tangannya. Maka bersabdalah Rasulullah :”Berikanlah kunci itu kepadaku, wahai Utsman !” Utsman berkata : “Inilah dia amanat dari Allah”. Maka berdirilah Rasulullah membuka ka’bah dan kemudian keluar untuk thawaf di baitullah. Lalu turunlah Jibril membawa perintah supaya kunci itu diserahkan kepada Utsman. Rasulullah melaksanakan perintah itu sambil membaca surat An Nisa’ ayat 58

 “Barang peminjaman adalah benda yang wajib dikembalikan.” (H.R. Abu Daud)
“Orang kaya yang memperlambat (melalaikan) kewajiban membayar utang adalah zalim (berbuat aniaya).” (H.R. Bukhari dan Muslim)

‘Ariyah atau i’arah merupakan perbuatan qurban (pendekatan diri kepada Allah) dan dianjurkan berdasarkan Alqur’an dan Sunnah. Menurut Sayyid Sabiq, ‘Ariyah adalah sunnah, sedangkan menurut al-Ruyani, bahwa ‘ariyah hukumnya wajib. Adapun landasan hukumnya dari nash Alqur’an dalam Surat Al-Maidah ayat 2:

Disamping Al qur’an, dasar hukum ‘ariyah juga terdapat dalam sunnah Rasulallah SAW, antara lain: “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berta siksa-Nya.”

Hadis Shafwan bin Umayyah: “dari Shafwan bin Umayyah bahwa Nabi SAW meminjam darinya pada saat perang Hunain beberapa baju perang, maka berkata Shafwan: “Apakah anda merampas hai Muhammad?” Nabi bersabda: “Bukan, melainkan pinjaman yang ditanggungkan,” Berkata Shafwan: “sebagian dari baju perang tersebut hilang,” maka Nabi menyodorkan kepadanya untuk menggantinya. Maka Shafwan berkata: “Saya pada hari ini lebih senang kepada islam.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

C.  Macam-macam ‘Ariyah

Ditinjau dari kewenangannya, akad pinjaman meminjam (‘ariyah) pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua macam :

1.      ‘Ariyah muqayyadah, yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat terikat dengan batasan tertentu. Misalnya peminjaman barang yang dibatasi pada tempat dan jangaka waktu tertentu. Dengan demikian, jika pemilik barang mensyaratkan pembatasan tersebut, berarti tidak ada pilihan lain bagi pihak peminjam kecuali mentaatinya. ‘Ariyah ini biasanya berlaku pada objek yang berharta, sehingga untuk mengadakan pinjam-meminjam memerlukan adanya syarat tertentu.

Pembatasan bisa tidak berlaku apabila menyebabkan musta’ir tidak dapat mengambil manfaat karena adanya syarat keterbatasan tersebut. Dengan demikian dibolehkan untuk melanggar batasan tersebut apabila terdapat kesulitan untuk memanfaatkannya. Jika ada perbedaan pendapat antara mu’ir dan musta’ir tentang lamanya waktu meminjam, berat/nilai barang, tempat dan jenis barang maka pendapat yang harus dimenangkan adalah pendapat mu’ir karena dialah pemberi izin untuk mengambil manfaat barang pinjaman tersebut sesuai dengan keinginannya.

2.      ’Ariyah mutlaqah, yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat tidak dibatasi. Melalui akad ‘ariyah ini, peminjam diberi kebebasan untuk memanfaatkan barang pinjaman, meskipun tanpa ada pembatasan tertentu dari pemiliknya. Biasanya ketika ada pihak yang membutuhkan pinjaman, pemilik barang sama sekali tidak memberikan syarat tertentu terkait obyek yang akan dipinjamkan.

Contohnya seorang meminjamkan kendaraan, namun dalam akad tidak disebutkan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan kendaraan tersebut, misalnya waktu dan tempat mengendarainya.

Namun demikian harus disesuaikan dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Tidak boleh menggunakan kendaraan tersebut siang malam tanpa henti. Jika penggunaannya tidak sesuai dengan kebiasaan dan barang pinjaman rusak maka mu’ir harus bertanggung jawab.

D. Rukun & Syarat  ‘Ariyah

Menurut Hanafiyah, rukun ‘ariyah adalah satu, yaitu ijab dan kabul, tidak wajib diucapkan, tetapi cukup dengan menyerahkan pemilik kepada peminjam barang yang dipinjam dan boleh hukum ijab kabul dengan ucapan.

Menurut Syafi’ah, rukun ‘ariyah adalah sebagai berikut:

1.      Kalimat mengutangkan (lafazh), seperti seseorang berkata, “Saya utangkan benda ini kepada kamu” dan yang menerima berkata”Saya mengaku berutang benda anu kepada kamu.” Syarat bendanya adalah sama dengan syarat benda-benda dalam jual beli.

2.      Mu’ir yaitu orang yang mengutangkan (berpiutang) dan Musta’ir yaitu orang menerima utang. Syarat bagi mu’ir adalah pemilik yang berhak menyerahkannya, sedangkan syarat-syarat bagi mu’ir dan musta’ir adalah:

  Baligh,  maka batal ‘ariyah yang dilakukan anak kecil;

  Berakal, maka batal ‘ariyah yang dilakukan oleh orang yang sedang tidur dan orang gila;

  Orang tersebut tida dimahjur (di bawah curatelle), maka tidak sah ‘ariyah yang dilakukan oleh orang berada di bawah perlindungan (curatelle), seperti pemboros.

3.      Benda yang dipinjamkan. Pada rukun yang ketiga ini disyaratkan dua hal, yaitu:

  Materi yang dipinjamkan dapat di manfaatkan, maka tidak sah ‘ariyah yang materi nya tidak dapat digunakan, seperti meminjam karung yang sudah hancur sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimnapn padi.

  Pemanfaatan itu dibolehkan, maka batal ‘ariyah yang pengambilan manfaat materinya dibatalkan oleh Syara’, seperti meminjam benda-benda najis.[8]

Syarat-syarat ‘ariyah berkaitan dengan rukun yang telah dikemukakan diatas, yaitu orang yang meminjamkan, orang yang meminjam, barang/benda yang dipinjamkan.

Adapun syarat-syart al-‘ariyah itu diperinci oleh para ulama fiqh sebagai berikut :

  1. Mu’ir (orang yang meminjamkan)

Ahli (berhak) berbuat kebaikan sekehendaknya atau pemilik yang berhak menyerahkannya. Orang yang berakal dan cakap bertindak hukum. Anak kecil dan orang yang dipaksa, tidak sah meminjamkan.

  1. Mus’tair (orang yang menerima pinjaman)

–   Baligh

–   Berakal

– Orang tersebut tidak dimahjur (dibawah curatelle) atau orang yang berada dibawah perlindungan, seperti pemboros. Hendaklah seorang yang ahli (berhak) menerima kebaikan. Anak kecil dan orang gila tidak sah meminjam sesuatu karena ia tidak ahli (tidak berhak) menerima kebaikan.

  1. Mu’ar (benda yang dipinjamkan)

–  Materi yang dipinjamkan dapat dimanfaatkan, maka tidak sah ‘ariyah yang mu’arnya tidak dapat digunakan, seperti meminjam karung yang sudah hancur sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpan padi.[9]

–   Pemanfaatan itu dibolehkan oleh syara’ (tolong menolong dalam hal kebaikan), maka batal ‘ariyah yang pengambilan manfaat materinya dibatalkan oleh syara’. Misalnya kendaraan yang dipinjam harus digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dalam pandangan syara’, seperti bersilaturahmi, berziarah dan sebagainya. Dan apabila kendaraan tersebut digunakan untuk pergi ke tempat maksiat maka peminjam dicela oleh syara’, sekalipun akad atau transaksi ‘ariyah pada dasarnya sah.

–   Manfaat barang yang dipinjamkan dimiliki oleh yang meminjamkan, sekalipun dengan jalan wakaf atau menyewa karena meminjam hanya bersangkutan dengan manfaat, bukan bersangkutan dengan zat. Oleh karena itu, orang yang meminjam tidak boleh meminjamkan barang yang dipinjamnya karena manfaat barang yang dipinjamnya bukan miliknya. Dia hanya diizinkan mengambilnya tetapi membagikan manfaat yang boleh diambilnya kepada yang lain, tidak ada halangan. Misalnya dia meminjam rumah selama 1 bulan tetapi hanya ditempati selama 15 hari, maka sisanya boleh diberikan kepada orang lain.

–   Jenis barang yang apabila diambil manfaatnya bukan yang akan habis atau musnah seperti rumah, pakaian, kendaraan. Bukan jenis barang yang apabila diambil manfaatnya akan habis atau musnah seperti makanan.

–   Sewaktu diambil manfaatnya, zatnya tetap (tidak rusak).

Barang yang dipinjam syaratnya :
Ada manfaatnya.
Barang itu kekal (tidak habis setelah diambil manfaatnya). Oleh sebab itu makanan yang setelah diambil manfaatnya menjadi habis atau berkurang zatnya tidak sah dipinjamkan.

Aqad, yaitu ijab qabul.
Pinjam-meinjam berakhir apabila barang yang dipinjam telah diambil manfaatnya dan harus segera dikembalikan kepada yang memilikinya. Pinjam-meminjam juga berakhir apabila salah satu dari kedua pihak meninggal dunia atau gila. Barang yang dipinjam dapat diminta kembali sewaktu-waktu, karena pinjam-meinjam bukan merupakan perjanjian yang tetap.

Jika terjadi perselisihan pendapat antara yang meminjamkan dan yang meminjam barang tentang barang itu sudah dikembalikan atau belum, maka yang dibenarkan adalah yang meminjam dikuatkan dengan sumpah. Hal ini didasarkan pada hukum asalnya, yaitu belum dikembalikan.

E.  Hikmah  ‘Ariyah

Adapun hikmah dari ‘Ariyah yaitu :

  1. Bagi peminjam
    1. Dapat memenuhi kebutuhan seseorang terhadap manfaatsesuatu yang belum dimiliki.
    2. Adanya kepercayaan terhadap dirinya untuk dapat memanfaatkan sesuatu yang ia sendiri tidak memilikinya.
  1. Bagi yang memberi pinjaman
    1. Sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dianugrahkan kepadanya.
    2. Allah akan menambah nikmat kepada orang yang bersyukur.
    3. Membantu orang yang membutuhkan.
    4. Meringankan penderitaan orang lain.
    5. Disenangi sesama serta di akherat terhindar dari ancaman Allah dalam surat al-maun ayat 4-7

Artinya: Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat.  (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. orang-orang yang berbuat riya[1],  dan enggan (menolong dengan) barang berguna[2].

[1] Riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.

[2] Sebagian mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat.

F.   Meminjam Pinjaman dan Menyewakan

Abu Hanifah dan Malik berpendapat bahwa pinjaman boleh meminjamkan benda-benda pinjaman kepada orang lain. Sekalipun pemiliknya belum mengizinkan jika penggunanya untuk hal-hal yang tidak berlainan dengan tujuan pemakaian pinjaman. Menurut Mazhab Hanbali, peminjam boleh memanfaatkan barang pinjaman atau siapa saja yang menggantikan setatusnya selama peminjaman berlangsung, kecuali jika barang tersebut disewakan. Haram hukumnya menurut Hanbaliyah menyewakan barang pinjaman tanpa seiring pemilik barang. Jika peminjam suatu benda meminjamkan benda pinjaman tersebut kepada orang lain, kemudian rusak ditangan kedua, maka pemilik berhak meminta jaminan kepada salah seorang diantara keduanya. Dalam keadaan seperti ini, lebih baik barang meminta jaminan kepada pihak kedua karena dialah yang memegang ketika barang itu rusak.

G. Pembayaran Pinjaman

Setiap pinjaman wajib dibayar sehingga berdosalah orang yang tidak mau mengembalikan pinjaman, bahkan melalaikannya juga termasuk aniaya. Perbuatan aniaya merupakan salah satu perbuatan dosa. Rasulallah Saw, bersabda: “Orang kaya yang melalaikan kewajiban membayar utang adalah aniaya” (Riwayat Bukhari dan Muaslim). Melebihkan bayaran dari sejumlah pinjaman diperbolehkan, asal saja kelebihan itu merupakan kemauan dari yang berutang semata. Hal ini menjadi nilai kebaikan bagi yang mengembalikan pinjaman. Rasulallah Saw. Bersabda: “sesungguhnya diantara orang yang terbaik dari kamu adalah orang yang sebaik-baiknya dalam membayar utang” (Riwayat Bukhari dan Muslim) Rasulallah pernah meminjam  hewan, kemudian beliau membayar hewan itu dengan yang lebih besar dan tua umurnya dari hewan yang beliau pinjam. Kemudian Rasu bersabda: “ Orang yang paling baik diantara kamu ialah orang yang dapat membayar utangnya dengan yang lebih baik” (Riwayat Ahmad) Jika penambahan itu dikehendaki oleh orang yang berutang atau telah menjadi perjajian dalam akad berpiutang, maka tambahan itu tidak halal bagi yang berpiutang untuk mengambilnya. Rasul bersabda: “ Tiap-tiap piutang yang mengambil manfaat, maka itu adalah salah satu cara dari sekian cara riba” ( Dikeluarkan oleh Baihaqi).[10]

H.  Tatakrama Berutang

Ada beberapa hal yang dijadikan penekanan dalam pinjam-meminjam atau utang-piutang tentang nilai-nilai sopan santun yang terkait di dalamnya, ialah sebagai berikut :

a. pinjam meminjam supaya dikuatkan dengan tulisan dari pihak yang meminjam dengan menghadirkan 2 (dua) orang saksi laki-laki atau seorang saksi laki-laki dan 2 (dua) orang saksi perempuan.

Allah SWT berfirman,

 “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa”. (Q.S. Al-Baqarah : 282)

b. Pinjaman hendaknya dilakukan atas dasar kebutuhan yang mendesak disertai niat dalam hati akan membayar/mengembalikannya.

c.   Pihak yang memberi pinjaman hendaknya berniat memberikan pertolongan kepada pihak yang meminjam. Bila yang meminjam tidak mampu mengembalikan, maka yang berpiutang hendaknya membalaskannya.

d. Pihak yang meminjam bila sudah mampu membayar pinjaman, hendaknya dipercepat pembayaran pinjamannya karena lalai dalam pembayaran pinjaman berarti berbuat zalim.

I. ADAB BERUTANG

Adab pinjam meminjam terbagi 2 yaitu untuk musta’ir  dan mu’ir:

a. Untuk Musta’ir

1. Tidak meminjam kecuali dalam kondisi darurat

2. Berniat melunasinya

3. Berusaha untuk meminjam kepada orang yang shalih

4. Meminjam sesuai dengan kebutuhan

5. Lunasi tepat pada waktunya dan jangan menundanya

6. Membayar dengan cara yang baik

b. Untuk Mu’ir

1. Niat yang benar dalam memberi pinjaman

2. Bersikap baik dalam menagih pinjaman

3. Memberi tenggang waktu jika yang meminjam belum mampu membayar pada waktunya

4. Menghapus pinjaman bagi yang tidak mampu mengembalikanya [11]

J. Tanggung Jawab Peminjam

Bila peminjam telah memegang barang-barang pinjaman, kemudian barang tersebut rusak, ia berkewajiban menjaminnya, baik arena pemakaian yang berlebihan maupun karena yang lainnya. Demikian menurut Idn Abbas, Aisyah, Abu Hurairah, Syai’I dan Ishaq dalam hadis yang diriwayatkan oleh Samurah, Rasulallah Saw. Bersabda: “Pemegang kewajiban menjaga apa yang ia terima, hingga ia mengambilkannya”.[12]

Sementara para pengikut hanafiyah dan Malik berpendapat bahwa, peminjam tidak berkewajiban menjamin barang pinjamannya, kecuali karena tindakan yang berlebihan, karena Rasulallah Saw. Bersabda:

 “Pinjaman yang tidak berkhianat tidak berkewajiban mengganti kerusakan” (Dikeluarkan al-Daruquthin)

Kewajiban Peminjam
“Pinjaman itu wajib dikembalikan dan yang meminjam sesuatu harus membayar”. (HR. Abu Dawud) [13]Mengembalikan batang itu kepada pemiliknya jika telah selesai. Rasulullah SAW bersabda :

Merawat barang pinjaman dengan baik.

Rasulullah SAW bersabda : “Kewajiban meminjam merawat yang dipinjamnya, sehingga ia kembalikan barang itu”. (HR. Ahmad)

K. Hukum Kerusakan Atas Pinjaman

Hukum atas kerusakan barang tergantung pada akadnya yaitu amanah dan dhamanah.

Apabila barang yang dipinjam itu rusak, selama dimanfaatkan sebagaimana fungsinya, si peminjam tidak diharuskan mengganti, Sebab pinjam-meminjam itu sendiri berarti saling percaya- mempercayai. Akan tetapi kalau kerusakan barang yang dipinjam akibat dari pemakaian yang tidak semestinya atau oleh sebab lain, maka wajib menggantinya. Shofwan bin Umaiyah menginformasikan, Sesungguhnya Nabi saw. telah meminjam beberapa baju perang dari shofwan pada waktu Perang Hunain. Shofwan bertanya: “Paksaankah, ya Muhammad?” Rosulullah saw. menjawab: “Bukan, tetapi pinjaman yang dijamin”. Kemudian (baju perang itu) hilang sebagian, maka Rosulullah saw. mengemukakan kepada shofwan akan menggantinya. Shofwan berkata: “Saya sekarang telah mendapat kepuasan dalam Islam.” (HR. Ahmad dan Nasai). [14]

Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS An-Nisaa’: 58).

Orang yang meminjam adalah orang yang diberi amanat yang tidak ada tanggungan atasnya, kecuali karena kelalaiannya, atau pihak pemberi pinjaman mempersyaratkan penerima pinjaman harus bertanggung jawab:

Al-Amir ash-Shan’ani dalam Subulus Salam III: 69) menjelaskan, ”Yang dimaksud kata madhmunah(terjamin) ialah barang pinjaman yang harus ditanggung resikonya, jika terjadi kerusakan, dengan mengganti nilainya. Adapun yang dimaksud kata mu’addah (tertunaikan) ialah barang pinjaman yang mesti dikembalikan seperti semula, namun manakala ada kerusakan maka tidak harus mengganti nilainya.” Lebih lanjut dia menyatakan,  “Hadits yang diriwayatkan Shafwan di atas menjadi dalil bagi orang yang berpendapat, bahwa ’ariyah tidak harus ditanggung resikonya, kecuali ada persyaratan sebelumnya. Dan, sudah dijelaskan bahwa pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat.”[15]

L. Perbedaan Qardh dan Ariyah

Di dalam fiqih Islam, hutang piutang telah dikenal dengan istilah Al-Qardh. Makna Al-Qardh secara etimologi (bahasa) ialah Al-Qath’u yang berarti memotong.

Harta yang diserahkan kepada orang yang berhutang disebut Al-Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang kepda orang yang menerima hutang.

Sedangkan pengertian istilah Qardh menurut ulama  Hanafiyah berpendapat qardh adalah: harta yang diberikan seseorang dari maal mitsli  untuk kmudian dibayar atau dikembalikan.

Safi’iyah berpendapat qardh adalah: sesuatu yang diberikan kepada orang lain, yang suatu saat harus di kembalikan.

Hanbaliyah berpendapat qardh adalah:  memberikan harta kepada orang yang memanfaatkannya dan kemudian mengembalikan penggantiannya.

Atau dengan kata lain, Hutang Piutang adalah memberikan sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam dengan pengembalian di kemudian hari sesuai perjanjian dengan jumlah yang sama. Jika peminjam diberi pinjaman Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah) maka di masa depan si peminjam akan mengembalikan uang sejumlah satu juta juga.

 Al-Qardhu atau Al-Qard menurut pandangan syara’ adalah sesuatu yang dipinjamkan atau hutang diberikan. Menurut istilah para fuqaha, hutang ialah memberi hak milik sesuatu barang kepada orang lain dengan syarat orang tersebut mengembalikannya tanpa tambahan.

Lebih jelasnya perbedaan antara qardh dengan ‘ariyah yaitu kalau Qardh, pemberian barang yang dipinjamkan ke orang lain dan dikembalikan dengan jenis yang serupa, terjadi pemindahan kepemilikan. Contohnya, uang satu juta dikembalikan uang satu juta, dan beras satu kilo dikembalikan beras satu kilo. Sedang ‘Ariyah, tidak terjadi pemindahan kepemilikan, yang dikembalikan barang yang dipakai. Contohnya, meminjam bajak sawah dikembalikan bajak sawah.

BAB III

Penutup

1.Kesimpulan

 ‘Ariyah adalah nama barang yang dituju oleh orang yang meminjam. Dasar hukum ‘ariyah berasal dari Quran surat Almaidah:2, An Nisa:58 dan Hadis Nabi Muhammad SAW.

Ada dua macam ‘ariyah yaitu ‘Ariyah muqayyadah, yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat terikat dengan batasan tertentu dan ’Ariyah mutlaqah, yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat tidak dibatasi.

Rukun ‘ariyah Menurut Hanafiyah yaitu ijab dan kabul, Menurut Syafi’ah, rukun ‘ariyah adalah lafazh; Mu’ir dan Musta’ir; benda yang dipinjamkan.

Hikmah dari ‘Ariyah dapat ditujukan bagi peminjam seperti dapat memenuhi kebutuhan seseorang terhadap manfaat sesuatu yang belum dimiliki dan bagi yang memberi pinjaman seperti membantu orang yang membutuhkan.

Setiap pinjaman wajib dikembalikan sehingga berdosalah orang yang tidak mau membayar mengembalikannya. Dalam pinjam meminjambaik Mu’ir maupun Musta’ir harus memerhatikan adab-adab dalam pinjam meminjam dan saling bertanggung jawab atas barang pinjaman

Apabila barang yang dipinjam itu rusak, selama dimanfaatkan sebagaimana fungsinya, si peminjam tidak diharuskan mengganti, akan tetapi kalau kerusakan barang yang dipinjam akibat dari pemakaian yang tidak semestinya atau oleh sebab lain, maka wajib menggantinya.

Perbedaan antara qardh dengan ‘ariyah yaitu kalau Qardh, pemberian barang yang dipinjamkan ke orang lain dan dikembalikan dengan jenis yang serupa, terjadi pemindahan kepemilikan. Contohnya, uang satu juta dikembalikan uang satu juta, dan beras satu kilo dikembalikan beras satu kilo. Sedang ‘Ariyah, tidak terjadi pemindahan kepemilikan, yang dikembalikan barang yang dipakai. Contohnya, meminjam bajak sawah dikembalikan bajak sawah.

Daftar Pustaka

  • Abdul Jalil, Ma’ruf. 2006. Al-Wajiz. Jakarta: Pustaka As-Sunah
  • Abdullah bin aburrahmanabasam, syarahbulughulmaram
  • al-Asqalani, IbnuHajar. 2007. Bulugh Al Maram Min Adillat Al Hakam. Jakarta : Akbar
  • al-Jazairi, Abu Bakar. 2004. Ensiklopedia Muslim, Bab 5 :Muamalah. Jakarta : Rajagrafindo,
  • AzZuhaili,Wahbah. Fiqih Islam WaAdillatuhu. 2011. Jakarta :GemaInsani
  • Hasan, M. Ali. Berbagai Macam Transaksi dalam Islam.  2000. Jakarta : Darul Falah
  • Karim, Helmi. 1997. Fiqh Muamalah. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
  • Mulyadi, Ahmad. 2006. Fiqih. Bandung: penerbit Titian Ilmu
  • Mas’ud,Drs. H. ibnu. FiqihMadzhabSyafi’i. Bandung : CV Pustaka Media
  • Rahman, Abdul GhazalyDkk. 2010. FiqihMuamalah cet I. Jakarta :Kencana

[1] Abdul RahmanGhazalyDkk, FiqihMuamalah, (Jakarta :Kencana, 2010), cet I, hlm 247

[2] Abdullah bin aburrahmanabasam, syarahbulughulmaram, hlm 606

[3] WahbahAzZuhaili, Fiqih Islam WaAdillatuhu, (Jakarta :GemaInsani, 2011), hlm 573

[4] Ibid, hlm 573

[5] Ibid, hlm 573

[6] op.cit  hlm 573

[7] M. Ali Hasan, Berbagai macam transaksi dalam Islam, (Jakarta : Darul Falah, 2000) hlm 239-240

[8] Ma’ruf Abdul Jalil. Al-Wajiz. (Jakarta: Pustaka As-Sunah. 2006)

[9] Abu Bakar al-Jazairi, Ensiklopedia Muslim, Bab 5 :Muamalah, (Jakarta : Rajagrafindo, 2004) hlm 549- 551

[10] Ahmad Mulyadi. Fiqih. (Bandung: penerbit Titian Ilmu. 2006)

[11] Karim, Helmi. 1997. Fiqh Muamalah. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

[12] IbnuHajar al-Asqalani, Bulugh Al Maram Min Adillat Al Hakam, (Jakarta : Akbar, 2007) cet I, hlm 399

[15] ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil ‘Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma’ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm 707 – 708)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*