Contoh Makalah Tentang Bayi Tabung Dalam Pandangan Islam

Contoh Makalah Tentang Bayi Tabung Dalam Pandangan Islam

Contoh Makalah Tentang Bayi Tabung Dalam Pandangan Islam

Makalahkita.com – Contoh Makalah Tentang Bayi Tabung Dalam Pandangan Islam yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Idealnya dalam suatu perkawinan adalah terpenuhinya tujuan-tujuan dilangsungkannya perkawinan itu sendiri. Menurut Undang-Undang Nomor 1Tahun 1974 tentang perkawinan, tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan bukan hanya sekedar untuk menyalurkan nafsu seksual menurut cara yang sah, melainkan juga mengandung nilai-nilai luhur yang dicapai dengan perkawinan, salah satunya adalah memperoleh keturunan yang sah, artinya jelas nasabnya, baik dilihat secara keperdataan maupun dari sudut pandang Hukum Islam ( Murti, 2015 ). Oleh karena pentingnya kehadiran anak, maka wajarlah mereka yang merasa mandul atau tidak mendapatkan keturunan berupaya sebatas kemampuan masing-masing untuk memperoleh keturunan. Salah satunya adalah dengan inseminasi buatan ( Murti, 2015 ).

Pada prinsipnya, program bayi tabung itu bertujuan untuk membantu mengatasi pasangan suami isteri yang tidak mampu melahirkan keturunan secara alami yang disebabkan karena ada kelainan pada masing-masing suami isteri,seperti radang pada selaput lendir rahim, sperma kurang baik, dan lain sebagainya. Dengan program bayi tabung ini, diharapkan akan mampu memberikan kebahagiaan bagi pasangan suami isteri yang telah hidup bertahun-tahun dalam ikatan perkawinan yang sah tanpa keturunan ( Zubaidah, 2002 ).Di Indonesia program bayi tabung masih terdengar eksklusif di kalangan masyarakat . Mereka yang kebanyakan melakukan program bayi tabung adalah pasangan yang sulit memiliki keturunan . Bayi tabung adalah salah satu solusi bagi pasangan yang memiliki gangguan kesuburan ( Djuwantono, 2008 ) .

Inseminasi buatan ialah penghamilan buatan yang dilakukan terhadapseorang wanita, tanpa melalui cara alami, yakni tanpa persetubuhan, melainkan dengan cara memasukkan sperma laki-laki kedalam rahim wanita tersebut dengan pertolongan dokter ( Tahar, 1987 ). Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran dalam hal memproses kelahiran bayi tabung dengan cara inseminasi buatan, dari satu sisi dapat dipandang sebagai suatu keberhasilan untuk mengatasi kesulitan bagi pasangan suami isteri yang telah lama mengharapkan keturunan. Program ini pada mulanya disambut baik , hal ini tidak lain dikarenakan bayi tabung dijadikan sebuah solusi bagi pasangan suami-istri yang mandul, dan tidak mampu mendapatkan keturunan ( Safarudin, 2011 ). Tetapi dari sisi lain, program bayi tabung tersebut di atas, telah banyak menimbulkan permasalahan di bidang hukum, khususnya bagi umat Islam ( Zubaidah, 2015 ).

Meskipun inseminasi buatan memiliki manfaat yang besar, namun juga sangat rentan terhadap penyalahgunaan dan kesalahan etika apabila dilakukan oleh orang yang tidak beragama, beriman, dan beretika sehingga dapat berpotensial berdampak negatif dan fatal. Kaidah dan ketentuan syariah merupakan pemandu etika dalam penggunaan teknologi tersebut, sebab penggunaan dan penerapan teknologi belum tentu sesuai menurut agama, etika, dan hukum yang berlaku di masyarakat ( Safarudin,2012,).

2.Rumusan Masalah

  1. Apa yang di maksud dengan inseminasi / bayi tabung?
  2. Bagaimana pandangan agama terhadap inseminasi buatan / bayi tabung?

3.Tujuan

Untuk memaparkan bagaimana pandangan agama islam terhadap inseminasi / bayi tabung

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.Pengertian Inseminasi Buatan/ Bayi Tabung

Inseminasi merupakan terjemahan dari artificial insemination. Artificialartinya buatan ataua tiruan, sedangkan insemination berasal dari kata latin.Inseminatus artinya pemasukan atau penyampaian. artificial insemination adalah penghamilan atau pembuahan buatan ( Pratiknya dalam Keputusan Muktamar Tarjih Muhammadiyah).

Jadi, insiminasi buatan adalah penghamilan buatan yang dilakukan terhadap wanita dengan cara memasukan sperma laki-laki ke dalam rahim wanita tersebut dengan pertolongan dokter, istilah lain yang semakna adalah kawin suntik, penghamilan buatan dan permainan buatan (PB). Yang dimaksud dengan bayi tabung (Test tubebaby) adalah bayi yang di dapatkan melalui proses pembuahan yang dilakukan di luar rahim sehingga terjadi embrio dengan bantuan ilmu kedokteran. Dikatakan sebagai kehamilan bayi tabung karena benih laki-laki yang disebut dari zakar laki-laki disimpan dalam suatu tabung (Permadi et al,2008 ).

Istilah inseminasi buatan / bayi tabung yang dikenal dalam masyarakat sebenarnya mengacu pada proses Fertilisasi In Vitro ( FIV ) dalam dunia kedokteran)(Alam dan Hadibroto, 2007 ).

Fertilisasi berarti pembuahan sel telur wanita oleh spematozoa pria, sedang In Vitro berarti diluar tubuh. Dengan demikan, FIV berarti proses pembuahan sel telur wanita oleh spermatozoa pria ( bagian dari proses reproduksi manusia ), yang terjadi di luar tubuh ( Permadi et al, 2008 ).

Pada dasarnya program bayi tabung adalah pelaksanaan proses pembuahan yang seharusnya terjadi di dalam saluran telur, tetapi karena satu dan lain hal, maka  proses tersebut tidak dapat terjadi secara ilmiah, maka proses tersebutdilakukan secara in vitro ( di dalam laboratorium )(Alam dan Hadibroto, 2007 ).

Inseminasi buatan atau bayi tabung ialah upaya pembuahan yang dilakukan dengan cara mempertemukan sperma dan ovum tidak melalui hubungan langsung (bersenggama). Hal ini dilakukan melalui proses pembuahan sperma dan sel telur (Fertilisasi) di dalam gelas (in vitro, latin) atau dengan kata lain ikhtiar mempertemukan sel telur (ovum) dengan sperma di luar kandungan, kemudian dimasukkan lagi ke rahim setelah pembuahan terjadi ( Priyono, 2015 ).

Proses Bayi tabung adalah sperma dan ovum yang telah dipertemukan dalam sebuah tabung, dimana setelah terjadi pembuahan, kemudian disarangkan ke dalam rahim wanita, sehingga sampai pada saatnya lahirlah bayi tersebut (Tarjih Muhammadiyah,1980). Bayi Tabung merupakan salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan dalam sebuah rumah tangga ketika metode lainnya tidak berhasil (Permadi et al,2008 ).

Jadi menurut Alam dan Hadibroto( 2007 ),  bayi tabung adalah metode untuk membantu pasangan subur yang mengalami kesulitan di bidang pembuahan  sel telur wanita oleh sel sperma pria.  Secara teknis, dokter mengambil sel telur dari indung telur wanita dengan alat yang disebut  laparoscop ( temuan dr. Patrick C. Steptoe dari Inggris )

Sel telur  itu kemudian diletakkan dalam suatu mangkuk kecil dari kaca dan dipertemukan dengan sperma dari suami. Setelah terjadi pembuahan di dalam mangkuk kaca itu tersebut, kemudian hasil pembuahan itu dimasukkan lagi ke dalam rahim sang ibu untuk kemudian mengalami masa kehamilan dan melahirkan anak seperti biasa ( Pratiknya dalam Keputusan Muktamar Tarjih Muhammadiyah).

2.Latar Belakang Dilakukannya Inseminasi Buatan/ Bayi Tabung

Dalam dunia kedokteran sistem inseminasi buatan atau bayi tabung ini bukan merupakan hal yang baru. Bangsa Arab telah mempraktekan sistem ini pada abad 14 dalam upaya mengembangbiakan peternakan kuda dan mulai dikenal di dunia Barat pada akhir abad ke-18. John Hanter adalah dokter pertama dari Inggris yang merekayasa sistem ini tahun 1899 M, yaitu dengan experimen pada sepasang suami isteri (Permadi et al,2008 ).

Pada tahun 1978 di Inggris, dokter Step Toe berhasil melakukan inseminasi ini pada pasangan tuan dan nyonya Brown. Pada tahun 1918 M di Perancis terjadi inseminasi buatan atau bayi tabung dengan benih selain dari suami isteri. Kemudian muncul bank-bank sperma untuk mendukung penemuan baru tersebut. Yang menjadi persoalan dalam praktek inseminasi buatan/ bayi tabung ini bukan prosesnya itu sendiri, tapi sperma siapa yang digunakan, dan sel telur siapa yang dibuahi. Karena itu praktek inseminasi buatan ini ditinjau dari aspek subyeknya (Pasien) adalah sebagai berikut:

  1. Inseminasi buatan/bayi tabung dari sperma dan ovum suami isteri yang dimasukkan kedalam rahim isterinya sendiri.
  2. Inseminasi buatan/bayi tabung dari sperma dan ovum suami isteri yang dimasukkan ke dalam rahim selain isterinya. Atau disebut juga sewa rahim.
  3. Inseminasi buatan/bayi tabung dengan sperma dan ovum yang diambil dari bukan suami/isteri. Inseminasi buatan/bayi tabung dengan sperma yang dibekukan dari suaminya yang sudah meninggal (Djuwantono,2008).

Menurut Permadi et al, 2008, latar belakang dilakukannya fertilisasi in vitro dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:

  1. faktor pria
  2. gangguan pada saluran keluar spermatozoa
  3. kelumpuhan fisik yang menyebabkan pria tidak mampu melakukan hubungan seksual (misalnya kelumpuhan tubuh bagian pinggang ke bawah setelah terjadinya kecelakaan)
  4. sangat terbatasnya jumlah spermatozoa yang mampu membuahi sel telur (yang memiliki bentuk tubuh spermatozoa normal dan bergerak secara aktif)
  5. hal lain yang masih belum dapat dijelaskan seecara ilmiah
  6. faktor wanita
  7. gangguan pada saluran reproduksi wanita (seperti pada perlengketan atau sumbatan tuba)
  8. adanya anttibodi abnormal pada saluran reproduksi wanita, sehingga menyebabkan spermatozoa pria yang masuk ke dalamnya tidak mampu berahan hidup.
  9. hal lain yang masih belum dapat dijelaskan secara ilmiah

3.Jenis-Jenis Bayi Tabung

Apabila ditinjau dari segi sperma, dan ovum serta tempat embrio ditransplantasikan, maka      bayi tabung dapat dibagi menjadi 8 (delapan) jenis yaitu:

  1. Bayi tabung yang menggunakan sperma dan  ovum dari pasangan suami-    isteri, kemudian embrionya ditrans-plantasikan ke dalam rahim isteri;
  2. Bayi tabung yang menggunakan sperma dan ovum dari pasangan suami-isteri, lalu embrionya ditransplan-tasikan ke dalam rahim ibu pengganti (surrogate mother);
  3. Bayi tabung yang menggunakan sperma dari suami dan ovumnya berasal dari donor, lalu embrionya ditrans-plantasikan ke dalam rahim isteri;
  4. Bayi tabung yang menggunakan sperma dari donor, sedangkan ovumnya berasal dari isteri lalu embrionya ditransplantasikan ke dalam rahim isteri;
  5. Bayi tabung yang menggunakan sperma donor, sedangkan ovumnya berasal dari isteri lalu embrionya ditransplantasikan ke dalam rahim surrogate mother;
  6. Bayi tabung yang menggunakan sperma dari suami, sedangkan ovumnya berasal dari donor, kemudian embrionya ditransplantasikan ke dalam rahim surrogate mother;
  7. Bayi tabung yang menggunakan sperma dan ovum dari donorlaluembrionya ditransplantasikan ke dalam rahim isteri’
  8. Bayi tabung yang menggunakan sperma dan ovum berasal dari donor, kemudian embrionya ditransplantasikan ke dalam rahim surrogate mother. (Salim, 1993).

Kedelapan jenis bayi tabung tersebut di atas secara teknologis sudah dapat dilakukan, namun di dalam kasus-kasus penggunaan teknologi bayi tabung baru mencakup 5 (lima) jenis, yaitu: jenis pertama, kedua, ketiga, keempat dan ketujuh. Dan mengapa kelima jenis itu sudah dapat ditetapkan, sedangkan jenis lain belum dilaksanakan? Hal ini disebabkan karena kondisi dari pasangan suami-isteri pada saat meng-inginkan anak memilih salah satu dari kelima jenis itu, dan pemilihannya tergantung pada faktor penyebab infertilitas masing-masing (Salim, 1993).

4.Tahap – Tahap Bayi Tabung

Menurut Permadi, 2008 tahap-tahap yang harus dilakukan oleh setiap pasangan yang berminat mengikuti program bayi tabung adalah :

  1. tahap stimulasi / perangsangan produksi sel telur matang. salah satu penyebab sulitnya seorang wanita memiliki anak, adalah kegagalan ovarium dalam menghasilkan sel telur matang yang siap untuk dibuahi oleh spermatozoa.
  2. tahap pengambilan sel telur matang dari ovarium wanita dan spermatozoapria
  3. tahap fertilisasi sel telur oleh spermatozoa di laboratorium. inilah tahap yang dinanti oleh spermatozoa dan sel telur untuk bertemu. di dalam sebuah tempat khusus yang menjamin nutrisi, serta sterilitas, spermatozoa dan sel telur dipertemukan.
  4. tahap pencangkokan embrio ke dalam rahim. embrio yang dinilai berkualitas baik, akan segera ditanamkan pada hari ke-2, hari ke-3, atau hari ke-5 pasca pengambilan sel telur. terjadi tidaknya kehamilan pasca penanaman embrio, akan dipantau melalui kadar Human Chorionic Gonadotropin ( HCG ) dalam darah. biasanya hal ini dilakukan apabila tidak terjadi menstruasi selama 16 hari.

Menurut Alam dan Hadipronoto, 2007 prosedur bayi tabung dimulai dengan perangsangan indung telur dengan hormon. ini untuk memacu perkembangan sejumlah folikel agar menghasilkan sel telur. perkembangan pematangan sel telur tersebut dipantau secara teratur dengan alat USG  dan dilakukan juga pengukuran kadar hormon ekstradional dalam darah. perkembangan yang terakhir pengambilan sel telur matang dari permukaan indung telur tidak perlu lagi melalui melalui operasi kecil, tetapi cukup lewat pengisapan cairan folikel dengan tuntunan alat ultrasonografi transvagnal. cairan folikel tersebut kemudian dibawa ke laboratorium dan seluruh sel telur yang diperoleh kemudian dieramkan dalam inkubator.

Beberapa jam kemudian,   kepada setiap sel telur ditambahkan sejumlah sperma yang telah diolah dan dipilih yang terbaik mutunya agar terjadi inseminasi.sekitar 18-20 jam kemudian akan terlihat proses pembuahan berhasi atau tidak. sel telur yang telah dibuahi sperma disebut zigot, dan akan dipantau lagi selama 22-24 jam untuk melihat perkembangan prosesnya menjadi embrio.biasanya dokter akan memilih empat embrio yang terbaik untuk ditanamkan kembali ke dalam rahim. jumlah tersebut adalah maksimal , karena apabila keempatnya berhasil dan terjadi kehamilan, resikonya akan besar bagi calon ibu dan janin ( Permadi, et al ).

5.Bayi Tabung Dalam Pandangan Islam

Ajaran syariat Islam mengajarkan kita untuk tidak boleh berputus asa dan menganjurkan untuk senantiasa berikhtiar (usaha) dalam menggapai karunia Allah SWT. salah satunya memelihara fungsi dan kesucian reproduksi bagi kelangsungan dan kesinambungan generasi umat manusia. Allah telah menjanjikan setiap kesulitan ada solusi (QS.Al-Insyirah:5-6) termasuk kesulitan reproduksi manusia dengan adanya kemajuan teknologi kedokteran dan ilmu biologi modern yang Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka bersyukur dengan menggunakannya sesuai kaedah ajaran-Nya (Murti, 2015).

Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran dalam hal memproses kelahiran bayi tabung dengan cara asimilasi buatan, dari satu sisi dapat dipandang sebagai suatu keberhasilan untuk mengatasi kesulitan bagi pasangan suami isteri yang telah lama mengharapkan keturunan ( Zubaidah, 2002 ).

Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan selalu mendorong kepada pemeluk-pemeluknya untuk berkecimpung dan menyelami lautam ilmu pengetahuan, menyambut penemuan baru ini sebagai hasil perkembangan pikiran manusia, yang patut dipuji , asal saja penemuan itu digunakan dalam batas- batas yang tidak bertentangan dengan agama dan tidak melanggar batas-batas moral dan kemanusiaan (Yusuf, 1989).

Menurut  Keputusan Muktamar Tarjih Muhammadiyah ke-21 di Klaten yang diadakan dari tanggal 6-11 April 1980 dalam Sidang Seksi A (Bayi Tabung) menyebutkan bahwa: Bayi tabung menurut proses dengan sperma dan ovum dari suami-isteri sah menurut Hukum Islam, adalah Mubah, dengan syarat:

  1. Teknis mengambil semen (sperma) dengan cara yang tidak bertentangan dengan Syari’atIslam.
  2. Penempatan zygota seyogyanya dilakukan oleh dokter wanita.
  3. Resipien adalah isteri sendiri.
  4. Status anak dari bayi tabung PLTSI-RRI (sper-ma dan ovum dari suami-isteri yang sah, resi-pien isteri sendiri yang mempunyai ovum itu) adalah anak sah dari suami-isteri yang ber-sangkutan (Tarjih Muhammadiyah,1980).

Kemudian Surat Keputusan Majelis Ulama Indonesia Nomor: Kep-952/MUI/XI/1990 tentang Inseminasi Buatan/Bayi Tabung, tertanggal 26 November 1990 menyebutkan bahwa: inseminasi buatan/bayi tabung dengan sperma dan ovum yang diambil dari pasangan suami-isteri yang sah secara muhtaram, dibenarkan oleh Islam, selama mereka dalam ikatan perkawinan yang sah. (Kep. MUI No. 952/MUI/IX/1990 tentang Inseminasi Buatan/Bayi Tabung ).

Beberapa ulama berpendapat, antara lain : Hasan Basri mengemukakan bahwa: “Proses kelahiran melalui teknik bayi tabung menurut agama Islam itu dibolehkan dan sah, asal yang pokok sperma dan sel telurnya dari pasangan suami-isteri. Hal ini disebabkan perkembangan ilmu pengetahuan yang menjurus kepada bayi tabung dengan positif patut disyukuri. Dan ini merupakan karunia Allah SWT, sebab bisa dibayangkan sepasang suami-isteri yang sudah 14 tahun mendambakan seorang anak bisa terpenuhi” (Salim, 1993).

Husein Yusuf mengemukakan bahwa: “Bayi tabung dilakukan bila sperma dan ovum dari pasangan suami-isteri yang diproses dalam tabung, setelah terjadi pembuahan kemudian disarangkan dalam rahim isterinya sampai saat terjadi kelahiran, maka secara otomatis anak tersebut dapat dipertalikan keturunannya dengan ayah beserta ibunya, dan anak itu mempunyai kedudukan yang sah menurut syari’at Islam (Yusuf, 1989). Dari beberapa pendapat dan pandangan di atas dapat dikemukakan bahwa penggunaan teknologi bayi tabung tidak menimbulkan persoalan, asal bayi tabung yang dikembangkan adalah menggunakan sperma dan ovum dari pasangan suami-isteri, kemudian embrionya ditransplantasikan ke dalam rahim isteri (Murti, 2015).

Sebaliknya, kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan donor sperma dan atu ovum, maka diharamkan, dan hukumnya sama dengan zina ( prostitusi ).Begitu juga bila embrionya ditransfer ke dalam rahim ibu pengganti (surrogate mother).Dan sebagai akibat hukumnya, anak hasil inseminasi tersebut tidak sah dan nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya.

Terdapat larangan penggunaan sperma donor maupun mentransfer ke dalam rahim ibu pengganti, seperti terdapat Surat Al-Baqarah : 223 dan Surat An-Nur: 30-31,

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat bercocok tanam, datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu sebagaimana kamu kehendaki.Dan kerjakanlah (amal yang baik) untukdirimu, dan takwalah pada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Berilah kabar gembira orang-orang ber-iman. (QS. Al Baqarah (2): 223).

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian lebihsuci bagi mereka, sesunggunnya Allah mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluan. (QS An-Nur (24): 30-31).

Ayat di atas memerintahkan kepada suami (laki-laki) mukmin untuk menahan pandangannya dan kemaluannya, termasuk di dalamnya memelihara jangan sampai sperma yang keluar dari farjinya (alat kelamin) itu bertaburan atau ditaburkan ke dalam rahim yang bukan isterinya. Begitu juga wanita yang beriman diperintahkan untuk menjaga kemaluannya, artinya jangan sampai farjinya itu menerima sperma yang bukan berasal dari suaminya( Zubaidah, 2002 ).

Berdasarkan atas firman Allah SWT tersebut, maka dapatlah dikemukakan bahwa seorang isteri tidak diperkenankan untuk menerima sperma dari orang lain, baik yang dilakukan secara fisik maupun dalam bentuk pre-embrio. Dan hal yang terakhir ini analog dengan penggunaan sperma donor. Karena di sini pendonor tidak melakukan hubungan badan secara fisik dengan isteri, tetapi isteri menerima sperma dalam bentuk pre-embrio. Dan apabila hal ini juga dilakukan oleh isteri, maka ini juga termasuk dosa besar sesudah syirik. Kedudukan anaknya adalah sebagai anak zina ( Zubaidah, 2002 ).

Menurut hemat penulis, dalil-dalil syar’i yang dapat dijadikan landasan menetapkan hukum haram pelaksaan bayi tabung dengan donor ialah :

  1. Firman Allah SWT dalam surat Al-Isra : 70.

عَلَىٰ وَفَضَّلْنَاهُمْ الطَّيِّبَاتِ مِنَ وَرَزَقْنَاهُمْ وَالْبَحْرِ الْبَرِّ فِي وَحَمَلْنَاهُمْ آدَمَ بَنِي كَرَّمْنَا وَلَقَدْ

۞ تَفْضِيلًا خَلَقْنَا مِمَّنْ كَثِيرٍ

Artinya :

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”.

  1. Hadits Nabi SAW yang menyatakan,”Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain).”(HR.Abu Daud, Tirmidzi dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban).
  2. Dalil lain untuk syarat kehalalan pelaksanaan bayi tabung bagi manusia harus berasal dari sperma dan ovum pasangan yang sah menurut syariah adalah kaidah hukum fiqih yang menyatakan “dar’ul mafsadah muqaddam ‘ala jalbil mashlahah” (menghindari mafsadah atau mudharat) harus didahulukan daripada mencari atau menarik maslahal/kebaikan. Namun mudharat dan mafsadahnya jauh lebih besar, antara lain berupa :
  3. Percampuran nasab.

Islam sangat menjaga kesucian/kehormatan kelamin dan kemurnian nasab, karena ada kaitannya dengan kemahraman (siapa yang halal dan haram dinikahi) dan kewarisan.

  1. Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam.
  2. Inseminasi pada hakikatnya sama dengan prostitusi, karena terjadi percampuran sperma pria dengan ovum wanita tanpa perkawinan yang sah.
  3. Kehadiran anak hasil inseminasi bisa menjadi sumber konflik dalam rumah tangga, terutama bayi tabung dengan bantuan donor merupakan anak yang sangat unik yang bisa berbeda sekali bentuk dan sifat-sifat fisik dan karakter/mental si anak dengan orang tuanya.
  4. Anak hasil inseminasi lebih banyak unsur negatifnya daripada anak adopsi.
  5. Bayi tabung lahir tanpa melalui proses kasih saying yang alami, terutama bagi bayi tabung lewat ibu titipan yang menyerahkan bayinya kepada pasangan suami-istri yang punya benihnya sesuai dengan kontrak, tidak terjalin hubungan keibuan secara alami. (QS. Luqman: 14 dan Al-Ahqaf: 14).

Adapun mengenai status anak hasil inseminasi buatan dengan donor sperma dan/atau ovum menurut hukum Islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak hasil prostitusi atau hubungan perzinaan.

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Inseminasi buatan ialah penghamilan buatan yang dilakukan terhadapseorang wanita, tanpa melalui cara alami, yakni tanpa persetubuhan, melainkan dengan cara memasukkan sperma laki-laki kedalam rahim wanita tersebut dengan pertolongan dokter.

Kemudian Surat Keputusan Majelis Ulama Indonesia Nomor: Kep-952/MUI/XI/1990 tentang Inseminasi Buatan/Bayi Tabung, tertanggal 26 November 1990 menyebutkan bahwa: inseminasi buatan/bayi tabung dengan sperma dan ovum yang diambil dari pasangan suami-isteri yang sah secara muhtaram, dibenarkan oleh Islam, selama mereka dalam ikatan perkawinan yang sah. (Kep. MUI No. 952/MUI/IX/1990 tentang Inseminasi Buatan/Bayi Tabung ).

2.Saran

Dalam membicarakan persoalan-persoalan yang menyangkut syariah islam kita harus senantiasa mengembalikan kepada prinsip- prinsip ajaran islam, agar setiap proses kehidupan manusia senantiasa membawa kepada kebaikan, sesuai dengan firman Allah SWT:

Dan kami tudak mengutus Engkau ( Muhammad) kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam ( Q.S Al-Anbiya:107)

Diharapkan umat islam benar-benar mengetahui persyaratan dalam melakukan inseminasi buatan ini. Umat islam haruslah waspada dengan penggunaan teknologi modern yang merusak akidah dan keimanan umat islam,

“ Dan sungguh ini adalah petunjuk jalanKu yang lurus maka ikutilah, dan janganlah kamu sekalian ikuti petunjuk jalan yang lain karena pasti akan mencerai beraian kamu menyimpang dari jaan Allah,Itulah yang Allah perintahkan kepada kamu agar kamu sekalian bertaqwa ( Q.S Al-An’am: 152)

1 Trackback / Pingback

  1. Contoh Makalah Kewirausahaan Lesehan (Lengkap)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*