Contoh Makalah Tentang Fiqih Mawaris ( Lengkap )

Contoh Makalah Tentang Fiqih Mawaris

Contoh Makalah Tentang Fiqih Mawaris (Lengkap)

Makalahkita.com – Contoh Makalah Tentang Fiqih Mawaris ( Lengkap ) yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Banyak kitab yang membahas tentang hukum kewarisan Islam selalu mengandung perbedaan pendapat, baik dikalangan ulama yang satu mazhab maupun yang berbeda mazhab. Hal ini dapat ketidak pastian hukum yang dapat membingungkan umat yang berperkara dan juga dapat menyulitkan para hakim pengadilan agama untuk menentukan pendapat mana yang diambil di antara sekian banyak pendapat itu.

Seiring dengan diterbitkanya Kompilasi Hukum Islam sebagai Instruksi Presiden No.1 Tahun 1991, dan di tindak lanjuti oleh Keputusan Menteri Agama No.154 Tahun 1991, serta Undang-Undang No.3 Tahun 2006 tentang Perubahan UU No.7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, para hakim pengadilan agama telah mempunyai sandaran hukum (pijakan hukum) yang jelas dalam memutuskan perkasa khususnya masalah hukum kewarisan.

Bagi umat Islam Indonesia dewasa ini, aturan Allah tentang kewarisan telah menjadi hukum positif yang dipergunakan dalam pengadilan agama dalam memutuskan kasus pembagian maupunpersengketaan berkenaan dengan harta kewarisan tersebut.

2. Rumusan Masalah

  1. Apa definisi fiqh mawaris?
  2. Apa dasar hukum fiqh mawaris?
  3. Apa hukum mempelajari fiqh mawaris?
  4. Bagaimana sejarah waris dari pra Islam dan perkembanganya?
  5. Apa saja asas hukum kewarisan Islam?

BAB II

PEMBAHASAN

1.Definisi Fiqih Mawaris

Dalam beberapa literatur hukum Islam ditemui beberapa istilah yang menamakan hukum kewarisan Islam yaitu fiqih mawaris, ilmu faraid, dan hukum kewarisan.

Kata FiqhberasaldaribahasaarabFiqhyang secara bahasa adalah mengetahui, memahami, yaitu mengetahui sesuatu sebagai hasil usaha menggunakan akal pikiran yang sungguh-sungguh. Sedangkanmenurutistilah‘ulamailmu yang membahassegalahukumsyara’ yang berhubungandenganamaliah, dipetikdaridalil-dalinya yang jelas (Al-Qur’an dan Al-Hadits).[1]

Kata Mawaris itu berasal dari bahasa arab yaitu bentuk jamak dari ميرا ث(miraats) adalah harta peninggalan orang yang meninggal yang diwariskan kepada para warisnya. Orang yang meninggalkan harta disebut muwarits. Sedang yang berhak menerima pusaka adalah warits.

Para fuqaha menta’rifkan ilmu ini dengan:

عِلمٌ يُعرَفُ بِهِ مَنْ يَرِثُ وَمَنْ لاَ يَرِثُ وَمِقْدَارُ كُلِّ وَارِثٍ وَكَيْفِيَةُ التَّوْزِيْعِ

Ilmu untuk mengetahui orang yang berhak menerima pusaka, orang yang tidak dapat menerima pusaka, kadar yang diterima oleh tiap-tiap waris dan cara pembagiannya.[2]

Sedangkan kata faraidh adalah bentuk jamak dari kata fardh, artinya kewajiban dan atau bagian tertentu. Apabila dihubungan dengan ilmu, menjadi ilmu faraidh, maksudnya ialah:

عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ كَيْفِيَةِ التَّرْكَةِ عَلىَ مُسْتَحِقِّهَا

Ilmu untuk mengetahui cara membagi harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia kepada yang berhak menerimanya[3]

Jadi,Fiqih Mawaris atauIlmuFaraidhadalah suatu disiplin ilmu yang membahas seluk-belukpembagianhartawaris, ketentuan-ketentuanahliwaris, danbagian-bagiannya.

2. Dasar Hukum Waris

  1. Dasar hukum Al- Quran (QS. An-Nisaayat 7-14 danayat 176)
  2. S An-Nisa ayat 7

لِّرِّجَا لِ نَصِيْبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ وَلِنِّسَآ ءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ آلْوَالِدَانِ وآلأقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أوكَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا

Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan”.

Ketentuan dalam ayat di atas, merupakan landasan utama yang menunjukan, bahwa dalam Islam baik laki-laki maupun perempuan sama-sama mempunyai ahli waris, dan sekaligus merupakan pengakuan Islam, bahwa perempuan merupakan subjek hukum yang mempunyai hak dan kewajiban.Tidak demikian halnya pada masa jahiliyah, dimana wanita di pandang sebagai objek bagaikan benda biasa yang dapat di wariskan.[4]

  1. S. An-Nisa ayat 8

وَإذَا حَضَرَآلْقِسْمَةَ اُوْلُوا آلْقُرْبىَ وَآليَتَمىَ وآلْمَسَكِينُ فَآرْزُقُوهُمْ مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَولاً مَّعْرُوفًا

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dengan harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik”.

  1. S An-Nisa ayat 9

وَلْيَخْشَ آلَّذِينَ لَوْتَرَكُوْا مِنْ خلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَفًا خَا فُواعَلَيهِمْ فَلْيَتَّقُواللهَ وَلْيَقُولُواقَولاًسَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

  1. Dasar hukum hadis Rasulullah sebagai berikut:
  2. Hadis dari Abu Hurairah menurut riwayat Bukhari:

عَنْ أبِى هُرَيرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَمْ قَالَ: أنَا أولَى بِا لْمُعْمِنِينَ أنْفُسِهِمْ فَمَنْ مَاتَ وَعَلَيه دَيْنٌ وَلمْ يَتْرُكْ مَا لاَ فَعَلَيْنَا قَضَاؤُهُ وَمَنْ تَرَكَ مَا لاَ فَلِوَرِثِهِ [رواه البخاري]

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah S.A.W bersabda: “Saya adalah yang lebih utama dari seorang muslim dari diri mereka sendiri, siapa-siapa yang meninggal dengan memiliki utang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya maka sayalah yang akan melunasinya. Barangsiapa yang meninggalkan arangsiapa yang meninggalkan harta makan harta itu untuk ahli warisnya.

  1. Hadis dari Abdullah Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari:

عَنِ ابْنُ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِى صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمْ قَال: ألْحِقُوا الفَرَئِضَ بَأَهْلِهَا فَمَا بَقِيَ فَهُوَلأِولُى رَجُلٍ ذَكَرٍ [رواه البخاري]

Berikanlah faraidh (bagian yang di tentukan) itu kepada yang berhak dan selebihnya berikanlah kepada laki-laki dari keturunan laki-laki yang terdekat.

  1. Hadis Nabi dari Usamah bin Zaid menurut riwayat Tirmidzi

عَنْ اُسَمَةَ بْنِ زَيدِرَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمْ قَالَ: لاَيَرِثُ الْمُسْلِمُ الكَافِرَوَلاَ االكَافِرُالمُسْلِمَ [رواه الترمذي]

Dari Usamah bin Zaid bahwa Nabi S.A.W bersabda: “seorang muslim tidak mewarisi harta nonmuslim dan orang nonmuslim pun tidak mewarisi harta orang muslim.[5]

3. Hukum Mempelajari Fiqih Mawaris

Rasulullah S.A.W memerintahkan dan mengajarkan hukum kewarisan Islam (faraidh), agar tidak terjadi perselisihan-perselisihan dalam membagi harta warisan, lantaran ketidakadaan ulama yang menguasai ilmu hukum waris. Sebagaimana sabdanya:

تَعَلَّمُوا الْقُرْانَ وَعَلِّمُوْهُ النَّاس, وَتَعَلَّمُوا الْفَرَائِضُ وَعَلِّمُوْهَا النَّاسَ, فَاِنِّى اَمْرؤٌ مَقْبُوْضٌ, وَاِنَّ هَذَا الْعِلْمَ سَيُقْبَضُ وَتَظْهَرُالْفِتَنُ, وَحَتَّى يَحْتَلِفَ الْاِثْنَانِ فِى الْفَرِيْضَةِ, فَلاَ يَجِدَانِ مَنْ يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا.

Pelajarilah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang lainserta pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah kepada orang lain. Sesungguhnya aku seorang yang bakal meninggal, dan ilmu inipun bakal sirna hingga muncul fitnah. Bahkan akan terjadi dua orang yang kan berselisih dalam hal pembagian (hak yang mestiiaterima), namunkeduanyatidakmendapati orang yang dapatmenyelesaikanperselisihantersebut”. (HR.Ahmad, An-Nasa’i, dan Daruquthni).[6]

تعلمواالفرائض وعلموهاالناس فإنه نصف العلم وهو ينسى وهو اول شئ ينزع من امتى. (رواه ابن ماجه والدارقطنى)

Pelajarilah ilmufaraidh dan ajarkannlah ia kepada oranglaim. Sesungguhnya ilmu ini adalah setengah dari semua ilmu, dan ilmu inilah yang pertama sekali kelak tercabut dari umatku (tidak diamalkan lagi)”. (HR. Ibnu Majah dan Ad-Daruquthniy).[7]

Perintah tersebut berisi perintah wajib. Hanya saja kewajiban belajar dan mengajarkanya itu gugur bila ada sebagian orang yang telah melaksanakanya. Tetapi, jika tidak ada seorangpun yang mau melaksanakanya, semua orang Islam mengandung dosa, lantaran melakukan suatu kewajiban. Ini berarti fardhu kifayah.[8]

Adapun tujuan mempelajari ilmu faraidh atau hukum waris ialah agar kita dapat menyelesaikan masalah harta peninggalan sesuai dengan ketentuan agama, jangan sampai ada yang dirugikan dan termakan bagianya oleh ahli waris yang lain.[9]

Tidak jarang terjadi problem keluarga karena persoalan membagi waris, karena salah satu diantara keluarga itu tidak mengerti tentang pembagian waris dalam agama, sehingga kadangkala sampai terangkat kesidang pengadilan. Oleh karena itu, jika diantara anggota keluarga ada yang memahami tentang hukum waris, kasus-kasus tersebut kiranya tidak sampai terangkat ke pengadilan.

4. Sejarah Waris Dari Pra Islam Dan Perkembanganya

  1. Masa Jahiliyah

Pada masa jahiliyah pembagian harta warisan, orang-orang jahiliyah dalam membagi warisan berpegang teguh kepada adat istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka. Menurut ketentuan yang telah berlaku, bahwaanak yang belum dewasa dan anak perempuan atau kaum perempuan tidak berhak mendapat warisan dari harta peninggalan orang yang meninggal dunia. Anak-anak yang belum dewasa dan kaum perempuan dianggap tidak pantas menerima warisan. Bahkan mereka beranggapan, bahwa janda dari orang meninggal itu pun dianggap sebagai warisan dan boleh berpindah tangan dari ayahnya kepad aanaknya.

Adapundasar yang menjadisebabmempusakaipadazamanjahiliyahadatiga, yaitu:

  1. Karena hubungan kerabat (Al-Qarahah)

Yang termasuk al-qarahahdalamkewarisanzamanjahiliyah, yaitu:

  • Anaklaki-laki
  • Saudaralaki-laki
  • Paman
  • Anaklaki-lakipaman
  1. Karena janji setia (Al-Hilfwa al-Mu’aqadah)

Janji setia ditempuh dengan melakukan perjanjian kerjasama antara dua orang atau lebih. Seseorang menyatakan dengan sungguh-sungguh kepada orang lain, untuk saling mewarisi apabila salah satu pihak meninggal dunia. Tujuannya untuk kerjasama, saling menasihati, dan yang terpenting adalah saling memperoleh rasa aman.

  1. Karena pengangkatan anak (At-Tabanni)

Pengangkatan anak atau adopsi sudah menjadi perbuatan lazim yang mengakar dalam masyarakat jahiliyah. Status hukum dari anak angkat sama dengan anak kandung dan nasabnya pun disandarkan pada bapak angkatnya. Jadi apabila anak angkat tersebut telah dewasa dan bapak angkatnya meninggal dunia maka ia dapat mewarisi harta peninggalan bapak angkatnya.[10]

  1. MasaawalIslam

Pada zaman awal Islam ada beberapa sebab pusaka-mempusakai disamping karena adanya hubungan kerabat atau pertalian nasab, yaitu sebagai berikut:

  1. PengangkatanAnak

Pengangkatan anak sebagai sebab mempusakai di masa jahiliyah terus berlaku sampai pada permulaan Islam. Kebiasaan masa jahiliyah mengangkat anak orang lain sebagai anaknya dan dibangsakan kepadanya.

  1. HijrahdariMekahkeMadinah

Hijrah dari Mekah ke Madinah, pada awal Islam menjadi sebab pusaka-mempusakai. Kekuatankaummuslimin pada waktu itu sangat lemah, karena jumlah mereka sedikit. Untuk menghadapi kaum musyrikinQuraisy yang sangat kuat dan banyak pengikutnyatiadajalan lain yang di tempuh Rasulullah beserta pengikutnya selainmemintabantuankeluarkota yang sepaham dan simpatik terhadap perjuangan beliau beserta kaum muslimin dalam memberantas kemusyrikan.

Setelahmenerimaperintahdari Allah Swt, agar meninggalkankotaMekah, RasulullahbersamadengansejumlahsahabatmeninggalkankotaMekahmenujukotaMadinah. Di madinahinilahRasulullahbesertarombongannyadisambutgembiraoleh orang-orang Madinahdenganditempatkandirumah-rumahmereka, dicukupisegalakeperluan, dilindungijiwanyadaripengejarankaummusyrikinQuraisydandibantudalammenghadapimusuh-musuh yang menyerangnya.

Karenaadanyakekerabatandan rasa salingmelindungiinilahpadamasaawalIslamhijrahdariMekahkeMadinahmenjadisebabpusaka-mempusakai.

  1. PersaudaraanantaraMuhajirindanAnshor

UntukmemperteguhdanmengabadikanpersaudaraankaumMuhajirindankaumAnshor, Rasulullahmenjadikanikatanpersaudaraansebagaisalahsatusebabuntuksalingmempusakai.Misalnya, apabilaseorangMuhajirinmeninggaldunia di Madinahdaniamempunyaiwali (ahliwaris) yang ikuthijrahmakahartapeninggalannyadipusakaiolehwalinya (ahliwarisnya) yang ikuthijrah, sedangahliwaris yang engganikuthijrahkeMadinahtidakberhakmempusakaihartapeninggalannya. Apabilatidakmempunyaiwali yang ikuthijrah, makahartapeninggalannyadapatdipusakaiolehsaudaranyadari orang-orang yang menjadiwalikarenaadaikatanpersaudaraan.[11]

  1. MasaPenyempurnaan

IslamtelahmenyempurnakankewarisanzamanjahiliyahdanmasaawalIslamsebagaiberikut:

  1. DalamIslamsemuaanak yang belumdewasa (bahkananakdalamkandungan), anakperempuanataukaumperempuansemuanyaberhakmendapatbagianhartawarisan. Hal initerdapatdalamhaditsNabi Muhammad Saw. “Rasulullah Saw. bersabda: Apabilamenangisanak yang barulahir, makadiamendapatwarisan”. (HR. Abu Daud)

Dan terdapatdalam Q.S An-Nisa :7

Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.

  1. Istri orang yang meninggalduniatidakboleh (haram) diwariskan.

Hal initerdapatdalam QS. An-Nisa :22

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu…”

  1. Sebab-sebabmewarisi yang adapadazamanjahiliyahtelahdihapusdandisempurnakanolehhukum.

Sebab-sebabmewarisidalamhukumkewarisanIslam, yaitu:

  • Al-Qarabah(PertalianDarah)
  • Al-Mushaharah(HubunganPerkawinan)
  • Al-Wala’ (MemerdekakanHambaSahaya)
  1. DalamIslamanakangkattidaksalingmewarisidengan orang tuaangkatnya.

Hal initerdapatdalam QS.Al-Ahzabayat 4-5 danayat 40.

Ketigaayattersebutmenyatakandengantegasbahwapengangkatananak yang motivasidantujuannyauntukmenyamakananakangkatsebagaianakkandung, tidakdibenarkan.Sebaliknya, apabilapengangkatananaktersebutuntuktujuanmembantudanmemenuhikebutuhannya, bukanuntukmemutuskanhubungankekerabatandanmewarisi, makatindakantersebutsangatdianjurkanolehajaranIslam.[12]

5. Asas Hukum Kewarisan Islam

Hukum kewarisan Islam adalah suatu bagian dari keseluruhan hukum Islam yang mengatur peralihn harta dari orang yang meninggal dunia kepada orang (keluarga) yang masih hidup.

Hukum kewarisan Islam mengandung berbagai asas yang memperlihatkan bentuk karesteristikdari hukum kewarisan Islam itu sendiri.

  1. AsasIjbari

Secaraetimologi, “Ijbari” mengandungartipaksaan, yaitumelakukansesuatu di luarkehendaksendiri.Dalamhalhukumwarisberartiterjadinyaperalihanhartaseseorang yang telahmeninggalkepada yang masihhidupterjadidengansendirinya.

  1. Asas Individual

Pengertianasas individual iniadalahsetiapahliwaris (secaraindividu) berhakatasbagian yang didapatkantanpaterikatkepadaahliwarislainnya.Dengandemikianbagian yang diperoleholehahliwarissecaraindividuberhakmendapatsemuaharta yang telahmenjadibagiannya.[13]

  1. Asas Ketauhidan

Asas kewarisan Islam adalah prinsipketauhidan. Prinsip ini didasarkan pada pandangan bahwa melaksanakan pembagian waris dengan sistem waris Islam, terlebih dahulu harus didasarkan pada keimanan yang kuat kepada Allah dan Rasulullah S.A.W, artinya beriman pada ajaran-ajaran-Nya yang termuat dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan demikian, melaksanakan waris Islam merupakan wujud ketaatan yang mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya.[14]

  1. Asas Keadilan

Keadilan artinya keseimbangan antara hak dan kewajiban. Titik tolak kewarisan Islam adalah menyerahkan harta peninggalan kepada hak warisnya sesuai dengan ketetapan Allah. Hak waris laki-laki dan perempuan diberikan secara proporsional. Oleh karena itu, makna keadilan bukan sama rata, melainkan adanya keseimbanganyang disesuaikan dengan hak dan kewajiban secara proporsional.[15]

  1. Asas Bilateral

Adapun yang dimaksud asas bilateral dalam hukum kewarisan Islam adalah bahwa seseorang menerima hak warisan dari kedua belah pihakgaris kerabat, yaitu garis keturunan perempuan maupun garis keturunan laki-laki.[16]

  1. Asas Individual

Asas ini mengajarkan asas kewarisan secara individual artinya harta warisan dapat di bagi-bagi pada masing-masing ahli waris untuk dimiliki secara perorangan , ahli waris itu menerima warisan tanpa terikat dengan ahli waris lainnya.

  1. Asas Semata Akibat Kematian

Hukum Islam menetapkan bahwa peralihan harta orang lain dengan menggunakan istilah kewarisan hanya berlaku setelah yang mempunyai hartameninggal dunia. Asas ini berarti harta seseorang tidak dapat beralih kepada orang lain dengan nama waris selama yang mempunyai itu masih hidup.[17]

6. Analisis

Fiqh Mawaris adalah ilmu yang sangat penting. Dengan mengetahuii lmuiniseseorangakan dapat menyelesaikan pembagian harta waris sesuai syariat Islam dan akan terhindar dari perselisihan. Namun di zaman sekarangini,banyak kiranya masyarakat yang tidak mengetahui ilmu mawaris dan otomatis pembagian hartawarisnya pun tidak sesuai dengan syariat Islam. Padahal hukum mengetahui ilmu mawaris adalah fardhu kifayah. Hal ini merupakan masalah yang perlu dikaji lebihlanjut.

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

  1. Fiqih Mawaris atauIlmuFaraidhadalah suatu disiplin ilmu yang membahas seluk-belukpembagianhartawaris, ketentuan-ketentuanahliwaris, danbagian-bagiannya.
  2. DasarhukumfiqihMawarisyaitu Al-Qur’an surat An-Nisaayat 7-14 danayat 176 sertabeberapahadistNabi Saw.
  3. Sejerahpembagianhartawarisandibagikedalam 3 masayaitu, masajahiliyah, masaawal Islam danmasapenyempurnaan.
  4. Hukum kewarisan Islam mengandung berbagai asas yang memperlihatkan bentuk karesteristikdari hukum kewarisan Islamdiantaranya: AsasKetauhidan, AsasKeadilan, Asas Bilateral, Asas Individual danAsasSemataAkibatKematian.

DAFTAR PUSTAKA

  • Ash-Shabuni, Muhammad Ali.1995. PembagianWarisMenurut Islam.Jakarta:GemaInsani Press.
  • Ash-Shiddieqy, Teuku Muhammad Hasbi. 2010. Fiqh Mawaris (Hukum Pembagian Warisan Merurut Syrariat Islam. Semarang: Pustaka Rizki Putra
  • K.Lubis, Suhrawardi. Simanjuntak, Komis.2007. Hukum Waris Islam. Jakarta:Sinar Grafika.
  • Mardani. 2014. Hukum Kewarisan Islam di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Muhibbin, Moh. Wahid, Abdul. 2009. Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaharuan Hukum Positif di Indonesia. Jakarta:Sinar Grafika.
  • Nasution, Amin Husain. 2012. HukumKewarisan: Suatu Analisis Komparatif Pemikiran Mujtahid dan Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Riyanto, WaryaniFajar.2012. StudiHukumWaris Islam.Pekalongan: STAIN Pekalongan Press.
  • Saebani, Beni Ahmad. 2009. Fiqh Mawaris. Bandung: Pustaka Setia.

[1] Moh. Muhibbin, Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaharuan Hukum Positif di Indonesia ,(Jakarta:Sinar Grafika, 2009) hlm. 5

[2] Teuku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Fiqh Mawaris (Hukum Pembagian Warisan Merurut Syrariat Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra,2010),hlm. 5

[3] Moh. Muhibbin, Abdul Wahid, Op.cit,.hlm. 8

[4]Ibid,hlm.12

[5]Ibid, hlm. 17-21

[6]Muhammad Ali Ash-Shabuni, PembagianWarisMenurut Islam, (Jakarta: GemaInsani Press, 1995), hlm. 16

[7]Amin Husain Nasution, HukumKewarisan: SuatuAnalisisKomparatifPemikiranMujtahiddanKompilasiHukum Islam, (Jakarta: RajawaliPers, 2012), hlm. 54

[8]Mardani, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers,2014),hlm.24

[9]Moh Muhibin, Abdul Wahid, Op.Cit,hlm.10

[10] Mardani,Op.cit,.hlm.16

[11]Moh Muhibin , Abdul Wahid, Op.Cit,hlm. 36

[12] Mardani,Op.cit,.hlm. 17-19

[13]WaryaniFajarRiyanto, StudiHukumWaris Islam, (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2012), hlm. 179

[14]Beni Ahmad Saebani, Fiqh Mawaris, (Bandung: Pustaka Setia,2009),hlm.19

[15]Ibid,.hlm. 33

[16] Suhrawardi K.Lubis, Komis Simanjuntak, Hukum Waris Islam, (Jakarta:Sinar Grafika,2007),hlm.40

[17] . Moh. Muhibbin & Abdul Wahid Op Cit, hlm.24-30

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Contoh Makalah Tentang Shalat Jenazah ( Lengkap )
  2. Contoh Makalah Tentang Shalat Tarawih ( Lengkap )

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*