Contoh Makalah Tentang Penyakit Atritis Rematoid

Contoh Makalah Tentang Penyakit Atritis Rematoid

Contoh Makalah Tentang Penyakit Atritis Rematoid

Makalahkita.com – Contoh Makalah Tentang Penyakit Atritis Rematoid yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)

  2. Font : Times New Roman Ukuran 12

  3. Kertas : Size A4

  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perubahan – perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan  makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia  lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh.
Pada usia lanjut individu akan mengalami perubahan fisik, mental, sosial ekonomi dan spiritual yang mempengaruhi kemampuan fungsional dalam aktivitas kehidupan sehari-hari sehingga menjadikan lansia menjadi lebih rentan menderita gangguan kesehatan baik fisik maupun mental. Walaupun tidak semua perubahan struktur dan fisiologis, namun diperkirakan setengah dari populasi penduduk lansia mengalami keterbatasan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, dan 18% diantaranya sama sekali tidak mampu beraktivitas. Berkaitan dengan kategori fisik, diperkirakan 85% dari kelompok umur 65 tahun atau lebih mempunyai paling tidak satu masalah kesehatan(HealthyPeople,1997).
Dan jumlah penduduk lansia yang tinggi kemungkinan membuat rematik jadi keluhan favorit. Penyakit otot dan persendian  ini sering menyerang lansia, melebihi hipertensi dan jantung, gangguan pendengaran dan penglihatan, serta diabetes(Health-News,2007).

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi arthritis rheumatoid ?
2. Apa etiologi arthritis rheumatoid ?
3. Apa manifestasi klinis  arthritis rheumatoid ?
4. Bagaimana patofisiologi dari arthritis rheumatoid ?
5. Bagaimana penatalaksanaan  untuk pasien dengan arthritis rheumatoid?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada arthritis rheumatoid  ?

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui definisi arthritis rheumatoid
2. Untuk mengetahui etiologi arthritis rheumatoid
3. Untuk mengetahui manifestasi klinis  arthritis rheumatoid
4. Untuk mengetahui  patofisiologi  arthritis rheumatoid
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan untuk pasien dengan arthritis rheumatoid
6. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada arthritis rheumatoid

D. MANFAAT

1. Sebagai informasi dasar untuk mengenal arthritis rheumatoid
2. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai arthritis rheumatoid .

BAB II

PEMBAHASAN

1. KONSEP DASAR MEDIS

A. DEFINISI

Artritis reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi kronis yang menyebabkan degenerasi jaringan penyambung.
Rematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh. Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi.

B. ETIOLOGI

Penyebab dari artritis rhematoid belum dapat diketahui secara pasti, tetapi dapat dibagi dalam 3 bagian, yaitu:
1) Mekanisme imunitas (antigen antibodi) seperti interaksi IgG dari imunoglobulin dengan rhematoid factor
2) Faktor metabolik
3) Infeksi dengan kecenderungan virus

C. TANDA DAN GEJALA

1. Tanda dan gejala setempat
a. Sakit persendian disertai kaku terutama pada pagi hari (morning stiffness) dan gerakan terbatas, kekakuan berlangsung tidak lebih dari 30 menit dan dapat berlanjut sampai berjam-jam dalam sehari. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan osteoartritis yang biasanya tidak berlangsung lama.
b. Lambat laun membengkak, panas merah, lemah
c. Poli artritis simetris sendi perifer atau semua sendi bisa terserang,panggul, lutut, pergelangan tangan, siku, rahang dan bahu. Paling sering mengenai sendi kecil tangan, kaki, pergelangan tangan, meskipun sendi yang lebih besar  seringkali terkena juga
d. Artritis erosive atau sifat radiologis penyakit ini. Peradangan sendi yang kronik menyebabkan erosi pada pinggir tulang dan ini dapat dilihat pada penyinaran sinar X
e. Deformitas atau pergeseran ulnar, deviasi jari-jari, subluksasi sendi metakarpofalangea, deformitas beoutonniere dan leher angsa. Sendi yang lebih besar mungkin juga terserang yang disertai penurunan kemampuan fleksi ataupun ekstensi. Sendi mungkin mengalami ankilosis disertai kehilangan kemampuan bergerak yang total
f. Rematoid nodul  merupakan massa subkutan yang terjadi pada 1/3 pasien dewasa, kasus ini sering menyerang bagian siku (bursa olekranon) atau sepanjang permukaan ekstensor lengan bawah, bentuknya oval atau bulat dan padat.

2.      Tanda dan gejala sistemik

•         Lemah, demam, tachikardi, berat badan turun, anemia, anoreksia
Bila ditinjau dari stadium, maka pada RA terdapat tiga stadium yaitu:
a. Stadium Sinovisis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat istirahat maupun saat bergerak, bengkak dan kekakuan
b. Stadium Destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon
c. Stadium Deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali, deformitas dan gangguan fungsi secara menetap. Perubahan pada sendi diawali adanya sinovitis, berlanjut pada pembentukan pannus, ankilosis fibrosa dan terakhir ankilosis tulang.

D. PATOFISIOLOGI

Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular.  Peradangan yang berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi.  Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau penutup yang menutupi kartilago.  Pannus masuk ke tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi.  Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis).  Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian.  Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.
Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang. Ditandai dengan masa adanya serangan dan tidak adanya serangan.  Sementara ada orang yang sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi.  Yang lain. terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid) gangguan akan menjadi kronis yang progresif.

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Tes serologi

– Sedimentasi eritrosit meningkat
– Darah, bisa terjadi anemia dan leukositosis
– Rhematoid faktor, terjadi 50-90% penderita

2. Pemerikasaan radiologi

– Periartricular osteoporosis, permulaan persendian erosi
– Kelanjutan penyakit: ruang sendi menyempit, sub luksasi dan ankilosis

3. Aspirasi sendi

Cairan sinovial menunjukkan adanya proses radang aseptik, cairan dari sendi dikultur dan bisa diperiksa secara makroskopik.
Kriteria diagnostik Artritis Reumatoid adalah terdapat poli- arthritis yang simetris yang mengenai sendi-sendi proksimal jari tangan dan kaki serta menetap sekurang-kurangnya 6 minggu atau lebih bila ditemukan nodul subkutan atau gambaran erosi peri-artikuler pada foto rontgen.
Kriteria Artritis rematoid menurut American Reumatism Association ( ARA ) adalah:
1. Kekakuan sendi jari-jari tangan pada pagi hari ( Morning Stiffness ).
2. Nyeri pada pergerakan sendi atau nyeri tekan sekurang-kurangnya pada satu sendi
3. Pembengkakan ( oleh penebalan jaringan lunak atau oleh efusi cairan ) pada salah satu sendi secara terus-menerus sekurang-kurangnya selama 6 minggu.
4. Pembengkakan pada sekurang-kurangnya salah satu sendi lain
5. Pembengkakan sendi yanmg bersifat simetris.
6. Nodul subcutan pada daerah tonjolan tulang didaerah ekstensor
7. Gambaran foto rontgen yang khas pada arthritis rheumatoid
8. Uji aglutinnasi faktor rheumatoid
9. Pengendapan cairan musin yang jelek
10. Perubahan karakteristik histologik lapisan synovial
11. gambaran histologik yang khas pada nodul.
Berdasarkan kriteria ini maka disebut :
• Klasik : bila terdapat 7 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu
• Definitif : bila terdapat 5 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu.
• Kemungkinan rheumatoid : bila terdapat 3 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 4 minggu.

F. PENATA LAKSANAAN

Tujuan penata laksanaan reumatoid artritis adalah mengurangi nyeri, mengurangi inflamasi, menghentikan kerusakan sendi dan meningkatkan fungsi dan kemampuan mobilisasi penderita (Lemone & Burke, 2001)
Program terapi dasar terdiri dari lima komponen dibawah ini yang merupakan sarana pembantu untuk mecapai tujuan-tujuan tersebut yaitu:
1) Istirahat
2) Latihan fisik
3) Termoterapi
4) Pengobatan :
o Aspirin (anti nyeri)dosis antara 8 s.d 25 tablet perhari, kadar salisilat serum yang diharapakan adalah 20-25 mg per 100 ml
o Natrium kolin dan asetamenofen à meningkatkan toleransi saluran cerna terhadap terapi obat
o Obat anti malaria (hidroksiklorokuin, klorokuin) dosis 200 – 600 mg/hari à mengatasi keluhan sendi, memiliki efek steroid sparing sehingga menurunkan kebutuhan steroid yang diperlukan
o Garam emas
o Kortikosteroid
5) Nutrisi
diet untuk penurunan berat badan yang berlebih Bila Rhematoid artritis progresif dan, menyebabkan kerusakan sendi, pembedahan dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri dan memperbaiki fungsi. Pembedahan dan indikasinya sebagai berikut:
1. Sinovektomi, untuk mencegah artritis pada sendi tertentu, untuk mempertahankan fungsi sendi dan untuk mencegah timbulnya kembali inflamasi.
2. Arthrotomi, yaitu dengan membuka persendian.
3. Arthrodesis, sering dilaksanakan pada lutut, tumit dan pergelangan tangan.
4. Arthroplasty, pembedahan dengan cara membuat kembali dataran pada persendian

2. ASUHAN KEPERAWATAN

A. Proses keperawatan
a.Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan
o Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan, atau pada tungkai.
o Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu sebelum pasien mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada sen
2.Pemeriksaan Fisik
o Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral), amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya kulit, dan pembengkakan.
o Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi sinovial
– Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)
– Catat bila ada krepitasi
– Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
– Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral
 Catat bia ada atrofi, tonus yang berkurang
 Ukur kekuatan otot
 Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
 Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari

3. Riwayat Psiko Sosial

Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi apalagi pad pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi karean ia merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan merasakan kegiatan sehari-hari menjadi berubah. Perawat dapat melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan harga diri klien.

b. Diagnosa keperawatan

1. Nyeri akut / kronis behubungan dengan agen pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi cairan / proses inflamasi, destruksi sendi.
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan: deformitas skeletal, nyeri, ketidak nyamanan, intolransi aktifitas, penurunan kekuatan otot.
3. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan dengan perubahankemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi,ketidakseimbangan mobilitas
4. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal; penurunankekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi
5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai penyakit, prognosisdan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemahaman/ mengingat, kesalahan interpretasi informasi.

c.Intervesi keperawatan

1. Nyeri akut / kronis behubungan dengan agen pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi cairan / proses inflamasi, destruksi sendi
Kriteria hasil :
– Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol,
– Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.
INTERVENSI RASIONAL
  • – kaji keluhan nyeri, catat  lokasi dan intensitas (skala 0 – 10). Catat factor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal
  • – berikan matras atau kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan
  • – biarkan pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk di kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur sesuai indikasi
  • – dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan di bawah, hindari gerakan yang menyentak
  • – anjurkan pasien untuk mandi air hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun. Sediakan waslap hangat untuk mengompressendi-sendi yang sakitbeberapa kali sehari. Pantausuhu air kompres, air mandi
  • – berikan masase yang lembut kolaborasi
  • – beri obat sebelum aktivitas atau latihan yang direncanakan sesuai petunjuk seperti asetil salisilat (aspirin)
  • -membantu dalam menentukan kebutuhan managemen nyeri dan keefektifan program
  • – matras yang lembut/empuk, banal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stres pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur menurunkan tekanan ada sendi yang terinflamasi / nyeri
  • – pada penyakit berat, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi nyeri atau cedera sendi.
  • – Mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi, mengurangi gerakan/rasa sakit pada sendi
  • – Panas meningkatkan relaksasi otot dan mobilitas, menurunkan rasa sakit dan melepaskan kekakuan di pagi hari. Sensitifitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan
  • – Meningkatkan relaksasi, mengurangi tegangan otot, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan: deformitas skeletal, nyeri, ketidak nyamanan, intolransi aktifitas, penurunan kekuatan otot
Kriteria hasil :
  • – Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/pembatasan kontraktur.
  • – Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/ atau kompensasi bagian tubuh.
  • – Mendemonstrasikan tekhnik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktifitas.
INTERVENSI RASIONAL
  • -Evaluasi/ lanjutkan pemantauan tingkat inflamasi/ rasa sakit pada sendi
  • -Pertahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan.
  • -Bantu bergerak dengan bantuan seminimal mungkin.
  • -Dorong klien mempertahankan postur tegak, duduk tinggi, berdiri dan berjalan
  • -Berikan lingkungan yang aman dan menganjurkan untuk menggunakan alat bantu.
  •  -Berikan obat-obatan  sesuai indikasi seperti steroid
  • – Tingkataktivitas/ latihan tergantung dari perkembangan/ resolusi dari proses inflamasi
  • -Untuk mencegah kelelahan dan mempertahankan kekuatan.
  • -Meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina  umum
  • -Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan mobilitas.
  • -Menghindari cedera akibat kecelakaan seperti jatuh
  • – Untuk mecegah inflamasi sistemik akut
3. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan dengan perubahankemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, peningkatan penggunaan energi,ketidakseimbangan mobilitas
Kriteria hasil :
  • – Mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan keterbatasan.
  • – Menyusun rencana realistis untuk masa depan
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
• Dorong pengungkapan mengenai masalah, proses penyakit, dan harapan masa depan
• Diskusikan arti dari kehilangan/perubahan pada pasien/orang terdekat. Memastikan bagaimana pandangan pribadi klien terhadap perubahan gaya hidup termasuk aspek seksual.
•  Diskusikan persepsi klien mengenai bagaimana orang terdekat dalam menerima keterbatasan klien
• Akui dan terima perasaan berduka,bermusuhan,dan ketergantungan
• Perhatikan perilaku menarik diri, menyangkal atau terlalu memperhatikan tubuh/perubahan
• Susun batasan pada perilaku maladaptive. Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping
• Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas
Kolaborasi
• Rujuk pada konseling psikiatri
• Berikan obat-obat sesuai petunjuk
• Beri kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/kesal menghadapinya secara langsung.
• Mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap intervensi atau konseling lebih lanjut.
• Isyarat verbal/nonverbal orang terdekat dapat mempunyai pengaruh mayor pada bagaimana pasien memandang dirinya sendiri.
• Nyeri konstan akan melelahkan, dan perasaan marah, bermusuhan umum terjadi.
• Dapat menunjukkan emosional atau metode koping maladaptive, membutuhkan intervensi lebih lanjut atau dukungan psikologis.
• Membantu pasien mempertahankan kontrol diri yang dapat meningkatkan perasaan harga diri.
• Meningkatkan perasaan kompetensi/harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong partisipasi dan terapi.
• Pasien/orang terdekat mungkin membutuhkan dukungan selama berhadapan dengan proses jangka panjang/ketidakmampuan
• Mungkin dibutuhkan pada saat munculnya depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemampuan
yang yang lebih efektif
4. Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal; penurunankekuatan, daya tahan, nyeri pada waktu bergerak, depresi
Kriteria hasil :
  • – Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten dengan kemampuanindividual.
  • – Mendemonstrasikan perubahan teknik/ gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri
  • – Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri
INTERVENSI RASIONAL
• Kaji tingkat fungsi fisik
• Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan
• Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri, identifikasi untuk modifikasi lingkungan
• Identifikasi untuk perawatan yang diperlukan, misalnya: lift, peninggiandudukan toilet, kursi roda
•Mengidentifikasi tingkat bantuan dan dukungan yang diperlukan
• Mendukung kemandirian fisik/emosional
• Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian yang akan meningkatkan harga diri
• Memberikan kesempatan untuk dapat melakukan aktivitas secara mandiri
5. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai penyakit, prognosisdan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemahaman/ mengingat, kesalahan interpretasi informasi
Kriteria hasil :
  • – Menunjukkan pemahaman tentang kondisi/ prognosis, perawatan.
  • – Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk modifikasi gaya hidup yangkonsisten dengan mobilitas dan atau pembatasan aktivitas
INTERVENSI RASIONAL
  • -Tinjau proses penyakit, prognosis, dan harapan masa depan
  • – Diskusikan kebiasaan pasien dalam penatalaksanaan proses sakit melalui obat-obatan, dan program diet seimbang, l;atihan dan istirahat
  • -Bantu dalam merencanakan  jadwal aktivitas terintegrasi yang realisti, istirahat, perawatan pribadi,pemberian obat-obatan, terapi fisik, dan manajemen stres
  • -Tekankan pentingnya melanjutkan manajemen farmakoterapeutik
  • – Diskusikan pentingnya obat obatan lanjutan/ pemeriksaan laboratorium, mis: LED,Kadar salisilat, PT
  • -Memberikan pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi
  • – Tujuan kontrol penyakitadalah untuk menekan inflamasi sendiri/ jaringan lain untuk mempertahankan fungsisendi dan mencegah deformitas
  • – Memberikan struktur dan mengurangi ansietas pada waktu menangani proses penyakitkronis kompleks
  • -Keuntungan dari terapi obat-obatan tergantung ketepatan
  • – Terapi obat obatan membutuhkan pengkajian/ perbaikan yangterus menerus untuk menjamin efek optimal dan mencegah takar lajak, efek samping yang berbahaya

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. Tanda dan gejala pada umumnya berupa nyeri pada persendian, bangkak (rheumatoid nodule), dan kekakuan pada sendi terutama setelah bangun pada pagi hari.

B. Saran

Mengingat arthritis rheumatoid merupakan penyakit yang banyak  dijumpai pada lansia namun tidak menutup kemungkinan untuk menyerang usia muda  maka penanganan penyakit ini diupayakan secara maksimal dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan baik melalui tenaga kesehatan,  prasarana dan sarana kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Corwin, E. J. 2009.Buku saku patofisiologi. Jakarta: EGC
  • Doenges, M. E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
  • Smeltzer, Suzzanne C.2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah..Jakarta:EGC