Contoh Makalah Tentang Shalat Dhuha ( Lengkap)

Contoh Makalah Tentang Shalat Dhuha

Contoh Makalah Tentang Shalat Dhuha (Lengkap)

Makalahkita.com – Contoh Makalah Tentang Shalat Dhuha ( Lengkap) yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar belakang

Shalat merupakan rukun islam yang kedua . shalat juga merupakan ibadah yang teramat penting bagi muslim dan tidak boleh diabaikan begitu sajameski dalam keadaan seperi apapun. Rasulullah mengibaratkan shalat sebagai tiang agama. Tanpa ada tiang maka bangunan akan roboh. Tanpa shalat agama akan runtuh.oleh karena sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk selalu mengerjakan shalat. Bila tidak bisa tata caranya maka dia wajib mempelajarinya.

Shalat sesuai dengan hukumnya terdiri dari dua kategori yang pertama wajib yaitu shalat 5 waktu dan yang kedua sunah. Diantara shalat-shalat yang disunahkan adalah shalat rawatib, shalat tahajud, shalat tasbih,shalat dhuha dan lain sebagainya.

Didalam Surah Adh-Dhuha Allah swt bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam:“Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. 93:1-2). Pernahkah terlintas dalam benak kita mengapa Allah swt sampai bersumpah pada kedua waktu itu?. Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa kedua waktu itu adalah waktu yang paling utama dalam setiap harinya. Dari dalil tersebut ada sedikit keinginan penulis untuk lebih memahami tentang shalat dhuha. Oleh sebaba itu dalam makalh ini penulis akan membahas tentang shalat dhuha.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar belakang dan uraian di atas bisa penulisambil kesimpulan tentang rumusan masalah yang akan penulisbahas dalam makalah ini :

  1. Apa Pengertian  dari Shalat Dhuha?
  2. Apa hukum melaksanakan shalat dhuha?
  3. Kapan kita dapat melaksanakan shalt dhuha?
  4. Apa manfaat dan hikmah yang terkandung dalam shalat dhuha?

3. Tujuan

Dengan adanya rumusan masalah di atas maka penulisan makalah ini mempunyai dua tujuan, yaitu tuuan secara umum dan tujuan secara khusus :

  1. Tujuan secara Umum

Tujuan secara Umum adalah tujuan yang nantinya kembali pada semua obyek yang ada. Diantara tujuan Umumnya adalah agar semua pembaca, teman-teman, atau pun semua pihak yang membaca  makalah ini bisa memetik hikmah yang terkandung dalam bahasan ini bagi dan dapat memberikan dorongan bagi kita semua untuk melaksanakan shalat dhuha.

  1. Tujuan Secara Khusus

Tujuan secara khusus adalah untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah bahasa Indonesia

BAB II

TEORI DAN ANALISIS

1.Pengertian Shalat Dhuha

Shalat Dhuha merupakanshalat sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, sebab beliau berpesan kepada para sahabatnya untuk mengerjakan Shalat Dhuha sekaligus menjadikannya sebagai wasiat. Wasiat yang diberikan Rasulullah SAW.kepada satu orang berlaku untuk seluruh umat, kecuali terdapat dalil yang menunjukan kekhususan hukumnya bagi orang tersebut.banyak pendapat mengenai shalat dhuha diantaranya adalah:

  1. Shalat Dhuha adalah shalat sunah yang dilakukan setelah terbit matahari sampai menjelang masuk waktu zhuhur. Afdhalnya dilakukan pada pagi hari disaat matahari sedang naik ( kira-kira jam 7.00 pagi). Shalat Dhuha lebih dikenal dengan shalat sunah untuk memohon rizki dari Allah, berdasarkan hadits Nabi : ” Allah berfirman : Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang ( Shalat Dhuha ) niscaya pasti akan Aku cukupkan kebutuhanmu pada akhir harinya ” ( HR.Hakim dan Thabrani).
  2. Shalat Dhuha adalah shalat sunat yang dikerjakan pada waktu pagi hari, diwaktu matahari sedang naik. Sekurang-kurangnya shalat ini dua rakaat, boleh empat rakaat, delapan rakaat dan dua belas rakaat ( Imran, 2006)
  3. Shalat Dhuha adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang muslim ketika waktu dhuha. Waktu dhuha adalah waktu ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhur. Jumlah raka’at shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at. Dan dilakukan dalam satuan 2 raka’at sekali salam.(Rifa’i, 1993).
  4. Menurut wawan setiawan Shalat Dhuha adalah shalat sunah yang dilakukan setelah terbit matahari sampai menjelang masuk waktu zhuhur. Afdhalnya dilakukan pada pagi hari disaat matahari sedang naik ( kira-kira jam 7.00 pagi). Shalat Dhuha lebih dikenal dengan shalat sunah untuk memohon rizki dari Allah, berdasarkan hadits Nabi : ” Allah berfirman : Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang ( Shalat Dhuha ) niscaya pasti akan Aku cukupkan kebutuhanmu pada akhir harinya ” ( HR.Hakim dan Thabrani ).

Berdasarkan berbagai definisi tentang shalat dhuha diatas dapat penulis simpulkan bahwa shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dilakukan denga jumlah rakaat minimal dua rakaat dan maksimal 12 rakaat yang dikerjakan setelah matahari terbit hingga menjelang masuk waktu dzuhur.

2. Hukum Shalat Dhuha

Berkaitan dengan persoalan status hukum Shalat Dhuha. Al-Qur’an sendiri sebenarnya tidak mengemukakan secara eksplisit perintah atau anjuran yang tegas atau jelas berkenaan dengan pelaksanaan shalat tersebut. Ada beberapa kata dhuha yang bisa kita temukan dalam Al-Qur’an, tetapi kata-kata itu tampaknya tidak berkaitan dengan penetapan hukum shalat Dhuha. Oleh karena itu, secara eksplisit kita dapat menemukan dasar hukum yang tegas dan gelas dalam Al-Qur’an berkenaan dengan shalat Dhuha tersebut. Namun, hal itu tidak mengurangi arti penting dalam shalat Dhuha. Karena penjelasan yang tegas tenteng anjuran pengamalan shalat Dhuha ini dapat kita temukan dalam beberapa hadist. Berdasarkan hadist-hadist itulah kita dapat memberi pertimbangan status dasar hukum shalat Dhuha.

Secara umum, status hukum shalat Dhuha, berdasarkan banyak hadist yang berkaitan, adalah sunah. Beberapa hadist berikut dapat dijadikan sandaran status hukum shalat Dhuha. Kesunahan shalat Dhuha berdasarkan yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, sebagai berikut :

“Kekasihku Rasulullah SAW. Mewasiatkan kepadaku tiga hal, yaitu puasa tiga hari, dua rakaat shalat Dhuha, dan shalat Witir sebelum tidur.” ( HR.Bukhari Muslim)

Dalam hadist lain yang senada juga dikabarkan bagaimana siti Aisyah meneladani ketekunan Rasulullah SAW, dalam melakukan shalat Dhuha.Aisyah berkata, “setiap kali aku melihat Rasulullah SAW, melakukan shalat Dhuha, aku pun pasti melaksanakannya.” ( HR. Bukhari Muslim).

Hadist-hadist mengenai shalat Dhuha yang dikemukakan di atas tidak sekedar menunjukan suatu hukum shalat Dhuha sebagai amalan sunah, melain juga mengabarkan bagaimana para sahabat menunjukan kecintaan mereka terhadap amalan itu.

Menurut Imam Nawawi dalam Alim (2008 : 44) bahwa, shalat Dhuha adalah sunnah mu’akad ( sangat dianjurkan ). Dengan kata lain, shalat Dhuha adalah shalat sunah istimewa sehingga kita dianjurkan untuk tidak melalaikannya sebagaimana kita diwajibkan untuk tidak melalaikan pelaksanaan shalat-shalat wajib.

Dengan melihat berbagai hukum diatas dapat  diketahui bahwa status hukum shalat Dhuha memang hanya sebagai amalan sunah. Namun,hal kehendaknya tidak dimengerti bahwa ia hanya amalan sunah yang tidak wajib dilaksanakan, melainkan ia adalah amalan shalat sunah yang kedudukannnya mendekati kedudukan amalan shalat wajib.

3. Waktu Shalat Dhuha

Menurut Quraisy Syihab dalam Alim (2008 : 16), bahwa waktu Dhuha adalah waktu ketika matahari mulai merayap naik meninggalkan tempat dri terbitnya, hingga ia tampak membayang sampai mejelang tengah hari. Ar-Rahbawi (2001 : 307) menjelaskan, bahwawaktu shalat Dhuha dimulai sejak matahari sudah naik kira-kira sepenggalah sampai dengan tergelincir, tetapi yang paling utama dikerjakan sesudah lewat seperempat siang hari. Hal ini didasarkan pada hadist dari Zaid bin Arqam, sebagai berikut : “Shalat awwabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah SWT. Atau beratubat) adalah ketika anak unta mulai kepanasan.” (HR.Ahmad, Muslim, dan Timidzi).

Shalat Dhuha tidak bisa dilakukan disaat matahari sedang terbit, karena disat itu kaum muslimin dilarang melakukan shalat apapun. Oleh karena itu, agar waktu pelaksanaan shalat Dhuha tidak terlalu berdekatan dengan saat-saat yang dilarangnya pelaksanaan shalat, waktu yang paling utama untuk melaksanakannya adalah ketika matahari terasa mulai panas atau ketika matahari cukup tinggi di sebelah timur atau matahari berada sekitar satu tombak, menjelang siang. Hal ini berdasarkan hadist dari Sa’id bin Nafi” sebagai berikut : “janganlah kalian shalat pada saat matahari terbit karena sesungguhnya ia terbit di antara kedua tanduk setan.” (HR. Ahmad).

Berikut ini keterangan dari Rasulullah SAW. Yang juga bisa dijadikan dasar dalam penentuan waktu pelaksanaan shalat Dhuha.

Ali bin Abu Thalib ra. Berkata, “Rasulullah SAW.shalat Dhuha pada saat (ketinggian) matahari di sebelah timur sama dengan ketinggiannya pada waktu shalat Ashar di sebelah barat.”(HR.Ahmad). Keterangan Ali bin Abi Thalib ini bisa menjadi salah satu penjelasan tentang tanda-tanda masuknya waktu Dhuha dan kapan shalat huha itu bisa dimulai. Dalam hadist itu di kemukakan bahwa shalat Dhuha dapat dilakukan ketika ketinggian matahari yang mulai terbit pada pagi hari di sebelah timur sama dengan ketinggian matahari yang mulai terbenam pada sore hari di sebelah barat ketika masuk waktu Azhar.

Dari keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa waktu shalat Dhuha dimulai ketika matahari mulai naik sepenggalah atau setelah terbit matahari (sekitar jam 07.00 sampai sebelum masuk waktu Dzuhur ketika matahari belum naik sampai posisi tengah-tengah. Namun, lebih baik apabila dikerjakan setelah matahari terik.

4. Keutamaan Shalat Dhuha

Mengerjakan Shalat Dhuha dan menekuninya adalah merupakan salah satu perbuatan agung, mulia, dan utama. Oleh karena itulah, shalat Dhuha sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW).Beberapa keutamaan dalam shalat Dhuha adalah sebagai berikut :

  1. Shalat Dhuha memiliki nilai seperti nilai amalan sedekahyang diperlukan oleh 360 persendian tubuh dan orang-orang yang melaksanakannya akan memperoleh ganjaran pahala sebanyak jumlah persendian itu. Rasulullah SAW. Bersabdah :

“pada setiap tubuh manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang bersangkuta (pemilik sendi) bersedekah untuk setiap sandinya.lalu para sahabat bertanya : ‘ya Rasulullah SAW., siapa yang sanggup melaksanakannya ?’ Rasulullah SAW. Menjawab : Membersihakan kotoran di masjid atau menyingkirkan sesuatu (yang mencelakakan orang) dari jalan raya. Apabila ia tdk mampu, shalat dua raka’at dapat menggantikanya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

  1. Shalat Dhuha seseorang diawal hari menjanjikan tercukupinya kebutuhan orang tersebut diakhir hari.
  2. Shalat Dhuha bisa membuat orang yang melaksanakannya (atas izizn Allah SWT.) meraih keuntungan (ghanimah) dengan cepet.
  3. Orang yang bersedia meluangkan waktunya untuk melaksanakan shalat Dhuha delapan sampai dua belas rakaat akan diberi ganjaran oleh Allah SWT. Berupa sebuah rumah indah yang terbuat dari emas kelak di akhirat.
  4. Orang yang melaksankan shalat Dhuha mendapatkan pahala sebesar pahala haji dan umrah.
  5. Shalat Dhuha akan menggugurkan dosa-dosa orang yang senang melakukannya walaupun dosanya itu sebanyak buih di lautan.
  6. Keutamaan lain yang disediakan Allah SWT. Bagi Orang yang merutininkan shalat Dhuha adalah bahwa akan dibuatkan pintu khusus di surga kelak, yaitu pintu yang dinamakan pintu Dhuha.

5.Hikmah Shalat Dhuha

  1. Orang yang melakukan shalat Dhuha, maka hati menjadi tenang dalam melakukan aktivitas bekerja, kita seringkali mendapat tekanan dan terlibat persaingan usaha tyang sangat tinggi. Akhirnya, pikiran menjadi kalut, hati tidak tenang, dan emosi tidak stabil. Oleh karena itu, pada saat itulah Shalat Dhuha sangat berperan penting. Meskipun dilaksanakan lima atau sepuluh menit, Shalat Dhuha mampu menyegarkan  pikiran, menyenangkan hati, dan mengontrol emosi.
  2. Dapat meningkatkan kecerdasan Shalat Dhuha memang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan seseorang. Utamakan kecerdasan fiksikal, emosional spiritual, dan intelektual. Hal ini mengingat waktu pelaksanaanya pada awal atau tengah aktivitas manusian mencari kebahagiaan hidup duniawi dan keajaiban gerakan shalat itu sendiri. Untuk kecerdasan fisikal, shalat Dhuha meningkatkan kekebalan tubuh dan kebugaran fisik karena dilakukan pada pagi hari ketika sinar matahari pagi masih baik untuk kesehatan. Untuk kecerdasan emossional spiritual, dalam beraktivitas kita sering kali mengalami kegagalan, karena itu kita sering mengeluh. Melaksanakan shalat Dhuha pada pagi hari sebelum beraktivitas dapat menghindarkan diri dari keluh kesah. Selain itu jika shalat Dhuha dilakukan secara rutin, keuntungan yang didapat adalah mudahnya meraih prestasi akademik dak kesuksesan dalam hidup.
  3. Kesehatan fisik terjaga, Hal ini dapat dilihat dari tiga alasan, yaitu :
  • pertama, Shalat Dhuha dikerjakan ketika matahari mulai menampakan sinarnya. Sinar matahari pagi hari sangat baik untuk kesehatan. Pada waktu kondusif ini merupakan waktu terbaik untuk ber-muwajjahah (menghadap) kepada Allah SWT.
  • Kedua, sebelum shalat Dhuha,kita diwajibkan bersuci (mandi atau pun wudhu). Selain sebagai syarat sahnya shalat,berwudhu bermanfaatbagi kesehatan jasmani dan rohani seseorang, sebab, wudhu menyimbolkan agar kita selalu tetap bersih.
  • Ketiga, Rangkaian gerakan shalat sarat akan hikmah dan manfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerakan tersebut dilkukan dengan benar, tuma’ninah (perlahan dan tidak terburu-buru), dan istiqomah (konsisten atau terus-menerus).

Allah memerintahkan kita bukan semata-mata hanya sesuatu yang tak berguna namun setiap apa yang Allah perintahkan pasti mengandung hikmah tersendiri,seperti halnya shalat dhuha yang begitu banyak keutamaan dan hikmahnya. Namun tidak semua orang mampu merasakan hikmah tersebut jika pelaksanaanya tidak sesuai aturan hukum islam.

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Shalat sunnah disyariatkan kepada umat islam, tak lain agar orang mukmin semakin dekat kepada Allah, karena ia merupakan salah satu dari pemberian Tuhan yang sangat besar Nilainya. Diantara shalat-shalat sunnah yang disyariatkan dalam islam adalah shalat dhuha, yaitu shalat sunnah yang terdiri dari dua rakaat atau lebih, sebanyak-banyaknya dua belas rakaat, ketika waktu dhuha, yakni ketika waktu naiknya matahari setinggi tombak atau kira-kira jam 7 atau jam 9 hingga tergelincirnya matahari.

2. Saran

Sebagai umat islam sudah kita ketahui bersama betapa bergunanya untuk kita oleh sebab itu mari kita sama-sama mencoba mengerjakan shplat dhuha dengan istiqomah selama hidup kita

DAFTAR PUSTAKA

  • Al Mahfani, M. Khalilurrahman, (2008). Berkah Shalat Dhuha. Jakarta: Wahyu Media
  • Ash-Shiddiegy, Tengku M. Habsyi (2001). Pedoman Shalat. Semarang: Pustaka Rizki
  • Imran,M.(2006).Penuntun Shalat Dhuha.semarang: Karya Ilmu.
  • Mujib ElShirazy, Ahmad (2009). Fakta Keajaiban Dibalik Perintah & Larangan Allah. PT. Listafariska Putra.
  • Musbikin, Imam.(2007).Rahasia Shalat Dhuha, yogyakarta : Mitra Pustaka.
  • Rifa’i, Moh.(1993).Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat. Semarang : CV Toha Putra.
  • Sabiq, Sayyid. (1993). Fiqih Sunah 2. Terj. Muhyiddin Syaf. Bandung: Al-Ma’arif
  • Rifa’i m0hammad Drs.(1976). Risalah tuntunan shalat lengkap. Semarang: PT. karya toha putra