Contoh Makalah Tentang Shalat Tahajud ( Lengkap )

Contoh Makalah Tentang Shalat Tahajud

Contoh Makalah Tentang Shalat Tahajud (Lengkap )

Makalahkita.com – Contoh Makalah Tentang Shalat Tahajud ( Lengkap ) yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang Masalah

diantara shalat-shalat sunnah yang di cintai oleh AllahTa’ala ada satu shalat  yang sangat dianjurkan oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallamyaitu Qiyamul lail atau shalat tahajjud  sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”.(QS:Al isra’ 79)[1]

Dan juga firman Allah dalam surat Al muzzammil ayat 1-2:

wahai orang yang berselimut(muhammad),bangunlah (untuk shalat)”(QS.Al-muzzammil 1-2)[2]

Dan sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallamdari Abu hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang artinya:

“dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”(HR.Muslim)[3]

Shalat malam juga tidak pernah di tinggalkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam selama hidupnya sampai rasulullah pernah shalat tahajjud hingga kaki beliau bengkak,mengapa  beliau melakukan hal ini padahal dosa beliau telah diampuni, beliau adalah orang yang ma’shum(terbebas dari dosa) dan juga seperti kisah seorang sahabat yang bernama Abbad bin bisyir suatu hari setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam usai perang Dzaturriqa’, kaum muslimin turun di suatu tempat untuk beristirahat. Rasulullah shalallahu’alaihiwasallam memilih sekelompok sahabat untuk menjadi penjaga, yang mana diantara mereka terdapat Ammar bin Yasir dan Abbad bin Bisyir. Abbad meminta kepada Ammar agar tidur dan beristirahat di awal malam sedangkan dia akan menjaganya, dikeheningan malam ditengah padang pasir, Abbad berdiri melakukan shalat. Disaat Abbad terbenam dalam bacaan Qur’annya dan merasalkan kelezatan bermunajat di hadapan Allah, tiba-tiba musuh datang dengan melemparkan anak panah di tubuhnya.Maka, Abbad mencabut anak panah yang menancap di tubuhnya kemudian melanjutkan shalatnya. Musuh melepaskan anak panah lagi hingga menancap ditubuhnya. Abbad pun mencabut anak panah yang menancap di tubuhnya dan dia terus melanjutkan shalatnya, kemudian dia ruku’ dan sujud.Setelah usai, shalat dia mengulurkan tangan membangunkan temannya.Ammar melihat darah mengucur di tubuh temannya.Maka, Ammar berkata kepada Abbad, “mengapa kamu tidak membangunkan aku disaat kamu tertusuk anak panah yang pertama kali?” Abbad menjawab, ” ditengah Shalat aku sedang membaca ayat al-Qur’an dan aku tidak suka memotongnya. Jikalau bukan karena perintahmu untuk menjaga daerah ini maka aku lebih memilih mati jika aku harus memotong ayat al-Qur’an yang aku baca di saat shalat”[4]

Selain kisah diatas kita juga telah mengetahui bahwa sang penakluk konstantinopel Sultan Muhammad Al-fatih tidak pernah meninggalkan shalat tahajjud seumur hidupnya dan dia memiliki sekitar 100 pasukan khusus yang juga tidak pernah meninggalkan shalat tahajjud yang mana pasukan inilah yang menjadi pasukan inti dalam operasi penaklukan konstantinopel. pasukan inilah yang tidak mundur ketika pasukan lain mundur dan pasukan inilah yang pertama kali membuka gerbang konstantinopel.

Dari kisah-kisah diatas mungkin kita bertanya-tanya apa yang membuat Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam shalat malam hingga kaki beliau bengkak,apa yang dirasakan oleh Abbad bin Bisyir ketika dipanah dia malah melanjutkan shalat malamnya dan apa yang dipikirkan oleh Muhammad Al-fatih bersama pasukan intinya yang mendapat predikat dari Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam sebagai sebaik-baik pasukan. maka dari beberapa hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian tentang keutamaan-keutamaan shalat tahajjud.

2. Perumusan Masalah dan Pembatasan Masalah

Dari latar belakang masalah diatas, dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Pengertian tahajjud.
  2. Keutamaan shalat tahajjud.

C.Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Dari rumusan dan pembatasan masalah peneliti dapat mengemukakan tujuan dan kegunaan dari penelitian ini antara lain:

  1. Mengetahui pengertian tahajjud.
  2. Mengetahui keutamaan tahajjud.

Adapun penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk:

  1. bagi peneliti
  2. memberikan manfaat kepada peneliti sehingga menjadi motivasi agar lebih semangat dalam beribadah dan berusaha untuk kontinu dalam mengerjakan qiyamullail/tahajjud
  3. menambah keilmuan, keimanan, wawasan, dan pengetahuan peneliti.
  4. bagi lembaga
  5. dengan adanya penelitian ini diharapkan lembaga terkait, khususnnyaponpes islam terpadu “Darul Mukhlishin” mendapatkan masukan dan informasi baru terkait dengan fadhilah-fadhilah qiyamullail.
  6. agar lembaga terkait menerapkan dan mengajarkan hal-hal positif dari apa yang saya teliti.

3.Bagi masyarakat

  1. dengan adanya penelitian ini diharapkan masyarakat dapat menegetahui apa itu qiyamullail dan apa apa saja manfaat maupun keutamaannya.
  2. menjadi sarana bagi masyarakat khususnya generasi muda agar senantiasa menghidupkan malam dengan shalat tahajjud.

4. Metodologi Penelitian

Penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip suatu penyelidikan yang sangat cerdik untu menetap kan sesuatu. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif, karena pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kepustakaan, maksudnya adalah peneliti menggali teori teori yang telah berkembang dalam bidang ilmu yang berkepentingan, mencari metode metode serta teknik penelitian, baik dalam mengumpulkan data atau dalam menganalisis data yang telah pernah digunakan oleh peneliti peneliti terdahulu, memperoleh orientasi yang lebih luas dalam permasalahan yang dipilih, serta menghindari terjadinya duplikasi duplikasi yang tidak diinginkan.

  1. Jenis penelitian

jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yaitu penelitian dengan cara mengkaji dan menelaah sumber sumber tertulis seperti buku buku atau kitab kitab yang berkenaan dengan topik permasalahan sehingga dapat diperoleh data-data yang jelas.

  1. Sumber data

Adapun sumber data yang akan dikaji adalah buku buku yang berkaitan dengan shalat malam baik itu primer maupun sekunder, fiqih, tafsir, maupun hadits.

5. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data berisi bagaimana cara peneliti mengumpulkan data dalam penelitian ini,peneliti menggunakan metode kepustakaan yaitu mengkaji buku atau literatur yang sesuai dengan tema penelitian. dalam studi pustaka ini  buku atau literature yang digunakan terbagi menjadi 2 jenis yaitu:

  1. literatur primer

Adalah sumber sumber yang berkaitan khusus dengan materi penelitian.Dalam hal ini sumber primer yang digunakan adalah kitab-kitab tafsir Al-quran seperti tafsir Ibnu katsir dan kitab-kitab syarah hadits yang ditulis oleh ulama’ ahlussunnah dan kitab-kitab induk lainnya.

  1. literatur sekunder

adalah sumber-sumber yang digunakan untuk menunjang proses penyelesaian penelitian ini.diantaranya adalah buku-buku yang membahas tentang shalat dan keutamaan ibadah malam.

6. Teknik analisis data

Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data-data mentah yang telah dikumpulkan oleh peneliti tidak aka nada gunanya jika tidak dianalisis. analisis data merupakan bagian yang amat penting  dalam metode ilmiah, karena dengan analisis lah data tersebut dapat diberi arti dan maknayang berguna dalam memecah masalah penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggambarkan secara menyeluruh tentang qiyamullail baik pengertian, tata cara,maupun keutamaan-keutamaannya.

7. Sistematika Penulisan

            Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang urutan penelitian ini, maka peneliti mencantumkan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN

Pada bab ini dijelaskan seputar latar belakang masalah, perumusan dan pembatasan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II: PEMBAHASAN

Bab II merupakan inti dari makalah ini yang membahas tentang pengertian tahajjud, hukum shalat tahajjud, keutamaan-keutamaan tahajjud, manfaat shalat tahajjud bagi kesehatan, waktu-waktu melaksanakan shalat tahajjud, jumlah rakaat shalat tahajjud, tata cara shalat tahajjud, dan faktor-faktor yang memudahkan untuk bangun di sepertiga malam.

BAB III: PENUTUP

            Bab ini merupakan penutup, dengan memberi kesimpulan dan saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi berbagai pihak yang membutuhkan.

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pengertian Tahajjud

Mengenai pengertian tahajjud,ada yang mengatakan: ”Hajadar rajul”, jika dia tidur pada malam hari. ”wa hajada” jika dia shalat pada malam hari. Sedangkan al-mutahajjid  adalah orang yang bangun tidur untuk mengerjakan shalat.[5]

2. Hukum Shalat Tahajjud

Hukum shalat tahajjud adalah sunnnah mu’akkadah. Hal ini ditetapkan melalui al-Qur’an, as-Sunnah, maupun ijma’ ulama. Allah Ta’ala berfirman dalam rangka menyifati hamba-hamba rabb yang maha pengasih:

Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka”(QS.Al-furqan:64)[6]

Allah Ta’ala berfirman berkenaan dengan orang-orang yang beriman  dengan sempurna:

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,sedangkan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap,danmereka menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka.Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu(bermacam-macam nikmat)yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS.As-sajdah:16-17)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda tentang keutamaan shalat tahajjud:

sebaik-baik puasa setelah ramadhan adalah bulan Allah, Muharram,dan sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam”(HR.Muslim)[7]

Semua kaum muslimin juga telah ber ijma’ bahwa hukum shalat tahajjud adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang di tekankan.

3. Keutamaan shalat tahajjud

Adapun keutamaan shalat tahajjud sangatlah besar,hal itu didasarkan beberapa hal berikut:

  1. Perhatian besar Nabi Shalallahu ‘alaihiwasallam terhadap tahajjud sehingga kedua kaki beliau bengkak.

Beliau Shalallahu ‘alaihiwasallam senantiasa bersungguh-sungguh dan berusaha keras untuk melakukan tahajjud seperti dalam suatu hadits dari Aisyah Radhiyallahu ’anha:

”bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah melakukan qiyamullail sampai kedua kakinya bengkak.lalu aisyah bertanyamengapa engkau lakukan ini wahai Rasulullah,padahal Allah telah memberikan ampunan kepadamu atas dosa-dosamu yang telah berlalu maupun yang akan datang?’Belia menjawab’Apakah tidak boleh jika aku ingin menjadi seorang hamba yang bersyukur ?’”(HR.Muttafaq alaihi)[8]

Dari hadits diatas dapat dipahami bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam memberi perhatian yang amat besar kepada ibadah ini dan Nabi sangat bersemangat didalam melaksanakannya sehingga kaki beliau bengkak karena lamanya beliau shalat padahal Rasulullah telah dijamin oleh Allah untuk masuk surga. Maka bagaimana dengan kita yang tidak dijamin masuk surga seharusnya kita juga bersemangat sebagaimana semangat Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Demikian indah ungkapan salah seorang sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika dia mengungkapkan:

Diantara kami terdapat Rasulullah yang membacakan kitab-Nya, Jika fajar terbelah dan terbit.beliau tidak tidur dengan menjauhkan punggungnya dari tempat tidur, pada saat dimana berbaring telah         membuat orang-orang kafir malas bangun”

  1. Shalat malam merupakan salah satu penyebab masuk surga

Banyak sekali amalan yang dapat menghantarkan orang untuk masuk surga dan salah satu cara yang paling mudah  adalah shalat malam. Hal ini didasari oleh  hadits dibawah ini:

Dari Abdullah bin salam Radhiyallahu ‘anhu dia pernah bercerita “ketika Nabi shallalahu ’alaihi wasallam tiba di madinah, orang-orang berduyun duyun mendatanginya. dikatakan:  ‘Rasulullah datang, Rasulullah datang’ sebanyak tiga kali, kemudian aku menuju kerumunan orang untuk melihat. setelah melihat wajahnya, aku baru megetahui bahwa wajah beliau tidak seperti wajah pendusta, kata yang pertama kali aku dengar beliau sampaikan adalah:

“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah tali silaturrahmi, dan kerjakanlah shalat pada malam hari ketika orang-orang terlelap tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah)

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa shalat tahajjud adalah salah satu amalan  yang dapat mengantarkan pelakunya menuju surga nan indah di akhirat kelak.

  1. Tahajjud merupakan salah satu penyebab ditinggikannya derajat di bilik-bilik surga

Tahajjud dapat menjadi penyebab ditinggikannya derajat seseorang di bilik-bilik surga. Hal ini disandarkan kepada hadits Abu malik al-asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata:

sesungguhnya di surga itu terdapat bilik-bilik yang bagian luarnya bisa terlihat dari bagian dalamnya,dan bagian dalamnya bisa terlihat dari bagian luarnya, yang disiapkan oleh oleh Allah Ta’ala bagi orang-orang yang memberi makan,melembutkan ucapan,aktif mengerjakan puasa(sunnah),menyebarluaskan salam,serta mengerjakan shalat pada malam hari ketika orang-orang terlelap tidur.”‘(HR. Ahmad, Ibnu Hibban, At-tirmidzi)[9]

Ruangan yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada orang yang mengamalkan hadits diatas tentu sangatlah indah dan megah, bukan seperti yang kita bayangkan bahwa ruang tersebut hanya ruang transparan yang dindingnya terbuat dari kaca, sedangkan surga tidaklah seseorangpun bisa membayangkan dan menggambarkan keindahanya dan Allah Ta’ala memberikan ruangan tersebut dikarenakan tingginya derajat orang yang melakukan shalat tahajjud disisi Allah Ta’ala.

  1. Orang-orang yang senantiasa melakukan tahajjud berharap mendapatkan rahmat Allah Ta’ala dan surga-Nya.

Bisa dipastikan bahwa orang yang melaksanakan tahajjud dengan ikhlas karena Allah serta konsisten dalam mengerjakannya hanya orang yang mengharapkan rahmat dan ridho dari Rabb semesta alam yang mana Hal ini didasarkan oleh firman Allah Ta’ala:

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.dan diakhir–akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)”(QS.Adz-dzaariyaat:17-18)[10]

Orang yang malamnya dilalui dengan dzikir, shalat, dan memohon ampun kepada Allah disebabkan karena mereka ingin mengharap rahmat Allah Ta’ala. karena Allah memasukkan seseorang kesurga bukan karena amal baiknya tetapi dengan rahmat-Nya dan cara untuk meraih rahmat Allah adalah mengerjakan amalan yang dicintai-Nya dan menjauhi hal-hal yang diharamkan-Nya dan salah satu amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat diwaktu orang tertidur lelap dan Allah Ta’ala turun ke langit dunia untuk membagikan rezeki serta mengabulkan segala permohonan hamba-Nya.

  1. Allah Ta’ala memuji orang-orang yang tekun melakukan tahajjud

Allah Ta’ala memuji orang-orang yang tekun melakukan tahajjud dan  mengategorikannya ke dalam golongan hamba-Nya yang selalu berbuat   kebaikan dia berfirman:

“dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka”(QS.Al-furqaan:64)[11]

Maksud dari “orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka” adalah orang yang melaksanakan shalat malam untuk beribadah dan mengharap rahmat dan ridho-Nya.

  1. Allah Ta’ala juga memberikan kesaksian untuk mereka atas keimanan mereka yang sempurna

Allah Ta’ala berfirman dalam surat  As-sajdah ayat 15-16 yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat kami,adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan Rabbnya ayat-ayat (Kami),mereka menyungkur sujud dandan bertasbih serta memuji Rabbnya,sedang mereka tidak menyombongkan diri.lambung mereka jauh dari tempat tidurnya,sedang mereka berdo’a kepada Rabbnyadenagn rasa takut dan harap,dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka”(QS. As-sajdah: 15-16)[12]

  1. Allah Ta’ala tidak menyamakan mereka dengan orang yang tidak memiliki sifat seperti mereka

Hal ini berdasarkan firman AllahTa’ala dalam surat az-zumar yang artinya:

“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yangberakallah yang dapat menerima pelajaran”(QS: Az-Zumar Ayat: 9)[13]

  1. Tahajjud dapat menghapuskan berbagai keburukan dan mencegah perbuatan dosa

Membiasakan shalat tahajjud dengan ikhlas dan hanya mengharap ridha Allah Ta’ala dengan izin Allah Ta’ala dapat menghapus berbagai keburukan dan mencegah perbuatan dosa. Hal tersebut didasarkan pada hadits Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam  beliau bersabda:

Hendaklah kalian membiasakan qiyamul lail sebab hal itu merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian dan juga sebagai sarana pendekatan kepada Rabb kalian,sekaligus penghapus dosa dan pencegah perbuatan dosa(HR. At-tirmidzi,Al-hakim,dan Al-baihaqi)[14]

Dari hadits ini juga dapat diketahui bahwa shalat tahajjud adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasallam sebagai Nabi dan Rasul.

  1. Tahajjud merupakan shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu.

Tahajjud merupakan shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu berdasarkan hadits:Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam pernah ditanya: “Sholat apakah yang paling utama setelah sholat fardhu (yang lima waktu, pent) ?” beliau  menjawab: “Sholat yang paling utama  setelah sholat fardhu adalah sholat (sunnah) di tengah malam (sholat Tahajjud)”.(Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dan Muslim).[15]

  1. Kemuliaan orang mu’min itu terdapat di shalat tahajjud

Kemuliaan orang mu’min terdapat pada shalat tahajjud dapat diketahui dari hadits yang diriwayatkan oleh sahal bin muadz Radhiyallahu ‘anhu dia bercerita:

Jibril pernah datang kepada Nabi  shalallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata “hai Muhammad, hiduplah sesukamu,karena sesungguhnya engkau akan mati, cintailah sesuka hatimu, karena engkau pasti akan berpisah dengannya,berbuatlah sesuka hatimu karena sesungguhnya akan mendapat balasan karenanya,’lebih lanjut jibril berkata: Hai Muhammad, kemuliaan orang mukmin itu adalah qiyamul lail, dan kehormatannya adalah ketidakbutuhannya pada orang lain” (HR. Al-hakim)[16]

Dari hadits ini dapat diketahui bahwa kemuliaan seorang muslim itu adalah jika dia melaksanakan shalat tahajjjud. hal ini disebabkan karena orang mu’min yang mendirikan qiyamul lail/shalat tahajjud dengan ikhlas ingin mendekatkan diri kepada Rabb semesta alam dan Allah Ta’ala akan menjadikan mereka mulia disisi-Nya jika seorang hamba mulia disisi Allah Ta’ala maka tidak ada lagi kemuliaan selain itu.

  1. Tahajjud menjadikan pelakunya terhormat

Tahajjud dapat menyebabkan pelakunya terhormatdan Ini disebabkan karena keagungan melaksanakan shalat tahajjud, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdulah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia bercerita:

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:’Hanya dua hal yang patut diirikan,yaitu:seseorang yang diberikan menghafal al-qur’an oleh Allah kemudian dia membacanya ditengah malam dan siang hari,dan iri terhadap seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah lalu dia menafkahkannya di tengah malam dan siang hari’”(HR.Muslim)[17]

Juga pada haditsAbdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,dia bercerita:

”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:’Hanya dua hal yang patut diirikan,yaitu iri terhadap seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah lalu harta itu di habiskan dalam kebenaran dan seseorang yang diberi hikmah oleh Allah,dia mengambil keputusan dengannya dan juga mengajarkannya’”(HR.Muttafaq ‘alaih)[18]

Dari hadits-hadits diatas dapat diketahui bahwa iri hanya diperbolehkan terhadap dua hal dan salah satunya adalah orang yang menghafal al-quran dan dia senantiasa membacanya pada malam dan siang,dia membacanya pada shalat tahajjud,dan dia membaca al-quran untuk mendekatkan diri kepada Allah jika seseorang yang dekat dengan raja atau presiden saja dianggap muliamaka bagaimana dengan orang yang dekat dengan yang maha kuat lagi maha perkasa,yang menciptakan dan memiliki langit dan bumi beserta apa yang ada didalamnya sudah pasti dia adalah orang yang terhormat dan jauh lebih terhormat daripada orang yang dekat dan menjilat penguasa.

  1. Bacaan al-Qur’an dalam shalat tahajjud merupakan ghanimah yang besar.

Hal tersebut didasarkan pada hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma,dia bercerita:

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ’Barang siapa yang membaca sepuluh ayat maka dia tidak ditetapkan sebagai orang yang lalai. Barang siapa yang membaca seratus ayat maka dia ditetapkan sebagai orang yang tunduk .Barang siapa yang membaca seribu ayat maka dia termasuk orang yang mendapatkan berlimpah-limpah pahala.’(HR. Abu daud dan Ibnu khuzaimah)[19]

Dari Abu hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata:

”RasulullahShallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:’Tidakkah salah seorang diantara kalian ingin jika kembali kepada keluarganya dan mendapatkan tiga ekor unta yang besar lagi gemuk? ’ya’, jawab kami. Beliau bersabda:’Tiga ayat yang dibaca oleh salah seorang darikalian dalam shalatnya lebih baik baginya daripada tiga ekor unta yang bunting,besar dan gemuk.’(HR.Muslim)[20]

Dari hadits diatas dapat diketahui bahwa ayat-ayat yang dibaca seorang hamba dalam shalat malam sangat berharga bahkan tiga ayat saja lebih berharga dari tiga ekor unta yang gemuk.hadits ini juga menunjukkan sunnahnya memperbanyak bacaan ayat al-qur’an pada shalat tahajjud.

  1. Sepertiga malam terakhir adalah waktu dikabulkannya doa.

Pada sepertiga malam terakhir Allah Ta’ala akan turun ke langit dunia dan akan mengabulkan setiap do’a yang dipanjatkan oleh hamba-Nya  sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Allah turun kelangit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir.lalu Allah berfirman ‘siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan,siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yamng meminta ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni.’Demikianlah keadaannya setiap malam”(HR.Bukhari & Muslim)[21]

Berdo’a di sepertiga malam terakhir sangat layak jika didahului dengan tahajjud karena salah satu waktu dikabulkannya doa adalah setelah melaksanakan shalat.maka dapat disimpulkan bahwa shalat tahajjud dan berdoa pada sepertiga malam terakhir adalah salah satu waktu yang paling baik untuk berdoa.

4. Manfaat Shalat Tahajjud bagi Kesehatan

Ditinjau dari segi medis, shalat memiliki manfaat yang sangat banyak.  Jika dilakukan secara kontinu sholat  menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk menanggulangi masalah yang dihadapi seseorang.

Ikhlas juga dapat berdampak positif bagi tubuh seperti yang diungkapkan oleh Muhammad sholeh dalam desertasinya yang berjudul “Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response Ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko-neuroimunologi”: “Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter.Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan Begitu sebaliknya”.[22]

Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah, Surabaya.Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai pukul 02-00-3:30 sebanyak 11 rakaat, masing masing dua rakaat empat kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan Klinika). Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin bertahajjud secara ikhlas berbeda jauh dengan orang yang tidak melakukan tahajjud.Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan tubuh dan kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yang dihadapi dengan stabil.mungkin hal inilah yang yang dirasakan oleh Muhammad Al-fatih beserta pasukan intinya karena mereka rutin dan ikhlas melaksanakan shalat tahajjud Allah memberikan kepada mereka ketahanan tubuh yang prima dan kemampuan individual yang bagus untuk menghadapi berbagai masalah dalam penaklukan konstantinopel.

Menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker. Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh yang baik sehingga tubuh tidak mudah terserang  penyakit.

5. Waktu Melaksanakah Shalat Tahajjud

Waktu paling utama untuk melaksanakan shalat tahajjud adalah pada sepertiga malam terakhir. sebab Allah turun ke langit dunia pada waktu tersebut. sebagaimana diriwayatkan oleh Abu hurairah dalam kitab shahihn bukhari dan muslim.

Disebutkan dalam shahih muslim dari jalur Hafshah dan Abu mu’awiyah, dari a’masy, dari Abu sufyan, dari jabir, dia berkata Rasulullah Shallallahu alaihiwasallam bersabda:

“barang siapa yang khawatir tidak dapat melaksanakan shalat lail pada akhir malam maka hendaklah ia berwitir pada awalnya.dan barang siapa yang merasa yakin dapat melaksanakannya baginya shalat witir pada akhir malam.karena sesungguhnya shalat pada akhir malam disaksikan”(HR.Muslim)[23]

Sedang Abu mu’awiyah mengatakan: ”dihadiri”

Maka barang siapa lebih suka mengerjakan shalat malam pada awal maupun pertengahan malam, hal tersebut tidaklah terlarang karena hal itu adalah kebaikan. Tetapi paling utama jika dilaksanakan pada akhir malam. Sesuai amalan Rasullah Shallallahu alaihi wasallam secara kontinyu. disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah dia berkata:

”setiap malam Rasulullah mengerjakan witir yang berakhir pada waktu sahur”(HR. Bukhari dan Muslim)[24]

Dalam riwayat Muslim dari Aisyah dia berkata:

setiap malam Rasulullah mengerjakan witir pada awal malam, pada pertengahan malam dan pada akhir malam dan witirnya selesai pada waktu sahur”(HR. Muslim)[25]

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa waktu pelaksanaan shalat malam dan shalat witir adalah sesudah isya’. sekalipun shalat isya’ dijamak taqdim dengah shalat maghrib ataupun dijamak ta’khir pada pertengahan malam. adapun shalat malam dan shalat witir sebelum isya’, itu tidak sah menurut pendapat yang rajih.

Mengenai pembagian sepertiga malam dimulai pukul 19:00 sampai pukul 22:00, sepertiga malam yang kedua mulai dari pukul 22:00 sampai dengan 01:00 dan sepertiga malam yang terakhir muali dari pukul 01:00 sampai dengan waktu subuh.[26]

Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam pernah tidak melaksanakan shalat tahajjud pada malam hari dikarenakan beliau salallahu ‘alaihiwasallam ketiduran dan beliau shalallahu ‘alaihiwasallam melaksanankannya di siang hari sebagaimana hadits:

“Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: Apabila Rasulullah ketiduran atau kurang sehat untuk melaksanankan shalat lail. Maka beliau shalat pada siang hari dengan duabelas rakaat”(HR. Muslim)[27]

Tetapi, melaksanakan shalat tahajjud pada siang hari karena tertinggal dimalam harinya hanya di khususkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam saja dikarenakan shalat malam hukumnya wajib bagi beliau shallahu ‘alaihiwasallam dan sunnah muakkadah bagi umatnya

7. Jumlah Rakaat ShalatTahajjud

            Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat lail lebih dari sebelas rakaat baik pada bulan ramadhan atau di bulan lainnya sebagaimana disebutkan dalam shahih bukhari,muslim maupun kitab hadits lainnya.

Dari jalur Malik dari Said bin Abu said al-maqbari, dari Abu salamah bin Abdurrahman: sesungguhnya dia(Abu salamah) memberitahukan kepada Abu said,ia bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu ‘anha bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam mengerjakan shalat lail? Aisyah menjawab:

Rasulullah tidak pernah melaksanakan shalat lail lebih dari sebelas rakaat.Baik di bulan ramadhan ataupun di bulan lainnya. Beliau shalat empat rakaat jangan tanyakan bagus serta panjangnya shalat beliau,kemudian beliau shalat tiga rakaat”.(HR. Bukhari dan muslim)[28]

Sebagian ulama berpendapat bolehnya menambah shalat lail lebih dari sebelas rakaat. barang siapa yang mengerjakan shalat lail dua puluh rakaat atau duapuluh tiga rakaat atau lebih dari itu sah saja. niscaya dia tetap mendapat pahala.Al-imam Ibnu Abdil Barr menyebutkan adanya ijma’ ulama dalm masalah ini.Beliau berkata:

Ulama telah sepakat tentang tidak adanya batasan dalam jumlah rakaat ataupun lama dalam pelaksanaan shalat lail.ia termasuk ibadah nafilah, barang siapa yang ingin memperlama pelaksanaanya dengan jumlah rakaat yang sedikit ataupun memperbanyak rukuk dan sujud di dalamnya,maka hal itu tergantung padanya.”[29]

            Tetapi memilih pendapat yang rajih dan mengerjakan yang lebih utama merupakan tuntutan syar’i. sebagaimana telah terang tuntunan Rasulullahshalallahu ‘alaihiwasallam secara kontinyu hingga akhir hayat beliau.lalu diikuti oleh para sahabat yaitu mengerjakan shalat lail sebelas rakaat di bulan Ramadhan ataupun di bulan lainnya.

Dan tidaklah benar jika terdapat salah seorang sahabat yang membedakan jumlah rakaat shalat lail pada awal dan akhir bulan ramadhan seperti kebiasaan sebagian masyarakat sekarang. Para sahabat mengerjakan shalat lail dengan sebelas rakaat sepanjang hidup mereka.Bahkan di penghujung bulan ramadhan mereka semakin giat meningkatkan kualitas shalatnya bukan kuantitasnya.

8. Tata Cara Shalat Tahajjud

Imam Malik, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad serta sebagian ulama salaf berpendapat shalat tahajjud terdiri dari dua-dua rakaat kecuali shalat witir. Namun mereka berselisih dalam menetapkan apakah itu wajib atau sunnah.dalam hal ini mereka berpegang pada riwayat yang terdapat dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim, juga selain mereka dari jalur Malik dari Nafi dan Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah tentang shalat lail. Beliau lalu bersabda:

“shalat lail itu dua-dua rakaat, apabila salah seorang dari kamu khawatir akan masuknya waktu subuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witirnya”.(HR. Bukhari dan muslim)[30]

Adapun lafadz”matsna-matsna” merupakan defenitif dari “itsnain-itsnain” yang berarti “dua-dua”. Maksudnya adalah “salam pada tiap dua rakaat” ada yang menyunnahkan danada juga yang mewajibkan.

Dalam al-mubdi’ disebutkan: menurut ibnu syihab dan syaikh sulaiman bin nashir al-ulwan,jika lebih dari itu maka hal itu tidak benar. Imam Ahmad berkata: ”Hendaklah bagi orang yang berdiri pada rakaat ketiga dalam shalat lail untuk kembali duduk sekalipun ia telah memulai bacaannya. karena seharusnya dia salam pada rakaat kedua.dan hal itu mutlak berdasarkan hadits.”

            Masih dari beliau bahwa hal tersebut sah namun makruh. juga disebutkan oleh segolongan ulama yang merupakan pendapat masyhur, bahwa sama saja apakah dia apakah dia mengetahui jumlah rakaatnya ataupun lupa. Dari riwayat Ahmad yang lain ia tidaklah makruh, dan ini adalah madzhab Abu hanifah. Ia berkata:”apabila engkau menginginkan dua rakaat ataupun empat rakaat  atau enam atau delapan rakaat serta tidak salam kecuali pada akhirnya”

            Mengerjakan empat rakaat dalam satu salam lebih utama menurut madzhab Abu Hanifah. Dalam hadits Aisyah pada Shahih Bukhari dan Muslim, ketika Abu Salamah bin Abdirrahman bertanya kepadanya mengenai cara shalat lail Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah menjawab:

“Rasulullah shalat empat rakaat jangan tanyakan lama dan bagusnya shalat beliau.Kemudian shalat empat rakaat jangan tanyakan lama dan bagusnya shalat beliau.Lalu beliau shalat tiga rakaat.”(HR. Bukhari dan Muslim)[31]

            Hadits ini bersifat umum. Tidak dijelaskan secara detail apakah Nabi Shallallahu ‘alaihiwasallam shalat empat rakaat dengan satu salam. Ada beberapa kemungkinan namun beliau tetap lebih mengutamakan empat rakaat dengan satu salam sesuai zhahirnya hadits. Hingga terdapat lafadz yang jelas mengeluarkannya dari pengrtian tersebut.

Adapun hadits Ibnu Umar (shalat tahajjud dua-dua rakaat) tidak mengindikasikan salam pada tiap dua rakaat. Begitu pula lafadz hadits tidak mendukung pengertian tersebut.makna hadits lebih cenderung kepada sunnah. Serta amalan itulah yang banyak dikerjakan.dan terkadang hadits-hadits yang lain juga member peringatan yang sama. Adapun ibadah-ibadah yang mempunyai sumber periwayatan yang berbeda-hendaknya diamalkan semua. Demikianlah sikap yang paling utama daripada mengkhususkan satu sumber serta menyampingkan sumber-sumber yang lain.

Sikap menerima keduanya adalah petunjuk RasulullahShalallahu alaihi wasallam. Mengerjakan ibadah hanya dari satu sumber secara kontinyu sebagai bentuk menjaga kemaslahatan serta mencegah hal-hal yang merusak. Pelaksanaannya tergantung pada situasi dan kondisi. sebagaimana hal yang rendahan terkadang menjadi utama,tergantung atas kemaslahatan yang ada. Ini berlaku bagi semua ibadah yang sifatnya tidak berbeda dengan masalah ini substansi dari semua pendapat adalah menjaga kemaslahatan serta menghindari kemudharatan.Hal ini berbeda tergantung pada perbedaan situasi,tempat,dan individu.

Selanjutnya apakah harus tasyahud tiap dua rakaat,atau  empat rakaat dengan sekali tasyahhud tidak ditemukan satu dalilpun untuk menetapkan salah satunya. Namun selayaknya kita memilih salah satunya.WalLahu a’lam

8. Ayat-ayat yang dibaca Saat Shalat Tahajjud.

            Orang yang melaksanakan shalat tahajjud boleh membaca satu juz al-Qur’an atau lebih, boleh juga kurang dari satu juz sesuai kemampuan dan kemudahan yang dimiliki dengan memperhatikan apa yang dibacanya. Beberapa hadits telah menunjukkan semua hal tersebut.

Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu dia bercerita: “pada suatu malam aku pernah mengerjakan shalat bersama Nabi shalallahu ‘alaihiwasallam lalu beliau membuka shalat dengan membaca surat al-Baqarah. Lalu kukatakan “Beliau akan ruku’ pada ayat keseratus” kemudian beliau melanjutkan terus bacaannya. Selanjutnya kukatakan “Beliau akan membaca surat al-Baqarah ini dalam satu rakaat” beliaupun terus melanjutkanya. Lalu kukatakan “Beliau akan ruku’ dengan bacaan surat al-baqarah penuh”. Kemudia beliau membuka surat an-Nisa’ dan membacanya, selanjutnya membuka surat Ali ‘Imran dan membacanya. Beliau membacanya secara pelan. Jika melalui ayat tasbih Beliau bertasbih, jika melewati ayat permohonan, Beliau memohon dan jika melalui ayat ta’awwudz, Beliau akan berta’awwudz” (HR.Muslim)[32]

“Dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, dia pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam mengerjakan shalat pada malam hari. Beliau mengerjakan empat rakaat yang didalamnya Beliau membaca surat al-Baqarah, Ali ‘Imran, an-Nisa’, al-ma’idah, dan al-An’aam.” (HR. Abu Dawud. Dan dinilai shahih oleh al-Albani)[33]

Tetapi, Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam pernah shalat tahajjud dan Beliau shalallahu ‘alaihiwasallam hanya membaca satu ayat saja yaitu surat al-Ma’idah ayat: 118 sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu dalam kitab “iqaamatus shalah was sunnah fiihaa”karangan Ibnu Majah.

Dapat diambil kesimpulan bahwa beragamnya bacaan di dalam shalat tahajjud sesuai yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala dan ketebalan iman pelaksananya.

  1. Faktor yang Memudahkan Untuk Bangun di Sepertiga Malam Terakhir

            Salah satu kendala bagi orang yang hendak melaksanakan tahajjud adalah susahnya untuk bangun pada malam hari.Untuk itu,penulis merasa perlu untuk meneliti dan menjelaskan beberapa faktor yang dapat membantu untuk bangun pada malam hari.berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat membantu untuk bangun pada malam hari:

  1. Keinginan yang kuat

Bila ingin shalat malam (shalat lail), tumbuhkan keinginan yang kuat (niat) dari dalam diri untuk bangun, sebelum menuju pembaringan.Peliharalah niat itu dan kuatkan kembali hingga mata terpejam.Rasulullah shalallahu ‘alaihiwasallam bersabda.

“Barangsiapa yang akan tidur berniat untuk bangun shalat tahajud, kemudian ketiduran hingga pagi hari, maka dicatatnya niat itu sebagai satu pahala, sedang tidurnya itu dianggap sebagai karunia dari Allah yang diberikan padanya.”(HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih)[34]

  1. Mengatur Aktivitas di Siang Hari

Apabila banyaknya aktivitas di siang hari membuat Anda malas untuk bangun di malam hari, hendaknya Anda mengatur atau mengurangi sedemikian rupa sebagian aktivitas tersebut, sehingga Anda tidak terlalu capai dan tidak malas untuk bangun malam. Bangunlah semangat Anda untuk bangun malam sebagaimana Anda bersemangat untuk bekerja agar mendapatkan uang berlimpah.

  1. Hindari Makan Terlalu Kenyang Sebelum Tidur

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa perut yang terlalu kenyang sesaat sebelum tidur membuat Anda sulit bangun. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihiwasallam, sewaktu makan beliau berupaya untuk berhenti sebelum kenyang. Sebab, kenyang membuat kondisi hati manusia menjadi keras. Tidak jarang, perut yang terlalu kenyang bisa menyebabkan seseorang lupa akan Tuhannya. Maka, aturlah pola makan Anda agar menjadi lebih seimbang.Hal ini tidak merugikan Anda dan tidak membuat Anda malas bangun di waktu malam untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

  1. Pasang Alarm Sebelum Tidur dan Sediakan Air Secukupnya

Berdasarkan kisah seorang lelaki yang mewajibkan diri untuk bangun malam. Awalnya terasa berat, sampai suatu saat ia menemukan cara yang ampuh. Cara yang dimaksud adalah memasang alarm sebelum tidur dan menyediakan air yang dilengkapi sapu tangan, lalu mencelupkan ke dalam air, kemudian sapu tangan itu diusapkan ke matanya. Begitu air mengenai wajahnya, rasa kantuk itu lenyap. Dengan segera, ia beranjak dari tempat tidur untuk berwudhu, dan menghadap Allah Ta’ala seraya bersyukur karena telah diberi kemampuan untuk melawan kantuk dan godaan setan.

  1. Membuat Program Tahajud Bersama

Tips ini mudah diterapkan di lembaga pendidikan islam yang bersistem asrama atau pesantren. dimana asatidzah dapat membuat peraturan wajib bangun malam bagi santri dengan cara bergiliran dan didampingi oleh asatidzah, dengan membuat peraturan ini dapat memudahkan santri dan asatidzah untuk bangun malam.Selain di asrama tips ini juga dapat diterapkan bagi anda yang sudah berkeluarga.

  1. Menghindari Maksiat

Menurut Imam Abu Hamid bin Muhammad al Ghazali, menghindari maksiat termasuk tips agar bisa bangun malam. Maksiat itu bermula dari panca indera manusia.Melalui panca indera itulah kemudian mengirimkan informasi ke dalam otak dan menjadi virus ke dalam hati Anda.

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Tahajjud merupakan ibadah yang hukumnya sunnah muakkadah dan memiliki banyak  sekalikeutamaan.tetapi penulis hanya mencantumkan 13 keutamaan dan diantaranya adalah:perhatian besar Nabi terhadap tahajjud sehingga kedua kaki beliau bengkak, shalat malam merupakan salah satu penyebab masuk surga,tahajjud merupakan salah satu penyebab ditinggikannya derajat di bilik-bilik surga,orang-orang yang senantiasa melakukan tahajjud berharap mendapatkan rahmat Allah Ta’ala dan surga-Nya, Allah memuji orang-orang yang tekun melakukan tahajjud, Allah Ta’ala juga memberikan kesaksian untuk mereka atas keimanan mereka yang sempurna, Allah tidak menyamakan mereka dengan orang yang tidak memiliki sifat seperti mereka, tahajjud dapat menghapuskan berbagai keburukan dan mencegah perbuatan dosa, tahajjud merupakan shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu, Kemuliaan orang mu’min itu terdapat di shalat tahajjud, Tahajjud menjadikan pelakunya terhormat, Bacaan al-qur’an dalam shalat tahajjud merupakan ghanimah yang besar,dan sepertiga malam  terakhir adalah waktu dikabulkannya doa.

Selain keutamaan-keutamaan tahajjud yang sangat banyak, Melaksanakan shalat tahajjud dengan ikhlas juga dapat menguatkan ketahanan tubuh meningkat serta meningkatkan kemampuan individual seseorang dalam menyelesaikan masalah sehingga dapat menghindai pelaku tahajjud dari stress.

Shalat tahajjud dapt dilakukan kapan saja mulai dari selesai isya, hingga sebelum waktu shalat subuh tetapi yang paling utama adalah di sepertiga malam terakhir karena di waktu itu Allah Ta’ala turun ke langit dunia untuk menyaksikan hamba-hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya.

Adabeberapa cara untuk mempermudah bangun pada malam hari yaitu berniat melaksanakan shalat tahajjud yaitu dengan berniat melaksanakan shalat tahajjud, membuat peraturan untuk bangun shalat tahajjud dan masih banyak lagi tips-tips yang dapat mempermudah bangun shalat tahajjud wallahu a’alam.

2. Saran

Penulis menyarankan kepada lembaga pendidikan islamDarul Mukhlishin untuk mengajarkan kepada santriwan/wati tentang pentingnya shalat tahajjud serta memotivasi asatidzah dan santriwan/wati untuk senantiasa melaksanakan shalat tahajjud dengan memberitrahu mereka tentang fadhilah-fadhilah shalat tahajjud. Selain itu, penulis juga menyarankan agar pembaca memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun guna memperbaiki karya ilmiah ini mungkin hanya ini yang dapat penulis sarankan semoga karya ilmiah ini bermanfaat dan penulis mohon maaf atas segala kekurangan karya ilmiah ini semoga Allah Ta’ala selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua amin

DAFTAR PUSTAKA

  • [1]Depertemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung, Syamil Quran, hal: 290
  • [2]Depertemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung, Syamil Quran, hal: 574
  • [3]Dr. Said bin Ali bin Wahf al-Qathani,Ensiklopedi shalat,  Jakarta, Pustaka imam Syafi’e, 2006, hal: 422
  • [4] Amru Khalid,  Melamar Bidadari dengan Shalat Malam,  Jakarta,  Mirqat, 2009,  hal: 62
  • [5]Dr. Said bin Ali bin Wahf al-Qathani,Ensiklopedi shalat,  Jakarta, Pustaka imam Syafi’e, 2006, hal:  415
  • [6]Depertemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung, Syamil Quran,hal: 365
  • [7]Dr. Said bin Ali bin Wahf al-Qathani, Ensiklopedi shalat,  Jakarta, Pustaka imam Syafi’e, 2006, hal: 422
  • [8]Ibid, hal: 418
  • [9]Ibid, hal: 420
  • [10]Depertemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung, Syamil Quran, hal: 5
  • [11]Depertemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung, Syamil Quran, hal: 365
  • [12]Depertemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung, Syamil Quran, hal: 416
  • [13]Depertemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung, Syamil Quran, hal: 459
  • [14]Dr. Said bin Ali bin Wahf al-Qathani, Ensiklopedi shalat,  Jakarta, Pustaka imam Syafi’e, 2006, hal: 421
  • [15] Ibid, hal: 422
  • [16] Ibid, hal: 422
  • [17] Ibid, hal: 423
  • [18] Ibid, hal: 423
  • [19] Ibid, hal: 423
  • [20] Ibid, hal: 424
  • [21] Ibid, hal: 425
  • [23]Amru Khalid,Melamar Bidadari dengan Shalat Malam,  Jakarta,  Mirqat, 2009,  hal: 104
  • [24] Ibid, hal: 105
  • [25] Ibid, hal: 105
  • [26]
  • [27]Ibid, hal: 106
  • [28] Ibid, hal: 109
  • [29] Ibid, hal: 111
  • [30] Ibid, hal: 113
  • [31] Ibid, hal: 114
  • [32]Dr. Said bin Ali bin Wahf al-Qathani, Ensiklopedi shalat,  Jakarta, Pustaka imam Syafi’e, 2006, hal: 435
  • [33]Ibid, hal: 435
  • [34] Suara Hidayatullah, 2000