Contoh Makalah Tentang Zakat Maal dan Zakat Fitrah

Contoh Makalah Tentang Zakat Maal dan Zakat Fitrah

Contoh Makalah Tentang Zakat Maal dan Zakat Fitrah

Makalahkita.com – Contoh Makalah Tentang Zakat Maal dan Zakat Fitrah yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesAulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Zakat merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam yang digunakan untuk membantu masyarakat lain, menstabilkan ekonomi masyarakat dari kalangan bawah hingga kalangan atas, sehingga dengan adanya zakat umat Islam tidak ada yang tertindas karena zakat dapat menghilangkan jarak antara si kaya dan si miskin. Oleh karena itu, zakat sebagai salah satu instrumen negara dan juga sebuah tawaran solusi untuk menbangkitkan bangsa dari keterpurukan. Zakat juga sebuah ibadah mahdhah yang diwajibkan bagi orang-orang Islam, namun diperuntukan bagi kepentingan seluruh masyarakat.

Zakat merupakan suatu ibadah yang dipergunakan untuk kemaslahatan umat sehingga dengan adanya zakat (baik zakat fitrah maupun zakat maal) kita dapat mempererat tali silaturahmi dengan sesama umat Islam maupun dengan umat lain.

Oleh karena itu kesadaran untuk menunaikan zakat bagi umat Islam harus ditingkatkan baik dalam menunaikan zakat fitrah yang hanya setahun sekali pada bulan ramadhan, maupun zakat maal yang seharusnya dilakukan sesuai dengan ketentuan zakat dalam yang telah ditetapkan baik harta, hewan ternak, emas, perak dan sebagainya.

2.Rumusan Masalah

  1. Pengertian Zakat ?
  2. Dasar hukum zakat ?
  3. Syarat-syarat mengeluarkan zakat ?
  4. Macam-macam zakat ?
  5. Yang berhak menerima zakat ?
  6. Manfaat Zakat ?

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pengertian Zakat

Secara etimologi (asal kata) zakat dari kata zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, suci, subur dan baik. Secara istilah zakat merupakan upaya mensucikan diri dari kotoran kikir dan dosa melalui pengeluaran sedikit dari nilai harta pribadi untuk kaum yang memerlukan.[1]

2. Dasar Hukum Zakat

Zakat hukumnya wajib bagi setiap muslim yang memiliki harta yang telah sampai nishab untuk dikeluarkan zakatnya.

  •  “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkandan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Qs. At Taubah : 103)
  •  “Dirikanlah sholat dan tunaikan zakat.“ (Q.S. An-nisa : 77)

3. Hukum Zakat

Mengeluarkan zakat hukumnya Fardhu ‘Ain bagi setiap orang Islam yang mampu dan kaya. Mengeluarkan zakat dilakukan tiap-tiap tahun sesuai dengan peraturan zakat oleh orang-orang yang mampu dan diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu atau miskin dan orang-orang yang berhak menerimanya.

Pada zaman Abu Bakar Ash Shiddiq menjadi khalifah, orang-orang Islam yang membangkang terhadap kewajiban membayar zakat diperangi sampai mereka sadar dan patuh kembali membayar zakat.

4. Syarat-syarat Mengeluarkan Zakat

ü  Islam : Zakat hanya diwajibkan bagi orang Islam saja.

ü  Merdeka : Hamba sahaya tidak wajib mengeluarkan zakat kecuali zakat fitrah, sedangkan tuannya wajib mengeluarkannya. Di masa sekarang persoalan hamba sahaya tidak ada lagi. Bagaimanapun syarat merdeka  tetap harus dicantumkan sebagai salah satu syarat wajib mengeluarkan zakat karena persoalan hamba sahaya ini merupakan salah satu syarat yang tetap ada.

ü  Milik Sepenuhnya : Harta yang akan dizakati hendaknya milik sepenuhnya seorang yang beragama Islam dan harus merdeka. Bagi harta yang bekerjasama antara orang Islam dengan orang bukan Islam, maka hanya harta orang Islam saja yang dikeluarkan zakatnya.

ü  Cukup Haul : cukup haul maksudnya harta tersebut dimiliki genap setahun, selama 354 hari menurut tanggalan hijrah atau 365 hari menurut tanggalan mashehi.

ü  Cukup Nisab : Nisab adalah nilai minimal sesuatu harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.

5. Macam-macam Zakat

Macam-macam zakat secara garis besar ada dua macam yaitu zakat fitrah dan zakat harta benda atau maal. Ulama madzhab sepakat bahwa tidak sah mengeluarkan zakat kecuali dengan niat.

1)      Zakat Nafs (Fitrah)

Zakat fitrah adalah zakat untuk pembersih diri yang diwajibkan untuk dikeluarkan setiap akhir bulan Ramadhan. Ketentuan waktu pengeluaran zakat dapat dilakukan mulai dari awal Ramadhan sampai yang paling utama pada malam Idul Fitri dan paling lambat pagi hari Idul Fitri.[2]

عَنْ اِبْنِ عُمَرَرَضِيَ للّهُ عَنْهُمَاقَالَ : فَرض رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الفِطْرِصَاعً مِنْ تَمْرٍاَوْصَاعًامِنْ شَعِيْرٍعَلَى الْعَبْدِ وَالْحَرِّوَالذَّ كَرَوالأُنْثَى وَاالصَّغِيْرِوَاكَبِيْرِمِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاَمِرَبِهَا اَنْ تَؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ اِلَى الصَّلاَ ةِ[3]       

“Ibnu Umar ra. Ia berkata : Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atas setiap hamba dengan orang merdeka, baik laki-laki, perempuan, kecil maupun besar dari kalangan kaum muslimin dan beliau menyuruh agar zakat fitrah itu ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk sholat (idul fitri)”.

Hadits diatas menjelaskan bahwa Rasulullah mewajibkan zakat fitrah. Adapun nishabnya 1 sha’ (2,5kg).

2)      Zakat Maal

Zakat Maal adalah zakat yang berhubungan dengan harta: yaitu emas, perak, binatang ternak, hasil tanaman dan buah-buahan, serta harta barang dagangan.[4]

  1. Zakat Emas dan Perak

Emas dan perak merupakan harta yang wajib di keluarkan zakatnya jika telah memenuhi nishab dan haul.

Nishab zakat emas dan perak :

Nishab emas 20 misqaal (96 gram).

Besarnya zakat yang harus dikeluarkan 2,5%.

Kalau emas lebih dari batas tersebut, dihitung dengan ketentuan 2,5% kali besarnya (banyaknya) emas.

Nishab perak 200 dirham. Besarnya zakat sama dengan emas 2,5%. Jadi perak yang berjumlah 200 dirham, zakatnya 2,5% = 5 dirham. Kalau bertambah nanti, dihitung dengan ketentuan pengeluaran zakat 2,5%.

(1      dirham = 3 gram).[5]

  1. Binatang Ternak

Nishab hasil peternakan (binatang ternak) yang telah ditentukan pada zaman Nabi adalah mengenai zakat unta, sapi dan kambing.

a)      Zakat Unta

NOJUMLAH UNTAJUMLAH ZAKAT
15 ekor1 ekor kambing
210 ekor2 ekor kambing
315 ekor3 ekor kambing
420 ekor4 ekor kambing
525 ekor1 ekor unta umur 1 tahun penuh
636 ekor1 ekor unta umur 2 tahun penuh
746 ekor1 ekor unta umur 3 tahun penuh
861 ekor1 ekor unta umur 4 tahun penuh
976 ekor2 ekor unta umur 2 tahun penuh
1091 ekor2 ekor unta umur 3 tahun penuh
11121 ekor3 ekor unta umur 2 tahun penuh
12Setiap tambahan 40 ekorTambah 1 ekor unta umur 2 tahun penuh

 

b)      Zakat Sapi

Sapi yang sudah berjumlah 30 ekor wajib dikeluarkan zakatnya 1 ekor sapi umur 1 tahun penuh. Dan sapi yang berjumlah 40 ekor wajib dikeluarkan 1 ekor sapi umur 2 tahun penuh.

c)      Zakat Kambing

Kalau kambning sudah mencapai jumlah 40 ekor, wajib dikeluarkan  zakatnya 1 ekor kambing.

NOJUMLAH KAMBINGJUMLAH ZAKAT
140-120 ekor1 ekor kambing umur 2 tahun
2121-200 ekor2 ekor kambing umur 2 tahun
3201-300 ekor3 ekor kambing umur 2 tahun
4301-400 ekor4 ekor kambing umur 2 tahun
5Setiap tambah 100 ekorZakatnya tambah 1 ekor kambing
  1. Zakat Hasil Tanaman dan Buah-buahan

وَاَتُوْا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ، الانعام : 141

“Berilkanlah haknya (zakat) pada waktu memetik hasilnya”.

(QS.Al-An’am:141 )[6]

Nishab tanaman dan buah-buahan (untuk wajib zakat) 1 ton padi.[7]

  1. Zakat Barang Dagangan

Dijelaskan oleh hadits Rasulullah SAW yang disampaikan oleh Samurah bin Jundab, beliau berkata :

كَانَ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا اَنْ نُخْرِجَ الزَّكَاةَ مِمَّا نَعُدُّهُ لِلْبَيْغِ

“Rasulullah menyuruh kami untuk mengeluarkan zakat dari setiap barang yang kami persiapkan untuk perdagangan.” (HR.Abu Dawud)[8]

Nishab zakat perdagangan adalah 200 dirham atau 20 dinar (sama dengan nishab zakat emas dan perak). Zakat yang harus dikeluarkan 2,5%. Pedagang hendaknya menghitung barang-dagangannya pada akhir tahun. Penghitungannya berdasarkan pembelian.[9]

  1. Yang Berhak Menerima Zakat

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir,orang-orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya(muallaf), untuk (memerdekakan hamba sahaya), orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan oran-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai diwajibkan dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS At.Taubah:60)[10]

Ayat tersebut menjelaskan bahwa yang berhak menerima zakat ialah 8 kategori manusia, yaitu :

  1. Orang Fakir (al-Fuqara’)

Al-Fuqara’ adalah kelompok pertama yang menerima bagian zakat. Mereka adalah orang yang tidak memiliki harta benda dan pekerjaan yang mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

  1. Orang Miskin (al-Masakin)

Al-Masakin adalah kelompok kedua penerima zakat. Mereka adalah orang yang memiliki pekerjaan, tetapi penghasilannya tidak dapat dipakai untuk kebutuhan hajat hidupnya.

  1. Panitia Zakat (al-‘Amil)

Panitia zakat adalah orang-orang yang bekerja memungut zakat. Panitia disyaratkan harus memiliki sifat kejujuran dan menguasai hukum zakat.

  1. Muallaf

Muallaf adalah kelompok orang-orang yang lemah niatnya untuk memasuki Islam.

  1. Para Budak

Para budak yang dimaksud disini, menurut jumhur ulama, ialah para budak muslim yang telah mebuat perjanjian dengan tuannya untuk dimerdekakan dan tidak memiliki uang untuk membayar tebusan atas diri mereka, meskipun mereka telah bekerja keras dan membanting tulang mati-matian. Syarat pembayaran zakat budak yang dijanjikan untuk dimerdekakan ialah budak itu harus muslim dan memerlukan bantuan seperti itu.

  1. Ghaarimun (orang yang mempunyai utang)

Mereka adalah orang-orang yang memiliki utang untuk tujuan yang baik berhak menerima zakat. Tetapi jika utangnya itu untuk maksiat, kebutuhan-kebutuhan hawa nafsu, tidak boleh diberi zakat, dan tidak berhak menerima zakat.

  1. Ibnu Sabil

Mereka adalah orang yang dalam keadaan bepergian untuk kebaikan, bukan untuk maksiat.

  1. Sabilillah

Mereka ialah orang-orang yang berjuang dijalan Allah tanpa mendapat gaji.[11]

7.Orang yang tidak berhak menerima zakat

  1. Orang kaya dengan harta atau kaya dengan usaha dan penghasilan.
  2. Hamba sahaya, karena mereka mendapat nafkah dari tuan mereka.
  3. Keturunan Rasulullah SAW.
  4. Orang dalam tanggungan yang berzakat , artinya orang yang berzakat tidak boleh memberikan zakatnya kepada orang yang dalam tanggungannya dengan nama fakir atau miskin, sedangkan mereka mendapat nafkah yang mencukupi. Tetapi dengan nama lain, seperti nama pengurus zakat atau berutang, tidak ada halangan. Begitu juga kalau mereka tidak mencukupi dari nafkah yang wajib.
  5. Orang yang tidak beragama Islam.[12]

8. Manfaat Zakat

  1. Meningkatkan ketaqwaan orang yang menunaikannya
  2. Membersihkan dan mensucikan harta kekayaan serta mensucikan pribadi dari sifat kikir
  3. Menambah keberkahan hartanya dan menumbuhkan usahanya, berkat do’a kaum fakir miskin yang menerima pembagian zakat
  4. Meringankan penderitaan fakir miskin yang menerima pembagian zakat.
  5. Mempersiapkan bekal pahala pembayar zakat dengan pahala yang tidak putus-putusnya di akherat kelak.

BAB III

PENUTUP

1.KESIMPULAN

            Zakat merupakan upaya mensucikan diri dari kotoran kikir dan dosa melalui pengeluaran sedikit dari nilai harta pribadi untuk kaum yang memerlukan. Zakat wajib ditunaikan oleh setiap umat muslim.

Zakat ada dua macam, yaitu zakat nafs (fitrah) dan zakat maal. Zakat maal terdiri dari beberapa macam, diantaranya zakat emas dan perak, binatang ternak, hasil tanaman dan buah-buahan, serta harta barang dagangan.

Orang yang menunaikan zakat harus memenuhi beberapa syarat antara lain; Islam, merdeka, hak milik yang sempurna, mencapai nishab. Kemudian ada 8 golongan manusia yang berhak menerima zakat, yaitu :

  1. Orang Fakir (al-Fuqara’)
  2. Orang Miskin (al-Masakin)
  3. Panitia Zakat (al-‘Amil)
  4. Muallaf
  5. Para Budak
  6. Ghaarimun (orang yang mempunyai utang)
  7. Ibnu Sabil
  8. Sabilillah

Masalah yang berkaitan dengan zakat harus kita pahami, apalagi kita sebagai mahasiswa muslim harus paham betul tentang zakat. Sehingga kita dapat mengaplikasikan dalam kehiduapan sehari-hari. Minimal untuk diri kita sendiri dan orang disekitar kita.

DAFTAR PUSTAKA

  • Inoed, H. Amirudin, dkk. 2005. Anatomi Fiqih Zakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Nawawi, Imam. 1999. Terjemah Riyadhus Shalihin. Jakarta: Pustaka Amani.
  • Bukhari, Imam. 1993. Shahih Bukhari juz II. Semarang: CV. Asy Syifa’.
  • Rifa’i, Moh, dkk. 1978. Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar. Semarang: CV. Toha Putra.
  • Darajat, Zakiah. 1982. Ilmu Fiqih. Jakarta: Direktorat Pembinaan Tinggi Agama Islam.
  • Al-Qur’an dan Terjemahnya. 2009. Bandung: Diponegoro.
  • Al-Zuhayly, Wahbah. 1995. Zakat Kajian Berbagai Mazhab. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  • Bahreisy, Hussein. 1980. Himpunan Hadits Pilihan Hadits Shahih Bukhari. Surabaya: Al-Ikhlas.

[1] Inoed,H.Amirudin,dkk.Anatomi Fiqih Zakat(Yogyakarta,Pustaka Pelajar:2005),hal:8.

[2] Inoed,H.Amirudin,dkk.Anatomi Fiqih Zakat(Yogyakarta,Pustaka Pelajar:2005),hal:61.

[3] Bukhari, Imam.Shahih Bukhari juz II(Semarang,CV. Asy Syifa’:1993)hal: 397.

[4] Rifa’i,Drs.Moh,dkk.Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar(Semarang,CV.Toha Putra:1978).hal:124.

[5] Rifa’i,Drs.Moh,dkk.Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar(Semarang,CV.Toha Putra:1978).hal:133.

[6] Al-Qur’an dan Terjemahnya(Bandung,Diponegoro:2009).hal:116.

[7] Rifa’i,Drs.Moh,dkk.Terjemah Khulashah Kifayatul Akhyar(Semarang,CV.Toha Putra:1978).hal:136.

[8] Al-Zuhayly,Dr.Wahbah.Zakat Kajian Berbagai Mazhab(Bandung,PT Remaja Rosdakarya:1995).hal:170.

[9] Ibid.hal:169.

[10] Al-Qur’an dan Terjemahnya(Bandung,Diponegoro:2009).hal:156

[11] Al-Zuhayly,Dr.Wahbah.Zakat Kajian Berbagai Mazhab(Bandung,PT Remaja Rosdakarya:1995).hal:280.

[12] Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam (Bandung, Sinar Baru Algensindo:1994)hal:215