Makalah Akhlak Tasawuf Tentang Baik Dan Buruk

Makalah Akhlak Tasawuf Tentang Baik Dan Buruk
Makalah Akhlak Tasawuf Tentang Baik Dan Buruk

Makalah Akhlak Tasawuf Tentang Baik Dan Buruk

MakalahkitaMakalah Akhlak Tasawuf Tentang Baik Dan Buruk yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………….. 1

  1. Latar Belakang Masalah…………………………………………………………………. 1
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………………………….. 2
  3. Tujuan Penulisan Makalah……………………………………………………………… 2

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………. 3

  1. Pengertian Baik dan Buruk…………………………………………………………….. 3
  2. Pengertian Baik………………………………………………………………………….. 3
  3. Pengertian Buruk……………………………………………………………………….. 4
  4. Sifat Baik dan Buruk………………………………………………………………………. 4
  5. Beberapa Aliran Baik dan Buruk……………………………………………………. 5
  6. Naturalisme………………………………………………………………………………… 5
  7. Vitalisme…………………………………………………………………………………….. 5
  8. Utilitalisme (Teori Moral)……………………………………………………………. 6
  9. Hedonisme………………………………………………………………………………….. 7
  10. Sosialisme (Adat-Istiadat)……………………………………………………………. 8
  11. Islam………………………………………………………………………………………….. 9

BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………… 12

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………….. 12
  2. Saran……………………………………………………………………………………………… 12

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………….. 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang Masalah

Dari makalah yang berjudul “Baik dan Buruk Menurut Beberapa Aliran” ini maka latar belakang masalahnya adalah sebagai berikut:

Baik dan buruk merupakan dua istilah yang banyak digunakan untuk menentukan suatu perbuatan yang dilakukan seseorang. Kata baik dan buruk mengandung pengertian value (nilai), yang artinya kedua kata tersebut berfungsi sebagai keterangan kualitas, karena merupakan kata sifat yang bertugas menjelaskan atau menilai sesuatu.

Baik dan buruk adalah persoalan yang pertama kali muncul di kalangan para filsuf Yunani. Persoalan ini pula yang menjadi pembicaraan utama dalam kajian ilmu akhlak dan ilmu estetika. Bahkan, setiap filsuf hampir membicarakan persoalan ini, terutama para filsuf dari kalangan Marxisme. Di kalangan para teolog, persoalan ini memunculkan perdebatan yang sengit diantara aliran-aliran. Mu’tazilah, umpamanya berpendapat bahwa akal manusia mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Ini berbeda dengan aliran Ahlus Sunnah wa Jamaah, diantaranya Asy’ariyyah. Mereka berpendapat bahwa menentukan baik dan buruk mutlak merupakan otoritas wahyu, bukan domain akal.

Pembicaraan mengenai baik dan buruk penting karena dua alasan. Pertama, persoalan ini menjadi pembahasan utama ilmu akhlak sekaligus menjadi inti keberagaman seseorang. Kedua, mengetahui pandangan Islam tentang persoalan ini di tengah maraknya berbaga aliran yang memperbincangkan persoalan ini.

Pemahaman kata baik dan buruk sangat subyektif, karena diukur dengan perasaan individu, tujuan dan penilaian individu. Demikian juga menurut analisis etika, karena yang menjadi parameternya adalah tujuan yang dicita-citakan individu. Padahal, antar individu di dunia ini (berdasarkan ragam budaya, suku, orientasi dan juga agama) jelas tidak dapat disamakan. Oleh sebab itu, konsep baik dan burukpun menjadi relatif.

Misalnya, baik menurut umat Islam, dalam kasus menyembelih binatang qurban sapi adalah jelas-jelas dinilai buruk oleh orang Hindu. Demikian juga orang Hindu yang membakar mayat dalam rangka pencapaian kebaikan si mayit untuk bersatu dengan Dewa Api Suci dinilai sangat buruk dan bahkan sebuah kejahatan menurut pandangan Islam.

Oleh sebab itu, sangat perlu dicari tentang pedoman, acuan, ukuran atau parameter yang menilai baik dan buruknya sesuatu perbuatan atau tingkah laku tersebut. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang berbagai pandangan tentang baik dan buruknya suatu tindakan menurut aliran Islam dan aliran di luar Islam.

2. Rumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalahnya adalah:

  1. Apa pengertian baik dan buruk?
  2. Apa saja aliran baik dan buruk?
  3. Bagaimana sifat baik dan buruk?
  4. Bagaimana pandangan baik dan buruk menurut beberapa aliran?

3. Tujuan Penulisan Makalah

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menggambarkan bagaimana penilaian baik dan buruk, mengetahui sifat baik dan buruk dalam perpesktif beberapa aliran diantaranya Naturalisme, Vitalisme, Utilitarisme, Hedonisme, Sosialisme dan Islam.

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pengertian Baik dan Buruk

  1. Pengertian Baik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), baik artinya elok; patut; teratur (apik, rapi, tidak ada celanya, dan sebagainya). Pengertian baik secara bahasa adalah terjemahan dari kata khoirdalam bahasa Arab atau good dalam bahasa Inggris. Louis Ma’luf dalam kitab Munjid, mengatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan. Selanjutnya, yang baik itu juga adalah sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan dan memberikan kepuasan. Yang baik itu juga sesuatu yang sesuai dengan keinginan. Dan yang disebut baik adalah sesuatu yang mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia. Adapula yang berpendapat bahwa yang disebut baik atau kebaikan adalah sesuatu yang diinginkan, diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Tingkah laku manusia adalah baik, apabila hal tersebut menuju kesempurnaan manusia. Sedangkan kebaikan disebut nilai (value) apabila kebaikan itu bagi seseorang menjadi kebaikan yang konkrit.

Dari beberapa kutipan di atas, menggambarkan bahwa yang disebut baik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan luhur, bermartabat, menyenangkan dan disukai manusia. Dengan mengetahui sesuatu yang baik, maka akan mempermudah dalam mengetahui yang buruk.

  1. Pengertian Buruk

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), buruk artinya rusak atau busuk karena sudah lama; jahat; tidak menyenangkan; tidak cantik, tidak elok, jelek.

Pengertian buruk secara bahasa adalah terjemahan dari kata syarrdalam bahasa Arab atau bad dalam bahasa Inggris. Kata buruk diartikan dengan sesuatu yang tidak baik, tidak seperti seharusnya, tak sempurna dalam kualitas, di bawah standar, kurang dalam nilai, keji, jahat, tidak bermoral dan perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku. Dengan demikian, yang dikatakan buruk itu adalah sesuatu yang dinilai sebaliknya dari yang baik.

Definisi di atas, memberikan kesan bahwa sesuatu yang disebut baik atau buruk itu sangat relatif, karena tergantung pada pandangan dan penilaian masing-masing yang merumuskan. Dengan demikian nilai baik atau buruk menurut pengertian tersebut bersifat relatif dan subyektif, karena bergantung kepada individu yang menilainya.

Dalam mendefiniskan baik atau buruk, setiap orang pasti berbeda-beda. Sebab penentu baik atau buruk, yaitu Tuhan dan manusia, wahyu dan akal, agama dan filsafat.

3. Sifat Baik dan Buruk

Sifat baik dan buruk yang didasarkan pada pandangan filsafat adalah sesuai dengan sifat dari filsafat itu sendiri, yaitu berubah, relatif nisbi dan tidak universal. Dengan demikian sifat baik dan buruk yang dihasilkan berdasarkan pemikiran filsafat tersebut menjadi relatif dan nisbi, yaitu dapat terus berubah. Sifat baik dan buruk tersebut yang dikemukakan sifatnya subyektif, lokal dan temporal. Oleh karena itu nilai baik dan buruk juga sifatnya relatif.

2. Beberapa Aliran Baik dan Buruk

Perkembangan pemikiran manusia selalu berubah, begitu juga patokan yang digunakan orang untuk menentukan baik dan buruk manusia. Keadaan yang demikian ini menurut Poedjawijatna terpengaruh oleh pandangan filsafat tentang manusia yaitu antropologia metafisika.

Terdapat beberapa aliran dalam penilaian baik dan buruk, yaitu sebagai berikut:

  1. Naturalisme

Menurut aliran ini dalam menjadi tolak ukuran baik dan buruk adalah apakah sesuai dengan keadaan alam. Apabila alami maka dikatakan baik, sedangkan apabila tidak alami maka dipandang buruk. Jean Jack Rousseau mengemukakan bahwa kemajuan pengetahuan dan kebudayaan adalah menjadi perusak alam semesta, maka itu digolongkan menjadi buruk bagi paham ini. Paham ini lebih mementingkan menyatu dengan alam, dalam melakukan seluruh aktifitasnya dan memenuhi seluruh kebutuhannya. Mereka lebih suka menyatu dengan alam sekitarnya. Contoh orang-orang yang masih memeluk paham ini adalah orang-orang suku pedalaman.

  1. Vitalisme

Aliran ini merupakan bantahan terhadap aliran naturalisme sebab menurut paham vitalisme yang menjadi ukuran baik dan buruk itu bukan alam tetapi vitae atau hidup (yang sangat diperlukan untuk hidup). Aliran ini terdiri dari dua kelompok, yaitu vitalisme pessimistis (negative vitalis) dan vitalis optimisme. Kelompok vitalisme pessimistis dikenal dengan ungkapan homo homini lupusyang artinya manusia adalah serigala bagi  manusia lain. Sedangkan menurut kelompok vitalis optimisme, perang adalah halal, sebab orang yang berperang itulah (yang menang) yang akan memegang kekuasaan. Tokoh terkenal aliran vitalisme adalah F. Niettsche.

Paham ini berpendapat bahwa yang baik adalah yang mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia. Kekuatan dan kekuasaan yang menaklukan orang lain yang lemah dianggap baik. Paham ini lebih cenderung pada sikap binatang, dan berlaku hukum siapa yang kuat dan menang itulah yang baik. Paham ini pernah dipraktekkan oleh para penguasa di zaman feodalisme terhadap kaum yang lemah, tertindas dan bodoh. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki, ia dapat mengembangkan pola hidup feodalisme kolonialisme dan diktator. Kekuatan dan kekuasaan menjadi lambang dan status sosial untuk dihormati. Ucapan, perbuatan dan aturan yang dikeluarkan menjadi pegangan masyarakat meskipun salah.

Dalam masyarakat yang sudah maju, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi sudah banyak dikuasai oleh masyarakat, maka paham vitalisme tidak akan mendapat tempat lagi, kemudian beralih dengan sifat demokratis.

  1. Utilitarisme (Teori Moral)

Secara bahasa utilitis berarti berguna. Paham ini berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna. Kalau ukuran ini berlaku bagi perorangan disebut individual, dan jika berlaku bagi masyarakat dan negara disebut sosial. Paham ini mendapatkan perhatian di zaman sekarang. Di abad sekarang ini, kemajuan di bidang teknologi meningkat tajam dan kegunaanlah yang menentukan segala sesuatunya. Kelemahannya paham ini adalah adanya hanya melihat kegunaan dari sudut materialistik.

Misalkan, orang tua jompo semakin kurang mendapatkan penghargaan, karena secara material sudah tidak lagi berguna. Padahal kedua orang tua tetap berguna untuk dimintai nasihat, doa dan pengalaman masa lalu yang sangat berharga.

Paham ini juga menjelaskan arti kegunaan tidak hanya berhubungan dengan materi, melainkan melalui sifat rohani yang bisa diterima akal. Dan kegunaan bisa diterima jika yang digunakan itu hal-hal yang tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain. Di sini Nabi juga menilai bahwa orang yang baik adalah orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain (HR. Bukhari).

  1. Hedonisme

Aliran ini adalah aliran filsafat yang bersumber pada pemikiran filsafat Yunani Kuno. Terutama pemikiran filsafat Epicurus (341-270 SM) kemudian dikembangkan oleh Cyrenics, berikutnya dikembangkan oleh Freud. Menurut paham ini, bahwa perbuatan yang baik adalah perbuatan yang banyak mendatangkan kelezatan, kenikmatan dan kepuasan nafsu biologis.

Aliran ini tidak mengatakan bahwa semua perbuatan mengandung kelezatan, melainkan ada pula yang mendatangkan kepedihan dan kesengsaraan. Epicurus sebagai peletak dasar paham ini mengatakan bahwa kebahagiaan atau kelezatan itu adalah tujuan semua manusia hidup di dunia. Tidak ada kebaikan dalam hidup selain kelezatan dan tidak ada keburukan kecuali penderitaan. Sedangkan akhlak adalah berbuat untuk menghasilkan kelezatan, kemuliaan dan kebahagiaan. Keutamaan tidak mempunya nilai  tersendiri melainkan nilainya terletak pada kelezatan yang mengiringinya.

Di sini, Epicurus lebih mementingkan kelezatan akal dan rohani daripada kelezatan badan. Yang dapat merancang dan merencanakan kelezatan itu adalah akal dan jiwa (rohani). Oleh karena itu kelezatan akal dan jiwa lebih lama dan lebih kekal daripada kelezatan badan. Tahap berikutnya, paham Hedonisme ada dua corak, yaitu pertama adalah individual dan kedua adalah universal. Corak pertama berpendapat bahwa yang dipentingkan terlebih dahulu adalah mencari kelezatan dan kepuasan sebesar-besarnya untuk dirinya sendiri (individualistik). Sedangkan corak kedua memandang bahwa perbuatan yang baik adalah yang mementingkan kebahagiaan untuk kebutuhan sesama manusia atau orang banyak bahkan semua makhluk yang berperasaan. Sejalan dengan paham ini, maka perbuatan yang dianggap baik dan utama apabila perbuatan itu menghasilkan kebahagiaan bersama. Berlaku benar misalnya menjadi utama karena ia menghasilkan kebahagiaan bagi masyarakat dan kita dapat mempercayai orang lain, karena orang tersebut menunjukkan sikap yang benar.

  1. Sosialisme (Adat-Istiadat)

Baik dan buruk menurut aliran ini ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berlaku dan dipegangi oleh masyarakat. Orang yang mengikuti dan berpegang teguh pada adat dipandang baik, dan orang yang menentang tidak mengikuti adat-istiadat dipandang buruk dan mendapat hukuman secara adat. Adat-istiadat selanjutnya dipandang sebagai pendapat umum. Ahmad Amin mengatakan bahwa tiap bangsa atau daerah mempunyai adat tertentu mengenai baik dan buruk.

Di masyarakat akan kita jumpai adat-istiadat yang berkenaan dengan cara berpakaian, makan, minum dan sebagainya. Orang yang mengikuti cara yang demikian itulah yang dianggap orang baik, dan orang yang mengingkarinya adalah orang yang buruk. Kelompok yang menilai baik dan buruk menurut adat ini dalam pandangan filsafat dikenal dengan aliran sosialisme. Paham ini muncul dari anggapan karena masyarakat itu terdiri dari manusia, maka masyarakatlah yang menentukan nilai baik dan buruk perbuatan manusia itu sendiri. Karena hakikat dari adat itu sendiri sebenarnya adalah produk budaya manusia yang sifatnya nisbi dan relatif, maka nilai baik dan buruk tersebut juga sangat relatif juga.

  1. Islam

Menurut ajaran Islam penentuan baik dan buruk harus didasarkan pada petunjuk al-Quran dan al-Hadits. Jika kita perhatikan al-Quran dan Haduts dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu kepada baik dan ada pula yang mengacu kepada yang buruk. Di antara istilah yang mengacu kepada yang baik misalnya al-hasanah, at-thayyibah,al-khairah, al-karimah,al-mahmudah, dan al-birr.

  • Al-hasanah sebagaimana dikemukakan oleh Al-raghib al-Asfahani adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik. Al-hasanah terbagi menjadi 3 bagian, pertama hasanah dari segi akal, kedua hasanahdari segi hawa nafsu/keinginan dan hasanah dari segi pancaindera.
  • At-thayyibah khusus digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang memberikan kelezatan kepada pancaindera dan jiwa seperti makan dan sebagainya.
  • Al-khair digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang baik oleh seluruh umat manusia, seperti berakal, adil, keutamaan dan segala sesuatu yang bermanfaat.
  • Al-karimah digunakan untuk menunjukkan pada perbuatan dan akhlak yang terpuji yang ditampakkan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Selanjutnya kata al-karimah biasanya digunakan untuk menunjukkan perbuatan terpuji yang skalanya besar, seperti menafkahkan harta di jalan Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua, dan sebagainya.
  • Al-mahmudah digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang utama sebagai akibat dari melakukan sesuatu yang disukai oleh Allah SWT., dengan demikian kata al-mahmudah lebih menunjukkan pada kebaikan yang bersifat batin dan spiritual.
  • Al-birr digunakan untuk menunjukkan pada upaya memperluas atau memperbanyak melakukan perbuatan yang baik. Terkadang digunakan sebagai sifat Allah, dan terkadang juga untuk sifat manusia. Jika kata tersebut digunakan untuk sifat Allah, maka maksudnya adalah bahwa Allah memberikan balasan pahala yang besar, dan jika digunakan untuk manusia maka yang dimaksud adalah ketaatannya.

Adanya berbagai istilah kebaikan yang demikian variatif yang diberikan al-Quran dan Hadits itu menunjukkan bahwa penjelasan tentang sesuatu yang baik menurut ajaran Islam jauh lebih lengkap dan komprehensif dibandingkan dengan arti kebaikan yang dikemukakan oleh paham-paham sebelumnya (selain Islam). Berbagai istilah yang mengacu pada kebaikan itu menunjukkan bahwa kebaikan dalam pandangan Islam meliputi kebaikan yang bermanfaat bagi fisik, akal, rohani, jiwa, kesejahteraan di dunia dan akhirat serta akhlak yang mulia.

Untuk menghasilkan kebaikan yang demikian, Islam memberikan tolak ukur yang jelas, yaitu selama perbuatan yang dilakukan itu ditujukan untuk mendapatkan keridhoan Allah yang dalam pelaksanaannya dilakukan dengan ikhlas.

Selanjutnya, dalam menentukan perbuatan yang baik dan buruk, Islam memperhatikan kriteria lainnya yaitu dari segi cara melakukan perbuatan itu. Seseorang yang berniat baik, tapi dalam melakukannya dengan menempuh cara yang salah, maka perbuatan itu dipandang buruk/tercela.

Selain itu perbuatan yang dianggap baik oleh Islam juga adalah perbuatan yang sesuai dengan petunjuk al-Quran dan al-Hadits, dan perbuatan yang buruk adalah perbuatan yang bertentangan dengan al-Quran dan al-Hadits. Namun demikianlah, al-Quran dan al-Hadits bukanlah sumber ajaran yang ekslusif atau tertutup. Kedua sumber itu bersikap terbuka untuk menghargai bahkan menampung pendapat akal pikiran, adat-istiadat dan sebagainya yang dibuat manusia, dengan catatan semuanya itu tetap sejaan dengan petunjuk al-Quran dan al-Hadits. Ketentuan baik dan buruk yang didasarkan pada logika dan filsafat dengan berbagai alirannya tertampung dalam istilah etika, atau ketentuan baik dan buruk yang didasarkan atas istilah adat-istiadat tetap diakui dan dihargai keberadaannya. Ketentuan baik dan buruk yang terdapat pada etika dan moral dapat digunakan sebagai sarana dan alat untuk menjabarkan ketentuan baik dan buruk yang ada di dalam al-Quran.

BAB III
PENUTUP

1.Kesimpulan

Dari kajian yang terdapat dalam makalah ini maka dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang disebut baik atau buruk itu sangat relatif, karena tergantung pada pandangan dan penilaian masing-masing yang merumuskan. Dengan demikian nilai baik atau buruk menurut pengertian tersebut bersifat relatif dan subyektif, karena bergantung kepada individu yang menilainya.

Dalam mendefiniskan baik atau buruk, setiap orang pasti berbeda-beda. Sebab penentu baik atau buruk, yaitu Tuhan dan manusia, wahyu dan akal, agama dan filsafat.

Sifat baik dan buruk yang didasarkan pada pandangan filsafat adalah sesuai dengan sifat dari filsafat itu sendiri, yaitu berubah, relatif nisbi dan tidak universal. Dengan demikian sifat baik dan buruk yang dihasilkan berdasarkan pemikiran filsafat tersebut menjadi relatif dan nisbi, yaitu dapat terus berubah. Sifat baik dan buruk tersebut yang dikemukakan sifatnya subyektif, lokal dan temporal. Oleh karena itu nilai baik dan buruk juga sifatnya relatif.

Terdapat beberapa aliran dalam penilaian baik dan buruk, diantaranya adalah Naturalisme, Vitalisme, Hedonisme, Sosialisme dan Islam.

2. Saran

Dari penulisan makalah ini pembaca disarankan dalam menentukan baik dan buruk segala sesuatu agar berpegang pada al-Quran dan al-Hadits yang menjadi pedoman hidup yang berlaku sepanjang masa, yang mana keduanya saling berperan dan mempengaruhi satu sama lain sehingga tidak dapat dipisahkan karena al-Hadits sebagai penjelas dan al-Quran sebagai penguat.

DAFTAR PUSTAKA

  • Ø  Esa, Vidara. 2013. Makalah Akhlak-Tasawuf Baik Buruk dari Berbagai Pandangan. 
  • Ø  Raksa, Aji. 2011. Akhlak Tasawuf: Baik dan Buruk Menurut Ajaran Islam.
  • Ø  Setiawan, Ebta. 2015. Arti Kata Baik. 
  • Ø  Setiawan, Ebta. 2015. Arti Kata Buruk. 
  • Ø  Zulkarnain, Yahya. 2012. Penilaian Baik dan Buruk dari Berbagai Aspek

1 Trackback / Pingback

  1. Makalah Tentang Tamyiz Bahasa Arab Yang Benar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*