Makalah Akhlak Tasawuf Tentang Hak, Kewajiban Dan Keutamaan

Makalah Akhlak Tasawuf Tentang Hak
Makalah Akhlak Tasawuf Tentang Hak

Makalah Akhlak Tasawuf Tentang Hak, Kewajiban Dan Keutamaan

MakalahkitaMakalah Akhlak Tasawuf Tentang Hak, Kewajiban Dan Keutamaan yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa secara kodrati memiliki hak. Tak hanya itu, suatu hak juga harus didahului dengan adanya suatu kewajiban yang harus dijalankan.[1] Dalam melaksanakan suatu kewajiban tersebut, haruslah memiliki suatu keutamaan yang dijadikan pedoman atau acuan agar dapat melaksanakannya kewajiban dan memenuhi hak secara optimal. Manusia baik secara pribadi maupun sosial dalam mengembangkan diri, berperan aktif dan memberikan sumbangan bagi kesejahteraan hidup manusia, itu  ditentukan oleh pandangan hidup dan kepribadian.

Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidaklah terlepas dari norma-norma dan hukum-hukum yang ada. Sehingga secara sadar maupun tak sadar mereka harus mentaati dan menjalankannya. Dalam menjalankan dan mematuhi aturan-aturan tersebut, berarti mereka telah menjalankan sesuatu yang telah menjadi kewajibannya.  Setelah mereka menjalankan sesuatu yang telah menjadi kewajibannya, barulah mereka berhak mendapatkan apa yang telah menjadi hak mereka. Mereka memperoleh hak tersebut dari sebuah pihak yang telah memberikan suatu kewajiban.

Dalam menjalankan suatu kewajiban dan memperoleh suatu hak, para pelaku haruslah memiliki keutamaan yang dijadikan sebagai tolok ukur. Maka dari itu dalam kehidupan sehari-hari, suatu hak tidaklah terlepas dari suatu kewajiban. Begitupun juga dengan suatu kewajiban tak kan dijalankan ketika suatu kewajiban itu tidak diimbangi dengan adanya suatu pemenuhan hak. Sedangkan sebuah keutamaan digunakan sebagai tolok ukur kita dalam melaksanakan suatu kewajiban dan memenuhi hak.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apakah “Hak” itu?
  2. Apakah  “Kewajiban” itu?
  3. Apakah “Keutamaan” itu?

1.3 Tujuan

  1. Mengetahui apa itu “Hak”
  2. Mengetahui apa itu “Kewajiban”
  3. Mengetahuipengertiandari “Keutamaan”

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hak

Hak ialah sesuatu yang diterima setelah manusia diberatkan atas suatu kewajiban.[2] Antara suatu hak dan kewajiban itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tiap-tiap hak  dalam kehidupan mengandung kewajiban, bahkan dua kewajiban. Kewajiban pertama ialah kewajiban bagi setiap manusia untuk menghormati dan menghargai hak orang lain serta tidak mengganggunya. Kewajiban kedua ialah bagi setiap orang yang memiliki hak wajib menggunakan haknya untuk melakukan kebaikan, baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari seseorang diwajibkan melihat kepentingan umum terlebih dahulu. Itu dikarenakan pada hakikatnya hak-hak yang dimiliki oleh seseorang tersebut semata-mata merupakan pemberian dari masyarakat, yang merupakan buah atau hasil dari sebuah kebijaksanaan yang telah ia laksanakan. Tak mungkin seseorang yang hidup menyendiri itu mendapatkan hak.

Ada beberapa hak bagi manusia antara lain:

a) Hak hidup

Hak hidup adalah hak yang suci tanpa bisa diberikan untuk keperluan yang lain.[3] Tiap-tiap manusia memiliki hak hidup. Hak hidup juga memiliki dua kewajiban sebagaimana hak-hak yang lain yaitu:

Ø wajib bagi yang berhak supaya menjaga hidupnya.

Ø menggunakan hak tersebut sebaik-baiknya untuk kepentingan diri sendiri dan masyarakat serta wajib bagi orang lain agar menghormati hak ini.

b) Hak Kemerdekaan

Kemerdekaan mutlak ialah “bertindak dan berbuat menurut kehendak-Nya dengan tidak ada sesuatu yang menguasai kehendak dan perbuatan-Nya.[4] Dari pengertian ini dapat kita pahami bahwa tidak akan terjadi kecuali bagi Allah, ini dikarenakan tiada seorangpun yang kehendaknya tidak dipengaruhi oleh pengaruh lain.

Ada beberapa penjelasan dalam arti kemerdekaan yang dapat dipahami sebagai berikut:

  1. Kemerdekaan lawan dari perhambaan
  2. Kemerdekaan bangsa-bangsa
  3. Kemerdekaan kemajuan
  4. Kemerdekaan politik

hak kemerdekaan mengandung dua kewajiban yaitu:

Ø Wajib bagi manusia dan pemerintah menghormati hak kemerdekaan seseorang.

Ø Wajib bagi yang mempunyai hak untuk mempergunakan kemerdekaannya untuk kebaiannya dan kebaikan orang banyak.[5]

c) Hak memiliki

Hak milik menjadi bagian yang menyempurnakan hak kemerdekaan. Karena manusia itu tidak dapat mempertinggikan dirinya menurut kehendaknya, kecuali dengan alat-alatnya.

Hak milik dibagi menjadi dua yaitu:

  1. Hak milik perorangan. Contoh: rumah, pakaian, dll.
  2. Hak milik umum. Contoh: kereta api, museum, jalan, dll.

Hak milik juga sama seperti hak-hak yang lainnya, yang mempunyai dua kewajiban yakni:

Ø Wajib bagi orang banyak supaya menghormati milik perseorangan

Ø Wajib bagi pemilik supaya mempergunakannya dengan sebaik-baiknya.[6]

d) Hak mendidik

Setiap orang pada hakikatnya memiliki hak untuk mendidik pribadi dan belajar menurut kecakapan dan bakatnya. Manusia diberi hak ini dikarenakan pendidikan merupakan sebagian alat untuk mencapai kemerdekaan dan alat untuk hidup yang tinggi.

Selain pembagian hak-hak diatas terdapat juga suatu hak yang menyangkut hak pencipta dan hak ciptaan-Nya(manusia). Hak pencipta atas ciptaan-Nya antar lain ialah:

  1. Manusia(hamba) harus menyembah Pencipta(Allah).

Sebagaimana firman Allah dalam surat Adz Dzariyat ayat 56:

و ما خلقت الجنّ والانس الاّ ليعبدون (الذاريات:56)

Artinya:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.[7]

  1. Manusia(hamba) tidak menyekutukan-Nya.
  2. Manusia(hamba) harus mengabdi kepada-Nya.
  3. Manusia(hamba) harus mentaati-Nya.[8]
  4. Manusia(hamba) harus meminta bantuan hanya kepada-Nya.
  5. Manusia(hamba) harus menyerahkan segala ketentuan pada-Nya setelah berikhtiyar.[9]

Sedangkan hak manusia(hamba) atas pencipta-Nya antara lain adalah:

  1. Diberikan rahmat dan hidayah.
  2. Diberikan jiwa yang tenteram.
  3. Di dunia dikaruniai agama yang fitrah.
  4. Di akhirat disediakan surge yang indah.[10]

2.2 Kewajiban

Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung jawab. Sedangkan menurut ahli-ahli etika nenyatakan bahwa wajib merupakan sebuah perbuatan akhlak yang ditimbulkan oleh suara hati.[11] Kewajiban tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, dikarenakan manusia merupakan makhluk individu dan sosial. Apa saja yang dilakukan sesorang dapat menyebabkan pengaruh hubungannya sebagai makhluk sosial. Pola hubungan yang baik antara individu satu dengan individu yang lain dikarenakan adanya kewajibab-kewajiban yang harus dipenuhi.

Dalam ajaran Islampun menekankan atas kewajiban sebagai seorang mslim dengan muslim lain harus dijalankan. Sebagainama hadits Rasulullah yang artinya:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta kasih dan rahmat hati bagaikan satu badan, apabiala satu menderita maka menjalarlah penderitaan itu keseluruh badan hingga tidak dapat tidur dan panas”(HR. Bukhari Muslim).

Selain kewajiban kepada orang lain, seorang muslim juga memiliki kewajiban kepada diri sendiri salah satunya adalah memiliki sifat rendah diri. Sebagaimana yang diterangkan dalam firman Allah surat al Hijr ayat 88:

لا تمدّنّ عينيك الى ما متّعنا به ازواجا مّنهم ولا تحزن عليهم واخفض جنا حك للمؤمنين (الحجر:88)

Artinya:

“Jangan sekali-kali engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah kami berikan kepada beberapa golongan diantara mereka dan jangan engkau bersedih hati terhadap mereka dan berendah hatilah engkau terhadap orang beriman”.[12]

Dari keterangan-keterangan diatas dapat diketahui bahwasannya setiap orang hendaknya menunaikan kewajibannya karena manusia hidup di dunia ini tidak dapat hidup sendiri. Semua orang wajib menunaikan kewajibannya karena itu merupakan suatu kewajiban. Kita wajib menunaikannya karena taat pada suara hati kita, bukan karena menhendaki suatu keuntungan yang akan kita capai serta bukan karena suatu kemasyhuran yang kita kejar.

Dalam melakukan suatu kewajiban, kita banyak menghadapi kesulitan-kesulitan yang harus kita tanggung, bahkan terkadang membutuhkan pengorbanan kita sebagai pelaku suatu kewajiban, baik pengorbanan tersebut membawa kita pada suatu keadaan menderita atau gembira. Akan tetapi  kita wajib memgiingat dua perkara yang dipandang kebanyakan orang salah. Dua perkara tersebut adalah:

  1. Sesungguhnya pengorbanan itu tidak mungkin dijadikan tujuan yang hendak dicapainya. Pengorbanan itu adalah sakit yang semata-mata wajib kita hindari kecuali bila mendatangkan kebaikan.
  2. Untuk menunaikan kewajiban tidak tentu harus mengemukakan antara wajib dan korban.

Kewajiban dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu:

1) Kewajiban perseorangan(pribadi).

Maksudnya setiap individu memiliki kewajiban terhadap diri pribadinya sendiri.

2) Kewajiban kemasyarakatan(sosial).

Selain sebagai makhluk individu, manusia juga sebagai makhluk social, maka keterikatan tersebut membuat manusia memiliki kewajiban sebagai anggota masyarakat.

3) Kewajiban kepada Tuhan.[13]

Ada lagi yang membagi wajib itu menjadi dua yakni:

  1. Kewajiban terbatas.
  2. Kewajiban tidak terbatas.[14]

Selain kewajiban-kewajiban yang telah disebutkan diatas, terdapat kewajiban-kewajiban yang terpenting. Kewajiban-kewajiban itu adalah:

  1. Kewajiban manusia kepada Tuhan
  2. kewajiban untuk bertaqwa kepadaNya, dengan sebenar-benarnya taqwa.
  3. Melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.
  4. Mencintai-Nya.
  5. Menjunjung tinggi serta memperbanyak syukur kepada-Nya.
  6. Beribadah kepada-Nya.
  7. Kewajiban manusia kepada bangsanya.

2.3 Keutamaan

Keutamaan ialah akhlak yang baik. Dan akhlak itu sendiri adalah kehendak yang dibiasakan. Sedangkan sifat utama ialah kehendak orang dengan membiasakan sesuatu yang baik.[15] Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa orang utama adalah orang yang mempunyai akhlak baik yang membiasakan memilih perbuatan yang sesuai dengan apa yang diperintahkan. Sehingga keutamaan merupakan sifat jiwa sedangkan kewajiban hanya perbuatan luar.

Keutamaan juga dapat disimpulkan sebagai segala yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan maksud dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahkan juga terdapat dalam Kalamullah:

ياء يها الذين امنوا اطيعوا الله واطيعوا الرسول واولى الامر منكم فان تنازعتم فى شيء فردوه الى الله والرسول ان كنتم تؤمنون بالله واليوم الاخر ذلك خير وّ احسن تاء ويلا (النساء :59)

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.(An-Nisa’ 59).

Dalam ta’wil yang di khabarkan, Ayat ini tetap (tidak berubah), dan bahwasanya (menghadapi persoalan baru yang bertentangan pendapat antara ulama’ satu dengan ulama’ lain) lebih Utama mengembalikan sesuatu tersebut kepada ta’wil dasar hukumnya, baik lebih utama hakikat-nya (kebenaran-nya), lebih utama Mudhir-nya (yang di nyatakan-nya), maupun murji’-nya (pengembalian kepada Al-Quran & Al-Hadits).[16]

Selain pengertian-penegrtian diatas, keutamaan diartikan dengan berbagai tafsiran menurut beberapa keadaan diantaranya adalah:

Ø Menurut perbedaan masa. Contohnya ialah Keberanian dulu diartikan tahan dari penderitaan badan, tetapi kini diartikan lebih luas  dari itu. Begitupun dengan adil.

Ø Menurut perubahan akal dan pergaulan bangsa bangsa. Contoh kebijakan seseorang dengan memberi sedekah adalah terhitung keutamaan yang terpenting pada abad  pertengahan sedangkan pada masa sekarang ini soal keutamaan tersebut menjadi tempat kecaman.

Ø Menurut perbedaan keadaan masing-masing orang dan perbuatan mereka. Contoh keutamaan saudagar tidak sebagai keutamaan ahli pengetahuan.

Amat sukar sekali untuk memperdalam soal ini. Dan menerangkan perbedaan yang kecil-kecil di antara orang-orang yang menimbulkan perbedaan di dalam nilai keutamaan pada umumnya. Seperti jujur, adil, dan sebagainya.

Keutamaan dapat dimasukkan di dalam keutamaan yang lebih seperti jujur dapat dimasukkan di dalam arti adil dan rasa puas. Sebagian keutamaan dilahirkan dari gua keutamaan atau lebih ,seperti sabar tibul jadi perwira dan berani.

Terdapat beberapa pendapat tokoh tentang pokok keutamaan yang menjadi dasar bagi keutamaan yang laindiantaranya adalah:

Socrates berpendapat bahwa “tidak ada keutamaan kecuali pengetahuan(ilmu)”. Yang dapat disimpulkan bahwa:

  1. Sesungguhnya manusia itu tidak dapat berbuat kebaikan kalau tiada tahu kebaikan.
  2. Pengetahuan manusia tentang baiknya sesuatu itu tentu mendorong untuk mengerjakannya.

Socrates memperluas teorinya. Maka menurut pendapatnya bahwa manusia yang baik itu ialah yang mengetahui kewajibannya. Tepatlah Socrates  di dalam mengambil kesimpulan bahwa dasar keutamaan itu ialah pengetahuan, karena manusia tidak menjadi utama sehingga mengetahui kebaikan dan perbuatannya ditujukan ke arah kebaikan.

Aristoteles menolak pandangan Socrates karena menurutnya jiwa manusia tidak hanya tersusun dari akal. Kebanyakan perbuatan manusia itu dikuasai oleh perasaan dan syahwat. Menurut pendapat Socrates keutamaan itu hanya ada satu. Ialah pengetahuan atau boleh engkau namai kebijaksanaan, sedang keutamaan lain-lainnya seperti berani, perwira, dan adil, hanya gejalanya dan bersumber dari padanya.

Plato berpendapat bahwa keutamaan yang benar bukan hanya pebuatan yang benar. Karena perbuatan yang benar terkadang timbul dari dasar yang batal. Akan tetapi, keutamaan yang benar ialah perbuatan baik yang timbul dari pengetahuan benar dan sebab apa ia benar. Dari itu ia membagi keutamaan itu, menjadi: keutamaan filsafat dan keutamaan biasa. Keutamaan filsafat ialah perbuatan baik yang berdasar dengan akal dan timbul dari pendirian yang dipeluknya setelah mempergunakan pikiran. Adapun keutamaan biasa ialah perbuatan baik yang timbul karena adat atau perasaan baik. Keutamaan yang kedua ini ialah keutamaan bagi umumnya orang; mereka berbuat kebaikan karena orang-orang mengerjakannya dengan tiada berfikit sebab-sebab kebaikannya.

Adapun Aristoteles berpendapat bahwa pokok-pokok keutamaan ialah “Tunduknya syahwat kepada hukum akal” atau dengan arti lain: “Menyerahnya syahwat kepada akal yang memimpinnya” keutaman itu mempunyai dua anasir: akal dan syahwat.

Perkataan tersebut menarik kepada Aristoteles untuk meletakkan “Teori Tengah-tengah” berarti bahwa tiap-tiap keutamaan itu di tengah-tengah antara dua keburukan, keburukan berlebih-lebihan dan keburukan berkurang maka keberanian umpamanya adalah di antara membabi buta dan takut, dermawan adalah di antara boros dan kikir dan demikianlah seterusnya.

Teori ini dibantah dengan beberapa bantahan

a) Tengah-tengah menurut keterangan Aristoteles berarti tidak selalu, di titik tengah-tengah berarti bahwa keutamaan itu dua jarak yang jauhnya tidak sama dari dua keburukan.

b) Banyak keutamaan yang tidak kelihatan bahw ia berada di tengah-tengah antara dua keburukan, seperti jujur, dan adil.

c) Kita tidak mempunyai ukuran yang tepat yang dapat menjelaskan titik tengah-tengah.

Keutamaan dibagi menjadi tiga:

  1. Perseorangan

1) Mengekang hawa nafsu

2) Mendidik nafsu

  1. Masyarakat

Keutamaan masyarakat mengandung sifat adil ialah menyampaikan hak-hak manusia kepada mereka dan kebajikan member kebutuhan mereka di atas hak-hak mereka.

  1. Agama

Keutamaan agama mengandung sifat-sifat manusia yang harus dipakai untuk Tuhannya.

Pandangan kita dalam memberi hukum kepada sesuatu akan baik dan buruknya, adalah suara hati itu menjadi petunjuk yang baik.[17]

Daftar Pustaka

[1] Prof. Dr. H. A.T. Soegito, S.H.,MM., dkk., Pendidikan Pancasila. Hal.105

[2] Drs. H.A. Mustofa,  Akhlak Tasawuf. Hal . 122.

[3]Ibid.

[4] Prof. Dr. Ahmad Amin, Etika Ilmu Akhlak. Hal.175.

[5] Prof. Dr. Ahmad Amin, op.cit. hal. 182,183.

[6] Ibid. hal. 185.

[7] Departemen  Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Hal. 523.

[8] Prof. Dr. H. Tohari Musnamar. Jalan Lurus Menuju Ma’rifatullah. Hal. 110.

[9] Prof. Dr. H. M. Amin Syukur. Tasawuf Kontekstual. Hal 335.

[10] Prof. Dr. H. Tohari Musnamar. Op.cit. hal 111.

[11] Prof. Dr. Ahmad Amin, op.cit. hal. 192.

[12] Departemen  Agama RI. Op.cit. Hal. 266.

[13] Drs. H.A. Mustofa, op.cit. hal. 139.

[14] Drs. H.A. Mustofa, op.cit. hal. 140.

[15] Prof. Dr. Ahmad Amin, op.cit. hal. 204.

[16] Abdullah bin Abdurrahman Al-jabirin, Syarah Al-Aqidah at-thoqawiyah  jus 1, (Mesir: darussalam lithoba’iyah wannasar at-tauzi’ wattarjamah, tt), hlm, 472

[17] Prof. Dr. Ahmad Amin, op.cit. hal. 207,209,211,212.

1 Trackback / Pingback

  1. Makalah Kalimat Dan Pembagian Kalimat Bahasa Arab

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*