Makalah Tentang Aspek Sosial Budaya Yang Benar Lengkap

Makalah Pembangunan Ekonomi

Makalah Tentang Aspek Sosial Budaya Yang Benar Lengkap

MakalahkitaMakalah Tentang Aspek Sosial Budaya Yang Benar Lengkap yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Kembali ke tema pembahasan contoh makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas makalah sekolah maupun tugas makalah kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

Adapun untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

 Dalam masyarakat pada umumnaya pentingnya akan kesehatan masih banyak yang belum sepenuhnya memahami,terutama pada orang awam yang masih menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya  daerah mereka dan kepercayaan pada nenek moyang atau orang terdahulu sebelum mereka,meraka masih mempercayai mitos-mitos tentang cara-cara mengobati masalah kesehatan,padahal pada faktanya kegiatan mereka tersebut malah menjadi penghambat dalam peningkatan kesehatan masyarakat terutama masalah kesehatan ibu dan anak.apa lagi di era sekarang ini kondisi kesehatan ibu dan anak sangat-sangat memprihatinkan.masih banyak anak-anak yag nutrisi dan gizinya belum tercukupi,karena sebagian masyarakat masih menganggap bahwa apa yang telah di berikan orang terdahulu mereka harus di berikan kepada anak mereka sekarang.

          Pada ibu hamil juga masih banyak mitos-mitos yang di percaya untuk tidak di lakukan,padahal itu harus di lakukan untuk kesehatan ibu dan janin yang di kandungnya,misalnya seperti di larang makan ikan laut,padahal ikan laut itu bergizi tinngi dan banyak mengandung protein yang bagus untuk kesehatan ibu dan janin,tapi mitos dalam budaya mereka melarang larang untuk memakannya.pada budaya di daerah mereka ada juga ritual untuk wanita yang sedang hamil,seperti upacara mengandung empat bulan,tujuh bulan,dan lebih dari sembilang bulan.

       Menjadi seorang bidan desa dan di tempatkan pada desa yang plosok dan masih tinggi menjunjung adat istiadat budayan dan mempercayai mitos sangatlah susah dan penuh perjuangan mental dan raga,karena masyarakatnya lebih mempercayai mitos dari pada tenaga kesehatan seperti bidan,mereka masih mempercayai dukun untuk menolong persalinan atau pun menyembuhkan penyakit yang di derita masyarakat dan anak.padahal persalinan dengan bantuan dukun akan menakutkan sekali,karena takut terjadinya infeksi paska persalian,misalnya penularan penyakit selama persalinan,seperti pemotongan tali pusar dengan menggunakan gunting biasa atau belatih dari bambu,padahal seharus naya semua alat yang di gunakan dan gunting tersebut harus di sterilkan terlebih dahulu,tapi kalau dukun tidak melakukan hal itu.

            Jadi tugas kita sebagai tenaga kesehatan bidan dalam upaya untuk menanggulangi maslah-masalah tersebut dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak kita harus merubah paradigma masyarakat awam tentang ke jelekan tenaga kesehatan bidan di mata orang awam,karena bidan lebih berkompeten dalam melkukan tindakan karena sudah mendapatkan ilmu yang banyak dan mengetahui tentang maslah dan penanggulanganya secara baik dan benar sesuai prosedur kesehatan yang ada.dan pemerintah juga harus berperan dalam pengadaan penunjang untuk mencapai mengurangi kematian ibu dan bayi yang dalam program pemerintah di beri nama sasaran milineum development goals (MDGs).sehingga menciptakan sebuah masyarakat yang tanggap dan berperan aktif dengan maslah kesehata,terutama untuk diri mera sendri,dan menjadikan suami siaga pada saat akan persalinan,dan tercapai lah tujuan pemerintah tecapai tindakan untuk membuwat “ibu selamat,bayi sehat,dan suami siaga.

2. RUMUSAN MASALAH

  1. Apa yang dimaksud aspek sosial budaya pada setiap perkawinan?
  2. Apa yang dimaksud aspek sosial pada setiap trimester kehamilan ?
  3. Bagaimana aspek budaya selama persalinan kala I,II,III,IV ?
  4. Bagaimana aspek sosial budaya dalam masa nifas ?
  5. Bagaimana aspek sosial budaya yang berkaitan dengan BBL ?

3. TUJUAN

  1. Mengetahui  apa saja aspek sosial budaya pada setiap perkawinan
  2. Mengetahui apa saja   aspek sosial pada setiap trimester kehamilan
  3. Mengetahui apa saja budaya selama persalinan kala I,II,III,IV
  4. Mengetahui apa  sosial budaya dalam masa nifas
  5. Mengetahui apa saja aspek sosial budaya yang berkaitan dengan BBL

BAB II

TINJAUAN TEORI

1.Aspek Budaya

Pengertian Budaya Kebudayaan berasal dari kata sansekerta buddayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi, yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan berarti hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Adapun ahli antropologi yang merumuskan definisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah Taylor, yang menulis dalam bukunya: “Primitive Culture”, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan lain, serta kebiasaan yang di dapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat (Ranjabar, 2006).

Definisi lain dikemukakan oleh Linton dalam buku: “The Cultural Background of Personality”, bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang dipelajari dari hasil tingkah laku, yang unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu, (Sukidin, 2005).Sepertu halnya budaya ini berkembang seiring waktu seperti contohnya kebudayaan saat akan perkawinan maupun kebudayaan lainya.

Perkawinan merupakan peristiwa yang sangat penting dalam masyarakat. Dengan hidup bersama, kemudian melahirkan keturunan yang merupakan sendi utama bagi pembentukan negara dan bangsa. Aspek sosial dan budaya sangat mempengaruhi pola kehidupan manusia. Di era globalisasi sekarang ini dengan berbagai perubahan yang begitu ekstrem menuntut semua manusia harus memperhatikan aspek sosial budaya. Salah satu masalah yang kini banyak merebak di kalangan masyarakat adalah kematian ataupun kesakitan pada ibu dan anak yang sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka berada.

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak tersebut diyakini memerlukan pengetahuan aspek sosial budaya dalam penerapannya kemudian melakukan pendekatan-pendekatan untuk melakukan perubahan-perubahan terhadap kebiasaan-kebiasaan yang tidak mendukung peningkatan kesehatan ibu dan anak. Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin.

Tingkat kepercayaan masyarakat kepada petugas kesehatan, dibeberapa wilayah masih rendah. Mereka masih percaya kepada dukun karena kharismatik dukun tersebut yang sedemikian tinggi, sehingga ia lebih senang berobat dan meminta tolong kepada ibu dukun. Di daerah pedesaan, kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun beranak untuk menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah.Pada  tahun 1992 rnenunjukkan bahwa 65% persalinan ditolong oleh dukun beranak. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek-praktek persalinan oleh dukun yang dapat membahayakan si ibu(Data Survey Kesehatan Rumah Tangga, 1992)

 Penelitian Iskandar dkk (1996) menunjukkan beberapa tindakan/praktek yang membawa resiko infeksi seperti “ngolesi” (membasahi vagina dengan minyak kelapa untuk memperlancar persalinan), “kodok” (memasukkan tangan ke dalam vagina dan uterus untuk rnengeluarkan placenta) atau “nyanda” (setelah persalinan, ibu duduk dengan posisi bersandardan kaki diluruskan ke depan selama berjam-jam yang dapat menyebabkan perdarahan dan pembengkakan).

Indonesia sebagai negara yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa (multietnik), dengan derajat keberagaman yang tinggi dan mempunyai peluang yang besar dalam perkawinan yang berbeda budaya. Perkawinan yang dilangsungkan mengandung nilai-nilai atau normanorma budaya yang sangat kuat dan luas, ( Abu dalam Natalia & Iriani, 2002). Budaya yang berbeda melahirkan standar masyarakat yang berbeda dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk juga dalam mengatur hubungan perkawinan adat istiadat. Namun diantara berbagai bentuk yang ada, perkawinan merupakan salah satu contoh yang dapat dilihat secara adat istiadat suku setempat yang dapat diterima serta diakui secara universal, ( Duvall dalam Natalia & Iriani, 2002 ).

Masalah penyesuaian adalah suatu hal yang sifatnya universal dan unik, karena setiap individu mau tidak mau harus menghadapi masalah atau kesulitan dalam kehidupannya sehingga perlu melakukan penyesuaian. Sumber masalah tersebut dapat berubah-ubah pada tiap periode kehidupan, untuk itulah perlu melakukan penyesuaian. Pada saat seorang pria dan seorang wanita menikah, tentunya masing-masing membawa nilai-nilai budaya, sikap, keyakinan, dan gaya penyesuaian sendiri-sendiri ke dalam perkawinan tersebut. Masaing-masing memiliki latar elakang dan pengalaman yang berbeda, tentu saja ada perbedaan dalam susunan nilai serta tujuan yang ingin dicapai, untuk itulah perlu dilakukan penyesuaian sehingga kebutuhan dan harapan masing-masing pasangan dapat terpenuhi dan memuaskan.

2. Aspek Sosial Budaya Pada Setiap Perkawinan

Berdasarkan aspek sosial budaya pola penyesuaian perkawinan dilakukan secara bertahap  pada fase pertama adalah bulan madu, pasangan masih menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan, hal itu karena didasari rasa cinta di awal perkawinan. Pada fase pengenalan kenyataan, pasangan mengetahui karakteristik dan kebiasaan yang sebenarnya dari pasangannya. Dapat dilihat pada tabel berikut.

Aspek sosial budaya perkawinanPengaruhnya /dipercayai karenaAsal daerahAlasan RasionalKesimpulan
Merariq,peculikan seorang gadis yang dilakukan oleh laki-laki yang akan menikahiAgar mereka berdua direstui oleh kedua orang tua, dan agar pernikahanya dilancarkan nantinyaLombok,NTBTidak perlu dilakukan peculikan, karena restu akan didapatkan ketika dibicarakan baik-baik tidak dengan cara seperti iniTidak berhubungan
Dipingit, pembatasan untuk calon mempelai laki-laki dan mempelai perempuan yang akan menikahAgar nantinya kedua mempelai tidak terjadi sesuatu seperti meninggal, dipercayai juga agar pernikahan nya lancar.Bangli, BaliKedua mempelai harus merencanakan membuat planing yang akan dilakukan ketika akan menikah dan harus saling bertukar pendapat ataupun saling mengenalTidak berhubngan

3. Aspek Sosial Budaya Pada setiap Trimester Kehamilan

`Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yamg amat perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya dan komplikasi kematian ketika persalinan, disamping itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku perwatan kehamilan (ANC) adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. Fakta berbagai kalangan dimasyarakat indonesia, masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang  biasa, alamiah, dan kodrati. Meraka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter. masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Hal ini kemungkinan disebabkan tingkat pendidikan yang rendah dan kurangnya informasi serta dipengaruhi juga faktor-faktor nikah pada usia muda yang masih banayak dijumpai di daerah pedesaan.

Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah masalah gizi hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan dan pantangan terhadap beberapa jenis makanan. Tidak heran jika anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi terutama didaerah pedesaan. Beberapa kepercayaan yang ada misalnya di jawa tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang duikandungnya kecil dan mudah dilahirkan.

Beberapa sampel contoh aspek budaya pada trimeseter kehamilan di daerah-daerah:

Budaya/kepercayaanDipercaya karenaAsal daerah
Untuk ibu hamil di trimester III ini diadakan upacara didaerah malukuKarena dipercaya bahwa banyak roh-roh jahat yang mengikuti bayinya tersebut.Maluku
Untuk ibu hamil pada trimester III tidak boleh makan telur dan makan dagingKarena dipercayai akan mempersulit pada saat persalinan, dan dapat terjadinya perdarahan yang banyak.Semarang, Jawa Tengah
Ibu hamil pada trimester III harus mengurangi porsi makananya.Karena dipercayai bayi yang akan dilahirkan itu kecil.Subang,Jawa Barat
Ibu hamil pada trimester III tidak diperbolehkan untuk pergi ke hutanKarena dipercaya ibu hamil trimester III itu janin yang dikandungnya belum terbentuk sempurna maka akan diganggu oleh makhluk gaib.Kalimantan Selatan

3. Aspek Sosial Budaya Selama Persalinan Kala I, II, III, IV

Aspek BudayaDipercayaiKaitanyaAlasanya
minum rendaman air rumput Fatimah akan merangsang mulas. Rumput Fatimah bisa membuat mulas pada ibu hamil.Tidak adabelum diteliti secara medis. Jadi, harus dikonsultasikan dulu ke dokter sebelum meminumnya. Soalnya, rumput ini hanya boleh diminum bila pembukaannya sudah mencapai 3-5 cm, letak kepala bayi sudah masuk panggul, mulut rahim sudah lembek atau tipis, dan posisi ubun-ubun kecilnya normal.
Minum minyak kelapa.memudahkan persalinan.Tidak adadalam dunia kedokteran, minyak tak ada gunanya sama sekali dalam melancarkan keluarnya sang janin
Minum madu dan telur.dapat menambah tenaga untuk persalinanAdaJika BB-nya cukup, sebaiknya jangan minum madu karena bisa mengakibatkan overweight. Bukankah madu termasuk rbonhidrat yang paling tinggi kalorinya. Jadi, madu boleh diminum hanya jika BB-nya kurang. Begitu BB naik dari batas yang ditentukan, sebaiknya segera hentikan. Akan halnya telur tak masalah, karena mengandung protein yang juga menambah kalori.
Makan duren, tape, dan nanas.bisa membahayakan persalinanadaIni benar karena bisa mengakibatkan perndarahan atau keguguran. Duren mengandung alkohol, jadi panas ke tubuh.

Sebenarnya, kelancaran persalinan sangat tergantung faktor mental dan fisik  ibu. Faktor fisik berkaitan dengan bentuk panggul yang normal dan seimbang dengan besar bayi. Sedangkan faktor mental berhubungan dengan psikologis ibu, terutama kesiapannya dalam melahirkan. Bila ia takut dan cemas, bisa saja persalinannya jadi tidak lancar hingga harus dioperasi.

Ibu dengan mental yang siap bisa mengurangi rasa sakit yang terjadi selama persalinan.Faktor lain yang juga harus diperhatikan adalah riwayat kesehatan ibu, apakah pernah menderita diabetes, hipertensi atau sakit lainnya; gizi ibu selama hamil, apakah mencukupi atau tidak; dan lingkungan sekitar, apakah men-support atau tidak karena ada kaitannya dengan emosi ibu. Ibu hamil tak boleh cemas karena akan berpengaruh pada bayinya. Bahkan, berdasarkan penelitian, ibu yang cemas saat hamil bisa melahirkan anak hiperaktif, sulit konsentrasi dalam belajar, kemampuan komunikasi yang kurang, dan tak bisa kerja sama.

4. Aspek Sosial Budaya dalam Masa Nifas

Masa nifas adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamnya enam minggu. Jadi arti keseluruhan dari aspek sosial budaya pada masa nifas adalah suatu hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia untuk mencapai tujuan bersama pada masa sesudah persalinan.

  1. macam-macam aspek sosial budaya pada masa nifas
Aspek sosial budayaSisi positiveSisi negative
Masa nifas dilarang makan telur, daging, udang, ikan laut dan lele,   keong ,daun lembayung, buah pare, nenas, gula merah, dan makanan yang berminyakTidak adaMerugikan karena masa nifas memerlukan makanan yang bergizi seimbang agar dan bayi sehat
Setelah melahirkan atau setelah operasi hanya boleh makan tahu dan  tempe tanpa garam ,ngayep´dilarang banyak makan dan minum, makanan harus disangan/dibakarTidak adaMerugikan karena makanan yang sehat akan mempercepatpenyembuhan luka.
Masa nifas dilarang tidur siangTidak adaAda, negative  karena masa nifas harus cukup istirahat, kurangi kerja berat. Karena tenaga yang tersedia sangat bermanfaat untuk kesehatan ibu dan bayi
Masa nifas /saat menyusui setelahAda, hal inidibenarkan karena dalam faktanya masa nifas setelah maghrib dapat menyebabkan badan masa nifas mengalami penimbunan lemak,disamping itu organ-organ kandungan pada masa nifas belum pulih kembaliDampak negative ibu menjadi kurang nutrisi sehingga produksi ASI menjadii berkuranngan.
Masa nifas tidak boleh keluar rumah sebelum 40 hari.Tidak adaDampak negative  hal ini tidak perlu karena masa nifas dan bayi baru lahir (pemberian imunisasi) harus periksa kesehatannya sekurang-kurangnya 2 kali dalam bulan pertama yaituumur0-7haridan8-30hari .
Ibu setelah melahirkan dan bayinya harus dipijat/ diurut, diberi pilis / lerongan dan tapelDampak positif jika pijatannya benar maka peredaran darah ibu dan bayi menjadii lancar.Dampak negative pijatan yang salah sangat berbahaya karena dapat merusak kandungan. Pilis dan tapel dapat merusak kulit bagi yang tidak kuat / menyebabkan alergi.
Masa nifas harus minum abu dari dapur dicampur air Masa nifas harus minum abu dari dapur dicampur air Masa nifas harus minum abu dari dapur dicampur air.Tidak adaDampak negative karena abu, garam dan asam tidak mengandung zat gizi yang diperlukan oleh ibu menyusui untuk memperbanyak produksi ASI nya.
Masa nifas tidak diperbolehkan berhubungan intim.Dampak positif  dari sisi medis, sanggama memang dilarang selama 40 hari pertama usai melahirkan. Alasannya, aktivitas yang satu ini akan menghambat proses penyembuhan jalan lahir maupun involusi rahim, yakni mengecilnya rahim kembali ke bentuk dan ukuran semula. Contohnya infeksi atau malah perdarahan. Belum lagi libido yang mungkin memang belum muncul ataupun pengaruh psikologis, semisalkekhawatiran akan robeknya jahitan maupun ketakutan bakal hamil lagiDampak negative tidakada.
  1. Aspek Sosial Budaya yang berkaitan dengan BBL

Contoh dari aspek budaya sebagai berikut:

Aspek sosial budayaFakta
Bayi baru lahir perlu dipijat setiap hariPemijatan hanya berguna jika dilakukan dengan benar dan tepat. Sebaiknya yang melakukan pijat adalah ibu si bayi sendiri. Tentu saja setelah mempelajari teknik memijat bayi dengan baik. Perlu diperhatikan kondisi si kecil, apakah ia sedang dalam keadaan nyaman dan sehat untuk dipijat. Selain itu perlu juga diperhatikan bahan-bahan atau minyak yang digunakan untuk memijat dapat membuat bayi alergi.
ng membedong bayi dapat memperkuat kaki atau membuat struktur kaki bayi menjadi lurusYang sebenarnya adalah sentuhan kulit ke kulit membuat bayi baru lahir, terutama bayi premature, lebih baik perkembangannya. Walaupun begitu, tidak diperlukan untuk memijatnya setiap hari. Yang perlu dilakukan adalah perbanyak sentuhan dan berkomunikasi dengan si kecil agar ia merasa nyaman dan aman.
makanan dan minuman yang manis membuat gigi berlubangBahwa gigi menjadi berlubang diakibatkan tiga hal, yaitu kuman, suasana asam dan keduanya berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Bila makanan yang mengandung gula menetap pada sela gigi, kuman akan mengubahnya menjadi asam. Kondisi asam disertai bakteri yang juga menjadi aktif pada suasana asam, adalah penyebab utama dari gigi berlubang. Diawali dengan kerusakan pada lapisan email gigi, jika dibiarkan lama kelamaan gigi menjadi berlubang. Hal-hal yang dapat menyebabkan gigi berlubang antara lain adalah kebiasaan mengemut atau minum susu dengan botol sampai tertidur. Makanan manis tidak secara langsung menyebabkan gigi berlubang, tapi memudahkan pertumbuhan kuman penyebab kerusakan gigi jika tidak rajin membersihkan gigi dan mulut.
Jika anak rewel saat diberi ASI artinya ASI sedikit dan harus diganti susu botolASI diproduksi sesuai dengan hisapan si bayi, jadi banyak sedikitnya ASI ditentukan oleh bayi sendiri. Bayi yang banyak minum ASI akan membuat produksi ASI meningkat. Jadi, sebenarnya tidak ada istilah ASI sedikit.
Bahwa kondisi tertentu mungkin dapat mengurangi produksi ASI, seperti jika ibu menyusui mengkonsumsi obat-obatan tertentu, stress atau tidak tenang saat menyusui, sedang sakit dan sebagainya. Di sisi lain, bayi mungkin merasa tidak nyaman saat menyusu karena posisi yang kurang nyaman, puting susu yang cenderung masuk ke dalam, ASI yang memancar terlalu kencang atau ia sedang tidak lapar, sedang tidak enak badan dan sebagainya..
Air susu ibu (ASI) sebagai makanan yang komplit sampai usia si kecil satu tahunASI sangat baik untuk pertumbuhan bayi sampai sia berusia 6 bulan. Namun semakin bertambahnya usia bayi, ASI tidaklah mengandung cukup kalori dan kurang mengenyangkan seiring dengan makin aktifnya si kecil. Ada beberapa zat tambahan yang dibutuhkan anak, misalnya zat besi dan vitamin C yang banyak didapat dari sumber makanan. Jadi, anak tetap memerlukan makanan tambahan untuk kebutuhan gizinya juga untuk menghindari resiko anemia.
Baby walker membantu anak berlatih berjalanJustru sebaliknya, baby walker dapat menghambat perkembangan motorik anak. Anak tanpa baby walker dapat lebih bebas bergerak, berguling, duduk dan berdiri serta bermain di lantai yang merupakan dasar untuk belajar berjalan. Penelitian pada saudara kembar menunjukan kembar yang menggunakan baby walker mengalami gangguan motorik berjalan ketimbang saudaranya. Baby walker tidak lagi disarankan karena menjadi penyebab utama kecelakaan pada bayi usia 5-15 bulan.
Gurita mencegah perut buncitpepemamakaian gurita pada bayi—terutama bayi perempuan, sama sekali tidak ada hubungannya dengan upaya pencegahan agar perut anak Anda tidak melar ketika ia dewasa. Ketika dilahirkan, semua bayi memang memiliki perut yang ukurannya lebih besar daripada dada. Seiring pertambahan usia, perut bayi akan kelihatan mengecil dengan sendirinya. Pemakaian gurita malah sebaiknya dihindari karena membuat bayi Anda susah bernapas. Pasalnya, pada awal kehidupan, bayi bernapas dengan menggunakan pernapasan perut sebelum ia belajar menggunakan pernapasan dada. Pemakaian gurita yang menekan perut bisa membatasi jumlah udara yang dihirupnya. Mitos ini tak benar, karena organ dalam tubuh malah akan kekurangan ruangan. Dinding perut bayi masih lemas, volume organ-organ tubuhnya pun tak sesuai dengan rongga dada dan rongga perut yang ada karena sampai 5 bulan dalam kandungan, organ-organ ini terus tumbuh sementara tempatnya sangat terbatas. Jika bayi menggunakan gurita maka ruangan untuk pertumbuhan organ-organ ini akan terhambat. Kalau mau tetap memakaikan gurita, boleh saja. Asal ikatan bagian atas dilonggarkan sehingga jantung dan paru-paru bias berkembang. Bila gurita digunakan agar tali pusar bayi tidak bodong, sebaiknya pakaikan hanya disekitar pusar dan ikatannya longgar. Jangan sampai dada dan perut tercekik sehingga jantung tidak bias berkembang dengan baik karena gurita yang terlalu kencang.
Pusar ditempel uang logam supaya tidak bodongpupusar menonjol atau sering diistilahkan bodong pada bayi adalah kondisi yang wajar. Sebab, otot dinding perut pada bayi masih lemah sehingga bisa mempengaruhi bentuk pusar. Seiring bertambah kuatnya dinding perut, bentuk pusar juga akan mengalamiperubahan.
Bedong agar kaki bayi tidak bengkokTittidak ada hubungan antara membedong dengan kekuatan kaki atau struktur kaki bayi. Justru bayi akan lebih mudah bergerak untuk melatih kaki dan tangannya, jika bedong dilakukan dengan longgar. Biarkan kaki dan tangan bayi bebas bergerak.
Membedong anak sekuat mungkin tidak ada hubungannya sama sekali untuk meluruskan kaki bayi. Semua kaki bayi memang bengkok pada awalnya. Hal ini berkaitan dengan posisi bayi yang meringkuk di dalam rahim. Nanti, dengan semakin kuatnya tulang anak dan kian besarnya keinginan untuk bisa berjalan, kaki anak akan lempeng sendiri. Perkembangan fisiologis kaki memang seperti itu.

TBawang yang dicampur minyak dikenal bias menurunkan panassecara ilmiah benar, karena bawang adalah tumbuhan yang mengeluarkan minyak yang mudah menguap dan menyerap panas.Upacara tedak siti (menginjak tanah) saat bayi 6-7 bulansecara ilmiah pun ternyata salah, karena pas dengan usia reflex menapak bayi. Di permukaan badan terdapat putik saraf yang bias menjadi sensor tekanan. Saraf ini tumbuh saat bayi 6-7 bulan, bersamaan dengan tumbuhnya struktur otak untuk keseimbangan dan alat-alat keseimbangan untuk posisi berdiri. Tak heran jika di usia ini bayi sudah mulai belajar menapak.Hidung ditarik agar mancungini jelas salah, karena tidak ada hubungannya menarik pucuk hidung dengan mancung atau tidaknya hidung. Mancung atai tidaknya hidung seseorang ditentukan oleh bentuk tulang hidung yang sifatnya bawaanBayi usia seminggu diberi makan pisang dicampur nasi agar tidak kelaparanhal ini salah, karena pasalnya usus bayi diusia ini belum punya enzim yang mampu mencerna karbohidrat dan serat-serat tumbuhan yang begitu tinggi. Akibatnya bayi jadi sembelit, karena makanan padat pertama adalah di usia 4 bulan, yakni bubur susu dan 6 bulan makanan padat kedua yaitu bubur tim.

BAB III

HASIL WAWANCARA

1.ASPEK BUDAYA PERKAWINAN

       Menurut wawancara yang kami lakukan pada narasumber kami Bapak Sunarno, Kepala bagian kesejahteraan desa Panggungharjo, Sewon, Bantul beliau menjelaskankan bahwa banyak sekali budaya  di negara kita ini. Budaya tersebut termasuk budaya perkawinan. Berbagai macam budaya berkembang di Indonesia yang masih melekat di masyarakat, apalagi disuku-suku tertentu.

       Beliau mengatakan sebagai seorang bidan kami haruslah memelajari aspek sosial budaya masyarakat. Hal ini dikarenakan bidan adalah tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Dalam budaya perkawinan, seorang bidan harus mengerti dan mempelajari budaya tersebut karena perkawinan menjadi pintu gerbang terbukanya generasi muda yang baik.  Menurut beliau, kami perlu memberikan pendidikan praperkawinan agar pasangan yang akan menikah agar mereka dapat berumah tangga dengan baik. Kemudian, cara memberikan edukasi tersebut juga disesuaikan dengan kondisi kebudayaan setempat.

2. KEHAMILAN

   Selain menimbulkan kebahagiaan bagi wanita dan pasangannya, kehamilan juga dapat menimbulkan kekhawatiran pada wanita pada trimester 1,2 dan 3. Dengan menerapkan manajemen asuhan kebidanan diharapkan bidan memperhatikan kebutuhan dasarmanusia dalam aspek bio-psiko-sosial-budaya dan spiritual.

       Menurut narasumber, kehamilan adalah proses seorang wanita dalam melahirkan generasi bangsa. Contoh budaya kehamilan yang ada dimasyarakat misalnya di suku jawa, yaitu “nujuh bulanan” yaitu acara yang diselenggarakan ketika kandungan sudah menginjak 7 bulan, atau masuk trimester ke 3. Menurut suku jawa acara tersebut berisi harapan agar janin yang di dalam kandungan tumbuh menjadi anak yang baik, soleh-solehah, dan berbakti pada orangtua.

Beliau mengatakan aspek sosial budaya yang dalam masa kehamilan sanagt perlu untuk di pelajari sebagai seorang bidan. Karena jika ada adat atau upacara dalam masa kehamilan itu membahayakan baik pada ibu ataupun janin maka bidan harus meluruskan adat tersebut. Caranya dengan memberikan pengertian atau edukasi tentang bagaimana perawatan yang baik pada masa kehamilan.

3. PERSALINAN

       Persalinan adalah proses lahirnya janin ke dunia. Persalinan melalui tahap kala I, kala II, kala III, dan kala IV. Kala I dimulai ketika pembukaan 1-10 cm, kemudian kala II dimulai ketika pembukaan sudah lengkap disusul dengan lahirnya seluruh tubuh janin. Kala III adalah saatbayi lahir lalu disusul dengan kelahiran plasenta, dan yang terakhir adalah kala IV yaitu lahirnya plasenta dan 1 jam setelah itu.

       Narasumber mengatakan bahwa saat persalinan peran bidan sangat penting karena yang menolong persalinan. Beliau menjelaskan budaya yang sering dilakukan ketika proses persalinan adalah mengubur “ari-ari” atau plasenta di dekat rumah dan kemudian diberi penerangan serta dibuat pelindung. Mereka berpendapat bahwa maksud dari agar si anak dekat dengan keluarganya, bersikap baik, dan menghormati orang tua.

4. NIFAS

Setelah proses persalinan, maka selanjutnya adalah masa nifas. Masa nifas adalah masa dimana kembali pulihnya keadaan ibu setelah persalinan hingga kembali seperti sebelum hamil. Masa nifas dimulai dari keluarnya plasenta hingga sekitar 40 hari. Dalam masa nifas seorang ibu harus banyak mengkonsumsi nutrisi untuk mengembalikan tubuhnya seperti sedia kala.

Kami mengatakan kepada narasumber dalam masyarakat banyak sekali tumbuh budaya-budaya yang ada ketika masa nifas, misalnya ada yang mengatakan bahwa pada masa nifas ibu tidak boleh mengkonsumsi telur, ikan, dan makanan lain yang berbau amis. Kemudian narasumber menanggapi budaya atau kebiasaan tersebut justru memberikan dampak negatif, karena jika ibu nifas kurang asupan nutrisi maka tubuhnya pasti akan terasa letih dan bisa terjangkit penyakit.

5. BAYI BARU LAHIR

       Bayi baru lahir, normalnya memiliki berat  2500 gr – 4000 gr. Bayi baru lahir memang sangat rentan, apalagi terhadap suhu. Jika bayi kedinginan maka tubhnya akan berwarna biru dan akan mengalami hipotermi. Selain itu perawatan pada bayi baru lahir juga sedikit ektra, seperti tetap menjaga suhu tubuhnya, menjaganya dari iritasi, karena kulit bayi masih sangat tipis dan halus serta asupan asi untuk bayi. Budaya masyarakat terkait oleh bayi baru lahir seperti menggedong agar kaki bayi tidak bengkok, memakaikan gurita agar bayi tetap hangat, dan ada yang menolak untuk imunisasi.

        Menurut narasumber bidan harus memilah dan memilih serta mengedukasi tentang cara-cara perawatan bayi baru lahir. Mengingat bayi baru lahir masih sangat rentan terhadap penyakit. Apalagi ada sebagian masyarakat yang menolak imunisasi pada bayinya, jelas ini sangat berdampak negatif. Narasumber juga mengatakan tidak di berinya imunisasi pada bayi justru akan memperbesar resiko bayi tertular penyakit atau terinfeksi penyakit. Sebagai seorang bidan beliau menganjurkan agar kami lebih dapat menjenlaskan manfaat imunisasi bagi bayi baru lahir.


BAB IV

KASUS DAN PEMECAHAN MASALAH

1.Perkawinan

  1. Kasus

Seorang laki-laki berumur 51 tahun, dan seorang  perempuan berumur 48 tahun. Mereka telah memasuki usia perkawinan selama 25 tahun. Mereka memiliki 2 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan. Pada awal 5 tahun pertama mereka banyak menyesuaikan diri satu sama lain terlebih dengan adanya perbedaan budaya diantara mereka. Sikap saling terbuka dan saling memahami merupakan aspek yang utama dalam menjalani kehidupan rumah tangga mereka. Selain itu faktor komunikasi yang terbuka dan aktif merupakan kunci keberhasilan perkawinan. Dari segi budaya, ditemukan titik temu antara budaya Batak dan budaya Jawa yaitu selalu mengedepankan nilai marsisarian atau sikap saling menghargai. Dimana mereka  dalam menghadapi kehidupan rumah tangga selalu mengedepankan sikap saling mengerti, menghargai, dan saling membantu satu sama lain sehingga semua masalah yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik.

  1. Analisis dan pemecahan masalah

Dalam kasus tersebut terlihat bahwa 2 budaya menjadi satu. Laki-laki dengan budaya batak dan perempuan dengan budaya jawa. Namun, mereka sudah lama menikah dan memiliki anak. Tercantum dalam kasus bahwa kunci keberhasilan perkawinan mereka adalah dengan saling terbuka dan saling memahami.

Mereka menemukan pemecahan masalah mereka dengan saling terbuka dan saling memahami satu sama lain. Rasa saling mengerti satu sama lain menjadikan mereka tetap bersama meskipun memiliki latar budaya yang berbeda. Budaya yang berbeda sebenarnya justru lebih banyak sisi positifnya, karena dengan budaya yang berbeda mereka bisa membandingkan dan mempelajari budaya lain dan mengambil yang baik dari budaya tersebut.

2. Kehamilan

  1. Kasus

Di provinsi Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan. Beberapa kepercayaan lain, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak.

  1. Analisa kasus dan pemecahan masalah

Ibu hamil khususnya trimester 3 (8-9 bulan), butuh energi  yang memadai. Selain untuk mengatasi beban yang kian berat, juga sebagai cadangan energi  untuk persalinan kelak.Itulah sebabnya pemenuhan gizi seimbang tak boleh dikesampingkan baik secara kualitas maupun kuantitas. Pertumbuhan otak janin akan terjadi cepat sekali pada dua bulan terakhir menjelang persalinan. Asupan gizinya meliputi, karbohidrat, vitamin, protein, tiamin dan air. Sedangkan dalam kasus diatas ibu hamil membatasi asupan gizi seperti itu justru akan menyebabkan ibu hamil kekurangan gizi. Jika ibu hamil kekurangan gizi maka akan banyak resiko yang terjadi seperti, terjadi anemia, persalinan macet serta BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah).

3. Persalinan

  1. Kasus

Baru-baru ini masyarakat mulai percaya bahwa rumput  fatimah dipercayai mampu mempercepat proses persalinan.

  1. Analisa dan pemecahan masalah

Rumput Fatimah (Labisa pumila) adalah tumbuhan semak asal Arab. Tanaman ini cukup popular . Rumput fatimah atau Labisa pumila ini mengandung oksitoksin yaitu zat yang digunakan oleh tubuh untuk merangsang kontraksi rahim, sehingga dipercaya dapat mempercepat persalinan. Zat sejenis oksitoksin yang terkandung di dalam rumput fatimah sama seperti obat yang diberikan untuk menginduksi ibu hamil agar terjadi kontraksi.

Kandungan oksitosin tersebut dosisnya tidak dapat diukur. Tumbuhan ini dipakai dengan cara akarnya direndam. Air rendaman inilah yang diminum. Semakin lama direndam, kadar oksitosin yang terlarut pun semakin pekat. Dosisnya bisa jadi berlipat-lipat. Minum rendaman akar rumput fatimah ini akan menimbulkan masalah, Jika mulut rahim belum terbuka, efek kuat kontraksi ini bisa berbahaya. Risikonya dapat menimbulkan pendarahan akibat kontraksi rahim sehingga menyebabkan pecahnya pembuluh-pembuluh darah dan stres otot. Kontraksi yang ditimbulkan akan sangat tinggi, tanpa ada jeda waktu istirahat. Yang sering terjadi, para ibu hamil sudah meminumnya dari rumah. Alhasil, kontraksinya benar-benar kencang. Tapi pembukaannya tidak sesuai dengan kontraksinya. Efeknya berbeda-beda, untuk ibu yang pembukaannya sudah hampir sempurna memang dapat membantu mempercepat kelahiran, namun bagi yang pembukaannya masih awal tentu tidak sesuai dengan kontraksi yang hebat tersebut. Jika tidak tahan akan kontraksi, ibu akan terus-terusan mengejan padahal pembukaan masih sedikit, sehingga besar kemungkinan rahim akan robek.

3. Nifas

  1. Kasus

Dalam budaya masyarakat jawa ibu nifas, tidak boleh mengkonsumsi telur, ikan, dan makanan yang berbau amis lainnya. Karena menurut kepercayaan mereka makanan tersebut membuat luka pasca bersalin menjadi lama pulihnya. Kemudian juga tidak boleh tidur siang dan tidak boleh pergi kemana pun selama 40 hari.

  1. Analisa dan pemecahan masalah

Masa nifas adalah masa pulihnya tubuh ibu pasca bersalin. Masa nifas terjadi sekitar 40 hari. Dalam masa nifas ibu butuh asupan gizi yang cukup terutama karbohidrat dan protein. Karena ibu nifas membutuhkan energi untuk melakukan aktifitasnyanya lagi setelah bersalin serta mengembalikan tubuh seperti sebelum hamil. Dengan dilarangnya ibu mengkonsumsi telur atau ikan tentu ibu nifas akan kekurangan protein, sedangkan protein adalah zat utama pembentuk rantai hemoglobin dalam sel darah merah. Jika zat pembentuk hemoglobin saja kurang maka ibu nifas bisa saja terkena anemia. Cepat atau lama kesembuhan luka pasca bersalin tergantung pada nutrisi yang ibu konsumsi. Justru ibu nifas sebaiknya mengkonsumsi zat protein tinggi seperti telur, ikan, dan ayam serta sayuran dan buah-buahan.

5. Bayi baru lahir

  1. Kasus

Budaya masyarakat indonesia mengenai bayi baru lahir, biasanya mereka mengenakan gurita pada bayi dan kemudian di bedong. Mereka mengatakan bahwa itu bertujuan agar perut bayi tidak kembung dan dengan di bedong kaki bayi tidak bengkok.

  1. Analisa dan pemecahan masalah

Pemakaian gurita dan bedong sebenarnya bertujuan agar bayi tetap hangat. Namun terkadang masyarakat menambahi-nambahi tujuan tersebut seperti bayi di bedong agar kakinya tidak bengkok. Bengkok tidaknya kaki bayi itu di karenakan asupan kalsium yang ibunya konsumsi saat hamil. Jika pada saat hamil ibu tidak banyak mengkonsumsi kalsium maka bayi pun akan menderita kekurangan kalsium bahkan kelainan tulang.

Pemakaian gurita yang terlalu ketat juga justru akan mempengaruhi perkembangan bayi, karena gurita yang terlalu ketat membuat bayi suka bernafas dan tidak memiliki lingkup gerak yang bebas. Karena itu jika bayi di kenakan gurita, ikatlah jangan terlalu ketat, sehingga masih ada ruang bayi untuk bebas bernafas. Begitu pula dengan bedong, jika terlalu ketat justru akan membuat bayi tidak bisa bergerak bebas. Pemakaian gurita dan bedong yang berasal dari bahan yang tidak sesuai juga bisa membuat iritasi pada kulit bayi.


BAB V

PEMBAHASAN

Lingkup pelayanan kebidanan sangatlah luas, mulai dari perkawinan, kehamilan, persalinan, nifas, BBL, bayi, balita, bahkan hingga menopause. Tentunya lingkup pelayanan tersebut juga mencakup tentang aspek sosial budaya masyarakat. Indonesia memang negara yang mempunyai banyak budaya baik khususnya dalam perkawinan, kehamilan, persalinan, nifas dan BBL. Budaya-budaya tersebut terkadang ada yang tidak sesuai jika dilihat dari sisi kesehatan.

  1. Aspek Sosial Budaya Perkawinan

Perkawinan merupakan wujud menyatukan dua orang, laki-laki dan perempuan ke dalam satu tujuan yang sama. Salah satu tujuan pernikahan adalah bahagia bersama pasangan hidup. Dalam aspek sosial budaya perkawinan ada faktor pendukung dan penghambat.

Faktor pendukung keberhasilan penyesuaian perkawinan mayoritas mereka saling memberi, dan menerima cinta, menghormati dan menghargai, serta saling terbuka. Hal itu tercermin bgaimana suami istri menjaga hubungan mereka dengan baik. Mampu menyikapi perbedaan yang muncul sehingga kebahagiaan dalam hidup berumah tangga tercapai. Faktor penghambat yang mempersulit penyesuaian perkawinan biasanya salah satu dari mereka tidak dapat menerima perubahan sifat atau kebisaan di awal perkawinan, tidak berinisiatif menyelesaikan masalah, perbedaan budaya maupun tidak tahu peran masing-masing.

  1. Aspek Sosial Budaya Kehamilan

Masa kehamilan merupakan masa yang penting dan menjadi sorotan masyarakat. Seperti deskripsi kehamilan oleh Malinawski (1927) bahwa kehamilan merupaka fokus perhatian yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Terlepas dari sudut pandang masyarakat tentang masa kehamilan, terdapat berbagai pandangan budaya, serta faktor sosial lainnya dalam kepentingan reproduksi. Hal tersebut meliputi :

  1. Keinginan ideal perorangan untuk memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu
  2. Mengatur waktu kelahiran
  3. Sikap menerima tidaknya kehamilan
  4. Kondisi hubungan suami istri
  5. Kondisi ketersidiaan sumber sosial

Selain faktor sosial tersebut ada pula faktor lingkungan yang sangat mempengaruhi, seperti tradisi-trasdisi lingkungan. Ada yang mengatakan bahwa ibu hamil tidak boleh mengkonsumsi telur. Padahal telur mengandung protein yang baik untuk kebutuhan gizi ibu hamil.

  1. Aspek Sosial Budaya Persalinan

Persalinan normal adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup bulan atau hidup diluar kandungan melalui jalan lahir secara spontan dengan presentasi kepala tanpa komplikasi. Persalinan dibgai menjadi 4 kala, yaitu kala I, II, III dan IV. Kala I dimulai ketika pembukaan 1-10 cm, kemudian kala II dimulai ketika pembukaan sudah lengkap disusul dengan lahirnya seluruh tubuh janin. Kala III adalah saatbayi lahir lalu disusul dengan kelahiran plasenta, dan yang terakhir adalah kala IV yaitu lahirnya plasenta dan 1 jam setelah itu.

Masyarakat pedesaan umumnya melakukan persalinan di dukun beranak. Mereka beranggapan bahwa dukun beranak lebih berpengalaman dibandingan tenaga medis. Selain itu pemilhan bersalin di dukun beranak didasarkan karena mengenal secara dekat, murah, mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan kalahiran anak serta merawat ibu selama masa nifas. Disamping itu juga karena keterbatasan biaya, dan jangkauan pelayanan kesehatan yang jauh.

Selain budaya bersalin di dukun beranak, ada juga masyarakat yang masih percaya pada pantangan-pantangan atau mengkonsumsi sesuatu agar persalinannya lancar. Sebenarnya,kelancaran persalinan sangat tergantung faktor mental dan fisik si ibu. Faktor  fisik berkaitan dengan bentuk panggul yang normal dan seimbang dengan besar bayi. Sedangkan faktor mental berhubungan dengan psikologis ibu,terutama kesiapannya dalam melahirkan. Bila ia takut dan cemas,bisa saja persalinannya jadi tidak lancar hingga harus dioprasi. Ibu dengan mental yang siap bisa mengurangi rasa sakit yang terjadi selama persalinan, faktor lain yang juga harus diperhatikan: riwayat kesehatan ibu,apakah pernah menderita diabetes,hipertensi atau sakit lainnya; gizi ibu selama hamil,apakah mencukupi atau tidak; dan lingkungan sekitar, apakah men-support atau tidak karena ada kaitannya dengan emosi ibu. Ibu hamil tak boleh cemas karena akan berpengaruh pada bayinya. Bahkan,berdasarkan penelitian,ibu yang cemas saat hamil bisa melahirkan anak hiperaktif,sulit konsentrasi dalam belajar,kemampuan komunikasi yang kurang,dan tidak bisa kerja sama.

  1. Aspek Sosial Budaya Nifas

Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal (Donald, 1995). Kebutuhan masa nifas sangatlah banyak, mulai dari kebutuhan fisik, nutrisi, dan ambulasi. Ibu nifas sangat banyak butuh asupan nutrisi terutama karbohidrat, protein dan serat.

Ada sebagian masyarakat menganggap mengkonsumsi telur, ikan dan  daging menyebabkan penyembuhan luka pasca bersalin menjadi lama. Padahal ibu nifas perlu makanan yang bergizi dan seimbang. Jika ibu nifas kekurangan zat gizi maka ibu nifas bisa saja terserang penyakit. Kepercayaan ini tidak ada sisi positifnya sama sekali bahkan justru berdampak negatif

  1. Aspek Sosial Budaya Bayi Baru Lahir

Seorang bayi baru lahir umumnya memiliki berat sekitar 2500-4000gr dengan panjang 45-55 cm. Tetapi ia akan kehilangan sampai 10 % dari berat tubuhnya dalam sehari-hari setelah kelahiran. Kemudian pada akhir minggu pertama berat tubuhnya akan mulai naik kembali. Karenanya tidaklah mengherankan jika seorang bayi yang baru lahir memerluka beberapa minggu untuk menyusuaikan diri.

Perawatan bayi baru lahir juga sedikit harus teliti, seperti dalam memilih pakaian, dan  peralatan mandi. Kulit bayi sangatlah lembut dan tipis, jika tidak hati-hati dalam memilih pakaian maka bisa saja terjadi iritasi pada kulit bayi. Selain itu peralatan mandi juga perlu di perhatikan. Seperti sabun bayi, agar tidak menimbulkan iritasi di kulit bayi. Bayi juga sangat dijaga kehangatannya. Pakaian yang hangat membuat bayi lebih terjaga suhu tubuhnya. Selain perawatan kulit, bayi baru lahir perlu perawatan tali pusar. Beberapa kalangan masyarakat memakaikan gurita pada bayi. Pemakaian gurita yang terlalu kencang membuat tali pusar bayitidak cepat mengering. Selain itu pemakaian gurita yang terlalu ketat membuat ruang nafas bayi tidak bebas. Oleh karena itu, jika mengenakan gurita jangan terlalu ketat, begitu pula dengan bedong. Masyarakat berpendapat bahwa di bedong itu bertujuan agar kaki bayi tidak begkok. Padahal bengkok tidaknya tulang bayi tergantung pada asupan yang dikonsumsi ibu saat hamil. Jika ibu kurang mengkonsumsi kalsium maka bisa saja kaki bayi akan bengkok meskipun dibedong.


BAB VI

PENUTUP

1.Kesimpulan

         Bidan sebagai salah seorang anggota tim kesehatan yang terdekat dengan masyarakat, mempunyai peran yang sangat menentukan dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak di wilayah kerjanya. Seorang bidan harus mampu menggerakkan peran serta masyarakat khususnya, berkaitan dengan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir, balita, anak-anak, remaja hingga lansia.

         Seorang bidan perlu mempelajari sosial budaya masyarakat tersebut yang meliputi pengetahuan penduduk, tradisi dan kebiasaan sehari-hari. Budaya tersebut baik dipandang melalui norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian dan lain-lain.  Melalui kegiatan tersebutlah bidan bisa melakukan promosi kesehatan kepada masyarakat dan melakukan berbagai penyuluhan agar tercipta masyarakat yang sehat dan sejahtera.

2. Saran

Sebagai tenaga medis yang dekat dengan masyarakat, bidan haruslah memahami adat istiadat dan tradisi setemmpat yang berhubungan dengan pelayanan kebidanan. Kemudian dengan mempelajari hal tersebut bidan akan lebih mudah masuk ke masyarakat dan melakukan berbagai promosi kesehatan dan penyuluhan.

Daftar Pustaka

  • Natalia, D., & Iriani, F. 2002. Penyesuaian Perempuan Non-Batak Terhadap   Pasangan Hidupnya Yang Berbudaya Batak. Jurnal Ilmiah PsikologiNo.VII.27.36
  • Iskandar, T. 2006. Artikel Psikologi Perkawinan.
  • Cimura Irsal. 2012.  Makalah Aspek  Ssosial Budaya  yang  Berkaitan dengan Pra  Perkawinan  dan Kehamilan.
  • Prabowo, M. R., Penyesuaian Perkawinan pada Pasangan yang Berlatar Belakang Etnis Batak

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah