Makalah Demam Berdarah Dengue Lengkap ( Yang Baik dan Benar )

Makalah Tentang Demam Febris

Makalah Demam Berdarah Dengue Lengkap ( Yang Baik dan Benar )

Makalahkita.com – Makalah Demam Berdarah Dengue  ( Yang Baik dan Benar). Pada kesempatan ini saya akan membagikan karya tulis ilmiah makalah  tentang Kesehatan. Makalah yang saya bagikan ini hanya sedikit dari kerangka makalah yang belum sempurna, hanya isi makalah yang saya berikan secara padat.

Baiklah kembali ke tema pembahasan makalah. Tujuan saya ingin membatu adik-adik atau rekan-rekan yang lain dalam menyelesaikan tugas sekolah maupun tugas kuliah. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Untuk itu silahkan menikmati contoh makalah berikut ini.

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah “Gizi dalam kesehatan dan penyakit “ini yang berjudul “DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)”

 Makalah  ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah  ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)”ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Penyusun

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Definisi Demam Berdarah dengue (DBD) ………………………………………. 1

1.2 Gambar Distribusi Frekuensi menurut OTW ……………………………………. 2

1.3 Grafik Maksimum-Minimum …………………………………………………………. 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Etiologi ………………………………………………………………………………………. 5

2.1.1. Virus Dengue ………………………………………………………………………….. 5

2.1.2 Vektor …………………………………………………………………………………….. 5

2.2 Penyebaran dan Penularan ……………………………………………………………. 7

2.3 Gambaran klinis (gejala) ……………………………………………………………….. 10

2.4 Laboratorium ………………………………………………………………………………. 13

2.5 Pengobatan …………………………………………………………………………………. 14

2.6 Pencegahan dan Program pemberantasannya……………………………………. 6

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………………….. 20

3.2 Saran ………………………………………………………………………………………….. 20

DAFTRA PUSTAKA

LAMPIRAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Definisi Demam Berdarah dengue (DBD)

Nyamuk aedes aegypti dikenal dengan sebutan Black white Mosquito atau Tiger Mosquito karena tubuhnya memiliki ciri yang khas yaitu adanya garis-garis dan bercak-bercak putih keperakan di atas dasar warna hitam. Sedangkan yang menjadi ciri khas utamanya adalah dua garis lengkung yang berwarna putih keperakan di kedua sisi lateral dan dua buah garis putih sejajar di garis median dari punggungnya yang berwarna dasar hitam.(Soegeng Soegijanto,2003, hlm 99)

Demam berdarah dengue (DBD) atau dengue haemorhagic fever (DHF) bukan penyakit baru di Indonesia. Tahun 1969, kasus pertama DBD dilaporkan di Jakarta (Kho Lin Keng,dkk). Jauh hari sebelum itu, penyakit dengue, cikal bakal munculnya penyakit DBd, sudah dikenal di Indonesia sejak tahun 1979 (David Bylon,Batavia). (Nadesul Hendrawan,2007,hlm 1)

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan di indonesia yang jumlah penderitanya cenderung meningkat dan penyebarannya semakin luas. Penyakit DBD merupakan penyakit menular yang terutama menyerang anak-anak. (Nadesul Hendrawan,2007,hlm 71)

            Di Indonesia penyakit DBD masih merupakan masalah kesehatan karena masih banyak daerah yang endemik. Daerah endemik DBD pada umumnya merupakan sumber penyebaran penyakit ke wilyayah lain. Setiap kejadian luar biasa (KLB) DBD umumnya dimulai dengan peningkatan jumlah kasus di wilayah tersebut. Untuk membatasi penyebaran penyakit DBD diperlukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang terus menerus, pengasapan (fogging),dan larvasidasi. (Nadesul Hendrawan,2007,hlm 71)

            Penyakit DBD mempunyai perjalanan yang sangat cepat dan sering menjadi fatal karena banyak pasien yang meninggal akibat penanganannya yang terlambat. Demam berdarah dengue (DBD) disebut juga  dengue hemorhagic fever (DHF), dengue fever (DHF), demam dengue (DD), dan dengue shock syndrome (DSS). (widoyono,2011,hlm 71).

            Di banyak negara tropis, virus dengue sangat endemik. Di Asia, penyakit ini sering menyerang di Cina Selatan, Pakistan, India, dan semua negara di Asia Tenggara. Sejak 1981, virus ini ditemukan di Queensland, Australia. Di sepanjang pantai Timur Afrika, DBD juga ditemukan dalam berbagai serotipe. Penyakit ini sering menyebabkan KLB di Amerika Selatan, Amerika Tengah, bahkan sampai ke Amerika Serikat sampai akhir tahun1990-an. Epidemi dengue di Asia pertama kali terjadi pada tahun 1779, di Eropa pada tahun 1784  di Amerika Selatan pada tahun 1835-an, dan di Inggris pada tahun 1922. (widoyono,2011,hlm 71).

Di Indonesia kasus DBD pertama kali terjadi di Surabaya pada tahun 1968. Penyakit DBD ditemukan di 200 kota di 27 propinsi dan telah terjadi KLB akibat DBD. (Nadesul Hendrawan,2007,hlm 1)

1.2 Gambar Distribusi Frekuensi menurut OTW

Dari data Dinas Kesehatan Provinsi Riau melaporkan bahwa pada tahun 2013 tercatat 1415 orang terkena DBD di 12 Kabupaten dengan jumlah kematian 11 (L+P), dan pada tahun 2014 tercatat tidak ad kasus DBD, sedangkan pada tahun 2015 angka kasus DBD jumlahnya mencapai 3,261 (L+P) kasus di 12 Kapupaten/kota di Provinsi Riau. Pada gambar chart area dibawah ini akan digambarkan distribusi frekuensi jumlah kasus DBD di Kabupaten/Kota Provinsi Riau pada tahun 2013-2015.

Chart area Frekuensi Distribusi kasus DBD menurut Kabupaten/Kota Provinsi Riau Tahun 2013-2015

Dari data diatas dapat kita lihat bahwa Kabupaten Bengkalis berada pada angka tertinggi pada tahun 2015 yaitu 678 jumlah kasus(Laki2+Perempuan), dan terendah yaitu Kabupaten Indragiri Hilir 12 jumlah kasus (Laki2+Perempuan).Pada tahun 2014 kasus DBD tidak terjadi. Sedangkan pada tahun 2013 kasus DBD mengalami peningkatan yang signifikan dan  yang menduduki angka kasus DBD tertinggi yaitu Kampar sebanyak 307 kasus (Laki2+Perempuan) dan terendah Meranti sebanyak 27 kasus (Laki2+Perempuan)DBD.

1.3 Grafik Maksimum-Minimum

Dari data Dinas Kesehatan Provinsi Riau melaporkan bahwa kasus DBD tertinggi pada tahun 2013-2015 adalah daerah Kabupaten/Kota Bengkalis dengan jumlah kasus 678 orang dengan kematian 1 penderita.

Dari grafik laporan jumlah kasus DBD dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau diatas dapat kita lihat bahwa jumlah kasus DBD mengalami KLB didaerah Kuantan Singingi (286 kasus), Indragiri hulu (176 kasus), Siak (273 kasus), Kampar ( 269 kasus), Rokan Hulu(159 kasus), Bengkalis dengan kasus tertinggi (678 kasus), Rokan hilir (163 kasus), Pekanbaru (516 kasus), Dumai ( 355 kasus), dan Meranti (254 kasus). Sedangkan Kabupaten Indragiri hilir dan Pelalawan berada pada status Kewaspadaan.

Berdasarkan data diatas kasus Demam berdarah terjadi KLB pada tahun 2015. Oleh karena itu pada makalah ini kami akan membahas tentang seputar Demam berdarah Dengue (DBD).

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Etiologi

2.1.1. Virus Dengue

Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dari kelompok Arbovirus B,yaitu arthropod-borne virus atau virus yang disebabkan oleh artropoda virus ini termasuk genus Flavivirus dari famili Flaviviridae.(widoyono,2011,hlm 72).

Ada empat serotipe yaitu DEN -1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 . serotipe DEN-3 merupakan jenis yang sering dihubungkan dengan kasus-kasus parah . infeksi oleh salah satu serotipe akan menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang bersangkutan, tetapi tidak untuk serotipe yang lain. Keempat jenis virus tersebut semuanya terdapat di Indonesia. Di daerah Endemik DBD, seseorang dapat terkena infeksi semua serotipe virus pada waktu yang bersamaan. (widoyono,2011,hlm 72).

Virus Dengue baru dapat menimbulkan gejala demam berdarah pada manusia jika manusia tersebut terinfeksi minimal dua jenis virus dengue. Jika manusia baru terinfeksi satu jenis virus maka tidak akan timbul gejala demam berdarah.(Agus Susanto, 2007, hm 4)

2.1.2 Vektor

Virus dengue memerlukan perantara untuk dapat masuk kedalam tubuh manusia. Perantara atau vektor virus ini yaitu nyamuk Aedes yang terinfeksi, terutama Aedes aegypti dan aedes albopictus.(Agus Susanto, 2007, hm 4)

Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegyti (di daerah perkotaan) dan Aedes albopictus (di daerah pedesaan). Nyamuk yang  menjadi vektor penyakit DBD adalah nyamuk yang terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang sakit dan viremia (terdapat virus dalam darahnya). Menurut laporan terakhir, virus dapat pula ditularkan secara transovarial dari nyamuk ke telur-telurnya. (widoyono,2011,hlm 73)

Aedes aegypti merupakan vektor utama (95%) bagi penyebaran penyakit DBD. Jenis nyamuk ini hidup dan ditemukan di negara-negara yang terletak antara 35o Lintang utara 35oLintang Selatan. Nyamuk ini hidup pada temperatur udara paling rendah sekitar 10oC. Pada musim panas, jenis nyamuk ini kadang-kadang ditemukan di daerah yang terletak sampai sekitar 45oLintang Selatan. Selain itu, ketahanan hidup spesies ini juga tergantung pada ketinggian daerah yang bersangkutan dari permukaan laut. Biasanya jenis nyamuk ini tidak ditemukan di daerah dengan ketinggalan lebih dari 1000 meter diatas permukaan laut.(Agus Susanto, 2007, hlm 4)

Nyamuk Aedes aegypti mempunyai kebiasaan hidup di dekat manusia. Nyamuk dewasa menyukai tempat gelap yang tersembunyi di dalam rumah sebagai tempat beristirahatnya. Nymuk ini juga menyukai benda-benda yang tergantung di dalam rumah, seperti gorden, kelambu, maupun baju atau pakaian di kamar yang gelap dan lembap..(Agus Susanto, 2007, hlm 5)

Aedes aegypti mempunyai kebiasaan mencari makan (mengigit manusia untuk diisap darahnya) sepanjang hari, terutama antara jam 08.00-13.00 dan antara jam 15.00-17.00. jarak terbang nyamuk betina jenis ini terbatas sekitar 30-50 meter per hari, sehingga korban gigitan nyamuk dapat dipastikan berada sekitar jarak tersebut dari sarang nyamuk.Aedes aegypti..(Agus Susanto, 2007, hlm 5)

Nyamuk dalam fase imatur (larva) ditemukan di dalam atau di dekat perumahan, di dalam kaleng, atau berbagai tempat penyimpanan air yang berisi air bersih yang dipakai untuk air minum atau mandi. Nyamuk tersebut bersarang dan berkembang biak disana. Nyamuk ini hidup tidak hidup diair mengalir maupun comberan yang langsung berhubungan dengan tanah.(Agus Susanto, 2007, hlm 5)

Telur aedes aegypti mampu bertahan hidup dalam  keadaan kering salama beberapa bulan. Hal inilah yang menyulitkan pemusnahan vektor penyebab penyakit DBD .(Agus Susanto, 2007, hlm 6)

Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti yaitu pada badan dan tungkai nyamuk terdapat belang hitam dan putih. Nyamuk betina mengisap darah agar bisa memperoleh protein untuk mematangkan telurnya sampai dibuahi oleh nyamuk jantan. Bentuk nyamuk Aedes aegypti dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Aedes albopictus merupakan nyamuk kebun yang memperoleh makanan dengan cara menggigit dan mengisap darah berbagai jenis binatang. Nyamuk ini berkembang biak di dalam lubang-lubang pohon, lekukan tanaman, potongan batang bambu, dan buah kelapa yang terbuka. Habitat larva nyamuk ini yaitu didalam genangan air , seperti airdalam kaleng atau tempat penampungan lain termasuk timbunan sampah diudara terbuka. Habitat larva ini menyebabkan nyamuk aedes albopictus banyak dijumpai di daerah pedesaan, pinggiran kota, dan taman-taman kota.(Agus Susanto, 2007, hlm 6)

Pada musim penghujan,tersedia lebih banyak tempat yang cocok bagi habitat aedes albopictus.itulah sebabnya jumlah populasi nyamuk ini pada musim penghujan meningkat pesat.Nyamuk dewasa mempunyai kebiasaan mencari makan pada siang hari.Daya terbang nyamuk dewasa betina erkisar antara 400-600 meter.Kesempatan berpindah tempat secara pasif(terbawa alat transformasi manusia) bagi Aedes albopictus lebih terbatas sebab nyamuk ini hidup diluar rumah.Namun di sisi lain,kebiasaan mencari makan Aedesalbopictusmemungkinkan nyamuk ini menularkan virus dengue dari kera ke manusia dan sebaliknya.telurAedesalbopictusdapat bertahan terhadap pengawetan melalalui proses pengeringan dalam waktu beberapa bulan..(Agus Susanto, 2007, hlm 7)

Meskipun vektor utama penyebaran infeksi virus dengue mempunyai habitat hidup di daerah tropis maupun subtropis,namu  ternyata di temukan pula kasus-kasus DBD di daerah dingin.Hal ini menunjukkan bahwa vektor tersebut dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan sekitar.(Agus Susanto, 2007, hlm 7)

2.2 Penyebaran dan Penularan

            Penyebaran DBD berkaitan erat dengan penyebaran nyamuk Aedes.Nyamuk Aedes dapat tersebar secara aktif maupun pasif.Penyebaran secara aktif terjadi karena nyamuk ini mempunyai kemampuan terbang.sedangkan penyebaran secara pasif terjadi ketika yamuk terbawa kendaraan,seperti kereta api,kapal laut,dan pesawat udara.Tampak melalui cara cara pasif inilah DBD menyebarkan ke seluruh provinsi di indonesia.bahkan DBD juga dapat menyebar dari satu wilayah negara ke negara lain. .(Agus Susanto, 2007, hlm 7)

            Penyebaran dan penularan virus dengue di pengaruhi oleh sistem ketahanan tubuh dan faktor lingkungan.jika seseorang memiliki daya tahan tubuh yang bagus maka orang tersebut tidak akan mudah terserang DBD.sementara itu,faktor lingkungan meliputi kondisi geografi dan kependudukan.Kondisi geografi yang mempengaruhi penyebaran DBD misalnya ketinggian dari suatu daerah darai permukaan laut,curah hujan,angin,kelembapan, dan musim.Sedangkan faktor kependudukan yang ikut mempengaruhi penyebaran DBD,misalnya kepadatan penduduk,perilaku,adat-istiadat,dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. .(Agus Susanto, 2007, hlm 7)

Kasus penyebaran dan penularan DBD semakin meningkat.Meningkatnya jumlah kasus dan wilayah yang terjangkit di sebabkan semakin mudahnya sarana transfortasi penduduk,adanya pemukiman baru,kurangnya kepedulian masyarakat terhdap pemberantasan sarang nyamuk,dan terdapatnya vektor nyamuk hampir di seluruh pelosok tanah air. .(Agus Susanto, 2007, hlm 7)

            Penularan virus dengue dari manusia ke manusia atau dari kera ke kera yang lain terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes betina yang telah terinfeksi virus tersebut.Sekali nyamuk terinfeksi virus maka sepanjang hidupnya virus ini akan hidup dalam tubuh nyamuk tersebut.Selanjutnya,nyamuk tersebut akan menularkan virus ke tubuh manusia atau kera melalui gigitan dan isapan darah.Nyamuk betina yang terinfeksi virus dengue juga dapat menularkan virus tersebut kepada keturunannya,sehingga semakin banyak nyamuk yang terinfeksi. .(Agus Susanto, 2007, hlm 7)

Virus tidak dapat hidup tanpamenumpang pada inang,yaitu makhluk hidup lain.Manusia merupakan inang utama bagi virus.Beberapa jenis kera juga dapat terinfeksi virus dengue dan selanjitnya menjadi sumber virus bagi nyamuk ketika ada nyamuk yang mengisap darah tersebut.Nyamuk mendapat virus demam berdarah dari pasien yang demam berdarah dengue,maupun orang yang tidak tampak sakit namun dalam aliran darahnya terdapat virus dengue .(Agus Susanto, 2007, hlm 7)

Pada saat nyamuk menggigit orang tersebut,virus dengue akan terbawa masuk bersama darah yang di isapnya kedalam tubuh nyamuk.Virus dalam tubuh nyamuk akan berkembangbiak dalam tubuhnya.Dalam tempo waktu tujuh hari,virus dengue sudah tersebar keseluruh bagian tubuh nyamuk termasuk di kelenjar air liurnya.Jika nyamuk ini menggigit orang lain,virus dengue akan berturut berpindah bersama air liur nyamuk kedalam tubuh orang tersebut.(Agus Susanto, 2007, hlm 7)

Sifat gigitan nyamuk yang dirasakan manusia tidak berbeda dengan gigitan nyamuk lainnya.Artinya,tidak lebih sakit,tidak lebih gatal,dan juga tidak meninggalkan bekas yang istimewa.virus yang masuk kedalam tubuh manusia selanjutnya beredar dalam sirkulasi darah selama beberapa waktu sampai timbul gejala demam.Periode dimana virus beredar dalam sirkulasi darah manusia di sebutkan sebagai viremia.apabila nyamuk yang belu terinfeksi mengisap darah,manusia dalam fase viremia,maka virus akan masuk ke tubuh nyamuk dan selanjutnya di tularkan kepada manusia lain.  (Agus Susanto, 2007, hlm 8)

Virus berkembang dalam tubuh nyamuk selama 8-10 hari terutama dalam kelenjer air liurnya,­ dan jika nyamuk ini menggigit orang lain maka virus dengue akan dipindahkan bersama air liur nyamuk. Dalam tubuh manusia, virus ini akan berkembang selama 4-6 hari dan orang tersebut akan mengalami sakit demam berdarah dengue. Virus dengue memperbanyak diri dalam tubuh manusia dan berada dalam darah selama satu minggu . cara penularan DBD dari nyamuk ke manusia diilustrasikan.gambar 1 (widoyono,2011,hlm 72).

Orang yang di dalam tubuhnya terdapat virus dengue tidak semuanya akan sakit demam berdarah dengue, ada yang mengalami demam ringan dan sembuh dengan sendirinya, atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala sakit. Tetapi semuanya merupakan pembawa virus dengue selama satu minggu, sehingga dapat menularkan kepada orang lain di berbagai wilayah yang ada nyamuk penularnya. Sekali terinfeksi, nyamuk menjadi infektif seumur hidupnya. (widoyono,2011,hlm 72).

2.3 Gambaran klinis (gejala)

            Gambaran Klinis dari DF sering tergantung pada usia pasien. Bayi dan anak kecil dapat mengalami penyakit demam undifferentiated, sering dengan makulopapular. Anak yang lebih besar dan orang dewasa dapat mengalami baik syndrom demam atau penyakit klasikmyang melemahkan dengan awitan mendadak demam tinggi, kadang-kadang dengan 2 puncak (punggung sadel), sakit kepala berat, nyeri dibelakang mata, nyeri otot dan tulang atau sendi, mual dan muntah, dan ruam perdarahan kulit (petekie) tidak umum terjadi. Biasanya ditemukan leukopenia dan mungkin tampak trombositopenia. (WHO,1999,hlm 17)

Penderita penyakit DBD sering dikira terserang penyakit flu atau tifus. Hal ini disebabkan karena infeksi virus dengue yang menyebabkan penyakit DBD terkadang tidak menunjukkan gejala yang jelas. Anak yang terserang DBD terkadang menunjukkan gejala batuk,filek,muntah,mual,atau diare.Masalah dapat bertambah karena virus tersebut dapat masuk bersamaan dengan infeksi penyakit lain,seperti flu atau tifus.Oleh karena itu,diperlukan kejelian untuk mengetahui dengan pasti sekaligus menentukan gejala penyakit DBD.seseorang baru dapat di pastikan menderita DBD setelah dilakukan pemeriksaan darah di laboratorium.pemeriksaan darah ini punharus dilakukan berulang kali.pasien yang tidak sabar sering berganti-ganti dokter karena gejala demam pada penyakit DBD tidak hilang dengan obat antipanas (Antipiretik) maupun antibiotik.pasien berpinda dokter,sementara dokter memerlukan pemeriksaan yang berulang kali.hal ini menyebabkan penderita DBD sukar dipastikan menderita penyakit ini sejak dini.

Secara umum penyakit DBD di awali denga beberapa gejala berikut.

  1. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38-40 c).Suhu badan yang tinggi ini biasanya tidak terpengaruh mesti penderita telah di beri obat penurun panas atau antibiotik.
  2. Tanda-tanda pendarahan,misalnya timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembulu darah,hidung mimisan,pendarahan pada gusi,hingga keluarnya darah saat buangnya air besar.
  3. Pembesaran hati.
  4. Tekana darah menurun.
  5. Penurunan trombosit sampai 100.000/ml3 Pada hari 3-7.
  6. Lemah, mual, muntah,sakit perut,diare,kejang,dan sakit kepala.
  7. Rasa sakit pada otot dan persendian.

Gejala penyakit DBD,pada setiap penderita berbeda-beda tergantung tingkat keparahannya.WHO (1997) membagi gejala DBD menjadi empat derajat sebagai berikut.

  1. Derajat I (ringan)

Penderita mengalami demam mendadak selama 2-7 hari disertai pendarahan ringan.

  1. Derajat II (sedang)

Penderita mengalami gejala seperti derajat I,di tambah pendarahan pada kulit dan pendarahan yang lebih berat.

  1. Derajat III

Detak nadi penderita cepat dan lemah, tekana darah rendah,kulit dingin dan lembap,penderita menjadi gelisah.

  1. Derajat IV

Detak nadi penderita tidak dapat di raba dan tekana darah tidak terukur.

Agus Susanto, 2007, hlm 10)

Pasien penyakit DBD pada umumnya disertai dengan tanda-tanda berikut:

  1. Demam selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas
  2. Manifestasi perdarahandengan tes Rumpel Leede (+) mulai dari petekie (+) sampai perdarahan spontan seperti mimisan, muntah darah, atau berak darah hitam.
  3. Hasil pemeriksaan trombosit menurun (normal: 150.000-300.000 µL, hematokrit meningkat (normal:pria< 45, wanita < 40).
  4. Akral dingin, gelisah, tidak sadar (DSS, dengue shock syndrome).

Kriteria diagnosis (WHO 1997)

  1. Kriteria Klinis
  2. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terus menerus selama 2-7 hari.
  3. Terdapat manifestasi perdarahan
  4. Pembesaran hati)
  5. syok
  6. Kriteria laboratoris
  7. Trombositopenia (<100.000/mm3)
  8. Hemokonsentarsi (Ht meningkat> 20%).

(widoyono,2011,hlm 75)

2.4 Laboratorium

            Trombositopeni dan hemokonsentrasi merupakan kelainan yang selalu ditemukan pada DBD. Penurunan jumlah trombosit <100.000/ul biasa ditemukan pada hari ke-3 sampai ke-8 sakit,sering terjadi sebelum atau bersamaan dengan perubahan nilai hematokrit. Hemokonsentrasi yang disebabkan oleh kebocoran plasma dinilai dari peningkatan nilai hematokrit. (Sri Rezeki H. Hadinegoro dkk,2001,hlm 9)

Penurunan nilai trombosit yang disertai atau segera disusul dengan peningkatan nilai hematokrit sangat unik untuk DBD, kedua hal tersebut biasanya terjadi pada saat suhu turun atau sebelum syok terjadi. (Sri Rezeki H. Hadinegoro dkk,2001,hlm 9)

Perlu diketahui bahwa nilai hematokrit dapat dipengaruhi oleh pemberian cairan atau oleh perdarahan.jumlah leokosit bisa menurun (leukopenia) atau leukositosis,limfotisosis relatif dengan limfosit atipik sering ditemukan pada saat sebelum suhu turun atau syok. Hipoproteinemi akibat kebocoran plasma bisa ditemukan. Fibrinolisis dan gangguan tampak pada pengurangan fibrinogen, protrombin,faktor VIII,faktor XII, dan antitrombin III. (Sri Rezeki H. Hadinegoro dkk,2001,hlm 9)

            PTT dan PT memanjang pada sepertiga sampai setengah kasus DBD. Fungsi trombosit juga terganggu. Asidosis metabolik dan peningkatan BUN ditemukan pada syok berat. Pada pemeriksaan radiologis bisa ditemukan efusi pleura, terutama sebelah kanan. Berat-ringannya efusi pleura berhubungan dengan  berat-ringannya pada penyakit. Pada pasien yang mengalami syok,efusi pleura dapat ditemukan bilateral.

(Sri Rezeki H. Hadinegoro dkk,2001,hlm 9)

2.5 Pengobatan

     Sampai saat ini, obat untuk penyakit demam berdarah belum ditemukan. Pengobatan yang ada saat ini hanya bersifat pendukung saja. Prinsip pengobatan penyakit demam berdarah adalah menambah cairan tubuh (plasma) yang berkurang di samping perawatan lainya. (Agus Susanto, 2007, hlm12)

Penyembuhan penyakit demam berdarah sangat tergantung pada kecepatan perawatan dan ketepatan pihak rumah sakit menolong penderita. Tidak ada jaminan dengan dibawa ke rumah sakit,penderita akan sembuh jika keadaan penderita sudah parah dan terlambat dibawa ke rumah sakit. Jadi bebrapa hal yang dapat dilakukan jika ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala demam berdarah sebagai berikut.

  1. Penderita demam berdarah akan memperlihatkan gejala seperti perut mual,badan panas yang berlangsung 3-4 hari terus-menerus,dan kulit wajah tidak cerah.
  2. Segera bawa penderita yang memperlihatkan gejala seperti di atas ke dokter atau puskesmas untuk mengetahui secara pasti penyakit tersebut. Hal ini dimaksudkan agar jika orang tersebut benar-benar terserang demam berdarah,penanganannya dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Keterlambatan penanganan pasien demam berdarah dapat menyebabkan kmatian.
  3. Jika keadaan penderita mengkhawatirkan,langsung saja dibawa ke Unit Gawat Darurat terdekat untuk memperoleh pemeriksaan yang lebih rinci. Penderita DBD derajat III dan IV harus segera dibawa ke rumah sakit agar mendapatkan perawata yang lebih baik. Mereka harus mendapatkan penambahan cairan pengganti dan pihak rumah sakit harus menyiapkan infus trombosit jika sewaktu-waktu diperlukan. Infus trombosit diperlukan pada saat terjadi pendarahan yang hebat.
  4. Begitu dipastikan korban benar-benar menderita demam berdarah,segera minta surat rekomendasi dari dokter yang memeriksa agar dilakukan penyemprotan di lingkungan rumah,sekolah,kantor,atau tempat-tempat di mana korban diduga terserang nyamuk demam berdarah(Agus Susanto, 2007, hlm12)

Penduduk yang tinggal di daerah terpencil,seringkali mengalami kesulitan transportasi untuk membawa anggota keluarganya ayang diduga terserang demam berdarah ke rumah sakit. Oleh karena itu,penderita perlu mendapatkan perawatan selama belum ditangani dokter.

Beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai berikut.

  1. Penderita boleh di rumah sampai hari ketiga sejak terserang demam.
  2. Berikan minuman air putih sebanyak mungkin (sedikitnya satu gelas setiap setengah jam) kepada penderita yang memperlihatkan gejala demam berdarah. Penderita juga dapat diberi minum air teh,gula,sirop,atau susu sebanyak 1,5-2 liter dalam 24 jam. Alternatif lain,penderita dapat diberi jus jambu biji yang memiliki kandungan viamin C dan vitamin A yang tinggi. Jika penderita diare diberi garam elektrolit (oralit) yang dilarutkan dalam air.
  3. Seka seluruh tubuh penderita dengan air memakai waslap atau sapu tangan,berkali-kali sampai tujuh menit untuk menurunkan panas. Air di tubuh akan menguap sambil membawa panas. Seka lagi setelah kulit mengering.
  4. Penderita tidak boleh diberikan Aspirin karena Aspirin bersifat mengencerkan darah sehingga perdarahan akan semakin parah.
  5. Bila dirasakan perlu,boleh memberikan parasetamol sebagai obat antipanas.Penderita harus cukup istirahat,makan,dan minum. (Agus Susanto, 2007, hlm 12)

Penyakit demam berdarah seperti penyakit virus lainnya,dapat sembuh dengan sendirinya. Meski demikian,penyakit ini memerlukan perhatian yang serius karena dapat menyebabkan komplikasi lain,seperti pengentalan darah. Pengentalan darah mengakibatkan oksigen dan zat makanan tidak dapat tersalurkan dengan baik ke organ-organ tubuh yang penting,seperti otak,jantung,dan ginjal. Komplikasi pada organ-organ itula yang berakibatkan fatal bahkan mengakibatkan kematian. (Agus Susanto, 2007, hlm12)

2.6    Pencegahan dan Program pemberantasannya

Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya. Cara yang dapat dilakukan yaitu mencagah gigitan nyamuk. Selain itu,dilakukan upaya pemberantasan vektor nyamuk dewasa,jentik nyamuk,dan sarang nyamuk.pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan menggunakan beberapa metode berikut. (Agus Susanto, 2007, hlm13)

  1. Lingkungan

Metode ini dilakukan dengan memberikan perhatian terhadap kondisi lingkungan sekitar yang menjadi tempat hidup nyamuk penyebar demam berdarah. Oleh sebab itu,di lakukan paya memberantas tempat hidup nyamuk di lingkungan sekitar (PSN) Pemberantasan Sarang Nyamuk,pengelolaan sampah padat dan perbaikan desain sampah. (Agus Susanto, 2007, hlm13)

  1. Biologis

Metode ini dilakukan dengan memanfaatkan makhlik hidu lai untuk mengendalikan vektor nyamuk. Beberapa makhluk hidup yang dapat digunakan sebagai pengendali biologis nyamuk pembawa demam berdarah antara lain ikan adau atau ikan cupang. Makhluk ini berfungsi sebagai pemakan jentik nyamuk. (Agus Susanto, 2007, hlm13)

  1. Kimiawi

Metode ini dilakukan menggunakan bahan-bahan kimia untuk pengendalian nyamuk peneyebar demam berdarah. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan pengasapan atau fogging dan memberi bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air. (Agus Susanto, 2007, hlm13)

            Beberapa metode di atas telah dimanfaatkan oleh pemerintah dalam upaya memerangi berjangkitnya demam berdarah. (Agus Susanto, 2007, hlm13)

Program Pemberantasan sebagai berikut:

Tujuan

  1. Menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit DBD
  2. Mencegah dan menanggulangi KLB
  3. Meningkatkan peran serta masyarakat (PSM) dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Sasaran

Sasaran Nasional (2000)

  1. Morbiditas di kecamatan endemik DBD,2 per 10.000 penduduk
  2. CFR ,2,5%.

Strategi

  1. Kewaspadaan dini
  2. Penanggulangan KLB
  3. Peningkatan keterampilan petugas
  4. penyuluhan

Kegiatan

  1. Pelacakan penderita (penyelidikan epidemiologi PE) mendatangi rumah-rumah yang terlibat kasus
  2. Penemuan dan pertolongan penderita,yaitu kegiatan mencari penderita lain. Jika terdapat tersangka kasus DBD maka harus segera dilakukan penanganan, ole pelayana kesehatan.
  3. Larvasidasi selektif, yaitu kegiatan memberikan atau menaburkan larvasidasi kedalam penampungan air yang positif terkena jentik Aedes
  4. Fogging focus (FF) menyemprotkan dengan insektisida.
  5. Pemeriksaan jentik rutin (PJR) dilakukan kader desa wisma PKK,pengurus RT,atau petugas pemantauan jentik (PPJ) satu minggu sekali di setiap rumah.
  6. Pemeriksaan jentik secara berkala (PJB) kegiatan tiga bulan sekali dengan cara mengambil sample di 100 rumah dilakukan dengan cara random atau metode spiral.
  7. Pembentukan kelompok kerja (POKJA) mulai dari desa,kecamatan,sampai tingkat pusat.
  8. Penggerakan PSN (pemberantas sarang nyamuk) dengan cara 3M plus
  9. Penyuluhan tentang bgejala awal penyakit DBD tindakan pencegahan,dan rujukan penderita.

Pencegahan

  • Pembersihan jentik
  • Pencegahan gigitan nyamuk

Monitoring dan evaluasi

(widoyono ,2011 Hlm 77)

Upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN)

            PSN adalah kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat dalam membasmi jentik nyamuk penularan demam berdarah.PSN dapat dilakukan dengan cara 3M plus :

  1. Menguras bak mandi secara teratur seminggu sekali,mengganti air pada vas bunga,tempat penampungan air secara teratur kurang dari satu minggu.
  2. Menutup rapat-rapat tempat pembuangan akhir (TPA)
  3. Mengubur atau menyingkirkan kaleng-kaleng bekas,plastik,dan ban bekas serta barang-barang lainnya yang dapat menampung air hujan sehingga tidak menjadi sarang nyamuk
  4. Plus pengendalian seperti adanya kelambu,soffel, dan sebagainya,

Pemerintah telah menganggap KLB demam berdarah yang terjadi hampir setiap musim penghujan merupakan permasalahan kesehatan yang harus ditangani secara serius. Beberapa kebijakan pemerintah terkait penanganan demam berdarah di antaranya sebagai berikut:

  1. Memerintahkan semua rumah sakit swasta maupun negeri untuk tidak menolak pasien yang menderita DBD
  2. Meminta direktur utama rumah sakit untuk memberikan pertolongan secepatnya kepada penderita DBD
  3. Melakukan fogging secara massal di daerah yang terkena DBD
  4. Membagikan bubuk Abate secara gratis kepada daerah-daerah yang banyak terkena DBD
  5. Menggerakkan permasalahan melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk denagn cara 3M plus melalui surat edaran dari masing-masing provinsi
  6. Pemerintah mengangkat juru pemantau jentik nyamuk honorer di setiap rukun warga,dan diberikan pelatihan terlebih dahulu
  7. Mengundang konsultan WHO untuk memberikan pandangan saran dan bantuan teknis

Jadi masyarakat perlu ikut menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi srang nyamuk. Dinas keseuatan dan aparat lainnya melakukan penyuluhan tentang kasus dari demam berdrah yang terus meingkat.dengan demikian di harapkan masyarakat mengetahui dan ikut berperan dalam upaya pencegahan demam berdarah agar jumlah korban dapat ditekan. (Agus Susanto, 2007, hlm 17)

BAB III 

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari data distribusi frekuensi di atas dapat kita simpulkan  bahwa Kabupaten Bengkalis berada pada angka tertinggi pada tahun 2015 yaitu 678 jumlah kasus(Laki2+Perempuan), dan terendah yaitu Kabupaten Indragiri Hilir 12 jumlah kasus (Laki2+Perempuan).Pada tahun 2014 kasus DBD tidak terjadi. Sedangkan pada tahun 2013 kasus DBD mengalami peningkatan yang signifikan dan  yang menduduki angka kasus DBD tertinggi yaitu Kampar sebanyak 307 kasus (Laki2+Perempuan) dan terendah Meranti sebanyak 27 kasus (Laki2+Perempuan)DBD.

3.2 Saran

Di harapkan kepada dinas kesehatan provinsi riau dan pihak petugas kesehatan khususnya petugas survelans agar meningkatkan pendataan secara kongkrit.

Petugas kesehatan agar melakukan sIstem penanggulangan secara dini sebelum masyarakat mengalami kasus penyakit demam berdarah dengue (DBD). Melakukan promosi secara menyeluruh kepada semua pihak masyarakat agar melakukan pencegahan dan menjaga kebersihan lingkungan didaerah sekitar mereka tinggal.

Di harapkan kepada masyarakat agar menciptakan prilaku hidup bersih dan sehat, agar terhindar dari berbagai penyakit khususnya penyakit demam berdarah dengue (DBD).

DAFTAR PUSTAKA

Widoyono. PENYAKIT TROPIS Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan pemberantasannya. Erlangga:Jakarta.2011

Handrawan Nadesul. Cara mudah mengalahkan demam berdarah. Kompas Media Nusantara:Jakarta.2007

Hadinegoro Sri Rezeki H.et al. Tata laksana Demam Berdarah dengue di Indonesia. Dinas Kesehatan Propinsi riau:Riau.2005

World Health Organization.Demam berdarah dengue (diagnosis, pengobatan, pencegahan, dan pengendalian):Jakarta.1999

Susanto Agus. Waspadai gigitan nyamuk:Jakarta Selatan.2007

Soegijanto soegeng. Demam Berdarah Dengue:Surabaya.2004