Makalah Macam Macam Hadist Yang Benar 2017

Makalah Macam Macam Hadist
Makalah Macam Macam Hadist

Makalah Macam Macam Hadist Yang Benar 2017

Makalahkita – Makalah Macam Macam Hadist Yang Benar 2017 yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BALAKAANG

Al Qur’an adalah pedoman dari seluruh umat yang ada di seluruh alam ini terutama umat beragama islam,namun disamping itu terdapat hadis yang berfungsi sebagai pelengkap dari Al-Qur’an. Hadis menurut ulama ushul adalah segala perkataan,perbuatan & ketetapan Nabi Muhammad saw. yang bersangkut paut dengan hukum,dan seiring berkembangnya zaman hadis-hadis itu semakin bertambah banyak yang kadang-kadang membuat percekcokan sesema muslim. Penelitian ini akan membahas tentang macam-macam hadis yang kemudian diharapkan timbulnya pemahaman yang lebih mendalam tentang hadis.

B. RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana pembagian hadits berdasarkan kuantitas perawi?
  2. Bagaimana macam-macam hadits yang maqbul dan mardud?
  3. Bagaimana pengertian dan cara takhrij hadits?

C. TUJUAN

  1. Mengetahui pembagian hadits berdasarkan kuantitas perawi
  2. Mengetahui macam-macam hadits yang maqbul dan mardud
  3. Mengetahui pengertian dan cara takhrij hadits

BAB I
PEMBAHASAN

A. Pembagian Hadits Berdasarkan Kuantitas Perawi

Ditinju dari sedikit banyaknya rawi yang menjadi sumber berita, hadits terbagi kepada dua macam, yakni:

a. Hadits mutawatir

Secara lughowi istilah mutawatir berasal dari isim fail musytaq dari al-tawatur yang berarti tatabu’ (datang berturut-turut dan beriringan satu dengan yang lain). Secara istilah yang dimaksud dengan mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh banyak periwayat alam setiap tingkatan satu dengan yang lainnya dan masing-masing periayat tersebut semuanya adil yang tidak memngkinkan mereka itu semuanya sepakat berdusta atau bohong semuanya berandar pada pancaindra.

Syarat-syarat hadits mutawatir:

1. Bilangan atau jumlah periwayatnya banyak.

2. Semuanya bersandar pada panca indera.

Macam-macam Mutawatir:

1. Mutawatir Lafdzi, hadits yang diriwayatkan secara banyak periwayat (mutawatir) dari sisi lafalnya satu dengan yang lain sam seperti hadits nabi Muhammad: منكدبعلي متعمدا

2. Mutawatir ma’nawi, hadits yang diriwyatkan secara banyak periwayat (mutawatir) dipandang dari sisi lafalnya satu engan yang lain berbeda tetapi masih dalam konteks yang sama (satu makna).

3. Menurut M. Suhudi Ismail menambahkan Mutawatir ‘amali, amalan agama (ibadah) yang dikerjakan oleh Rosululloh SAW, lalu diikuti oleh sahabat nabi Muhammad dan seterusnya sampai umat islam sekarang ini.

b. Hadits ahad

Yaitu hdits yang tidak mencapai derajat mutawatir biasanya disebut dengan hadits ahad yang secara bahs dari kata wahid artinya satu. Secara istilah sering diartkan dengan hadits yang jumlah periwayatnya trbatas atau tidak banyak sebagaimana yang terjadi pada hadits mutawatir. Hadits ahad dibagi menjadi tiga.

1. Masyhur, secara etimologi berarti tersebar atau tersiar (muntasyir). Menurut istilah menurut Ibn Hajar Al- Asqolan hadits adalah hadits yang diriwayatkan lebih dari dua orang tetapi belum mencapai derajat mutawatir. Menurut ulama Hadits Mashur adalah hadits yang memiliki sanat terbatas dan lebih dari dua, namun derajatnya tidak sampai mutawtir. Sebagian ulama terutama ulama ushul al fiqih menyamakan dengan hadits mustafid (sesuatu yang tersiar atau yang terbatas).

Kriteri kesohihan hadits bukan terletak pada kemasyhuran atau populernya sanat tersebut, namun tergantung keriteria kesohihan hadits dan persambungan sanad hadits tersebut. Dengan demikian hadits ang populer dapat bernilai macam-macam. Beberapa bentuk nilai hadits masyhur adalah:

a. Sohih, seprti hadits

b. Hasan

c. Da’if

2. Aziz

Secara bahasa dari kata عز يعز yang brarti kuat (QS.36:14) atau sedikit/jarang atau disebut juga dengan (Al-nadir) atau disebut juga al-syarif (yang mulia). Adapun secara istilah hadits aziz yaitu hadits yang jumlah periayatnya tidak kurang dari dua orang dalam seluruh tingkatannya.

Menurut ibnu hajar Al’Asqalani, definisi lain tentang hadits aziz adalah hadits yang diriwayatkan terbatas dua orang periwayat dalam sebagian tingkatannya dan sebagian lainnya ada yang lebih dari dua periwayat.

Contoh hadits aziz adalah tentang mencintai nabi Muhammad SAW. Yang artinya:
Tidaklah beriman seseorang kepada kami sehingga mencintai diri Nabi dari cintanya kepada orang tua dan akanya.

3. Garib

Secara etimologi kata garib merupakan kata musyabbih yang bermakna sendirian atau jauh dari keluarganya atau jauh dari tanah air atau sulit dipahami.

Secara istilah hadits garib diriwayatkan oleh satu periwayat saja dengan tidak dipersoalkan dari tabaqot mana saja. Oleh karena itu ada ulama yang menyebut hadits ini dengan istilah hadits fard. Kemungkinan-kemungkinan ke ghoriban suatu hadits:

a. Hadits yang ghorib dari sisi matan

Hal ini dikaernakan seluruh matan hadits tidak dikenal oleh ulama hadits.Adanya hal ini disebabkan adanya periwayat sanad yang garib atau sebagian lafat dalam hadits tersebut sulit dipahamikaren dalam masyarakat matan tersebut jarang digunakan, atau dapat berupa lafal hadits tersebut tdak temuat dalam matan yang semakna di sanad-sanad yang lain.

b. Hadits yang ghorib dari sisi sanad

Dapat terjadi dua kemungkinan yaitu gorib mutlak dan gorib nisbi yaitu kegoriban terletak pada asal sanad yaitu terletak di tingkat tabi’in atau tabi’ atau tabi’in dan juga dapat terjadi pada setiap tingkatannya. Kegoriban atau kesendirian sanad tidak berlaku pada tingkatan sahabat, hadits tersebut dikarenakan ulama sepakat bahwa periwayat ditingat sahabat dinyatakan adil semuanya walaupun sendirian.

c. Hadits yang ghorib dari sisi sanad dan matan

Gabungan dari kedua bentuk diatas. Hadits yang gorib belum tentu bernilai do’if. Dintara hadits yang gorib ada yang sohih. Terhadap kehujjahan hadits ahad, ulama berbed pendapat ada yang mengatakan qad’iy dan ada yang zanni al wurud atau dallahnya.

B. Macam-Macam Hadits Yang Maqbul Dan Mardud

1. Pengertian hadis maqbul dan mardud

A. Hadis maqbul,secara bahasa berarti yang diambil, yang diterima dan yang dibenarkan. Sedangkan menurut istilah ahli hadis, hadis maqbul ialah hadis yang telah sempurna syarat-syarat penerimaannya. Hadis shahih dan hadis Hassan termasuk dalam hadis maqbul.

1) Hadis Shahih

Hadis shahih menurut Ibn Salah adalah hadis shahih yang sanadnya bersambung,diriwayatkan oleh periiwayat yang adil dan dabit dari awal sampai akhir sanadnya tidak ada yang syaz dan ‘illat.

Menurut Subhi al-Salih hadis shahih adalah,hadis yang sanadnya bersambung,dikutip oleh periwayat yang adil dan cermat dari orang yang sama hingga berakhir sampai ke Rasulullah SAW. atau kepada sahabat dan tabi’in,bukan hadis yang syaz dan tidak ada ‘illiat.

Kedua pendapat tentang hadis sahih itu di ringkas kembali oleh Imam al-Nawawi ysng mengungkapkan bahwa hadis shahih adalah hadis yang sanadnya bersambung,adil,dabit, tidak ada syaz dan ‘illiat.

Dan dari beberapa pendapat tentang hadis shahih itu dapat di simpulkan bahwa hadis shahih iyalah hadis yang sanadnya bersambung,dirieayatkan oleh periwayat yang adil dan dabit sampai akhir sanadnya,serta tidak ada kejanggalan dan kecacatan. Contoh dari hadis shahih adalah Rukun islam yaitu syahadat,sholat,zakat,puasa dan haji. Yang diriwayatkan oleh Hundalah Ibn Abi Sufyan,Ikrimah ibn Khalid dan Ibn umar ra.

Syarat-syarat hadis Shahih :

a. seluruh sanadnya bersambung (musnad) ,masing-masing periwayat yang terlibat dalam transmisi harus mendengar langsung dari periwayat sebelumnya.

b. Periwayat yang terkandung dalam periwayat hadis harus ‘adil. Kriteria periwayat yang ‘adil adalahberagama islam, mukallaf, melaksanakan ketentuan agama,memelihara muru’ah.

c. Diriwayatkan atas periwayat yang dabit.

d. Tidak terdapat adanya syaz.

e. Tidak adanya ‘illiat atau kecacatan pada hadis.

Macam-macam hadis Shahih

a. Shahih lizatihi, adalah hadis shahih yang telah memenuhi syarat-syarat untuk dinilai shahih secara sempurna.

b. Shahih lighairihi,adalah hadis shahih yang awalnya dinilai sebagai hadis Hassan,namun dapat berubah menjadi hadis shahih karena di kuatkkan oleh pndapat dari beberapa periwayat.

2. Hadis Hassan

Secara bahasa hadis Hassan berarti yang baik atau yang bagus,namun dalam terminology hadis,hadis Hassan hampir mirip dengan hadis shahih,semua syarat terpenuhi,namun kelemahanya ada pada daya hafalannya.

a. Macam-macam hadis Hassan

1. Yang pertama adalah Hadis Hassan lizatihi,hamper sama dengan hadis Shahiih,hadis Hassan lizatihi adalah hadis yang tellah mencapai syarat-syarat secara sempurna untuk di panggil hadis Hassan.

2. Yang kedua yaitu hadis Hassan lighairihi,hadis yang didalam sanadnya tidak di ketahui keadaanya,tidak dapat dipastikan kelayakannya. Dengan demikian Hassan lighairih adalah hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang dha’if namun dha’ifnya tidak disebabkan oleh banyak kesalahan,tidak bersifat fasiq.

B. Hadis mardud,

hadis mardud secara bahasa adalah yang ditolak atau yang tidak di terima. Namun secara istilah hadis mardud adalah hadis yang tidak menunjuki keterangan yang kuat keberadaanya serta tidak keterangan yang kuat atas ke tidakadaanya. Hadis dha’if adalah hadis yang termasuk sebagai hadis mardud.

Hadis dha’if adalah hadis yang didalamnya tidak ada ciri ke-Shahihanya dank e-hassanannya . di dalamnya terdapat periwayat yang dusta atau tertuduh dusta,banyak membuat keliruan, pelupa, suka maksiat dan fisik, banyak angan-angan,menyalahi periwayat keppercayaan, periwayat tidak dikenal, penganut bid’ah dan tidak baik hafalanya.

Menurut para ulama hadis dha’if di bagi berdasarkan kelemahanya,ada lima kelemahan tentang hadis dha’if.

a. Sanad terputus,masih di bagi lagi menjadi 2 yaitu

1. Secara jelas,ada hadis Mursal,

ü hadis yang periwayat pertama di tingkat sahabt tidak digugurkan atau tidak disebutkan namanya.
ü Hadis munaqati,hadis yang gugur atau disbutkan periwayat yang tidak jelas.
ü Hadis mildal,hadis yang gugur karena periwayatnya berjumlah 2 secara berturut-turut
ü aHadis muallaq,hadis yang dibuang permulaan sanadnya, baik yang dubuang seorang atau lebih.

2. Secar khafi,hanya ada 1 yaitu hadis mudallas,hadis yang disembunyikan aibnya.

b. Secara periwayatnya

· Hadis Mawdu’,hadis yang dibuat dan seakan-akan berasala dari Rasullulah saw.
· Hadis Matruk,hadis yang ditinggalkan karena periwayatnya di tuduh dusta dan nampak kefasiqkannya.

c. Berdasarkan kadabitanya,

· Hadis Munkar,hadis yang diriwayatkan oleh satu periwayat yang lemah serta menyalahi periwayat yang lain.
· Hadis Mulallal hadis yang mengandung cacat yang dapat menodai kashahihan.
· Hadis mudraj,hadis yang sanad atau matannya terdapat suatu tambahan.
· Hadis maqlub,hadis yang terbalik lafalnya pada matan,nama seseorang atau nasab ada di sanadnya
· Hadis Mazud fi Muttasil al-Asanid,adanya penambahan tertentu pada suatu sanad.
· Hadis Mudtirib,hadis yang didalamnya masih ada perselisihan.
· Hadis Syaz,hadis yang diriwayatkan oleh seorang kepercayaan yang periwayatanya berlawanan dengan riwayat orang banyak yang dipercaya,dengan cara menambahi atau mengurangi.

C. PENGERTIAN TAKHRIJ DAN DAN CARA MENENTUKAN TAKHRIJ

I. Pengertian Takhrij

Takhrij menurut bahasa

“Kumpulan dua perkara yang saling berlawanan dalam satu masalah”

Takhrij menurut istilah :

Pengertian Tahrij Hadis : “Menunjukan tempat hadis pada sumber-sumber aslinya, dimana hadist tersebut telah di riwayatkan lengkap dengan sanadnya, kemudian menjelaskan derajatnya jika di perlukan”

Penjelasan definisi:

1. Menunjukan tempat hadits, berarti menyebutkan kitab-kitab tempat hadits tersebut.

2. Sumber-sumber asli hadits ialah:

a. Kitab-kitab hadits yang dihimpun para pengarang dengan jalan yang diterima dari guru-gurunya dan lengkap dengan sanad-sanadnya sampai ke Nabi Muhammad SAW, seperti kitab hadis enam, Muwatta’ Imam Malik, Masnad Ahmad, Mustadrak, Al-Hakim dan Musannaf Abdur Razzaq, serta sesamanya.

b. Kitab-kitab hadis pengikut (tabi’) kitab-kitab hadis pokok di atas, seperti kitab-kitab yang menghimpun kitab-kitab hadis di atas. Misalnya kitab Al-Jam’u Bainas Sahihain, karya Al-Humaidi. Kitab-kitab yang menghimpun bagian terkecil (Tarf) kitab-kitab di atas. Misalnya , kitab Tahfatul Asyraf Bi-Ma’rifatul Atraf, karya Al-Mazi. Dan kitab ringkasan dari kitab-kitab tersebut.

c. Kitab-kitab selain hadis. Misalnya, kitab tafsir, fikih, dan sejarah yang didukung hadis dengan syarat, penulisnya meriwayatkan lengkap dengan sanadnya sendiri. Maksudnya, mereka tidak mengambil kitab-kitab dari sebelumnya. Di antar kitab-kitab ini adalah kitab Tafsir dan Tarikh, karya At-Tabari dan Al-Umm, karya Asy-syafi’i. Kitab-kitab tersebut, bukan merupakan kitab himpunan hadis, namun pembahasannya didukung oleh hadis, baik dalam menafsirkan ayat atau menjelaskan hukum, dan sebagainya. Ketika menyebuttkan hadis-hadis tersebut sebagai pendukung, pengarangnya selalu meriwayatkan dari para gurunya lengkap dengan sanad-sanadnya sampai ke Nabi Muhammad SAW dan tidak mengambil karya yang lain sebelumnya. Inilh yang di maksud dengan sumber-sumber hadis yang asli.

II. Cara Menentukan Takhrij

Cara Menentukan Tahrij :

Jika ita hendak mentahrijkan hadis dan hendak mengetahui tempat dalam sumber aslinya, terlebih dahulu harus mepelajari keadaan hadis yang kita maksudkan, sebelum kita meneliti kitab-kitab hadis. Hal ini dengan cara melihat sahabat yang meriwayatkannya (jika terdapat), pokok bahasannya, lafal-lafalnya, lafal pertamanya, atau dengan melihat sifat-sifat tertentu dalam sanad dan matannya. Demikian ini, agar kita dapat menentukan metode yang tepat dan mudah dalam menakhrijkan hadis yang kita maksud.

Metode menakhrijkan hadis ada sekitar lima macam, yaitu :

a. Dengan cara meengetahui sahabat yang meriwayatkan hadis.
b. Dengan cara mengetahui lafal pertama dan matan hadis.
c. Dengan cara mengetahui lafal matan hadis yang sedikit berlakunya.
d. Dengan cara mengetahui pokok bahasan hadis atau sebagainya, jika mengandung beberapa pembahasan.
e. Dengan cara meneliti keadaan hadis, baik dalam sanad atau matannya
Dengan adanya lima metode, di sini saya akan berusaha untuk menjelaskan sedikit terhadap metode pertama dan metode yang terakhir.

1. Metode yang pertama dengan Cara Mengetahui Sahabat yang Meriwayatkan Hadis

A. Penggunaan Metode

Metode takhrij ini dapat diterapkan selama nama sahabat yang meriwayatkan, terdapat dalam hadis yang hendak ditakhrij. Jika sebaliknya, atau tidak mungkin dapat diketahui dengan cara apapun, jelas metode ini tidak bisa di terapkan.

B. Untuk menerapkan motode takhrij yang pertama ini, kita dapat memakai tiga macam kitab,yaitu:

a. Kitab-kitab Musnad
b. Kitab-kitab Mu’jam
c. Kitab-kitab Atraf

A. Kitab-kitab Musnad

Musnad adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan nama-nama sahabat, atau kitab yang menghimpun hadis-hadis tersebut. Musnad yang telah berhasil di tulis para ahli hadis, jumlahnya cukup banyak , hingga mencapai seratus musnad, bahkan lebih. Menurut Al-Kattani dalam Al-Risalatul Mustatrafah bahwa kitab-kitab Musnad tersebut, berjumlah 82 kitab, dan selain itu masih banyak lagi.

Nama-nama sahabat dalam kitab Musnad itu terkadang disusun berdasarkan urut huruf hijaiyah.

Menurut sebagian Ahli hadis , Musnad adalah kitab hadis yang di susun berdasarkan urutan bab-bab fiqih atau berdasarkan urutan huruf Hijaiyah, tidak berdasarkan urutan nama sahabat. Karena pada dasarnya hadis riwayat sahabat bernilai musnad dan marfu sampai kepada Rasululloh SAW, se[erti Musnad Baqiyi Bin Makhlak AL-Andalusi ang di susun berdasarkan bab-bab fiqih

Berikut ini nama-nama sbagian kitab Musnad :

a. Musnad Ahmad bin Hambal (-241 H)
b. Musnad Abu Bakar, Abdullah Bin Az-Zubair Al-Humaidi.
c. Musnad Abu Dawud Sulaiman Bin Dawud At-Tayalisi (-204 H)
d. Musnad Asad bin Musal Al-Umawi (-212 H )
e. Musnad Musaddad bin Mussarhad Al-Asadi Al-Basri(-228 H)
f. Musnad Nu’aim bin Hammad
g. Musnad Ubaidillah bin Musa Al-Aisi
i. Musnad Abu Ya’laAhmad bun Ali Al-Musani Al-Mausili (-249 H)
h. Musnad Aid bin Humaid (-249 H)

Dari beberapa Musnad diatas, hanya dua musnad yag akan kami sampaikan. Yaitu Musnad Al Humaidi dan Musnad Ahmad Bin Hambal. Karena kedua Musnad tersebut , yang telah di cetak dan masyur di kalangan masyarakat, sehingga mudah mendapatkannya.

a. Musnad Al-Humaidi

Musnad ini ditulis Al-Hafiz Abu Bakar Abdullsh bin Az-Zubair Al Humaidi, guru Al Bukhar yang wafat tahun 219 h, dalam ukuran sedang dan terdiri atas sebelas bagian hadis. Kitab musnad ini memuat 1300 hadis sesuai dengan jumlah nomr urut dalam naskah yang telah dicetak, dan disusun berdasrkan urutan Musnad Sahabat, hanya saja nam sahabat tidak disusun memakai urutan huruf hijaiyah, tetapi memakai sistemaika lain. Dalam sistematika lain. Dalam sistematika kitabnya, beliu terlebih dahulu menyebutkan Musnad Abu Bakar As Siddiq, khulafaurrasyidin, sesuai dengan urutan sejarahnya. Musnad sepuluh sahabat yang telah dijanjikan Nabi masuk surga. Kecuali Talhah bin Ubaidillah, karena Al Humaidi tidak pernah meriwaatkan hadis melalui jalannya. Sedang berharap susunan nama-nama ssahabta lainnya tidak kami dapatkan caraa beiau gunakan. Tetapi yang jelas beliau menyebutkan sahabat yang lebih dahuu masuk islam, ummahatul mukminin, sahabat wanita, kemudian para rawi dari sahabat Ansar, dan baru kemudian sahabat pada umumnya.

Sahabat yang menjadi sandaran hadis dalam Musnad ini berjumlah 180 sahabat dan hanya satu hadis yang di riwayatkan Al-Humaidi dengan jalan yag banyak. Cara melacak hadis pada musnad ini ialah mula-mula di cari nama sahabat yang meriwayatkannya, kemudian hadis yang di maksud dicari dalam musnadnya. Jika hadis tersebut terdapatdi dalam Musnad, maka Al Humaidi jelas meriwayatkan dalam Musnassdnya. Tetapi jika sebaliknya , yakni hadis tersebut tidak terdapat dalam musnad, berarti Al Humaidi tidak meriwayatkan dalam Musnadnya, dan harus dicari dalam kitab lain.

b. Musnad Ahmad bin Hambal

Musnad telah dicetak menjadi enam jilid besar dan semua 40.000 hadis, di tulis Imam Ahmad bin Hambal As-syaibaniyag wafat tahun 241 H. Musnad ini disusun berdasarkan musnad-musnad sahabat ataukitab-kitab yang meriwayatkan hadis-hadis setiap sahabat, tanpa memerhatikan pokok bahasan hadis itu. Beliau tidak menyusun nama-nama sahabat berdasarkan urutan huruf hijaiyah, karena beliau hanya memperhatiakan beberapa hal, antar lain: keutamaan tempat tinggal, dan kabilah para sahabat dan sebagainya.

Langkah pertama bagi orang yang ingin mentkhrij hadis yang telah diketahui nama sahabat yang meriwayatkannya adalah melihat daftar isi yang telah di isi petunjuk , guna mengetahui tempat musnad sahabt itu secara mudah, baik dari juz ataupun halamannya.

Musnad Imam Ahmad bin Hambal ini memuat 904 musnad sahabat, yang diantaranya memuat jumlah hadis yang besar . Ada juga memuat hadis diantara kedua musnad.

Mula-mula Ahmad menyebutkan Musnad sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, dengan mendahulukan Musnad Khulafah Rasyidin( Abu Bakar , Umar , Usman dan Ali), kenmudian menyebutkan hadis abdur Rahman bin Abu Bakar , tiga hadis untuk tiga sahabat, kemudian musnad dan hadis Ahlul Bait. Begitulah seterusnya hingga pada hadis Syaddad bin Al-Hadi.

B. Kitab-kitab Mu’jam (Al-Ma’ajim)

1) Pengertian Mu’ajim

Al-Ma’ajim adalah kitab-kita hadis yang disusun berdasarkan musnad-musnad sahabat, guru-gurunya, egara atau lainnya dan umumnya sununan nama-nama sahabat itu di berdasarkan urutan huruf hijaiyah.

2) Kitab-kitab Mu’jam yang Masyur

Kitab-kitab Mu’jam ini jumlahnya banyak sekali, dan yang masyur adalah:

a. Al-Mu’jamul Kabir
Kitab Al-Mu’jamul Kabir adalah karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad Tabrani (-360 H). Kitab tersebut di susun berdasarkan musnad-musnad sahabat sesuai dengan urut huruf hijaiyah, kecuali musnad Anu Hurairah yang telah disusun dalam kitab tersendiri, memuat 60.000 hadis. Karena itu Ibnu Dahyah berpendapat, kitab Mu’jam merupakan kitab Mu’jam terbesar di diunia. Di katakan Mu’jam secara secara umum dalam istilah ahli hadis maka yang di maksud adalah Mu’jam Al-Kabir. Jika yang di maksud selainyang diatas maka di berikanketerangan.

b. Al-Mu’jamul Ausat
Kitab Al-Mu’jamul adalah karya Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad At-Tabrani. Kitab tersebut disusun berdasarkan nama-nama gurunya yang hampir mencapai 2.000 orang dan didalamnya terdapat 30.000 hadis.

c. AL-Mu’jam As-Sagir
Kitab Al-Mu’jam As-Sagir adalah karya Abdul Qasim Sulaiman bin Ahmad AT-Tabrani. Kitab tersebut meriwayatkan hadis dari 1.000 orang guru, dan kebanyakan hanya di ambil satu hadis dari setiap guru.

d. Mu’jam As-Sahabah
Kitab Mu’jam As-Sahabah adalah karya Ahmad bin Ali bin Lalin Al-Hmadany,(-398 H).

C. Kitab-kitab Atraf

1) hakekat kitab Atraf

Kitab atraf adalah bagian kitab-kitab hadis yang hanya menyebutkan bagian (tarf) hadis yang dapat menunjukan keseluruhannya, kemudian menyebutkan sanad-sanadnya, baik secara menyeluruh atau hanya di nisbatkan (dihubungkan) pada kitab-kitab tertentu. Dalam Atraf ini ada yang sanadnya secara menyeluruh dan ada yang hanya menyebutkan gurunya.

2) Susunan kitab Atraf

Pad umumnya kitab Atraf disusun berdasarkan musnd-musnad sahabat sesuai dengan urutan huruf hijaiyah. Maksudnya, kitab tersebut di muai denga hadis-hadis sahabat yang namanyadi urutkan dengan huruf hijaiyah. Tetapi terkadang kitab tersebut disusun berdasarkan huruf awal matan hadis, seperti yang di lakukan Abul Fadl Tahir, dalam kitab Atraful Gara’ib Wal-Afrad karya Ad-Daruqutni.

3) Arti Atraf

Atraf adalah bagian dari matan hadis yag dapat menunjukan keseluruhannya.

4) Jumlah Kitab Atraf

Jumlahnya banyak sekali, yang masyur (terkenal) diantaranya ialah :

a. Atraf As-Sahihain karya Abu Mas’ud Ibrohim bin Muhammad Ad-Dimasyqi (-410 h)
b. Araf As-Sahihain karyan Abu Muhammad khalaf bin Muhammad Al wasit (-410 H)
c. Al-Asyraf Makrifatil Atraf, tentang Atraf hadis kitab sunan empat, karya Al-Hafiz Abul Qasim Ali bin Al-Hasan, yang dikenal dengan Ibnu ‘Asakir Ad-Dimasyqi (-571 H)

5) Kegunaan Kitab Atraf

Kegunaan kitab Atraf banyak sekali, beberapa yang masyur yaitu :

a. Dapat mengetahui sanad yang berbeda-beda , tetapi dapat di kumpulkan dalam suatu tempat, dan selanjutnya dapat mengetahui hadis garib, hadis aziz dan hadis masyur.

b. Dapat menetahui para Rawi hadis yitu para imam yang mengarang kitab-kitab hadis pokok dan bab yang mereka riwayatkan.

c. Dapat mengetahui jumlah hadis setiap sahabat dalam kitab-kitab yang menjadi objek kitab Atraf

2. Metode yang kelima Dengan Jalan Meneliti Sanad dan Matan Hadis

Yang dimaksud dengan metode ini adalah mempelajari sedalam-dalamnya tentang keadaan matan dan sanad hadis, kemudian mencari sumbernya dalam kitab-kitab yang khusus membahas keadaan matan dan sanad hadis tertentu.
Sifat dan Keadaan matan, sanad, dan kemudian keduanya.

A. Penelitian Matan

a. Jika dalam matan hadis terdapat tanda-tanda keoalsuan saeperti lemah lafalnya, rusak maknanya dan bertentangan dengan teks Al-Quran yang sarih atau sebagainya. Maka cara yang tepat untuk mengetahui sumbernya adalah melihat kitab-kiitab Al Maudu’ (Kitab-kitab tentang hadis maudu’). Dengan kitab-kitab ini, dapat diketahui hadis-hadis yag mempunyai sifat-sifa tersebut di atas, takhrijnya,bahasan, dan penjelasan tentang orang yang memal sukanya.

Di antar kitab-kitab tentang hadis maudu’ terdapat kkitab yang disusun berdasrkan urutan huruf hijaiyah dan terdapat yang disusun berdasarkan bab-bab fiqih. Kitab yang disusun berdasarkan huruf Hijaiyah adalah Al Maudu’atul Kubra karya Syekh Ali Al Qari Al Harawi (-1014). Kitab yang yang disusun berdasarkan bab-bab fiqih adalah Tanzihus-Syariat Al Marfu’ah Anil Ahadisis-Al Maudu’ah, karya Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Iraq Al Kinani(-963)

b. Jika matan itu termasuk hadis qudsi, maka sumber yang tepat untuk mencarinya adalah kitab-kitab yang khusus menghimpun hadis Qudsi, karena didalamnya di sebutkan hadis dan parawinya secarab lengkap.

Diantar kitab-kitab tentang hadis qudsi:

1. Misykatul Anwar Fima Ruwiya ‘Anillahu Subhanahu Wa Ta’ala Minal Akhbar, karya Muhyidin Muhammad bin Ali bin Arabi Al Khatimi Al Andalusi(-638), yang menghimpun 101 hadis lengkap dengan sanadnya.

2. Al Ithafus-Saniyyah Bil Alhadsil Qudsiyyah, karya Syekh Abdur-Rauf Al Munawi (-1031), yang berisi 272 hadis tanpa dengan sanadnya, namun disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah.

B. Penelitian Sanad

Jika dalam sanad hadis terdapt kesamaran, seperti :

a. Seorang baoak meriwayatkan hadis dari ankanya , maka sumber yang tepat untuk menakhrijnya adalah kitab-kitab khusus tentang hadis-hadis riwayat bapak dari anaknya. Seperti kitab Riwayatul Aba’ ‘Anil Abna , karay Abu Bakar Ahmas Bin Ali Al Khatib Al Bagdadi(-463 H)

b. Sanadnya Musalsal. Maka dapat di pakai kitab-kitab tentang hadis Musalsal, seperti kitab Al Musalsaltul Kubra, karya As Suyuti, yang menghimpun 85 hadis musalsal, dan kitab Al Manahilus Salsallah Fil Ahadisil Musalsalah, karya Muhammad bin Abdul Baqi Al Ayyubi, yang menghimpun 212 hadis musalsal.

c. Sanadnya Mursal. Maka dapat di pakai kitab-kitab tentang hadis mursal, seperti kitab Al Marasil, karya Abu Dawud As Sijistani, yang di susun berdasarkan bab-bab fikih, dan kitab Al Marasil, karya Ibnu Ibnu Hatim Abdur Rahman bin Muhammad Al Hanzal Ar Razi (-327).

d. Parawinya lemah. Maka dapat di cari dalam kitab-kitab tentang perawi daif dan yang masih di bicarakan kualitasnya seperti kitab Mizanul I’tidal, karya Az Zahabi.

C. Penelitian Matan dan Sanad
Dalam hal ini terdapat beberapa sifat dan keadaan seperti adanya illat dan kesamaran dalam matan atau sanad hadis. Hadis yang demikin ini dapat di cari dalam kitab-kitab yang khusus mebicarakn illat dan kesamaran hadis , yang diantaranya :

a. ‘illalul hadis, karya Ibnu Abu Hatim Ar Zani, yang disusun berdasrkan bab-bab fiqih. Pada setiap bab-bab disebutkan hadis-hadis yang mengandung illat dan diterangkan illatnya secara baik.

b. Al Asma’ul Mubhamah Fil Anaba’il Muhkamah, karya Al Khatib Al Baghdadi. Dalam kitab in di bahas hadis-hadis yang matanna engandung nama-nama atau hal-hal yang samar, kemudian hal itu dijelaskan dengan jalan mengemukakan hadis riwayat lain yang menyebutnya nama atau atau hal yang samar tersebut secara jelas.
Kitab ini disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah sesuai dengan nama atau hal yang samar itu. Mengetahui nama atau hal yang samar tersebut adalah sulit sekali, karena bagi orang yang mengetahuinya tentu tidak peru, dan bagi orang yang belum mengetahuinya tidak akan dapat mengetahui tempatnya.

c. Al Mustafad Min Mubhamatil Matni Wal Isnad, karyya Abu Zur’ah Ahmad bin Abdur Rahim Al Iraqi. Kitab ini disusun berdasarkan bab-bab fiqih dan termasuk kitab yang paling berguna serta lengkap dalam membicarakan hal ini.

BAB III
ANALISIS

Macam-macam hadis didefinisikan dalam bebagai sudut pandang, antara lain berdasarkan jumlah perawina dan kuwalitas hadits tersebut, berdasarkan kuantitas perawinya dibagi menjadi dua yaitu mutawair dan ahad. Berdasarkan materi yang telah kita kaji tentang macam-macam hadits dan takhrij hadits banyak macam-macam hadits dan banyak juga cara menentukan takhrij yang tentunya tidak singkat. Dan dalam menentukan kevalidan hadits atau ke sohihan hadits tentunya membutuhkan pengetahuan yang cukup dan proses yang lumayan panjang untuk itu siapapun yang ingin menentukan kevalidan hadits harus mengetahui dan berhati-hati dalam menentukan takhrij.
Hadis juga dibagi berdasarkan kualitastas perawinya, yaitu hadis maqbul (hadis yang dapat diterima diterima karena kualitas perawinya terjamin) dan hadis mardud (hadis yang tidak dapat diterima/ditolak karena kualitas perawinya yang tidak baik).

Dalam menentukan hadist yang baik dan yang tidak baik, kita harus benar-benar dengan seksama untuk mengkaji dan menelaah secara seksama dengan berbagai macam sumber. Dan perbedaan pandangan tentang hadist merupakan suatu kewajaran dan dan kita harus menyikapi dengan arif dan bijaksana. Bukan hanya menjelekan ketetapan para ulama yang lain, tapi kita harus menjaga prasangka baik dengan berbagai pendapat dalam menanggapi hadist. Semoga dengan usaha atau ikhtiar terbaik kita. Insya Alloh, akan diberikan jalan oleh Alloh SWT untuk mendaptkan yang terbaik.

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Jadi kesimpuanya adalah hadis secara kuntitas perawi itu di bagi menjadi:

a. Hadis mutawati

1. Mutawatir Lafdzi,
2. Muttawatir ma’nawi
3. Muttawatir a’mali

b. Ahad

1. Masyur
2. Aziz
3. ghorib.

Hadis secara kualitas

a. Maqbul

1. Shahih
2. Hassan

b. Mardud

1. Dha’if

Tahrij Hadis adalah Menunjukan tempat hadis pada sumber-sumber aslinya, dimana hadist tersebut telah di riwayatkan lengkap dengan sanadnya, kemudian menjelaskan derajatnya jika di perlukan.

Daftar Pustaka

  • At, Tahhan Mahmud.Metode Tahrij Dan Enelitian Sanad Hadits.PT Bina ilmu: Surabaya.1995
  • Pokja Akademik. Al-Hadits.Pokja akademik UIN SUKA. 2005
  • Rahman, Fatchur. Ikhtisar Musthalahul’l Hadits.PT. Al-ma’arif: bandung.1970

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*