Makalah Pengantar Studi Islam Yang Benar 2017

Makalah Pengantar Studi Islam
Makalah Pengantar Studi Islam

Makalah Pengantar Studi Islam Yang Benar 2017

Makalahkita – Makalah Pengantar Studi Islam Yang Benar 2017 yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL…………………………………………………………………………………………………. i

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………….. ii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………………….. iii

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang…………………………………………………………………………………….. 1
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………………………………… 1
  3. Tujuan………………………………………………………………………………………………… 2

BAB II PEMBAHASAN

  1. Studi Perbandingan Agama…………………………………………………………………… 3
  2. Sejarah-sejarah Agama………………………………………………………………………….. 6
  3. Ciri-ciri Fenomenologi………………………………………………………………………….. 14

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan…………………………………………………………………………………………. 16
  2. Saran………………………………………………………………………………………………….. 17

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………………… 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang Masalah

Agama adalah ekspresi simbolik yang bermacam-macam dan juga merupakan respon seseorang terhadap sesuatu yang dipahami sebagai nilai yang tidak terbatas. Ekspresi simbolik merupakan karakteristik utama dalam memahami makna agama. Dengan demikian, tema pokok penelitian ilmiah terhadap agama adalah fakta agama dan pengungkapannya atau dalam bahasa sederhananya upaya menjadikan agama sebagai sasaran penelitian. Data-data yang digunakan diperoleh melalui pengamatan terhadap kehidupan dan kebiasaan keagamaan manusia ketika mengungkapkan sikap-sikap keagamaannya dalam tindakan-tindakan seperti doa, ritual-ritual, konsep-konsep religiusnya, kepercayaan terhadap yang suci dan sebagainya. Meskipun membicarakan hal yang sama, berbagai disiplin mengamati dan meneliti dari aspek-aspek tertentu yang sesuai dengan tujuan dan jangkauannya.

Penelitian agama tidak cukup hanya bertumpu pada konsep agama (normatif) atau hanya menggunakan model ilmu-ilmu sosial, melainkan keduanya saling menopang. Peneliti yang sama sekali tidak memahami agama yang diteliti, akan mengalami kesulitan karena realitas harus dipahami berdasarkan konsep agama yang dipahami. Berangkat dari permasalahan tersebut, pendekatan-pendekatan metodologis dalam studi atau kajian tentang agama secara terus menerus mendapat perhatian cukup besar dari para intelektual agama. Dalam perkembangannya kemudian dirumuskan berbagai pendekatan yang diadopsi atau berdasarkan disiplin-disiplin keilmuan tertentu.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan beberapa masalah yang dapat dijadikan bahan pembahasan dalam makalah ini. Berikut adalah rumusan masalahnya:

  1. Bagaimana perbandingan studi agama ?
  2. Bagaimana sejarah-sejarah agama?
  3. Apa ciri-ciri pendekatan fenomenoligis?

3. Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui  perbandingan studi agama.
  2. Untuk mengetahui sejarah-sejarah agama.
  3. Untuk mengetahui ciri-ciri pendekatan fenomenoligi.

BAB II

PEMBAHASAN

1.PENDEKATAN FENOMENOLOGIS

Fenomenologi agama secara etimologi adalah penentuan kesimpulan berdasarkan fenomena yang ada.[1] Fenomenologi agama secara terminologi adalah cabang ilmuyang berhubungan dengan klasifikasi dan deskripsi fenomena agama tanpa pengamatan metafisik.[2]

  1. Fenomen (phenom) = obyek / apa yang diamati
  2. Fenomena (phenomena) = Hal-hal (fakta atau peristiwa) yang dapat diamati oleh pancaindera (empirik)
  3. Fenomenologi = Cabang ilmu filsafat yang mempelajari fenomen
  4. Fenomenologi agama = Ilmu yang mempelajari agama sebagai suatu fakta atau peristiwa yang dapat diamati secara obyektif dengan menggunakan analisa deskriftif.[3]

Fenomenologi agama adalah aspek pengalaman keagamaan, dengan mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena keagamaan secara konsisten dalam orientasi keimanan atau kepercayaan objek yang diteliti. Pendekatan ini melihat agama sebagai komponen yang berbeda dan dikaji secara hati-hati berdasarkan sebuah tradisi keagamaan untuk mendapatkan pemahaman di dalamnya. Fenomenologi agama muncul dalam upaya untuk menghindari pendekatan-pendekatan yang sempit, etnosentris dan normatif dengan berupaya mendeskripsikan pengalaman-pengalaman agama dengan akurat.[4]Fenomenologi agama sebagai sebuah kajian komparatif dimana cara kerjanya adalah dengan mengklasifikasikan, menyusun tipe-tipe fenomena agama yang berbeda secara sistematis.[5]

2. Studi Perbandingan Agama

Perbandingan agama (comparative religions) sebagai sebuah cabang ilmu masih berusia muda. Pertama kali diperhatikan oleh Max Muller (1823-1900) menjelang penghujung abad ke-19. Sebelumnya, memang sudah ada dan sudah berlangsung penelitian yang dilakukan oleh para sarjana Orientalis teradap satu per satu agama, tetapi masih bersifat terpisah-piasah, dan umumnya bersifat subjektif, karena setiap agama agama itu disoroti dari aspek keyakinan keagamaan yang dianut oleh pihak sarjana-sarjana Orientalis itu sendiri. Cara ini lebih menonjolkan segi-segi negatif belaka, bahkan sengaja dibuat negatif berdasarkan penafsiran-penafsiran subjektif dari pihak sarjana-sarjana Orientalis itu sendiri. Cara ini lebih menonjolkan segi-segi negatif berdasarkan penafsiran-penafsiran subjektif dari pahak sarjana-sarjana Orientalis.

Namun demikian, Max Muller mulai mengubah landasan penelitian yang sudah banyak berkembang tersebut. Ia berbicara tentang suatu agama itu menurut apa adanya sepanjang kenyataan yang ada didalam kitab suci tiap-tiap agama. Oleh sebab itu, Max Muller dipandang sebagai pembangunan sebuah cabang ilmu baru yang disebut dengan perbandingan agama (comparative religions).[6] Langkah penelitian mengkuti kinerja-kerja Muller, bagi generasi berikutnya, adalah apa yang dilakukan oleh Sigmund Freud (1856-1939), dan Carl Jung (1875-1961).

Pandangan Freud didasarkan pada asumsi bahwa setiap tindak-laku manusiawi itu atas libido, yakni hasrat berkelamin, karena ia berpendapat bahwa “religion is the expression of neuroses, based on the guilt intherent in repression of infantile sexual fantasies”, yakni “agama itu adalah penjelmaan gangguan syaraf berdasarkan dosa diri yang membenam disebabkan represi terhadap khayal seksual dimasa kanak-kanak.”[7]Freud mendasarkan diri pada pendapat agama bahwa kehidupan agama yang paling utama adalah menjadi biarawan dan biarawati tanpa kawin.

Sementara itu, Carl Jung berpendapat bahwa sebab bagi setiap tindak-laku manusiawi itu terlatak pada kodrat-kodrat kejiwaan dibawah sadar. Lebih lanjut, ia mengatakan : “religion represent the method mankind has developed to live with those fears and frunstations which have been built into our subconscious”, yakni, “agama itu penjelmaan tata cara yang dikembangkan manusia untuk tata hidup disebabkan ketakutan-ketakutan dan kekecewaan-kekecewaan yang membenam ke dalam bawah sadar”.[8]

Ø  Islam dan Perbandingan Agama Lain

Perkembangan pendidikan dan kemajuan ilmu pengetahuan, kesemuanya itu merubah pandangan dan pikiran orang Islam diseluruh dunia dan sekaligus merupakan rennaisance orang Islam dalam lapangan ilmu pengetahuan, penertiban, kehidupan agama dan sebagainya. Dengan perkembangan tersebut para sarjana Islam memperbaharui polemik mereka terutama terhadap aktivitas misi Kristen. Pada umumnya polemik-polemik yang diadakan oleh kaum Muslim merupakan reaksi terhadap literatur-literatur yang diterbitkan oleh orang-orang Kristen.[9]

Sejarah hubungan antara Islam dan kristen telah melalui masa yang panjang dan diliputi oleh suasana setempat. Isi polemik antara Islam dan kristen pada umumnya meliputi permasalahan-permasalahan sebagai berikut:

  1. Kristologi (Islam tidak menyinggung pribadi Yesus sebagai kristus)
  2. Kenabian Muhammad SAW terutama mu’jizatnya
  3. Kedudukan Bybel sebagai wahyu
  4. Ajaran Paulus yang dogmatis
  5. Masalah Moral

Dalam kenyataannya materi politik antara abad pertengahan dan abad dua puluh meliputi hal yang sama, namun sudah tentu terdapat pemikiran baru yang terdapat dalam penerbitan mutakhir. Karena adanya pemikiran baru, maka sekalipun pokok pembicaraan sama. Namun ada perobahan dalam interpretasi. Dalam beberapa hal terdapat perhatian umat Islam terhadap penemuan baru. Adanya penemuan baru tersebut dipergunakan oleh umat Islam untuk membahas kitab suci Kristen.

Dalam hal toleransi, Nabi Muhammad pernah memberi suri tauladan yang sangat inspiring dihadapan para pengikutnya. Sejarah mencatat bahwa nabi pernah dikucilkan dan bahkan diusir dari tanah Makkah. Beliau terpaksa hijrah ke Madinah untuk beberapa lama dan kemudian kembali ke Makkah. Peristiwa ini disebut dengan fatkhul Makkah. Dalam peristiwa yang penuh kemenangan ini, Nabi tidak mengambil langkah balas dendam kepada orang-orang yang telah mengusirnya.[10]

Dengan titik tolak pandangan tersebut umat Islam pada tempatnya bersikap menghargai agama orang lain. Menghargai agama orang lain tidak identik dengan pengakuan akan pengakuan kebaikan dan kebenaran agama tersebut.

Ø  Perbedaan islam degan agama-agama lain

Melalui lantaran Rosululloh SAW kita dikabarkan tentang konsep ketuhanan yang Hak. Konsep ketuhanan yang meniadakan sekutu bagi tuhan, atau dalam kata lain konsep tuhan Esa, tanpa menyandarkan Tuhan dengan benda atau suatu apapun.

Berbeda dengan sistem ketuhanan Agama yang lain. Sebagaimana yang bisa kita lihat pada Agama Hindu dan Budha yang menyandarkan tuhan pada Arca dan Patung-patung.perbedaan juga terdapat pada konsep ketuhanan mereka, sebab dalam Agama Hindu ternyata Dikenal dengan istilah Trinitas, yang tertdiri dari Brahma sebagai Dewa pembantu, Wisnu sebagai Dewa pemelihara dan Siwa sebagai dewa perusak.

Yang menjadi pertanyaan adalah, ketika peraturan mereka akan memutuskan satu masalah. Berarti mereka harus mengadakan rapat terlebih dahulu. Kalau dalam sidang ada Tuhan yang tidak setuju, bagaimana?. Melihat tugas tuhan-tuhan tersebut, apa mungkin mereka tidak berbeda pendapat. Atau dengan kata lain apakah para Tuhan tidak bertengkar? Diantara Tuhan itu,yang mana yang paling awal? dan saya rasa mungkin masih banyak pertanyaan yang tidak ada habisnya tentang konsep ketuhanan mereka, yang seperti sangat dipaksakan.

Atau bisa dilihat pada Agama kristen, Dalam Aqidah kristen sistem ketuhanan dikenal dengan istilah Trinitas, perbedaan yang mendasar adalah kristen mengajarkan bahwa disurga tuhan Bapak, mengakui adanya Tuhan anak dan Ruh kudus yang diberikan Malaikat Jibril kepada Maryam. Sistem ini dinamakan Trinitas yang mengakui bahwa Tuhan ada tiga. Tuhan Bapak,Tuhan Anak, Tuhan Ibu (Ruhul kudus).

Dengan adanya Tuhan Anak, mereka beranggapan bahwa dosa-dosa yang dilakukan oleh Adam dapat ditebus dengan penyalipan Nabi Isa. Hal itu berangkat dari kasus yang dilakukan Nabi Adam ketika berada disurga, yang memakan buah khuldi (menurut satu pendapat) yang dilarang Tuhan, karena itu penyaliban Yesus merupakan tanda penebusan dosa manusia. Dalam hal ini, Roh kudus dianggap memiliki andil yang sangat besar dalam usaha memperbaharui penebusan dosa. Dengan demikian kita semua tidak berdosa atau sudah terbebas dari dosa. Sehingga dalam ajaran kristen jarang sekali apa yang dinamakan neraka. Karena manusia dianggap bebas dari neraka. Yang diartikan sebagai tempat orang yang melakukan dosa.

Sementara dalam ajaran Islam konsep ini, jelas-jelas ditolak. Seorang Anak melakukan dosa, tidak akan turun kepada orang tuanya atau sebaliknya, karena tidak ada yang sanggup menanggung dosa seseorang walaupun terhadap keluarganya sendiri kecuali diri sendiri.

3. Sejarah-Sejarah Agama

Ø  Sejarah Agama

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata agama. Namun akan sedikit sulit mendefenisikan pengertian agama itu sendiri. Hal tersebut diakui sendiri oleh Mukti Ali, salah seorang pakar ilmu perbandingan agama di Indonesia yang mengatakan; “Barangkali tak ada kata yang paling sulit diberikan pengertian dan defenisi selain dari kata agama.” [11]

Menurut Mukti Ali, terdapat tiga argumentasi yang dapat dijadikan alasan dalam menanggapi statemen tersebut. Pertama karena pengalaman agama adalah soal batin dan subjektif. Kedua barangkali tidak ada orang yang begitu semangat dan emosional daripada membicarakan agama. Karena itu, membahas arti agama selalu dengan emosi yang kuat dan yang  ketiga konsepsi tentang agama akan dipengaruhi oleh tujuan orang yang memberikan pengertian agama.

Mohammad Natsir pernah mengatakan agama adalah hal yang disebut sebagaiproblem of ultimate concern, suatu problem kepentingan mutlak, yang berarti jika seseorang membicarakan soal agamanya maka ia tidak dapat tawar menawar. Namun begitu bukan berarti agama tidak dapat diberikan pengertian secara umum. Dalam memberikan defenisi tersebut, para ahli menempuh beberapa cara; Pertama dengan menggunakan analisis etimologis, yaitu menganalisis konsep bawaan dari kata agama atau kata lainnya yang digunakan dalam arti yang sama. Kedua, analisis deskriptif, menganalisis gejala atau fenomena kehidupan manusia secara nyata.

Berbicara mengenai agama maka terdapat tiga padanan kata yang semakna dengannya yaitu religi, al-din dan agama. Walaupun sebagian pendapat ada yang mengatakan bahwa ketiganya berbeda satu sama lainnya seperti pendapat Sidi Gazalba dan Zainal Arifin Abbas yang mengatakan al-din lebih luas pengertiannya daripada religi dan agama. Agama dan religi hanya berisi hubungan manusia dengan Tuhan saja sedangkan al-din berisi hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia. Sedangkan menurut Zainal Arifin Abbas, kata al-din (memakai awalan al-ta’rif) hanya ditujukan kepada Islam saja.

Sedangkan pendapat yang mengatakan ketiga kata diatas mempunyai makna sama seperti pendapat Endang Saifuddin Anshari dan Faisal Ismail. Perbedaan hanya terletak pada segi bahasanya saja. Kemudian secara etimologis agama berasal dari bahasa sanskerta, masuk dalam perbendaharaan bahasa Melayu (nusantara) dibawa oleh agama Hindu dan Budha. Pendapat yang lebih ilmiah, agama berarti jalan. Maksudnya jalan hidup atau jalan yang harus ditempuh oleh manusia sepanjang hidupnya atau jalan yang menghubungkan antara sumber dan tujuan hidup manusia, atau jalan yang menunjukkan darimana, bagaimana dan hendak kemana hidup manusia di dunia ini.

Religi berasal dari kata religie (bahasa Belanda) atau religion (bahasa Inggris), masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia dibawa oleh orang-orang Barat yang menjajah bangsa Indonesia. Religi mempunyai pengertian sebagai keyakinan akan adanya kekuatan gaib yang suci, menentukan jalan hidup dan mempengaruhi kehidupan manusia yang dihadapi secara hati-hati dan diikuti jalan dan aturan serta norma-normanya dengan ketat agar tidak sampai menyimpang atau lepas dari kehendak jalan yang telah ditetapkan oleh kekuatan gaib suci tersebut.

Din berasal dari bahasa Arab yang berarti undang-undang atau hukum yang harus ditunaikan oleh manusia dan mengabaikannya berarti hutang yang akan dituntut untuk ditunaikan dan akan mendapat hukuman atau balasan jika ditinggalkan.

Dari etimologis ketiga kata di atas maka dapat diambil pengertian bahwa agama (religi, din):

(1) merupakan jalan hidup yang harus ditempuh oleh manusia  untuk mewujudkan kehidupan yang aman, tentram dan sejahtera;

(2) bahwa jalan hidup tersebut berupa aturan, nilai atau norma yang mengatur kehidupan manusia yang dianggap sebagai kekuatan mutlak, gaib dan suci yang harus diikuti dan ditaati.

(3) aturan tersebut ada, tumbuh dan berkembang bersama dengan tumbuh dan berkembangnya kehidupan manusia, masyarakat dan budaya.

Konsep din dalam Al-Qur’an diantaranya  terdapat pada surat Al-Maidah ayat 3 yang mengungkapkan konsep aturan, hukum atau perundang-undangan hidup yang harus dilaksanakan oleh manusia. Islam sebagai agama namun tidak semua agama itu Islam. Surat Al-Kafirun ayat 1-6 mengungkapkan tentang konsep ibadah manusia dan kepada siapa ibadah itu diperuntukkan. Dalam surat As-Syura ayat 13 mengungkapkandin sebagai sesuatu yang disyariatkan oleh Allah. Dalam surat As-Syura ayat 21 Dinjuga dikatakan sebagai sesuatu yang disyariatkan oleh yang dianggap Tuhan atau yang dipertuhankan selain Allah. Karena din dalam ayat tersebut adalah sesuatu yang disyariatkan, maka konsep din berkaitan dengan konsep syariat. Konsep syariat pada dasarnya adalah “jalan” yaitu jalan hidup manusia yang ditetapkan oleh Allah. Pengertian ini berkembang menjadi aturan atau undang-undang yang mengatur jalan kehidupan sebagaimana ditetapkan oleh Tuhan. Pada ayat lain, yakni di surat Ar-Rum ayat 30, konsep agama juga berkaitan dengan konsep fitrah, yaitu konsep yang berhubungan dengan penciptaan manusia. [12]

Ø  Statistik Pemeluk Agama Di Dunia

Setiap agama pasti punya perbedaan hidup dan pandangan. Perbedaan inilah yang sering membuat ketidak-rukunan antar umat beragama. Masing-masing memaksakan agamanyalah yang paling benar. Namun apabila kita mau saling menghargai satu sama lain mungkin hal ini bisa dihindari. Salah satu hal yang paling mencolok pada saat ini adalah pemaksaan agama lewat terorisme. Ya secara tidak langsung demikian, mereka melakukan tindak terorisme karna kebencian mereka terhadap agama yang lain. Untuk menghindari hal tersebut ada baiknya kita saling mengakui bahwa agama mengajarkan kebaikan untuk sesama manusia bukan untuk menindas. Berikut ini adalah agama terbesar di dunia yang memiliki potensi untuk saling menghancurkan apabila satu sama lain tidak dapat menghargai agama yang lain.  

Berikut ini agama terbesar yang dianut oleh 7 milyar manusia di atas bumi ini:

  1. Kristen (2.1 milyar)

Agama Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasar pada ajaran, hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih. Agama ini meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, juru selamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus manusia dari dosa.

  1. Islam (1.5 milyar)

Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan”, atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

  1. Agnostic/ agama yang berpandangan bahwa Tuhan tidak dapat diketahui (1.1 milyar)

Agnostisisme adalah suatu pandangan filosofis bahwa suatu nilai kebenaran dari suatu klaim tertentu yang umumnya berkaitan dengan teologi, metafisika, keberadaan Tuhan, dewa, dan lainnya yang tidak dapat diketahui dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan tentang “Yang-Mutlak”; atau , dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi. 

  1. Hindu (1 milyar)

Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma “Kebenaran Abadi”), dan Vaidika-Dharma (“Pengetahuan Kebenaran”) adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM.

  1. Chinese traditional/Tionghoa (400 juta)

Kepercayaan tradisional Tionghoa ialah tradisi kepercayaan rakyat yang dipercayai oleh kebanyakan bangsa Tionghoa dari suku Han. Kepercayaan ini tidak mempunyai kitab suci resmi dan sering merupakan sinkretisme antara beberapa kepercayaan atau filsafat antara lain Buddhisme, Konfusianisme dan Taoisme. Kepercayaan tradisional Tionghoa ini juga mengutamakan lokalisme seperti dapat dilihat pada penghormatan pada datuk di kalangan Tionghoa di Sumatera sebagai pengaruh dari kebudayaan Melayu.

  1. Buddha (380 juta)

Buddha (Sanskerta: berarti. Mereka yang Sadar, Yang mencapai pencerahan sejati. dari perkataan Sanskerta: “Budh”, untuk mengetahui) merupakan gelar kepada individu yang menyadari potensi penuh mereka untuk memajukan diri dan yang berkembang kesadarannya. Dalam penggunaan kontemporer, ia sering digunakan untuk merujuk Siddharta Gautama, guru agama dan pendiri Agama Buddha (dianggap “Buddha bagi waktu ini”). Dalam penggunaan lain, ia merupakan tarikan dan contoh bagi manusia yang telah sadar.

  1. Indigenious (300 juta)

Indigenious adalah orang-orang, komunitas, dan bangsa yang asli di daerah tertentu. Banyak adat budaya merupakan minoritas yang menonjol dalam masyarakat mayoritas-budaya kebarat-baratan, dan mereka biasanya bermaksud menuju melestarikan, menghidupkan, dan meningkatkan kohesi dan keunikan nilai-nilai tradisional mereka sosial dan adat istiadat, bersama dengan upaya sungguh-sungguh untuk mengirimkan pengetahuan ini untuk generasi mendatang Beberapa formulasi diterima secara luas,. Namun, yang berusaha untuk mendefinisikan berbagai istilah masyarakat adat telah dikemukakan oleh beberapa organisasi terkemuka dan diakui secara internasional lainnya, seperti Organisasi Perburuhan Internasional dan Bank Dunia.

  1. African traditional (100 juta)

Agama-agama tradisional Afrika adalah istilah yang merujuk pada berbagai agama adat untuk benua Afrika.

  1. Sikh (25 juta)

Sikhisme (bahasa Punjabi) adalah salah satu agama terbesar di dunia. Agama ini berkembang terutamanya pada abad ke-16 dan 17 di India. Kata Sikhisme berasal dari kata Sikh, yang berarti “murid” atau “pelajar”.

Kepercayaan-kepercayaan utama dalam Sikhisme adalah: Percaya dalam satu Tuhan yang pantheistik. Kalimat pembuka dalam naskah-naskah Sikh hanya sepanjang dua kata, dan mencerminkan kepercayaan dasar seluruh umat yang taat pada ajaran-ajaran dalam Sikhisme: Ek Onkar (Satu Tuhan). Ajaran Sepuluh Guru Sikh (serta para cendekiawan Muslim dan Hindu yang diterima) dapat ditemukan dalam Guru Granth Sahib.

  1. Yahudi ( 20 juta(13 juta di tahun 2002)

Yahudi adalah istilah yang merujuk kepada sebuah agama atau suku bangsa. Sebagai agama, istilah ini merujuk kepada umat yang beragama Yahudi. Berdasarkan etnisitas, kata ini merujuk kepada keturunan Eber (Kejadian 10:21) atau Yakub, anak Ishak, anak Abraham (Ibrahim) dan Sarah. Etnis Yahudi juga termasuk Yahudi yang tidak beragama Yahudi tetapi beridentitas Yahudi dari segi tradisi.

Agama Yahudi adalah kombinasi antara agama dan suku bangsa. Agama Yahudi dibahas lebih lanjut dalam pembahasan agama Yahudi; pembahasan ini hanya membahas dari segi suku bangsa saja. Kepercayaan semata-mata dalam agama Yahudi tidak menjadikan seseorang menjadi Yahudi. Di samping itu, dengan tidak memegang kepada prinsip-prinsip agama Yahudi tidak menjadikan seorang Yahudi kehilangan status Yahudinya. Tetapi, definisi Yahudi undang-undang kerajaan Israel tidak termasuk Yahudi yang memeluk agama yang lain. 

Ø  Agama-agama Yang Ada Di Indonesia

Agama di Indonesia – Agama adalah satu prinsip kepercayaan kepada Tuhan yang harus di miliki setiap manusia, karena dengan beragama manusia bisa mengenal dirinya dan Tuhannya, dan dengan beragama manusia bisa tahu hak dan kewajibannya sebagi makhluk yang di ciptakan Tuhan.

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau sebutan lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.

Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti “tradisi” -ada juga secara harfiah yang mengartikan a=tidak dan gama=bebas, yang berarti ketidakbebasan karena peratuan-. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan bereligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Menurut UUD 1945 Pasal 29 ayat:

  1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Di Indonesia banyak di kenal bermacam-macam kepercayaan atau Agama, akan tetapi Berdasarkan Penjelasan Atas Penetapan Presiden No. 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, Agama yang diakui di Indonesia adalah :

  1. Islam
  2. Kristen Protestan
  3. Kristen Katolik
  4. Hindu
  5. Buddha
  6. Kong Hu Cu (Confusius)
  1. Islam

Islam adalah Agama yang mengimani satu tuhan, Islam secara bahasa (secara lafaz) memiliki beberapa makna. Islam terdiri dari huruf dasar (dalam bahasa Arab): “Sin”, “Lam”, dan “Mim”. Beberapa kata dalam bahasa Arab yang memiliki huruf dasar yang sama dengan “Islam”, memiliki kaitan makna dengan Islam.

Islam secara bahasa adalah : Islamul wajh (menundukkan wajah), Al istislam(berserah diri), As salamah (suci bersih), As Salam (selamat dan sejahtera), As Silmu (perdamaian), dan Sullam (tangga, bertahap, atau taddaruj).

Secara istilah, Islam berarti wahyu Allah, diin para nabi dan rasul, pedoman hidup manusia, hukum-hukum Allah yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, dan dia merupakan jalan yang lurus, untuk keselamatan dunia dan akhirat.

  • Nama kitab suci Agama Islam : Al-Qur’an.
  • Nama pembawa Ajarannya : Nabi Muhammad SAW
  • Permulaan : Kurang/lebih 1400 tahun lalu.
  • Nama tempat peribadatan : Masjid.
  • Hari besar keagamaan : Muharram, Asyura, Maulud Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’ an, Idul Fitri, Idul Adha, dan Tahun Baru Hijriah.
  1. Kristen Protestan dan Katolik

Kristen adalah sebuah kepercayaan yang berdasarkan pada ajaran, hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih. Agama kristen ini meyakini Yesus Kristus adalah Tuhan dan Mesias, juru selamat bagi seluruh umat manusia, yang menebus manusia dari dosa. Mereka beribadah di gereja dan Kitab Suci mereka adalah Alkitab. Murid-murid Yesus Kristus pertama kali dipanggil Kristen di Antiokia.

Protestan adalah sebuah mazhab dalam agama Kristen. Mazhab atau denominasi ini muncul setelah protes Martin Luther pada tahun 1517 dengan 95 dalil nya.

Kata Protestan sendiri diaplikasikan kepada umat Kristen yang menolak ajaran maupun otoritas Gereja Katolik.

Kata Katolik sebenarnya bermakna “universal” atau “keseluruhan” atau “umum” (dari ajektiva Bahasa Yunani (katholikos) yang menggambarkan sifat gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus.

  • Nama kitab suci Kristen Protestan dan Katolik : Injil.
  • Nama pembawa Ajaranya : Isa / Yesus Kristus.
  • Permulaan : Kurang/lebih 2.000 tahun lalu.
  • Nama tempat peribadatan : Gereja.
  • Hari besar keagamaan : Natal, Jumat Agung, Paskah, Kenaikan Isa Almasih, dan Pantekosta.
  1. Hindu

Agama Hindu adalah agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini, Hindu dalam Bahasa Sanskerta artinya : Sanatana Dharma “Kebenaran Abadi”, dan Vaidika-Dharma (Pengetahuan Kebenaran). Hindu adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM.

  • Nama kitab suci Hindu : Weda
  • Nama pembawa Ajaran: –
  • Permulaan : Masa prasejarah.
  • Nama tempat peribadatan : Pura.
  • Hari besar keagamaan : Nyepi, Saraswati, Pagerwesi, Galungan, dan Kuningan.
  1. Buddha

Buddha dalam Bahasa Sansekerta adalah : Mereka yang Sadar, Yang mencapai pencerahan sejati. dari perkataan Sansekerta: “Budh”, untuk mengetahui, Buddha merupakan gelar kepada individu yang menyadari potensi penuh untuk memajukan diri dan yang berkembang kesadarannya. Dalam penggunaan kontemporer, sering digunakan untuk merujuk Siddharta Gautama, guru agama dan pendiri Agama Buddha dianggap “Buddha bagi waktu ini”. Dalam penggunaan lain, ia merupakan tarikan dan contoh bagi manusia yang telah sadar.

Penganut Buddha tidak menganggap Siddharta Gautama sebagai sang hyang Buddha pertama atau terakhir. Secara teknis, Buddha, seseorang yang menemukan Dharma atau Dhamma (yang bermaksud: Kebenaran; perkara yang sebenarnya, akal budi, kesulitan keadaan manusia, dan jalan benar kepada kebebasan melalui Kesadaran, datang selepas karma yang bagus (tujuan) dikekalkan seimbang dan semua tindakan buruk tidak mahir ditinggalkan).

  • Nama kitab suci Buddha : Tri Pitaka.
  • Nama pembawa Ajarannya : Sidharta Gautama.
  • Permulaan : Kurang/lebih 2.500 tahun lalu.
  • Nama tempat peribadatan : Vihara.
  • Hari besar keagamaan : Waisak dan Katina.
  1. Kong Hu Cu

Kong Hu Cu atau Konfusius, adalah seorang guru atau orang bijak yang terkenal dan juga filsuf sosial Tiongkok, terkadang sering hanya disebut Kongcu (Hanzi, hanyu pinyin: Kongfuzi, Kongzi) (551 SM – 479 SM). Falsafahnya mementingkan moralitas pribadi dan pemerintahan dan menjadi populer karena asasnya yang kuat terhadap sifat-sifat tradisonal Tionghoa. Oleh para pemeluk agama Kong Hu Cu, ia diakui sebagai nabi.

  • Nama Kitab suci Kong Hu Cu : –
  • Nama Pembawa Ajarannya : Kong Hu Cu
  • Permulaan : –
  • Nama Tempat Ibadahnya : Klenteng/Vihara
  • Hari besar Keagamaannya : Sembayang kepada arwah leluhur, Tahun Baru Imlek, Ca Go Mek, Twan Yang, Twan Yang, Hari Tangcik / Sembayang Ronde dll.

4. Ciri-Ciri Pendekatan Fenomenologis

Pendekatan fenomenologi dalam penilitian bidang kajian islam dipahami sebagai sikap seorang peneliti untuk menempatkan sikap empati terhadap islam dan umatnya. Subjektivitas menjadi tantangan bagi peneliti dengan pendekatan fenomenologis. Karena seorang peneliti harus menempatkan islam berdasarkan apa yang dipahami oleh umatnya, bukan berdasarkan prasangka apalagi berdasarkan pemahaman peneliti yang bersumber dari ajaran agama non islam. Oleh karena itu, untuk mengetahui berprosesnya pendekatan fenomenologi, kita harus mengetahui ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Epoche

Pengkajian terhadap keyakinan agama-agama di dunia ini, sebagaimana disarankan oleh para ahli perbandingan agama,  harus dilakukan dengan sikap empati. Artinya, pengkaji hendaknya tidak memiliki tendensi untuk membela keyakinan, ajaran, dan doktrin agama tertentu, melainkan dengan cara membiarkan bagaimana keyakinan, doktrin dan ajaran agama itu dipahami oleh para pemeluknya.

Sehingga, kewajiban peneliti atau pengkaji adalah sekedar memberikan elaborasi atau penjelasan terhadap apa saja yang dipahami oleh penganut agama itu sendiri.

Analisis terhadap hasil kajian ini dapat dilakukan oleh para pengkaji sepanjang tidak menyangkut pemahaman keyakinan, dogma, doktrin dan ajaran agama yang dipahami oleh pemeluknya. Analisis fenomena dapat dilakukan oleh pengkaji hanya menyangkut peran dan fungsi agama dalam pembentukan realitas sosial. Peneliti di sini harus melakukan pendekatan emic, artinya penelitian tidak berusaha menafsirkan fenomena yang dilihat berdasarkan pengetahuan sebelumnya, namun ia harus berusaha memberikan deskripsi berdasarkan informasi yang diperoleh dari objek penelitian, yaitu komunitas penganut agama.

  1. Taxonomic Scheme Of  Religion

Berbicara persoalan yang muncul dalam pembahasan mengenai agama-agama besar di dunia ini akan banyak tantangan dan hambatan. Dalam pembahasan tentang keyakinan agama-agama besar di dunia ini bukan pada aspek perbedaan-perbedaan yang ditonjolkan, namun harus sebaliknya, yang selayaknya ditonjolkan adalah aspek persamaan-persamaan yang ada di dalamnya. Kesamaan-kesamaan dari ajaran doktrin, dan keyakinan dari agama-agama inilah yang disebut taxonomic scheme of religion. Nilai-nilai kesamaan dapat dijadikan sebagia modal untuk saling memahami ajaran agama-agama yang ada, sehingga seorang orientalisk tidaklah beralasan untuk bersikap sinis terhadap islam, misalnya, karena perbedaan yang ada dengan agama yang diyakininya.[13]

Upaya memperkecil untuk menonjolkan perbedaan ajaran-ajaran agama yang dianut oleh umat manusia. Di Eropa, misalnya, problem utamanya adalah karena Eropa merupakan masyarakat sekuler yang masih mengakui agama. Namun, dalam realitas sosial, mereka memiliki perbedaan yang beragam dalam memaknai keberagamaan itu sendiri. Dalam memahami konsep tuhan, masyarakat Eropa berbeda dengan masyarakat Asia.

Memperhatikan kondisi seperti itu, Joachim Wach terdorong untuk memahami atau lebih tepatnya untuk saling memahami berbagai doktrin agama. Wach berusaha menjelaskan konsepsinya tentang hakikat dan tugas ilmu agama pada muridnya. Kendatipun demikian, Wach juga mengakui adanya berbagai macam kesulitan dalam membina Religions wissenschaft di Amerika.[14]

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Fenomenologi agama adalah aspek pengalaman keagamaan, dengan mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena keagamaan secara konsisten dalam orientasi keimanan atau kepercayaan objek yang diteliti.

Masyarakat yang tidak beragama berada pada peringkat ketiga dengan jumlah persentase 16 persen dari keseluruhan penduduk dunia. Yang menarik adalah setengah dari kelompok ini percaya kepada Tuhan namun tidak mengikuti agama tertentu. Agama Yahudi yang jumlah pemeluknya memiliki persentase 0,22 % dari jumlah penduduk dunia berada pada peringkat terakhir dalam daftar agama-agama resmi dunia.

Walaupun di barat gereja-gereja yang tinggi menjulang banyak dibangun untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran Kristiani, namun saat ini perkembangan agama Islamlah yang mengalami kemajuan pesat dan perselisihan serta perbedaan yang ada di tengah umat Islam pun semakin berkurang dibanding dengan agama-agama lain. Dengan mengingat segala permasalahan ekonomi dan berbagai problem lainnya yang terjadi pada negara-negara Islam, agama ini mampu berada pada peringkat kedua dalam daftar agama dengan jumlah penganut terbanyak.
Berdasarkan laporan situs Baztab Iran, hasil survei memperlihatkan agama Kristen menguasai 33 persen masyarakat dunia namun mereka mengalami perpecahan yang lebih besar dan lebih prinsipal dibanding agama-agama lainnya.

Agama Kristen sekarang terpecah menjadi berbagai macam aliran yang berbeda-beda seperti Katolik, Protestan, Ortodoks timur, Anglikan, Evangelis, Pantekosta dan lain sebagainya.
Islam yang dipeluk oleh sekitar 21 persen dari penduduk dunia termasuk Suni, Syi’ah dan beberapa mazhab lainnya menempati agama kedua dengan penganut terbanyak setelah agama Kristen.

Orang-orang yang tidak beragama berada pada peringkat ketiga dengan persentase 16 persen dari jumlah penduduk dunia, termasuk di antaranya mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, orang-orang sekuler dan yang menyembunyikan keyakinannya. Yang menarik adalah setengah dari mereka ternyata percaya kepada Tuhan walaupun tidak meyakini agama mana pun.
Agama Hindu berada pada peringkat keempat dengan jumlah pengikut sebanyak 14 persen dari jumlah penduduk dunia. Diikuti agama Buddha, agama tradisional Cina dan kepercayaan-kepercayaan tradisional masyarakat Afrika yang masing-masing memiliki jumlah persentase sebanyak 6 persen.

Agama Sikh dengan 0,36 persen komunitasnya menempati peringkat berikutnya dan Yahudi ternyata menempati peringkat paling akhir dari daftar agama-agama dunia menurut jumlah pengikutnya.

2. Saran

  1. Kita sebagai manusia yang beragama hendaknya saling menghomati dan tidak menghina agama lain.
  2. Semua agama didunia ini mengajarkan jalan kebenaran serta kebaikan untuk umatnya namun tergantung dari umatnya bagaimana caranya melaksanakan atau menjalankan perintah-NYA, sehingga kita tidak seharusnya untuk berprasangka buruk pada agama lain.
  3. Agama bukan untuk diperdebatkan akan tetapi untuk dipahami dan dijalankan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Andi. 2011. Agama di Indonesia. 
  • Dahlan, Muhammad., Dkk.  2003. Kamus Induk Istilah Ilmiah Seri Intelektual. Surabaya: Target Press.
  • Erricker, Clive. “Pendekatan Fenomenologis” dalam Peter Connolly (ed.) Aneka Pendekatan Studi Agama terj. Imam Khoiri. 2009. Yogyakarta: LkiS.
  • Narapralaya, Angel. 2011. Agama-agama di Dunia. 
  • Sugianto, Arif. 2011. Sejarah Agama. 
  • Sou’yb, Joesoef. 1996. Agama-Agama Besar Di Dunia, Jakarta : Al-Husna Zikra.
  • Siregar, A. 1990. Kamus Lengkap Indonesia Inggris. Jakarta: PT. Aksara Bina Cendekia.
  • [1] M. Dahlan, dkk, Kamus Induk Istilah Ilmiah Seri Intelektual (Surabaya: Target Press, 2003), 208
  • [2] A.E. Siregar, Kamus Lengkap Indonesia Inggris (Jakarta: PT. Aksara Bina Cendekia, 1990), 408 
  • [3] Rita Christina Maukar, Fenomenologi Agama PPT (http://www.google.com diakses 24 Desember 2011), 1
  • [4] Clive Erricker, “Pendekatan Fenomenologis” dalam Peter Connolly (ed.) Aneka Pendekatan Studi Agama terj. Imam Khoiri, (Yogyakarta: LkiS, 2009), 110
  • [5] Ibid., 113
  • [6] Joesoef Sou’yb, agama-agama Besar di Dunia, Jakarta : Al-Husna Zikra, 1996,  13-14
  • [7] Ibid., 17.
  • [8] Ibid.
  • [9] Abud, Abdu Al-Ghny, Aqidah Islam –Vs – ideologi modern, (Ponorogo: Tri Murti Press, 1992). 31-34.
  • [10] Hakim, Atang Abd. dan Jaih Mubaroh, Metodologi Studi Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999). 51-53.
  • [11] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 21.
  • [12] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 21.
  • [13] Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam,(Bandung: Pustaka Setia,2008), 158.
  • [14] Ibid, 160.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*