Makalah Ruang Lingkup Ilmu Kalam Yang Benar

Makalah Ruang Lingkup Ilmu Kalam
Makalah Ruang Lingkup Ilmu Kalam

Makalah Ruang Lingkup Ilmu Kalam Yang Benar

Makalahkita – Makalah Ruang Lingkup Ilmu Kalam Yang Benar yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam perkembangan agama islam banyak dipelajari berbagai ilmu-ilmu keagamaan, misalnya ilmu fiqih, ilmu aqidah, dan ilmu tauhid. Ilmu-ilmu tersebut mempunyai peranan tersendiri dalam mempelajari ilmu-ilmu tentang agama islam. Ilmu fiqih mempelajari tentang hukum-hukum dalam agama islam. Ilmu aqidah mempelajari tentang tingkah laku baik buruk manusiaa menurut agama islam. Dan ilmu tauhid mempelajari tentang keesaan Tuhan.
Ilmu tauhid juga disebut ilmu kalam, ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan tentang wujudnya Tuhan (Allah), sifat-sifat yang mesti ada padaNya, sifat-sifat yang tidak ada padaNya, dan sifat-sifat yang mungkin ada padaNya. Dan membicarakan tentang rasul-rasul Tuhan, untuk menetapkan kerasulannya dan sifat-sifat yang mesti ada padanya, sifat-sifat yang mungkin ada padanya dan sifat-sifat yang tidak mungkin terdapat pada dirinya.
Dalam sejarah perkembangannya, dalam mempelajari ilmu tauhid, muncul banyak model-model penelitian ilmu kalam, oleh sebab itu dalam makalah ini penulis membahas tenteng “model penelitian ilmu kalam”.

1.2 Tujuan

Tujuan penulis membuat makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan penulis dan pembaca tentang pengertian, ruang lingkup, model penelitian dan asal usul sebutan ilmu kalam.

1.3 Rumusan Masalah

1.    Apa pengertian ilmu kalam ?
2.    Bagaimana asal usul sebutan ilmu kalam ?
3.    Apa saja ruang lingkup ilmu kalam ?
4.    Apa saja model penelitian ilmu kalam ?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ilmu Kalam

Kalam menurut bahasa ialah ilmu yang membicarakan/membahas tentang masalah ketuhanan/ketauhidan (mengesakan tuhan), atau kalam menurut loghatnya ialah omongan atau perkataan,[ ] Menurut pengertian secara global yaitu Ilmu yang membahas tentang masalah ketuhanan serta berbagai masalah yang berkaitan dengannya berdasarkan dalil-dalil yang meyakinkan. Tetapi Ulama beragam mendefenisikan tentang ilmu kalam diantaranya yaitu:
a. Ibnu Khaldun
Sebagaimana dikutip oleh Ahmad Hanafi, Ilmu kalam ialah ilmu berisi alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan golongan salaf dan ahli sunah.[ ]
b. Muhammad abduh
Beliau berpendapat bahwa Ilmu kalam ialah Ilmu yang membicarakan tentang wujud tuhan (ALLAH SWT.), sifat-sifat yang wajib baginya, sifat mustahil baginya, Serta sifat yang jaiz baginya, Dan membicarakan pula tentang rasulnya, untuk menetapkan kerasulannya dan mengetahui sifat-sifat yang wajib, mustahil dan jaiz baginya.[ ]
c. Husain Bin Muhamad Al-Jassar
Beliau mengatakan bahwa Ilmu kalam ialah Ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-keperayaan keagamaan bukti-bukti yang meyakinkan.[ ]
d. Musthafa Abdul Razak
Ilmu Kalam ialah ilmu yang berkaitan dengan akidah imani yang di bangun dengan argumentasi-argumentasi rasional.[ ]

2.2 Asal Usul Sebutan Ilmu Kalam

Ilmu ini di namakan Ilmu Kalam karena:
a. Persoalan terpenting yang menjadi pembicaraan abad-abad permulaan hijrah ialah firman tuhan (Kalam Allah) dan non-azalinya Qur’an (Khalq Al-Qur’an).
b. Dasar Ilmu Kalam ialah dalil-dalil pikiran dan pengaruh dalil-dalil ini nampak jelas dalam pembicaraan-pembicaraan mutakallimin. Mereka jarang-jarang kembali kepada dalil naql (Quran dan Hadits), kecuali sesudah menetapkan benarnya pokok persoalan lebih dahulu.
c. Karena cara pembuktian kepercayaan-kepercayaan agama menyerupai logika dalam fisafat, maka pembuktian dalam soal-soal agama ini di namai ilmu kalam untuk membedakan dengan logika dalam fisafat.
Ilmu Kalam juga dinamakan Ilmu Tauhid, tauhid ialah percaya kepada tuhan yang maha ssa, tidak ada sekutu baginya. Ilmu kalam dinamakan ilmu tauhid, karena tujuannya ialah menetapkan keesaan allah dalam zat dan perbuatannya dalam menjadikan alam semesta dan hanya allah yang menjadi tempat tujuan terakhir alam ini.
Ilmu Kalam juga dinamakan ilmu aqaid atau ilmu ushuludin, karena persoalan kepercayaan yang menjadi pokok ajaran agama itulah yang menjadi pokok pembicaraannya.
Ilmu kalam menyerupai Ilmu Theologi, terdiri dari dua kata yaitu “Theo” artinya “Tuhan” dan “Logos”  artinya “Ilmu” jadi theologi bermakna ilmu tentang ketuhanan.

2.3 Ruang Lingkup Ilmu Kalam

Pokok permasalahan Ilmu Kalam terletak pada tiga persoalan, yaitu:
a. Esensi Tuhan itu sendiri dengan segenap sifat-sifat-Nya. Esensi ini dinamakan Qismul ilahiyat. Masalah-masalah yang diperdebatkan yaitu:
1)  Sifat-sifat Tuhan, apakah memang ada Sifat Tuhan atau tidak. Masalah ini di perdebatkan oleh aliran Mu’tazilah dan Asy’ariyah.
2) Qudrat dan Iradat Tuhan, Persoalan ini menimbulkan aliran Qadariyah dan Jabbariyah.
3) Persoalan kemauan bebas manusia, masalah ini erat kaitannya dengan Qudrat dan Iradat Tuhan.
4)  Masalah Al-Qur’an,  apakah makhluk atau tidak dan apakah Al-Qur’an azali atau baharu.
b. Qismul Nububiyah, hubungan yang memperhatikan antara Kholik dengan makhluk, dalam hal ini membicarakan tentang :
1)Utusan-utusan tuhan atau petugas-petugas yang telah di tetapkan tuhan melakukan pekerjaan tertentu yaitu Malaikat.
2)Wahyu yang disampaikan tuhan sendiri kepada para rasulnya baik secara langsung maupun dengan perantara malaikat.
3)Para Rasul itu sendiri yang menerima perintah dari Tuhan untuk menyampaikan ajarannya kepada manusia.
c. Persoalan yang berkenaan dengan kehidupan sesudah mati nantinya yang disebut  dengan Qismul Al-Sam’iyat. Hal ini meliputi hal-hal sebagai berikut :
1)    Kebangkitan manusia kembali di akhirat
2)    Hari perhitungan
3)    Persoalan shirat (jembatan)
4)    Persoalan yang berhubungan dengan tempat pembalasan yaitu surga atau neraka.

2.4 Model-Model Penelitian Ilmu Kalam

Secara garis besar, penelitian ilmu kalam dapat dibagi dalam dua bagian. Pertama, penelitian yang bersifat dasar dan pemula, dan kedua, penelitian yang bersifat lanjutan atau pengembangan dari penelitian model pertama. Penelitian model pertama ini sifatnya baru pada tahap membangun ilmu kalam menjadi suatu disiplin ilmu dengan merujuk pada Al-Qur’an dan hadits serta berbagai pendapat tentang kalam yang dikemukakan oleh berbagai aliran teologi. Sedangkan penelitian model kedua sifatnya hanya mendeskripsikan tentang adanya kajian ilmu kalam dengan menggunakan bahan rujukan yang dihasilkan oleh penelitian model pertama.
a. Penelitian pemula
Melalui penelitian model pertama dapat kita jumpai sejumlah referensi yang telah disusun oleh para ulama selaku peneliti pertam yang sifat dan keadaannya telah disenutkan diatas. Dalam kaitan ini kita jumpai berbagai karya hasil penelitian pemula sebagai berikut :
1)Model Abu Mansur Muhammad Bin Muhammad Bin Mahmud Al-Maturidy Al- Samarqandy.
Abu Mansur Muhammad Bin Muhammad Bin Mahmud Al-Maturidy Al-Samarqandy telah menulis buku teologi berjudul Kitab al-Tauhid. Dalam buku tersebut selain dikemukakan riwayat hidup secara singkat dari Al-Maturidy, juga telah dikemukakan berbagai masalah yang detail dan rumit dibidang ilmu kalam. Diantaranya dibahas tentang cacatnya taklid dalam hal beriman, serta kewajiban mengetahui agama dengan dalil al-sama’ (dalil nakli) dan dalil akli; pembahasan tentang alam, antrophormisme atau paham jisim pada tuhan, sifat-sifat allah, perbedaan paham diantara manusia tentang cara Allah menciptakan makhluk, paham qadariyah; qada’ dan qadar; masalah keimanan; serta tidak adanya dispensasi dalam hal islam dan iman.
2) Model Al-Imam Abi Hasan bin Isma’il Al-Asy’ari
Al-Imam Abi Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang wafat pada tahun 330 Hijriyah telah menulis buku berjjudul Maqalat al-Islamiyyin wa ikhtilaf al-Mushollin. Buku ini telah ditahkik oleh Muhammad Muhyiddin ‘Abd al-Hamid. Seseorang yang ingin mengetahui sacara mendalam tentang teologi ahlu sunnah mau tidak mau harus mempelajari buku ini. Dalam buku tersebut dibahas tentang perbedaan pendapat disekitar penanggung arasy (hamalatul arasy), kebolehan bagi Allah dalam menciptakan alam, tentang al-quran, perbuatan hamba, kehendak Allah, kesanggupan manusia, perbuatan manusia dan binatang, kelahiran, imamah (kepemimpinan), masalah kerasulan, masalah keimanan, janji baik buruk, siksaan bagi anak kecil, tentang tahkim, hakikat manusia, aliran khawarij dengan berbagai sektenya, Dan lain sebagainya.
3)  Model Al-Imam Al-Haramain Al-Juwainy
Imam Al-Haramain Al-Juwainy yang dikenal sebagai guru dari Imam Ghazali menulis buku berjudul al-Syamil fi Ushul al-Din. Didalam buku ini telah dibahas tentang penciptaan alam yang didalamnya dibahas tentang hakikat jauhar (substansi), arad (aksiden) menurut berbagai pendapat para ahli, kitab tauhid yang didalamnya dibahas tentang hakikat tauhid, kelemahan kaum mu’tazilah, penolakan terhadap pendapat yang mengatakan bahwa Tuhan memiliki jism; pembahasan tentang akidah; kajian tentang dalil atas kesucian Allah SWT, pembahasan tentang ta’wil, pembahasan tentang sifat-sifat bagi Allah, masalah ilat atau sebab.
Selain buku diatas Imam al-Haramain juga telah menulis buku berjudul Kitab al-Irsyad ila Qawathi’ al-Adillah fi Ushul al-‘Itiqad li Imam al-Haramain al-Juwainy. Dalam buku ini dibahas antara lain tentang ketentuan berpikir, hakikat ilmu, barunya alam, sifat-sifat yang wajib bagi Allah, penentuan sifat ilmu dengan sifat maknawiwah, tentang dapat dilihatnya Allah di akhirat, penciptaan perbuatan, paham tentang daya, tentang perbuatan yang baik dan terbaik, penetapan tentang kenabian, tentang sifat-sifat kehidupan akhirat, tentang taubat, dan tentang imam.
4)  Model Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali telah pula menulis buku berjudul al-Iqtishad fi al-I’tiqad. Dalam buku ini dibahas tentang pembahasan bahwa ilmu sebagai fardlu kifayah, pembahasan tentang zat Allah, tentang qadimnya alam, tentang bahwa pencipta alam tidak memiliki jism, karena jism memerlukan pada materi dan bentuk; dan penetapan tentang kenabian Muhammad SAW.
5) Model Al-Amidy
Saif al-Din Al-Amidy menulis buku berjudul Ghayah al-Maram fi Ilmu Kalam. Dalam buku ini telah dibahasa tentang sifat-sifat yang wajib bagi Allah, sifat-sifat nafsiyah yaitu sifat iradah, sifat ilmu, sifat qudrat, sifat kalam dan sifat idrakat; pembahasan tentang keesaan Allah Ta’ala, perbuatan yang bersifat wajib al-wujud, tentang tidak ada pencipta selain Allah, tentang barunya alam serta tidak adanya sifat tasalsul dan tentang imamah.
6) Model Al-Syahrastani
Syaikh Al-Imam Al-Alim Abd Al-Karim Al-Syahrastani menulis buku berjudul kitab Nihayah al-Iqdam fi Ilmi al-Kalam. Dalam buku ini dibahas dua puluh masalah yang berkaitan dengan teologi. Diantaranya tentang baharunya alam, tauhid, tentang sifat-sifat azali, hakikat ucapan manusia, tentang Allah sebagai yang maha Mendengar dan perbuatan yang dilakukan seorang hamba sebelum datangnya syariat.
7) Model Al-Bazdawi
Al-Bazdawi yang oleh sebagian peneliti dimasukkan sebagai kelompok Asy’ariyah menulis buku berjudul Kitab Ushul al-Din. Dalam buku ini dibahas tentang perbedaan pendapat para ulama mengenai mempelajari ilmu kalam, mengajarkan dan menyusunnya, perbedaan pendapat para ulama mengenai sebab-sebab seorang hamba mengetahui sesuatu, pancaindera yang lima, definisi mengenai ilmu pengetahuan, macam-macam ilmu pengetahuan, pendapat ahli al-sunnah mengenai alam sebagai sesuatu yang mencakup segala yang maujud, pembahasan tentang keesaan Allah tanpa sekutu, tentang tidak ada sesuatu yang serupa dengan Allah, tentang Allah sebagai Pencipta alam semesta, tentang bahwa Allah Ta’ala berbicara dengan perkataan yang sifatnya qadim, tentang kehidupan di akhirat dan masih banyak lagi masalah teologi yang dibahas hingga mencapai 97 permasalahan.
Seluruh penelitian yang dilakukan para ulama yang hasilnya telah dituangkan dalam berbagai buku tersebut dapat dikategorikan sebagai penelitian pemula.
b. Penelitian Lanjutan
Penelitian lanjutan yaitu penelitian atas sejumlah karya yang dilakukan oleh para peneliti pemula. Pada penelitian lanjutan ini, para peneliti mencoba melakukan dekripsi, analisis, klasifikasi, dan generalisasi.
1)  Model abu Zahrah
Abu zahrah mencoba melakukan penelitian terhadap berbagai aliran dalam bidang politik dan teologi yang dituangkan dalam karyanya berjudul Tarikh al-Mazahib al-islamiyah fi al-siyasah wa al-‘Aqaid. Ada beberapa masalah yang dikemukakan dalam dalam penelitiannya ini yaitu, objek-objek yang dijadikan pangkal pertentangan oleh berbagai aliran dalam bidang politik yang berdampak pada teologi. Selanjutnya, dikemukakan tentang berbagai aliran dalam mazhab syi’ah yang mencapai dua belas golongan, selanjutnya dikemukakan pula aliran khawarij dengan berbagai sektenya yang jumlahnya mencapai enam aliran lengkap dengan berbagai pandangan teologinya.
2)    Model Ali Musthafa Al-Ghurabi
Ali Musthafa Al-Ghurabi, sebagaimana Abu Zahrah tersebut, memusatkan penelitiannya pada masalah berbagai aliran yang terdapat dalam islam serta pertumbuhan ilmu kalam di kalangan mayarakat islam. Hasil penelitiannya ia tuangkan dalam karyanya berjudul Tarikh al-Firaq al-Islamiyah wa Nasy’atu ilmu al-Kalam ‘ind al-Muslimun.
3) Model Abd Al-Lathif Muhammad Al-‘Asyr
Abd Al-Lathif Muhammad Al-‘Asyr khusus telah melakukan penelitian terhadap pokok-pokok pemikiran yang dianut aliran Ahl Sunnah. Hasil penelitiannya ini telah dituangkan dalam karyanya berjudul al-Ushul al-Fikriyyah li Mazhab Ahl Sunnah.
4) Model Ahmad Mahmud Shubhi
Ia adalah dosen filsafat Islam Fakultas adab Universitas Iskandariyah, telah melakukan penelitian dalam bidang teologi islam yang dituangkannya dalam kitab yang berjudul fi Ilmi Kalam dalam dua buku. Buku pertama khusus berbicara mengenai aliran mu’tazilah lengkap dengan ajaran dan tokoh-tokohnya. Dan buku kedua khusus berbicara tentang aliran Asy’ariyah lengkap dengan ajaran dan tokoh-tokohnya.
5)    Model Ali Sami Al-Nasyr dan Ammar Jami’iy Al-Thaliby
Keduanya telah melakukan penelitian khusus terhadap akidah kaum salaf dengan mengambil tokoh ahmad Ibn Hambal, Al-Bukhori, Ibn Kutaibah dan Usman Al-Darimy. Dalam buku tersebut telah diungkap tentang pemikiran kaum salaf yang berasal dari tokoh-tokohnya yang menonjol itu. Dari kalangan ulama Indonesia yang melakukan penelitian terhadap pemikiran teologi ulama salafiyah dilakukan oleh Abubakar Atjeh yang tertuang dalam bukunya yang berjudul Salaf (Salaf as-Shalih Islam Dalam Masa Murni). Dalam Buku tersebut dikemukakan tentang kelebihan salaf, pandangan salaf terhadap al-Qur’an As-Sunnah, salaf dan keyakinan dan hukum, juga dibahasa tentang pertumbuhan aliran yang terdiri dari sebab-sebab pertumbuhan aliran, Ahmad bin Hambal, bantuan Asy’ari, bantuan Maturidi, dan salaf Tabi’in.
6) Model Harun Nasution

Salah satu hasil penelitiannya yang dituangkan dalam buku adalah buku Fi’ilm Kalam (Teologi Islam). Dalam buku tersebut dikemukakan tentang sejarah timbulnya persoalan-persoalan teologi dalam islam, tentang berbagai aliran teologi islam lengkap dengan tokoh-tokoh dan pemikirannya. Setelah itu Harun Nasution melakukan analisa dan perbandingan terhadap masalah akal dan wahy, free will dan predestimation, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, keadilan tuhan, perbuatan-perbuatan Tuhan, sifat-sifat Tuhan dan konsep iman.

BAB III

PENUTUP

1.KESIMPULAN

Ilmu kalam adalah Ilmu yang membahas tentang masalah ketuhanan serta berbagai masalah yang berkaitan dengannya berdasarkan dalil-dalil yang meyakinkan. Ilmu Kalam juga dinamakan ilmu aqaid atau ilmu ushuludin, karena persoalan kepercayaan yang menjadi pokok ajaran agama itulah yang menjadi pokok pembicaraannya.

Pokok permasalahan Ilmu Kalam terletak pada tiga persoalan, yaitu Esensi Tuhan itu sendiri dengan segenap sifat-sifat-Nya, Qismul Nububiyah, hubungan yang memperhatikan antara Kholik dengan makhluk, Persoalan yang berkenaan dengan kehidupan sesudah mati nantinya yang disebut  dengan Qismul Al-Sam’iyat.

Secara garis besar, penelitian ilmu kalam dapat dibagi dalam dua bagian. Pertama, penelitian yang bersifat dasar dan pemula, dan kedua, penelitian yang bersifat lanjutan atau pengembangan dari penelitian model pertama. Penelitian model pertama ini sifatnya baru pada tahap membangun ilmu kalam menjadi suatu disiplin ilmu dengan merujuk pada Al-Qur’an dan hadits serta berbagai pendapat tentang kalam yang dikemukakan oleh berbagai aliran teologi. Sedangkan penelitian model kedua sifatnya hanya mendeskripsikan tentang adanya kajian ilmu kalam dengan menggunakan bahan rujukan yang dihasilkan oleh penelitian model pertama. 

DAFTAR PUSTAKA

  • Drs. H. Bakri Dusar. Tauhid dan ilmu kalam.
  • Ahmad Hanafi, teologi islam (Ilmu Kalam), Jakarta: Bulan Bintang, 1979
  • Syaikh Mohammad Abduh, Risalah Tauhid , Jakarta: Bulan Bintang, 1975
  • Husain bin Muhammad Al Jassar, Al-Ushbun Al Hamidiyah Li Al-Muhafadzah ‘Ala Al-‘
  • Aqo’id Al-Islamiyah (Bandung: Syirkah Al-Ma’arif)
  • Mustafa Abd. Razak. Tahmid li tarikh al-fasafah al-islamiyah, lajnah wa at-thalif wa-attarjamah wa nasyir, 1959
  • Abudin Nata, Dr, Metodologi Studi Islam, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2008

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*