Makalah Ruang Lingkup Tarikh Tasyri Yang Benar

Makalah Ruang Lingkup Tarikh Tasyri
Makalah Ruang Lingkup Tarikh Tasyri

Makalah Ruang Lingkup Tarikh Tasyri Yang Benar

Makalahkita – Makalah Ruang Lingkup Tarikh Tasyri Yang Benar yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar belakang

Dalam konteks apapun, tarikh (sejarah) dianggap sebagai entitas yang sangat mendasar dalam kehidupan. Sejarah adalah gambaran riil dari potret kehidupan yang sangat varian dan dinamis. Akumulasi perilaku sosial keagamaan maupun perilaku sosial lainnya dalam kehidupan masyarakat plural dapat diamati dan dikritisi melalui fakta empirik peninggalan sejarah kehidupan manusia. Dengan demikian semua perilaku sosial, baik perilaku positif maupun negatif akan dapat dilacak melalui data-data historis. Atas dasar ini, fungsi maupun kontribusi sejarah bagi generasi kemudian adalah memberikan pelajaran mendasar bagi kehidupannya yang tentu dianggap mampu memberikan inspirasi bagi praktik kehidupan yang akan datang. Dengan demikian sejarah pada hakikatnya tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Sejarah akan menjadi inspirasi kehidupan mereka, dan kehidupan mereka pada gilirannya juga akan menjadi sejarah baru bagi generasi yang akan datang. Inilah potret sebuah kehidupan yang selalu terdaur ulang (siklus), perputaran yang tiada henti. Sejarah mewarnai realitas dan realitas mewarnai sejarah, sebuah proses dialektik yang dinamis.  

Oleh karena itu sangat beruntung bagi siapa saja yang dapat mengukir dan mewarisi sejarah kehidupan ini dengan baik, sebaliknya celaka dan rugi mereka yang hidupnya hanya mengotori sejarah kehidupan ini. Lebih-lebih terkait dengan sejarah penetapan dan penentuan hukum fiqih dalam Islam. Sebab dengan mengetahui sejarah penetapannya ( tarikh tasyri’) berarti masyarakat telah memiliki ilmu yang sangat tepat untuk mengetahui periodesasi perkembangann fiqih. Dimulai dari masa Rasulullah SAW hingga masa kini, seperti yang kita rasakan sekarang ini. Pada bab ini, akan diawali dengan kajian-kajian normatif-ontologis, menyangkut tentang pengertian syari’ah dan tasyri’, macam-macam tasyri’, pengertian tarikh tasyri’ al-Islami, periodesasi tarikh tasyri’, serta kegunaan mempelajarinya.

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pengertian Tarikh Tasyri’

    Tarikh tasyri’ adalah dua term terdiri dari tarikh, yang berarti sejarah dan tasyri’ yang berarti penetapan hukum. Dengan demikian tarikh tasyri’ al-Islami secara sederhana dapat difahami sebagai sejarah penetapan suatu hukum. Dari pengalaman itu para fuqaha kemudian dapat memahami siapa para mujtahidin itu dan bagaimana mereka melakukan proses penetapan hukum relevansinya terhadap situasi dan kondisi budaya yang melingkupinya. Secara literer tarikh tasyri’ juga dapat difahami sebagai ilmu yang membahas tentang keadaan fiqih Islam pada masa kerasulan (Nabi Muhammad SAW) dan masa-masa sesudahnya, dimana masa-masa itu dapat menolong dalam pembentukan hukum, dan dapat menjelaskan hukum yang tiba-tiba datang, baik terdiri dari nasakh, takhsis, dan sebagainya, maupun membahas tentang keadaan para fuqaha dan mujtahidin serta hasil karya mereka dalam menyikapi hukum tersebut.  

Dengan demikian, pada hakikatnya tarikh tasyri’ tumbuh dan berkembang di masa Nabi SAW sendiri karena Nabi SAW mempunyai wewenang untuk mentasyri’kan hukum dan berakhir dengan wafatnya Nabi SAW. Dan dalam hal ini, nabi SAW berpegang kepada wahyu. Para fuqaha, ahli-ahli fiqh, hanyalah menerapkan kaidah-kaidah kulliyah, kaidah-kaidah yang umum meliputi keseluruhan, kepada masalah-masalah juz-iyah, kejadian-kejadian yang detail dengan mengistinbathkan, mengambil hukum dari nash-nash syara’, atau ruhnya, di kala tidak terdapat nash-nashnya yang jelas. Ringkasnya tarikh tasyri’ merupakan kata lain dari sejarah fiqh.   

Secara umum, kaidah-kaidah syari’at itu telah dikokohkan, ditegakkan asasnya dan disempurnakan pokok-pokoknya pada zaman Nabi SAW. yang menjadi saksinya adalah firman Allah:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي و رضيت لكم الإسلام دينا

“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.”  (Al-Maidah: 3) 

Nabi SAW bersabda:    “ Aku tinggalkan untukmu dua perkara, niscaya kamu tidak akan tersesat selagi kamu berpegang pada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah nabi-Nya.”     

Dari keterangan-keterangan di atas jelaslah bahwa Nabi SAW tidak akan meninggalkan kehidupan ini kecuali setelah menyempurnakan pembangunan syari’at. Adapun hukum setelah beliau wafat yang ditetapkan melalui hasil ijtihad para sahabat dan tabi’in, pada hakikatnya adalah perluasan terhadap kaidah-kaidah universal dan penyesuaian terhadap peristiwa-peristiwa parsial yang baru muncul, serta merupakan hasil pengambilan hukum-hukum dari nash yang dipahami mereka (sahabat dan tabi’in), dan qiyas (analogi) terhadap nash dalam masalah yang tidak terdapat dalam nash. Jadi, dengan demikian tidak ada sumber tasyri’ yang melebihi Al-Qur’an dan Sunnah tingkat keuniversalannya, sekalipun sudah lama berlaku.  

Namun demikian banyak para fuqaha yang berbeda cara pandangnya dalam memahami ruang lingkup dan rentang tarikh tasyri’. Ada beberapa pakar yang memahami tarikh tasyrik tidak hanya berhenti pada era Rasul, melainkan proses sejarah penetapan hukum Islam sejak Rasul hingga kini disebut sebagai fenomena tarikh tasyri’ dalam Islam.

2. Ruang Lingkup Tarikh Tasyri’

Secara umum ruang lingkup kajian tarikh tasyri’ hanya dibatasi pada keadaan perundang-undangan Islam dari zaman-ke zaman dimulai dari zaman Rasul hingga zaman masa kini yang ditinjau dari sudut pertumbuhan perundang-undangan Islam. Sementara itu menurut Kamil Musa dalam al-Madkhal ila Tarikhi al-Tasyri’ al-Islami mengatakan bahwa ruang lingkup tarikh tasyri’ tidak hanya terbatas pada sejarah pembentukan al-Qur’an dan al-Sunnah, melainkan juga mencakup pemikiran, gagasan, dan ijtihad para ulama pada kurun waktu tertentu. Secara spesifik ruang lingkup kajian tarikh tasyri’ islami itu adalah sebagai berikut:

  1. Ibadah

Bab Ibadah khusus berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Pembentukan hukumnya bersumber pada nash-nash syariat langsung, oleh karena itu ketetapan hukum yang berhubungan dengan lapangan ibadah ini bersifat abadi, tidak memerlukan perubahan dan sesuai dengan segala zaman dan tempat.

1.Hukum Keluarga

Lapangan pembahasan hukum  keluarga adalah lebih luas daripada lapangan munakahat, karena membahas masalah pernikahan, warisan, wasiat dan wakaf.

2. Muamalat

Bab muamalat berisi tentang hak-hak manusia dalam hubungannya dengan satu sama lain.

3. Hukum Pidana

Hokum pidana ialah kumpulan aturan yang mengatur cara menjaga keselamatan hak dan kepentingan masyarakatdari perbuatan-perbuatan yg tidak dibenarkan.

4. Hukum Kenegaraan/Siyasah Syar’iyyah

Siyasah syar’iyyah (politik Islam) ialah politik yang mengatur pemerintahan, teori-teori yg menimbulkan suatu negara, syarat-syarat berdirinya suatu Negara serta keawajiban-kewajibannya.

5. Hukum Internasional

Lapangan pembahasan hukum internasional ini terdapat dua pembagian yang spesifik, pertama berkenaan dengan hukum perdata Internasional, yaitu aturan-aturan yang menerangkan hukum mana yang berlaku, dari dua hukum atau lebih. Kedua adalah hukum publik Internasional, lapangan hukum ini mengatur antara Negara Islam dengan Negara lain yang bukan dalam lapangan keperdataan.

3. Tujuan Mempelajari Tarikh Tasyri’

Fungsi dan signifikansi Tarikh Tasyri adalah bahwa dalam memahami hukum islam harus mengetahui latar belakang munculnya suatu hukum islam harus mengetahui latar belakang munculnya suatu hukum baik yang didasarkan pada Al-Quran maupun yang tidak. Tanpa memahami ini akan melahirkan pemahaman hukum yang cenderung “ekstrem” bahkan terkadang merasa benar sendiri. Hukum islam baik dalam arti fiqih, fatwa, atau ketetapan adalah produk pemikiran ulama secara individu maupun kelompok.

Diantara tujuan mempelajari Tarikh Tasyri’ adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui latar belakang munculnya suatu hukum atau sebab-sebab ditetapkannya suatu hukum syari’at, dalam hal ini penetapan hukum atas suatu masalah yang terjadi pada periode Rasulullah saw adalah tidak sama atau memungkinkan adanya perbedaan dengan periode-periode setelahnya.
  2. Untuk mengetahui sejarah perkembangan hukum dari periode Rasulullah saw sampai sekarang.
  3. Dalam rangka meningkatkan pengetahuan terhadap hukum Islam.
  4. Agar membangkitkan dan menghidupkan kembali semangat umat islam dalam mempelajari tarikh tasyri’.
  5. Agar kita mampu memahami perkembangan syari’at Islam.
  6. Agar kita tidak salah dalam memahami hukum Islam tersebut.

Dengan mempelajari tarikh tasyri kita melakukan langkah awal dalam mengkonstruksi pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya untuk ditransmisikan sehingga kemashlahatan manusia senantiasa terpelihara. Diharapkan, melahirkan sikap toleran dan dapat mewariskan pemikiran ulama klasik dan langkah-langkah ijtihadnya serta dapat mengembangkan gagasannya

D. Perbedaan Fiqih dan syari’ah

Sebelum membahas perbedaan antara fiqh dan syari’ah terlebih dahulu membahas definisi fiqih dan syariah. Dari segi bahasa fiqh (al-fiqhu) diartikan “paham dan cerdas”. Fiqh adalah mengetahui (al-‘ilm) pada definisi ini adalah pengetahuan yang sampai ketingkatan zhan atau asumsi. Fiqh adalah hukum islam yang tingkat kekuatannya hanya sampai ketingkatan zhan karena ditarik dari dalil-dalil yang zhanny. Ini sejalan dengan kata al-muktasab = diusahakan,digali yang mengandungbpengertian adanya campur tangan akal pikiran manusia dalam penarikannya dari dalil. Oleh karena itu pengetahuan tentang hukum islam yang tidak dicampuri oleh akal pikiran tidak disebut fiqh.

Sedangkan syariah dalam pengertian agama adalah jalan yang lurus yang ditentukan oleh Allah untuk dilaksanakan. Syariah meliputi segala ketentuan dan hukum yang ada berdasarkan Al-Quran dan hadits. Kata syariat sebagai nama bagi hukum yang ditetapkan Allah bagi hambanya dengan perantara Rasul baik mengenai amaliah lahiriah maupun akhlak dan aqaid. Tetapi ulama mutaakhirin memakai kata syariat untuk nama hukum fiqih atau hukum islam yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf.

Fiqh dapat dibedakan dengan syariah sebagaimana dalam tabel berikut: 

PerbedaanSyariahFiqih
ObyekObyek Syariah meliputi bukan saja batin manusia, akan tetapi juga sifat lahir manusia dengan Tuhannya (Ibadah).Obyek Fiqih adalah peraturan manusia yaitu hubungan lahir antara manusia dengan manusia, manusia dengan makhluk lain dan alam semesta.
SumberSumber pokok Syariah berasal dari wayu Illahi atau kesimpulan-kesimpulan yang diambil dari wahyu seperti Al-Quran dan Hadits.Fiqih berasal dari hasil pemikiran manusia dan kebiasaan-kebiasaan yang terdapat dalam masyarakat atau hasil ciptaan manusia dalam bentuk peraturan atau Undang-Undang
Sanksi

 

Sanksinya adalah pembalasan Tuhan di Akhirat, tapi terkadang tidak terasa oleh manusia di dunia ada hukuman yang tidak langsungSemua norma sanksi bersifat sekunder, dengan menunjuk pelaksana negara sebagai pelaksana sanksinya
Ruang lingkupRuang lingkupnya sangat luas karena didalamnya mencakup akidah,amaliah dan akhlakRuang lingkup hanya berkaitan dengan amaliah
Jangka waktuSyariah berlaku abadi karena merupakan ketetapan dari Allah SWT dan ketentuan Rasulullah SAW.Fiqih tidak berlaku abadi karena merupakan karya manusia. Fiqih dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
SifatSyariah menunjukan kesatuan dalam Islam, dan hanya ada satu.Fiqih menunjukan keragaman, dimungkinkan melebihi dari satu aliran hukum/madzhab.
  1. Perbedaan fiqh dan Usul Fiqh

Sebagaimana dalam pembahasan tentang definisi Ushul Fiqh di atas, terdapat perbedaan makna etimologi antara kata ‘usul’ dan kata ‘fiqh’. Perbedaan lebih konkrit dalam makna terminologinya dapat dipaparkan sebagai berikut :

a.Ilmu Ushul Fiqh merupakan dasar-dasar bagi usaha istinbath hukum, yakni menggali hukum-hukum dari sumber-sumbernya. Oleh itu, setiap mujtahid wajib mengetahui betul-betul ilmu Ushul Fiqh. Ini tak lain kerana tujuan ilmu ini adalah untuk mengimplementasikan kaedah-kaedah Ushul Fiqh terhadap dalil-dalil terperinci yang mengandung hukum-hukum cabang di dalamnya. Dengan demikian, kajian Ushul Fiqh sesungguhnya terfokus pada kompetensi orang-orang tertentu saja kerana tidak semua orang dapat mengkaji serta mengimplementasikannya.Hal ini berbeda dengan kajian ilmu fiqh.

b. Jika ilmu Ushul Fiqh mesti diketahui oleh seseorang mujtahaid, maka ilmu fiqh harus dipahami oleh mukallaf (orang-orang yang dikenakan beban hukum) secara keseluruhan. Ini kerana ilmu fiqh merupakan kajian tentang ketentuan hukum bagi setiap perbuatan manusia. Dengan ketentuan hukum inilah beragam perdebatan dan persengketaan di kalangan masyarakat dapat dielakkan.

c. Pembahasan Ushul Fiqh berkenaan dengan dalil-dalil syar‘i yang bersifat global (كلي). Ia bertujuan untuk membuat rumusan kaedah-kaedah yang mempunyai fungsi memudahkan pemahaman terhadap hukum-hukum beserta sumber-sumber dalilnya secara terperinci. Sebagai contohnya adalah beberapa kajian seperti berikut :

1) Kajian tentang kedudukan dan tingkatan dalil, baik dalil tersebut mempunyai taraf qath’i (hanya mempunyai satu interpretasi) ataupun dhanni (multi-interpretasi).

2) Kajian tentang indikasi hukum lafadz perintah (الأمر) dan lafadz larangan (النهي) baik dalam al-Qur’an ataupun al-Hadith. Dalam kaitan ini kajian Ushul Fiqh menemukan rumusan bahwa lafadz perintah menunjukkan hukum wajib sedangkan kata larangan menunjukkan hukum haram sejauh tidak ada indikasi (قرينة) yang menyatakan sebaliknya. Oleh itu, kajian ini kemudiannya dapat melahirkan kaedah Ushul Fiqh sebagai berikut :

الأ صل في الأمر يد ل على الوجوب والأصل في النهي يد ل على التحريم

Artinya: “Hukum asal daripada perintah adalah wajib sedangkan hukum asal daripada larangan adalah haram”.

3) Kajian tentang lafadz-lafadz ‘am atau lafadz-lafadz khas baik dalam al-Qur’an maupun al-Hadith. Kajian tentang hal ini kemudian melahirkan kaedah Ushul Fiqh:

العام يتناول جميع أفراده مالم يخصص

Artinya: “Lafadz am itu meliputi semua unit-unit di bawahnya sejauh tidak dikhususkan [ditakhsis] oleh lafadz lain”.

Sedangkan pembahasan dalam fiqh tidaklah demikian. Pembahasan ilmu fiqh adalah berkaitan dengan perbuatan mukallaf. Apakah perbuatan mukallaf itu dihukumi halal atau haram Apakah perbuatan mukallaf itu sah atau batal? Dalam menentukan aspek hukum perbuatan mukallaf tersebut digunakan dalil-dalil terperinci (تفصيلي) berdasarkan pada kaedah-kaedah Ushul Fiqh yang bersifat umum dan global (إجمالي).

Sebagaimana diketahui, bahwa Ushul Fiqh merupakan kaidah-kaidah yang membawa kepada usaha merumuskan hukum syara’ dari dalilnya yang terinci atau dapat disebut pula sebagai kaidah-kaidah yang menjelaskan cara-cara mengeluarkan hukum dari dalil-dalilnya. Sementara fikih adalah pemahaman tentang hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliah yang digali dan dirumuskan dari dalil-dalil tafsiii (terperinci).

Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa Ushul Fiqh adalah kaidah-kaidah atau landasan argumentatif yang dipakai untuk melahirkan hukum syara’ (fiqih). Singkatnya, Ushul Fiqh merupakan metodologi/jalan yang dipakai untuk melahirkan hukum fikih, sedangkan fikih merupakan produk hukum yang lahir lewat pengkajian metodologis Ushul Fiqh

4. Perbedaan antara Kaidah Qowaid Ussuliyah dan Qowaid Fiqqiyah

Persamaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqh terletak pada kesaaman sebagai wasilah pengambilan hukum. Keduanya merupakan prinsip umum yang mencakup masalah-masalah dalam kajian syari’ah. Oleh karena itu, dalam perspetif ini kaidah ushul sangatlah mirip dengan kaidah fiqih. Namun, kita pun bisa melihat perbedaan yang signifikan dari kedua kaidah tersebut, secara ringkas perbedaan kedua kaidah tersebut adalah sebagai berikut :

  • Obyek Qowaid Ushuliyah adalah dalil hukum, sedang Qowaid Fiqihiyah adalah perbuatan mukallaf.
  • Ketentuan Qowaid Ushuliyah berlaku bagi seluruh bagiannya (juziyahnya) sedangkan Qowaid Fiqihiyah berlaku pada sebagian besar (Aghlabiah) juziyahnya.
  • Qowaid Ushuliyah sebagai sarana istimbats hukum sedangakan Qowaid Fiqihiyah sebagai usaha menghimpun dan mendekatkan ketentuan hukum yang sama untuk memudahkan pemahaman fiqih.

Jika kaidah Ushuliyah dicetuskan dan disusun oleh ulama ushul sedangkan kaidah Fiqihiyah oleh ulama Fiqih namun aplikasi kaedah tersebut selalu berkaitan, tidak berdiri sendiri mengingat kaidah ushul memuat pedoman penggalian hukum dari sumber aslinya sedangkan Qowaid Fiqhiyah merupakan operasionalisasi dari kaidah ushul tersebut.

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

          Tarikh Tasyri’ secara terminologi berasal dari dua kata yaitu Tarikh yg berarti sejarah (history) dan Tasyri yaitu penetapan Hukum syar’i. sedangkan secara estimologi atau istilah adalah ilmu yang membahas tentang keadaan fiqih Islam pada masa kerasulan (Nabi Muhammad SAW) dan masa-masa sesudahnya, dimana masa-masa itu dapat menolong dalam pembentukan hukum, dan dapat menjelaskan hukum yang tiba-tiba datang, baik terdiri dari nasakh, takhsis, dan sebagainya, maupun membahas tentang keadaan para fuqaha dan mujtahidin serta hasil karya mereka dalam menyikapi hukum tersebut.

        Ruang lingkup tarikh tasyri meliputi :

1. Ibadah,

2. Hukum Keluarga,

3. Muamalah,

4. Jinayyat dan hudud,

5. Hukum Kenegaraaan,

6. Hukum Internasional.

Dari berbagai macam ruang lingkup yg begitu luas menjelaskan akan universalitas dari syari’at islam itu sendiri. Sehingga sangat layak islam menjadi pedoman/panduan hidup bagi seluruh manusia.

      Tujuan mempelajari tarikh tasyri adalah untuk mengetahui latar belakang terjadinya suatu penetapan hukum. Tidak keliru dalam penetapan hukum syar’i, menumbuhkan semangat dalam mempelajari ilmu tarikh tasyri dan terpenting ialah bagaimana kita mengetahui konsturksivisme pemikiran ulama terdahulu dalam mneyusun dan menetapkan ijtihad.

     Ada perbedaan antara tasyri’, syariat, dan fiqh. Tasyri’ merupakan penetapan peraturan, penjelasan hokum-hukum, dan penyusunan oerundang-undangan. Syari’at merupakan hokum yg berada dalam al-qur’an da assunnah. Sementara fiqh adalah produknya.

                 Perbedan juga terdapat antara Fiqh dan Usul Fiqh. Berikut penjelasannya.

  1. Objek fiqh adalah mukallaf sedangkan usul fiqh ialah dalil-dalil syar’i
  2. Fiqh adalah hasil produk dari usul fiqh, sedangkan usul fiqh sendiri adalah alat untuk menghasilkan produk tersebut.

         Kemudian terakhir adalah perbedaan antara qowaid fiqhiyyah dengan qowaid usulliyyah. Qowaid usulliyyah adalah kaidah-kaidah dalam menetapkan atau meng-istinbat-kan hukum syara furruiyyah dari dalil-yg sudah jelas. Qowaid fiqhiyyah ialah segala rahasia dan hikmah syara’ yg dengannya seluruh furu’ dapat diketahui hukumnya dan dapat difahami maksudnya.

Daftar Pustaka

  • Majid Khon M.Ag, Dr.H.Abdul. 2013. Ikhtisar Tarikh Tasyri’, Jakarta: AMZAH.
  • Usman MA, Drs. H. Mushlih. 1997. Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*