Makalah Tarikh Tasyri Masa Khulafaur Rasyidin

Makalah Tarikh Tasyri Masa Khulafaur Rasyidin
Makalah Tarikh Tasyri Masa Khulafaur Rasyidin

Makalah Tarikh Tasyri Masa Khulafaur Rasyidin

Makalahkita – Makalah Tarikh Tasyri Masa Khulafaur Rasyidin yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

BAB 1

PENDAHULUAN

1.LATAR BELAKANG

            Periode ini dianggap sebagai periode pertama dalam pembentukan fiqh islam. Periode ini berawal dari zaman wafatnya rasulullah dan menghadap Allah pada tahun 11 hijriah sampai akhir zaman Khulafaur Ar-Rassiddin pada tahun 40 Hijriah dengan gaya dan corak tersendiri. Setelah hukum-hukum syari’at sempurna pada masa kerasulan, lalu pindah ke zaman para sahabar, mereka harus memikul tanggung jawab mencari sumber-sumber syari’at yang ada agar dapat menjawab segala perkembangan dan kejadian yang terus berlangsung dan tidak ada nashnya dalam Al-Qur’an atau Sunnah.

            Menghadapi kenyataan ini, para sahabat dengan kelibihan intelektualitas, kedalam tingkat pemahaman dan keluasam analisis terhadap sasaran dan maqashid syari’at dalam menghadapi setiap masalah, mereka adalah orang yang sangat mampu untuk menjalankan mandat fiqh ini apalagi mereka memiliki kedudukan yang mulia dalam jiwa kaum muslimin yang belum tentu dimiliki oleh orang-orang selain mereka seperti para tabi’in walaupun mereka juga memiliki kemampuan untuk menyelam seperti para sahabat.

2. RUMUSAN MASALAH

  1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi fiqh pada periode ini?
  2. Apa saja sumber-sumber fiqh pada masa ini?
  3. Bagaimana pengumpulan Al-qur’an dan periwayatan sunnah?
  4. Bagaimana kedudukan ijtihad pada periode ini dan apa saja ruang lingkupnya?
  5. Bagaimana keadaan fiqh pada masa ini?

BAB 2

PEMBAHASAN

1.Pengertian

Khulafa’ atau khala’if adalah bentuk plural dari kata khalifah yang secara harfiah bermakna “ dibelakang”, “wakil” , “pengganti”, atau “missionaris”. Kata khalifah kemudian dipakai untuk menyebut para pemimpin negara pengganti nabi. Untuk itu, khalifah-khalifah pada masa itu bergelar“khalifah rasul Allah” (pengganti Rasulullah). Pada mulanya, ada yang mengusulkan agar panggilan khalifah dinisbatkan langsung kepada Allah, yaitu khalifah. Namun Abu Bakar menolak. “aku bukan Khalifah (pengganti) Allah, tapi khalifah Rasulullah. [1]

Umar Ibn al-Khaththab sebagai pengganti abu bakar disebut “khalifah-khalifah Rasul Allah” (pengganti dari pengganti Rasulullah). Tak lama kemudian, gelar itu ditambah “Amir al-Mu’minin”gelar barunya ini diambil dari perkataan para sahabat, “kami orang-orang mukmin dan umar adalah pemimpin kami (amiruna).” Setelah Umar, Ustman Ibn Affan hanya dipanggil “khalifah” saja, karena akan terlalu panjang gelar yang disematkan kepadanya, “khalifah-khalifah-khalifah rasul Allah”. Demikian pula dengan khalifah selanjutnya, Ali ibn thalib dan al-hasan.

Kemudian, ada sebutan tersendiri bagi ke empat khalifah penerus perjuangan nabi, yaitu gelar“Khulafa’ al-Rassyidin”. Pemberian gelar “khulafa’ al-rassyidin” hanya pada empat khalifah diatas adalah bertendensikan hadits, “kekhalifahan setelah ku (berlangsung) selama 30 tahun. Setelah itu (akan berganti menjadi) kerajaan (al-mulk) yang absolut.” Pada kenyataanya, usia kepemimpinan ke empat khalifah tersebut memang berlangsung selama 30 tahun kurang 6 bulan. Masa 6 bulan terakir ini adalah usia kepemimpinan al-hasan ibn-ali ibn abi thalib.[2]

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi fiqh pada periode ini

  1. Tragedi Pembunuhan Utsman

Pada awal masa kekhalifahan Utsman, ekspedisi militer terus digalakan sehingga wilayah Islam terus meluas dari ujung barat hingga timur arabia. Namun pada pertengahan kepemimpinanya, Utsman yang ditunjuk sebagai khalifah dalam usia 70 mulai mengalami kelemahan fisik. Hal ini berimbas pula pada lemahnya kepemimpinan. Kebijakan kebijakannya terkesan nepotis dengan banyak mengangkat keluarganya sendiri sebagai pejabat pemerintahan. Psisi posisi penting dalam pemerintahan diserahkanya pada keluarga besar bani umayyah. Sikap politik Utsman ini menuai reaksi keras dari beberapa pihak. Yang paling kontroversial adalah pengangkatan Marwan Ibn al-Hakam sebagai sekertaris negara.

Beberapa tokoh mendesak Utsman untuk mundur. Namun Utsman menolak. Ali mengingatkan Utsman untuk kembali ke baris kebijakan Abu Bakar dan Umar. Namun Utsman merasa tidak ada yang keliru dalam langkahnya. Situasi semakin memanas pada tahun 35 hijriyah atau 656 Masehi 500 pasukan dari Mesir, Bashrah, Kuffah bergerak. Mereka berdalih hendak menunaikan ibadah haji namun ternyata mengepung Madinahkemudian para tentara tersebut berkualisi mendesak untuk mundur dari jabatannya. Para prajurit mengepung Madinah terutama kediaman Utsman selama 40 hari. Ditengah suasana tidak menentu, Muhammad Ibn Abi Bakr menerobos masuk ke rumah Utsman dan memukulnya. Setelah itu para penyerbu lainya masuk dan membantai Utsman beserta keluarganya. Pada tanggal 8 Dhulhuzah 35 Hijriyah Utsman seorang diantara 10 orang yang dijanjikan sebagai penghuni surga oleh Rosulullah menghembuskan nafas terakhirnya di atas mushhaf yang sedang dibacanya.[3]

1.Perang Jamal

Setelah Utsman Ibn Affan wafat, warga Madinah dan 3 pasukan dari Mesir, Bashrah, dan Kuffah bersepakat memilih Ali Ibn Abi Thalib sebagai khalifah. Namun Muawiyah menolak. Ia bersikeras tidak mau membai’at Ali sebelum pembunuh Utsman dihukum. Mendapati penolakan ini, Ali berencana menggempur Muawiyah. Rencana ini ternyata menuai protes dari sejumlah sahabat penting, mereka menyarankan agar Ali menunda rencananya menyerang Muawiyah tapi Ali bersikeras. Maka, terjadilah peristiwa menyedihkan itu, perang antra umat Islam yang anyir darahnya tidak bisa dibasuh dengan apapun juga. Sekitar 1000 orang tewas dalam perang ini.[4]

2. Perang Siffin

Dalam situasi yang kacau ini, kesempatanpun dimanfaatkan oleh Muawiyah. Ia menggantungkan jubah Utsman yang berlumur darah serta potongan jari Utsman di masjid Damaskus. Hal ini dilakukan untuk menyudutkan Ali. Pihaknya bahkan menuding Ali sebagai otak pembunuhan Utsman.

Tak lama berselang, pasukan Muawiyah dan pasukan Ali bertemu di kawasan Siffin, hulu sungai Eufrat di perbatasan irak-Syiria. Pecahlah perang saudara untuk kedua kalinya. Dalam perang itu, sekitar 90ribu muslim tewas. Dalam keadaan terdesak pihak Muawiyah mencari siasat agar terhindar dari kekalahan kelak. Mereka mengikat Al-Quran di ujung tombak dan mengangkatya tinggi-tinggi sebagai isyarat untuk mengambil keputusan dengan Al-Quran, Tahkim bi Al-Qur’an.[5]

  1. Sumber-sumber Fiqh pada masa ini.

Sahabat Rasulullah merupakan orang yang pertama kali yang memikul beban setelah Rasullulah tidak ada untuk menjelaskan syariat Islam dan mengaplikasikannya terhadap seegala permasalahan yang muncul. Sumber persyariatan atau perundang-undangan dalam masa ini adalah :[6]

  1. Al-Qur’an.
  2. As-Sunnah
  3. Ijtihad ( Ijma’ dan Qiyas). Sebab pada hakekatnya keduanya dihasilkan dari jirih payah Mujtahid.
  4. Pengumpulan Al-Qur’an

Pada periode khulafa’ al-rasyidin, muncul peristiwa-peristiwa yang mendesak pengkodifikasian al-Qur’an. Dimulai dari meletusnya perang yamamah yang memakan korban 70 sahabat penghapal al-Qur’an, hingga timbulnya beragam bacaan al-Qur’an pada masa khalifah Utsman bin Affan. Pada akhirnya, berdasar pertimbangan hal-hal tersebut, kodifikasi al-Qur’an perlu segera diupayakan. Kronologinya diceritakn secara gamblang oleh Zaid Ibn Tsabit, selaku komite sebagaimana tertuang dalam al-jami’ al-Shahih karya al-Bukhari.[7] Perang Yamamah mengisnpirasikan Umar, selaku penasehat kekhalifahan era Abu Bakar, untuk mengusulkan segera dibentuknya komite pengumpulan al-Qur’an. Setelah itu al-Qur’an melalui tahapan penyalinan yang merupakan kelanjutan dari tahap pengumpulan yang terjadi pada masa Abu Bakar. Tahap ini dimulai pada masa Utsman, tepatnya pasca pendelegasian beberapa sahabat ke berbagai wilayah yang salah satunya mengakibatkan munculnya perbadaan dalam bacaan al-Qur’an. Realitas ini pada gilirannya menjadi ancaman tersendiri bagi otentitas al-Qur’an dan yang lebih parah lagi perpecahan diantara umat islam.

Setelah mushaf diterima utsman menbentuk tim dan memerintahkan mereka agar melakukan penyalinan al-Qur’an kedalam beberapa mushaf. Setelah selesai mushaf yang asli dekembalikan kepada Hafsah. Sedang enam mushaf salinanaya disebar dan dikirimkan ke beberapa negara.[8]

  1. Periwayatan Sunnah

Ketika seseorang sudah tidak lagi meragukan kebenaran al-Qur’an, maka tidak ada alasan baginya untuk menolak sunnah. Sebab dalam al-Qur’an terdapat perintah untuk mengikuti Rasulullah.[9] Keyakinan semacam ini ditunjukan oleh para sahabat. Keyakinan terhadap kebenaran al-Qur’an membut mereka menerima sunnah sebagai salah satu rujuakan tasyri’. Prinsip mereka untuk menerima sunnah diperkuat dengan beberapa sabda Nabi. Sikap ini telah ditunjukan oleh Abu Bakar ketika hendak memfatwakan hukum dan Umar yang bertanya kepada para sahabat mengenai kasusu yang dihadapinya, barang kali diantara mereka ada yang mendengar hadits nabi tentang permaslahan tersebut.

Sikap para sahabat, terutama Khulafa’ al-Rasyidun di atas, menunjukan kuatnya komitmen mereka untuk merujukkan proses tasyri’ pada sunnah nabawi. Komitemen itu seterusnya diwarisi oleh murid-murid mereka (tabi’in).

  1. Kedudukan Ijtihad Dan Ruang Ijtihad Sahabat

Tidak semua persoalan yang dihadapi mujtahid periode sahabat telah mendapat ketegasan hukum dalam al-Qur’an maupun Hadis (nash). Terdapat beberapa permasalahan yang secara eksplisit tidak mendapatkan ketegasan dari nash. Untuk mendapatkan ketegasan tersebut para sahabat berusaha mencurahkan pikiran (ijtihad), dengan menggunakan metode yang mereka peroleh dari beragam pengalaman, pertemuan, dll.

Khalifah Abu Bakar apabila ia tidak mendapatkan hukum dalam al-Qur’an dan Sunnah, ia mengumpulkan para ulama sahabat dan merembukan hal tersebut. Kemudian, para sahabat bersepakat menetapkan sautu pendapat, Abu Bakar pun menetapkan hukum sesuai dengan pendapat yang disepakati. Sebagai contoh, ijma sahabt tentang pengumpulan al-Qur’an dalam satu mushaf pada masa khalifah Abu Bakar.[10]

Umar bin Khaththab juga melakukan hal yang sama. Bila tidak dalam al-Qur’an dan As-Sunnah, ia melihat apakah Abu Bakar pernah memutuskan permasalahan serupa apa tidak. Bila Abu Bakar pernah memutuskannya dengan suatu keputusan, ia pun memutuskannya dengan keputusan Abu Bakar. Akan tetapi, bila tidak ditemukan, ia mengundang para tokoh masyarakat. Apabila dicapai kesepakatan, Umar pun memutuskan perkara dengan hasil keputusan tersebut.[11]

Khalifah ketiga yaitu Utsman Ibn ‘Affan. Diantara pendapat Ustman Ibn Affan adalah bahwa istri yang dicerai oleh suaminya yang sedang sakit, kemudian suaminya meninggal dunia karena sakit tersebut, mendapatkan harta pustaka, baik ia istri dalam waktu tunggu maupun tidak. Sementara Umar berpendapat bahwa perempuan tersebut mendapatkan harta pustaka apabila suaminya meninggal dalam dalam waktu tunggu, tetapi apabila semuanya meninggal setelah waktu tunggu, istti tersebut tidak mendapatkan harta pustaka.[12]

Khalifah keempat Ali Ibn Abi Thalib. Diantara pendapat Ali Ibn Abi Thalib adalah pertama, dalam al-Qur’an terdapat larangan meminum khamr yang keharamannya ditetapkan secara berangsur-angsur. Akan tetapi, dalam tiga ayat tersebut tidak terdapat sanksi bagi yang melanggar keharaman tersebut. Sanksi bagi peminum khamr adalah delapan puluh kali jilid karena pelanggaran atau tindakan meminum khamr diqiyaskan kepada penuduh zina (qadzt).[13]

  1. Keadaan Fiqh Pada Masa Ini.

Sahabat-sahabat besar dalam periode ini menafsirkan nash-nash hukum baik dari Al-Qur’an maupun al-Hadits yang kemudian menjadi pegangan untuk menafsirkan dan menjelaskan nash-nash tersebut. Selain itu para khalifah juga memberikan pula fatwa-fatwa nya dalam berbagai masalah terhadap kejadian-kejadian yang tidak ada nash nya yang jelas mengenai hal itu, yang kemudian menjadi dasar dalam ijtihad.[14]

Para sahabat juga dapat dikatakan sebagai musyari’ menerangkan hal tidak ketinggalan memberikan fatwa dalam urusan-urusan yang tervantum secara tersurat dalam nash sebab mereka dalam kesehariannya bergaul dengan nabi sehingga mereka dapat menyaksikan dan mengetahui asbabun nuzul serta asbabul wurud suatu hadits melebihi pengetahuan ulama’-ulama’ sesudahnya. Dan oleh karena inilah maka muncul keprcayaan dari umat kepada mereka yang perlu disimak, pada periode ini fatwa-fatwa dan masail fiqhhiyah masih dicampur dengan dalil-dalil dan kaidah-kaidah istidlal. Penetapan-penetapan syari’at pada waktu itu hanya bersifat melanjutkan apa yang pernah diperbuat oleh nabi. Kecuali pada peristiwa yang belum pernah ada pada zaman nabi.

Pada zaman ini perkembangan Islam semakin luas ke segala arah, sehingga banyak ditemukan kasus-kasus baru yang memerlukan pemecahan atau penyelesaian. Pada kesempatan inilah para sahabat hadir sebagai konsultan dalam masalah hukum dengan memberikan fatwa kepada masyarakat karena merekalah yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Merekalah yang peling sering mengikuti kegiatan rasul serta peling sering meyaksikan sebab-sebab turunnya suatu ayat (asbabun nuzul) dan keluarnya hadits.[15]

BAB 3

PENUTUP

1.KESIMPULAN

            Perkembangan tasyri’ pada masa khulafa’ ar-Rosyidiin sangat hidup dan semarak. Beberapa ikhtilaf mulai muncul meskipun lebih kecil dibanding pada masa-masa berikutnya. Para sahabat tidak menyikapi hukum-hukum islam secara ideal yang lepas dari konteks sosial, tetapi dimensi sosial itu telah menyadarkan mereka untuk mencari jawaban-jawaban yang tepat dan ideal terhadap berbagai problematika yang bermunculan.

            Sumber hukum pada masa khulafa’ ar-Rasyidin diambil dari tiga sumber yaitu al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijtihad (Qiyas dan Ijma’). Dan dalam masa inilah terdapat peristiwa yang besar yaitu pengumpulan al-Qur’an sebagai sumber hukum islam yang paling utama yang terjadi pada masa khalifah Abu Bakar a.s. 

Dan tidak semua persoalan yang dihadapi mujtahid periode sahabat telah mendapat ketegasan hukum dalam al-Qur’an maupun Hadis (nash). Terdapat beberapa permasalahan yang secara eksplisit tidak mendapatkan ketegasan dari nash. Untuk mendapatkan ketegasan tersebut para sahabat berusaha mencurahkan pikiran (ijtihad), dengan menggunakan metode yang mereka peroleh dari beragam pengalaman, pertemuan, dll.

DAFTAR PUSTAKA

  • Khail, Rasyad Hasan. 2009. Tarikh Tasyri’ Sejarah Legislasi Hukum Islam. Jakarta: AMZAH.
  • Lailynurarifa,
  • Supriyadi, Dedi. 2007. Sejarah Hukum Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
  • Tim Karya Ilmiah MHM. 2006. Sejarah Tasyri’ Islam. Lirboyo: Forum Pengembangan Intelektual Islam.
  • [1] Tim Karya Ilmiah MHM, Sejarah Tasyri’ Islam ( Lirboyo: Forum Pengembangan Intelektual Islam, 2006), 105.
  • [2]  Ibid 107.
  • [3]  Tim Karya Ilmiah MHM, Sejarah Tasyri’ Islam………, 117-118.
  • [4] Tim Karya Ilmiah MHM, Sejarah Tasyri’ Islam………….., 119-120.
  • [5] Ibid 120-121.
  • [6] Rasyad Hasan Khail, Tarikh Tasyri’ Sejarah Legislasi Hukum Islam ( Jakarta: AMZAH, 2009), 62. 
  • [7] Tim Karya Ilmiah MHM, Sejarah Tasyri’ Islam …………, 163.
  • [8] Ibid 166.
  • [9] Ibid 137.
  • [10] Dedi Supriyadi, Sejarah Hukum Islam ( Bandung: CV. Pustaka Setia, 2007), 70.  
  • [11] Ibid 71.
  • [12]  Dedi Supriyadi, Sejarah Hukum Islam …………., 72.
  • [13] Ibid  73.
  • [15]  Tim Karya Ilmiah MHM, Sejarah Tasyri’ Islam………….., 120.