Makalah Tentang Dhamir Bahasa Arab Yang Benar

Makalah Tentang Dhamir
Makalah Tentang Dhamir

Makalah Tentang Dhamir Bahasa Arab Yang Benar

Makalahkita – Makalah Tentang Dhamir Bahasa Arab Yang Benar yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

Daftar Isi

Kata Pengantar

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan
  4. Manfaat Penulisan

BAB I PEMBAHASAN

  1. Pengertian Dhomir
  2. Pembagian Dhomir
  3. Penggunaan Dhomir Di Dalam Kata Kerja

BAB I PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran
  3. Penutup

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar belakang

Sebagai umat Islam, kita dituntut untuk bisa mengkaji dan mempelajari Al- Qur’an dan Sunnah, Sebagai dua sumber utama ajaran agama Islam yang harus kita pegang teguh.

Tentunya, kita tidak mungkin memahami kedua sumber itu kecuali setelah kita mengetahui kaidah-kaidah bahasa Arab, khususnya Ilmu Nahwu dan Ilmu sharaf. Karena keduanya merupakan kunci dalam mempelajari Al- Qur’an dan Sunnah.

Dan pada kesempatan ini, kami akan sedikit membahas tentang beberapa kaidah yang ada di dalam kaidah bahasa Arab. Yaitu Dhomir.

2. Rumusan masalah

  1. Pengertian Dhomir.
  2. Fungsi dari Dhomir.
  3. Jenis- jenis Dhomir.
  4. Penggunaan Dhomir di dalam kata kerja lampau, kata kerja sekarang, dan kata kerja masa yang akan datang.

3. Tujuan

  1. Untuk mengetahui pengertian dari Dhomir.
  2. Untuk mengetahui Fungsi dari Dhomir.
  3. Untuk mengetahui Jenis- jenis Dhomir.
  4. Untuk mengetahui penggunaan Dhomir di dalam berbagai macam kata kerja.
  5. Manfaat penulisan

4. Adapun manfaat yang diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah:

Manfaat teoritis, untuk mengembangkan pengetahuan tentang pengertian, fungsi, jenis- jenis, serta pemakain dari Dhomir itu sendiri.

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pengertian dhomir

Tiap isim yang dibuat untuk mewakili mutakallimin (si pembicara atau orang pertama), mukhathab ( yang diajak berbicara atau orang kedua), ghaib (yang tidak ada di tempat atau orang ketiga).

            Kalimat didalam bahasa Arab, terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. ISIM ( اِسْم ) = setiap lafadz yang menerangkan kepada nama orang, atau nama hewan, atau benda mati.
  2. FI’IL ( فِعْل ) = setiap lafadz yang menerangkan tentang pekerjaan di masa- masa yang khusus.
  3. HARF ( حَرْف ) = setiap Setiap lafadz selain Isim dan Fi’il, atau bisa diartikan kata sambung, kata penghubung, kata tanya tugas, dll.

Secara global, kita telah mengetahui pembagian tersebut dan telah kita pelajari pembagian- pembagiannya. Salah satunya pembagian Isim. Isim terbagi menjadi 2, yaitu:

  1. MABNIY) ( مَبْنِي = yang tidak bisa berubah harokatnya.
  2. MU’RAB ( مُعْرَب ) = yang bisa berubah.

Pada pembahasan kali ini, kami akan membahas masalah Dhomir, yang mana, Dhomir adalah bagian dari pada Isim yang Mabniy.

2. DHAMIR NASHAB (Kata Ganti Objek)

Dhamir Rafa’Dhamir NashabDhamir Rafa’Dhamir Nashab
أَنَايأَنْتُنَّكُنَّ
نَحْنُنَاهُوَهُ
أَنْتَكَهِيَهَا
أَنْتِكِهُمَاهُمَا
أَنْتُمَاكُمَاهُمْهُمْ
أَنْتُمْكُمْهُنَّهُنَّ

           

Dhamir Nashab adalah turunan (bentuk lain) dari Dhamir Rafa’ yang terdiri dari:

Dhamir Nashab berfungsi sebagai objek dan tidak dapat berdiri sendiri; ia terikat dengan kata lain dalam suatu kalimat, baik itu dengan Isim, Fi’il ataupun Harf.

3. Pembagian Dhomir.

Dhomir secara sederhana terbagi menjadi dua, yaitu:

1) Al-Bariz, yaitu Dhomir yang mempunyai bentuk dan tampak dalam lafazh. Seperti huruf Taa’ pada kata kerja قُمْتُ ( Aku telah berdiri ).

2) Al-Mustatir, yaitu Dhomir yang tidak mungkin tampak dalam lafazh akan tetapi bisa diperkirakan apa yang dimaksud. Seperti Dhomir أَنْتَ ( Kamu ) dalam kata قُمْ (Berdirilah!) yang meskipun tidak nampak dalam lafazh namun kita bisa perkirakan bahwa Dhomir yang dimaksud adalah أَنْتَkarena kata perintah pasti ditujukan untuk orang kedua.

  • Pembagian Dhomir Bariz

Al-Bariz dari segi bersambung dan tidaknya terbagi menjadi dua:

  1. Al-Muttashil, yaitu Dhomir yang bersambung dengan lafazh sebelumnya. Lebih jelas kita katakan bahwa Dhomir jenis ini tidak mungkin digunakan untuk mengawali ucapan, contohnya:

  Seperti: huruf Yaa’ pada kata اِبْنِيْ (Anakku) dan huruf Kaaf pada kata أَكرَمَكَ(Ia memuliakanmu).Dhomir-dhomir seperti ini tidak mungkin ada di awal kalimat.

  1. Al-Munfashil, yaitu Dhomir yang tidak bersambung dengan lafazh apapun sehingga bisa digunakan untuk mengawali ucapan dan bisa diletakkan setelah harf Contoh: أَناَ (Saya) yang bisa digunakan untuk mengawali ucapan seperti: أَنَا مُؤْمِنٌ (Saya seorang mu’min) atau bisa juga diletakkan setelah harf, seperti: مَا قَامَ إِلاَّ أَنَا (Tidak ada yang berdiri kecuali saya).
  • Pembagian Dhomir Mustatir

            Al-Mustatir terbagi menjadi dua:

  1. Al-Mustatir yang wajib, yaitu yang tidak mungkin digantikan oleh Isim Zhahir (Isim biasa yang bukan Dhomir) ataupun Dhomir Munfashil.
  2. Al-Mustatir yang boleh, yaitu yang bisa digantikan oleh Isim Zhahir (Isim biasa yang bukan Dhomir) ataupun Dhomir Munfashil.
  3. Penggunaan Dhomir di dalam kata kerja.

            Fi’il atau Kata Kerja dibagi atas tiga golongan besar menurut waktu terjadinya:

  1. FI’IL MADHY ( فِعْل مَاضِي ) atau Kata Kerja Lampau.
  2. FI’IL MUDHARI’ ( فِعْل مُضَارِع ) atau Kata Kerja sekarang.

       Baik Fi’il Madhy maupun Fi’il Mudhari’, senantiasa mengalami perubahan bentuk sesuai dengan jenis Dhamir dari Fa’il ( فَاعِل ) atau Pelaku pekerjaan itu.
Untuk Fi’il Madhy, perubahan bentuk tersebut terjadi di akhir kata, sedangkan untuk Fi’il Mudhari’, perubahan bentuknya terjadi di awal kata dan di akhir kata.

DhamirFi’il MadhyFi’il Mudhari’Terjemah
أَنَافَعَلْتُأَفْعَلُ saya mengerjakan
نَحْنُفَعَلْنَانَفْعَلُ kami mengerjakan
أَنْتَفَعَلْتَتَفْعَلُ      engkau (lk) mengerjakan
أَنْتِفَعَلْتِتَفْعَلِيْنَ      engkau (pr) mengerjakan
أَنْتُمَافَعَلْتُمَاتَفْعَلاَنِ         kamu berdua mengerjakan
أَنْتُمْفَعَلْتُمْتَفْعَلُوْنَ      kalian (lk) mengerjakan
أَنْتُنَّفَعَلْتُنَّتَفْعَلْنَ      kalian (pr) mengerjakan
هُوَفَعَلَيَفْعَلُ dia (lk) mengerjakan
هِيَفَعَلَتْتَفْعَلُ dia (pr) mengerjakan
هُمَافَعَلاَيَفْعَلاَنِ          mereka berdua (lk) mengerjakan
هُمَافَعَلَتَاتَفْعَلاَنِ          mereka berdua (pr) mengerjakan
هُمْفَعَلُوْايَفْعَلُوْنَ    mereka (lk) mengerjakan
هُنَّفَعَلْنَيَفْعَلْنَ    mereka (pr) mengerjakan
  1. FI’IL AMR (فِعْل اْلأمْر ) atau kata kerja perintah.

            Fi’il Amar atau Kata Kerja Perintah adalah fi’il yang berisi pekerjaan yang dikehendaki oleh Mutakallim (pembicara) sebagai orang yang memerintah agar dilakukan oleh Mukhathab (lawan bicara) sebagai orang yang diperintah.

            Perlu diingat bahwa yang menjadi Fa’il (Pelaku) dari Fi’il Amar (Kata Kerja Perintah) adalah Dhamir Mukhathab (lawan bicara) atau “orang kedua” sebagai orang yang diperintah untuk melakukan pekerjaan tersebut. Dhamir Mukhathab terdiri dari:أَنْتُنَّ – أَنْتُمْ – أَنْتُمَا – أَنْتِ – أَنْتَ .

Fa’ilFi’il AmarTarjamah
أَنْتَاِفْعَلْ (engkau -lk) kerjakanlah!
أَنْتِاِفْعَلِيْ (engkau -pr) kerjakanlah!
أَنْتُمَااِفْعَلاَ (kamu berdua) kerjakanlah!
أَنْتُمْاِفْعَلُوْا (kalian -lk) kerjakanlah!
أَنْتُنَّاِفْعَلْنَ (kalian -pr) kerjakanlah!

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

       Dari materi diatas, dapat disimpulkan bahwa:

Kalimat didalam bahasa Arab, terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:

  1. ISIM ( اِسْم ) = setiap lafadz yang menerangkan kepada nama orang, atau nama hewan, atau benda mati.
  2. FI’IL ( فِعْل ) = setiap lafadz yang menerangkan tentang pekerjaan di masa- masa yang khusus.
  3. HARF ( حَرْف ) = setiap Setiap lafadz selain Isim dan Fi’il, atau bisa diartikan kata sambung, kata penghubung, kata tanya tugas.

Definisi Dhomir adalah tiap Isim yang dibuat untuk mewakili Mutakallim (pembicara/orang pertama), Mukhaotob (yang diajak berbicara/orang kedua), Ghaib (yang tidak ada di tempat/orang ketiga).

Contoh:

MutakallimMukhothabghaib
أَنَاأَنْتَهُوَ
نَحْنُأَنْتُمْهُمْ

Menurut fungsinya, ada dua golongan Dhamir yaitu:

  1. DHAMIR RAFA’ ( ضَمِيْر رَفْع ) yang berfungsi sebagai Subjek.
  2. DHAMIR NASHAB ( ضَمِيْر نَصْب ) yang berfungsi sebagai Objek.

            Dhamir Rafa’ dapat berdiri sendiri sebagai satu kata, sedangkan Dhamir Nashab tidak dapat berdiri sendiri atau harus terikat dengan kata lain dalam kalimat.

Dhamir Rafa’Dhamir NashabDhamir Rafa’Dhamir Nashab
أَنَايأَنْتُنَّكُنَّ
نَحْنُنَاهُوَهُ
أَنْتَكَهِيَهَا
أَنْتِكِهُمَاهُمَا
أَنْتُمَاكُمَاهُمْهُمْ
أَنْتُمْكُمْهُنَّهُنَّ

Dhomir secara sederhana terbagi menjadi dua, yaitu:

1)  Al-Bariz, yaitu Dhomir yang mempunyai bentuk dan tampak dalam lafazh. Seperti huruf Taa’ pada kata kerja قُمْتُ ( Aku telah berdiri ).

2) Al-Mustatir, yaitu Dhomir yang tidak mungkin tampak dalam lafazh akan tetapi bisa diperkirakan apa yang dimaksud. Seperti Dhomir أَنْتَ ( Kamu ) dalam kata قُمْ(Berdirilah!) yang meskipun tidak nampak dalam lafazh namun kita bisa perkirakan bahwa Dhomir yang dimaksud adalah أَنْتَ karena kata perintah pasti ditujukan untuk orang kedua.

          Adapun penggunaan Dhomir dalam kata kerja, menyesuaikan dengan bentuk kata kerja itu sendiri. Apakah kata kerja lampau, sekarang, atau perintah.

2. Saran

            Alhamdulillahirabbil’aalamiin, sebagai manusia yang hidup di dunia ini, hendaklah kita selalu mempunyai angan untuk selalu haus akan ilmu pengetahuan, dari ilmu kita bisa menjalankan hidup ini dengan sebaik- baiknya. Adapun dengan selesainya penulisan makalah ini, semoga bisa bermanfaat untuk pembelajaran bahasa Arab nantinya. Aamiin.

3. Penutup

Alhamdulillah, demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

            Penulis banyak berharap para pembaca sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi menjadi lebih baiknya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya. Semoga bisa berguna bagi semua.

DAFTAR PUSTAKA

  • Zakaria Ahmad. 2004. Ilmu Nahwu Praktis, al- kalimah, Ibnu Azka press. Tarogong, Garut

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*