Makalah Tentang Qawaid Bahasa Arab Yang Benar

Makalah Tentang Qawaid
Makalah Tentang Qawaid

Makalah Tentang Qawaid Bahasa Arab Yang Benar

Makalahkita – Makalah Tentang Qawaid Bahasa Arab Yang Benar yang saya bagikan ini sebagai bahan informasi referensi dalam pembuatan makalah yang benar. Merunut pada ulasan contoh makalah, saya berharap ini menjadi referensi kawan-kawan pelajar dalam memenuhi tugas makalah siswa dan tugas makalah mahasiswa. Seperti yang saya alami ketika mengenyam bangku pendidikan di beri tugas untuk membuat makalah, namun saya agak kesulitan karena waktu dulu saya cari referensi hanya dari buku dan itu pun terbatas. Berikut Contoh Makalah yang saya sajikan untuk semua:

Sebelumnya, untuk Ukuran Margin, Font, dan Spasi Makalah Yang Benar adalah Sebagai Berikut:

  1. Margin : Top 4, Left 4, Botton 3 dan Right 3 ( cm)
  2. Font : Times New Roman Ukuran 12
  3. Kertas : Size A4
  4. Spasi : 1.5

Makalahkita.com sebagai bahan referensi kebutuhan karya tulis makalah pendidikan, ekonomi, islam, filsafat, agama, bahasa indonesia, biologi, hukum, kesehatan, kewarganegaraan, kewirausahaan, olahraga, sains, sejarah dan tips makalah.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Pembelajaran Qawa’id
  2. Tujuan Pembelajaran Qawa’id
  3. Metode Pembelajaran Qawa’id
  4. Langkah-langkah Pembelajaran Qawa’id
  5. Evaluasi Pembelajaran Qawa’id
  6. Kekurangan dan Kelebihan Pembelajaran Qawa’id

BAB III PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Proses mempelajari bahasa asing khususnya bahasa Arab bagi orang Indonesia merupakan usaha-usaha khusus untuk membentuk dan membina kebiasaan baru yang dilakukan secara sadar. Pada saat ini bidang pendidikan dan pengajaran bahasa Arab di Indonesia menyaksikan kehadiran berbagai strategi, metode, pendekatan dan yang serupa dengannya, yang dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pengajaran bahasa Arab itu sendiri.

Dalam pembelajaran bahasa Arab, salah satu unsur terpenting adalah memahami tata bahasanya yang dikenal dengan istilah qawa’id. Dalam berbagai disiplin ilmu, istilah qawa’id telah dikenal dikalangan ulama, misalnya ada istilah qawa’id ushuliyyah, qawa’id fiqhiyyah, qawa’id ulum al-hadits dan yang lainnya.

Kata qawa’id merupakan jama’ dari kata qai’dah. Secara makna leksikal, Munawwir (2002: 1138) mengartikan dengan arti dasar, alasan, pondamen, peraturan, kaidah. Sedangkan secara istilah, qa’idah adalah ketentuan universal yang bersesuaian dengan bagian-bagiannya (juz-juznya) (Syafe’i, 2007: 251).

Namun dewasa ini, mayoritas para peserta didik yang belajar bahasa asing khususnya bahasa Arab lebih mementingkan aspek kemahiran berbicara sehingga aspek kebenaran dan ketepatan tata bahasanya kurang diperhatikan.

Dari latar belakang masalah ini, agar dapat membantu kegiatan pembelajaran bahasa asing khususnya bahasa Arab, maka penyusun menyajikan makalah dengan judul “تعليم القواعد”.

B. Rumusan Masalah

Agar  makalah  ini,  terarah.  Maka  penyusun  membatasi  dengan  rumusan sebagai berikut:

  1. Apa pengertian pembelajaran qawa’id?
  2. Apa tujuan pembelajaran qawa’id?
  3. Apa metode dalam pembelajaran qawa’id?
  4. Bagaimana langkah-langah pembelajaran qawa’id?
  5. Bagaimana evaluasi pembelajaran qawa’id?
  6. Apa kekurangan dan kelebihan pembelajaran qawa’id?

C. Tujuan Penulisan

Dari rumusan di atas, tujuan pembuatan makalah ini adalah:

  1. Untuk mengetahui pengertian pembelajaran qawa’id.
  2. Untuk mengetahui tujuan pembelajaran qawa’id.
  3. Untuk mengetahui metode dalam pembelajaran qawa’id.
  4. Untuk mengetahui langkah-langkah pembelajaran qawa’id.
  5. Untuk mengetahui evaluasi pembelajaran qawa’id.
  6. Untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan pembelajaran qawa’id.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembelajaran Qawa’id

Banyak definisi para ahli menyangkut pembelajaran, diantaranya adalah Dimyati dan Mudjiono, (1999) mengartikan pembelajaran sebagai kegiatan yang ditujukan untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian lain, pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa (Arief. S. Sadiman, et al., 1990). Sedangkan menurut Degeng (1993) adalah upaya untuk membelajarkan pembelajar.

Dari beberapa pengertian pembelajaran tersebut, dapat disimpulkan bahwa inti dari pembelajaran itu adalah segala upaya yang dilakukan oleh guru (pendidik) agar terjadi proses belajar dalam diri siswa. (Sobry Sutikno, 2007:33)

Definisi yang diberikan para ahli tentang qawa’id atau gramatika antara lain adalah yang diungkapkan oleh  Cook dan Suter (1980:1) bahwa grammar adalah :”a set of rules by which people speak and write” atau ”written description of the rules of language”. Definisi tersebut memberikan pengertian bahwa qawa’id atau gramatika merupakan seperangkat aturan yang digunakan oleh manusia dalam berbicara atau menulis, qawa’id adalah suatu deskripsi tertulis dari aturan-aturan suatu bahasa.

Qawa’id merupakan deskripsi dari aturan-aturan yang berlaku pada setiap bahasa. Lebih dari itu, qawa’id merupakan suatu subsistem yang terdapat dalam organisasi bahasa dimana satuan-satuan bermakna bergabung untuk membentuk satuan-satuan yang lebih besar. Hocket (1958:147) memberikan defenisi lain bahwa tata bahasa atau qawa’id memuat sistem aturan atau pola-pola yang berlaku pada suatu bahasa. Kaidah-kaidah suatu bahasa diperoleh atas dasar analisis peneliti terhadap peristiwa-peristiwa bahasa yang berulang-ulang. Brown (1987:341) berpendapat bahwa tata bahasa atau qawa’id adalah suatu sistem aturan yang mempengaruhi susunan dan hubungan konvensional kata-kata alam suatu kalimat. Pengertian ini secara implisit menyatakan adanya unsur-unsur pembentuk kalimat yang menjadi kajian dalam tata bahasa, yaitu tata kata dan tata kalimat.

Dari berbagai pengertian tentang qawa’id atau tata bahasa sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, tata bahasa dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu (1) tata kata dan (2) tata kalimat. Dalam bahasa Arab ilmu yang mengatur tata kata disebut dengan ilmu sharf (morfology). Menurut Al-Ghalayayni (1987:9)ilmu sharf adalah ilmu yang membahas dasar-dasar pembentukan kata, termasuk di dalamnya imbuhan. Sedangkan, yang dimaksud dengan tata kalimat dalam bahasa Arab adalah ilmu yang membahas tentang keadaan kata dalam pembentukannya menjadi kalimat. Tata kalimat dalam bahasa Arab dikaji dalam ilmu nahw (syntax). (Azis Fahrurrozi, 2009 : 213)

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian pembelajaran qawa’id adalah segala upaya yang dilakukan oleh guru (pendidik) agar terjadi proses belajar dalam diri siswa tentang sistem aturan atau pola-pola yang berlaku pada suatu bahasa khususnya bahasa Arab yang mencakup tata kata dan tata kalimat.

B. Tujuan Pembelajaran Qawa’id

Hanomi dalam Fzil (2012) memaparkan bahwa tujuan pembelajaran qawa’id yaitu:

  1. Untuk memelihara lisan dari kesalahan dan memelihara tulisan dari kekeliruan serta menciptakan kebiasaan berbahasa yang benar. Sebagaimana yang diperintahkan oleh Ali Ibn Abi Thalib kepada Abul Aswad al- Duali untuk menetapkan kaidah-kaidah nahwu agar terpeliharanya bahasa Arab dari kerusakan yang disebabkan oleh bercampurnya dengan orang- orang asing dan terpengaruh oleh dialek mereka.
  2. Memahami posisi kata, sehingga membantu mengantarkan kepada pemahaman yang baik terhadap makna kata tersebut.
  3. Mengasah otak, menajamkan perasaan dan menumbuhkan perbendaharaan bahasa siswa.
  4. Membiasakan siswa mampu melihat dengan jeli, berfikir rasional dan sistematis, melatih mengambil kesimpulan, menggunakan teori, agumentasi yang mengantarkan siswa mengikuti pola induktif dalam pembelajaran qawa’id.
  5. Mengetahui dengan mudah kesalahan yang terdapat pada suatu kalimat, dengan merujuk pada standar kaidah yang dipelajari, karena kaidah bahasa merupakan ilmu standar yang menjauhkan siswa dari kesalahan dan mengingatkan ketika terjadi kesalahan.

C.    Metode Pembelajaran Qawa’id

  1. Metode Qiyas (al-thariqah al-qiyasiyyah)

Metode ini memberikan materi pelajaran tata bahasa yang dimulai dari hapalan kaidah, selanjutnya diikuti oleh penjelasan tentang berbagai aspeknya dan contoh. (Acep Hermawan, 2011:126)

  1. Metode Istinbat (al-thariqah al-isthinbathiyah)

Metode ini memberikan materi pelajaran tata bahasa yang dimulai dari contoh-contoh, selanjutnya diikuti oleh penjelasan tentang berbagai aspeknya. Setelah itu kesimpulan kaidah. (Acep Hermawan, 2011:126)

  1. Metode Teks Terpadu (Thariqah al-nushuush al-mutakaamilah)

Metode ini didasarkan atas teks terpadu atau utuh yang berisi satu topik . Dalam aplikasinya peserta didik diminta membaca teks, lalu mendiskusikan kandungannya, lalu guru menunjukan kalimat-kalimat tertentu dalam teks yang mengandung unsur kaidah yang hendak dibelajarkan, kemudian dari beberapa kalimat itu diambil kesimpulan dalam bentuk kaidah, dan akhirnya peserta didik diminta untuk mengaplikasikan kaidah itu kedalam contoh-contoh kalimat baru.

  1. Metode Aktivitas (Thariqah al-Nasyaath)

Untuk tahap pertama guru meminta peserta didik. Metode ini menuntut banyak aktifitas peserta didik untuk mengumpulkan kalimat dan struktur yang mengandung konsep qawa’id yang hendak dipelajari dari berbagai sumber seperti koran, majalah, atau buku. Lalu guru mengambil kesimpulan terhadap konsep qawa’id itu, lalu menuliskannya, kemudian diaplikasikan dalam contoh-contoh lain.

  1. Metode Problem (Thariqah al-Musykilat)

Mula-mula guru memberikan persoalan nahwu atau sharaf kepada peserta didik yang solusinya akan ditemukan melalui kaidah baru.

D. Langkah-langkah Pembelajaran Qawa’id

Rosyidin (2006: 69) meutip metode Herbart yang menyebutkan lima tingkatan dalam mengajarkan nahwu, yaitu:

  1. PendahuluanDalam fase ini guru bertanya jawab dengan siswa tentang pelajaran yang telah lalu yang berhubungan dengan pelajaran baru. Dengan kata lain pengetahuan yang telah dimiliki siswa di jadikan dasar untuk pelajaran selanjutnya yang belum mereka kuasai.
  2. Memperlihatkan contoh-contoh.

Contoh yang diambilkan dari al-Qur’an atau al-Hadits atau ungkapan sederhana itu ditulis di papan tulis, lalu guru menyuruh membaca dan memahaminya, hendaklah diberi garis bawah pada kata-kata yang perlu diberi harakat secukupnya.

  1. MemperbandingkanGuru bertanya jawab dengan siswa tentang contoh-contoh tersebut. Satu demi satu, mana saja yang berbeda dan mana yang ada persamaannya apa jenis katanya dan apa macam i’robnya, dan sebagainya. Dengan demikian guru bersama siswa dapat mengambil kesimpulan bersama dari kaidah tersebut.
  2. Mengambil kesimpulan.

Setelah selesai memperbandingkan dan mengetahui sifat-sifat yang ada persamaannya atau perbedaannya dalam misal itu, maka dapatlah guru bersama siswa mengambil kesimpulan kaidah tadi dengan memberikan nama istilahnya. Kemudian guru menuliskan kaidah itu di papan tulis dan menyuruh salah seorang murid membacanya.

  1. TatbiqSetelah siswa mengetahui pokok kaidah, haruslah siswa tersebut diberi latihan sesuai dengan kaidah tersebut. Melalui langkah-langkah sebagai berikut :
  2. Guru memperlihatkan beberapa kalimat yang sempurna, lalu para siswa disuruh menerangkan mana yang berhubungan dengan kaidah yang telah dipelajari.
  3. Guru memperlihatkan kalimat-kalimat yang tidak sempurna hanya titik saja, lalu siswa disuruh mengisinya.
  4. Guru memberikan kata-kata, lalu siswa disuruh menyusun kalimat sempurna dari kata-kata itu sesuai dengan kaidah yang telah dipelajari.
  5. Guru menyuruh siswa membuat kalimat-kalimat yag sempurna dari kalangan siswa sendiri sesuai dengan kaidah tersebut.
  6. Supaya siswa terangsang hendaklah guru bisa menggabungkan dengan materi lain.

E. Evaluasi Pembelajaran Qawa’id

Al-Khuli (1986: 157) menjelaskan bahwa evaluasi bahasa itu bertujuan untuk mengukur berbagai macam kemahiran, diantaranya adalah kemahiran dalam qawa’id. Menurut al-Khuli, evaluasi qawa’id dilakukan dengan cara siswa diuji untuk memahami struktur dan pembentukan bahasa Arab. Al-Khuli (1986: 158-159) menyebutkan 10 model evaluasi dalam pembelajaran qawa’id, yaitu sebagai berikut:

  1. Menyesuaikan Sighah

Pada evaluasi ini siswa diminta untuk menyesuaikan sighah pada kalimat yang ada di dalam kurung yang sesuai dengan jumlah. Contohnya:
(يأتى) الولد أمسِ

  1. Mengisi tempat yang kosong.

Pada evaluasi ini siswa diminta untuk menyimpan kalimat yang sesuai pada tempat yang kosong.

Contohnya:
____ يتعلم احمد

  1. Menggabungkan

Evaluasi ini menuntut siswa untuk menggabungkan dua jumlah menjadi satu jumlah.

  1. Menyingkap kesalahan

Pada evaluasi ini siswa diminta untuk menggaris bawahi pada tulisan yang salah kemudian membenarkan jumlah yang benarnya. Contoh:
كان فاطمة جالسة (كانت)

  1. Melengkapi jumlah

Contohnya:
المسلم قبل الصلاة________

  1. I’rab, misalnya: i’rabkanlah jumlah berikut atau i’rabkanlah kata yang digarisbawahi.

يكتب الولد الدرس

  1. Memindahkan atau merubah kalimat, contohnya: ubahlah jumlah ini dari madhi menjadi mudhare’, dari mufrad menjadi jama’, dari mutakallim menjadi mukhathab, dari mutsanna menjadi mufrad, atau dari mudzakkar menjadi muannats, atau dari mabni ma’lum menjadi mabni majhul.
  2. Menguji dari beberapa pilihan, misalnya: pilihlah jawaban yang benar berikut ini:

الولد يكتب الدرس. الولد هو…….  

 فاعل.مفعول به            ج.مبتدأ          د.          بأ.خبر

  1. Menggantikan, contohnya: simpanlah kalimat berikut dengan cara menggantikan kalimat yang sesuai pada jumlah atau paragraph berikut:

    الولد كتب الدرس

     (الولدان)

  1. Mengulangi susunan kalimat

Pada evaluasi ini siswa diminta untuk menyusun kalimat sehingga menjadi suatu jumlah.

Contohnya:
أباه – في – البيت – وجد – الطفل

F. Kekurangan dan Kelebihan Pembelajaran Qawa’id

A. Kelebihan pengajaran Qawa’id ini antara lain, adalah:

  1. Siswa terbiasa menghafal kaidah-kaidah tata bahasa arab yang sangat diperlukan untuk mampu bercakap-cakap dalam bahasa arab yang benar dan mampu menulis dengan betul.
  2. Melatih mental disiplin dan ulet dalam mempelajari bahasa.
  3. Bagi guru terlalu sulit menerangkan pembelajaran ini, karena kemampuan kecakapan tidak diutamakan, dengan kata lain guru asalkan ia menguasai gramatika ( tata bahasa) yang baik, pengajaran dapat dilaksanakan.

B. Kekurangan pengajaran Qowa’id, adalah :

  1. Secara didaktis dan psikologi pengajaran ini bertentangan dengan kenyataan, pengetahuan bahasa seseorang tidaklah didahului dengan pengajaran tata bahasa terlebih dahulu. Tapi melalui peniruan ucapan atau percakapan.
  2. Penguasaan tata bahasa tidak dengan sendirinya menguasai percakapan. Membosankan atau jenuh terutama apabila guru tidak dapat menyajikan pelajaran secara baik dan menarik bagi siswa.

BAB III

PENUTUP

1.Kesimpulan

Pembelajaran qawa’id adalah segala upaya yang dilakukan oleh guru (pendidik) agar terjadi proses belajar dalam diri siswa tentang sistem aturan atau pola-pola yang berlaku pada suatu bahasa khususnya bahasa Arab yang mencakup tata kata dan tata kalimat.

Hanomi dalam Fzil (2012) memaparkan bahwa tujuan pembelajaran qawa’id yaitu:

(1) untuk memelihara lisan dari kesalahan dan memelihara tulisan dari kekeliruan,

(2) memahami posisi kata,

(3) mengasah otak,

(4) membiasakan siswa mampu melihat dengan jeli,

(5) mengetahui dengan mudah kesalahan yang terdapat pada suatu kalimat.

Adapun metode dalam pembelajaran qawa’id adalah sebagai berikut :    

(1) metode qiyas (al-thariqah al-qiyasiyyah),

(2) metode istinbat (al-thariqah al-isthinbathiyah),

(3) metode teks terpadu (thariqah al-nushuush al-mutakaamilah),

(4) metode Aktivitas (thariqah al-nasyaath),

(5) metode problem (thariqah al-musykilat).

Berikut ini langkah-langkah pembelajaran qawa’id : Rosyidin (2006: 69) mengutip metode Herbart yang menyebutkan lima tingkatan dalam mengajarkan nahwu, yaitu:

1) pendahuluan,

2) memperlihatkan contoh-contoh,

3) memperbandingkan,

4) mengambil kesimpulan,

5) tatbiq.

DAFTAR PUSTAKA

  • Sutikno, Sobry. 2007, Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Prospect.
  • Hermawan, Acep. 2011, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  • Fahrurrozi, Azis dan Erta Mahyudin. 2009, Pembelajaran Bahasa Arab. Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia